A-tan is back! XD

maaf lama updatenya.. (/\)

A-tan sibuk banget..

ficnya sih udah jadi, tinggal di publish..

tapi waktu buat publishnya ga ada..

maaf banget yaa..

.


Sekarang kita bales Review dulu.. :D

.

Daiyaki Aoi: Makasih udah review.. X3
A-tan seneng banget..
Apalagi di fave story sama fave author juga..
Makasih banyaak.. XD
Baru kali ini cerita A-tan difave.. :D
sekali lagi makasiih ya.. XD

.

Chibi Hazel NRF: Makasih udah review.. :3
Kalo mau liat Natsume ngegoda Mikan, masih agak jauh..
tapi tetep ikutin ceritanya yaa.. :D

.

Kiki Chiaki Aihara: Makasih udah review.. X3
Maaf baru update sekarang..
usul di terima.. Ntar pasti ada bagian Ruka cemburu gimanaa gitu.. XD
liat kelanjutannya yaa..
pasti ada.. :D

.

Valcross: Makasih udah review yaa.. :D
Lucu? padahal A-tan niatnya bukan bikin humor..
tapi makasih banyak udah dibilang lucu.. A-tan memang lucu.. XD *plaaak* #lupakan
Di sekolah A-tan 13 tahun udah bawa motor ke sekolah.. O_O
tapi bawanya diem diem, jangan sampe ketauan guru.. -_-
seriuss.. O_Ov
A-tan juga bawa motor kok.. *buka aib* hehehe..
makanya disini A-tan tulis merekaa pada bawa motor..
Oke, terus baca yaa~

.

LittleYurai: Makasih banyak udah review.. X3
ini baru awal, ntar makin jauh Natsume makin OOC..
OOC sangat malah..
nyehehehehehe.. *geplaked by Natsume*
iya nii.. A-tan juga ga rela kalo Natsume juga senyum senyum sama Wakako.. =3=
Natsume kan cuma punya A-tan *plaak* m-maksudnya cuma punya Mikan..
ikutin terus ya, ceritanyaa~ :D

.


.

nah, makasih buat semua ya..
Buat yang udah ngereview, ataupun buat silent reader..

kalian semua bikin A-tan semangat ngelanjutin cerita ini.. :D

Ok, happy reding all~

.


Anna dan Nonoko terus bergosip tanpa mengetahui, sang brunette yang mereka ajak berbicara hanya menatap Natsume dan Wakako dengan pandangan yang sulit diartikan. Dalam hatinya, ia merasakan sesuatu. Sesuatu seperti pisau yang menyayat hatinya. Hatinya terasa sakit. Tapi Mikan tidak mengatahui kenapa hatinya bisa sakit saat melihat Natsume dengan perempuan lain. Entah ia tidak menyadarinya, atau ia tidak mau mengakuinya.

.

.

.

Gakuen Alice © Tachibana Higuchi

My Lovely Leader © Athena Phantomhive

Warning: OOC, Typo, AU, dll

.

.

Athena Phantomhive Present

My Lovely Leader

.

.

Chapter 2

A Day with Him

.

.

Mikan POV

Hari ini hari Minggu. Yang artinya hari bersantai dan bangun siang. Yaah, paling tidak itulah yang kupikirkan sampai Misaki-nee membangunkanku dengan suaranya yang –yaah, harus kuakui –cukup merdu. Nee-chan dulu memang seorang penyanyi. Namun akhirnya ia lebih memilih menjadi designer pakaian. Itu cita-citanya dari kecil, ia pernah bercerita kepadaku. Pakaian yang berderet dilemariku juga hasil rancangannya.

"Mikan-chan, ayo bangun. Sudah jam 9 pagi," Misaki-nee mengguncangkan tubuhku yang masih berada didalam selimut.

"Ini kan hari minggu. Bangun siang nggak apa-apa kan?" aku makin bersembunyi dibalik selimut. Mataku memang masih meminta untuk terpejam selama beberapa menit.

"Nee-chan ama nii-chan mau pergi ke acara pernikahan temen nii-chan. Mikan-chan mau ikut nggak?" tanya Misaki-nee.

"Aku jaga rumah saja, aku nggak ikut," jawabku dengan mata yang masih terpejam.

"Ya sudah. Tapi tetap saja kamu harus bangun sekarang. Jangan bangun siang-siang," Misaki-nee tetap berusaha membangunkanku.

