MINE!
CAST
YUNJAEYOOSUMIN
.
Selamat membaca :D mian kl typo, GJ, dll. Gomawo udah baca hehehe muah#cipokwet
.
.
"Yunho~ah" panggil Jaejoong saat menemukan Yunho sibuk membaca di perpustakaan sekolah.
Jaejoong dan Yunho berada di sekolah yang sama, Kim Appa yang meminta, karena itu mereka berada di sekolah yang sama dan di kelas yang sama pula.
"Aku tidak menyangka kau anak yang rajin Yunho~ah?" sapa Jaejoong ceria.
SRAK~
"Eh kau mau kemana?" tanya Jaejoong lagi saat tiba-tiba Yunho menutup bukunya dan berdiri.
"Disini berisik!"
"M-mwo? disini sepi sekali, apanya yang berisik?"
"Kau tentu saja"
"Aku?" tunjuk si cantik itu pada dirinya sendiri "Ah baiklah maaf, Kka kita ke kantin aku lapar"
"Shiruh"
"Waeo? Yah Jung Yunho, ada apa denganmu? kita kan teman, kau boleh mengatakan apa saja padaku kalau kau punya masalah mungkin"
"Aku tidak mau berteman dengan orang menyedihkan sepertimu"
Hati Jaejoong tertohok mendengar kalimat tajam yang keluar dari mulut teman barunya itu, setahu Jaejoong hubungan dia dan Yunho baik-baik saja tapi kenapa hari ini Yunho bersikap dingin?
"Kenapa aku menyedihkan?"
"Kenapa kau tidak masuk ke kelas?"
"Karena membosankan"
"Itulah kenapa kubilang kau menyedihkan" ucap Yunho dingin sambil berlalu dari hadapan Jaejoong, tapi dengan cepat namja cantik itu meraih lengan Yunho kembali.
"Apa maksudmu?"
"Dengar, di dunia ini bukan kau saja yang menderita, kau berpikir bahwa ini tidak adil tidak ada yang mengerti penderitaanmu, sampai kau harus mencari perhatian semua orang dengan cara bodoh seperti ini, begitu kan?"
"Tahu apa kau!" geram Jaejoong.
"Di dunia ini hampir semua manusia memiliki penderitaannya masing-masing, ada yang bertahan, berjuang dan memilih kalah dalam pertarungan dengan masalahnya sendiri, aku hanya ingin kau bisa berjuang bukan berjalan mundur seperti yang kau lakukan sekarang, berhentilah membolos Jae"
Yunho melepas tangan Jaejoong dan memilih kembali ke kelas, meninggalkan Jaejoong yang termenung akan kata-kata Yunho, harus diakuinya apa yang namja Jung itu katakan benar! Tapi harga diri sebagai seorang Kim yang diceramahi anak seorang supir lebih menguasai dirinya.
"YAH! JUNG YUNHO, JANGAN BERPIKIR KAU LEBIH BAIK DARIKU! Shit!"
Jam pelajaran ketiga dimulai sejak 10 menit lalu, si tampan Jung serius menyimak pelajaran Ga In saenim tentang sejarah Korea Selatan, diliriknya bangku Jaejoong yang kosong.
"Haaaaahh dia membolos lagi"
CKLEK~
"Mian saenim saya terlambat"
"Kim Jaejoong kau darimana saja? Kenapa baru sekarang masuk kelas eoh?"
"Aku tidak enak badan jadi beristirahat di UKS saenim"
"Ah begitu, Kka duduklah"
Jaejoong berjalan gontai menuju kursinya, ia membuka buku pelajarannya malas. Tanpa si cantik itu sadari Yunho tersenyum kecil melihatnya, meski perkataannya agak kejam tadi, tapi justru itu berhasil membuat Jaejoong mengikuti pelajaran sampai akhir jam sekolah selesai.
*KIM MANSION*
"Tuan muda anda sudah pulang"
"Hum, aku lapar apa makan siang sudah siap?"
BRUG~
"Omo, Nyonya besar anda mau kemana?"
Heechul terlihat mendorong kopor berukuran besar.
"Aku akan pergi dari rumah ini! Bilang pada Hankyung aku tidak akan kembali"
"T-tapi Nyonya besar..."
"Joongie, Umma pergi ne? Kalau kau rindu pada Umma kau tahu harus menemui Umma dimana, bye honey"
CHUP~
Heechul mengecup dahi Jaejoong, setetes air bening mengalir di pipi pucatnya, ia sangat menyayangi Jaejoong tentu, tapi keadaanlah yang mengharuskannya meninggalkan putera semata wayangnya itu.
"Dana kau harus menjaganya, jangan biarkan Joongie terlalu banyak makan makanan yang manis kau tahu kan tenggorokannya sensitif"
"Nyonya anda akan pergi kemana?"
"Jagalah Joongieku, Umma menyayangimu baby"
"Nyo-Nyonya...Nyonya besar Kim" panggil Dana, asisten rumah tangga keluarga Kim.
Jaejoong diam, ia tidak bergeming sama sekali melihat Ummanya pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Ia sudah bisa menebak cepat atau lambat Ummanya pasti akan pergi dari rumah, dengan malas ia menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
"Tuan muda, anda mau kemana? Anda tidak jadi makan siang tuan muda?"
"Sudah tidak lapar"
"Tuan muda tapi..."
BLAM~
Kalimat Dana tertahan saat ia mendengar pintu kamar yang tertutup kencang. Dana adalah kepala asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Kim, ia sudah bekerja selama hampir lima belas tahun, ia sangat hapal bagaimana harmonisnya keluarga Kim meski dua tahun belakangan kedua suami-istri Kim sering terlibat percekcokan akibat tuduhan saling selingkuh. Ia menyayangi Jaejoong, karena ia sudah merawat namja Kim itu sejak Jaejoong berusia dua tahun, dan tentu saja ia sedih melihat tuan mudanya seperti itu.
"JAE HYUUUUUUUUUNNNNNGGGGGG, Omo sepi sekali"
"Tuan muda Changmin?"
"Anyeong Dana ahjuma, sepi sekali apa Jae hyung tidak ada dirumah?" tanya namja jangkung itu sambil memegang tas cangklongnya.
"Tuan muda Jaejoong ada diatas tuan muda Shim"
Dengan semangat 45' Shim Changmin, sahabat sekaligus sepupu Jaejoong menapaki tangga menuju kamar si cantik. Pemuda Shim itu berencana untuk mengajak Jaejoong menginap dirumahnya selama Umma dan Appanya pergi untuk urusan bisnis mereka masing-masing.
"Jae hyung aku dat...Oh Tuhan! JAE HYUNG, JAEJOONG HYUNG! Ahjumma Dana ahjumma!"
