Previous Chapter: Sungmin akhirnya memutuskan hubungannya dengan Heecul. Tanpa sengaja ia curhat pada orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya.


Namja itu mengucek matanya. Tadi ada suara berisik yang mengganggu telinganya. Sekarang malah sinar matahari menusuk matanya. Namja itu mendudukkan dirinya di bangku besi permanen yang ada di sisi kanan dan sisi kiri gerbong Skyrail.

"Aigoo… Mengganggu tidurku saja," katanya memperhatikan yeoja yang juga memperhatikan dirinya.

"Yaa! Kenapa? Kenapa kau bisa ada di sini, wae?!" Sungmin berteriak lagi.

Namja itu menutup telinganya. Lalu bangkit dari duduknya. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau bisa ada di sini dan mengganggu tidur siangku?"

Sungmin memundurkan langkahnya. Keningnya berkerut. Kepalanya sedikit dimiringkan. 'Apa katanya? Tidur siang? Tidur siang di tempat seperti ini? Bagaimana bisa?'

Namja itu maju selangkah. Sungmin mundur.

Namja itu maju lagi. Sungmin kembali mundur.

Begitu terus sampai Sungmin terpojok di salah satu sudut gerbong. Ia melirik ke arah jendela. Sungmin tahu betul ia tidak mungkin terjun, karena selain jendela itu tidak bisa dibuka, mereka –Sungmin dan namja itu- sedang berada di ketinggian lebih dari 2000 meter. Kepalanya tiba-tiba pusing. Sungmin mengelus pelan tengkuknya.

"Mau apa kau? Mundur! Jangan macam-macam atau…"

"Atau apa?" tantang namja itu.

"Atau… kau akan kulempar dari sini!" ancam Sungmin. Dirinya sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.

"Hahahaha…" Benar saja. Alih-alih takut dengan ancaman Sungmin, namja itu malah tertawa. "Mana mungkin bisa. Kereta gantung ini sedang berjalan dan…"

"KYAAA!" Sungmin lagi-lagi teriak. Kali ini yang membuatnya teriak adalah kereta gantung itu tiba-tiba saja berhenti. Sungmin kehilangan keseimbangannya dan jatuh. Untung saja ada tubuh lain yang menjadi bantalannya.

Ya, Lee Sungmin yang kehilangan keseimbangannya memang jatuh terhuyung ke depan. Tepatnya jatuh ke arah namja yang berada di depannya dan sekarang tertimpa oleh tubuhnya. Tubuh mereka sejajar, wajah mereka sejajar, dan begitu juga dengan bibir mereka. Tiga detik mereka perlukan untuk menyadari posisi tubuh mereka sekarang.

"KYAAAAAAAA….!" Teriakan kembali membahana. Bukan hanya dari mulut Sungmin tapi juga dari orang yang sekarang berada di bawah tubuhnya.


Sungmin kaget bukan main. Kedua tangannya refleks memegang kepala namja itu dan tiba-tiba saja Sungmin menjedotkan kepalanya dengan namja itu.

DUAK.

"Aaaarrrgghhh!" Sang namja menjerit kesakitan. Kali ini tubuhnya bereaksi, tangannya melepas tangan Sungmin dari kepalanya, dengan sedikit bertenaga ia menghempas tubuh Sungmin agar menjauh dari tubuhnya.

DUAK.

Bunyi itu berasal dari kepala Sungmin yang terantuk dinding gerbong. Sungmin mengusap kepala bagian belakangnya.

"Yaa! Apa yang kau lakukan?!"

Namja itu mendudukan dirinya. Tangan kirinya mengusap-usap keningnya yang baru saja 'diadu' sedangkan tangan kanannya mengusap sudut bibirnya.

"Harusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan. Kenapa kau tiba-tiba membenturkan kepalamu?" keluh namja yang masih mengelus kedua bagian yang sakit di wajahnya. "Lagipula kenapa kau tiba-tiba menyerangku? Dan kenapa juga kau mencium bibirku?"

"Mwo?" Mata Sungmin melotot. "Aku tidak menyerangmu, lagipula…" Sungmin meraba bibirnya. Tadi saat ia terjatuh memang tubuhnya menimpa namja itu dan bibirnya tidak sengaja jatuh tepat di bibir sang namja.

