Disclaimer : Masashi Kishimoto

Insptiration: Vikings Remake, NaruSasu version

Pair: NaruSasu

Rat: T+

.

.

.

.

.

The Rare One

(Chapter 2)

.

By Midory Spring

.

.

WARNING: OOC, YAOI, TYPO, MPREG, CHARACTER DEATH

Happy Reading!

.

.

Uzumaki Naruto berdiri di haluan kapal, safirnya menatap lurus ke lautan yang membentang. Seringai kepuasan merekah diwajahnya saat kapal berderak maju dengan cepat. Bau air laut yang pekat terasa sangat menyengarkan, begitupula suara desiran air yang bergesekan dengan kapal. Safirnya menatap lurus ke arah burung-burung yang terbang diatas langit seakan-akan sedang membimbing perjalannya ke tempat tujuan.

Naruto mengambil kompas didalam sakunya, memastikan bahwa mereka berada di arah yang benar. Jarum panjang kompas bergetar di satu sudut, tepat ke arah barat. Ia kemudian memasukkannya lagi ke saku dan berbalik, menatap wajah-wajah bersemangat teman-temannya. Beberapa diantara mereka duduk diperahu sambil mengobrol dengan berapi-api, beberapa lagi sibuk menajamkan senjata mereka untuk persiapan dalam pertempuaran nanti. Tepat di atas mereka layar berkibar dengan kuat didorong oleh kekuatan angin.

Sasuke adalah satu-satunya orang yang duduk sendirian, tipe anti sosial. Walau begitu mata Onyxnya, tanpa risih, terpaku ke tempat Torune yang berdiri di dekat tiang layar. Menatap pria berumur tiga puluhan lebih itu dengan penuh minat.

"Apa-apaan itu?" Naruto mendatanginya dan duduk disisinya.

"Apa?" Sasuke balik bertanya.

"Kau sedang menatap Torune."

"Memang." Sasuke mengaku.

Naruto terdiam sejenak, meneliti wajah Sasuke yang datar. "Kau suka padanya?"

"Tidak." Jawab Sasuke cepat, "tapi mungkin saja dia adalah calon suamiku kelak."

Kernyitan muncul dipelipis Naruto. "Apa maksudmu?"

"Peramal mengatakan aku akan menikah dengan seorang penguasa."

"Dan kau percaya itu?"

"Ketika kau diramalkan akan menikah dengan seorang penguasa, tentu kau mengharapkan ramalan itu benar." Jelas Sasuke. "Lagipula peramal adalah perwakilan dewa kan, itu berarti dewa merestuiki."

"Jadi itu sebabnya kau ikut, agar kau bisa melakukan pendekatan dengan Torune?" Naruto berdecih.

"Tentu saja tidak, aku memang mau ke barat. Ada kemungkinan lain bahwa jodohku adalah penguasa di sana."

Naruto menatap Sasuke tidak percaya. Bagaimana mungkin ada submissive semurahan ini. Apalagi pemuda raven itu mengatakannya tanpa merasa malu sedikitpun. Jumlah submissive sangat sedikit jika dibandingkan dengan dominan, maka dari itu, mereka biasanya selalu bersikap layaknya barang mahal di depan para dominan. Tapi hal itu sepertinya tidak berlaku bagi submissive yang satu ini. Apa Sasuke lupa bahwa Naruto adalah dominan?

"Kau benar-benar putus asa ya? Berlayar ke barat hanya untuk mencari jodoh?"

"Dominan sepertimu tidak akan mengerti." Balas Sasuke dengan acuh, "lagipula berhenti bersikap seakan-akan kau perduli padaku."

Naruto langsung dongkol. Ia memelototi pemuda raven itu dengan berang."Dasar Teme!" Umpatnya.

"Usuratonkachi!"

"Bastard!"

"Bitch!"

"Kau yang bitch!"

"Kau lah yang bitch!"

"Tutup mulutmu!"

"Kau yang tutup mulut!"

"Berisik Teme!"

Torune berdiri didekat tiang kapal, matanya melirik ke arah Sasuke. Seringai menghiasi wajahnya, ia sadar bahwa sedari tadi si pemuda raven tidak berhenti menatapnya. Ia menarik napas, perasaan bangga memenuhi dadanya. Si submissive itu menginginkannya. Haruskah ia menyambutnya?

Mata coklat Torune tanpa sengaja menangkap sosok Shikamaru yang sedang mengeratkan tali layar. Ah, yang satu ini juga submissive. Ia bisa mencium aromanya sekarang, aromanya terbawa bersama angin.

"Apa kau sudah menikah?" Torune bertanya pada Shikamaru.

Shikamaru tidak langsung menjawab, ia sedikit mengerling Torune, sementara ia melilitkan tali ke tiang. "Belum."

"Berapa umurmu?"

"Dua puluh satu."

"Kau suka si Uzumaki itu kan?"

Kegiatan Shikamaru langsung terhenti. Matanya menatap Torune dengan terkejut seakan pria itu telah membongkar rahasianya. Ekspresi yang cukup untuk menjawab pertanyaan Torune.

Pria besar itu tertawa, tawa yang menyebalkan. "Rasanya menyedihkan ya jatuh cinta pada dominan yang salah. Pengangguran seperti Naruto yang kerjanya hanya bersenang-senang. Orang melarat."

Shikamaru tidak menjawab. Ia bahkan tidak mau melirik Torune lagi. Ia berjalan menjauh darinya, melupakan tali yang baru setengah dililitnya. Torune baru akan bergerak menarik pundak Shikamaru ketika seseorang tiba-tiba berseru, melawan kerasnya suara desir ombak.

"Lihat!"

Kankuro menunjuk ke depan, membuat semua orang menoleh ke arah yang ditunjuknya. Beberapa meter di depan mereka, awan hitam menggumpal menjadi satu, terlihat sangat kontras dengan awan putih yang berada di atas mereka sekarang. Ini pertanda buruk. Mereka bergerak ke arah badai.

Mata coklat Torune bergetar melihat awan maut itu. "Berputar kembali!" Torune langsung melangkah maju. "Kita harus kembali!" Perintahnya lagi.

"Kau gila, kita sudah sampai sini, kenapa kita harus—"

"Aku kapten disini!" Torune mencengkram kerah Lee, "dan aku memerintah kalian untuk memutar kapal ini!"

"Sekedar informasi untukmu," Kali ini Sasuke yang berbicara. "Di kapal ini tidak ada posisi kapten. Kita semua dalam posisi yang sama, kita sede— "

"Kau diam saja princess!" Bentak Torune kasar. "Kau tidak perlu mengurusi itu. Tugasmu hanyalah membuka kakimu lebar-lebar saat kita di ranjang nanti!"

Raut wajah Sasuke berubah menjadi pucat. Tatapannya mengeras.

"Kita tidak akan kembali." Naruto berdiri. Menatap teman-temannya meminta dukungan. "Kita sudah setengah jalan, ini bukan apa-apa!"

"Ya benar, kenapa kita harus kembali?" Chouji menyahut dengan wajah penuh kegelian. "Maklum sajalah kawan, dia sepertinya ketakutan."

