A/N : Hai semuanya,
Udah gak sabar lagi ya baca ceritanya? Okey, sekedar mengingatkan balasan review ada di bawah. Thanks a lot
Disclaimer : Masashi Kishmoto
Warning : Vampire, Sexual Content, Physycal threatening, and so many harsh in it.
CHAPTER 2 : What happen with us ?
Kriek… kriek…kriek….
Derakan kayu tua semakin lama semakin keras karena angin berhembus kencang hari ini. Derakan itu berasal dari rumah tua dan gudang besar yang tampak sepi. Banyak orang yang berkata setiap malam terdapat sosok manusia di sana. Tubuh mereka tampak pucat dan seperti hantu. Warga yang resah akibat keberadaan rumah itu akhirnya memagari sekitaran rumah dengan pagar kayu besar, sehingga kini tak ada lagi warga yang terganggu dan berlari ketakutan.
Rumah itu sendiri terletak di pinggiran kota. Jauh dari hingar bingar keramaian, dan dekat dengan hutan yang melintang jauh ke arah selatan. Jika warga menganggap rumah itu angker dan mengerikan, maka kesalahan pertama yang mereka buat adalah mereka tidak memastikannya. Sehingga mereka tidak mengetahui di balik itu semua terdapat rumah mewah gaya klasik yang tertimbun di bawah tanah. Yang dimiliki oleh dua makhluk tampan. Walaupun banyak orang yang ketakutan melewati atau masuk ke dalam kawasannya, beberapa orang tangguh seperti empat orang ini sepertinya tidak terpengaruh dengan situasi di dalamnya.
Mereka berasal dari tempat yang sama, Konoha City. Dari pakaian yang mereka pakai, mereka adalah orang yang tidak pantas berdiri di depan rumah berkayu yang hampir roboh tersebut. Dan tidak sepantasnya mereka menggunakan cara kekerasan untuk menghancurkan pagar kayu kokoh yang di buat warga. Seperti mereka dapat membangun itu dalam sekejap.
Salah satu dari mereka tampak ragu meninggalkan beberapa kerusakan parah yang di buat oleh orang yang di sampingnya. Apa yang terjadi jika orang menemukan lubang besar di pagar yang mereka bangun ?
"Aku tidak punya pilihan lain. Aku bisa merasakan mereka ada di sini," Kushina, salah satu orang yang berada di sana berdiri tegak dengan pandangan yakin. "Naruto mungkin bisa berlari dari kita. Dan tidak menganggap kita siapa-siapa, tapi Minato kita adalah orang tuanya, dan darah kita mengalir di tubuh anak itu. Darahku. Dia berubah menjadi vampire karena garis keturunan kita, dan itulah mengapa kita harus menghentikan tindakan brutalnya,"
Minato Namikaze, suami dari Kushina menghela nafas sambil menatap Kushina. "Dia sudah berumur tujuh belas tahun. Aku tidak bisa menyangkal perbuatannya bukanlah kesalahan. Karena benar adanya seorang vampire dominan sepertiku di usia tujuh belas harus memiliki mate, seperti kita dulu. Jika tidak, mereka tidak bisa mengendalikan hawa nafsu mereka. Mereka akan kehausan dan menginginkan darah dalam kapasitas yang banyak. Bahkan aku yakin jika Naruto tidak mendapatkan matenya kemarin malam, ia akan memulai menghisap darah manusia yang tak bersalah tanpa ampun,"
"Ia tidak bisa mengendalikan nafsunya, sayang. Aku yakin dia masih mencumbu kekasihnya. Kita harus melakukan sesuatu dengan hal itu. Miru, bagaimana menurutmu?"
Wanita yang dari tadi menatap lubang besar di belakangnya tersentak kemudian menatap Kushina dengan bingung. "Maaf, aku tidak mendengar kalian. Lubang itu…" tanyanya sambil menunjuk pagar berlubang yang dibuat oleh suaminya beberapa saat yang lalu. "Aku yakin kita harus melakukan sesuatu dengan pagar itu,"
"Tenanglah, kita akan memperbaikinya segera setelah kita menemui dua bocah itu di dalam sana. Kita harus memberikan penjelasasan kepada mereka, terlebih kepada Naruto,"
Mereka berempat mengangguk sebelum menghilang dengan bayangan. Mereka memasuk koridor dan beberapa tempat yang sempit. Menuju ke beberapa pintu dan ruang rahasia sebelum akhirnya menemui ruangan mewah besar di bawah tanah. Ornamen-oranamennya tampak sangat mahal dan antik. Beberapa perabotan tersusun dengan baik. Berbeda dengan tampak luarnya yang terbuat dari kayu tua yang akan roboh.
