Angel And Devil

.

.

By Ashura

.

.

Disclaimer : Naruto Just Have Mr. Masashi Kishimoto

.

.

Chara : Sasuke Uchiha, Hyuuga Hinata, Sabaku no Gaara

Gendre : Drama, Sufranatural, Hurt Comfort

Rated : M

.

.

Warning!

OOC, TYPO, AU, LEMON, ABAL, GAJE, (Tidak patut dipercaya dan ditiru karna ini hanya fiktif belaka)

.

Don't Like? Don't Read!

Please Press Back/Exit

.

.

Summary

Kegegalapan ada karna adanya cahaya. Meskipun cahaya dan kegelapan hidup selalu berdampingan mereka tidak ditakdirkan untuk bersama karna jika mereka berkehendak demikian hanya akan ada kerhancuran yang didapatnya

.

.

.

Happy Reading

.

.

#2# Meeting

..

"Uchiha Sasuke, putra bungsu dari keturunan Uchiha Fugaku."

Ucapan sang ayah masih terngiang di kepalanya. Bahkan ketika ia sampai diatap rumah megah keluarga Sabaku, ia belum mendapatkan jawaban atau peraduga apapun dengan keterlibatan prince devil. Hah.. fokus pada misi. tak berapa lama iapun melayang turun menuju sebuah jendela kaca yang cukup besar. Ia tidak perlu mengetuk pintu atau atau sejenisnya untuk memasuki apapun yang ia mau. Ia mengepakan sayapnya lagi melesat masuk dengan perlahan menembus dinding kamar. Namun sesuatu menghalanginya. Seperti adanya kekuatan lainnya yang menghalanginya untuk masuk kedalam ruangan yang ia yakini ada anak manusia yang harus dibimbingnya.

"Inikah aura kegelapan itu. Tapi, anak ini sudah berusia 3 tahun tidak mungkin.. " Seolah teringat sesuatu ia segera memejamkan matanya. Ia mengepakan sayapnya lagi menuju dinding yang berbeda. Ia melihat seorang gadis kecil bersurai pirang sedang tertidur dengan nyenyak diranjangnya.

"Maaf, kakak Gaara. Aku membutuhkanmu sebentar." Ia memejamkan matanya lagi untuk memasuki mimpi gadis ini.

Sebuah padang rumput yang hijau yang begitu dan ia menemukan gadis ini sedang bermain dengan Gaara kecilnya tidak lupa ada kedua orang tua mereka yang duduk bersama mereka. Seorang bocah kecil yang terpaut beberapa tahun lebih tua dari Gaara juga bermain bersama. Hinata melihat seorang wanita yang merupakan ibu dari ketiga bocah itu berbicara. Ia tersenyum menggerakan tangannya saat aura gelap mulai melingkupi dunia mimpi gadis ini. Ini adalah pertanda mimpi buruk untuk gadis ini.

'Temari chan, Kankurou kun jaga dan jaga adik kalian dengan baik-baik. Kaasan sangat bangga memiliki kalian.'

'Tentu kaachan kami akan melindungi dan nenyayangi Gaara kun. Ia kan Kankuro'

'Hm.'

Sebuah energi baru terbentuk saat ucapan dengan sepenuh hati itu. Sebuah energi yang didapatnya dari sebuah ketulusan sang kakak kepada adiknya. Ia pun keluar dari mimpi gadis ini. Sekali lagi ia mencoba untuk menembus kamar Gaara dan berhasil.

Namun seketika ia membatu ditempat saat sebuah pemandangan tidak mengenakan didepannya. Sesosok tubuh tinggi menjulang membelakanginya. Memberikan ketegasan bahwa dialah superiornya dalam medan perang. Ino sudah tergolek tak berdaya dibawahnya. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya. Suara kegelisahan yang ditimbulkan oleh balita yang berada di ranjang kecilnya. Ada kekuatan gelap membayangi bocah kecil ini. Mimpi buruk.

Ia menapakan kaki telanjangnya pada lantai yang dingin. Ia sengaja menghilangkan sepasang sayap dipunggungnya agar tidak menggangu ruang geraknya pada ruang kamar yang dipenuhi benda-benda mainan sang balita.

"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja." Bisik Hinata dengan mudah ia meniup asap pekat hitam yang menyelubungi seluruh badan balita tersebut. Perlahan kegelisahan bayi tersebut hilang.

"Apa yang kau lakukan?"

