.

"STUPID KYU!"

Cho Kyuhyun . Kim Heechul

by Belle Ken

.

.

.

"Tidak mau!"

"Terserah, dasar bodoh!"

Heechul berteriak setingginya dan berjalan keluar sambil membanting pintu itu. Ia duduk di salah satu sofa besar di ruang tengah dengan dahi terlipat.

Berselang sekitar empat puluh lima menit, pintu kamar itu lalu terbuka. Kyuhyun keluar dengan wajah datar. Entah perasaan apa yang membuat hati Heechul berdesir dan memilih mendekati saat Kyuhyun kembali ke kamarnya dengan segelas air putih.

"Kyu, boleh aku masuk?"

Heechul melongokkan kepala, tidak langsung masuk, menunggu Kyuhyun mengijinkannya. Entah kemana perginya emosi yang berkobar ria dengan ganasnya beberapa menit yang lalu.

"Masuk saja…"

Bahkan suara seorang Kyuhyun terdengar serak. Saat Heechul mendekat, ia baru menyadari bahwa bagian bawah mata laki-laki itu membesar dan terlihat sendu.

"Tidak menjadi lebih baik, bukan?"

Pertanyaan macam apa itu? Sama saja membuat yang ditanya semakin bermental break down. Kyuhyun hanya menggeleng lemah. Sorot matanya lelah. Lagi pula ia sedang malas membahas pertanyaan sarkastik Heechul yang jika ia bisa jujur memang dirasanya tidak salah sama sekali.

"Sudah aku katakan, jangan sekali-sekali membuat darahku naik. Begini kan, akhirnya.", meskipun kalimat itu terdengar kesal namun nada bicara Heechul tampak telah menyesali apa yang sudah ia lakukan. Ia memang tidak bisa meminta maaf secara langsung, Heechul akan menunjukkan dengan sikap.

Kyuhyun terjaga, tak bisa tidur meski sudah meneguk dua gelas susu. Kini ia mengubah posisi duduknya, menyamping menghadap pintu yang menghubungkan balkon dan kamarnya di lantai dua. Tiba-tiba saja ia ingin pergi. Lari dari kenyataan, katakanlah seperti itu. Terdengar berlebihan memang, tapi siapa juga yang akan peduli.

"Jadi, siapa yang bodoh?" Kyuhyun mengarahkan telunjuk ke wajahnya sendiri tanpa berkata apa-apa.

Heechul tahu itu sindiran, ia hanya terkekeh melihat ekspresi Kyuhyun. Sementara Kyuhyun mendengus sebal.

"Mengapa belum tidur juga? Ada yang kau pikirkan lagi?" tanya Heechul dan si lawan bicara pun mengangguk.

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa meninggalkan jadwal kuliahku."

Jawaban itu sudah yang kesekian kalinya di dengar oleh Heechul.

"Ck.. menemuimu di malam seperti ini sebenarnya bukan ide yang terlalu bagus.", rutuk Heechul begitu pelan tapi masih bisa di dengar jelas oleh Kyuhyun.

"Hyung, kalau kau ke sini hanya untuk memarahiku, sebaiknya kau kembali saja ke apartemen sana!"

"Mwo? Kau mengusirku di rumahku sendiri, oeh?"

"Kau bahkan tidak membantu sama sekali di sini.", Kyuhyun hanya menanggapi omelan Heechul dengan tenang. Tak lama kemudian paras pria itu merengut ketika fokusnya kembali tumpah ke permukaan tablet. "Astaga, aku lupa mem-pause game ini," sesal Kyuhyun selepas mendapati kalimat 'GAME OVER' terpampang jelas di layar.

"Apa aku bilang dari awal? Itu pertanda kau memang disuruh beristirahat, bodoh."

"Jadi, masih tetap aku yang bodoh?"

"Bukan.. tablet itu yang bodoh.", jawab Heechul sekenanya.

Kyuhyun memandang Heechul dalam diam seakan banyak pertanyaan berkelebat di kepalanya yang tidak bisa ia cerna.