"Lumayan juga," Sahut Osh dari samping istrinya. "Sejauh ini mereka melakukan pekerjaannya dengan baik. Apa rencana kalian selanjutnya ?"
"Aku dan Miru akan mengambil gadis itu. Demi Tuhan ! Mereka bisa mati terkapar. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan calon menantu kita. Baiklah Miru, mari kita lihat mereka sementara para pria akan berbicara dengan putra mereka masing-masing.
Uzumaki Kushina memandang ngeri saat ia melihat pintu yang hancur. Pintu kamar anaknya. Ia bisa merasakan keganjilan yang terpusat di kamar putranya.
Saat masuk ke kamar putranya, dia menatap ngeri sosok wanita yang terlentang dia atas ranjang. Terkulai lemah dengan tubuh yang gemetaran. Sementara putranya tampak semangat menghisap leher si gadis. Suara desahan parau masih terdengar, mata indigo gadis itu tampak sayu. Kushina bisa merasakan rasa lelah yang gadis itu rasakan. Apalagi saat melihat genangan air yang berada di bawah mereka, dan kasur lembab yang mereka tiduri.
Dengan perlahan, ia mendekati kedua insan itu. Ia mendengar Naruto menggeram sebelum mempererat genggamannya ke tubuh mungil itu. "Naruto? Nak? Sadarlah," sahut Kushina sambil menekankan tangannya. "Apa kau tidak bisa melihatnya sekarang? Dia kelelahan. Ia akan menjadii milikmu, Nak. Tapi sekarang, biarkan ibu yang mengurusnya dahulu."
"Aku tidak membutuhkan kehadiran siapapun selain dirinya. Dan seharusnya kau tahu itu. Dia memang milikku, tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali aku. Dan kau termasuk di dalamnya. Aku tidak peduli jika kau adalah orang yang melahirkan aku,"
"Naruto, jika kau memang menolak, mungkin aku harus memintanya dengan cara kasar," Sahut Kushina sambil mengeluarkan cahaya merah dari tangannya, mengakibatkan Naruto terpental jauh dari tempatnya semula. Meninggalkan seorang gadis manis yang tampak ketakutan, bingung, kelelahan, dan kekosongan sekaligus. "Baiklah, apa kau bisa berdiri?"
Kushina menopang gadis itu. Bagaimana lagi? Ia tampak tak bertenaga karena sudah terserap oleh godaan putranya. Bekas gigitan dan jamahan memenuhi tubuh gadis ini. Ia tampak semakin berantakan dengan seragam sekolah yang sudah robek di bagian tertentu.
"Maafkan kekasaran anakku, nak."
Gadis itu tidak bisa menjawab hanya menatapnya dengan wajah sayu. "Mari sekarang kita membersihkan tubuhmu, kemudian kita akan membicarakannya dengan baik-baik dengan mereka,"
"Apa yang kalian lakukan di rumah ini ?" Tanya Sasuke dingin.
Osh dan Minato tampak tak peduli dengan penuturan Sasuke, karena mereka sedang disibukkan untuk menenangkan Naruto dari kebrutalannya. Ia semakin menggila, apa aku harus membantunya?
Sasuke tidak bisa melepasakan pandangannya saat ia dilempar keras dari kamarnya sendiri oleh ibunya. Minato dengan siap siaga menenangkan kemarahan Naruto setelahnya. Osh juga harus turun tangan karena saking brutalnya kelakuan sang sahabat.
Sasuke menghela nafas saat Naruto menggeram dan mengeluarkan taringnya. Sahabatnya memang tidak bisa mengendalikan emosi. Terlebih jika pencariannya selama ini sudah berakhir. Dia telah menemukan pasangan jiwanya, dan setelah ia menemui gadis itu, ia mendapati dirinya dijauhkan oleh kedua orangtuanya sendiri. Tragis sekali nasibnya.
"Naruto, dia tidak bisa bertahan lagi. Dia sudah kelelahan, nyawanya akan segera hilang jika kau tidak membiarkannya istirahat."
"Dia milikku, kembalikan milikku,"
"Naruto, jika itu pilihanmu, aku akan menenangkanmu dengan cara kasar, nak!"