"A-ada apa tuan mu, TUAN MUDA JAEJOONG?! Ya Tuhan ada apa ini? Tuan muda kenapa?"
Keduanya menjadi panik saat menemukan Jaejoong pingsan dengan lantai penuh darah, terlihat darah berwarna merah pekat itu mengalir dari urat nadi di tangannya, Jaejoong mencoba bunuh diri?
"Cepat angkat dia! Panggilkan ahjussi Jung, PPALIWA!"
"N-nde tuan muda"
Changmin menggendong Jaejoong bridal style, tangan kiri Jaejoong terkulai membuat darah itu mengalir semakin deras dan meninggalkan banyak sekali jejak darah. Dengan cepat ia membawa Jaejoong turun untuk membawanya ke Rumah Sakit. Sementara itu Dana sibuk berlari kerumah kecil yang masih berada di satu halaman kediaman Kim dimana rumah itu adalah rumah tempat keluarga Jung tinggal. Ia bahkan tidak mengetuk pintu dan langsung menerobos masuk begitu saja.
BRAK~
"Kangin ahjussi, Kangin ahjussi!"
"Wae wae? Ada apa Dana~ah?" tanya Kangin yang sepertinya habis berkebun di taman belakang, karena kedua tangannya yang penuh dengan tanah.
"I-itu, tuan muda tuan muda..."
Yunho dan Jiyeol yang mendengar keributan dari ruang tamu langsung keluar dari kamar mereka masing-masing, keduanya terlihat bingung melihat Dana yang begitu panik.
"Ahjussi tuan muda berdarah dia pingsan! Aku tidak tahu kenapa, kumohon cepatlah bawa tuan muda ke Rumah Sakit"
"Berdarah? Pingsan? Apa maksudmu Dana?"
"Tidak ada waktu menjelaskannya ahjussi kumohon cepatlah! Siapkan mobil kita harus pergi sekarang juga atau nyawa tuan muda tidak akan selamat"
"N-nde aku akan menyiapkan mobil sekarang"
Dana mengangguk, setelahnya ia berlari keluar kembali kerumah Kim. Kangin langsung mencuci tangan dan mengambil kunci mobil, melihat itu Yunho dan Jiyeol sangat penasaran dengan apa yang terjadi, terlebih Yunho karena barusan ia mendengar bahwa Jaejoong berdarah dan pingsan? Gosh, apalagi yang dilakukan namja Kim pabo itu? pikir Yunho. Changmin sudah berada di halaman, ia sedikit kesal karena belum ada mobil yang menunggunya di depan. Ia menatap cemas sepupu cantiknya itu.
"Jae hyung ada apa sebenarnya? Kenapa kau jadi seperti ini? Aish Kangin ahjussi eoddiga!"
"Tuan muda Shim apa yang? Omo tuan muda Kim" Kangin terkejut bukan main saat melihat ceceran darah yang datang dari tangan kiri Jaejoong, dan tanpa bertanya lagi dia langsung mengambil mobilnya.
"Jaejoong?!"
"Jae noona?!"
Kedua bersaudara Jung itu saling memanggil Jaejoong, nampak jelas dari wajah Yunho ia begitu khawatir, dilihatnya lelehan darah tidak berhenti dan malah semakin deras. Diambilnya cepat tangan mungil Jaejoong dan menaruhnya di bagian perut namja berwajah sempurna itu.
"Kau harus menaruhnya begini agar darah itu tidak terus mengalir"
Changmin menatap Yunho, ia tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Maserati Jaejoong tiba dan Changmin langsung membawa Jaejoong kedalam mobil, dalam sekejap mobil mewah itu-pun melaju dengan kecepatan luar biasa menuju Rumah Sakit.
"Oppa, Jae noona kenapa?" tanya si kecil Jiyeol dengan wajah sendunya.
"Dia akan baik-baik saja, dia pasti baik-baik saja" gumam Yunho.
*ST. MARY HOSPITAL*
"Bagaimana Joongie? Bagaimana keadaan cucuku?"
Lelaki tua berusia sekitar 60 tahunan itu berjalan cepat saat ia sudah tiba di UGD, meski usianya sudah lanjut tapi tubuhnya masih terlihat tegap dan kokoh, dialah pemilik seluruh asset Kim Corporate, CEO dari perusahaan elektronik terbesar di Asia, Samsung (oke anggap aja Samsung itu punya keluarganya Jaejoong ok? Sip). Siapa yang tidak mengenal Kim Sang Bum?
"Sajangnim"
"Bagaimana keadaan cucuku Kangin~ah? Apa dia baik-baik saja eoh? kudengar dari Dana ia pingsan"
"Kami belum mendapat kabar dari dokter sajangnim"
"Ah, ada apa dengannya? Apa dia sakit? Changmin~ah"
"Halboji"
Changmin memeluk kakeknya, ia sangat sedih dengan keadaan Jaejoong saat ini. Dan satu-satunya orang yang bisa diandalkan tentu hanya sang kakek, sementara kedua orang tuanya sibuk berbisinis.
"Gwaenchana, Joongie akan baik-baik saja, dia namja yang kuat kau tahu kan?" ucap Sang Bum sambil menepuk punggung Changmin.
"Hum, arraso" jawab si tampan Shim sambil melepas pelukan kakeknya.
CKLEK~
"Apa ada keluarga Kim Jaejoong disini?"
"Nde, saya saya kakeknya suster, bagaimana keadaan Joongie?"
"Tuan Kim, dokter Park ingin menemui anda di silahkan lewat sini"
Tanpa membuang waktu, Kim Sang Bum mengikuti sang suster untuk menemui dokter yang menangani Jaejoong. Membuat semua orang yang berada disana semakin cemas, sebenarnya ada apa? Dan apakah Jaejoong baik-baik saja?
Berselang 30 menit kakek Kim kembali dengan raut wajah yang kurang baik, ia terlihat murung.
"Halboji, wae geure? Dokter bilang apa?"
"Changmin, kau segera ke kantor Hankyung dan katakan padanya bahwa Jaejoong membutuhkan darahnya! Aku tidak peduli meski ia sedang rapat sekalipun, kalau ia menolak seret dia!"
"Da-darah? Apa Jae hyung kehilangan banyak darah sampai harus mendapatkan donor?"
"Halboji tidak bisa mendonorkan darah untuk Joongie, karena halboji memiliki riwayat Anemia dan dokter tidak mengijinkan itu, kau pergilah cepat"
"Ne halboji, aku akan segera kembali"
Kakek bertubuh sedikit gempal itu terduduk lemas di kursi penunggu pasien, ia mengusap wajahnya yang sudah terdapat guratan-guratan usia pelan.
