Boboiboy Belongs to © Animonsta/Monsta studio.

Warning: AU, OOC, OC, Typo(s), alur ngebut, GaJe?pasti XD.

Genre: Horror, Roman, Fantasy, Konflik, Drama, Humor(?) etc

Rated: T


Happy Reading:

Chapter#1

[Sometimes Invisible Night]

.

.

.

.

.

"Yaya!"

"Hmn..."

"Itu di sana!"

"Iya sebentar...ughh...terlalu tinggi"

"Mungkin kau yang terlalu pendek"

JTAK

"Ugghh..."seorang pemuda dengan jaket hitam dan merah-Halilintar-memegangi puncak kepalanya dengan tangan kirinya sambil mengelus-elus benjolan yang di berikan Yaya padanya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menahan Bangku yang tengah seorang gadis berhijap Pink-Yaya-naiki.

"Kamu bisa gak sih, serius sedikit!nanti jika aku jatuh gimana?"tanya Yaya dengan nada sarkastis.

"Aku sudah bilang...aku saja yang naik!"ujar Halilintar sambil bersungut-sungut.

"Kau gila yah!"ujar Yaya tak kalah ngotot.

"Aku! kau bilang gila!?"tanya dan seru Halilintar kesal.

"Nah ketemu!"seru Yaya tiba-tiba seraya mengambil buku tebal dengan sampul hijau polos.

Yaya yang puas segera turun dari bangku dan berjalan ke arah meja dan kursi untuk membaca. Yup!mereka sekarang sedang berada di Perpustakaan kota mereka, Perpustakaan yang mempunyai buku-buku paling lengkap. Tapi rumornnya perpustakaan itu berhantu. Yaya berfikir hantu-hantu disini memang mengganggu, tapi Anak kecil itu(yang ingin diceritakan dongeng)tebih merepotkan dari hantu-hantu yang ada disini.

"Permisi tuan, saya ingin lewat..."ujar Yaya lembut saat seorang-eh ralat sesosok Hantu dengan kepala yang sudah hampir putus, dan tangan kanan yang hilang sedang ada dihadapan Yaya.

"Ham...hah..taah...(yah boleh tentu)"ujar sang Hantu menyingkir dan mempersilahkan Yaya duduk.

Halilintar hanya melongo melihat Yaya yang benar-benar tak tergenggu dengan adanya hantu-hantu menakutkan disini. Dengan berat hati, Halilintar berjalan ke arah Yaya menarik kursi dan duduk disamping Yaya.

"Hihihihih..."Yaya menoleh sebentar kekiri dan melihat seorang-Arrgghhh ralat!sesosok Hantu perempuan berbaju putih dengan bercak darah yang melumuri baju, bibirnya tersobek sampai pipi dan terkesan seperti baru dijahit. Yaya yang melihat itu tersenyum kecil.

"Apa anda ingin duduk?"tanya Yaya mempersilahkan hantu itu duduk disamping kiri Yaya. Ternyata hantu itu terdiam, dan akhirnya duduk disamping Yaya sambil menunduk dalam.

"Yaya!itu hantu!"bisik Halilintar di telinga Yaya. Yaya yang mendengar itu mendorong Halilintar menjauh sambil menyungkingkan senyum.

"Memangnya kenapa?"tanya Yaya sambil kembali fokus ke buku tua itu, dan membuka Halaman yang selanjutnya.

"Hahahahaha..."Yaya tertegun dan menoleh ke depannya saat sesosok anak kecil yang kedua bola matanya hilang sedang ada dihadapannya, tepat dihadapanya.

"Kau mau apa?"tanya Yaya lembut sambil menopang dagu.

Anak itu terdiam, Yaya hanya tersenyum. Halilintar yang ada disamping Yaya hampir terlonjak kaget saat melihat anak kecil yang sedang ada di atas meja mereka. Tapi yang aneh kedua bola mata anak itu hilang, digantikan secucur darah yang terus keluar dari bola matanya yang bolong.

"Se...pasih...(kembali)"Yaya tersenyum, Yaya tahu cara bicara mereka berbeda.

"Tenang saja...itu yang ingin kami lakukan"ujar Yaya sambil tersenyum dan menyenggol lengan Halilintar, sang pemuda yang merasa disenggol hanya mendecak pada Yaya.