Naruto berusaha melepas genggaman ayah dan ayah sahabatnya. Ia tidak bisa berfikir selain menemui matenya dan menciuminya tanpa henti. Ia mencoba menyerang ayahnya dengan tinjuannya dan tendangannya ketika ia terlepas dari sang ayah. Dan hanya ditangkap lagi oleh Sasuke. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Naruto sebelum akhirnya Naruto menatap wajah sang Ayah dengan pandangan datar. Seketika itu juga sekelilingnya kembali tenang, hanya suara air mengalir yang berasal dari dua kamar pemuda itu yang mewarnai tatapan tajam mereka.
"Apa yang ingin kalian jelaskan? Aku sudah bisa hidup tanpa kalian dan bertahan sampai sekarang. Kalian tidak memiliki hak itu lagi. Menurutku kalian seharusnya pergi dari sini dan…"
"Naruto, ini bukan saatnya kita membicarakan masa lalu. Kami di sini bukan karena hal yang sangat sepele. Jika kita melihatnya dari silsilah vampire, maka kami sebagai orang tua harus membantu kalian untuk melewati masa ini. Kalian tidak boleh membiarkan hal yang tidak diinginkan terjadi. Seharusnya kalian tahu beberapa hal inti yang harusnya kalian ketahui di dalam proses penyatuan ini. Jadi, aku harap kau tidak menolak kehadiran kami. Mengerti?"
"Jika itu yang kalian minta. Ayah seharusnya mengabariku dan memberitahukan rencananya sebelum ia dan ibu menemukanku sedang merayu kekasihku. Aku tidak mengerti kenapa orang tua selalu membuat suatu hal menjadi sangat rumit dan memalukan. Aku diusir dari di kamarku dan dihadiahi dengan bantingan pintu. Seharusnya aku yang melakukan hal itu kepada kalian," sahut Sasuke sambil menyeringai ke arah Osh.
"Naruto, aku setuju dengan apa yang dikatakan ayahmu. Dia kesini bukan karena masalah sepele. Jika kau bisa berfikir sebagai anak berusi tujuh belas tahun, maka kau akan mengerti apa yang kumaksudkan," Mengabaikan komentar putranya.
"Sial!"
Naruto melepaskan diri dari genggaman kedua ayah itu dan duduk di sofa dengan nafas yang terengah-engah. "Aku harap kau bisa befikir dewasa, Naruto. Ayah sangat mengharapkannya,"
Minato menatap anaknya dengan sedih sebelum beranjak dari tempatnya berdiri untuk melihat istrinya. Ia menggeleng melihat kerusakan besar yang dilakukan oleh anaknya. Sudah beberapa tahun mereka tidak berjumpa dan sekarang datang hanya untuk melihat anaknya dalam situasi berbahaya. Suara keran yang ditutup menyambut kedatangan Minato di ruangan itu. Ia mendengar suara istrinya yang menenangkan gadis di dalamnya. Kemudian, Kushina keluar dan tersenyum ketika melihat Minato berdiri tepat di hadapannya.
"Bagaimana keadaannya?"
Kushina membawa gadis itu ke hadapan sang suami. "Ia mengalami kelelahan yang luar biasa. Dan juga rasa tidak nyaman. Ia masih dikuasai hasrat tapi untuk saat ini aku sudah memberikan beberapa perawatan kepadanya. Sebentar lagi, ia akan tertidur. Aku harap dalam waktu itu, kau bisa menjaga Naruto untuk menjauh darinya,"
"Aku tidak bisa melakukannya dalam jangka waktu yang lama, Kushina. Dia tidak bisa dikendalikan. Aku yakin dia akan membawa gadis ini ke sebuah tempat dan tidak menghilangkan jejak." Minato mendengus kemudian menutup mata "Tapi mungkin kita bisa sedikit mengunci bau gadis ini. Sebelum melakukan proses penyatuan, seharusnya seorang vampire tidak diperbolehkan mendekati si mate. Seperti yang kita lakukan dahulu, setelah aku menemukanmu, maka aku harus menunggu selama beberapa bulan sebelum menyatukan diri denganmu.,"
"Ya, kau benar. Aku masih ingat mengenai ibumu. Dia memberikanku kalung untuk melindungi diri dari kebrutalanmu dan sebagi tanda bahwa aku sudah ditunangkan,"
Minato tersenyum saat gadis di samping istrinya itu menatapnya dengan bola mata sayu. Ia tidak bergerak dan pikirannya seperti melayang entah kemana. "Aku yakin putra kita sudah menghipnotisnya. Kita harus mengembalikan pikirannya. Aku yakin bekas gigitan Naruto tidak akan hilang dengan mudah. Saat Naruto mencumbu lehernya, ia mengeluarkan racun penghipnotis dari taringnya. Hal itulah yang membuatnya menjadi lemah seperti ini. Aku bisa melihat beberapa gigitan di sekitaran dada dan leher,"
"Apa solusi yang kau dapatkan, Kushina?"