"Hyung.."

"sudah jelas, kau yang bodoh!"

"Benar, itu benar sekali." Kyuhyun tertawa kecil. "Lagipula sejauh ini kau memang selalu benar, meski aku benci mengakuinya." ujarnya lagi menambahkan.

"Aku memang tidak pernah salah, Kyu.", tandasnya dengan senyuman yang dipaksa menjadi manis.

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Lalu?"

"Hentikan itu, cepatlah tidur! Aku harus membantumu dengan cara apa lagi? Karena memang yang kau butuhkan adalah tidur. Bagaimana tidak sakit, jika kau selalu saja memainkan kekasihmu itu hingga pagi!"

"Hanya sebentar.. menghilangkan penatku dengan kertas-kertas itu."

Kyuhyun menunjuk tumpukan buku dan kertas yang berserakan di atas mejanya.

"Kau pikir aku bodoh? Aku bukan anak kecil yang gampang mempercayai kalimat yang di dramatisir dari mulut seseorang terlebih jika itu dari mulutmu."

"Oh kejam sekali, memangnya aku manusia macam apa?" balas Kyuhyun dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat.

"Jangan menggunakan tugas kampus sebagai alibi agar kau bisa bertemu teman tanding gamemu Shim Changmin itu, Kyu!", Heechul berkata tegas.

"Dia teman kuliahku juga, kami akan mengerjakan tugas…"

"Aku tahu tumpukan kertas itu tidak berpengaruh banyak. Tanpa buku-buku itupun kau masih bisa lulus dengan nilai di atas rata-rata. Sekarang kau sakit, bodohnya karena waktu istirahatmu kau gunakan untuk mengencani gadget itu. Dan besok, tak ada ampun lagi. Kau tidak aku ijinkan pergi ke kampus!", cerca Heechul.

"Apa eomma yang memberitahumu? Aku tidak sakit, kepalaku hanya sedikit berat, tapi aku baik-baik saja, kau jangan percaya dengan yang dikatakan eomma, aku tidak …"

"Berisik!", Heechul mendorong tubuh Kyuhyun agar segera berbaring, ia lalu menyelimutinya dengan paksa.

"Hyung.. ini berlebihan."

"39 derajat Kyuhyun.. apa kau masih akan membantahku?"

"….", Kyuhyun hanya memandang Heechul dengan tatapan malas.

"Aku tahu kau tidak suka mendengar aku berteriak, maka jangan buat aku berteriak padamu. Aku tahu kau hanya akan luluh pada bujukan eomma dan appa. Sekarang mereka sedang tidak di rumah. Lalu kau bisa apa? Berharap aku akan melakukan hal bodoh itu untukmu? In your dream, baby!", tukas Heechul sambil menyeringai.

"Jangan tersenyum seperti itu, kau sungguh terlihat jahat sekali, hyung.", ucap Kyuhyun pelan, sebenarnya ia sudah mulai takut pada Heechul.

"Aku tidak pernah main-main. Aku bisa saja mengabaikanmu dengan berpura-pura tidak membaca pesan eomma. Apa kau lebih memilih begitu?",

Kyuhyun tak bergeming, saat ini pikirannya hanya disesaki oleh bayangan kemarahan Heechul dengan segenap ancamannya. Kyuhyun jera.. lelaki itu terlalu kuat sebagai lawannya. Heechul memang tampak menyeramkan jika sudah marah, padahal sebenarnya,, yah.. dia sangat perhatian. Mata Kyuhyun mulai berembun.

"Hyung.. apa kau akan setega itu padaku?"

"Tidak."

Jawaban Heechul begitu cepat meski masih dengan rahang mengeras. Ia memang tidak akan tega pada Kyuhyun.

Kyuhyun bernafas lega mendengar itu, dengan sedikit ragu ia kembali berbicara, "Hyung.. kau akan tidur di rumah 'kan malam ini?"

"Bukankah tadi kau mengusirku untuk kembali ke apartemen saja?"

