Chapter 1: My New Job
Aku memainkan dengan tanda pengenal baruku, gugup bertemu dengan bos baruku. Seperti permintaanku, tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Bagi mereka, aku adalah Jane Roland, dari keluarga menengah, tidak ada hubungannya dengan Jane Volturi kecuali nama depanku dan kemiripanku.
Sempurna.
Anehnya, ayahku juga mempunyai ide yang sama – sampai dia mendengar tentang taruhan itu. Diumur 21 tahun dan hanya mengambil 2 kelas di Harvard tiap semester, dia sudah tidak sabar untuk memasukanku ke Perusahaannya. Meskipun, hanya pada salah satu bagian kecil – ia ingin itu menjadi milik putrinya, bukan orang lain. Dan itu membutuhkan usaha untuk meyakinkan Alec agar setuju dengan identitasku. Dan juga untuk mempekerjakanku pada orang lain di bawah levelnya, dan tidak langsung bekerja padanya. Tentu saja, dia tidak begitu senang akan hal itu, tapi dia tetap setuju.
Yang mana membawaku duduk di luar ruangan Edward Cullen, CTO, Perusahaan Volturi. Aku akan menjadi asisten pribadinya yang baru, selain sekretaris yang sudah dimilikinya. Aku tidak akan diwawancarai dan tidak akan ada pemeriksaan latar belakang. Ayahku telah menjaminku dengan pekerjaan ini, tanpa Tuan Cullen yang malang itu tahu kalau aku sebenarnya adalah putri bos.
Sungguh sial, dia bahkan tidak tahu apa yang dihadapinya.
Aku memakai blus kancing rendah berwarna biru gelap dengan sedikit belahan dada, celana panjang wol abu-abu, dilengkapi dengan sepatu Christian Loubatin berhak empat inci. Make-up yang cerah dan minim, yang menonjolkan penampilan terbaikku. Dengan setengah rambutku yang diikat keatas dan sisanya jatuh ke punggungku.
Aku tersentak dari lamunanku ketika pintu Tuan Cullen terbuka, dan wanita berambut coklat mengintip ke luar.
Hmm. Ini bukan Tuan Cullen. Kalau aku mau menggambarkan dia, aku akan memasukannya ke dalam kategori yang sama dengan Victoria – perempuan jalang. Rok pendek, sepatu berhak tinggi, dan riasan tebal pada wajah mungilnya. Sudah jelas itu untuk menarik perhatian seseorang.
"Jane Roland?" kata si brunette. "Tuan Cullen sudah siap untuk bertemu denganmu."
"Bagus." Aku tersenyum sepintas pada si brunette, sepatu hak tinggiku membuatku lebih tinggi dari dia. Aku suka lebih tinggi dari orang-orang. Itu membuatku merasa sangat berkuasa.
Aku melangkah kedalam ruangan Tuan Cullen, tapi menemukan lobi yang lain. Di sana ada dua meja, masing-masing di kedua ujung ruang yang luas, dan pintu kaca-buram di seberang pintu yang baru saja aku lewati. Edward Cullen, CTO, menghiasi permukaannya.
Aku mendengus dalam hati. Aku berani bertaruh bahwa dia adalah salah satu dari bajingan yang mana aku harus berurusan dengannya dalam membangun Perusahaan ini.
"Pergilah dan ketuk." kata si brunette, menunjuk pintu itu.
Aku berjalan kearah pintu dan mengangkat tanganku untuk mengetuk, dan terkejut ketika pintu itu langsung terbuka.
Keluar seorang pria yang langsung membuatku terlihat seperti kurcaci. Setidaknya 6,2 feet. Rambut coklat – keemasannya hanya menambah tingginya, mencuat ke segala arah. Dan setelannya – aku tidak pernah melihat jas yang sangat pas seperti ini. Itu sudah cukup untuk membuat jantungku berdetak seperti gadis remaja lagi. Dan matanya – oh matanya – terlihat hidup, hijau terang yang mengejutkan, membuatku melompat selangkah kebelakang untuk membenarkan diriku.
"Jane Roland?" si sex God berjalan itu bertanya, menatapku. Matanya menyapu tubuh mungilku dari atas ke bawah sekali, berlama-lama di dadaku. Aku cemberut.
"Ya, itu aku," aku menjawab, menjaga suaraku tetap dingin.
