Author's note: Pernah nonton anime 'Nichijou'? Nah, anime itu menginspirasi saya untuk membuat fic yang gaje dan gila ini... Di sini, saya nggak punya maksud untuk menertawakan kehidupan orang-orang yang kehidupannya seperti ini, malah saya ingin menunjukkan bahwa di tengah kesulitan pasti masih ada kelucuan-kelucuan yang bikin senang. Saya juga senang karena review yang saya terima sejauh ini baik... Arigatou ^^

Anyway, here's chapter 2, enjoy!


Episode 2

Kangin tampak tak sabar. Ia ingin cepat-cepat mandi, tetapi... "Apa yang kau lakukan di dalam sana?! Cepatlah!" tegurnya, kesal pada Kyuhyun yang tidak segera keluar dari bilik bambu setinggi leher yang disebut kamar mandi itu. Di belakang Kangin, Eunhyuk mendesah pelan. "Ini mengingatkanku pada masa kecilku, bahkan saat ini lebih buruk..." (Masa kecil Eunhyuk: rumah Eunhyuk tidak ada kamar mandinya, jadi kalau mau mandi dan sebagainya harus pergi dulu ke stasiun yang ada kamar mandinya, berjarak 200 m dari rumah.)

Kyuhyun, bukannya mempercepat mandi, malah melempar Kangin dengan baju kotor. Tepat; bajunya mendarat di muka Kangin. Wajah si senior merah padam. "Bajumu bau sekali, sial!"

Dengan lagaknya yang tidak peduli seperti biasa, Kyuhyun malah bersenandung di dalam kamar mandi. Kangin merasa semakin diacuhkan, tetapi ia tahu kalau semakin dibiarkan, anak-anak akan makin menjadi, jadi dia diam saja. Anehnya, tiba-tiba, Kyuhyun berhenti bersenandung dan tampak serius. Kangin jadi ikut-ikutan serius: demi apa Kyuhyun yang ceria itu tiba-tiba terdiam? Apa sakit paru-parunya kambuh? "He-hei, kau baik-baik saja?" Kangin berjalan mendekati kamar mandi, tapi Kyuhyun cepat menghentikan, "Jangan mendekat, hyung!"

Kangin semakin bingung, tetapi sesaat kemudian, Kyuhyun tersenyum lega, "Ah, akhirnya keluar..."

Kangin, yang somehow hari itu loadingnya lama, langsung mengerti apa yang dilakukan adik kecilnya di dalam kamar mandi. "Kau sedang melakukan 'itu'? Ya Tuhan, aku benar-benar mencemaskanmu, tau! Kupikir sakitmu tiba-tiba kambuh!"

Dengan senyum evil, Kyuhyun berkata, "Aku senang hyung mengkhawatirkanku." dan melanjutkan mandinya.

"Lagi ngantri mandi ya, Bang?" Seorang gadis cilik, yang sedang mencuci di sungai, menyapa Kangin dan Eunhyuk. Kangin dan Eunhyuk tersenyum bingung pada gadis itu, lalu bertukar pandang. "Apa yang dia katakan?" bisik Kangin.

"Entahlah. Pokoknya, Leeteuk-hyung bilang kalau mereka menyapa kita, tersenyum saja atau bilang 'ya'. Mereka pasti akan senang."

"Kalau begitu, kita bilang 'ya' saja." Kangin mengambil kesimpulan. Keduanya langsung memasang senyum termanis dan mengucapkan 'ya' dengan sepenuh hati pada gadis cilik itu, seolah-olah gadis itu adalah salah satu fans mereka.


Yesung senang sekali dengan pekerjaannya. Walaupun ia baru beberapa hari jadi tukang sayur keliling kompleks, ia merasa akrab dengan pekerjaan itu. Mau tahu kenapa?

"Sayur!"