Hinata mendongak saat menemukan Sasuke berdiri menjulang didepannya. Sasuke menatap dingin Hinata, mata rubynya nampak menakutkan namun, Hinata hanya tersenyum tulus kembali memperhatikan bocah kecil bersurai merah yang tertidur nyenyak dihadapannya. Berkali-kalipun ia melakukan misi yang sama tetap saja ia selalu mudah jatuh cinta kepada makhluk yang dimuliakan tuhan ini. Manusia. Bahkan memang terlahir dalam keadaan masih murni dan bersih, ia selalu terpesona meskipun terkadang ia juga harus menelan pil pahit kala kegagalannya dalam napas terakhirnya para manusia yang berbuat dosa.

"Aku hanya menjalankan tugasku."

"Cih, aku pastikan kau akan bernasib sama seperti para angel yang lainnya, Hyuuga Hinata." Ucap Sasuke kesal. Ia melempar tubuh Ino kehadapan Hinata. Hinata terkejut segera menarik Ino dan memeluknya. Memeriksa apakah Hinata masih dapat diselamatkan atau tidak. Dan cahaya transparan yang dapat dilihatnya dari diri Ino melegakan hatinya.

"Energinya sama sekali tidak sebesar omongannya. Cih. Sampah." Hujat Sasuke menatapnya tajam. Ia menemukan iris amethys Hinata yang menatapnya terkejut. Tanpa sadar Sasuke justru balas menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.

"Kau tidak seharusnya melakukan ini, Uchiha." Ucap Hinata lirih. Tidak heran jika angel ini adalah seorang putri, suaranya seoalah menariknya mendekat. Aura lembut yang dipancarkan Hinata membuat siapapun akan nyaman untuk berada didekatnya. Sangat jauh berbeda dengan angel yang menyebutkan namanya sebagai Yamanaka Ino itu. Penuh dengan keceriaan membuat diri jiwa iblis Sasuke semakin senang untuk mempermainkan jiwa keceriaannya itu. Tapi, jika dengan Hinata jelas masalahnya akan sangat berbeda. Angel yang satu ini sangat licik bahkan dibalik kepolosan dan kepura-puraannya menganggap segala halnya adalah hal yang bersifat positif.

"Jadi kau dendam padaku?" Ucap Hinata lirih.

"Kau mengerti juga angel dungu. Sekarang bawa dia dari hadapanku!" Bentak Sasuke hampir menendang tubuh Ino. Hinata segera menarik ino untuk berdiri. Ia menggerkan tangannya untuk membuat sesuatu yang bergerak seperti kunang-kunang kecil disekitar tubuh Ino. Seketika tubuh Ino menghilang dari pandangannya. Ia yakin kekuatannya bisa membawa tubuh Ino ketempat yang aman.

Hinata kembali menatap Sasuke yang juga menatapnya dingin. Hinata mundur selangkah mengingat jarak mereka yang terlalu dekat menurutnya. Menyadari sang angel yang menjauhinya segera ia menarik pinggang Hinata dan menghentaknya keras pada dinding dibelakangnya. Jika Sasuke tidak bisa mengontrol emosinya maka dinding itu akan hancur begitu pula dengan tubuh putri para angel ini.

"Akh."

"Ah.. Sakit tuan putri?" Ejek Sasuke tepat di depan wajah Hinata.

"To tolong. le lepas..."

Jarak yang begitu dekat membuat Sasuke dapat mencium aroma lembut bunga lavender. Sejenak hal itu membuatnya rilex namun karna darah iblis yang mengalir dalam tubuhnya jelas tak akan bisa mengartikan hal itu.

"Apa kau kira aku akan membiarkanmu seperti beratus tahun yang lalu, huh?" Sasuke mendengus membuat napasnya menyergap poni Hinata. Hidung bangirnya menelusuri pipi mulus Hinata, menikmati begitu manisnya aura angel pada diri Hinata. Begitu pula jiwa gelapnya yang menginginkan sari kehidupan jiwa terangnya sang angel.

"Rasakanlah.. Hyuuga." Goda Sasuke sedikit menghembuskan napas pada sekitar leher Hinata. "Jangan kau tolak energi ini. Tentu tidak akan menyakitimu. Justru sebaliknya.." Bisik Sasuke seduktif. Tangannya yang melingkari tubuh Hinata bergerak pelan membelai kulit halusnya, "..ini akan menyenangkan dan memanjakanmu." Dibalik gaun putihnya ia dapat merasakan lekukan tubuh Hinata. Sasuke bahkan memejamkan matanya merasakan energi familiar yang mengalir disekujur tubuhnya.