Kushina tersenyum. "Mungkin ini waktunya kita memberikan kalung warisan itu. Lagi pula, kau sudah menandaiku sebagai milikmu," Sahut Kushina sambil menunjukan kalung jambrud yang ia kenakan dan tato berwarna merah keemasan di lehernya. "Kau juga tidak melupakan satu tanda lagi yang berada di pinggangku, bukan?"
Minato menggeram. "Aku mengingatnya seperti kita melakukan dahulu dan bukannya enam puluh empat tahun yang lalu,"
Kushina tertawa seraya menuntun gadis manis yang ia bawa ke ranjang Naruto. Ia menidurinya dan mengambil kalung yang ia simpan di tas hijaunya. Kushina memakaikan kalung itu ke leher Hinata dan seketika itu juga, luka dan beberapa bekas gigitan menghilang dengan sempurna
"Dia akan pulih dengan sendirinya,"
Minato mengangguk setuju. "Hal yang kita lakukan sekarang adalah membiarkan gadis ini beristirahat sementara kita berbicara dengan putra kita, Naruto,"
"Tidak," Sahut Kushina sedih. "Mungkin kita harus menunggu gadis ini sampai pulih. Naruto akan datang ke sini kapan saja, jika kita pergi kita tidak bisa menahannya,"
"Baiklah," Kata Minato sambil mengecup dahi istrinya itu.
Sementara itu, Miru sudah membawa Sakura keluar. Sasuke bisa merasakan kebingungan yang ia rasakan. Dibandingkan Hinata, ia terlihat lebih prima. Miru bersyukur putranya tidak sebrutal Naruto. Miru melihat Osh yang sedang berbicara dengan Naruto. Anak itu tampak berantakan. Ia memakai kemeja yang sudah terbuka, menunjukan dada bidangnya dan celana yang tidak rapi. Rambut anak itu sangat berantakan, dia terlihat sangat frustasi.
"Sakura, maukah kau duduk sementara aku membuatkan teh untukmu? Aku tidak ingin ada penolakan,"
"Baiklah," Sakura mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang sedikit jauh dengan Sasuke. Gadis itu masih merasa linglung, tapi tidak selinglung itu sehingga ia tidak mengingat apa yang dilakukan pria ini kepadanya. Dia menatap tajam Sasuke. Apa yang pria ini lakukan sudah keterlaluan. Dia berfikir aku adalah gadis murahan. Sial!
'Dia tidak menganggapmu sebagai wanita murahan Sakura. Dia hanya menganggapmu spesial. Dan lihatlah, dia sangat tampan hari ini. Apa kau yakin kau tidak ingin memilikinya?'
Sakura mendengus saat inner dirinya tidak setuju dengan pemikirannya. Bahkan dirinya sendiri pun mengkhianati dia. Siapa dia? Dia hanya orang asing yang tidak memiliki otak. 'Aku tidak setuju dengan apa yang kalian fikirkan. Dan aku tidak akan membiarkan dia menyentuhku lagi, sedikitpun!"
"Sudahlah paman, aku tidak mengerti kenapa kalian memperdebatkan aku dalam hal ini. Ya memang aku tidak memiliki kestabilan karena darah yang mengalir dalam diriku sedikit berbeda dari yang kalian miliki. Aku memang memiliki beberapa kelainan yang membuat emosiku tidak terkendali. Tapi siapa yang peduli denganku? Orangtuaku memperjelas pendapat mereka beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang, ketika aku sudah mandiri dan mampu dalam kehidupanku, mereka datang dan mengatakan aku dalam bahaya karena emosiku yang tidak bisa ku kendalikan di umurku yang ke tujuh belas tahun ini. Aku masih ingat bagaimana mereka menyerah denganku di tahun-tahun aku bertransformasi menjadi makhluk terkutuk ini. Dimana jantungku berhenti berdetak dan semua darahku berhenti beredar. Rasanya seperti di tusuk oleh besi dan perak tajam sekaligus. Tulangku seperti terhunus dan dihancurkan oleh pedang yang tajam, dan mereka tidak melakukan apapun, Mereka tidak datang untuk melihatku setelahnya, sampai sekarang. Mereka tidak pernah menganggapku sebagai anak dari mereka, mereka menganggapku sebagai monster. Dan kini, ketika mereka menemukanku hidup bahagia di tempatku, mereka datang seenak hati ke sini? Apa itu yang disebut kepedulian? Jika mereka peduli seharusnya mereka memberitahukan maksud mereka dan bukannya membiarkanku di sana!"
