Secret
Seorang laki-laki berkulit putih dengan paras menawan tampak sedang berdiri di dekat pintu gerbang sekolahnya. Berkali-kali dilihatnya jam tangan yang melilit pergelangan tangannya. Sesekali dia melongok keluar sekolahnya untuk mencari-cari sesuatu atau mungkin seseorang. Tampaknya dia memang sedang menunggu seseorang.
"Sasuke…!!" Sebuah teriakan terdengar dari belakang laki-laki itu dan dia pun menoleh kearah suara itu berasal.
"Ne..neji?" Laki-laki bernama Sasuke itu memandang sosok laki-laki yang tadi memanggil namanya itu. Entah kenapa, sebuah perasaan aneh tiba-tiba muncul didalam hati laki-laki tampan bernama Sasuke itu.
"Kenapa Neji disini? Sebentar lagi Aniki datang, " nada cemas terdengar dari suara Sasuke.
"Ini…aku Cuma mau mengantarkan ini…." Neji menyodorkan sebuah hp ke arah Sasuke.
"Hpku?"
"Iya, hp Sasu tadi ketinggalan, oya ada sms, tapi aku tak berani membacanya." Jelas Neji.
"Makasih," Sebuah senyuman kecil tersungging di bibir Sasuke. Mata hitamnya beradu dengan mata lavender Neji. Dalam hitungan detik warna merah langsung menghiasi wajah Sasuke. Dia pun memalingkan wajahnya ke arah lain, agar Neji tidak bisa melihat wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Sasu kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa koq." Sasuke menjawab tanpa melihat kea rah Neji.
Neji yang menyadarinya hanya tersenyum-senyum kecil.
"Sasu grogi ya?" Neji mencoba menggoda Sasuke.
Sasuke mengangkat wajahnya dan sekali lagi kedua matanya bertemu dengan kedua mata Neji yang seolah menghipnotisnya itu. Wajah Sasuke pun berubah semakin merah.
"Nggak koq, Cuma….."
Tiiit….tiiiiit
Terdengar bunyi klakson mobil.
"Oh, Aniki sudah dating. Sasu…..pergi dulu. Sampai nanti Neji" Sasuke berlari meninggalkan Neji setengah berlari.
XoxoxoxoxoX
"Hai, Itachi aniki," Sasuke masuk ke dalam sebuah mobil Enzo Ferrari berwarna merah.
"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Itachi yang sedang duduk dibalik kemudi.
"Baik Kak. Tadi aku bisa mengerjakan semua soal ulanganku dan coba tebak berapa nilaiku?"
"Hmmm….paling Cuma 70, paling bagus mungkin 80" Laki-laki itu mulai menjalankan mobilnya.
"Salah Kak! Wah Kakak memang terlalu meremehkan kemampuanku! Aku dapat seratus tahu!?" Sasuke mengaduk-aduk isi tasnya. "Ini, lihat aja!" Sasuke menunjukkan kertas ulangannya.
"Wah, ternyata kamu akhirnya bisa pintar juga ya, hahaha! Kakak jadi terharu. Kamu mau kakak kasih hadiah apa?" Itachi memasang tampang pura-pura terharu untuk meledek adik kesayangannya itu.
"Ih, Kak Itachi nyebelin!!" Sasuke ngambek.
"Lho? Kok akhir-akhir ini kakak perhatikan kamu jadi semakin manja begitu, hayo kamu kenapa?" Itachi menggoda adiknya lagi.
"Maksud kakak apaan sih?" Sasuke mulai kesal.
"Kamu….lagi jatuh cinta ya?"
"Eh?..." Tiba-tiba wajah Sasuke bersemu merah.
Itachi melirik adiknya.
"Hmmm…ternyata benar kau sedang jatuh cinta. Siapa gadis yang beruntung itu?"
"….." Sasuke diam tanpa sepatah kata pun.
Pikirannya melayang-layang membayangkan bagaimana reaksi kakaknya kalau sampai dia tahu yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Neji yang baru saja dirajutnya beberapa hari yang lalu. Selama ini Itachi adalah tipe orang yang tidak menyukai atau mungkin lebih tepatnya menentang hubungan sesama jenis, setidaknya seperti itulah dia dimata Sasuke. Meskipun ironisnya tak sedikit dari teman dekat Itachi yang menyatakan diri mereka sebagai gay. Tapi itu tampaknya tak mempengaruhi Itachi sedikitpun. Dia tidak memutuskan hubungannya dengan teman-temannya, tidak juga terbawa menjadi seperti mereka. Dia tetap berteman dengan mereka seperti biasa. Tanpa ada rasa canggung, tanpa ada perasaan aneh. Tapi lain ceritanya kalau Sasuke yang mengakui dirinya sebagai seorang gay. Mungkin Itachi akan membencinya dan akan mengusirnya dari apartemen yang sudah mereka tinggali selama hampir 4 tahun itu. Dan itulah ketakutan terbesar Sasuke. Dia tidak ingin kehilangan kakak kesangannya itu tapi dia juga tidak ingin kehilangan Neji yang sangat dicintainya. Tidak ingin mengambil resiko, diapun memilih untuk menyembunyikan hubungannya dari kakaknya.
"Kok, diam? Ya sudah kalau gak mau cerita gak apa-apa. Lain kali saja kalau kamu sudah siap, Ok?"
"….." Sasuke masih diam.
"Ya sudah jangan cerita. Kakak gak akan nanya lagi." Suara Itachi terdengar datar.
"Kakak marah padaku?"
"Tidak, kakak Cuma mau belajar cara menghormati privasi orang lain, setiap orang berhak mempunyai rahasia, kan?" Itachi menjawab sambil tersenyum.
"Nanti aku akan ceritakan setelah aku siap,"
"Menceritakan….??" Itachi ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Rahasiaku." Sasuke menjawab sambil tersenyum pada kakaknya.
Itachi menjawabnya dengan senyuman.
"Oya, aku lupa tadi ada sms" Sasuke segera mengeluarkan hpnya dan membaca sms yang belum sempat dibukanya dari tadi.
Sasu, pulangnya hati-hati ya. Sampai jumpa besok. :D
-Neji-
"Eh?" Sasuke tersenyum kecil. "Ternyata dia yang mengirim sms, dasar!" Gumam Sasuke.
"Sms dari siapa?"
"Hmmm….rahasia!"
Itachi mendelik kearah adiknya yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
"Dasar sudah pintar main rahasia-rahasian rupanya," gumam Itachi.
XoxoxoxooxoX
Fuihhh, leganya udah nyelesein fic chapter 2. Maaf kalau terlalu garing, monoton, bahasanya terlalu baku, boring, de el el. Maklum amatiran, hikz…hikz…
Btw untuk mengembalikan kecerian author yang telah terampas secara paksa, mohon reviewnya ya, *puppy eyes no jutsu*
Thanxs