"Apa kah kau sudah selesai, Uchiha?"

Seolah tersadar akan perbuatannya yang berbahaya, Sasuke tersentak dan ia pun seketika bergerak menjauh. Sayap hitamnya menciptakan angin yang cukup besar. Dirinya cukup bingung dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Namun saat menatap raut wajah Hinata yang innocence jelas membuatnya kesal. Jadi energi gairah yang tadi disalurkannya pada Hinata itu berbalik mengenai dirinya?.. sialan!

"Kau cukup tangguh juga, Hyuuga." Ucap Sasuke datar. Kepakan sayap hitamnya menciptakan angin yang cukup menjatuhkan beberapa benda disekitarnya.

"Kau pasti melukapan sesuatu, Sasuke.." ia dapat melihat kilat tidak suka saat Hinata menyebutkan nama depannya, namun ia hanya mencoba untuk berdamai, "...pertama aku angel dan kau devil jelas kekuatan kita bertolak belakang, secara alamiah kita terlahir dengan kekuatan yang saling bertentangan dan menetralkan kecuali jika kita menggunakan perantara untuk bisa melukai satu sama lain. Kedua jika masing-masing diantara kita memanfaatkan kekuatan emosi Maka aku tidak akan heran jika aku menemukan Ino seperti tadi."

Walaupun sebenarnya ia cukup terkejut saat ia melihat Sasuke menggigit leher Ino dan menghisap jiwa Ino. Mungkin itulah cara yang dilakukan oleh Sasuke pada Ino hingga sahabat angelnya itu dapat terpedaya dan melalaykan tugasnya sebagai angel. Namun ia masih beruntung masih bisa melihat Ino dengan kondisi yang masih normal. Kebanyakan para angel yang telah kehilangan sari kehidupannya perlahan akan menjadi Yokai karna hilangnya jati dirinya sebagai malaikat. Begitu pula dengan Ino. Para angel akan kehilangan ingatannya saat menjadi angel begitu pula dengan kemampuannya. Termasuk dengan kehidupan abadinya.

"Cih. Hyuuga." Bisik Sasuke perlahan ia menghilangkan sayapnya dan menapakan kakinya didepan Hinata. Ia memutari tubuh Hinata menilai dengan seksama. Penampilannya tidak sedikit berbeda dari yang terakhir mereka bertemu. Tingginya hanya sebatas kerah baju Sasuke. Memakai gaun putih lembut tanpa lengan yang panjangnya hanya sebatas lutut. Kakinya cukup jenjang dan mulus seperti susu. Terus terang ia biasa melihat makhluk perempuan yang jauh lebih indah dari Hinata. Para Succubus ataupun lilith lebih mengerti bagaimana memperlihatkan sesuatu yang indah dan menarik oleh makhluk lawan jenisnya. Tapi, Sasuke jijik jika harus menyentuh para makhluk hina dan renkandaan itu.

"Aku ingin tahu seindah apa dirimu saat kau telanjang." Ucap Sasuke vulgar.

Hinata sontak berbalik dan menatap Sasuke terkejut. Ia menggelengkan kepalanya memejamkan mata. "Aku tidak suka pembicaraan ini. Seandainya tidak ada tata krama aku akan merobek mulut yang tidak punya sopan santunmu, Uchiha."

Ucapan yang menurutnya mustahil dilakukan oleh Hinata membuat Sasuke tertawa. Hinata bingung dibuatnya. Rasanya ucapannya tidak terdengar lucu sama sekali. Tidakkah kau tahu Hinata untuk pertama kalinya dalam keabadian sosok kejam dan dingin macam iblis Uchiha Sasuke, ini adalah tawa pertama yang dilakukan Sasuke, entah mereka menyadarinya atau tidak mereka telah menciptakan suatu ikatan yang bahkan sudah terjadi beribu tahu yang lalu-sejak pertemuan pertama mereka.

"Eengh..."

Erangan sikecil Gaara meninterupsi percakapan mereka. Hinata berbalik mendekati Gaara yang sedang mengucek matanya yang masih setengah mengantuk.

Hinata ikut tersenyum mengacuhkan tatapan datar demon dibelakangnya.

"Neechan."