"Se...pasih...acih...bih...(kembalikan kami)"

Whuuuuuuussshh~

Yaya kaget saat aura suram di perpustakaan berubah menjadi sejuk. Wanita yang duduk disamping kirinya berubah menjadi seorang wanita dengan pakaian rapih, anak dihadapannya memiliki dua bola mata dan tampak lucu mengemaskan, hantu yang tadi ia sapa berubah menjadi sesosok hantu yang benar-benar tampan. Semua yang ada disini berubah, Yaya langsung mendongkak menatap anak itu tak percaya.

"Ini wujud kami yang sebenarnya~"ujar anak itu girang sambil berdiri dihadapan Yaya. Yaya yang melihat anak itu memakai bando merah muda dan baju drees panjang, dan Yaya hanya melongo, tadi ia rasa anak itu tampak menakutkan...tapi sekarang...

"A-apa i-ini?"tanya Yaya gelagapan.

"Oh, kukira mereka sungguhan..."ujar Halilintar dingin sambil menopang dagu.

"Memang kau pikir mereka berbohong?"celetuk Yaya.

"Hehehe...kami melakukan itu, agar tidak ada yang berani pergi mengacaukan perpustakaan kami...ternyata tujuan kita sama!aku juga ingin membacakan dongeng...tapi...aku terkena kutukan..."raut sang anak kecil yang tadinya cerah berubah menjadi lirih, sang anak kecil tahu ia tak bisa melakukan apapun.

"Tolong bantu kami..."Yaya tersentak saat wanita tadi memegang erat tangannya, Yaya menoleh dan melihat sang wanita yang sedang menampakan raut memohon. Tapi Yaya bersyukur karna sang hantu tidak melakukan hal aneh padanya, untung juga karna penampilan sang wanita telah berubah.

"Aku kira kalian memang tinggal disini..."ujar Halilintar sinis sambil bersungut-sungut.

"Memang kami tinggal disini!err...iya sih...kami memang cuma numpang doang sih..."jawab anak kecil itu sambil menggaruk tengkuknya.

"Apa yang bisa kami lakukan... aku juga bingung!"ujar Yaya frustasi.

"Aku juga tidak tahu...anak itu tidak ingin dibacakan dongeng yang sama...buku dongengnya juga hilang..."sambung Yaya lirih sambil menunduk.

"Aku akan membantu kalian!"ujar anak kecil itu girang sambil mengenggam kedua tangan Yaya dengan mata memohon.

"Tapi bagaimana?"tanya Yaya lagi.

"Aku yakin kita bisa!dari pertama aku percaya. Hanya orang-orang terpilih yang bisa melihat wujud asli kami!orang-orang yang jahat hanya akan melihat wujud menyeramkan kami"ujar anak kecil itu panjang kali lebar sambil tersenyum manis.

"Yah tolong bantu kami..."sekarang sang pemuda sosok hantu pertama yang Yaya temui angkat bicara. Yaya terkagum-kagum saat melihat wajah tampan pemuda itu, Yaya hanya menggeleng saat mengingat wujud menyeramkan mereka.

"Kita cari empat buku itu!lalu kita susun!"Halilintar tanpa Ba-Bi-Bu-Be-Bo langsung menggebrak meja sambil menyenggol Yaya kasar. Yaya yang melihat itu hanya menatap Halilintar heran.

"Empat buku apa?"tanya Yaya heran.

"Hah?kau tak tahu?itu adalah buku legendaris yang hanya ada satu di dunia. Ke empat buku itu dulu bisa menidurkan 'anak itu', tapi karna terlalu di ulang-ulang dia bosen dan membuang empat buku itu ke arah yang bertentangan."ujar Anak kecil itu sambil mengepalkan tangan kesal.

"Ke arah mana?"tanya Yaya semakin dibuat heran

"a. Timur untuk buku: The Song Of The Night.

b. Barat untuk buku: The Gloomy Shadow.

c. Selatan untuk buku: The Evening Sun.

d. dan terakhir Utara untuk buku: The Deepest Hole."ujar anak kecil itu panjang kali lebar pada Yaya.

"Itu buku untuk keterpurukan yah?"tanya Yaya sambil menaikan satu alisnya.

"Entah...aku tidak tahu selera baca buku 'anak itu'"ujar balik sang anak kecil.