Sakura mengalihkan pandangannya ke arah pemuda kuning yang berantakan di depannya. Ia tampak frustasi dan tak terkontrol. Pria yang duduk di sampingnya harus menggelengkan kepala saat ia menahan lengan lelaki itu agar tidak beranjak dari duduknya. "Kau belum mengerti juga. Aku tidak memiiki bakat di dalam menjelaskan hal ini, Naruto. Minato dan Kushina memiliki banyak tanggung jawab yang lebih besar dari yang kau kira," Sahut pria itu "Jika kau masih tetap mempertahankan pendapatmu dalam hal itu, kau tidak akan mendapatkan kebenaran…."
Naruto memotong perkataan Osh sambil menatapnnya datar tanpa emosi. "Aku tidak ingin membahas hal ini lagi, paman. Aku rasa aku sudah mendapatkan kebenaran yang sebenarnya. Hal yang aku pedulikan sekarang adalah mateku. Seorang gadis yang sedang tertidur di sana menungguku untuk memilikinya. Aku tidak peduli dengan mereka lagi. Bahkan jika mereka memaksa, aku tidak akan sungkan membawa sesuatu yang kumiliki keluar dari sarang ini. Itu berarti aku tidak peduli dengan dunia lagi,"
"Ayah, dia sedang dikendalikan oleh rasa haus. Seperti yang ia katakan, dia memiliki darah yang berbeda dari kita. Ayah harus mengerti latar belakang yang ia rasakan. Aku mengerti, karena itulah lebih baik ayah membiarkannya untuk tenang dulu." Sahut lelaki raven berwajah datar itu ke arah Osh. Kemudian dia menoleh ke arah Sakura yang tidak mengalihkan pandangan melihat perdebatan kecil itu. "Dan mungkin, kita harus mengganti topik pembicaraan ini sementara. Perkenalkan, gadis ini bernama Sakura Haruno. Ia adalah mateku,"
"Apa?" Sahut Sakura spontan. "Apa yang kau maksud dengan 'Ia adalah mateku'?"
Naruto mendelik pada gadis berambut pink itu kemudian menatap Sasuke. "Sepertinya, bukan hanya saja kau yang mendapat masalah. Gadis yang kau sebut sebagai matemu tidak mengakui dirimu,"
Sasuke menyeringai, tidak mengalihkan pandangannya kepada Sakura. "Tentu saja. Dan begitu juga dirimu. Mungkin kita memiliki beberapa pekerjaan dalam hal ini, kawan."
Miru datang secara tiba-tiba dari belakang. Ia membawa secangkir teh herbal dan memberikannya pada Sakura. Sakura tersenyum tanda terimakasih dan menyesap sedikit teh tersebut.
"Bagaimana perasaanmu, nak?"
"Aku baik sekarang. Terimakasih, Maam. Tapi aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini," Sakura mendatap Sasuke tajam "Yang aku ingat dia tiba-tiba berada di depanku dan membawaku ke tempat ini dengan cara yang tidak pantas,"
Miru tersenyum sebelum menatap Sasuke. "Seharusnya kau meminta maaf atas apa yang kau lakukan, Sasuke. Sebagai seorang pria kau tidak boleh menjadi pengecut. Terlebih lagi kepada pasanganmu, benar?"
Sasuke membalas tatapan ibunya dengan pandangan datar. "Tentu saja," Sasuke mengangkat alis saat Naruto berdecih dan tertawa pelan. Dia menatap Naruto sekedar untuk memperingatkan dan kemudian kembali menatap ibunya. "Tentu saja aku harus meminta maaf karena aku telah membawanya ke sini, dan tentu saja jika ia tidak menikmati apa yang aku lakukan kepadanya. Tapi nyatanya, dia menikmati momen itu dan mugkin terpatri jelas dalam fikirannya, jadi katakan, apa aku memiliki utang maaf kepadanya, Ibu?"
