"Pagi." Ciuman manis mendarat di bibir Siwon, matanya langsung terbuka dan bertemu pandang dengan Yesung. Siwon tersenyum. "Hm. Pagi," Yesung mengamati wajah Siwon sambil berpikir. "Mau jalan-jalan hari ini?" Tawar Siwon sembari menyentuh pipi Yesung dan mencubitinya sesekali. "Kemana? Kau tidak kerja?" Siwon bangun, memegang kedua pundak Yesung lalu menghadapkan ke arahnya. "Jangan pikirkan itu. Aku bisa libur kapanpun aku mau," Entahlah. Yesung sendiri bingung mau menjawab apa, sebenarnya ia malas pergi keluar, suasana hatinya belum baik sepenuhnya.

"Apa tidak sebaiknya kau bekerja saja? Aku akan ke kantormu saat jam makan siang," Yesung tahu Siwon kecewa. "Benarkah? Baiklah kalau begitu," Siwon mencium kedua pipi Yesung sebelum bangkit untuk memasuki kamar mandi. Yesung menghela napas.

Ia merasa sangat jahat.

XXX

Lee Donghae menghadap Choi Siwon. Hampir satu menit mereka berdiam dalam keadaan seperti itu. Sebenarnya Donghae tahu ada sesuatu yang memenuhi pikiran Siwon, hanya saja Siwon ragu entah harus memberitahunya atau tidak. "Katakan saja." Kata Donghae berhasil menarik fokus Siwon. "Aku tak tahu apakah ini benar atau salah.." Mulanya ragu. "Apa menurutmu, mengawasi seseorang merupakan tindak kejahatan? Melanggar privasi barangkali?" Donghae terkekeh, merasa geli dengan ucapan Siwon.

"Jujur saja. Kau ingin mengawasi Yesung? Setiap gerak-geriknya tanpa terkecuali? Begitu kan maksudmu melanggar privasi?" Siwon mengangguk malu. "Tidak ada salahnya, Siwon-ah. Yesung istrimu, tentu kau berhak tahu apapun yang dilakukannya selama kau tidak bersamanya." Mata Siwon kembali tidak fokus. "Nanti siang katanya dia mau kesini, saat itu, bisakah kau pasang kamera tersembunyi di setiap sudut rumah?" Donghae terdiam. "Tentu saja kamar mandi tidak, aku juga menghargai privasinya yang satu ini."

"CCTV?" Siwon mengiyakan. "Terhubung ke laptop dan ponselku. Satu lagi, pastikan Yesung tidak sadar bahwa ada benda itu di rumah kami." Donghae mengangkat ibu jarinya, memberi kode kalau kerjaan semacam ini terbilang mudah untuknya. "Bisa selesai dalam satu jam?"

"Mungkin.." Siwon hanya mengangguk-anggukkan kepala. "Jadi kau khawatir?" Donghae masih diam ditempatnya, seperti yang ia lakukan hampir dua menit lalu, berdiri di depan meja Siwon tanpa niatan menyentuhkan pantat ke kursi.

Salah satu alis Siwon terangkat. "Khawatir jikalau Yesung pergi.. mencari Kyuhyun?"

"Jika Seohyun yang sangat kau cintai meninggalkanmu demi orang lain, apa kau tidak khawatir? Apa kau tidak akan marah?" Tentu Donghae mengerti perasaan Siwon, hanya dengan melihat wajahnya saja ia tahu bagaimana berkecamuknya isi hati Siwon sekarang. Dan bodohnya ia malah bertanya demikian. "Aku pasti akan sangat gila." Gumam Donghae.

"Kau boleh keluar." Donghae menurut, membungkuk sebentar sebelum keluar ruang kerja Siwon.

XXX

Tepat jam satu siang saat Yesung tiba di kantor Siwon. Ini bukan pertama kalinya Yesung kesini, jadi ia tahu betul di mana ruangan Siwon, tanpa basa-basi ia langsung pergi kesana. Mendapati suaminya melamun menatap kosong pada laptop.