Hinata terkejut bukan main. Tidak mungkin panggilan itu ditujukan untuk dirinya. Tidak mungkin balita ini dapat melihat dirinya.

Sasuke sama sekali tidak terlalu terkejut akan reaksi bayi manusia ini. Ia bahkan sengaja menyembunyikan auranya serapat mungkin. Ia tentu sudah mengetahuinya jauh sebelum Gaara lahir. Bahkan ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang.

"Ha.. Hi.." Balas Hinata tersenyum. Membuatnya terlihat cantik dan manis dimata bocah berusia 3 tahun ini. Ia bahkan sengaja mengulurkan tangannya memintanya untuk digendong. Hinata tentu terkejut namun pada akhirnya ia mengangkat bocah kecil itu dengan perlahan membawanya dalam dekapan paling nyaman untuk sang balita.

"Neechan hangat, Gaala cepelti digendong kaachan." Ucapnya masih terasa cadel untuk lidah Gaara kecil. Hinata menatap lembut mata jade polos Gaara.

Ia mengayunkan badannya seperti menimang tubuh kecil Gaara. Tak berapa lama Gaara kembali tertidur dalam dekapan Hinata.

"Apa kau tahu Hyuuga, bocah dalam gendonganmu adalah manusia pilihan. Dia memiliki kemampuan untuk dapat melihat makhluk astral termasuk devil and angel. Jadi tingkatkan kewaspadaanmu terhadap apapun yang terjadi nanti, karna tentu saja aku tidak akan pernah membantu apapun kala bocah ini mendapat masalah apapun terlebih ancaman makhluk-makhluk rendah yang tidak memiliki tempat mereka yang bersemayam." Ucap Sasuke menatap pantulan langit gelap dari jendela kamar Gaara.

"Maksudmu Gaara anak Indigo?" Tanya Hinata sedikit ragu.

"Hm."

"Pantas saja." Hinata menatap Gaara kecil yang terlelap didadanya, tak lama iapun tersenyum tipis, "Tentu saja, sekarang kau adalah tanggung jawabku jagoan kecil. Aku akan mellindungi dan membimbingmu." Bisik Hinata membuat Gaara menggeliat meskipun tidak membangunkannya dari tidurnya. Ada senyum tipis membuat Hinata tersenyum dibuatnya.

Pemandangan yang tentu membuat Sasuke muak. Cih. Hinata Hyuuga adalah angel yang sangat bodoh tapi karna kebodohannya itulah membuat dirinya dibuat sama bodohnya dengan membiarkan angel bersurai gelap itu memenangkan manusia sebelumnya. Cih. Mengingatnya membuat dendamnya untuk menghancurkan gadis itu semakin kuat. Ia bersumpah akan menyeret bocah Sabaku itu kedalam neraka paling dasar berikut dengan rasa sayang angel itu. Ia bahkan sudah bisa membayangkan betapa akan menyenangkannya melihat tangisan dan jeritan tak terima Hinata saat melihat bocah Sabaku itu menjerit karna siksaan menyenangkanya dineraka nanti. Lihatlah Hyuuga Kau akan mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan dari yang pernah dialaminya.

..

..

Sinar matahari mulai menapakan diri dalam peraduannya. Cahaya matahari mulai menyeruak melalui sela-sela gorden tirai putih transparan. Seseorang memasuki kamar yang didominasi oleh warna gray dan merah. Ia berjalan mendekati Gaara kecil yang masih tertidur nyenyak diatas tempat tidurnya. Hinata mencermati wanita asing yang memperlihatkan usianya yang sudah mencapai usia 67 tahun. Ini adalah neneknya Gaara, Chiyo Sabaku. Satu-satunya nenek yang Gaara punya.

"Gaara sayang.." Belaian lembutnya membuat mata Gaara perlahan terbuka. Ia menatap Chiyo bingung namun akhirnya ia tersenyum senang.

"Baachan! Kapan kecinih?"

"Baasan baru sampai. Karna sudah rindu pada cucu kesayangan nenek ini jadi langsung ingin melihat wajah tampan Gaara kun" Ucap Chiyo mencubit pelan pipi menggemaskan Gaara.

"Baachan. Apa tadi baachan lihat neechan cantik dicini?" Tanya Gaara penuh binar.

"Hm? Bukannya Temari nee ada dilantai bawah?"

"Bukaaan.. bukan Temali nee.. dia cebacar kaachan dan dia cantik cekali."