"Sajangnim anda baik-baik saja?"
"Kangin~ah, kenapa jadi begini? Kenapa Joongie yang ku kenal sangat ceria menjadi seperti ini"
"Sajangnim tenanglah, tuan muda akan baik-baik saja tenanglah sajangnim"
"Lihat saja, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Joongie aku tidak akan memaafkan Hankyung dan Heechul! Pasangan bodoh itu tidak akan bisa hidup tenang jika Jaejoong tidak selamat!"
"Sajangnim jangan bicara seperti itu, tuan muda adalah namja yang kuat dan anda sebagai keluarganya harus lebih kuat agar tuan muda bisa bangkit kembali sajangnim"
"Kau hubungi Heechul, suruh dia ke Rumah Sakit! Beritahu bahwa anaknya hampir mati karena dirinya!"
"Nde sajangnim"
Kakek tua itu kembali bersender mencoba menenangkan dirinnya sambil terus menggumamkan doa agar cucu kesayangannya itu kembali sehat.
Dua hari kemudian, keadaan Jaejoong cukup membaik karena akhirnya ia mendapatkan donor darah dari Appanya, baik dalam keadaan fisik belum tentu membaik dalam keadaan mentalnya aniya? Sejak siuman, Jaejoong terlihat jauh lebih murung. Ia memang makan dengan teratur, minum obat sesuai anjuran dokter, tapi ia tidak berbicara satu patah kata-pun.
Heechul, meski tahu puteranya sedang sakit memilih untuk tidak menengok Jaejoong dan hanya mengontrol keadaan namja cantik itu melalui Dana. Ia sungguh tidak ingin bertemu muka dengan Hankyung maupun keluarga Kim lainnya.
CKLEK~
"Hi"
Jaejoong melihat kearah pintu ketika seseorang masuk kedalam kamar rawatnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Apa kabarmu Jae? Sudah membaik?"
Ternyata namja Jung itu yang menjenguknya masih dengan seragam sekolahnya lengkap. Sepertinya ia baru saja pulang sekolah dan langsung menengok Jaejoong.
"Kau kemana saja? Kenapa baru menjenguk-ku?" tanya Jaejoong.
Sedikit aneh karena akhirnya Jaejoong membuka suaranya, padahal sejak dua hari lalu ia memilih untuk bungkam, menolak berbicara dengan siapapun.
"Mian, dua hari lalu aku harus kembali ke Gwangju, ada yang tertinggal disana jadi harus kuambil, waeo? Kau merindukanku hum?" goda Yunho.
"Pabo" ucap Jaejoong lemah, ia kembali menatap jendela kamar rawatnya. Entah apa yang ia pandang, tapi dari raut wajahnya terlihat begitu serius.
"Bagaimana keadaan tanganmu?" Yunho mengambil tangan yang dibalut perban itu pelan, tidak ingin menyakiti Jaejoong.
"Kudengar kau sampai kehabisan darah, kenapa? kau mau menjadi Zombie?" tanya Yunho lagi.
"Kalau hidup menjadi Zombie lebih baik, aku memilih untuk menjadi Zombie" jawab Jaejoong tanpa melihat lawan bicaranya.
"Kenapa kau mau menjadi Zombie? Yang kulihat dari film-film menjadi Zombie itu mengerikan, wajahmu menjadi pucat dengan goresan-goresan luka yang membusuk dimana-mana, kau juga akan berjalan kaku sehingga kalau dikejar anjing kau tidak akan bisa lari, ditambah mulut Zombie akan terus terbuka lebar geeezzz sangat jelek sekali.
"Kalau begitu aku akan menjadi Zombie yang paling tampan"
"Ck, tidak mungkin! Coba kau cari film-film Zombie, mana ada yang Zombie yang berwajah tampan"
"Lalu aku harus menjadi apa agar hidupku lebih baik?"
"Berlian, kau harus menjadi seperti berlian"
Jawaban Yunho membuat Jaejoong memalingkan wajahnya menatap si tampan yang kini sedang tersenyum kearahnya.
"Kau tahu kan bagaimana sebuah batu biasa yang terdapat di gua yang hampir tidak tersentuh manusia itu diolah? Bagaimana ia 'hidup' dengan proses 'menyakitkan' sampai akhirnya ia menjadi mahal karena proses itu sendiri dan begitu dihargai manusia karena kekuatan dan keindahannya?"
Jaejoong masih menatap Yunho.
"Dia harus diledakan, dipotong, dibakar, dipotong lagi, dibakar lagi, dibentuk menggunakan benda-benda tajam, kemudian dibakar lagi, dicampur bahan kimia, sampai akhirnya Berlian Swarovsky menjadi perhiasan termahal dan terkuat di dunia, kau harus seperti itu Jae! Kau harus mengalami beberapa cobaan agar kau lebih kuat, agar kau bisa tahu seberapa tangguhnya dirimu"
Jaejoong nampak tertawa kecut, ia memilih untuk kembali melihat jendela dibanding mendengar ceramah si namja Jung.
"Kau tidak merasakan apa yang kurasa Yun, tidak"
"Aku memang tidak merasakan yang kau rasa Jae, tapi kurasa aku punya kisah yang lebih menyedihkan darimu. Kau tidak tahu kan bagaimana Jiyeol lahir? Saat itu aku masih berusia lima tahun, tapi aku mengingat semuanya, aku ingat saat Umma berkata bahwa aku harus menjaga Jiyeol dan menyayangi serta menjaganya, dan aku tidak boleh membenci adiku sendiri"
Oke, kini Jaejoong nampak tertarik dengan kisah Yunho, ia kembali melihat Yunho namun kali ini didapatkannya wajah namja Jung itu terlihat sedih.
"Umma berada dalam kondisi kritis saat mengandung Jiyeol, aku tidak tahu ada apa tapi kudengar Appa harus memilih salah satu untuk diselamatkan, Appa sangat terpuruk saat itu, tapi kemudian ia memilih Umma untuk selamat. Saat dokter keluar, aku tidak melihat Ummaku melainkan aku melihat sesosok bayi mungil berada dalam gendongannya, dan saat itu aku tahu bahwa Umma memilih menyelamatkan Jiyeol ketimbang dirinya sendiri"
"Y-yun?" Jaejoong mulai cemas, karena ia melihat air mata mulai menggenangi pelupuk mata Yunho.