Yesung berdehem, seketika Siwon tersadar. "Ah.. hai.." Sapanya mendadak canggung. Yesung masuk, menutup pintu lalu menghampiri Siwon. "Sudah makan siang?"

"Menunggumu.." Yesung duduk di kursi depan Siwon. "Jangan bilang kau berharap aku membuatkanmu makan siang.." Siwon tertawa. "Tidak juga, kau disini saja aku sudah bahagia." Yesung menghela napas lega. "Perlu aku belikan suplemen? Akhir-akhir ini kau nampak pucat." Lagi-lagi Siwon tertawa. "Tidak perlu."

Yesung merasa ada yang berubah di diri Siwon. Siwon yang biasanya ceria sudah mulai berkurang. "Apa kau bosan denganku? Apa aku menyebalkan?" Tanpa sadar Yesung bertanya demikian. Siwon tidak kaget sedikitpun. Justru ia menanggapinya dengan santai. "Mau jawaban jujur atau bohong?"

"Bohong." Siwon meraih tangan Yesung di atas meja. "Iya, kau sangat menyebalkan. Aku juga bosan padamu." Tak ada keraguan di mata itu meski Yesung tahu jawaban ini 'bohong'. Tapi siapa menjamin jika sebenarnya inilah suara hati Siwon? Tidak ada yang bisa mengukur hati manusia! "Jawaban jujurnya, apa?"

"Kau yang meminta Yesung, jadi jangan sakit hati bagaimanapun jawabanku."

"Aku siap." Tantang Yesung, tangannya semakin erat digenggam Siwon. "Aku hanya ingin kau tahu perasaanku." Yesung mengangguk, matanya tak lepas dari mata Siwon. "Aku bosan padamu yang lebih mementingkan LELAKI ITU! Sikapmu sangat menyebalkan ketika kau terus terbayang LELAKI ITU! Bahkan melupakan aku, suamimu." Seharusnya yang sakit hati itu Siwon, kenapa Yesung turut merasakannya. "Jika kau lanjut membicarakan ini, aku pergi." Siwon berdecih. "Kau yang memulai! Ohh.. ayolah Yesung.. aku tidak mau bertengkar!"

Yesung melepaskan tangan Siwon. "Tujuanku kesini juga bukan itu! Aku hanya ingin berbaikan denganmu!"

"Kau yang bertanya seperti itu! Jangan menyalahkanku!" Siwon ikut membentak Yesung. "Jangan kekanakan!" Tekan Yesung mulai kesal. Siwon mendecih. Keduanya kembali terdiam. "Maaf." Suara Yesung terdengar tepat saat Siwon menghela napas hendak mengatakan kalimat yang sama persis dengan Yesung. "Aku juga ingin tanya, tapi aku mohon jangan membuat keributan. Aku tidak mau bertengkar lagi," Yesung menatap Siwon. "Apa itu?"

"Jika aku dan Kyuhyun menyebrang jalan bersamaan, lalu tiba-tiba ada mobil yang hendak menabrak kami, siapa yang kau selamatkan?" Oh.. pertanyaan ini berarti siapa yang lebih penting bagi Kim Yesung, kan? "Aku tahu kau tidak bodoh, aku hanya berusaha memperhalus pertanyaan." Akunya. Yesung masih terdiam.

"Sulit bagiku untuk memilih. Jujur saja, aku mencintai Kyuhyun, tapi juga mencintaimu. Sudah berapa kali aku bilang begitu?!" Siwon nampak tertekan. Ia tak ingin jawaban basi ini. "Baiklah, aku akan menjawab…" Detik jarum jam tiba-tiba saja terdengar lebih nyaring, Siwon menatap cemas penuh harapan pada Yesung.