Bulu kuduk Sungmin merinding. Membayangkan kejadian tadi seperti sedang menonton film horor. Sungmin menggeleng keras. Lalu mengusap kasar bibirnya dengan kedua punggung tangannya bergantian. Ia sadar tidak akan bisa menghapus kejadiannya, setidaknya ia merasa dirinya perlu melakukannya.

"Kau gila! Otak mesum. Hoek. Cuih." Sungmin masih saja melakukannya –mengusap kasar bibirnya dengan punggung tangan.

"Apa kau bilang? Aku mesum? Jelas-jelas kau yang menuburukku dan menci…"

"Ya yaa! Jangan katakan hal yang menjijikan itu," potong Sungmin cepat. Rasanya ia ingin terjun bebas sekarang juga. Atau menerjunkan orang ini?

Namja itu mendecih. "Apanya yang menjijikan? Bukankah kau tadi menikamtinya? Kau menutup matamu, tahu?"

Sungmin sebenarnya ingin berteriak lagi. Tapi ia masih bisa menangkap suara-suara asing dari atap gerbong. Ah, Sungmin melihat ada speaker di sana.

"Tes, tes, apa suara kami terdengar?" ujar suara yang berasal dari speaker. "Jika kalian mendengar suara kami…" suara mengecil dan nyaris tidak terdengar.

Sungmin lemas, namja itu juga.

"Tes, jika kalian mendengar suara kami, tolong lambaikan tangan kalian ke center. Tempat awal kalian…" Suara kembali terputus.

Sungmin berdiri. Lalu melambaikan tangannya ke seluruh penjuru gerbong Skyrail. Ia tidak tahu ke mana ia harus melambaikan tangan, tapi sebaiknya ia melakukan yang sebisa ia lakukan. Tidak seperti namja yang sekarang masih terduduk di lantai Skyrail.

"Yaa! Kenapa kau diam saja? Bukankah mereka meminta kita untuk melambaikan tangan?" Sungmin gemas sekaligus kesal melihat namja yang diam saja itu.

"Ada kau. Kenapa harus aku?" Ia malah balik bertanya.

"Tes, tes. Kami sudah melihat Anda," terdengar lagi suara dari speaker. "Begini Ahjumma, Anda sekarang berada di ketinggian 2150 meter dari permukaan tanah. Ada sedikit gangguan pada sistem rail otomatis kami. Tapi tidak perlu khawatir, kami sedang berusaha memperbaikinya. Anda akan selamat, Ahjumma," lanjutnya.

Sungmin bukan tidak senang dengar ucapan dari petugas Skyrail barusan. Tapi coba lihat kedua tangannya yang mengepal.

"Apa katanya? Ahjumma?" Sungmin mendesis tidak terima.


"Haah," Namja itu menghembuskan napasnya keras-keras. Sudah lima belas menit sejak terakhir suara yang berasal dari speaker memberitahukan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi tampaknya belum ada tanda-tanda kereta gantung ini akan kembali berfungsi.


-Sungmin POV-

Sial sekali aku hari ini. Kutukan apa yang diberikan umma padaku sampai aku jadi sesial ini? Tadi aku dibentak dan disiram minum di depan umum, hubunganku dengan pacarku putus. Eh, yang itu bukan sial sih sebenarnya. Lalu aku ke sini. Maksud hati aku ingin melepas beban. Malah bertemu orang gila yang mesum itu. Terjebak di ruang sempit dan tempat setinggi ini. Belum lagi kepalaku yang terbentur dan bibirku yang…

Hiii… Membayangkannya malah membuat bulu kudukku berdiri. Mengerikan sekali.

Kepalaku rasanya pegal sekali. Dari tadi aku memang hanya menoleh ke sebelah kiri saja. Mau bagaimana lagi? Kalau aku menolehkan sedikit saja kepalaku, maka aku akan melihatnya. Melihat si mesum itu! Amit-amit deh.

'Tapi, menoleh sedikit tidak apa-apa kan ya?'

