Chapter 2
Sahabat Kecil
Author newbie mohon maaf apabila ada salah kata
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina/p
Rated : T
Warning : OOC, Typo, ect
Cerita Sebelumnya :
"Kau akan menangis lagi?" Ujar seseorang yang membuyarkan lamunanku, segera aku menoleh kesumber suara, yang ternyata milik Uchiha Sasuke, dia berbaring di kasur di sebelah kasurku, tirai yang berada di tengah-tengah di antara kasur tempat dia tidur dan tempat aku tidur sedikit terbuka sehingga dengan jelas aku dapat melihatnya, aku diam menatap lekat- lekat matanya yang hitam kelam, dia balas menatapku, aku belingsatan sendiri melihatnya balas menatapku "Apa kau akan menangis?" Ulangnya lagi, aku hanya menggelengkan kepala sambil menunduk, ahh aku malu. "Kemarin kau menangis selama setengah jam setelah kau menatap mataku" Ujarnya sambil terkekeh pelan, aku hanya menunduk pipiku merona menahan malu tanpa mampu berkata apa-apa "Kupikir waktu itu kau mampu membaca hatiku" lanjutnya pelan hampir berbisik, sambil menatap kosong ke arah langit-langit, namun aku dapat mendengar suaranya dengan jelas. Dia lalu beranjak pergi, meninggalkan aku sendiri di UKS.
.
.
.
.
.
Aku tidak bergeming sedikitpun, mataku tetap menatap kearah pintu seolah masih ada bayang-bayang kehadirannya disana, pikiranku melayang kemana-mana, aku tersenyum kecut, 'Sebenarnya sedalam apa rasa sakitmu Uchiha Sasuke?' batinku.
"Tadaima.." kataku sambil membuka pintu rumahku, hening. Tidak ada satu orangpun yang menyambut kedatanganku, ya hal seperti ini memang sudah biasa terjadi dirumah kami, lalu tiba-tiba ku dengar suara langkah kaki berjalan kearahku "Oneechan okaeri" ujar sebuah suara, aku tersenyum kearah sumber suara yang tak lain adalah adikku Hanabi, "Kudengar hari ini kakak pingsan disekolah, apa kakak sakit?"tanyanya khawatir, aku hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepala, dirumah yang dingin ini, aku bersyukur masih memiliki Hanabi, setidaknya ada satu orang dirumah ini yang masih menganggapku keluarga.
Setelah berganti pakaian aku segera menemui ayahku dan kakakku diruang tengah, setiap hari aku berlatih bersama ayahku, Hyuga Hiashi, untuk mengasah kemampuan bertarungku, beliau melatihku dengan sangat keras, terkadang aku hanya berlatih pukulan-pukulan saja, tapi tidak jarang beliau menyuruku berlatih dengan cara bertarung dengan kakakku Neji, tidak jarang pula tubuhku memar akibat latihan, namun ayahku selalu merasa aku lemah dan latihan yang aku lakukan setiap hari tidaklah cukup.
Hari ini aku pergi kehutan lagi, tapi bukan untuk bertemu sasuke, melainkan untuk berlatih, aku sering pergi kehutan setelah latihan, aku selalu merasa diriku lemah, sehingga aku membutuhkan lebih banyak latihan daripada orang lain, tanpa sadar aku sudah berlatih selama berjam-jam, pandanganku mulai mengabur tapi aku tidak peduli 'Aku harus menjadi kuat' batinku, "Berhentilah..." ujar sebuah suara, aku menoleh kearah sumber suara yang ternyata adalah milik Uchiha Sasuke, aku menatapnya sejenak dan setelah itu semuanya berubah menjadi gelap.
Aku membuka mataku perlahan, aku masih dihutan, langit sudah mulai gelap, 'Masih belum cukup' batinku. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat Sasuke seolah-olah sesaat dia ada dihutan ini bersamaku, aahh kenapa anak itu selalu hadir dipikiranku? Aku segera bagun dari posisi tidurku sambil membuang jauh angan-angan bodohku tentang Sasuke, aku hendak melanjutkan latihanku, namun niatanku tertahan ketika kudapati Sasuke berdiri tepat dihadapanku.
Mata kami bertemu kembali, aku meperhatikannya baik-baik, tubuhnya penuh memar dan luka, kondisinya tidak jauh berbeda dari kondisiku saat ini "Ada apa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku kearahnya, "Pergilah, ini tempatku, cari saja tempat lain untuk berlatih sendiri" Ujarnya, wajahnya datar dan matanya dingin, sama seperti ketika aku melihatnya di sekolah, aku menunduk, memikirkan lagi kata-katanya, aku kemudian berdiri sambil menepuk-nepuk celanaku yang kotor "Aku tidak bisa" kataku, ku tatap kembali wajah dinginnya "Aku harus menjadi lebih kuat" lanjutku penuh keyakinan, ya, aku harus menjadi lebih kuat.
Aku berjalan melewatinya, sambil berniat untuk melanjutkan latihanku sebelum hari semakin gelap, "Memang kau tahu apa tentang menjadi kuat" ujarnya nadanya sedikit meninggi, aku tidak begitu peduli, aku tetap berusaha fokus pada latihanku "gadis sepertimu hanya akan menyusahkan orang lain" lanjutnya "Kau hanyalah beban" lanjutnya lagi, aku menghentikan latihanku sejenak mataku memanas, "Aku memang tidak sekuat dirimu, aku bukan orang yang terlahir jenius sepertimu, aku lemah, dan aku adalah beban bagi orang lain, lalu kenapa? Apa salahnya kalau aku ingin menjadi kuat? Aku juga ingin melindungi orang lain" jawabku sedikit berteriak, mati-matian aku menahan tangis, kata-katanya begitu menyakitkan, aku tahu dia memang kuat, dia jenius dan tampan guru-guru selalu memujinya, lalu kenapa? Haruskah dia mengatakan hal seperti itu kepadaku?
"Kalau begitu buktikan kepadaku, buktikan bahwa kau mampu melindungi orang lain" ujarnya, lalu pergi meninggalkan aku sendirian dihutan, aku hanya terdiam, apa dia selalu seperti ini? tanyaku dalam hati, kakiku sudah tidak mampu lagi untuk menahan beban tubuhku, aku terduduk ditanah air mataku sudah tidak mampu aku bendung lagi, aku menangis.
TBC
Haii ^^, makasih udah mau kasih review, maaf kalo ceritanya agak kependek an, aku bingung mau nulis apa, sebenernya masih belum kepikiran mau nulis cerita kayak apa di chapter 2 ini, hehe. Ditunggu kritik dan sarannya yah~~ Jaa