"Choi Siwon.. aku akan menyelamatkannya.." Bukannya senang, ekspresi Siwon justru berubah muram, ada kemarahan tertahan di matanya, raut wajahnya menunjukkan segalanya. "Aku juga tidak bodoh, sayang.." Yesung tahu itu, jika Siwon bodoh, sudah ia berjingkrak ria saat mendengar jawabannya. Lebih simplenya, Siwon paling akan tersenyum ketika ia menyebut nama lelaki itu.

"Siwon.. kumohon.. jangan bahas masalah ini.. sekalipun kau tahu aku lebih mencintai LELAKI ITU, seharusnya kau tetap diam, setidaknya dengan begitu tidak ada satupun dari kita terpancing emosi." Saat itu juga Siwon memukul meja. "Brengsek!" Suaranya bergetar menahan amarah, rahangnya mengeras dengan gertakan gigi terdengar nyaring.

Bagi Yesung, Siwon mengatainya brengsek jauh lebih beruntung daripada Siwon melukainya secara fisik disini. "Bagaimana aku tidak emosi, sayang!? Berminggu-minggu kau meratapi lelaki itu.. mengabaikanku.. mendiamkanku.. bahkan kau berniat.. mengkhianatiku, kan?" Yesung tersenyum miring. "Baru sadar kau ya?"

"Oh.. Tuhan! Jika saja aku tidak mecintaimu, mungkin aku tak akan tahan sampai selama ini.. atau lebih kasarnya.. aku akan membuangmu.." Siwon berdiri, memutari meja kerjanya lalu berhenti di samping Yesung duduk. "Apa artinya penantian bagimu, Yesung? Tidakkah kau merasa? Aku sudah membuang 10 tahun waktuku untuk menunggumu? Dan… inikah balasan brengsek yang aku dapat? Jika akhirnya kau memilih LELAKI ITU, kenapa tak dari awal kau menghilang dari hidupku? Bukannya ikut menunggu, mencari tapi akhirnya melukai? Kau lelaki terbrengsek yang pernah aku temui.."

"Tapi… nyatanya.. si brengsek itu jugalah yang kau cintai.. dan kau pertahankan selama ini.." Tangan Siwon meraih kerah baju Yesung. Pertama kalinya ia berbuat seperti ini, pada Yesung. "Sekalipun aku sudah membencimu, kau pikir aku akan melepaskanmu, hah? KAU PIKIR AKU AKAN MELEPASKANMU? Membiarkanmu bersama LELAKI ITU?!" Siwon menarik kerah baju Yesung, terpaksa membuatnya berdiri. "Dia punya nama.. bukan LELAKI ITU!" Tangan kiri Siwon mengepal. "Jadi ini sifat asilmu, Kim Yesung?"

"Tidak. Aku akan baik pada orang baik. Buruk pada orang buruk. Jahat pada orang jahat. Bersikap brengsek pada manusia yang pantas mendapatkannya."

"Jadi.. kau mengatai aku brengsek?" Yesung hanya tertawa. "Lalu, Kyuhyun?! Bukannya dia baik padamu, lalu kenapa kau jahat? Memikirkan aku saat bersamanya, yang sebenarnya brengsek itu kau Yesung!"

"Kau tidak…"

"DIAM!" Siwon mendorong Yesung hingga Yesung terkengkang kebelakang sampai akhirnya jatuh ke lantai. "Yesung aku mohon.. aku akan diam sesuai keinginanmu.. aku tidak akan membawa nama Kyuhyun, LELAKI ITU, atau membahas apapun yang bisa membuat kita seperti ini.. aku akan menuruti kemauanmu asalkan kau bersikap adil padaku.." Mata Siwon berkaca-kaca. Sebenarnya, seberapa jauh Yesung menusukkan jarum ke hati Siwon? Tidak ada yang tahu.