Torune menatap Chouji dengan marah. Ia melepaskan cengkramannya pada Lee dan bermaksud memukul Chouji, tapi Naruto sengaja menjulurkan kakinya, membuat pria besar itu tersandung dan terjatuh dengan bunyi keras yang menyakitkan.

Semua orang tertawa melihatnya. Torune jatuh tepat di kaki Naruto. Bibirnya hampir mencium sepatu kulit pemuda blonde itu.

"Jika kau takut, kami punya banyak peti. Kau mau satu untuk mengantarkanmu pulang?" Cemooh Naruto, sementara semua teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal, membuat kapal bergetar.

"Tenang saja, Shikamaru bisa membuat layar dari celana dalammu." Chouji ikut menimpali dan kembali ledakan tawa terjadi.

Torune menatap gerombolan itu. Tatapannya penuh kemurkaan. Tapi ia tidak mengatakan apapun. Tidak ada gunanya, dia tidak akan menang jika berhadapan dengan dua puluh orang sekaligus. Sama saja cari mati. Ia mengangkat tubuhnya, mundur dari Naruto. Saat ia bergerak ke tepi kapal, sebuah pisau tiba-tiba menancap ke tiang kapal sedetik sebelum Torune memindahkan tangannya ke sana.

Torune tersentak. Ia menoleh, menemukan sang pemuda raven sedang mencabut pisau itu. "JIka kau memanggilku princess lagi, aku bersumpah akan menancapkan pisau ini tepat ke jantungmu." Suaranya hanya sebesar bisikan, tapi Torune bisa merasakan aura dingin yang membuat bulu kuduknya langsung berdiri. Jauh lebih menakutkan dari badai itu.

Sasuke kembali duduk ditempatnya. Napasnya sedikit lebih berat dari biasanya. Ia memasukkan kembali pisau itu keselipan ikat pinggangnya.

"Masih bermimpi untuk menikah dengannya?" Naruto tiba-tiba muncul. Wajahnya luar biasa puas.

Sasuke tidak menjawab hanya membuang muka. Dia jelas merasa jijik pada dirinya sendiri karena sempat memikirkan hal itu.

Sementara itu kapal bergerak dengan cepat. Dalam sekejap awan telah berubah menjadi warna hitam yang pekat. Hujan deras mulai turun dan ombak bergerak dengan berbahaya, mengombang-ngambing seisi kapal.

"Kita harus menurunkan layar!" Shikamaru berteriak disela-sela siraman hujan. Semua orang bergegas menyambar tali layar dan melepaskan ikatannya.

"Kita akan mendayung, jaga agar kapalnya tetap lurus!"

Yang lain meraih dayung dan memasukkannya ke dalam lubang perahu, ujung dayung jatuh ke air dengan bunyi splash keras. Semuanya bergerak ke posisi, mendayung sambil melawan terpaan angin kencang. Layar menyelubungi seisi perahu, melindungi mereka dari terpaan hujan yang kian menjadi. Kilat mulai membelah awan, menyambar-nyambar dengan suara bergemuruh. Dan Naruto berdiri di haluan kapal, menatap lurus ke depan. Matanya menyipit khawatir. Ia tidak bisa melihat apapun.

Ia bergerak membuka sebuah peti, menarik keluar sekandang burung gagak dan melepaskannya ke langit bebas.

"Apa yang kau lakukan?" Sasuke muncul, ikut memanjat di ujung kapal.

"Jika burung-burung itu tidak kembali berarti daratan sudah tidak jauh lagi." Jelas Naruto.

Sasuke menatap burung-burung yang terbang melawan hujan. Arah mereka tepat ke arah barat.

Torune hanya duduk di tempatnya sama sekali tidak sudi membantu. Dia tidak perduli lagi. Ia masih dalam kemurkaan. Emosinya meluap-luap dan ia merasa sangat terhina. Saat ia kembali, ia akan pastikan seluruh penghuni kapal ini mati.

.

.

.

Setelah semalaman di terpa badai, kabut datang menyelubungi kapal. Orang-orang saling bergantian mendayung. Shikamaru melihat ke sekelilingnya, beberapa orang bergelut dibawah selimut. Udara terasa sangat dingin, walau sebenarnya ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan musim dingin di Kattegat. Shikamaru menyambar dua mantel lalu keluar.

Matahari masih belum terlihat karena kabut yang begitu tebal, tapi laut telah kembali tenang. Sebentar lagi layar bisa dinaikkan. Shikamaru bergerak ke ujung perahu dan berhenti. Matanya menangkap sesuatu yang membuatnya langsung menyesali tindakannya. Seharusnya ia tetap di dalam.

Pemuda yang sedang dicarinya, tengah tertidur di pangkuan seseorang. Shikamaru merasakan denyut sakit di dadanya. Naruto tertidur dengan lelap, selimut menutupi tubuhnya, sementara kepalanya bersandar di paha Sasuke. Di lain pihak Sasuke tetap terjaga, menatap lurus ke arah barat. Ia lalu menoleh ke Shikamaru saat merasakan kehadiran pemuda itu. Mata onyxnya memandang Shikamaru dengan bertanya.

"Untukmu." Kata Shikamaru ketus. Ia melemparkan mantel Naruto ke Sasuke lalu pergi.

Shikamaru tidak pernah menyukai Sasuke. Dia membencinya. Rasa cemburu terus membakarnya setiap melihat Naruto bersama dengannya. Ia kembali ke dalam, dan duduk sambil memakai mantelnya dalam keheningan. Perasaannya ini benar-benar menyakitkan. Ia merasa muak pada dirinya sendiri. kenapa dia terlahir seperti ini. kenapa dia tidak terlihat seperti seorang submissive pada umumnya. Submissive yang manis, yang dari jauh saja bisa langsung dikenali oleh para dominan.

Shikamaru terus menanamkan kebencian dalam dirinya. Terkadang ia juga muak pada Naruto. Setelah apa yang Shikamaru lakukan untuk mendapatkan perhatiannya, pengorbanannya, pemuda blonde itu tidak pernah membalasnya. Kenapa dia harus jatuh cinta dengan dominan tolol seperti Naruto!

.

.

Sasuke menyipitkan matanya menatap lurus menembus kabut. Ia seperti melihat sesuatu di sana. Sesuatu seperti… daratan! Suara kicauan burung camar tiba-tiba terdengar, mengisi kesunyian. Dan saat itu Sasuke sadar bahwa mereka sudah sampai. Daratan itu benar-benar ada!

Sasuke menggoyang tubuh Naruto dengan bersemangat, memaksa pemuda blonde itu bangun.

"Naruto!" Panggilnya.

Tidak perlu waktu lama, Naruto terlonjak mendudukkan diri. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kapal dengan kaget seakan-akan ada seseorang yang membunyikan lonceng di dekat telinganya.

"Apa?"

"Kita sampai!" Sasuke beranjak, bergerak ke haluan. "Lihat! Daratan!"

Naruto mengikutinya, dan ya, saat kabut mulai memudar, daratan itu terlihat dengan jelas. Naruto tersenyum dengan sumringah lalu melompat ke balik layar. Ia berteriak memberitahukan berita baik itu kepada teman-temannya. Sorak-sorai terdengar tidak lama kemudian, mengisi pagi dengan keramaian yang penuh antusiasme. Orang-orang menyerbu keluar dan ingin membuktikannya dengan mata mereka sendiri.