"Appaku menangis, ia terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ummaku memilih pilihan untuk mati demi anaknya, untuk beberapa hari bahkan Appa tidak mau menggendong Jiyeol. Hingga sebulan setelah kematian Umma, Appa memilih untuk mencari pekerjaan di luar Gwangju, ia membawa Jiyeol dan meninggalkanku dengan halmonim, keadaanku saat itu juga tidak terlalu baik, karena teman-teman disekolah selalu mengejek-ku sebagai anak yang tidak memiliki orang tua"
Yunho menghentikan kisahnya sejenak, diusapnya bekas luka Jaejoong yang terbalut perban yang masih basah itu pelan.
"Apa kau bisa merasakan, bagaimana sulitnya aku saat aku tahu Ummaku memilih mengorbankan nyawa demi adik-ku? Apa kau bisa merasakan bagaimana sulitnya saat orang yang kau cintai pergi begitu saja meninggalkan dirimu sendiri, dan merasa bahwa kau tidak dicintai sampai ia rela meninggalkanmu? Apa kau bisa merasakan bagaimana sulitnya menghadapi cemoohan orang lain yang mengatai dirimu bahwa aku anak haram yang dilahirkan tidak memiliki orang tua?"
"Yun?"
"Ternyata kita sama kan Jae? Sama-sama ditinggalkan orang yang kita cintai tanpa mereka tahu bahwa kita menderita? Kau mungkin berpikir bahwa Ummamu sangat kejam meninggalkanmu seperti ini, tapi kau tidak tahu bahwa kau lebih kejam karena hampir merusak masa depanmu sendiri"
"Aku tidak punya masa depan Yun, tidak lagi"
"Kalau begitu, mulailah masa depanmu dari sekarang"
"Aku tidak mempunyai mimpi"
"Benarkah? Padahal aku bermimpi menikah denganmu, mempunyai anak yang banyak darimu lalu..."
"Y-YA! Apa-apaan itu? kau pikir aku menyukaimu sampai harus menikah denganmu?!"
"Tentu saja, aku yakin kau akan menyukaiku nanti"
"Ck, percaya diri sekali kau"
"Aku tampan, pintar, tubuhku juga bagus dan aku sangat baik dalam berolah raga, hmmmm aku juga digilai banyak yeoja kau tahu kan? Hanya saja aku memang tidak memiliki banyak harta, tapi aku akan bekerja untuk menghidupimu"
Jaejoong tertawa kecil mendengar kalimat Yunho yang menurutnya lucu, ia sendiri heran bagaimana mungkin namja Jung itu berpikir ia akan menikah dengan dirinya, berteman saja baru dua minggu.
"Oh iya, aku juga ingin memiliki 25 anak! 20 anak perempuan dan 5 anak laki-laki, eotte?"
"YAH! Kau ingin membunuh seseorang Jung?"
"Aku tidak akan membunuhmu Jae, tenang saja aku yakin kau bisa melewatinya" goda Yunho yang membuat Jaejoong memukul pundak Yunho pelan, dirinya merasa malu sekarang.
"Jadi bagaimana? Kita bisa menikah kan?"
"Lewati dulu halbojiku aku yakin dia tidak akan dengan mudah menyerahkan cucunya yang tampan ini hanya untuk dirimu"
"Tampan? Hahaha kau lucu sekali Jae, sejak kapan kau tampan huh?"
"Aish YUNHO!"
"Ahahahaha, ah ah appo Jae aw yah Appo~"
"Beruang jelek! Beruang gendut! Beruang mesum!" Jaejoong memukul-mukul kepala Yunho sambil tertawa, ia sejenak melupakan masalah dan rasa sakitnya untuk sementara ini. Tanpa ia sadari empat pasang mata sedang melihat apa yang mereka lakukan sejak tadi.
"Siapa namja itu Min?"
"Kudengar ia adalah putera pertama Kangin ahjussi"
"Benarkah? Dia Yunho?"
"Hum, sepertinya begitu halboji"
"Apa mereka berpacaran? Kenapa mereka terlihat mesra?"
"Mollayo, hyung tidak pernah membicarakan tentang dirinya"
"Apa kau bisa mencari tahu tentang namja itu Minnie?"
"Tentu halboji, serahkan padaku?" ucap Changmin dengan bibir tersenyum lebar.
_MINE_
*JUNG FAMILY HOUSE*
TOK TOK TOK~
"Neee chakkamanyo"
CKLEK~
"Kim sajangnim?"
"Anyeong Jiyeoli, kau sudah pulang sekolah hum?"
Kakek Jaejoong itu tersenyum dan mengusap rambut Jiyeol lembut. Bagaimanapun keluarga Jung sudah mengabdi sejak Kim Jaejoong berusia dua tahun, karenanya Kim Sang Bum juga menganggap Jiyeol sebagai cucunya.
"Nde sajangnim silahkan masuk sajangnim, Oppa ada Kim sajangnim"
Putera sulung keluarga Jung itu nampak keluar dari dapur, ia terlihat masih memakai seragam sekolahnya ditambah apron yang melekat, sepertinya ia sedang memasak.
"Anyeong haseo Jung Yunho imnida" bungkuknya sopan.
"Ne ne duduklah Yunho~ah"
Yunho duduk dihadapan Kim sajangnim sedang Jiyeol melesat ke dapur untuk mengambilkan segelas air.
"Jeosonghabnida sajangnim saya belum sempat mengunjungi anda sejak pindah kesini"
"Ahahahaha tidak apa-apa Yunho~ah, aku yakin kau sangat sibuk dengan sekolahmu kan? Kudengar kau murid dengan lulusan terbaik sejak SD dan selalu menjadi juara umum, benarkah?"
"Nde sajangnim begitulah"
TUK~
"Silahkan diminum tehnya sajangnim"
"Gomawo Jiyeol~ah"
Gadis 12 tahun itu tersenyum, ia kemudian duduk disamping kakaknya.
"Yunho~ah, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Yunho mengerutkan alisnya, bertanya? Tentang?
"Silahkan sajangnim"
"Tidak usah tegang begitu santai saja, aku hanya ingin bertanya tentang hubunganmu dengan cucuku, Kim Jaejoong"
"J-Jaejoong? Maksud sajangnim?"
"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya terkesan denganmu yang bisa dekat dengan cucuku, Joongie sebenarnya anak yang ceria dan memiliki banyak teman tapi dia sangat sulit untuk bisa dekat dengan seseorang, setahuku hanya Changmin yang sangat dekatnya"
"Eung itu sajangnim aku aku..."
"Kalau kau bisa dekat dengannya, itu berarti cucuku menyukaimu"
"EH?" kompak Jiyeol dan Yunho.