"Silahkan masuk," kata Tuan Cullen, menahan pintunya terbuka untukku. Aku berjalan masuk, merasakan si brunette melototi punggungku. Aku akan mencari tahu apa masalahnya nanti.
Ruangan Tuan Cullen adalah tempat di mana aku ingin pergi ketika aku mati nanti. Karpet mewah, dinding emas muda, toilet dalam ruangan, meja kayu ceri. Aku merasakan diriku gatal untuk menyentuh dinding itu – dindingnya terlihat sangat lembut. Kamar mandinya jelas penuh dengan persediaan dan tentunya yang terbaik. Tuan Cullen rupanya punya uang untuk dihamburkan.
Pria itu sendiri duduk di kursi kulit berputar di belakang meja kayu ceri tersebut, mempersilahkanku untuk duduk pada salah satu kursi yang disiapkan untuk tamu.
"Selamat datang di Perusahaan Volturi, Nona Roland," kata Tuan Cullen memulai.
Aku tersenyum. "Panggil saja Jane." Alec sudah mengajarkanku bahwa seorang asisten pribadi tidak dipanggil secara formal.
"Sangat baik, Jane. Aku harus mengatakan, tapi kamu terlihat mirip dengan putri Tuan Volturi." katanya
Senyum di wajahku semakin kaku dan palsu. Apakah dia sudah pernah melihat foto-fotoku? Aku tahu pasti begitu, karena aku pasti akan mengingat kalau pernah bertemu Tuan Cullen. "Ah, ya, aku sudah sering dibilang begitu," kataku, memaksa sebuah tawa kecil – gemerlincing. Benar-benar tidak seperti diriku. "Aku berteman baik dengan Jane dan saudaranya, Alec." Kenapa tidak seperti itu saja, benarkan?
Alis tuan Cullen terangkat mengenai ujung rambutnya. "Karena itu kamu mengenal Tuan Volturi?" aku berusaha untuk mengingat cerita yang sudah Alec penuhi dikepalaku pagi ini. "Orang tua kami adalah teman, dan aku bertemu Jane dan Alec di sekolah. Kita bersekolah di Sekolah yang sama sejak kecil."
"Menarik," dia tersenyum. "Jadi, ceritakan sedikit tentang dirimu, Jane."
Aku mendengus. Pria ini sama sekali tidak tahu bagaimana caranya melakukan wawancara. Setelah aku menjadi asisten pribadi, aku akan meminta untuk melakukan wawancara dengan caraku sendiri. "Aku adalah anak satu-satunya, aku dulu sekolah di Exeter dan sekarang seorang junior pada sekolah bisnis Harvard." Alec menyarankan untuk tetap menggunakan Harvard, tetapi mengubah jurusanku. Tapi perubahan itu tidak memberi dampak yang lebih, karena aku telah mengambil kelas bisnis dan keuangan. Ayah menyarankan seperti itu.
"Tipe pekerjaan apa yang kamu harapkan di sini?"
Aku menarik napas dalam-dalam, memasukkan semua kesombonganku dalam-dalam. "Aku lebih senang mengatur dan menyimpan semuanya di tempat yang benar," kataku. "Contohnya, aku akan memastikan jadwal-jadwal pertemuan anda, memastikan tidak ada file-file yang hilang ketika anda membutuhkannya, dan pekerjaan kecil lain yang seperti itu. Itu seperti OCD, tapi jauh lebih berguna dari itu." Aku menyelesaikannya, sindiran melayani ujung mulutnya. Dia sama sekali tidak terlihat puas.
"Dan apa yang kamu pikir dapat kamu lakukan untuk mengembangkan Perusahaan ini?" dia bertanya.
Aku tersenyum, ekpresi sebenarnya yang muncul dariku sejak aku melangkah masuk ke gedung ini. "Aku percaya bahwa aku akan bisa melakukan wawancara dengan cara yang lebih efisien, Tuan Cullen."
Dia menatapku beberapa detik sebelum tertawa terbahak-bahak. Aku hanya duduk terdiam sepanjang waktu, menunggunya untuk tenang.
"Baik, Jane, kita akan lihat apa yang bisa kamu lakukan, ya?" katanya, matanya menatapku dengan kegembiraan. "Selamat datang di Perusahaan Volturi."