Siwon berjongkok sementara Yesung masih diam pada posisinya. "Jika kau ingin aku minta maaf, aku akan minta maaf, bahkan jika kau menyuruhku berlutut akan kulakukan. Tapi aku mohon, jangan seperti ini. Kau tahu sesakit apa rasanya?" Siwon menatap Yesung. Pertama kalinya ia melihat Siwon menangis dengan airmata sebanyak ini. "Apapun Yesung.. apapun.. asalkan jangan Kyuhyun." Siwon menarik Yesung dan segera memeluknya, merasa bersalah atas apa yang ia lakukan. "Aku tidak akan brengsek jika waktu itu kau membiarkanku, setidaknya melihat Kyuhyun. Bukannya menyuruh orang-orangmu membawaku,"

"Baiklah.. kau boleh menjenguknya.. tapi hanya melihat apakah dia baik-baik saja… setelah itu jangan pernah melakukan apapun yang berhubungan dengan Kyuhyun." Yesung membalas pelukan Siwon. "Tentu."

XXX

Disinilah Yesung, tepat berada di samping ranjang Kyuhyun sementara Siwon menunggunya di luar. Di tangan Kyuhyun ada selang infus, tepat di samping ranjang Kyuhyun ada alat pengukur detak jantung yang sewaktu-waktu garisnya bisa saja berubah jadi lurus.

Yesung tak dapat menahan tangisnya. Ia terduduk sambil menggenggam tangan Kyuhyun, dipergelangannya ada perban yang sedikit berdarah. "Maaf." Ucap Yesung sambil terisak. "Kumohon, bangunlah Kyu.." Lanjut Yesung. "Aku tidak bisa lama-lama, jadi bangunlah.." Yesung menarik kursi tak jauh dari dirinya, lalu kemudian duduk. Matanya tak lepas dari sosok yang tertidur pulas di atas ranjang itu.

"Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun." Bisik Yesung kemudian mencium pipi Kyuhyun. "Inikan yang sangat ingin kau dengar? Bangunlah, aku ingin mendengar sesuatu darimu." Kyuhyun masih tak bereaksi. Wajahnya begitu damai. Sayang rasanya jika ia harus bangun hanya untuk menjawab pertanyaan Yesung.

"Waktumu habis.." 10 Menit berlalu, terasa sangat singkat bagi Yesung, bagai menunggu nyawa dicabut bagi Siwon.

Choi Siwon berdiri di ambang pintu, Yesung melepas tangan Kyuhyun dan segera menghampiri Siwon. Ia tak banyak menolak saat Siwon menariknya keluar apartemen Kyuhyun.

XXX

'Aku hanya ingin melarikan diri dari rasa sakit yang membelenggu ini. Aku ingin menyembuhkan banyak luka yang memenuhi jiwa. Aku rasa jika aku tidur maka aku tidak akan merasakan rasa sakit itu.'

'Suaramu berbisik 'aku mencintaimu' aku mendengarnya lewat telingaku. Aromamu menyeruak masuk penciumanku. Dimana kau? Aku tak bisa melihatmu. Kau tersembunyi disebuah tempat dimana aku tidak bisa melihatmu. Seseorang! Bangunkan aku!'

'Aku ingin menemukan dirimu segera. Rasa sakit yang selama ini aku terima karenamu. Rasa marah yang aku rasakan ketika bersamamu. Semuanya menjadi satu. Aku ingin kembali merasakan semua itu, akan kukejar ingatan yang hilang dari tidur yang panjang.'

'Kau memelukku begitu erat, membuatku perlahan bangkit dari kehancuran. Aku mencoba menggapai tanganmu. Aku mencoba menghapus mimpi burukku. Aku mencoba begitu keras. Tapi disini, aku terjebak sendiri, aku ingin mengusir kegelapan dan menemukanmu.'

'Apa yang bisa menyembuhkanku bukanlah obat, melainkan cintamu yang kuat. Suara yang aku dengar. Jangan pergi! Aku mohon. Bangunkah aku! Jangan tinggalkan aku sendiri. Kim Yesung.'