"Hahaha kalian ini kakak beradik senangnya terkejut begitu hum? Maksudku menyukaimu sebagai sahabat tentunya, kau bisa membuat Joongieku kembali tersenyum kemarin, aku sungguh sangat berterima kasih Yunho~ah"
"A-ah ne sajangnim, aku hanya merasa Jaejoong itu kesepian jadi aku berusaha menjadi temannya"
"Dan kau berhasil"
Yunho diam, dia tidak bisa membalas perkataan Kim Sang Bum yang bisa ia lakukan hanya tersenyum malu dan menggaruk tengkuknya gugup.
"Baiklah, aku harap kau bisa menjadi teman yang baik Jaejoong karena dia sedang mengalami masa terberat dalam hidupnya, Kka aku harus pergi ada beberapa urusan yang harus ku kerjakan"
"Nde sajangnim"
"Kau akan ke Rumah Sakit kan?"
"Ne sajangnim, nanti sore saya akan ke Rumah Sakit"
"Good boy, salam untuk cucuku yang manis"
Yunho mengangguk, dia dan Jiyeol mengantarkan kakek Kim sampai kedepan rumah hingga sedan hitam pekat itu menjauh dan tidak terlihat.
"Oppa"
"Hum?"
"Oppa menyukai Jae noona?"
"Memangnya kenapa?"
"Ani, aku setuju kalau Oppa menyukai Jae noona, Jae noona sangat cantik aniya? Dia juga baik"
"Kau ini cerewet sekali! Cepat kerjakan PRmu, Oppa masih memasak setelah ini kita makan ne?"
"Neeeeeee, keunde aku benar-benar menyukai Jae noona"
"Arra arra, kajja"
Yunho menggamit lengan adik kecilnya dan mengajaknya masuk kedalam rumah. Kangin sedang berada di tugaskan mencari Heechul oleh Kim Sang Bum karena itu ia sudah pergi pagi sekali. Sore harinya kepala keluarga Jung itu sudah kembali, dan kini giliran Yunho menjenguk teman cantiknya.
CKLEK~
Dibukanya pintu kamar rawat Jaejoong, tapi ia tidak menemukan siapapun disana.
"Jae, Jaejoong" Yunho memeriksa kamar mandi, tapi nihil Jaejoong tidak berada disana.
"Shit! Dimana dia" kecemasan mulai melanda si tampan Jung, ia takut kalau Jaejoong akan berbuat hal yang aneh-aneh lagi.
"JAEJOONG! JAEJOONG~AH, permisi apa kau lihat pasien di kamar 9095 atas nama Kim Jaejoong?" tanyanya pada seorang suster.
"Eh? Bukankah dia ada dikamarnya?"
"Opsoyo"
"Benarkah?" suster yeoja itu segera menuju kamar Jaejoong dan benar saja, namja cantik itu tidak berada disana. "Saya akan menghubungi dokter"
Yunho kembali mencari Jaejoong, setiap lantai ia susuri dengan teliti, kemudian matanya tertuju pada seseorang yang nampak sedang duduk di kursi taman Rumah Sakit. Itu Jaejoongnya, Yunho segera menyusul Jaejoong yang terlihat melemparkan batu-batu kecil kedalam kolam taman Rumah Sakit.
"Jae! Jaejoong~ah, kau kenapa disini?" ucapnya dengan napas tersengal.
"Yunho?" jawaban namja manis itu terdengar polos dan tanpa berdosa.
"YAH! Kenapa kau kabur dari kamarmu eoh? apa kau tahu aku mencarimu kemana-mana?!"
"Ck, kau berlebihan Yunho~ah, menurutmu aku akan kabur begitu?"
"Ani, aku takut kau akan melakukan sesuatu yang buruk lagi"
Jaejoong menatap Yunho lekat, ia melihat pancaran kecemasan dari mata Yunho, tubuh namja itu-pun berkeringat, apa benar ia sebegitu panik mencari dirinya? Tanya Jaejoong dalam hati.
"Aku hanya bosan dikamar jadi aku kesini, aku tidak tahu Rumah Sakit ini memiliki taman yang indah" ucapnya dan kembali melempar batu-batu kecil kedalam kolam.
"Sudah berapa lama kau berada disini?"
Yunho duduk disamping Jaejoong. Dari sini dia bisa melihat wajah cantik tanpa cacat yang dimiliki teman barunya. Ia berpikir kenapa ada namja dengan wajah sesempurna itu? putih, bersih, mulus dan sepertinya lembut. Bahkan adam's apple Jaejoong tidak terlihat, wajar jika beberapa orang menyangka namja Kim itu adalah seorang yeoja.
"Sejak Minnie pergi les"
"Itu berarti kau sudah dua jam disini?! Kajja kita kembali ke kamar, waktu bermainnya sudah habis"
"Sebentar lagi ok?" jawab Jaejoong sambil tersenyum manis sekali.
Pasangan beda kasta itu kembali diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Meski begitu, tatapan Yunho tidak sedikitipun terlepas dari wajah Jaejoong, sungguh ia sangat mengagumi karya Tuhan yang satu ini.
"Yun, aku sudah tahu siapa yeoja yang menggoda Appaku, dia sekretaris baru di kantor Appa namanya Barbie Hsu, yeoja itu wanita keturunan China yang cantik, meski tetap Ummaku yang tercantik, walau ia namja"
"Ne, seperti dirimu, cantik meskipun kau laki-laki"
"Aish Yun aku serius!"
"Arra arra, lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Menurutmu? Apa aku harus mendatanginya dan mengatakan padanya bahwa ia harus menjauhi Appaku? Bagaimana kalau Appa benar-benar mencintai yeoja China itu?" kali ini Jaejoong menatap Yunho, ada gurat kesedihan yang terpancar dari doe indahnya.
"Bagaimana kalau memang kedua orang tuaku sudah tidak saling mencintai Yun? Apa semudah itu mereka melupakan cinta mereka? Apa cinta mereka hanya bertahan tujuh belas tahun? Lalu kemana cinta mereka yang dulu? Menguar begitu sajakah?"
"Jae"
"Aku tidak mengerti cinta, dan aku juga tidak mau mengerti, aku rasa cinta bukan hal utama dalam hidup ini, Karena ternyata cinta juga bisa hilang, tidak ada yang abadi di dunia ini aniya?"
"Kau hanya belum merasakannya Jae, saat kau bertemu dengan seseorang yang kau cintai, maka kau akan mengerti"
Jaejoong tertawa kecut.
"Kalaupun aku bertemu dengannya aku sudah menutup hatiku, aku tidak mau terluka, aku tidak mau seperti Umma yang menangis tiap malam karena bertengkar dengan Appa, aku tidak mau seperti Umma yang memilih mencari lelaki lain karena Appa sudah tidak mencintai Umma, aku tidak mau nantinya anak-anaku menjadi seperti aku, menderita seperti aku, tidak Yun aku tidak mau, lebih baik aku hidup sendiri seperti ini"
"Sampai kapan hum?"