"Iyaa.. Iyaa.. Aku bangun sekarang," aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan ke kamar mandi.

"Mau ikut atau nggak?" tanya Misaki-nee saat aku berada di kamar mandi.

"Nggak. Nee-chan ama Nii-chan aja yang pergi. Aku jaga rumah," aku menjawab.

"Ya sudah. Sarapanmu ada di meja makan. Nee-chan pergi dulu ya," Misaki-nee menjelaskan. Aku lalu mendengar suara pintu kamarku ditutup, dan juga suara Tsubasa-nii yang agak berteriak. Nampaknya Tsubasa-nii ingin menyindirku.

"Imouto-ku memang pemalas!"

Setiap hari minggu aku memang malas keluar rumah, kecuali kalau Hotaru atau Tsubasa-nii mengajakku pergi bermain. Hari Minggu adalah hari bersantai, itulah mottoku. Hari ini setelah mandi dan makan, aku hanya duduk di ruang tengah dan menonton TV. Ruang tengah di rumah Tsubasa-nii mirip dengan ruangan Maitsuki. TV flat menggantung di dinding, sofa dengan bantal ditengah ruangan, dan karpet yang lebih lebar dari yang ada di ruangan Maitsuki. Yang membedakan adalah tidak adanya tempat tidur di ruangan itu. Aku merasa cukup kesepian di rumah sebesar ini. Biasanya ada Tsubasa-nii dan Misaki-nee yang menemaniku. Paling tidak, rasa sepi itu hilang ketika suara dering HP ku memecah kesunyian.

"Halo?"

"Mikan, Selasa sampai Kamis kan libur, anggota Maitsuki mau menginap di villa Ruka. Kamu HARUS ikut," Hotaru langsung memaksa tanpa jeda satupun.

"Iyaa.. Iya.. Aku ikut.." aku mengalah. Hotaru susah dibantah kalau sudah memaksa.

"Oke.." tanpa banyak bicara, Hotaru memutuskan telepon.

Setelah Hotaru memutuskan telepon, aku mulai merasa kesepian lagi. Aku mencoba untuk mengusir sepi itu dengan berjalan ke dapur untuk mengambil snack. Kalau tidak salah Misaki-nee menyimpan banyak snack di lemari paling atas. Dan memang benar, disana ada banyak sekali snack. Aku mengambil snack keju dan coklat, lalu kembali ke ruang tengah. Namun rasa sepi dan bosan itu menyerangku kembali. Untuk kedua kalinya, handphoneku berbunyi.

"Halo?" aku mengangkat telepon tanpa melihat nama pemanggil yang tertera. Pandangan mataku fokus ke TV di depanku.

"Polka? Hari ini ada waktu?" tanya seseorang yang menelepon Mikan.

"Jangan panggil aku polka atau aku akan menutup telepon ini!" ancamku. Dengan panggilan itu, aku langsung tau siapa yang meneleponku walaupun aku tidak melihat nama pemanggil yang tertera.

"Oke, Mikan, hari ini ada waktu?" tanya Natsume.

"Ada, emang kenapa?" aku bertanya balik.

"Barang keperluan Maitsuki yang kemarin Ruka beli ada yang kurang. Mereka bedua nggak mau pergi beli lagi. Kamu mau ikut belanja?" tanya Natsume tanpa basa-basi. "Berdua saja," ia menambahkan.

Aku terdiam sejenak. Mottoku "Hari Minggu adalah hari bersantai" membuatku ragu untuk pergi. Namun entah kenapa hati kecilku merasa ingin sekali pergi dengannya. Hal ini membuatku benar-benar bimbang. Tapi yang membuatku heran, mengapa aku ingin sekali pergi dengannya?

"Aku ikut," jawabku akhirnya.

"Oke. Sekarang aku lagi di depan rumahmu," setelah berkata seperti itu, Natsume langsung memutuskan sambungan telepon.

APAAA? DI DEPAN RUMAH? Aku bahkan belum bersiap-siap sama sekali! Aku hanya memakai baju rumah biasa, yah walau itu cukup bagus untuk berpergian. Hanya ada dua pilihan, membuat Natsume menunggu sebentar, atau langsung keluar dengan pakaian seadanya. Aku memutuskan untuk mengambil pilihan pertama. Aku mengirim sms ke Natsume agar ia mau menunggu sebentar.

.

To: Leader_Natsume

Natsume, aku mau siap-siap sebentar. Tunggu sebentar nggak apa-apa kan?

.