Pipi Sakura memerah ketika mendengar perkataan Sasuke yang terus terang. Ia memang sudah bertingkah seperti pelacur. Seharusnya ia tidak menikmati sentuhan sang pemuda beberapa jam terakhir, tapi ia tidak berdaya untuk melawan. Pria itu terlalu kuat untuknya. Atau mungkin dia memang bukan manusia biasa. Sakura berusaha mengingat detik-detik sebelum ia dibawa ke sini. Ia dan Ino sedang membicarakan rencana liburan musim panas dan tiba-tiba sosok bayangan datang dan pria ini muncul. Sakura menatap horor Sasuke sambil meletakkan gelasnya. Sosok bayangan datang dan pria ini muncul. Di hadapannya. Dan ia langsung mencumbunya. Jelas sekali, fakta yang ada tidak mengatakan apapun bahwa ia adalah manusia. Yang jelas dia bukanlah manusia. Ia yakin sekali pria ini bukan makhluk normal.
"Siapa kalian sebenarnya? Aku tidak mengerti dengan hal ini kecuali ia berusaha memperkosaku. Aku tidak tahu apa itu mate, dan kenapa aku bisa sampai dibawa ke sini. AKu tidak memiliki urusan dengan kalian. Dan aku tidak mengenal kalian secara personal. Terlebih lagi kau!" Sakura menunjuk ke arah Sasuke "Aku merasa berdosa sekali setelah aku menyadari apa yang terjadi. Dan jujur, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Itu memang kesalahanku namun mengingat kau yang membawaku ke sini, aku yakin kau masih memiliki utang maaf padaku. Dan satu lagi, aku tahu kalian adalah orang yang popular di sekolah, tapi bukan berarti kalian bisa membawaku ke sini sesukamu! Satu lagi, aku bukan perempuan murahan yang bisa kau ajak ke rumahmu, tidur di kamarmu, dan sekarang duduk di sini sambil menyesali kesalahan yang tidak aku buat!" Sakura berteriak tanpa menurunkan jemarinya. "Aku ingin pulang sekarang, dan jika kau tidak membiarkanku aku berjanji aku akan menendang bokongmu tanpa ampun!"
Sasuke menatap Naruto yang kini menyeringai tanda kemenangan. "Ah,ah,ah, sekarang lihat siapa yang benar-benar dalam masalah? Ms. Sakura mungkin kau bisa duduk sejenak dulu di sana sampai sahabatku ini mengatakan kebenarannya. Aku yakin kau ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dan mengapa kau ada di sini," Sahut Naruto sambil beranjak berdiri. Meregangkan lengan dan kakinya sebelum melangkah mendekat ke arahnya. "Aku yakin kau sudah mengetahui tentang vampire. Beberapa buku sudah menuliskan beberapa keterangan mengenai hal itu. Aku yakin kau sudah mengetahui keterangan dasar bahwa vampire itu memiliki jenis yang berbeda-beda. Termasuk aku dan juga Sasuke. Kami berdua adalah vampire dominan, vampire yang lahir dari perkawinan antara vampire origin dengan seorang mate. Kau bisa mengunjungi perpustakaan untuk mengetahui kejelasannya. Ayahku adalah vampire dominan, dimana mereka harus memiliki mate sebagai submasive mereka. Ibuku adalah submasive. Dan mereka melahirkan aku, tetapi sebuah insident membuatku sedikit berbeda. Aku memiliki kehidupan yang normal sampai di usiaku yang ke enambelastahun. Aku masih memakan makanan manusia dan tumbuh normal sebagaimana remaja biasanya. Namun, ketika aku berumur enambelastahun, aku merasakan perubahan dalam diriku. Di sana, aku akan berubah menjadi makhluk immortal, yang abadi. Tapi kehidupan kami akan berakhir satu tahun kemudian jika kami tidak memiliki submasive. Karena pada hukumnya dimana ada dominant, disana harus ada submasive. Untuk itulah sekarang kau ada di sini,"
"Aku adalah submasive? Maksudmu?" Tanya Sakura namun Naruto seperti tidak mendengarkan pertanyaannya.