"Kau hebat Naruto! Kita berhasil!" Kankuro menyahut sementara seluruh kawanan memukul-mukulkan senjatanya ke perisai sebagai bentuk kegembiraan mereka.

Sasuke menatap lurus ke depan. Pantai… itulah yang ia lihat. Pasir putihnya, batu karang, dan tebing-tebingnya yang tinggi. Tempat itu terlihat benar-benar indah dan luas.

Beberapa menit kemudian, kapal merapat, dan semua orang berlomba turun. Semuanya dipersenjatai dengan masing-masing senjata seperti: perisai, kapak, pedang, dan sabit. Mereka berpijak ke atas pasir, menatap sekeliling dengan antusias. Naruto tidak bisa berhenti tersenyum, ia melirik Sasuke yang menatap sekelilingnya dengan penuh kekaguman.

"Ada yang datang!" Shikamaru tiba-tiba menyahut, menarik perhatian semua orang.

Ada sekitar dua puluh lebih orang bergerak mendekati mereka dari balik tebing. Dua diantaranya berada diatas pelana kuda. Dari jauh mereka hanya terlihat seperti bayangan hitam dengan bentuk yang aneh, mereka gendut dengan kepala berbentuk segitiga. Tapi saat mereka sampai pada jarak fokus, terlihat dengan jelas bahwa mereka menggunakan sebuah topi dan pelindung dada yang sama-sama terbuat dari besi. Mereka adalah prajurit kerajaan dengan persenjataan lengkap.

"Yeah, Kemarilah aku sedang ingin menghajar seseorang!" Chouji mengayunkan kapaknya dengan bersemangat. Menatap sekolompok prajurit itu dengan pandangan lapar.

Tapi Naruto tidak sepaham dengannya, "jangan melakukan tindakan bodoh. Kita akan bicara dengan mereka."

"Kau pikir mereka berbicara dengan bahasa yang sama seperti kita?" Shikamaru bergerak ke sisi Naruto.

"Mungkin tidak, tapi sang pengembara sempat mengajariku sedikit bahasa mereka." Balas Naruto, "lagipula seharusnya ada beberapa diantara mereka yang menguasai banyak bahasa seperti pengembara itu."

Naruto maju diikuti dengan kawanannya saat prajurit kerajaan itu semakin dekat. Seorang pria bermata kecil dengan tubuh pendek, turun dari pelana kudanya dan menatap kawanan Naruto dengan menyelidik. Sedangkan temannya, yang kelihatannya berpangkat lebih tinggi dan berwajah angkuh, memilih tinggal diatas kuda sambil mengawasi mereka. Ia menggunakan sebuah jubah bulu dari kualitas terbaik diatas baju besinya. Sebuah kalung dengan batu yang sangat besar tergantung dilehernya. Tatapan kawanan Naruto sempat terpaku dengan tertarik ke kalung itu, sebelum menatap ke sisa prajurit yang lain.

"Beritahukan nama kalian dan asal kalian." Pria bermata kecil itu berbicara dengan bahasa yang berbeda. Semua kawanan saling tatap tidak mengerti, tapi Naruto mengangguk dan tersenyum sopan.

"Namaku Uzumaki Naruto dan kami datang dari timur." Jawab Naruto ramah.

Pria itu langsung mengangguk-ngangguk tanda mengerti. "kalian adalah pedagang?" Tanyanya memastikan.

"Ya kami pedagang." Bohong Naruto.

"Jika kalian ingin berdagang kalian harus bertemu dengan Raja terlebih dahulu."

"Apa yang ia katakan?" Torune terlihat tidak puas. Ia mendekati Naruto, menatap pria itu dengan was-was.

"Dia bilang, dia ingin membawa kita menemui pemimpin mereka." Jelas Naruto.

"Itu pasti jebakan." Desis Torune cepat. Ia melemparkan pandangan tidak suka pada seluruh prajurit berbaju besi dihadapannya."aku yakin itu hanya trik mereka saja. Mereka akan membunuh kita saat kita lengah."

"Aku setuju dengan Torune." Shikamaru menimpali. "Kita tidak bisa mempercayai mereka begitu saja."

Naruto mengernyitkan dahinya, tanda tidak setuju. Pertarungan adalah langkah terakhir yang akan diambilnya, tapi apa yang dikatakan Torune belum tentu salah.

Ekspresi kebimbangan Naruto terbaca oleh sang pria. Ia menatap Naruto dan kawanannya bergantian, pandangannya penuh kebingungan. "Apa yang mereka katakan?"

Naruto kembali tersenyum sopan. "Mereka tidak mempercayaimu." Kali ini ia berkata jujur.

"Tidak ada cara lain. Kau harus mendapatkan persetujuan Raja untuk bisa berdagang disini." Pria itu berkata dengan nada mutlak. "Jika kalian tidak bersedia, kalian lebih baik angkat kaki dari sini."

Pria dipelana kuda lainnya juga ikut turun, ia menatap wajah-wajah dihadapannya satu-persatu. Tatapannya keras dan penuh penilaian. "Apa yang kalian jual?" Suaranya terdengar dalam dan penuh kelicikan.

Naruto menatap kawanannya, otaknya berpikir cepat. "Senjata."

"Seperti yang kau bawa?"

"Ya."

"Jumlah kalian hanya segini?" Ia bertanya kali ini matanya berkilat dengan terselubung.

Naruto tidak langsung menjawab. Ia menatap pria itu dalam-dalam. Dia tahu apa yang sedang direncanakan otak licik pria itu. "Ya." Ia menjawab perlahan seraya mundur, mendekati Shikamaru. "Mereka akan menyerang kita." Katanya dengan bibir yang hampir tidak bergerak.

Mendengar ini Shikamaru mencengkram pegangan pedangnya. Ia melirik Chouji yang menangkap kodenya dan semua kawanan melakukan hal yang sama. Sasuke menatap Naruto dengan penuh keterkejutan. Apa dia adalah sahabat blondenya yang idiot? Ia terlihat sangat berbeda.

Ada nada hening sejenak. Pria berwajah keras itu seperti menghitung jumlah kawanan Naruto. Kepuasan terlihat diwajahnya. Jumlah prajuritnya jelas lebih banyak. Ia naik kembali ke pelana kudanya, lalu menatap mata Naruto.

"Bunuh mereka dan ambil barang dagangannya."

Dan seketika suara tarikan pedang terdengar dimana-mana. Prajurit berbaju besi itu berteriak dan langsung menyerang. Tapi orang-orang Kattegat bukanlah orang biasa. Mereka adalah orang terlatih yang sangat kuat. Mereka terdiri dari para buruh kasar yang bekerja dengan serabutan, mencangkul tanah, menempa besi, kekuatan mereka jelas tidak bisa diremehkan. Mereka mempertahankan diri dan membalas serangan dua kali lebih keras. Jauh lebih cepat dari setiap prajurit yang gerakannya diperlambat oleh baju besi mereka yang berat. Tidak heran, hanya dalam waktu sekejap, korban-korban berjatuhan dari kubu prajurit kerajaan.