Somehow, menjadi tukang sayur melatih kemampuan vokal Yesung. Sebagai 'art of voice', dia tidak ingin kehilangan suara emasnya. Berteriak menjajakan sayur di kompleks itu ternyata cukup membantu juga. Ibu-ibu di kompleks itu juga sangat antusias menyambutnya jika ia tiba. Rasanya ia seperti kembali menjadi vokalis SuJu yang banyak fans karena antusiasme mereka itu, tetapi agak repot juga karena ibu-ibu sering tidak sabaran. Mereka sering berebut bertanya, "Mas, ini berapa?" 'Kan Yesung jadi bingung. Secara, dia belum lama jadi tukang sayur dan belum hapal harga sayur-sayur itu. Nama sayur-sayur itu dalam bahasa Indonesia saja dia belum hapal. Sering dia harus melihat contekan yang disiapkan sang leader untuknya, yang terdiri dari bahasa Korea, bahasa Indonesia, dan harga dari sayur-sayur itu.

Namun, tetap ada hari saat ketampanan Yesung tidak bisa disembunyikan di antara tumpukan sayur.

"Oalah, Cah... kok ngganteng tenan... Dadi mantuku gelem yo[1]?" Seorang wanita paruh baya berbicara menggunakan bahasa yang sama sekali tidak pernah didengar Yesung. Gawatnya, nada wanita itu adalah nada bertanya dan Yesung tidak enak kalau tidak menjawab. Gawat tingkat duanya, wanita itu terdengar menggoda dan semua wanita di dekat gerobak sayur tertawa mendengarnya. "Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Aku sama sekali tidak mengerti!" keluhnya dalam hati sambil tersenyum bingung.

"Sudah Bu, jangan ngganggu Mas Sayur terus... Bingung lho orangnya, ya Mas ya?" Seorang wanita, mungkin seumuran dengan Leeteuk, bergabung dengan kerumunan ibu-ibu, tatapannya mengarah ke Yesung. Teringat pesan sang leader, ia segera tersenyum lebar dan menjawab, "Ya." dengan mantap.

Wanita muda itu mengambil seikat daun hijau dan dua buah terong. "Ini aja deh. Berapa Mas?"

Yesung ingat daun itu: bayam dalam bahasa Indonesia, tapi yang ungu itu apa ya? "M-maaf, tunggu sebentar..." Cepat dibukanya contekannya dan menyebutkan harga terong. "Makasih ya, Mas. Ini, uang pas kok," si pembeli membayar belanjaannya, lalu tertawa, "Udah keliling mana aja? Kok udah keringetan gitu? Fighting ya Mas!"

Fighting. Wanita muda berdaster itu mengingatkan Yesung pada para ELF yang selalu menyemangatinya dan kawan-kawannya. Bahagia, Yesung berkata, "Terima kasih. Saya tukang sayur menjadi senang." (sebenarnya, Yesung mau bilang 'saya senang menjadi tukang sayur')

Para pembeli yang mengelilingi Yesung sangat terkejut dan langsung meleleh dibuatnya. Keramahan Yesung itu benar-benar sebuah refreshment di tengah kegilaan ibu kota, padahal Yesung sendiri sedang susah. Begitulah Super Junior, di manapun mereka berada, mereka tidak mau menunjukkan kesulitan mereka di depan orang lain. Selain itu, di Indonesia jarang sekali ada tukang sayur yang seramah dan sebangga Yesung.

Setelah Yesung menyelesaikan urusannya dengan wanita-wanita itu, Yesung mengayuh pergi dengan semangat baru. Dia tidak sadar bahwa wanita muda yang datang paling akhir tadi memperhatikannya dari kejauhan.

"Kayaknya aku pernah lihat mukanya Mas Sayur itu di lain tempat deh..."

Seandainya wanita itu memiliki pendengaran yang lebih tajam, dia akan mendengar senandung merdu Yesung.