"Entahlah, sampai aku bosan terhadap hidupku sendiri mungkin"
"Jaejoong~ah kumohon jangan bicarakan hal yang aneh-aneh lagi, aku temanmu kau bisa berbagi apapun denganku"
"Teman? Benarkah? Katamu aku menyedihkan? Ne, aku memang sangat menyedihkan Yun"
"Kajja kita kembali, udara disini membuatmu bicara ngelantur"
"Shiruh, aku masih ingin disini"
"Jae ini sudah sore sebentar lagi malam, kau tidak memakai jaket kau bisa demam nantinya"
"Yah, aku bukan anak kecil yang mudah demam Jung!"
"Aku tidak peduli kau...AH!"
TUK~
Yunho memekik karena ia merasa ada yang melempar sesuatu di belakang kepalanya, tapi ia tidak menemukan apapun selain sebuah bola sepak yang menggelinding hampir masuk kedalam kolam.
"KYAAAAAAAAA BOLAKU! TOLONG AMBIL BOLAKU JANGAN BIARKAN DIA MASUK KEDALAM KOLAM, KYAAAAAAAAA"
Dengan cepat Yunho mengambil bola berwarna hitam-putih itu, matanya memincing karena seseorang dengan baju pasien yang sama seperti Jaejoong berlari kearahnya.
"Ah! Untung tidak jatuh, gomawo sudah mengambil bolaku" sapanya ceria.
Yunho mengembalikan bola milik namja berwajah bulat chubby, senyum namja itu sangat manis.
"Kalian sedang berpacaran?" tanya namja belesung pipi itu kearah pasangan YunJae.
"M-mwo? A-ani, kami hanya berteman"
"Oooh kukira kalian sedang berpacaran hehehe, ah aku harus kembali ke kamar kalau tidak suster Seo akan mengamuk lagi, bye"
"Kau pasien disini juga?" tanya Jaejoong
"Uhm! Kakiku terkilir saat bermain bola"
"Ter-kilir?" Jaejoong melirik bagian bawah namja berkulit putih itu dengan wajah bingung, kakinya terkilir tapi ia masih bisa bermain bola? Ajaib.
"Lihat, kakiku diperban hajiman meski sakit aku masih bisa membuat gol hehehe" kekehnya lucu.
"YAH! KIM JUNSU, KAU KABUR LAGI EOH?"
"OMO! Suster Seo, aku pergi dulu ne byeeeeeee"
"JUNSU JANGAN LARIIIIII KAKIMUUUUUU"
Jaejoong dan Yunho menggelengkan kepalanya, mereka berdua tersenyum melihat pasien dan suster itu saling berkejaran, sepertinya namja manis bernama Kim Junsu itu pribadi yang menyenangkan.
"Kka kita kembali ke kamar"
"Hum, kepalamu eotte? Apa masih sakit?"
"Sudah tidak apa-apa, yah saat namja tadi mengatakan kita sedang berpacaran kenapa tidak kau iyakan saja?"
"Aish Jung Yunho!"
"Ahahahah arra arra, kajja kita kembali ke kamar"
Jaejoong memeluk lengan Yunho sedang tangan kanannya ia gunakan untuk menyeret tiang selang inpusnya. Sepanjang koridor Rumah Sakit Yunho sering menceritakan cerita lucu sehingga membuat Jaejoong tertawa. Jaejoong hanya bisa tertawa lepas jika bersama Yunho, entahlah ia sendiri juga heran.
CKLEK~
Yunho membuka pintu kamar rawat Jaejoong, dengan telaten ia membaringkan Jaejoong kembali ke ranjangnya. Dan saat itulah dokter Park, dokter yang menangani Jaejoong masuk dengan tergesa.
"Jaejoong~ah kau sudah kembali, aish kau kemana lagi eoh?"
"Anyeong hyung dokter, tidak perlu cemas aku hanya pergi ke taman"
"Kenapa kau tidak bilang pada suster jaga?"
"Tidak ada siapapun saat aku akan meminta ijin, jadi aku pergi saja toh aku juga hanya ke taman"
"Aigoooo, lain kali kalau tidak ada siapapun kau tidak usah pergi kau ini masih dalam keadaan lemah karena kehilangan banyak darah"
"Ck, hyung dokter cerewet!"
"Dan lagi, kau ini pacarnya kan? Harusnya kau menjaga pacar keras kepalamu itu dengan baik" tunjuknya pada Yunho, yang ditunjuk hanya tersenyum canggung.
"Baiklah aku harus pergi untuk melihat pasien lain, ada pasien yang baru masuk kemarin karena kakiknya terkilir dan ia juga sering kabur sepertimu Jae, aigooo memiliki pasien sepertimu saja sudah membuatku sakit kepala"
"Ahahaha benarkah? Apa itu Kim Junsu?"
"Kau mengenalnya?"
"Ani, aku hanya bertemu dengannya tadi saat ia bermain bola di taman"
"Aigooooooo anak itu! Sudah tahu kakinya terkilir tapi masih bermain bola, aku harus memeriksanya, aku pergi Jae dan ingat jangan kabur lagi arraso?"
"Ne hyung dokter"
KLEK~
"Aku heran kenapa semua orang menganggapku kekasihmu Jae, apa kita terlihat seperti orang pacaran?" tanya Yunho setelah kepergian dokter muda tadi.
"Menurutmu?"
"Humm, bagaimana kalau kita benarkan anggapan mereka?"
"Yah! Apa yang kau katakan eoh? aku tidak mau berpacaran denganmu"
"Wae? Aku tampan"
"Ck, kau mulai lagi"
"Hehehe, sudahlah sekarang kau istirahat, sejak tadi kau terus bermain di taman kau pasti lelah"
"Hum aku mengantuk, kau akan ada disini kan Yun?"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, tidurlah"
Sebelum memejamkan matanya Jaejoong tersenyum sangat indah, membuat debaran kecil di dada Yunho berdetak cukup kencang. Ia suka, sangat suka melihat wajah tersenyum Jaejoong ketimbang wajah murungnya.
_MINE_
Sudah Empat Hari Jaejoong berada di Rumah Sakit, dan ia hanya diperbolehkan pulang saat luka di lengannya sudah mengering, rupanya goresan itu menimbulkan luka yang cukup dalam sehingga membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Hari ini hari minggu jadi Hankyung bertugas menjaga Jaejoong.
"Joongie~ah, kau lapar? Kau ingin makan apa hum?"
"Opsoyo" ucapnya sambil membaca majalah.
"Atau kau haus? Kau ingin meminum sesuatu?"