Melihat hal ini, sang pria berwajah keras mulai ketakutan. Di luar rencaca, mereka akan kalah. Ia menyadarinya. Tidak ada satupun dari kubu orang-orang bar-bar itu yang gugur. Mereka semua bertarung dengan buas layaknya binatang yang tidak takut dengan kematian. Ia cepat-cepat menarik tali kudanya, lalu bergerak menjauh dari pertempuran. Naruto melihatnya, ia mengambil sebuah tombak yang tertancap di perut salah satu prajurit yang mati lalu melemparnya tepat ke tubuh pria diatas pelana.

Tapi kuda itu telah bergerak dengan sangat cepat, orang itu telah menghilang ke balik tebing. Tombak tidak berhasil mencapainya. Naruto meludah ke tanah. Ia berbalik ke para kawanannya. Semua prajurit telah mati. Mayat-mayat tergeletak di atas pasir putih. Darah mereka bercampur dengan air laut yang asin.

.

.

.

"Penyusup?" Hamura, pemimpin dari kerajaan Wessex, menatap kepala penjaganya dengan tajam. "siapa orang-orang ini?"

"Pemimpin mereka bernama Uzumaki Naruto." Kepala penjaga itu menjelaskan. "Ia mengatakan mereka berasal dari Timur, pedagang. Tapi aku meragukannya. Para pedagang tidak akan sehebat itu dalam bertarung. Mereka seperti monster, sekelompok orang bar-bar yang membunuh semua bawahanku. Sekarang wilayah utara kosong tanpa penjagaan."

"Ayah," Toneri, sang putra mahkota menatap ayahnya dengan mata berapi-api penuh kemarahan. "utus aku, aku akan menghabisi mereka."

"Berapa jumlah mereka?" Hamura mengacuhkannya.

"Tidak lebih dari dua puluh."

"Berapa jumlah pasukanmu yang mereka bunuh?"

Sang prajurit tidak langsung menjawab. Ia terlihat sedikit bimbang,kekalahan prajuritnya adalah kegagalannya. Tapi ia tidak bisa berbohong pada rajanya. "Dua puluh lima, Yang mulia."

"Dan kalian tidak mampu menghabisi mereka?"

Sang Komandan mengangguk sambil menghela nafas berat. "Orang-orang itu memang bukan orang biasa."

"Ayah," Toneri mulai tidak sabar. "Biarkan aku…"

"Kau akan pergi." Hamura memotong ucapan putranya, lagi-lagi mengacuhkannya. Ia menatap wajah sang komandan dengan penuh ketegasan. "aku akan memberimu empat puluh prajurit dan sepuluh pemanah. Aku ingin kau membersihkan para penyusup ini. Dan…" Ia menggantung kata-katanya, matanya menyipit dingin. "pastikan kau membawa kepala pemimpin mereka padaku."

Sang komandan meneguk ludahnya dengan gugup. Ia berusaha bersikap kuat layaknya seorang tentara yang tangguh, tapi ingatannya mengenai kawanan dari timur itu menggoyahkan keberaniannya. Ia memegangi topi besinya kelewat kuat untuk membelenggu emosinya. Kemudian ia memaksakan dirinya berkata, "aku tidak akan mengecewakanmu, Yang mulia."

Hamura mengangguk puas. Ia kemudian berdiri dari singgasananya, membawa tubuhnya yang tua melintasi aula. Toneri menatap ayahnya dengan tidak puas. Ia juga beranjak dan mengikutinya dari belakang. Saat mereka sampai diruangan yang sepi, Toneri mencegat ayahnya.

"Kenapa tidak aku saja?" Protesnya. Ia sudah lama tidak terlibat dalam peperangan. Tubuhnya haus akan pertempuran. Ia ingin melihat darah lagi, dan darah bangsa bar-bar itu adalah objek yang sangat tepat untuknya. "Kau hanya membuang-buang prajuritmu, dibawah kepemimpinannya, kita akan kalah."

"Dan apa yang membuatmu begitu yakin bahwa kau akan berhasil?" Balas Hamura sangsi.

Toneri menatap ayahnya dengan penuh percaya diri, "aku sudah sangat berpengalaman dalam memimpin prajurit, aku yakin—" Katanya.

"Orang-orang ini bukan sembarang orang." Potong Hamura, "risikonya terlalu besar."

"Tapi–"

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" Balas Hamura tajam. "kau akan menikah, setelah kau menanam benihmu diperut calon istrimu barulah kau boleh pergi! Wessex bukan kerajaan kecil, dan aku tidak muda lagi. Waktuku tidak banyak! Aku membutuhkanmu sebagai pewaris takhtaku, jadi aku ingin kau tetap hidup sampai masa itu tiba!"

Dan sang raja tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik dan pergi. Toneri kali ini tidak mengejarnya. Ia hanya menatap kepergian ayahnya dalam kebisuan. Ayahnya telah menjabat sebagai raja selama masa mudanya. Walau ia tidak memiliki pengalaman saat baru menjabat, tapi kerajaan berada dalam masa yang terbaik selama kepemimpinannya. Toneri mengakui bahwa ayahnya sudah tidak sekuat dulu lagi. Sekarang bahkan ia menderita gangguan jantung yang parah. Toneri menghela napas berat. tangannya sebenarnya gatal ingin menghabisi para penyusup dari timur itu tapi dia rasa apa yang dikatakan ayahnya adalah hal yang terbaik.

.

.

.

Pemukiman. Semua orang saling pandang dengan bersemangat dari atas bukit. Inilah saatnya, mereka akan menjarah. Pemukiman orang-orang disana sangat berbeda dengan yang di Kattegat. Kattegat terdiri dari beberapa desa, satu lahan pertanian diisi dua sampai tiga pondok, hanya bagian pusat kotanya yang diisi oleh tempat penginapan, kedai minuman, rumah-rumah penduduk kecil, dan rumah besar damyo. Tapi disini, rumah-rumah yang berjejer hampir sama besar dengan rumah damyo. Hampir semua bangunannya bertingkat dua, rumah bertingkat dua seperti ini sudah terbilang sangat mewah di Kattegat.

Naruto dan teman-temannya berdiri di atas bukit mengawasi pemukiman itu dari sana. Ada sebuah gerbang besar yang menjadi pembatas, tapi selebihnya tempat itu terlihat bersih dari pengawal ataupun prajurit. Ini terlalu mudah.

"Kita tidak membunuh yang tidak berdaya." Naruto memperingati teman-temannya. "Selebihnya ambil apapun yang bisa kalian bawa."

Kawanan itu bersorak keras, lalu menyerbu turun dari bukit langsung menuju ke tembok kayu setinggi tiga meter. Mereka melempar tali yang ujungnya diikatkan tongkat besi, memastikan tongkat itu tersangkut di sela tembok, lalu mulai memanjat dalam kesunyian. Ketika dua orang telah berpijak di dalam pemukiman ia membukakan gerbang untuk teman-temannya.

Lonceng berbunyi dari atas menara. Seseorang menyadari keberadaan mereka dan memberikan peringatan kepada semua warga. Tapi itu bukan masalah besar. Apa yang bisa dilakukan warga sipil itu pada orang-orang berkekuatan layaknya binatang seperti mereka selain bersembunyi? Dalam hitungan detik orang-orang berlarian kembali memasuki rumahnya, mengunci pintu dan menutup jendela rapat-rapat.