"Di umurku yang ke tujuh belas tahun, semua inderaku semakin bertambah, yang berguna untuk mendeteksi submasiveku. Kami tidak memiliki kemampuan untuk memilih siapa yang kami suka untuk dijadikan submasive. Tapi hasrat dan darah kamilah yang memilih kalian untuk dijadikan mate. Setiap mate, memiliki darah yang berbeda dengan manusia lainnya. Mereka memiliki setengah dari darah kami, dan menerima kekuatan spesial tersebut setelah submasive atau mate menerima tanda yang akan kami berikan di dua tempat di tubuh kalian. Leher dan juga pinggang. Tanda itu berupa lambang dari energi yang kami miliki. Biasanya tanda itu seperti tato permanen yang sudah kalian miliki sejak kalian lahir. Tapi tenang saja, tanda itu akan muncul jika kalian dalam bahaya dan jika kami yang ingin menunjukannya kepada orang banyak. Membuktikan bahwa kalian telah diklaim menjadi milik kami seumur hidup. Di dalam kehidupan sehari-hari, tanda itu akan samar. Hanya berupa bekas tindikan kecil,"
"Biasanya indera kami tidak bisa dikendalikan jika sudah menghirup aroma kalian. Misalnya saja, tindakan liarku yang membawamu ke sini. Itu adalah sifat buruk kami. Tapi percayalah, kami hanya hidup untuk kalian, dan kalian adalah satu-satunya yang kami perjuangkan," Sahut Sasuke
"Apa yang kalian makan?" Tanya Sakura spontan.
Naruto berdehem sebelum menatap Sasuke ragu. Sasuke hanya menatap datar dan mengangguk pelan.
"Setelah kami berubah menjadi vampire, tubuh kami tidak membutuhkan nutrisi seperti yang kalian perlukan. Benar, kami membutuhkan darah untuk hidup. Tapi ingat, kami adalah vampire dominan. Kami tidak memiliki nafsu untuk memakan darah siapapun selain mate yang ada untuk kami. Itulah makanya ketika kami menemukanmu, kami tidak bisa mengendalikan diri. Hal itu karena kami tidak makan selama setahun setelah transformasi kami. Hal yang berbeda jika kami tidak berhasil menemukan submasive, maka kami akan menjadi pembunuh berdarah dingin. Kami haus akan darah dan tidak pernah puas karena yang bisa memuaskan kami adalah darah submasive kami sendiri. Disitulah para vampire dominan akan ditangkap dan dihukum mati. Karena kami berusaha menjalin kedamaian dengan dunia,"
Miru menepuk bahu Sakura yang terlihat tegang. "Anakku, lihatlah sisi positifnya. Putraku bukannya tidak bisa mengontrol diri dan membawamu ke sini hanya untuk memperkosamu. Dia adalah orang yang baik, dan dia tidak pernah merencanakan kehidupannya seperti ini. Setidaknya, berikan lah dia kesempatan sedikit. Aku tahu banyak mengenai kejadian dimana mate dan vampire tidak disatukan. Keduanya berakhir tragis dan seharusnya kau tahu akan hal itu, Nak. Jadi bagaimana?"
"Aku tidak tahu, Maam. Mungkin aku akan berfikir sejenak sebelum aku menerima berita ini. Sejujurnya, aku terkejut ternyata vampire itu nyata. Selama ini, aku hanya bisa membayangkan mereka nyata, namun sekarang mereka bukanlah sekedar bayangan saja,"
"Tentu saja," Jawab Miru.
Ketika pembicaraan mereka selesai sampai di sana, Sakura bisa mendengar suara langkah kaki dari koridor dan suara yang sangat familiar. Hal itu terbukti ketika ia melihat seorang gadis manis berambut indigo berjalan dengan linglung, tubuhnya di topang oleh wanita berambut merah, ia tampak bingung apalagi ketika ia melihatnya di sana.
"Sakura, apa kau adalah seorang mate juga ?"
Di lain pihak, sebuah lubang besar tiba-tiba muncul di tengah Konoha City. Memunculkan dua orang pria yang memiliki ketampanan ala dewa. Mereka berdua tampak tenang melintasi jalanan kota yang agak sepi. Lubang itu sendiri muncul di tengah lapangan bola yang kosong. Keduanya tampak mengintimidasi dengan jubah hitam dan kerudung yang mereka gunakan.
"Lihatkan, aku sudah mengatakan kita sudah terlambat,"
Salah satu dari pemuda itu menghirup beberapa kali sebelum berbalik arah. "Ya,"
"Apa rencana kita selanjutnya?"
"Kita bisa memanfaatkan kondisi ini tentunya. Mari kita pulang!"
Kemudian mereka melangkah kembali ke lubang besar yang secara perlahan menghisap wujud mereka.
Hinata dan Sakura melewati hari di sekolah dengan normal. Walaupun keduanya tidak saling berinteraksi dengan akrab sejak insiden kemarin malam. Sakura tidak mengerti alasan kenapa Hinata menjauh secepat itu. Apa mungkin karena canggung?