"Oh, ya namamu siapa?"tanya Yaya sambil tersenyum saat sadar anak itu belum memperkenalkan dirinya.

"Hanna!namanya Hanna"ujar Halilintar masih tetap dengan wajah dinnginya.

"Dari mana kau tahu namaku Hanna!"tanya anak kecil itu-Hanna- sambil memandang Halilintar dengan mata yang berbinar-binar.

"Aku pernah menolongmu saat kau ingin terjatuh dari Sepatu Roda yang kau pakai saat itu. Aku masih mengingatnya..."ujar Halilintar datar.

Hanna terdiam sebentar, berusaha mengingat apa yang Halilintar katakan. Tapi masalahnya setengah ingatan manusianya hilang, saat ia dikutuk oleh 'anak itu' jadi ia tak bisa mengingat setengah ingatannya yang lain.

"Entah...mungkin iya kau memang pernah menolongku..."gumam Hanna kecil. Yaya yang melihat anak kecil itu hanya mengangguk paham, dan sebentar menoleh jam tangannya. Dan seketika iris Hazel miliknya membulat.

"Ah!sudah sore!kita harus pulang!"teriak Yaya mengagetkan Halilintar, Hanna, Wanita itu, dan Pemuda itu.

"Ohh...kalian ingin pulang..."tanya Hanna lirih sambil menunduk.

"Nanti besok aku akan kembali lagi..."ujar Yaya sambil tersenyum pada Hanna.

"Aku tak bisa kesini besok!"ujar Halilintar dingin sambil mendecak kasar.

"Lho, memang ada apa?"tanya Yaya bingung.

"Kau perlu tahu?"tanya balik Halilintar dingin.

"Kau ini kenapa sih?"tanya Yaya sambil bangkit dan berdiri dihadapan Halilintar.

"Tidak apa..."ujar Halilintar sambil memalingkan mukanya.

"Umhh...Yaya!aku boleh ikut ke rumah mu tidak?"tanya Hanna sambil menepuk bahu Yaya pelan.

"Errrr...Hanna...masalahnya...nanti kalau orang tua ku atau adikku melihatmu...akan jadi masalah besar..."Hanna yang mendengar penolakan Yaya menunduk dalam sambil memalingkan muka dari Yaya.

Yaya mendengus, tadi Halilintar yang marah padanya, sekarang Hanna...memangnya apa sih salahnya.

"Ok!kau boleh ikut Hanna!"ujar Yaya pasrah sambil memijit kening. Hanna mendongkak dengan mata yang berkaca-kaca.

"Sungguh?"tanya Hanna memastikan.

"Ya!"jawab singkat Yaya.

"Yeay..."

"Hali!kita jadi pulang?atau kau mau menginap disini?"tanya Yaya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Hmn..."Yaya yang geram karna Halilintar begitu dingin padanya merasa aneh, coba kau beri tahu apa salahnya?

"Ami aku pergi dulu!Ana aku pergi yah~sampaikan pada yang lain yah~"ujar Hanna pada kedua hantu yang ada disampingnya.

"Ami?Ana?"tanya Yaya bingung saat Hanna memanggil kedua hantu itu demikian.

"Iya...hantu laki-laki itu Ami!yang wanita itu Ana!"terang Hanna sambil tersenyum.

"Yang lainnya itu siapa?"tanya Yaya(lagi)

"Iya...mereka sedang pergi keluar, hanya saat malam kami berkumpul!"terang Hanna lagi, bahkan senyumannya tak pernah hilang.

"Umh...kalau begitu ayo kia pulang!"ujar Yaya sambil mengandeng tangan kecil Hanna yang pucat.

"Halilintar!"Yaya kaget saat ia tidak melihat Halilintar disampingnya lagi. Sekarang Yaya mengerti kalau Halilintar sangat marah padanya.


"Yaya!kamu suka buah apa?saat aku masih hidup, aku suka buah Strawberry, tapi lama-lama gak suka...jadi suka sama Anggur deh..."Yaya berbaring di kasur dengan Hanna yang sedang duduk di samping Yaya, menceritakan bagaimana enaknya saat ia masih hidup.

"Iya..."Yaya hanya bisa mengiyakan apa yang Hanna katakan. Lagipula ia benar-benar mengantuk.

"Hoaaaamm...Hanna tidur yuk!"bujuk Yaya saat ia menguap dan setengah matanya ingin tertutup.

