The Prince Fox
.
.
.
.
Warning: Tidak jelas and tidak di mengerti?
.
.
.
.
© Masahi Kishimoto
.
.
.
.
.
The Prince fox episode/Chapter 2
.
.
.
.
"Aku sudah bernyanyi bolehkah aku masuk?" Tanya seseorang dengan suara yang takut tapi lembut.
"Siapa kau sebenarnya?!" Tanya Naruto dengan suara yang menggema dan berat.
"A-aku sudah bilang kepada tuan kau aku Hinata keluarga Hyuuga. Jangan membuat aku takut.
Aku hanya ingin bertanya kalau ruangan sejarah tentang tahun ini dibuat itu dimana?" Tanya Hinata
lembut sambil memegang erat pintu yang ada disebelahnya.
"Dengar ya, Hinata. Kalau kau kesini kau akan takut denganku. Kau mengerti?
Aku tidak tahu kalau sekarang ini menjadi bangunan sejarah." Kata Naruto tidak ingin melihatkan
dirinya. "Untuk apa aku takut. Biarpun mukamu menyeramkan, untuk apa aku takut.
Aku tidak melihat dari seram atau bagus rupa atau bentuknya. Tapi aku melihat dari sikap tuan," Kata Hinata jujur.
Naruto POV
Dia menilai dari sikap. Apa benar dia tidak akan takut melihat wujudku yang seperti ini?
Aku memberanikan diri untuk keluar dari tempat persembunyianku tadi.
Naruto End POV
Hinata ketika melihat sosok tubuh yang tinggi dan lebih menyerupai seekor rubah.
Tapi Hinata tidak merasa takut. Dia merasa kalau rubah itu baik,
dan Hinata juga menyukai warna mata rubah itu.
Dia mengira kalau itu rubah yang imut. "A-anda tidak menyeramkan tuan rubah,"
Kata Hinata merasa pernah melihat mata rubah itu,
disebuah ruangan yang ada sebuah lukisan pangeran Naruto.
"A-apakah anda Pangeran Naruto?" Tanya Hinata gugup.
Masih untung Naruto masih berwujud rubah,
coba kalau kembali seperti semula, pasti Hinata akan pingsan.
"Yunaru, kaukah itu?" Tanya Naruto merasa tidak yakin kalau Yunaru yang ada didepan nya.
Tapi Naruto melihat Hinata sangat mirip dengan Yunaru.
"Ma-ma-maaf tuan, a-aku sudah bilang kalau aku Hinata,"
Kata Hinata gugup. Kegugupan Hinata kambuh lagi saat melihat mata Naruto.
"Bukan? Maaf kalau begitu." Kata Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf tuan rubah, tapi tu-tuan belum menjawab pertanyaanku tadi,"
Kata Hinata memainkan jarinya. "Huh? Aku memang Naruto,"
Kata Naruto bertengger di jendela didekat Hinata.
"Maaf kalau a-aku mengganggu tuan," Kata Hinata membungkukkan badan kepada Naruto .
"Ta-tapi, apakah tuan tahu dimana jalan keluar dari Istana NamiShina ini?" Tanya Hinata .
"Oh, ikut aku," Kata Naruto mengendap-ngedap menulusuri lorong.
"Ma-maaf, kenapa tuan harus mengendap-ngendap?"
Tanya Hinata sudah ada di pintu keluar Istana NamiShina.
"Wujudku yang seperti ini akan membuat orang lain takut." Kata Naruto singkat.
"Panggil saja aku Naruto," Kata Naruto lalu membalikkan badannya ingin masuk Istana lagi.
"Ba-baiklah, sampai jumpa Naruto-san," Kata Hinata seraya membungkukkan badan dan pergi.
"Sampai jumpa juga Hinata," Kata Naruto pelan. Hinata mendengar perkataan Naruto dari jauh.
Kemudian Hinata menuju kearah Sakura yang kelihatannya sudah lama menunggu.
"Hinata, kenapa kau lama sekali. Hanya untuk buang air kecil?" Tanya Sakura heran.
"Aku tadi tersesat didalam Istana yang luas karena lupa jalannya. Untung bisa keluar," Jawab Hinata menjelaskan sambil menatap awan. "Hei jidat, apa yang kau lakukan hah,?"
Tanya Ino menghampiri Sakura. "Hei Ino pig, bukan urusanmu." Kata Sakura melihat Ino datang. "
Eh aku pulang dulu ya, Ino-chan, Sakura-chan."
Kata Hinata lalu meninggalkan mereka berdua yang lagi bergossip.
~Keesokan harinya~ (\ o /)
"Aku berangkat dulu ya, ayah, ibu, Hanabi." Kata Hinata lalu pergi kesekolahnya.
Sesampainya disekolah. Kemudian Hinata duduk disamping Ino dan Sakura.
Lalu Ino menepuk pundak Hinata. "Ada apa Ino-chan?" Tanya Hinata bingung.
"Mau dengar berita di TV kemarin yang baru tidak Hinata, Sakura?"
Tawar Ino kepada Hinata dan Sakura.
TBC
(To Be Countine)
P
R
I
V
I
W
E
P
l
e
a
s
e
Tunggu Chap beriikutnya
t(T_Tt) \(*n*)|