Sakura menyesap jus jeruk yang ia pesan. Ia tidak memedulikan keramaian kantin dan segala aktivitas yang ada di sana. Ia juga tidak memerhatikan seorang pemuda raven yang menjadi pusat perhatian datang untuk duduk di depannya. Ia menyadari kehadiran pemuda itu sesaat sang pemuda menggenggam tangannya dan meremasnya dengan lembut.
"Hey," Sakura menjauhkan tangannya sesegra mungkin, namun kekuatan Sasuke yang lebih besar tidak mengijinkan tangan itu untuk beranjak dari genggamannya. "Apa yang kau lakukan di sini ?"
"Aku harus mengatakan hal yang sama,"
"Aku selalu di sini saat istirahat. Seharusnya, aku bersama HInata. Namun, ia terlihat menjauh. Aku tidak mengetahui apa yang terjadi,"
Sasuke memberikan tatapan pengertian ke arah gadis itu dan menghela nafas. "Aku tahu, tapi aku yakin kalian akan baik-baik saja. Jangan terlalu memikirkan hal itu,"
"aku harus berusaha,"
Hinata tidak bisa berkonsentrasi dengan bukunya. Ia tidak menyangka kehidupannya tidak berjalan semulus itu. Ia sudah memiliki rencana kehidupan di masa depan dan menjadi seorang mate tidak ada di dalam fikirannya. Kushina dan Minato sudah menjelaskan hal penting mengenai kondisinya yang memalukan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika kedua penyelamatnya itu tidak datang dengan cepat. Ia sudah mengetahui beberapa hal mengenai vampire, namun ia belum pernah menemui vampire dominan. Kejadian ini seperti mimpi baginya. Apa yang akan dikatakan ayahnya mengenai ini?
Hinata membaca beberapa baris bukunya sebelum menutup keras buku tersebut. Saat ia menatap ke depan, ia menatap mata biru langit yang menghipnotis.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Naruto menyeringai sebelum mengecup bibirnya singkat. "Apalagi jika tidak untuk menemui kekasihku,"
Ingatan yang ia dan pria ini lakukan semalam langsung masuk ke pikirannya. Pemuda itu sepertinya memikirkan hal itu juga namun Hinata segera mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, kekuatan apa saja yang bisa dimiliki mate? Ibumu mengatakan kepadaku bahwa ia memiliki kemampuan untuk berteleportasi dan telekinesis. Maam Miru mengatakan dia mampu mengendalikan listrik,"
Naruto tersenyum ketika Hinata bertanya dengan penasaran. Membentuk ide nakal dalam fikirannya. "Bagaimana jika kita membuat hal ini menjadi lebih menarik, hum? Kau bertanya, dan setiap jawaban yang akan aku berikan, kau harus mengijinkanku mengecupmu, bagaimana?"
"A….a…apa?"
TBC
A/N : Baiklah…
Sekian dulu di cerita ini….
Bagaimana dengan pendapat anda? Silahkan di review. Tolong bantu saya dalam memberikan ide, saran, atau kritik sehingga cerita ini dapat menyenangkan hati anda sekalian. Mwahahahahah….
Yang mau minta update kilat, ehem saya usahain akan lanjutkan cerita ini secepat yang saya bisa…:D. Tinggal minta aja…! Baru saya beri. Kalau tidak, mana tahu kalau anda ingin
Sudah waktunya untuk saya membalas reviewan anda….. Kita mulai
1…..2…..3….. Action….
White Apple Clock : First stuff, thanks for you cause you appreciated this story. :D
The other stuff, thanks fot your advice. I accept that. Thanks.
Sincerely,
Achel
Fury F : Terimakasih pertama kali ….! Semuanya udah di jelasin di chapter ini. :D
Salam,
Achel
Yami No Be : Done, mwahahahahah
Salam,
Achel, mwahahahahahah
Onpu885 : As you wish….
Salam,
Achel
VhaMyGoleo21 : Done ! Done ! Done !
Ofcourse.
Gak juga. Mirip kaya tato loh…:D
Salam,
Achel
Andikayoga : Gue kira begitu juga. Dan terimakasih udah bilang keren tapi gak dibaca.
Salam,
Achel
Christinapugar : Done. Thanks Christinapugar
Salam,
Achel
Shiori avaron : Done…. Love you…!
Salam,
Achel
Misakiken : Done… Thanks…!
Salam,
Achel
Lukyta-Chan : Done…*_* Thanks…!
Salam,
Achel