"Aku tidak bisa tidur..."ujar Hanna lirih saat kelopak mata Yaya sudah sepenuhnya tertutup.

"Hmn..."gumam Hanna pelan sambil berbaring disamping Yaya, menunggu gadis itu terbangun saat pagi datang.

TOK TOK TOK

Hanna tertegun dan menoleh ke sumber suara, saat dilihat disana ada Halilintar yang sedang mengetuk kaca jendela. Hanna yang melihat itu hanya menyipitka kedua matanya. Dengan tergesa-gesa Hanna berlari ke arah jendela dan membukakannya untuk Halilintar masuk.

"Untuk apa kau kesini?"tanya Hanna sinis sambil memalingkan muka.

"Aku hanya ingin menemuimu..."jawab singkat Halilintar seraya duduk di pinggir jendela.

"Menemuiku atau menemui Yaya..."ujar Hanna sambil memberikan tatapan mengejek.

"Mungkin keduanya..."balas singkat Halilintar.

"Kau tahu sekarang sudah jam berapa?"tanya Hanna sambil menatap Halilintar dingin.

"12:05, memangnya kenapa?"tanya balik Halilintar sambil berkacak pingggang.

"Seorang laki-laki tidak boleh berada di kamar perempuan bila sudah malam seperti ini!dan oh, ya kenapa kau tinggalkan Yaya tadi..?"tanya dan bentak Hanna sinis pada Halilintar.

"Cis...anak kecil tidak boleh tahu masalah orang dewasa..."ujar Halilintar sambil mendecih kasar. Hanna yang mendengar itu langsung menarik jaket Halilintar.

"Aku pastikan Yaya-ku tak akan menyukai pemuda dingin sepertimu..."tiba-tiba aura horror menggerumuni Hanna dan terkesan menyeramkan. Halilintar yang berkacak pinggang tahu itu, dan hanya bisa meneguk ludahnya sendiri.

"Ya-yah...dia memang sudah menyukai ku..."ujar Halilintar sedikit tergagap saat Hanna masih mencengkram jaketnya kasar.

"Dari mana kau tahu itu bocah narsis?"tanya Hanna sambil memberikan tatapan mengejek. Halilintar tak terima dan berbalik menghadap Hanna.

"Memangnya disini siapa yang bocah?dan aku yakin Yaya memang menyukai ku!"Halilintar dengan sombongnya menepuk dadanya sombong. Hanna yang melihat itu hanya pura-pura muntah mendengarnya.

"Aku yakin Yaya lebih menyukai sifat Taufan daripada dirimu... dia orangnya tidak dingin dan judes!"bela Hanna dengan membawa-bawa nama Taufan.

"Darimana kau tahu tentang Taufan?"tanya Halilintar dengan tatapan menyelidik.

"Errr...setahuku, saat aku masih hidup, Taufan bertetangga denganku..."jawab Hanna polos sambil memain-mainkan jarinya malu, terlihat semburat merah muda tipis terlihat jelas di pipi tembem Hanna.

"Kau menyukai Taufan?"tanya lagi Halilintar sambil tersenyum jahil.

"E-enggak!"tepis Hanna dengan semburat merah yang lebih jelas.

"Heh!dia itu sahabatku~"ledek Halilintar sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya. Hanna yang tak terima berjalan ke kasur Yaya sambil menyeringai.

"Hehehe...aku akan bangunkan Yaya...dan memberitahu bahwa Halilintar sudah berani masuk ke kamarnya..."bisik Hanna membuat Halilintar panik.

"Han-Hanna tunggu!ok, ok, aku tak akan beri tahu Taufan..."ujar Halilintar panik sambil menarik Hanna menjauh dari Yaya.

"Huh!makanya~jangan bermain-main sama Hanna~"ledek Hanna sambil memainkan jari-jarinya, dan hanya dibalas dengusan oleh yang bersangkutan.

"Aku sebenarnya ke sini ingin bicara denganmu..."tiba-tiba muka poker pace dan dingin Halilintar berubah menjadi wajah dan tampang serius.

"Oh, ya!kau sudah bicara denganku dari tadi..."dengan entengnya Hanna menjawab Halilintar.

"Hei!dengarkan aku dahulu...ini perting!"desak Halilintar pada Hanna yang masih bingung.