Tapi itu terlalu terlambat. Kawanan telah menyebar, memasuki rumah demi rumah, mengambil barang-barang yang mereka inginkan. Ada banyak emas, para warga itu menyimpan emas di rumahnya. Semakin megah dan besar rumahnya, semakin besar kemungkinan penghuninya memiliki emas. Naruto berjalan menyusuri rumah demi rumah. Ada satu tempat yang ingin didatanginya. Pengembara itu telah memberitahunya, ada satu tempat dimana batu-batu permata diolah dan dibuat, menjadi benda murni yang luar biasa indah.

Ia menatap tulisan-tulisan yang tertera dipapan, tapi sama sekali tidak tahu apa bacanya. Kemudian ia menemukan satu tempat, tempat dimana seorang pria tengah bersembunyi dengan ketakutan dibawa kolong meja tokonya. Naruto masuk ke dalam toko itu, tempat itu benar-benar berantakan. Tapi ia melihat batu-batu permata yang belum diolah di dalam lemari. Naruto membuka lemari itu, ada banyak kotak disana. ia mengambil semua kotak lalu menjejerkannya di atas meja. Meja yang sama yang digunakan sang pemilik toko untuk bersembunyi. Naruto membuka satu persatu kotak itu, ia tersenyum penuh kepuasan ketika melihat apa yang ada di dalam kotak. Cincin dengan permata berwarna –warni yang berkilauan. Sempurna. Ia memasang semuanya ke jarinya, mengangkatnya ke atas cahaya. Benda-benda itu berkilau dengan indah, membuat Naruto bingung. Ia hanya butuh satu. Maka Naruto berjongkok, dan membuat sang pria yang tengah bersembunyi dibawah meja langsung berjengit ketakutan.

Naruto mengacungkan tangannya, membuat gerakan seperti menghitung dengan menunjuk cincin di jarinya satu persatu. "Yang paling bagus?" Ia bertanya dengan bahasa asing yang kaku.

Pria itu gemetar ketakutan ia melirik pedang Naruto yang kini tengah di jepit Naruto dengan asal di ketiaknya. Dan dengan perlahan ia menunjuk satu cincin yang berada di jari manis Naruto. Cincin dengan batu berlian hitam, jika diperhatikan baik-baik warnanya terlihat seperti kebiruan. Naruto tersenyum menepuk kepala sang pria dengan puas. Ia melepas yang lain dan mempertahankan cincin yang ditunjuk tadi di jari manisnya.

"Terima kasih" Katanya lalu ia mengeluarkan botol minum dari kantungnya. Itu anggur yang dibawanya dari Kattegat. Ia menyodorkannya ke sang pria, tapi pria itu malah mundur ketakutan. Naruto tertawa, alih-alih memberikannya, ia melemparkannya ke kaki sang pria. Kemudian Naruto pergi.

Torune melihat sesuatu yang lain di salah satu rumah di tempat itu. Ada mata hijauh bulat yang mengintip dari dalam jendela. Asalnya dari rumah kayu tingkat dua yang paling besar. Torune bergerak mendekati pintu rumah itu, memutar kenopnya yang jelas terkunci. Mata itu kembali meliriknya dari jendela, mata yang indah, dan Torune semakin penasaran. Ia menendang pintu itu dengan kuat. Pintu menjeblak terbuka dan seseorang didalam rumah tiba-tiba berteriak ketakutan. Teriakan melengking dan tinggi.

Makhluk itu bukan seorang pria, Torune mengetahuinya saat ia melihatnya. Rambut ikal coklat yang panjang, mata hijau dengan bulu lentik nan indah, tubuh pendek, dan punggung yang kecil. Dia adalah… seorang wanita!

Torune tidak dapat mempercayainya. Ini pertama kalinya ia melihat seorang wanita. Ada wanita di kota ini! Dan mereka sangat cantik! Mengagumkan, seperti bidadari. Wanita itu memeluk seorang bocah laki-laki kecil. Ia mundur saat Torune mendekatinya. Matanya memancarkan ketakutkan dan kengerian. Kemudian seseorang mencoba menyerang Torune dari belakang, mengangkat sebuah kursi kayu dan bermaksud menghantamkannya ke kepala Torune. Tapi Torune terlalu gesit dan telah menyadari keberadaan sang pria sedetik ia menginjakkan kaki di rumah itu Torune telah lebih dulu berbalik dan menghantamkan kapaknya ke lehar sang pria, membuat darah muncrat ke mana-mana.

Wanita itu berteriak dan sang bocah laki-laki menjerit, meneriakkan sesuatu yang tidak dimengerti Torune. Bocah itu berlari ke sisi ruangan yang lain, tapi langsung berhenti ketika sadar bahwa sang ibu tidak mengikutinya. Wanita itu menangis sambil menatap pria yang tak bernyawa yang tergeletak di lantai. Ia menangkup mulutnya dengan tangan sementara rambutnya yang halus berjatuhan menutupi wajahnya.

Setiap gerakan yang dilakukan wanita itu bagaikan godaan bagi Torune. Ia tidak bisa memikirkan apapun. Ia bergairah, ingin mating dengan perempuan itu. Torune mendekati wanita itu lagi, dan dengan tubuh gemetar wanita itu berusaha berlari mengikuti putranya. Gerakan yang terlalu lambat, karena Torune meraih tangannya dengan mudah, dan menariknya ke dalam pelukannya.

Sasuke tiba-tiba muncul di muka pintu. Teriakan wanita itu menarik perhatiannya. Ia hanya butuh sedetik untuk mencerna apa yang terjadi.

Ia menyambar lengan Torune berusaha untuk menahannya. "Lepaskan dia!" Perintahnya.

Tapi Torune malah menghentakkannya mundur, ia tidak mendengarkannya. Matanya terlanjur berkilat penuh nafsu. Ia mendorong wanita itu ke atas meja lalu mulai merobek pakaiannya. Wanita itu berteriak berusaha menendang-nendang Torune. Tapi Torune meletakkan kapaknya ke leher sang wanita, berusaha untuk memaksanya untuk diam. Di dekat tangga, sang bocah kecil mulai menangis ketakutan, memanggil-manggil nama ibunya.

Sasuke berdecih, habis kesabaran. Ia mengeluarkan pedangnya. Tidak bermaksud untuk membunuhnya, hanya ingin membuat pria besar itu melepaskan sang wanita. Sasuke menusuk Torune di punggungnya. Pria itu langsung meraung kesakitan dan roboh ke lantai. Sasuke menarik sang wanita dan setengah menyeretnya kembali ke putranya.

"Masuk ke kamar dan kunci pintunya." Sasuke berkata. Ia tahu wanita itu tidak mengerti bahasanya, tapi gerakan tangan Sasuke sudah cukup untuk membuatnya paham. Wanita itu mengangguk lalu menarik anaknya ke lantai dua. Saat Sasuke memastikan mendengar suara pintu yang dikunci, sesuatu yang kuat menghantam kepalanya dari belakang.

Sasuke terhuyung menabrak lemari yang penuh barang perkakas. Ia terjatuh bersama lemari itu dengan bunyi memekakan telinga. Saat ia berbalik ia melihat Torune mengangkat kapaknya tinggi-tinggi tepat ke wajahnya.