Jari Kyuhyun bergerak perlahan, sama halnya dengan bola matanya yang bergerak-gerak di balik kelopak mata, bibirnya mengucapkan sebuah kata, namun tidak ada suara yang keluar. "J..jan..gan.." Suara serak itu terdengar perlahan. Setelah Kyuhyun bisa membuka matanya suaranya juga keluar dengan mulus.. ia berucap.. "Jangan pergi.." Dengan sangat pelan. "Yesung.." Kyuhyun bangun, mengamati ruangan yang merupakan kamarnya.

"Berapa lama aku tidur?" Suara Kyuhyun masih tidak terlalu jelas, itu karena tenggorokannya kering. "Yesung.." Panggilnya lagi sambil melepas infus. Kyuhyun turun dari ranjang, berdiri, namun sayang ia jatuh. "Kim Yesung." Kyuhyun masih berusaha bangun, tapi tak bisa, terlalu lama tidur dan hanya berbaring membuat setiap persendiannya kaku.

"Aku tak mungkin salah." Gumam Kyuhyun, masih terduduk di lantai.

XXX

Pagi berikutnya sama seperti biasa. Yesung membangunkan Siwon. Membuka gorden beserta jendela. Menyediakan air untuk suaminya mandi. Menyiapkan perlengkapan kerja Siwon, sampai memasakkan sarapan. Mendadak semua terasa monoton dilakukan.

Ini sudah hampir tahun ke-2. Dan sialnya Yesung sudah merasa tak bahagia. Hari demi hari ia juga semakin menyadari perasaannya pada Siwon mendadak tiada, setiap hari berkurang dan berkurang. "Apa yang kau pikirkan?" Siwon menarik kursi meja makan, menatap Yesung di sebrang ia duduk sedang melamun. "Tidakkah kau merasa? Setiap hari semakin membosankan," Siwon terdiam, Yesung mulai lagi, pikirnya.

"Mungkin kau ingin anak. Aku pernah dengar, pasangan akan semakin bahagia jika memiliki anak." Yesung tertawa, dan Siwon tahu alasan di balik tawa itu. "Mau mengadopsi anak?" Tawarnya dan lagi-lagi Yesung tertawa gila. "Aku tak pernah ingin anak," Siwon tak jadi menyentuh sarapannya, nafsu makannya meluap entah kemana. "Urus saja anjingmu, kulihat salah satu dari mereka mati."

"Nah itu.. anjing saja aku tak bisa merawat.. apalagi anak.." Mereka bertatapan. "Kau berubah Yesung." Ia hanya mengangguk, seakan mengiyakan perkataan Siwon. "Aku bisa saja menyakitimu lebih dari yang kau lakukan padaku." Siwon mengambil tas kerjanya, keluar ruang makan begitu saja.

Tidak lama setelah ia keluar, suara pecahan piring terdengar.

XXX

"Siwon.. kau terlihat kurang sehat.." Donghae meletakkan cup kopi di atas meja Siwon, menarik kursi dan duduk. Siwon tak berreaksi, ia fokus pada layar laptopnya. "Jika ada masalah kau bisa bagi padaku." Siwon menggeleng, ia merasa percuma mencurahkan hatinya pada Donghae atau siapapun itu karena manusia tidak akan mengerti perasaan manusia lainnya sebelum mengalami penderitaan yang sama, sekalipun orang lain mengalami kejadian yang sama itu, dan bisa mengerti, tapi tetap tidak bisa memahami. Kebenaran terbrengsek baginya.

"Jika kau butuh aku, panggil saja, kapanpun." Donghae keluar tanpa diperintah Siwon, sama halnya dengan masuk kesini tadi.

Siwon menatap layar laptopnya, mengamati aktifitas Yesung di rumah. Dan sekarang lelaki itu berada di halaman belakang, mengubur salah satu anjing peliharaannya yang mati karena tak terurus.