"Kita tak ajak Yaya?"tanya Hanna sambil menunjuk Yaya. Bila memang masalah penting kenapa Yaya tidak diajak.

"Aku ingin kau menyampaikan pada Yaya nanti pagi..."jawab Halilintar sambil memutar bola matanya malas.

"Lho, kenapa gak sekalian saja nanti pagi bicaranya?"tanya Hanna(lagi)

"Tck, kau ini...terlalu banyak bertanya!"ujar Halilintar sambil mendecak tak suka.

"Kau sedang marah, atau bermusuhan yah dengan Yaya~"

Skak Mat

"Cerewet!"Halilintar tampak kesal, saat beradu mulut dengan bocah ini. Kalau bisa jujur memang benar sih, kalau Halilintar marah dengan...

"Oh...ada Hali disini!"Halilintar tersentak dan matanya menangkap sesosok gadis dengan piyama pink sedang menggosok-gosok matanya sambil sesekali menguap.

"Ha-Hanna!a-aku pergi du-dulu..."Halilintar panik sampai lupa cara bicara yang benar. Tanpa aba-aba Halilintar segera turun meloncat dari jendela yang ada di lantai tiga.

"Lho, tadi perasaan aku lihat Halilintar disini..."tunjuk Yaya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya saat sosok Halilintar sudah tidak ada ditempatnya.

"Mungkin perasaanmu saja..."ujar Hanna sambil tersenyum.

"Kamu sedang apa disitu, oh tidak!jendela terbuka!semoga Hali benar-benar tidak masuk ke sini..."ujar Yaya segera menutup jendela dan menguncinya juga menutup tirai jendela. Hanna yang mendengar itu hanya tertawa kecil

"Memangnya kalau Halilintar masuk ada apa?"tanya Hanna dengan nada menggoda, Yaya hanya tersenyum kecil dan kembali beranjak pergi kekasurnya.

"Anak kecil tidak boleh tahu masalah orang dewasa..."ujar Yaya sambil tertawa kecil dan menarik selimutnya bersiap-siap pergi ke alam mimpi.

"Huh...ini mungkin yang dinamakan jodoh..."sambung Hanna sambil terkikik geli dan segera naik ke kasur Yaya dan berbaring disana.

"Bersiap-siaplah untuk petualangan nanti pagi~"

~TBC~


A/N: Yaku jawab review dulu~

Nisa Arliyani: oh...iya..hiks..hiks...ini udah lanjut~mungkin Yaku bakal UP untuk ff lain minggu depan(gak janji yah ^-^) terima kasih sudah me Review.

Meltavi01: ooh~aku juga kangen sama kamu :3 huhuhu..iya~aku juga seneng HalixYaya :) terima kasih sudah me Review ^^

IntonPutri Ice Diamond: huhuhuhu...terima kasih mau menunggu~dan juga terima kasih sudah me Review :')

Rampaging Snow: oww...terima kasih Support nya~Yaku terharu~disini udah dijelasin buku yang mereka cari :) makasih review nya~

Chocolate White 2201: wow, aku sayang kalian kok*peluk tiga sisi coklat* terimakasih udah mau nunggu yah~gak bakal di Delete kok :3 kan sekarang udah gak hiatus:) makasih Reviewnya~

Nakamoto Yuu Na: hehehe...iya...!tapi yang penting dilanjut yah gak?/plak/ makasih reviewnya~

tasha: Oww~thank you so much~#peluktasha# makasih reviewnya~

Luna Nightingale: huuhuhu...aku gak bakal lupa kalian kok#smile# makasih sudah mau menunggu#kedipmata# dan menunggu ff abal-abal Yaku#ditimpuk# makasih reviewnya#lambai-lambai

Ililara: makasih Supportnya~hehehe...dan reviewnya

A/N: huwaaaaaaa~Yaku terharu...hiks..hiks...Yaku kira kalian tidak akan mau me Review, fav, atau follow...ternyata hiks...maafkan Yaku yang updatenya molor~Yaku sayang kalian~

Kabar baik~ternyata Yaku udah gak dihukum...eh!gak sih...tapi ternyata Yaku masih bisa lanjutin cerita...senangnya~mulai chapter ini di Update, mulai hari itu Yaku bebas~/plak

Mereviewlah bila berkenan :')