"Ani"
SRAK
SRAK
Hanya ada suara lembaran kertas yang dibalik, Jaejoong memang tidak berniat berbicara lebih dengan Appanya itu.
DDDDRRTTTTTTTTT DDDDRRRRRRRRTTTTTT
"Yeoboseo"
"..."
"Ne keadaan Joongie sudah membaik"
"..."
"Hum, kemungkinan besok ia akan pulang, kau dimana?"
"..."
"Ah arraso, kau jangan telat makan ne? ingat lambungmu sedikit bermasalah, setelah ini langsung pulang kerumah jangan lembur lagi"
"..."
"Ne akan kusampaikan, bye"
KLIK~
Hankyung memasukan kembali ponselnya kesaku celana, ia duduk di sofa sambil memencet-mencet remote tivi.
"Apa itu telepon dari yeoja itu?" tanya Jaejoong yang tetap sibuk membolak-balik halaman majalah tanpa berminat menatap wajah sang Appa.
"I-itu"
"Benarkan? Apa dia menanyakan keadaanku?"
"N-ne begitulah, dia juga mengkhawatirkanmu Joongie"
"Jeongmal? Hum aku sungguh terharu mendengarnya"
Hankyung terdiam, ia tahu bahwa Jaejoong tidak menyukai yeoja sekretaris barunya terdengar dari kalimat sarkatis yang baru saja putera tunggalnya itu katakan.
"Joongie..."
"Appa aku ingin puding yang ada di kantin Rumah Sakit, bisakah kau membelikannya untuku?"
"P-Puding?"
"Hum, aku suka sekali puding itu bisa kau belikan?" Jaejoong menyimpan majalahnya dan menatap Hankyung dengan bibir yang melengkung keatas, membuat Hankyung senang bahwa Jaejoong bisa kembali tersenyum padanya.
"Ne akan Appa belikan, kalau perlu Appa beli semuanya"
"Ahahaha tidak usah semua, lima saja aku ingin membaginya untuk Minnie juga, ia pasti suka"
"Arraso, kau tunggulah"
"Hum, gomawo Appa"
"Apapun untukmu sayang"
Kim Hankyung pergi untuk membeli pesanan puteranya, tanpa ia tahu bahwa sang anak sedang merencanakan sesuatu. Jaejoong mengganti pakaian Rumah Sakit dengan pakaian biasanya, ia juga tidak lupa memakai masker untuk menutup wajah, tekadnya sudah bulat ia harus melakukan itu.
Jaejoong berjalan melewati pintu penjaga Rumah Sakit, ia bahkan berhasil melewati kantin tempat Appanya membeli puding. Tak membuang waktu ia langsung menghentikan taksi yang berada di depan Rumah Sakit, apa yang akan dilakukannya?
"Joongie ini pudingnya sayang, Joongie? Jaejoongie?"
Hankyung mencari seisi ruangan tapi tak ditemukannya Jaejoong, ia hanya menemukan pakaian Rumah Sakit yang tergeletak begitu saja di kasur. Dengan panik Hankyung menghubungi Kangin untuk segera mencari Jaejoong, karena ia yakin Jaejoong pergi keluar bukan hanya berjalan-jalan di taman. Pria berusia 40an itu juga menelpon Kim sajangnim yang tak lain adalah Appanya, dan mereka semua kini sibuk mencari keberadaan namja cantik itu.
Empat puluh menit sudah mereka mencari Jaejoong, tapi tidak ada satupun yang bisa menemukannya, bahkan Kim sajangnim sudah meminta bantuan polisi, mereka hasilnya juga sama Jaejoong tidak ditemukan. Yunho yang baru saja pulang latihan basket sedikit bingung karena halaman rumah Kim begitu ramai polisi, ia juga melihat Changmin yang nampak sibuk dengan ponselnya, di dekatinya namja jangkung itu.
"Changmin~ah, ada apa? Kenapa ramai sekali?"
"Hyung, Jae hyung menghilang dari Rumah Sakit! Kau kemana saja? Kenapa ponselmu tidak aktif eoh?"
"Ponselku low bat Changmin~ah, Jaejoong menghilang kemana? Mungkin dia di taman Rumah Sakit"
"Kalau di taman kenapa baju pasiennya ada dikamar hyung? Jelas Jae hyung kabur"
"Kau sudah mencarinya kemana saja?"
"Semua tempat yang biasa dikunjungi Jae hyung"
Perasaan Yunho campur aduk, cemas dan kesal karena Jaejoong kembali mengulangi kelakuan buruknya yang membuat semua orang khawatir. Yunho termenung, sepertinya ia mengingat sesuatu.
GOTCHA!
Saat kelebatan ingatan perkataan Jaejoong itu muncul, Yunho yakin namja Kim itu berada disana! Dan tanpa berpikir panjang ia berlari menuju tempat yang hanya pikirannya sajalah yang tahu, membuat Changmin mengerutkan alisnya bingung. Jung Yunho tidak menggunakan kendaraan apapun, ia hanya berlari dan semoga saja ia tidak terlambat, hingga 20 menit kemudian ia telah sampai di sebuah gedung megah dan mewah, diatasnya terdapat tulisan dengan pendaran cahaya terang, SAMSUNG. Yah, itu adalah perusahaan Kim.
Saat Yunho akan masuk, dilihatnya Jaejoong sedang berdiri di ujung tangga, ini hari minggu tapi apa yang dilakukan namja cantik itu disana sendirian? Ia hanya memandang Jaejoong dari balik halte tanpa berniat untuk menghampirinya, karena ia ingin tahu apa yang ingin dilakukan marga Kim itu?
Yunho melihat saat tubuh Jaejoong berdiri tegak, ia juga melihat seorang yeoja cantik bertubuh mungil menuruni tangga, saat yeoja itu lewat Jaejoong menghalangi jalannya dengan wajah marah.
"Permisi?" sahut yeoja cantik itu lembut.
Jaejoong tidak bergerak, kedua tangannya terkepal.
"Ahjumma, anda tidak bisa menjadi seorang wanita yang baik kalau semua orang anda tipu dengan wajah cantik anda"
"M-Maaf?"
"Meski anda memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bagus, tapi tidak bisakah anda mencari pemuda yang belum berkeluarga saja? Bukan merebut suami dari seseorang yang sudah berkeluarga?"
"Kau siapa? Kenapa kau bicara sekasar itu padaku?!" yeoja mungil itu mulai terlihat marah.
"Aku Kim Jaejoong! Presdir Kim Hankyung adalah Appaku, kau mengenalnya?"