My Lovely Leader

.

.

Natsume POV

.

From : Polka_Maitsuki

Natsume, aku mau siap-siap sebentar. Tunggu sebentar nggak apa-apa kan?

.

Aku hanya bisa membalas dengan kata 'iya' pada Mikan. Memang salahku pergi ke rumahnya tanpa meminta persetujuannya. Kalau kalian tanya kenapa aku sangat yakin kalau dia akan mau menemaniku, jawabannya adalah aku juga bingung. Dalam hati aku merasa sangat yakin kalau dia akan mau menemaniku belanja. Karena itu, menunggu selama beberapa menit bukan masalah bagiku. Lihat, sekarang ia sudah keluar dari rumahnya. Ia memakai pakaian casual yang –harus kuakui –cukup manis. Dan mengapa baru kusadari kalau wajahnya ternyata begitu cantik? Dia bagaikan malaikat. Rambut brunettenya yang tergerai dan tertimpa cahaya matahari tampak berkilauan. Oh, hentikan Natsume. Jangan terus menatapnya seperti itu! Kau sudah punya Wakako kan? Ayo cepat lupakan!

Triiing~

Oh, aku harus mengucapkan terima kasih pada sms yang masuk ke handphoneku, karena dia bisa membuatku lupa pada Mikan barang sejenak. Kulihat nama pengirimnya, agar aku bisa mengucapkan terima kasih padanya.

.

From : Ruka_Maitsuki

Natsume, kalau kau jadi pergi belanja keperluan Maitsuki hari ini, tolong sekalian belikan bahan makanan untu menginap Selasa nanti. Aku tidak bisa membelinya hari ini ataupun besok. Maaf kalau merepotkan.

.

Ruka, kerjaan yang kau berikan memang merepotkan. Namun sms yang kau kirim sangat menolongku untuk menghentikan pandanganku pada Mikan. Karena itu, apa yang harus kusampaikan padamu? Terima kasih, atau keluhan?

.

To : Ruka_Maitsuki

Baikah, belanja bahan makanan dan keperluan untuk barbeque kan? Walau merepotkan, aku mau menolongmu.

PS : Terima kasih banyak untuk 'alasan-yang-tak-bisa-diungkapkan'.

.

Aku yakin sekali kalau Ruka akan kebingungan melihat sms itu. Setelah menekan tombol kirim, aku segera kembali melihat Mikan, yang ternyata sudah berada di sampingku. Ia menatapku dengan kedua mata hazzelnya yang besar. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman saat perhatianku kembali padanya.

"Natsume, maaf menunggu. Tadi aku ganti baju dulu," jelasnya.

"Tak masalah, ayo cepat naik," aku segera menyalakan mesin motorku. Kulihat Mikan sudah duduk di belakangku. Aku segera memacu motor ke Toko Buku terdekat.

"Keperluan Maitsuki apa saja?" tanya Mikan. Tampaknya ia berusaha untuk menghilangkan kesunyian.

"Kertas HVS, pulpen, spidol, buku tulis, dan peralatan untuk membuat mading," aku menjawab sekenanya.

"Kau balikan lagi sama Wakako?" Mikan bertanya lagi, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Maitsuki. What the? Apa tadi yang ia tanyakan? Aku jadian lagi dengan Wakako? Polka, rasanya kaulah satu-satunya anggota Maitsuki yang ketinggalan berita. Aku sudah balikan dengan dia cukup lama. Tak berapa lama setelah aku putus dengan si rubah Shouda itu.

"Iya," jawabku singkat.

"Kalau boleh tau, kenapa kamu putus sama Sumire?" Mikan bertanya lagi. Entah kenapa, aku ingin melihat ekspresinya saat bertanya. Mikan, harusnya kau bertanya saat kita sedang berhadap-hadapan.

"Dia lebih suka sama Koko, jadi lebih baik kuputuskan saja dia," aku selalu menjawab pertanyaan dengan singkat.