Yesung tak ingin anak. Siwon memang tahu itu. Sekalipun mereka punya anak, entah itu mengadopsi atau dari ibu pengganti, Yesung tetap tak akan bahagia, pertengkaran pasti takkan ter-elakkan. Apa yang Yesung ingini bukanlah bayi seperti yang ia kehendaki, tetapi Kyuhyun. KYUHYUN-Lah yang Yesung harapkan, bukan dirinya meskipun Yesung 'juga mencintai' ia seperti yang dikatakan pria itu.

Siwon akui Yesung brengsek, dan Yesung juga benar, ia mencintai orang brengsek itu. Ia sungguh benci perasaan ini. Ia ingin berhenti, melepaskan Yesung, namun apa? Sekali dia berkata mencintai orang itu, maka selamanya akan tetap begitu. Mau dipaksakan bagaimanapun perasaannya akan tetap sama. Sekalipun ia berkata 'aku sudah tidak menyukainya.' Atau 'aku membencinya.' Itu semua perkataan terbullshit yang akan keluar. Dan ia tak ingin membohongi perasaannya.

Setelah melamun Siwon kembali mengamati Yesung, lelaki itu sudah tak berada di halaman belakang, melainkan kamar. Yesung memainkan handphonenya. Menelpon seseorang, ekspresinya kaget untuk sesaat sebelum kemudian tersenyum lebar. Senyum yang selama beberapa hari ini tak pernah Siwon lihat.

Yesung keluar terburu-buru, menuju garasi, mengeluarkan mobil, membuka pagar kemudian pergi.

Siwon mendecih, ia menetakn tombol intercom memanggil Donghae. Sigap sekali Donghae, dalam hitungan detik saja sudah berdiri di depan Siwon. "Lacak ponsel Yesung, suruh orangku mengikutinya. Jangan membawa Yesung pulang, hanya lihat dia kemana." Donghae mengangguk dan segera keluar. Siwon menjambak rambutnya. Ia memang tak seharusnya percaya pada Yesung. Tidak setelah Yesung menjenguk Kyuhyun.

Hampir satu jam Siwon menunggu hingga akhirnya ponselnya berdering, bukan panggilan, melainkan pesan singkat. Dari Donghae. 'Yesung ke apartemen Kyuhyun.' 4 Kata itu berhasil membuat Siwon kalap. "Biarkan saja dulu." Kirim Siwon pada Donghae.

XXX

Malam menjelang, Siwon pulang tepat jam 9 malam. Yesung tidak menunggu kepulangan dirinya seperti dulu. Ia memutuskan segera masuk ke kamar dan mendapati Yesung tidur. Sepertinya sangat kelelahan.

Siwon sudah tak dapat tersenyum meski hanya senyuman hambar. Raut wajah Yesung nampak sangat bahagia, seperti suatu hal baik telah terjadi. Hal ini membuatnya merasa tak berarti lagi. Ia duduk di sisi ranjang menghadap Yesung, menyentuhkan tangannya ke kepala pria itu lalu mengelusnya. "Lagi bahagia, ya?" Datar Siwon.

Meski wajahnya datar tapi hatinya sungguh sakit. Yesung jelas-jelas menunjukkan ketidak sukaannya padanya. Singkatnya cinta Yesung. Ternyata Yesung orang yang mudah berubah. "Labil." Gumam Siwon.

Ia memutuskan keluar kamar, bukan hanya kamar, rumah juga.

Pagi menjelang, Yesung mendapati tempat tidur di sebelahnya kosong. Ia pikir mungkin Siwon ada tugas keluar kota dan tidak mengabarinya. Ia meraih ponsel dan sudah ada 2 pesan disana. Satu dari Kyuhyun dan satu dari Ahra.