Hinata tersenym tipis saat melihat binar kebahagiaan yang terlihat dari wajah menggemaskan Gaara, ia melirik Sasuke yang berdiri memperhatikan objek yang sama dengannya. Wajahnya tetap sama datarnya seperti sebelumnya. Datar dan terkesan sangat dingin. Pernahkan para iblis merasakan yang namanya kebahagiaan? Bukan sesuatu yang bersifat memuaskan tapi, lebih mendekati pada halnya suatu perasaan yang menyenangkan? Ia menggelengkan kepalanya pelan. Memang apa yang kau harapakan dari ekspresi tak berarti itu. Mungkin sedikit wajah mengkerut pria itu. Dulu pria itu gampang sekali terprovokasi sehingga mudah bagi Hinata untuk dapat melihat ekspresi berbeda yang sang devil kini berdiri angkuh disampingnya.

Chiyo tersenyum mengelus rambut merah Gaara.

"Itu mungkin mimpinya Gaara yang tampan ini. Pasti karna tidak berdo,a dulu sebelum tidur." Jeda Chiyo baasan, "atau bisa jadi itu adalah Angel yang menjaga Gaara selama ini."

'Tidak neechan cantik sangat nyata hingga aku pun bisa merasakan wangi tubuhnya.'

Hinata menatap Sasuke lantas tersenyum tipis.

'Tapi, aku merasa asing dengan angel.'

Sasuke menatap Hinata tajam.

"Endey itu apa Baachan?" Tanya Gaara penasaran.

"Bukan endey tapi Angel (baca : e'njel) itu adalah seorang malaikat yang ditugaskan kamisama untuk melindungi dan membimbing kita menuju jalan kebaikan." Jeda Chiyo lantas mengangkat Gaara kedalam gendongannya. "Setiap manusia mempunyai angel termasuk Baachan dan Gaara kun."

"Hm." Gaara mengangguk mengerti namun sekilas ia menatap kembali Chiyo, "Kalau begitu bagaimana dengan olang yang jahat? Apakah ga ada a'ndelnya?"

Chiyo tersenyum tulus lantas, ia mengacak rambut Gaara yang memang sudah berantakan.

"Orang yang baik dikelilingi oleh angel, sedangkan orang jahat biasanya adalah orang yang terkena pengaruh devil. Makhluk jahat yang selalu menjebak manusia kedalam kebahagiaan palsu."

Hinata terkekeh saat melihat Gaara mulai berbicara dengan perasaan kesal karna kelakuan nakal para devil yang menurutnya jahat. Inilah yang membuatnya senang jika ditugaskan menjadi pembimbing manusia. Dibalik kepolosan terdapat sikap keterbukaan yang membuatnya selalu bertanya-tanya bagaimana manusia selalu merasa bangga akan hidup yang menurutnya singkat.

"6 hali lagi ulang tahunku. Yang ke empat Baachan." Ucap Gaara ceria.

"Benarkah? Beruntung sekali nenek datang tepat waktu."

"Hm. Gaala boleh minta hadiah tidak?"

"Tentu. Gaara kun minta hadiah apa dari, Baachan?"

Mereka mulai menuruni tangga menuju ruang tamu. Hinata dan Sasuke mengikutinya melayang di belakang mereka.

"Gaala ingin hadiah..." Belum sempat Gaara menyelesaikan ucapannya seseorang memanggilnya dan menghambur untuk mengambil alih Gaara dari gendongan Chiyo dengan tiba-tiba membuat wanita yang sudah beruban itu sedikit protes dengan kelakuan anak bungsunya itu.

"Sashomaru. Bisa bahaya jika kau tiba-tiba melakukan itu. kau bisa menjatuhkan Gaara, Mengerti."

"I..iya Kaasan, maaf. Soalnya Gaara sangat menggemaskan. Jika aku tidak berkunjung kesini tanpa menyentuh bocah merah ini rasanya tidak puas." Sashomaru. Pria dewasa bersurai pirang dengan usia 30 tahun. Adik dari ibu Gaara yang berarti adalah paman Gaara.

Hanya saja Gaaara sepertinya tidak menyukai sikap sang paman dan balita tersebut menangis keras membuat semua orang panik dengan tangisan sang bocah.