'Nun gamgo geudael geuryeoyomamsok geudaelchajattjyonareul balgyeojuneun bichiboyeo

Yeongweonhan haengbogeul nohchil sun eobjyogeudae na boinayonareul bulleojweoyo Geudae gyeothe

Isseulgeoyaneoreul saranghae... hamkkehaeyo geudaewa yeongweonhi[2]' (Haengbok[3])


Kebiasaan. Macet kok dijadikan kebiasaan.

Rina tahu dia tidak seharusnya pindah dari Malang ke Jakarta, tetapi apa boleh buat. Ayahnya yang seorang petugas BPK[4] memang dipindahtugaskan ke Jakarta. Mau tidak mau, Rina harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan Jakarta yang gerah. Apalagi, ayahnya yang keras menyuruh Rina naik bus saja ke sekolah, jadi Rina tidak akan tumbuh menjadi anak yang manja. Untung, earphonenya yang tanpa lelah memperdengarkan lagu-lagu Super Junior masih terpasang di telinga. Rina termasuk beberapa gelintir orang yang jadi ELF di Indonesia saat itu (karena nggak sengaja nemu videonya 'Miracle' waktu lagi searching di YouTube). Sekarang, dia mendengarkan 'Haengbok'. "Uh, suara surga anak-anak ini memang nggak ada duanya! Coba kalau semua orang di negeri ini tahu, pasti langsung banyak yang jadi ELF." batinnya sambil mengetuk-ngetukkan jari di pangkuan dengan bahagia.

Tiba-tiba...

"Pandangan pertama, awal aku berjumpa!"

Jduer! Ada sebuah lagu aneh menyelusup ke pendengaran Rina. "Pasti pengamen bus! Rese' amat sih, nyanyi lagunya Slank di saat terhanyut dalam suara emas para pangeranku! Bikin suasana tambah gerah aja!"

Rina awalnya membiarkan pengamen-pengamen bus itu terus menyanyi, tapi lama-lama nggak tahan juga. Suara pengamen-pengamen itu terdengar semakin jelas karena mereka berdua berjalan ke arah Rina. Kesal, Rina mencopot earphonenya dan berteriak, "Mas, bisa diem nggak sih?"

Dua pengamen bus itu, yang sebenarnya adalah Ryeowook dan Kibum, terjajar mundur. Mereka jadi tidak enak sudah mengganggu, walaupun sebenarnya mereka tidak mengerti apa yang diucapkan Rina. Yang jelas gadis itu marah pada mereka. Dengan bahasa Indonesia yang masih kagok, mereka berkata, "Maaf.." berkali-kali sambil membungkukkan badan. Kibum mendorong-dorong Ryeowook sedikit. "Ayo kita turun.. Aku tidak mau mencari masalah dengan gadis ini di hari ketiga kita bekerja." bisiknya.

"Aku jadi sungkan padanya. Aku akan latihan vokal lagi nanti di rumah." Ryeowook menyetujui, mengira bahwa suaranya yang tidak merdulah penyebab kemarahan gadis itu. Padahal bukan; hanya lagunya yang tidak tepat.

Akhirnya, dua pemuda itu turun dari bus. Rina menyadari sesuatu dan menoleh ke belakang, tetapi dua pemuda itu sudah tidak ada. "Ah, whatever." Rina membetulkan letak earphonenya kembali dan menikmati kemacetan.


Terima kasih masih menyempatkan diri untuk membaca fic ini :)


[1] Jawa: oh, nak, kok tampan sekali... Jadi menantuku mau ya?

[2] Korea: Dengan menutup mata, aku melukismu. Aku sudah mencarimu dalam hatiku dan cahaya yang menerangiku

Aku tidak bisa melepaskan kebahagiaan abadi. Apakah kamu bisa melihatku?Ayo panggilah aku, aku di sisimu

Aku akan berada di sisimu. Aku cinta kita bersama-sama, selama-lamanya

[3] Korea: kebahagiaan

[4] Badan Pengawas Keuangan