Yesung memutuskan membaca pesan Kyuhyun dahulu. 'Apa kau ke apartemenku hari ini? :D aku sungguh merindukanmu.' Yesung tersenyum. "Hm. Aku akan kesana dalam satu jam. Kau mau makan apa? Biar aku masakkan." Selagi menunggu balasan Kyuhyun, Yesung membaca pesan Ahra. 'Hei, Yesung. Kyuhyun membaik dengan sangat cepat berkat kau. Terima kasih,'

"Aku senang mendengarnya. Noona mau makan apa? Hari ini aku ke apartemen Kyuhyun." Yesung tidak pernah sebahagia ini selama beberapa bulan. Dan lagi, ia melupakan Siwon karena keegoisannya. 'Apa yah?! Pasta saja. Cepatlah, aku tidak sabar bertemu denganmu.'

"Sabar sedikit. Aku baru bangun tidur =_= Baiklah kalau begitu, sudah ya, aku mau mandi." Tepat setelah Yesung mengirim pesan balasan pada Kyuhyun, SMS Ahra datang. 'Ayahm fillet!'

"Baiklah noona, kalau begitu aku mandi dulu.." Yesung meletakkan ponsel, mengambil handuk dan pakaian dari lemari kemudian lari ke kamar mandi.

XXX

Donghae menatap Siwon dari ambang pintu, ia ragu apakah masuk atau tidak. Pasalnya Siwon terlihat lebih tertekan daripada kemarin. Ia berani bertaruh bahwa Siwon tak tidur semalaman, dari matanya yang berair dan bengkak, ia juga yakin Siwon hanya menatap pada laptop dengan brightness maksimal. Jika dibiarkan lebih lama lagi mata Siwon akan minus tinggi.

Donghae memilih masuk tanpa mengetuk pintu. "Apa kau sudah sarapan?" Siwon hanya menggeleng, tidak menatap maupun bersuara untuknya. "Aku beli makanan kalau begitu," Siwon bersuara 'Jangan' kelewatan pelan, Donghae hampir tak mendengarnya. "Kenapa? Kau sangat pucat Siwon.." Donghae berjalan mendekati meja Siwon, memutar balik paksa laptop hitam itu lalu mengatur brightnessnya menjadi yang paling rendah. "Jaga matamu." Ucapnya lalu memposisikan laptop ke tempat semula.

"Lebih baik aku tak bisa melihat. Setidaknya tak akan terlalu sakit saat Yesung berjalan berdua dengan Kyuhyun di hadapanku," Hanya dengan melihat wajah Siwon, Donghae sudah dapat merasakan perasaannya. Sesak. Sakit. Frustasi merangkak depresi. Tak bersemangat. "Siwon. Kau tahu bahwa kau berharga? Pikirkan ayah-ibumu, jangan hanya Yesung." Siwon menggeleng. "Aku sudah mencoba." Donghae duduk di kursi, tanda ia siap mendengarkan Siwon.

"Kau tahu Hae? Bagaimana Yesung menjawab pertanyaanku kemarin?" Donghae mengatakan tidak. "Saat aku tanya, siapa yang akan dia selamatkan saat kami berdua hendak tertabrak mobil.. dia menjawab.. aku.. Choi Siwon.. dia akan menyelamatkanku.." Siwon meremas rambutnya. "Kau tahu maksudnya?"

"Jadi, Yesung lebih memilih menyelamatkanmu karena.. dia dan Kyuhyun bisa mati bersama? Dan membiarkanmu tetap hidup dalam kesedihan, menyesal barangkali?" Siwon mengangguk. Seperti biasa. Donghae tahu apa yang ada di pikirannya. "Aku tak tahu harus apa lagi. Hari ini Yesung pergi, dia kelihatan sangat bahagia." Siwon mendongak, ia tak ingin menangisi lelaki itu. "Beribu kali aku melarangnya, tetap saja dia lakukan. Yesung menunjukkan kebenciannya padaku."

"Tak perlu ditahan Siwon-ah. Selama ini kau terlalu lembut padanya, ini saatnya kau keras, luapkan apa yang selama ini tertahan di hatimu. Kali ini saja, beri Yesung pelajaran yang membuat dia jera. Aku tahu kau tak mampu menyakitinya, lebih dari sekadar mendorong atau menampar. Lakukan lebih padanya." Siwon menatap Donghae, ada emosi di suara Donghae. "Keras? Bagaimana? Aku tak tahu bagaimana keras padanya." Donghae tersenyum.