Sasuke berputar ke samping menghindarinya. Ia menendang pria itu dengan bunyi bugh keras, membuat pria besar itu terlempar menghancurkan meja. Dengan gesit Sasuke bangkit dan mengayunkan pedangnya tapi Torune berhasil menangkis serangannya. Sasuke berusaha menyerangnya lagi tapi kembali gagal, Torune menghindar dan langsung mengarahkan pukulan sikunya ke hidung Sasuke.

"Sial!" Sasuke merasakan pandangannya berkunang-kunang. Torune memanfaatkan hal itu untuk mencengkram belakang kepala Sasuke dan menumbukkan wajahnya ke tembok dengan keras berkali-kali. Sasuke merasakan kesadarannya berkurang. Darah mengucur keluar dari hidungnya.

"Aku akan melakukannya denganmu kalau begitu!" Kata Torune, seraya membalik tubuh Sasuke yang limbung. Ia membuka tali celana Sasuke lalu menariknya turun. "Lihat aku princess!" Ia menengadahkan kepala Sasuke ke wajahnya, bermaksud menciumnya.

Dan mata Sasuke berkilat, penuh kemarahan. Ia menendang selangkangan Torune dengan lututnya dan langsung menyambar pisau kecil di ikat pinggangnya. Kemudian ia menusuk Torune tepat di dadanya. Tusukan yang dalam dan menyobek.

"Sudah ku katakan jangan pernah memanggilku princess!" Sasuke berbisik penuh kebencian.

Mata Torune terbelalak: teror, shock, keterkejutan bergabung menjadi satu. Tangannya berusaha keras menggapai-gapai Sasuke, tapi tubuh Sasuke agak sulit di jangkau dan ia tidak punya tenaga untuk melakukan sesuatu yang berarti pada pemuda raven itu. Sasuke menusuk Torune semakin dalam, mengoyak bagian dalam organ tubuh pemuda besar itu. Kemudian dengan perlahan ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Darah berceceran dimana-mana. Sasuke menyeka hidungnya yang berdarah, menunduk menatap Torune yang sudah tidak bernyawa.

Kemudian ia mendengar suara terompet dari kawanannya, menggaung keras diseluruh pemukiman. Sasuke menarik pisaunya dari tubuh Torune dan langsung keluar tanpa berbalik sedikitpun.

Ada banyak emas di dalam karung. Kawanan tertawa-tawa saat mengangkat karung-karung itu. Semuanya berjalan kembali ke perahu. Naruto berjalan bersama Shikamaru menggotong tiang perak yang diikat dengan ikat pinggangnya sendiri. Sasuke muncul dari balik rumah warga bergabung bersama yang lain. Ia berjalan dalam diam dengan wajah mengeras. Saat mereka sudah setengah jalan menuju kapalnya Naruto tiba-tiba berhenti, ia mengedarkan pandangannya keseluruh kawanannya. Ada yang hilang.

"Dimana Torune?" Sahut Naruto seraya melemparkan pandangan bertanya pada seluruh teman-temannya. Semua orang langsung berhenti memeriksa sekeliling.

"Aku membunuhnya." Kata Sasuke tanpa berbalik.

"Kau membunuhnya?" Naruto menatap Sasuke seakan-akan ia salah dengar.

Sasuke masih tidak berbalik. Ia terus berjalan tanpa menoleh.

"Kenapa kau membunuhnya?" Naruto berseru.

Akhirnya Sasuke berhenti. Ia kemudian berbalik menatap Naruto. "Karena ia berusaha memperkosaku." Jelasnya.

Naruto terdiam, terlihat sedang mencerna ucapan Sasuke. lalu dengan perlahan ia kembali bertanya. "Apa ada orang yang melihatmu?"

Sasuke mengingat sang wanita dan putranya. Tapi ia tidak mau melibatkan mereka, maka ia memilih menggelengkan kepalanya.

Naruto memejamkan mata. Ini kabar buruk untuknya. "Sangat disayangkan." Katanya. Ia kemudian menoleh ke kawanannya dengan marah, "dan kemana saja kalian!" semburnya seraya kembali berjalan dengan menggotong peraknya.

Tapi kematian Torune sama sekali tidak berpengaruh dengan kebahagiaan teman-temannya. Mereka mengangkat barang curiannya dengan riang dan berjalan menuju kapal. Saat mereka sampai di pantai, ada sekitar tiga puluh orang prajurit tengah berdiri menghalangi jalan mereka. Dengan pakaian dan senjata lengkap, berbaris membentuk sepuluh barisan. Semuanya pada posisi siaga.

Naruto memerhatikan sang pemimpin telah kembali dengan membawa bala bantuan. Semua kawanan meletakkan barang-barangnya ke tanah dan dengan kompak mengeluarkan senjatanya. Keduanya saling berhadapan. Lalu komandan dari para prajurit tiba-tiba berteriak,

"Pemanah ke depan!"

Sontak para pemanah berlari ke depan, memasang ancang-ancang, menarik busurnya, dan menunggu perintah selanjutnya.

Naruto berdecih, moodnya benar-benar buruk sekarang. Ia menatap sang komandan tajam, seharusnya ia membuhnya tadi.

"Perisasi!" Naruto juga berteriak. Semua orang langsung membentuk barisan, menyusun perisai-perisai ke depan dan atas mereka, membentuk benteng perlindungan.

Sang komandang kemudian berteriak lagi dan panah-panah berterbangan menghantam dinding perisai. Serangan itu sama sekali tidak melukai mereka. Tapi kemudian perintah kedua diteriakkan dan para prajurit mulai menyerang, menyerbu dengan berapi-api.

"Berdiri!"

Kawanan berdiri dengan serempak, beberepa detik kemudian dua kubu itu saling berbenturan. Naruto dengan kawanannya dalam posisi bertahan dan para prajurit dalam posisi menyerang. Tombak-tombak dihunuskan berusaha menembus benteng perisai itu. Satu tombak hampir mengenai Sasuke. Pemuda raven itu menangkapnya, lalu menyahut, "buka!" dua pemegang perisai dikanan kirinya membuka, sementara Sasuke menunduk dan Yagura yang bertugas sebagai pemanah, melepaskan busurnya yang langsung mengenai leher sang pemegang tombak.

Para kawanan mulai mendorong mundur para prajurit dari balik perisai. Kemudian mereka meninggalkan pertahanan perisainya dan mulai menyerang dengan bar-bar. Kekuatan dan kegesitan yang jauh lebih besar dari para prajurit itu.

.

.

Hamura menggebrak meja dengan murka. Kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun. Ketika prajuritnya kembali dengan membawa berita kekalahan, ia sudah tidak mengerti lagi kenapa begitu sulit mengalahkan para pria yang jumlahnya hanya belasan itu!

"Bagaimana bisa kau kalah!"

"Yang mulia, ini pertama kalinya aku melihat orang-orang yang bertempur seperti itu. Mereka benar-benar kuat. Kita bukan tandingan mereka. Ada sesuatu yang jahat dalam tatapan mata mereka, rasa ketidaktakutan akan kematian."

Hamura duduk di kursinya, tangannya mengepal erat. Ia menatap para dewan dan sang komandan yang sama-sama terlihat kebingungan. Ia menarik napas berusaha menenangkan dirinya. "Siapa sebenarnya mereka ini?"