Aku ingat dengan jelas saat Kitsuneme menceritakannya padaku, kalau Sumire itu jalan berdua dengan Kokoroyome. Awalnya aku tidak mau percaya, karena di sms, Sumire selalu baik kepadaku. Ia selalu mengatakan 'I Love You' saat kami berdua. Dia selalu memasang senyumnya saat kami bertemu. Namun siapa sangka, dibalik semua itu, ia mengkhianatiku. Seminggu setelah Kitsuneme menceritakan bahwa Sumire jalan dengan Koko, aku melihat mereka berdua dengan mata kepalaku sendiri. Kokoroyome membonceng Sumire. Aku melihat mereka berdua berhenti di depan sebuah kedai minuman. Saat itu aku merasa hatiku sangat sakit. Setelah melihat mereka berdua, esoknya aku langsung putus dengan Sumire. Aku tidak memberitahukan alasannya. Wajahnya waktu itu tampak syok, dan terpukul. Aku memutuskan untuk segera melupakannya. Dan jujur, aku harus berterima kasih pada Wakako. Ia menemaniku saat aku terpuruk setelah kejadian itu. Ia menghiburku setiap waktu. Aku sangat menyesal telah memutuskannya dan lebih memilih Sumire. Tak berapa lama kemudian, Wakako menembakku. Tentu saja jawabanku 'iya'. Berita itu menyebar dengan cepat, dan kuakui, aku sangat puas melihat wajah Sumire saat aku jalan dengan Wakako.

"Natsume?" terdengar suara memanggilku dan membuyarkan lamunanku.

"Ya?" tanyaku pada Mikan.

"Toko bukunya sudah lewat," ia menunjuk toko buku yang kulewati kira-kira 50 meter.

Oh my.. Semoga Mikan tidak melihat wajahku yang memerah karena malu.

.

My Lovely Leader

.

.

Mikan POV

"Toko bukunya sudah lewat," aku menunjuk toko buku yang kami lewati kira-kira 50 meter. Sebenarnya aku ingin sekali tertawa saat itu. Baru kali ini aku melihat Natsume melamun sampai separah itu. Untung saja dia bisa menyetir motor dengan benar walau sambil melamun.

Natsume memarkir motornya di depn toko buku. Setelah meletakan helm, ia berjalan ke dalam toko buku. Aku mengikuti di belakangnya. Di dalam, ia tampak sibuk mencari dan memilih keperluan Maitsuki. Sambil melihat daftar yang harus dibeli, ia berjalan ke lantai atas. Nampaknya ia sudah tidak memperhatikakanku yang berjalan dibelakangnya.

Aku teringat dengan Sumire. Walau tak banyak yang tau, aku memang cukup dekat dengannya. Kami sering mengobrol dan bercerita. Ia juga menceritakan bagaimana perasaannya pada Natsume, dan juga kejadian yang membuatnya putus dengan Natsume. Sumire dan Koko memang akrab, karena mereka partner di sekolah. Alice Academy memang menerapkan sitem yang cukup unik. Setiap anak mempunyai partner untuk bekerja sama dalam tugas. Lalu dari setiap pasangan digabungkan dua-dua sehingga terbentuk kelompok beranggotakan 4 orang, yang disebut dengan Group. Kalau kalian tanya siapa partnerku, jawabannya adalah orang yang sedang sibuk mencari keperluan Maitsuki di depanku ini. Ya, partnerku Natsume Hyuuga, ketua Maitsuki. Memang banyak yang kurang setuju dengan dijadikannya kami sebagai partner. Namun Narumi-sensei tetap ngotot menjadikan kami partner. Entah kenapa. Dan kalau ada yang bertanya lagi, siapa pasangan yang menjadi Group kami, aku akan menjawab dengan Hotaru dan Ruka. Ya, Group kami adalah anggota Maitsuki. Namun ini dipilih dengan adil. Group kami terbentuk saat kami kelas 1, sementara kami terpilih menjadi anggota Maitsuki saat kami kelas 2.

Sekarang kembali ke kasus Sumire. Sebenarnya, saat itu mereka berdua sedang dalam perjalanan ke rumah Sumire untuk mengerjakan tugas. Di tengah jalan, Sumire mengajak Koko untuk berhenti sebentar dan membeli minum. Namun siapa sangka kalau Natsume melihat mereka berdua. Natsume yang salah paham langsung memutuskan Sumire. Tentu saja Sumire syok. Namun aku baru tau kalau Natsume langsung jadian lagi dengan Wakako.

"Polka.." panggil Natsume.

"Ya?" aku menengok ke arahnya.

"Habis ini ke supermarket sebentar ya. Kita belanja dulu untuk keperluan menginap Selasa nanti," Natsume menjelaskan tanpa melihat ke arahku.

Aku tak punya pilihan lain selain menjawab 'iya'.

.

My Lovely Leader

.

.