"Apa yang paling dia takuti? Kau bisa lakukan itu padanya."

XXX

Yesung tiba di apartemen Kyuhyun 10 menit lebih lambat dari yang dijanjikan. "Kau lambat." Canda Kyuhyun saat Yesung masuk dapur. "Aku ke supermarket dulu, Kyu. Dimana Ahra noona?" Yesung meletakkan belanjaannya ke atas meja makan, sementara Kyuhyun duduk di salah satu kursi. "Kau sungguh mau masak pasta?" Ucapnya saat melihat bahan-bahan yang dibeli Yesung. "Tentu saja." Yesung menatap Kyuhyun sambil tersenyum. "Pasta dan.. chicken fillet?" Ia mengangguk. "Ahra noona memintanya,"

"Apa yang terjadi selama aku tidur?" Yesung terdiam cukup lama. Ia mengerti maksud pertanyaan Kyuhyun. "Aku belum cerai dengan Siwon." Kyuhyun hanya mengangguk paham. "Sudahlah.." Yesung tertawa.

Ia mengeluarkan bahan-bahan dan menatanya agar tak berantakan. "Lebih suka apa Kyu? Dada atau paha?" Tanya Yesung sambil melihat antara dua bagian tubuh ayam. Tiba-tiba Kyuhyun berdiri dan berjalan ke belakang Yesung, ikut melihat daging ayam mentah di atas meja makan. "Apa ya?" Kyuhyun memeluk Yesung, meletakkan dagunya di bahu kanan Yesung. "Dada atau paha? Menurutmu? Apa yang enak?" Tanya Kyuhyun manja. "Kenapa malah balik tanya?!" Yesung memukul tangan Kyuhyun di perutnya. "Kalau ayam, tentu saja dada. Dan Yesung, aku mau semua." Selesai berucap Kyuhyun mencium pipi Yesung.

"Semua? Dasar mesum.." Yesung menolehkan kepalanya, mengganti pipi yang dicium Kyuhyun menjadi bibir. Tangan Kyuhyun di perut Yesung perlahan merambat untuk membuka kancing kemeja Yesung namun Yesung malah menahannya.

Kyuhyun berhenti mencumbu bibir Yesung. "Kenapa?" Tanya Kyuhyun agak kecewa. "Bagaimana kalau Ahra noona datang?" Kyuhyun menghadapkan Yesung pada dirinya. "Benar juga, malam aku lanjutkan."

"Sejak kapan kau jadi seperti ini Dr. Cho?" Yesung mendorong dada Kyuhyun. "Oh, iya.. kau berhenti bekerja atau apa?"

"Tidak. Seminggu lagi aku kembali ke desa dan melanjutkan klinik, mau ikut?"

"Tentu. Aku harus memastikan apakah di sana ada perawat atau tidak." Kyuhyun kembali duduk sementara Yesung menyiapkan perabot memasak. Kyuhyun mengamatinya dengan senyum tulus.

To Be Continue

Maaf lama… TwT) saya lagi gak mood to do everything.. breath pun feel bored *? I must eotteokhae? Yah.. sudahlah…

Adakah disini yang pernah merasa frustasi? Depresi? Mau bunuh diri tapi tak punya nyali? Kalau begitu kita sama TwT"

Gak kerasa sekolah udah masuk semester 2 .-. *malah curhat* dan saya tetap begitu-begitu aja.. gak punya temen baik macam di smp.. dan saya pengen curhat.. but.. I don't know where shall I go~ jadi disinilah tempat terakhir saya.. ada bagian dari chap di atas yang merupakan curahan hati saya.. jika ada yang sadar mana bagiannya.. mohon di maklumi ^^..

Sudahlah~ Bye~