Gaara yang menangis adalah pertanda akan ada keributan yang membuat seluruh mansion gempar. Sang ayah akan segera menggendongnya dan menenangkannya. Sashomaru yang merasa kesal karna hanya tangisan sang bocah saja membuat gempar seluruh mansion. Sasuke jelas memperhatikannya dengan seksama. Ia menyeringai puas saat mlihat kerja devil yang terdapat pada hati lelaki ini. Ia lantas kembali memperhatikan Hinata yang berusaha mengenyahkan aura pekat sang balita pada seluruh ruangan ini. Tapi, nampkanya sia-sia lantaran terlalu banyak energi negatif yang menyebar dalam ruangan ini.

"Percuma saja Hyuuga. Kau hanya membuang-buang energimu saja." Sasuke dapat melihat Hinata yang merenggut padanya. Namun tetap tidak membuat sang angel menyerah. Sasuke tentu cukup jengkel.

'Lihatlah sikap bocah bungsu sabaku itu. Betapa menjengkelkannya dan membuat semua orang panik. Hanya karna tidak ingin digenong saja sampai menangis seperti itu.'

'Ini pasti kelakuan kasar Sashomaru pada Gaara. Padahal dia masih kecil. Sungguj Pria yang tidak berperasaan.'

Berbagai hasutan negatif Sasuke masukan dalam pikiran masing-masing orang yang berbeda. Ia menyeringai penuh kemenangan saat bisikan-bisikan penyangkalan sang angel tidak berhasil mencerahkan suasana emosi orang-orang yang berada dalam ruangan tersebut.

"Hentikan, Sasuke. Sudah cukup! Kau memperkeruh keadaan." Ucap Hinata nelangsa. Ia menatap penuh permohonan pada sang evil namun sepertinya sia-sia saat Sasuke justru memejamkan matanya dengan senyum kemenangannya.

"Hyuuga. Aku hanya menjalankan tugasku. Aku tidak melakukan apapun. Itu adalah sifat alamiah manusia." Balas Sasuke santai.

"Huh.. Tidak ada cara lain." Desah Hinata. Ia bersyukur Gaara masih bayi maka iapun yakin tidakannya kali ini bukan suatu pelanggaran terhadap hukum angel dan devil.

Gaara kecil masih menangis walaupun dekapan sang ayah masih berusaha untuk membuat tangisan berhenti. Hinata dapat melihat kegusaran sang ayah yang mulai menjadi. Ditambah orang-orang berusaha untuk menghentikan tangisan sang balita. Dan nenek Chiyo yang sudah berpengalaman sekalipun sulit untuk memenangkan sang cucu.

Hinata melayang diatas kepala Sabaku Rei, ayah dari Gaara. Ia melihat Gaara sesenggukan karna menangis. Jika dibiarkan terus ini akan berpengaruh pada pemikiran-pemikiran negatif orang disekitarnya dan hal itu jelas tidak bagus dalam perkembangan psikologis Gaara nantinya.

"Hi.. Gaara kun. Jangan menangis. Neechan datang." Ucap Hinata seketika membuat Gaara menoleh dan mendapati sosok gadis cantik berada dibelakang sang ayah.

Gaara hendak berteriak kesenangan namun Hinata mengisyaratakan untuk diam dengan menempelkan jati telunjuk dibibirnya. Hal itu cekup membuat semua orang bingung dengan kelakuan Gaara yang terlihat sedang bahagia. Sang ayahlah yang menyadarinya terlebih dahulu akan keanehan yang terjadi pada Gaara. Namun ia tidak mengetahui keberadaan Hinata tentu saja. Hanya saja ia merasakan suatu aura hangat dan menyenangkan melingkupi disekitarnya. Ia cukup heran namun ia sangat bersyukur karna hal itu berdampak baik pada sang putra bungsu.

"Apa yang kau lihat, nak?" Tanya sang ayah pada sang balita yang tetap fokus kearah belakangnya, "Apa kau melihat, ibumu disini?" Bisiknya yang justru dibalas tatapan polos sang putra.

"Touchan."

Rei melirik kebawah menatap putri sulungnya yang menatapnya penasaran khas anak kecil. Ia berjongkok menatap putri pertamanya.

"Ada apa?"

"Apakah Gaara baik-baik saja? Neechan khawatir." Ucap gadis kecil berusia 8 tahun ini. Ia melirik Kankurou berlari mendekati sang ayah dan melihat Gaara yang sudah tidak terisak lagi, namun jejak air mata masih terlihat wajah imut sang adik.