Kyuhyun mulai merengut, "Tadi itu aku kan hanya sedang kesal denganmu. Kau ini benar-benar tidak bisa membaca situasi sih! Kau bilang tidak tega, lalu kau akan meninggalkanku sendirian di rumah dalam keadaan sakit begini?"

"Kenapa? Kau sudah menyadarinya? Apa sudah terasa begitu sakit sekarang?"

"Tidak tahu!"

Kyuhyun kesal membalikkan badannya membelakangi Heechul.

Sementara Heechul masih duduk di ranjang memandangi sosok Kyuhyun yang berbaring membelakanginya. Sesaat mereka terjebak di dalam keheningan, kegiatan itu berlangsung kurang lebih sepuluh menit pasca sang hyung merebahkan tubuh di sebelahnya. Tidak ada objek atau pun subjek penting yang kala itu singgah di dalam keheningan. Hanya ringkasan random mengenai seluruh kejadian yang seharian ini dilalui Heechul hingga ia mendengarkan dengkuran kecil di sebelahnya.

-:-

.

Pagi yang senyap, awan hitam sedang menghiasi kota Seoul saat ini, sama dengan situasi yang sedang tidak bersahabat terhadapnya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Sekitar setengah jam lalu Heechul mencoba memejamkan mata di atas sofa hitam, namun berkali-kali digagalkan oleh rintihan-rintihan kecil. Ia benar-benar dibuat terjaga oleh Kyuhyun.

Heechul melirik ke arah jendela besar yang ada di atas kepala, ada sedikit terang di baliknya dan ia sama sekali tak berminat untuk segera beranjak dari sofa itu. Selama beberapa menit matanya terpejam tanpa kenikmatan, suara decitan pintu kamar terdengar tapi ia terlalu malas untuk menggerakkan tubuhnya sekedar memposisikan diri duduk lebih normal. Heechul tak menebak siapa yang datang, dan sejujurnya, seorang suster adalah orang pertama yang mampir di kepalanya.

"Anda sudah bangun? Sudah merasa lebih baik?"

Mendengar kalimat itu, refleks mata Heechul terbuka dengan sempurna. Ia lalu beranjak menghampiri ranjang Kyuhyun. Dan sang suster pun kembali keluar setelah selesai mengganti cairan infus Kyuhyun.

"Bagaimana perasaanmu?"

Kyuhyun masih terlihat linglung. Bingung, mencoba bertanya tapi tak ada satu katapun yang keluar. Pandangannya masih menyusuri ruangan yang kini ia tempati.

"Kau di rumah sakit."

Setelah kesadarannya terkumpul, dengan cepat roman wajahnya berubah. "Mengapa aku dibawa kesini lagi?"

"Dua malam saja, jika kondisimu membaik kita pulang."

"Aku mau pulang sekarang!"

"Tidak bisa, Kyu."

"Aku tidak apa-apa mengapa kau dengan seenak hatimu membawaku kesini!"

Heechul membuang nafas sekali, ia melipat tangannya di depan dada dengan tatapan lurus pada Kyuhyun.

"Kau pikir aku tanpa alasan membawamu kesini? Mengapa kau dengan seenak mulutmu menuduhku sembarangan, oeh? Siapa yang akan bisa tidur dengan manis sementara orang di sebelahnya sekarat hampir mati, huh!"

Bagaimana tidak Heechul menjadi naik darah lagi. Hampir tak percaya dengan tuduhan lelaki yang terbaring di depannya saat ini. Sementara ia sudah menghabiskan waktunya dengan kepanikan setengah mati karena Kyuhyun tiba-tiba saja tidak bergerak ketika ia membangunkannya untuk minum obat penurun demam malam tadi.

"Aku.."

"Demi Tuhan Kyu, kau sudah membuatku hampir serangan jantung."

"Hyung.."