Mata yeoja bernama Barbie Hsu itu terbelalak, ia tidak menyangka bahwa anak dari selingkuhannya akan berdiri dihadapannya untuk mengiterogasinya seperti ini. Tapi bukankah Jaejoong sedang berada di Rumah Sakit? Pikirnya.
"M-Maaf aku tidak mengerti apa maksudmu hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan, permisi"
"Kau pengecut! Ayahku bahkan mengaku bahwa ia memiliki hubungan yang special denganmu, kau mencintai Appaku? Kalau iya itu bukanlah kejahatan, tapi cinta yang anda maksud bukanlah cinta, melainkan sebuah dosa! Kalau cinta anda melukai orang-orang yang berada disekitar pria yang anda cintai itu sebuah dosa, dosa yang tidak termaafkan! Dosa dari semua dosa"
Yeoja berambut panjang itu marah, ia bahkan sudah melayangkan tangan kanannya untuk menampar Jaejoong, tapi dengan sigap Yunho menahan dan melepaskan tangan yeoja itu, kemudian ia menarik tangan Jaejoong dan membawanya pergi.
"YUNHO! LEPASKAN, LEPAS! AKU BELUM MENGHAJAR WANITA ITU! LEPASKAN"
"Kita kembali ke Rumah Sakit"
"AKU TIDAK MAU! AKU HARUS MEMBUAT PELAJARAN DENGAN YEOJA ITU! LEPAS YUNHOOOOO"
Yunho melepas tangan Jaejoong kasar
"Kau ini sebenarnya ada apa denganmu? Kau berjanji tidak akan melakukan sesuatu hal yang bisa merugikan dirimu atau membuat orang lain cemas, kau sudah berjanji padaku Kim Jaejoong!"
"Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang bisa menenangkan perasaanku Yun apa tidak boleh!
"Lalu, sekarang kau sudah merasa tenang huh? Masalahmu selesai begitu saja, iya?!"
"Kau tidak berhak ikut campur Jung! Kau hanya anak dari supirku dan berhentilah untuk selalu mengkhawatirkan aku!"
"Ne, aku memang hanya anak dari supir pribadimu dan aku juga tidak berhak mengatur hidupmu, terserah lakukan apapun sesukamu, tapi kalau sampai terjadi sesuatu dengan orang-orang yang kau sayangi akibat dari perbuatanmu, jangan mencariku!"
Dengan perasaan kesal, Yunho meninggalkan Jaejoong sendiri. Namja cantik itu benar-benar keras kepala ia tidak bisa berbicara dengan tenang jika Jajeoong selalu emosi seperti itu. Tapi kemudian langkahnya terhenti, sungguh ia benci perasaan ini, perasaan dimana ia ingin tidak mencemaskan Jaejoong tapi ia tidak bisa! Ia harus membawa teman cantiknya itu kembali ke Rumah Sakit.
"Kajja!"
Si tampan itu menarik tangan Jaejoong yang terbalut perban, dan membuat Jaejoong berteriak kesakitan.
"Ah ah YUNHO SAKIT!"
"M-Mian, aku tidak sengaja"
"Kau menyebalkan! Kenapa kau kembali eoh? bukankah kau sudah meninggalkanku tadi"
"Jangan banyak bicara, kita harus kembali ke Rumah Sakit lukamu harus diobati"
Jaejoong pasrah, ia membiarkan tangannya yang tidak sakit ditarik Yunho. Bibirnya terpout lucu. Meski sedang kesal ia masih tetap sangat cantik.
"Yunho~ah, bagaimana kau tahu aku ada disini?"
Yunho melirik Jaejoong sekilas, keduanya kini tampak berjalan perlahan dengan masih kedua tangan yang terkait, persis orang yang sedang memadu kasih.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini, tadinya aku pikir kau akan ke kantor untuk mencari alamat rumah yeoja itu dan kau akan menghajarnya dirumah, tapi ternyata kau malah menunggunya dikantor"
"Yeoja itu lembur jadi aku tahu dia pasti berada di kantor"
Yunho tersenyum mendengar jawaban Jaejoong, ia menyentil dahi namja cantik itu pelan.
"YAH! Sakit~"
"Ck, begitu saja sakit tapi kau tidak merasa sakit saat menggoreskan pisau di nadimu"
Kali ini Jaejoong yang tertawa kecil, ia mengalungkan tangannya di lengan kekar Yunho, ia yakin kalau Yunho rajin berolah raga karena lengannya saja begitu kencang tidak lembek seperti dirinya.
"Yunho~ya"
"Hum?"
"Aku ingin hidup bahagia setelah ini, bisakah?"
"Tentu saja, kebahagianmu ditentukan dirimu sendiri"
"Jeongmal? Kalau begitu aku ingin hidup lebih baik dan lebih bahagia, aku tidak peduli dengan kedua orang tuaku, aku ingin menjadi kebanggaan bagi diriku sendiri, bagaimana?"
"Terdengar rencana yang bagus"
"Aku akan lulus dengan nilai yang baik, lalu berkuliah di luar negeri, aku ingin menjadi dokter Yunho~ah, seperti hyung dokter Park, sepertinya menyenangkan"
"Kalau begitu berhentilah untuk tidur di perpustakaan"
"YAH! Bagaimana kau tahu kalau aku suka tidur di perpus? kau ini stalker diriku ya?"
"Ahahahaha kau lucu sekali Jae"
"Yunho~ya, apa kau mau berjanji padaku satu hal?"
Jaejoong menghentikan langkahnya kali ini mereka saling berhadapan dibawah pohon rindang yang indah, mereka berada di taman yang cukup ramai.
"Ada apa?"
"Berjanjilah kau akan bersamaku selamanya, aku...aku ingin meraih kebahagiaan itu bersamamu Yun"
"Apa ini sebuah permintaan untuk menjadi kekasihmu?"
"Ck, jangan bodoh! Aku tidak menyukaimu tahu"
"Benarkah? Aku kurang beruntung kalau begitu" ucap Yunho dengan wajah yang dibuat sendu.
"Aku hanya belum merasakan apa-apa padamu Yun, tapi mungkinkah hal itu akan terjadi?"
"Tentu! Aku akan membuatmu jatuh hati padaku"
"Ahahahaha oke, kau sudah berjanji padaku Jung"
"Aku akan menepatinya Kim"
Keduanya saling melempar senyum satu sama lain, hingga mereka tertawa bersama, entah apa yang mereka tertawakan hanya saja bagi mereka itu sangat lucu. Ini bukan akhir melainkan awal kehidupan Yunho dan Jaejoong, kehidupan yang sebenarnya.
TBC
Next Chap berseting lima tahun kemudian, saat YJ udah mulai kuliah.
Makasi yaaaaa udah baca#batuk2REVIEWbatuk2lagi