"Kami menangkap dua orang yang bertugas menjaga perahu. Kami tidak mengerti apa yang mereka katakan, tapi mereka menunjuk ke arah utara."

"Jadi mereka orang utara." Hamura menyimpulkan. Ia seperti berada dalam pikirannya sendiri.

"Ya, Yang mulia, mereka juga menyebutkan satu nama," Pandangan Hamura kembali tertanam ke sang komandan. "satu nama: Uzumaki Naruto."

.

.

.

Perjalanan kembali ke Kattegat terasa dua kali lipat lebih cepat dari pada saat mereka pergi. Semua orang berpesta, menatap barang hasil rampokannya dengan bahagia. Beberapa diantara mereka telah mengantungi beberapa emas di sakunya dengan sembunyi-sembunyi.

Naruto duduk bersama Shikamaru. Jemarinya bergerak menatap cincin dengan batu berlian hitamnya. Ia mengangkatnya ke atas langit ke arah matahari. Batu itu berkilau dengan sangat indah. Ia tersenyum sumringah kali ini berganti mengerahkan cincin itu ke arah pemuda raven yang duduk menyepi di bagian belakang kapal. Terlihat tidak menikmati kebahagian yang dialami seluruh penghuni kapal itu.

"Damyo tidak akan senang." Shikamaru juga salah satu orang yang tidak terlalu menikmati.

"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja." Kata Naruto sambil mengelap permatanya dengan bajunya.

"Damyo akan membunuhnya." Shikamaru mengedikkan kepalanya ke arah Sasuke.

Senyum Naruto sedikit menghilang. "Dia tidak akan melakukannya. Dia tidak bisa, kesucian submissive dilindungi oleh hukum yang kuat. Torune bersalah, dia pantas mati."

"Tapi tidak ada saksi." Shikamaru masih bersikeras. "tidak ada yang bisa membuktikan perkataan Sasuke. Aku juga tidak yakin padanya. Aku sudah tahu sejak awal, Sasuke membenci Torune. Dia terus menatapnya selama—"

"Kita semua membenci Torune!" Sergah Naruto tajam. Ia memberikan tatapan memperingati pada Shikamaru. "Dengar, walaupun Sasuke mengatakan kebohongan sekalipun aku akan tetap mempercayainya. Mengerti?"

Shikamaru terdiam. Ia menatap Naruto dengan tersinggung. Ia beranjak lalu bergabung dengan Kankuro. Sambil menatap pemuda blonde itu dari jauh, ia merasakan aliran kemarahan di dalam hatinya. Rasa cemburu ini, lama-lama berubah menjadi kebencian yang dalam.

Di tempat Kankuro, para dominan sedang mengobrol dengan penuh antusias.

"Dia punya pinggang yang begitu langsing, punggungnya juga kecil dan dadanya…" Kazuma meletakkan kedua tangannya di dada sambil menghayalkan sosok yang ditemuinya tadi. "besar."

"Jadi wanita benar-benar ada!" Chouji menjentikkan jemarinya, seakan-akan dia sudah menduga hal itu. "Sayang aku tidak menemukan mereka tadi, sepertinya jumlah mereka tidak terlalu banyak."

"Ya dan seperti yang diceritakan para leluhur kita, mereka sangat cantik. Rambut mereka panjang dengan mata hitam yang bulat, mereka adalah jelmaan dari bidadari. Sayang sekali tidak ada makhluk seperti mereka di Kattegat."

"Tapi kita punya submissive yang tidak kalah di Kattegat." Sergah Kankuro. "Kalau aku lebih tertarik pada submissive, mereka lebih kuat dan bisa diandalkan." Ia melirik Shikamaru dari sudut matanya.

"Itukan karena kau tidak melihat wanita itu langsung!" Kazuma masih belum mau kalah.

"Lalu setelah itu apa yang kau lakukan?" Shino menatap Kazuma dengan penasaran.

"Aku?" Kazuma terlihat sedikit bingung, "tentu saja aku menyuruhnya bersembunyi di dalam lemari agar tidak bertemu dengan bajingan seperti kalian."

"Ck, kau sialan!" Sembur Chouji.

"Memangnya kau mengharapkan aku melakukan apa? mendekatinya? Aku sudah menikah tahu! Aku mencintai Sora dan sebentar lagi aku akan jadi ayah!"

"Ujung-ujungnya kau memilih istrimu juga kan?" Shino berkata dengan nada mengejek. Dan Lee tertawa.

"Itu sudah jelas!" Kazuma tidak terima. "Makanya kalian cepat-cepat menikah supaya mengerti, dasar bocah."

Kankuro mendengus, ia lagi-lagi melirik Shikamaru disisinya. Tapi pemuda itu terlalu fokus ke tempat lain hingga tidak menyadari pembicaraan mereka. Ia menatap Naruto yang kini tengah mendekati pemuda raven. Mata Shikamaru menggambarkan kecemburuan yang besar. Kankuro tersenyum getir. Ah, rumit sekali kisah cintanya.

Kattegat telah penuh dengan hiruk pikuk sambutan saat perahu merapat ke dermaga. Mereka semua turun satu persatu sambil menggotong karung harta karunnya. Bersorak bersama anak dan istrinya dengan riang sambil memamerkan emas-emasnya. Beberapa susah payah keluar dari keramaian. Tujuan mereka adalah damyo yang telah menunggu dengan tidak sabar di dekat dermaga.

"Kau berhasil?" Danzo bertanya pada Naruto.

Pemuda blonde itu melemparkan sekantung emas perhiasan ke kaki danzo. Salah satu pengawal damyo, fuu mengambilnya dan memeriksanya. Saat ia mengeluarkan satu genggam emas ke wajah Danzo, pria tua itu mengangguk penuh kepuasan.

"Kau hebat." Pujinya. "Kau membuktikan kata-katamu, Uzumaki."

Naruto menyeringai, ia menundukkan kepalanya dengan sopan. "Terima kasih, tuan."

"Apa semuanya baik-baik saja?" Danzo mengedarkan pandangannya ke para kawanan.

Shikamaru melirik Sasuke lewat ekor matanya. Pemuda raven itu hanya menatap lurus ke hamparan rumput, seperti terbenam dalam pikirannya sendiri.

"Kami tiba di wessex, bertempur dengan sekitar dua puluh prajurit pengawas. Kemudian kami kembali mendapat halangan saat akan kembali ke perahu, empat orang kami terbunuh dalam perang."

Danzo mengangguk mengerti. Ia hampir terlihat berduka jika saja matanya tidak sibuk mengerling karung emasnya yang berat dengan rakus lima detik sekali. Ia benar-benar tidak sabar ingin segera pulang dan memeriksanya sendiri.

"Tapi dimana anakku?" Ia akhirnya berkata ketika matanya tidak kunjung menemukan putranya.

Semua orang saling tatap, Shikamaru lagi-lagi melirik Sasuke, dan melihat mata Onyx itu bergerak menatap Danzo. Dia membuka mulutnya tapi Naruto mendahuluinya.

"Dia mati." Kata Naruto dengan nada menyesal.

Pandangan Danzo berubah. "Apa dia mati dalam pertempuran?"

Naruto tidak langsung menjawab, dia menatap mata pria itu dalam-dalam. "Tidak. Akulah yang membunuhnya."