"Gaara chan kenapa menangis?" Tanya anak yang lebih tua 3 tahun dari Gaara ini.

Gaara menatap bingung pada seluruh saudara-saudaranya, lantas kembali menatap Hinata yang tersenyum padanya. Angel cantik ini lantas tersenyum mengelus kepala sang bocah.

"Jangan menangis semua menghawatirkanmu. Semua orang menyayangimu begitu pula kami. Aku tidak akan pergi namun percayalah, aku selalu berada disisimu." Hinata segera memberikan isyaratnya kembali kepada Gaara saat tangan mungilnya beusaha menggapainya membuat sang ayah yang memeluknya sedikit kelimpungan lantas sigap memeluknya dengan sedikit erat.

"Masukalah kedalam dekapan hangat ayah. Tidurlah. Dan lupakan kesedihanmu ini." Ucap sang angel. Bak mantra Gaara kecil menurutinya dan dengan perlahan serta usapan halus dipunggungunya membuat balita berusia 3 tahun ini pun tertidur dalam gendongan Rei.

Hinata tersenyum senang namun, ia sedikit berjengit saat merasakan aura negatif dibelakangnya. Ia berbalik dan menemukan sosok Sashomaru dibalik pintu kamar Gaaara. Tatapan iri dan benci terlihat dari iris hitam pria itu. Hanya saja jelas bukan pria itu ayang mengeluarkan aura kelam ini melainkan sang devil yang kini menatapnya tajam dan menusuk. Asap hiatam telah mengepul disekeliling sang devil.

"Kau bermain curang, Hyuuga. KAU SEBAIKNYA ENYAH DARI DUNIA INI!"

"Hei. Aku tidak melakukan pelanggaran apapun disini." Sangkal Hinata menatap Sasuke yang mulai mengeluarkan sayap hitamnya.

"Anak manusia itu memang anak Indigo. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya memperlihatkan dirimu pada bocah itu!" Mata Sasuke menyala merah, "Aku bahkan sengaja menjaga jarak dari bocah tapi, kau..." Gigi sang devil gemeretak karna menahan kemarahannya. ".. AKU ANGGAP ITU SEBAGAI KECURANGAN, MALAIKAT SIALAN!"

WUSSH...

PLASSHT.

Hinata merasakan dirinya tertarik dalam sekejab sebelum akhirnya ia terlempar dan hampir menabrak bebatuan dibelakangnya andaikan sayapnya tidak bisa menahan beban berat tubuhnya yang melayang bebas karna tekanan dorongan sang Iblis.

"Kita selesaikan masalah kita sekarang juga."

Hinata menatap Sasuke yang kini mulai mengeluarkan tombak trisulanya. Ekor dan taringnya sudah tumbuh. Sasuke nampaknya memang serius ingin membinasakan Hinata.

"Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan, Uchiha?" Hinata menatap Sasuke yang sedang menatapnya tajam.

Ini adalah dunia perbatasan antara nirwana dan dunia fana. Kepulan asap jingga dan merah terlihat disekitarnya namun, tanah yang sedikit gersang dan gunung yang menjulang tinggi terlihat disekitarnya. Ini adalah perbatasan menuju neraka. Disini tempat roh dengan jiwa yang gelap ditempatkan. Ia bahkan merasakan jiwa putus asa mereka yang meraung kesakitan. Membuat mentalnya sedikit gamang. Dan hal itu tentu dapat disadari oleh Sasuke.

"Apa kau merasakannya, Hyuuga? Menyenangkan bukan mendengarkan para roh itu meratapi kesengsaraanya?"

Hinata diam tidak menjawab.

"Itulah kebahagaiaan kami para devil dan aku sangat menantikan para manusia macam mereka berada disini." Iris rubynya tak pernah lepas dari sosok Hinata.

"A.. aku jelaskan akan menghindarkan mereka dari dari lingkaran duniamu, Uchiha."

Tawa sarkatik terdengar dari bibir sang devil.

"Jangan membuatku tertawa hai, Hyuuga." Sasuke mendekati Hinata yang terlihat waspada padanya. Sayap mereka nampak kontras mempertegas perwujudan mereka sebagai malaikat dan iblis.

"Tidak ada satupun manusi yang lolos dari perangkapku. Dan betapun kau tdiak menyadarinya bahwa begitu kotornya jiwa manusia yang begitu kau agungkan. Bahkan bocah itu juga dikelilingi oleh makhluk-makhluk hina!"