Aku menolehkan kepalaku. Menghadapnya yang berada di seberangku. Ya, aku duduk di bangku besi sisi kiri, sementara dia duduk di sisi kanan. Kulihat dahinya sedikit memerah, itu pasti karena aku membenturkan kepalaku. Huh, rasakan kepalaku yang sekeras batu ini! Ah, bibir menjijikan itu berdarah.

Sepertinya aku tidak sengaja menggigit bibirnya saat bibir kami ber…

"Aaaaarrggghh." Kugelengkan kepalaku kuat-kuat.

"Hei, kau kenapa?" tanyanya gusar. Aku semakin merinding mendengar suaranya yang mesum itu. "Ya, Ahjumma!" teriaknya membuatku tersentak.

"Kau panggil aku apa?" tanyaku sinis. Aku perempuan yang belum menikah dan lagi apa wajahku setua itu? Menyebalkan sekali.

"Ada yang salah, Ahjumma?" tanyanya tanpa rasa bersalah. Cari mati sekali!

"Apa?" tanyaku lebih keras.

"Ah jum ma," dengan sangat menyebalkan dia menekankan kata itu sesuai dengan suku katanya. Benar-benar rasanya ingin sekali aku menendangnya keluar dari gerbong ini dan membiarkannya jatuh terhempas ke tanah.

Aku bangkit dari dudukku. Berjalan ke arahnya dengan tangan terkepal. Si kurang ajar itu malah menjulurkan lidahnya meledekku. Aku hendak menerkamnya tapi tiba-tiba saja…

Lagi aku hampir terjatuh karena tersandung kakiku sendiri. Untung saja hampir.

"Fiuhh…" lega karena aku tidak jatuh dan tubuhku ditahan seseorang.

"Nah, Ahjumma, apa kau begitu menyukaiku?" tanya orang yang menyelamatkanku. "Apa kau betah berada lama-lama di pelukanku?"

Aku seperti baru saja mendengar bisikan setan. Aku bergidik ngeri dan melepaskan kedua tangannya dari pinggangku. Dan hendak mendorongnya. Tapi aku merasa gerbong kereta gantung ini bergoyang cukup keras. Seperti saat berhenti mendadak tadi, kereta gantung ini bergerak dengan mendadak. Tubuhku kembali kehilangan keseimbangan.

-SUNGMIN POV END-


De Javu. Tubuh mereka kembali jatuh bersamaan. Posisinya pun persis seperti sebelumnya. Sungmin berada di atas, dan namja itu di bawahnya. Wajah mereka sejajar, dan bibir mereka kembali bersatu tanpa diminta. Kali ini Sungmin langsung tersadar dan menjauhkan wajahnya dari wajah sang namja.

Teriakan lagi-lagi menggema memenuhi gerbong kereta gantung itu. Sungmin ingin melakukan hal yang sama seperti yang tadi di lakukannya tadi. Yaitu membenturkan kepalanya sendiri ke kepala namja yang ada di bawah tubuhnya.

Ia bersiap mengangkat kedua tangannya. Tapi tangan yang lebih besar dari tangannya menahan pergerakan tangan Sungmin dan malah mengunci kedua tangan itu di kedua pipi Sungmin.

"Sepertinya kau benar-benar menyukaiku ya, Ahjumma?" tanya namja itu seraya memajukan wajahnya mendekat ke wajah Sungmin. Sungmin dapat melihat dengan jelas ada darah segar yang keluar dari sudut bibir si namja. Apa dia tidak sengaja sudah menggigit bibir itu lagi?

KISS.

Betapa kagetnya Sungmin saat tanpa aba-aba namja itu menciumnya. Mencium Sungmin tepat di bibirnya dengan sengaja.

"Pabbo! Kau ini mesum sekali! Tidak lihat dirimu, kau ini masih siswa senior high-school. Jangan kurang ajar bocah!"

Teriakan keras Sungmin terus terdengar sepanjang perjalanan Skyrail kembali ke center.


TBC


Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan penggunaan tokoh Heecul pada Chapter 1. Aku harap kalian jangan terlalu membayangkan Heecul secara fisik, aku hanya meminjam namanya aja kok. Terima kasih. :)