Kernyitan muncul di wajah Danzo. "Kau…" Suaranya seperti tercekat. "Kau membunuhnya?" Ulangnya.

"Ia mencoba memperkosa Sasuke, seorang submissive. Itulah kenapa aku membunuhnya."

Sasuke terbelalak menatap Naruto. Ia ingin menentang ucapannya. Naruto berbohong. Dirinyaah yang membunuh Torune. Tapi ia terkejut dengan ketenangan yang terpancar di wajah pemuda blonde itu. Sama sekali tidak ada ketakutan atau minimal kedipan kecil karena telah mengatakan kebohongan. Anehnya, ketenangan Naruto ini membuat Sasuke percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Percaya bahwa pemuda itu bisa mengatasinya.

"Kau bilang kau membunuh putraku, karena dia mencoba memperkosa seorang submissive," Danzo berusaha keras mencerna ucapan Naruto. Guncangan batinnya terlihat jelas pada pancaran matanya, "Dan kau pikir aku akan memercayaimu begitu saja?" matanya berkilat penuh kemarahan. "Aku tahu kau tidak menyukai Torune! Aku tahu kau berniat membunuhnya karena dia adalah mata-mataku! Aku tahu kau adalah tipe pemberontak yang tetap akan pergi berlayar ke barat walau aku tidak mengizinkanmu! Aku tahu bahwa kau adalah anak sialan!" Dia meludah ke tanah. "Apa yang kalian tunggu! Tangkap dia!" Ia memerintah pengawalnya.

Danzo pergi meninggalkan tempat itu dengan marah. Sementara lima orang pengawal langsung bergerak maju, menyerobot kerumunan dan menangkap Naruto.

Teman-teman Naruto langsung menunjukkan perlawanan. Shikamaru mengeluarkan pedangnya, dan Sasuke menyambar lengan Naruto berusaha untuk mempertahankan pria itu. Kankuro telah memasang sabitnya ke leher salah satu pengawal yang akan membawa Naruto pergi. Chouji berusaha mematahkan leher orang yang menghalaunya. Semuanya menjadi kacau balau, saat para pengawal tetap ngotot membawa Naruto pergi.

"Kalian tidak akan menang walau melawan." Fuu yang berdiri tenang ditempatnya memperingati yang lain.

"Tidak apa-apa." Naruto berusaha menenangkan teman-temannya. "Kankuro lepaskan dia." Dia memerintah Kankuro.

Semuanya langsung berhenti melawan, dan ke tiga pengawal membawa Naruto pergi mengikuti jejak Danzo. Sementara dua pengawal lainnya menahan kawanan agar tetap ditempatnya.

Sasuke menatap punggung Naruto. Ia menggelengkan kepalanya dengan marah, bermaksud menembus pengawal itu dan membebaskan Naruto, tapi Shikamaru menahannya, memberikan tatapan peringatan padanya. Seakan berkata, 'mereka akan memperlakukan Naruto lebih buruk, jika kau menimbulkan masalah baru lagi!'

Tangan Sasuke mengepal kuat, pandangannya nanar saat melihat siluet pemuda blonde itu menghilang ke balik kegelapan. Tepatnya ke tempat dimana ruang bawah tanah damyo berada, penjara.

.

.

.

-Tbc-

Chapter dua UP! #lemes

Hmm kayaknya banyak yang salah paham ya, dichapter kemarin itu Midory nulis 'menurunkan panahnya' bukan 'melepaskan panahnya' jadi disitu Naruto nggak dipanah.

Kitsune Syhufellrs : Hm tapi alpha omega disini lebih kayak gelar, loh ya. Alpha omega kan biasanya genrenya supernatural atau fantasy, tapi yang ini nggak.

Aicinta : Waduh Love and sex, bulan puasa, #nelenludah

Kuro Rozu LA : Naru tuh kayak pengangguran yang pengen lamar kembang desa, tapi minder.

Sasofi No Danna: Tonure itu dominan, badan gede kayak gitu gak pantas jadi submissive hihihi

hedictator: Aduh Midory malu banget, iya midory salah itu harusnya submissive bukan submassive makasih udah dikasih tahu. Midory udah edit semua.

Ruth nana: Salam kenal dek Midory juga suka banget sama NaruSasu

Sora: pernah nonton ya? Vikings?

yassir2374 : Tonure bukan Toneri, bukan OC kok, di filler dia adalah anak angkatnya Danzo. Aslinya pake topeng di mata, rada aneh emang, tapi anggap aja disini dia nggak pake topeng. Midory sebenarnya terlalu malas mendeskripsikan wajah setiap karakter #plak

CorvusOnyx: Sasu keliatan kecil? Kok bisa? Diimajinasi Midory tinggi dia nggak jauh beda dari Naru, beda lima centi lah. Midory bilang Naruto menjulang karena pertumbuhannya yang luar biasa cepat.

SuzyOnix: Umur Naru sama kayak Sasu, dua puluh tiga

.1: hahaha namamu emang agak menipu. #peluk btw bagian mananya yang bikin bingung?

LKCTJ94: Nggak OC, tonure itu salah satu karakter di Naruto. Iya Shikamaru uke, sekali-sekalilah. Midory emang perlu submissive yang tampangnya mirip dominan.

Khioneizys: Kattegat, iya nyata pada zamannya. Vikings itu tv series sejarah

InspiritWoohyunI: Ah, thank you!

askasufa : Zaman pertengahan kali ya, midory sebenarnya nggak mau terpaku pada zaman sih anggap aja mereka di dunia mereka sendiri. makasih atas semangatnya.

Narusasu 4 ever: huweee sabar ya, untuk lanjutin the beast midory nungguin mood datang dulu. Midory publish ini soalnya mood midory gak dateng-dateng sih

eL Donghae: waduh, kalau sasu jadi cewek, mungkin dia akan menjadi cewek yang sangat mengerikan.

suira seans: Coba nonton Vikings pasti langsung dapat gambaran wkwkwk

Midory gak balas semua, takutkanya malah jadi spoiler, dan yang minta lanjut midory udah lanjut nih YEY! Makasih ya atas komentar positifnya, Midory sebenarnya nggak keberatan dapat kritikan. Jadi nggak usah malu ataupun merasa nggak enak, keluarkan aja hal-hal aneh atau yang menurut kalian maksa dari fanfic ini.

Sekali lagi thanks to:

.12, Kitsune Syhufellrs, aicinta, Kuro Rozu LA, Guest, Aishi Ryo, oka, Sasofi No Danna, .777, .1, nelsonthen52, hedictator, InspiritWoohyunI, Uchiha Iggyland, yassir2374, CorvusOnyx, dekdes, Call me mink, Tomoyo to Kudo, xsuke, Kirei Yuki, SuzyOnix, iloyalty1, ItachiDeidara, .vikink, LKCTJ94, Oranyellow-chan, Tobi ChukaChuka, Khioneizys, EdyBrrr, askasufa, Naminamifrid, Ruth nana, daNNa lj, Sora, Lhanddvhianyynarvers, ByunBaekie, eL Donghae, suira seans, Anggi736, Guest, sasUKE kim, Kim Tria, -reaon-, Narusasu 4 ever, Yuki Jaeger.