"Tolong jangan abaikan semuanya. Katakan jika kau merasa sakit. Delapan jam ini kau memejamkan mata namun merintih kesakitan. Itu yang kau bilang tidak apa-apa? Siapa yang tidak setengah gila menyaksikan itu, huh?", nafas Heechul naik turun dengan kasar.

"Maaf…"

"Apa yang akan kau perbuat jika kau berada di posisiku?"

"Maaf.. setidaknya jangan memarahiku dulu. Aku kan tidak tahu apapun, lagipula aku baru saja bangun. Seharusnya hyung bersyukur.", ucapnya polos.

Heechul memutar bola matanya, ia lalu mengusap kasar wajahnya. "Astaga, bocah ini benar-benar!", gumamnya.

Masih dengan tangan terlipat, Heechul mencoba bersikap biasa. "Sebenarnya aku ingin bertanya lebih jauh, tapi aku tahu kau pasti tidak akan suka. Kau akan selalu benci jika setiap orang menuntutmu alasan, benar?"

"Aku memang alergi alasan," kata Kyuhyun sambil mengangguk. "Terima kasih karena selama ini hyung sudah menahan diri untuk tidak menanyaiku macam-macam. Tetapi kali ini, sebagai permintaan maafku, aku akan menjawab semua dan mengobral alasanku untukmu."

"Aigoo.. baru semalam kau sekarat, pagi ini kau sudah bisa membuat lelucon garing padaku."

"Aku serius."

Dengan susah payah Kyuhyun mencoba bangun untuk duduk, tetapi tenaganya seperti terkuras habis-habisan.

"Jangan bangun."

"Aku ingin duduk, bantu aku menaikkan badan ranjang ini.", perintah Kyuhyun layaknya seorang majikan.

"Masih sakit saja kau tetap berlaku tidak sopan pada hyungmu.", omel Heechul tapi ia tetap membantu Kyuhyun agar bisa bersandar di ranjangnya.

Setelah merasa nyaman, Kyuhyun akhirnya melanjutkan, "Baiklah.. apa yang akan Heechul hyung tanya padaku?", ucap Kyuhyun memberikan Heechul waktu untuk bertanya.

"Kata dokter, lambungmu bermasalah dan kau kurang beristirahat."

"mmm..", Kyuhyun menganggukkan kepala beberapa kali.

"Astaga.. begitu saja reaksimu?"

"Hyung ingin aku bagaimana?"

"Aku yakin ini pasti disebabkan oleh demammu yang terlalu tinggi sampai kau menjadi bodoh begini."

"Aish.. apa aku harus menangis meraung-raung dulu?", Kyuhyun sudah mulai sebal kalau Heechul sudah bigini. "Setelahnya kau pasti akan pergi dengan santainya meninggalkanku sambil menutup kupingmu!"

Heechul tertawa beberapa detik, dia selalu ingat saat kejadian mengerjai Kyuhyun sampai bocah itu menangis sejadi-jadinya.

Sesaat kemudian mimik wajahnya kembali seperti semula, "apa kau tidak takut mendengar itu?"

"Takut.. Lalu?", Kyuhyun masih saja berwajah innocent.

"Kyuhyun ah, apa kau tidak pernah makan selama ini? Apa saja yang sudah kau lakukan? Bermain game, game dan game? Apa tidak ada waktu untuk makan? Apa kau selalu membantah eomma dan appa? Apa ancaman eomma 'jika tidak mau makan kau akan menjadi bodoh' sudah tidak berpengaruh untukmu? Tetapi sayangnya itu sudah terjadi, kau telah bodoh!"

"Bukan begitu hyung.."

"Aku belum selesai, Kyuhyun! Aku mau tanya berapa sebenarnya umurmu sekarang? Apa harus selalu diingatkan untuk mempouse game dan menyuruhmu untuk tidur? Kau ingat sudah berapa kali kau masuk rumah sakit dengan alasan yang sama? Aku terlalu heran, tidak pernahkah kau merasakan tubuhmu sakit? Hingga dia harus meronta memohon untuk beristirahatpun kau tidak pernah menggubrisnya. Apa.."