"Kenapa kau begitu kejam? Padahal dulu kalian adalah pengabdi yang setia kamisama. Bahkan kamipun tidak semulia itu." Hinata menatap lembut Sasuke, "Kau tahu? Jika ingin bahagia kau tidak seharusnya menyesatkan mereka hingga terlalu dalam. Aku bahkan bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya padamu jika kau memintanya, Sasuke. Aku berjanji."

"..."

Sasuke terdiam ia menatap Hinata dengan iris rubynya. Terlihat tanpa emosi namun Hinata dapat melihat percikan halus disana. Namun kembali tertelan oleh kegelapan yang pekat dalam diri sang devil. Bibir sang iblis berkedut, menahan seringai keangkuhannya.

"Apa kau berniat membujukku, huh? Atau..." Sayap gelap sang uchiha mengepak pelan membuat gerakan halus sang devil untuk mendekat pada Hinata. ".. kau mencoba menggodaku, my angel?" Suaranya yang dalam dan sehalus beludru berbeda jauh dari suaranya beberapa saat yang lalu.

"Apa aku bisa memegang janjimu itu?" Kini tubuh Sasuke sudah berada didepan Hinata. Jarak mereka tidak lebih dari satu jengkal, "Katakan padaku, apa kau akan memberikan kebahagiaan yang janjikan itu?" Tangannya terulur mengangkat dagu Hinata agar ia bisa melihat wajah cantik Hinata lebih dekat lagi. Sangat putih dan bersih. Dan teksture kehalusannya membuat jarinya nyaman berlama-lama menyentuh permukaan halus ini.

"A.. aku akan berusaha, Uchiha." Sasuke mengerutkan alisnya saat mendengar keraguan dari suara Hinata hal itu cukup membuatnya kecewa.

Tunggu. Apa maksudnya? kecewa? Yang benar saja.

Sasuke mendengus lantas kembali menatap tajam Hinata,"Bagaimana jika kau memberikan tubuhmu padaku? Dan buat aku puas! Maka dengan senang hati aku bahagia atasnya." Ucap Sasuke dingin.

Hinata membulatkan matanya terkejut. Dengan kecewa ia menepis tangan Sasuke membuat sang empu semakin menatapnya dingin.

"Menuruti hawa nafsu hanya akan merusak dirimu. Kau tahu itu."

Tawa sarkatik terdengar dari bibir sang Uchiha. Ia menarik pergelangan sang angel dengan kuat. Hinata dapat merasakan perih tak terkira dipergelangannya, "Aku adalah pemilik dari nafsu yang kau maksudkan. Jika aku mau aku bisa melakukannya pada siapapun sesuai keinginanku. Tapi, aku adalah iblis terhormat dari iblis manapun." Tarikan didapat Hinata hingga wajahnya menabrak dada bidang sang devil, "Katakan padaku. Maka dengan senang hati aku akan memberikannya. Dengan bayaran yang setimpal, semua yang ada padamu tentu harus menjadi milikku."

"Lepas!" Dengan sekali dorongan tubuh mereka terpisah. Sasuke menatapnya tidak suka. Hinata jelas mengerti akan setiap ucapan sang iblis yang memang menginginkannya. Jelas bukan sesuatu yang baik saat kau menyadari siapa Sasuke sebenarnya. Penyiksaan dan jeritaan kesakitan jelas adalah dunia devil ini.

"Aku tidak akan melakukannya. Jika itu terjadi jelas hanya aku yang akan dirugikan dan sesungguhnya saat kau menyebutkan manusia itu adalah makhluk rendah jelas makhluk terbuang sepertimulah yang lebih rendah dari makhluk apapun didunia ini."

"Apa kau bilang."

Bagus Hinata kau mengucapkan kalimat yang sangat salah. Tidak sepantasnya ia berucap seperti itu. Kau hantya akan memeperkeruh keadaan saja. 'Maaf' adalah sebuah kata yang bersifat omong kosong.

"A aku tidak bermaksud..."

"Matilah kau, Hyuuga." Geram Sasuke murka. Iapun mengangkat trisulanya mengarahkan trisula tersebut kearah Hinata. Percikan listrik hitam terlihat lantas melesat cepat kearah Hinata.

Hinata terpaku saat melihat Sasuke mencoba untuk membunuhnya menggunakan serangan khas Uchiha.

..

..

To be Continued

..

..

See You Next Chap