"Hyung, tolong hentikan…", mohon Kyuhyun.

Sekalinya Heechul diijinkan memberi pertanyaan, tidak tanggung-tanggung ia mengeluarkan yang ada di otaknya saat ini.

"Aku tahu semua pertanyaanmu saling berhubungan, tidak jauh-jauh dari ulahku yang membuatmu harus membawaku ke tempat ini lagi."

Kyuhyun menghela nafasnya sekali, "Okay, aku yang salah. Aku sadar dengan kondisiku yang mudah sakit, tapi aku tidak pernah bisa mengatur waktuku sendiri. Aku tidak mencoba berdalih, kau yang benar, aku bodoh. Aku sering mengabaikan waktu makan dan tidur, karena terlalu asik dengan gameku. Aku salah.. maaf..", ucap Kyuhyun mengakhiri penjelasannya.

"Yakin hanya itu alasanmu?"

Kyuhyun menunduk diam sejenak, "sebenarnya tidak terlalu tepat jika aku mengatakan 'mengabaikan', ini lebih cenderung aku yang sering… lupa…", ucap Kyuhyun dengan volume nada lebih kecil yang terdengar seperti berbisik.

"Apa bedanya bodoh..? KAU ITU..-"

"Hyung, aku tahu aku salah, tolong jangan memarahiku lagi..", potong Kyuhyun dengan cepat.

Heechul masih berdiri dengan tenang. "Apa kau sudah menyesalinya?"

"…" , Kyuhyun hanya mengangguk lemah.

"Berjanji tidak akan mengulanginya lagi?"

"Aku akan berusaha..."

Heechul tersenyum dengan jawaban Kyuhyun. "Aku, eomma dan appa tidak pernah melarang hobby gilamu itu, hanya saja aturlah waktunya. Agar kau juga bisa makan dan beristirahat dengan benar. Kau anak yang pintar, tapi sangat bodoh untuk menjaga tubuhmu sendiri.", tutur Heechul.

Kyuhyun menunduk terdiam, sudah tidak ada lagi kata-kata yang tepat untuk ia memberikan alasan. Segala yang diucapkan Heechul memang benar adanya.

Ia menyesalinya, justru dengan ucapan Heechul tanpa teriakan yang membuat perasaan Kyuhyun terenyuh, entah sejak kapan ia tidak menyadari air matanya sudah menetes keluar.

"Maafkan aku, hyungie…"

Heechul menatap iba dongsaengnya. Ia sendiripun mempunyai perasaan yang cukup sensitive. Sejak dulu, semarah apapun ia pada Kyuhyun, itu tidak akan pernah berlangsung lama.

"kembalilah beristirahat."

Kyuhyun menggeleng lemah sambil mengusap air matanya cepat, "Aku tidak bisa tidur disini, lebih baik di rumah saja."

"Dokter belum mengijinkan."

"Tapi.."

"Ingat apa janjimu tadi?"

"Iya-iya..", jawab Kyuhyun malas. "eomma dan appa tidak tahu soal ini, 'kan?

"akan menjadi tahu jika kau tidak beristirahat kali ini."

Kyuhyun mulai mendengus, "Selalu saja mengancam! Apa begini caramu memperlakukan dongsaeng yang sedang sakit, hyung?"

"Berhentilah berbicara dan pejamkan matamu!"

.

.

.

.

END

.

.

.

Oneshot untuk Kyuhyun dan Heechul… :D

Ceritanya basi ya.. hehehe.. agak maksa antara judul dan cerita kkk…

Aku berniat membuat kumpulan ff ficlet atau oneshot Kyuhyun bersama hyungdeul dkk. Mudah2an bisa berjalan nih.. /ini masih niatan, belom tau nanti ke depannya/

Oke, segitu aja dulu, sebelum dan sesudahnya gomawo buat yang udah mau membaca dan mereview, gomawo buat yang ngeadd di facebook dan twitter, salam kenal… ^_^

Author : belle