Mikan POV

Sekarang, kami berada di supermarket yang cukup besar. Natsume mengambil troli dan berjalan di sampingku. Dari wajahnya, aku yakin kalau ia tidak tau apa saja yang harus dibeli untuk acara menginap nanti.

"Yang pertama kita cari bahan makanan," ujarku padanya. Ia menengok ke arahku lalu memandangku dengan pandangan 'kau-saja-yang-cari-perlengkapan-menginap'. Aku pergi ke tempat bahan makanan dan mengambil 1 pack nugget. Lalu mengambil beberapa sayuran. Tak lupa daging ayam untuk membuat sup. Setelah semua bahan makanan kudapatkan, aku mengambil keperluan untuk barbeque. Lalu, aku pergi ke tempat peralatan mandi untuk mengambil sabun dan shampoo.

"Itu saja?" tanya Natsume.

"Kayaknya sih cukup," jawabku.

"Waah.. Lihat dua anak muda di sana," seorang ibu berbicara pada temannya sambil menunjukku dan Natsume.

"Pengantin baru ya. Mesra sekali.." balas temannya. Mereka berbicara tanpa mengetahui kalau dua orang yang mereka bicarakan –atau lebih tepatnya hanya aku –wajahnya sudah memerah karena malu.

Oh, please stop it! Jangan sampai Natsume melihat wajahku yang memerah karena mendengar dua ibu-ibu itu bergosip.

"Kalau sudah kita pulang saja yuk. Sudah siang," Natsume memecah keheningan di antara kita.

"Ya sudah,"

.

My Lovely Leader

.

.

Natsume POV

Aku baru saja keluar dari kamar mandi saat jam di kamarku menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Aku mengambil handphoneku yang kuletakan di meja dan melihat layarnya. Terlihat 2 SMS masuk ke nomorku. Aku segera membukanya. Dua-duanya dari Wakako.

.

From : My Dear_Wakako

Natsume, bisa kita ketemu?

.

Kulihat waktu ia mengirimnya. Setengah jam yang lalu. Aku segera membuka sms yang satunya.

.

From : My Dear_Wakako

Natsume? Bisa tidak? Kalau nggak bisa besok juga nggak apa-apa

.

Waktunya baru 5 menit yang lalu. Segera aku membalas sms itu.

.

To : My Dear_Wakako

Tentu saja bisa. Kita ketemu di cafe yang biasa ya. Sepuluh menit lagi aku sampai disana.

.

Setelah membalas sms Wakako, aku segera mengambil jaketku yang tergantung di belakang pintu. Aku mengambil kunci motorku yang kuletakan di laci meja. Setelah memastikan kalau semuanya rapi, aku turun ke bawah untuk pamit pada okaa-san.

"Okaa-san, aku pergi sebentar," aku langsung pergi keluar rumah tanpa mendengar apa yang dikatakan okaa-san selanjutnya.

.

My Lovely Leader

.

.

Kulihat Wakako berdiri di depan cafe. Segera saja aku menghampirinya. Wajahnya tampak sedih. Aku ingin menanyakan alasannya berwajah sedih seperti itu.

"Wakako, sudah lama?" tanyaku padanya. Ia hanya tersenyum simpul.

"Belum,"jawabnya.

"Nggak masuk ke dalam?" tanyaku lagi.

"Nggak. Kita ngobrol disini saja. Aku Cuma mau menyampaikan sesuatu," wajahnya tampak makin sedih.

"Apa?" tanyaku.

"Aku.. Mau kita putus.."

.

.

.

TO BE CONTINUE


.

.

so, how was it?

cliffhanger? *bener kan tulisannya gitu?*

kayaknya chapter ini cuma penjelasan tentang hubungan Natsume sama Wakako ya?

hayooo.. ada apa sama si Wakako?

Ditunggu chapter selanjutnya yaa..

Ada jawabannya disana..

hehehehe..

o ya, gimana adegan Natsume ama Mikan belanja bareng?

so sweet ya, kayak penganten baru.. XD *geplaked by Mikan*

A-tan pernah lho~ belanja berdua kayak gitu.. XD *pamer*

trus trus trus, kayaknya fic ini agak panjang deh, tapi ga lebih dari 10 chapter kok.. *mungkin*

A-tan nggak bisa janji fic ini nyampe chapter berapa.. T^T

karena ide A-tan tiba tiba dateng dan pergi..

kadang ada ide bagus, trus besoknya lupa.. T_T

Trus satu lagi, A-tan minta maaf karena kayaknya fic A-tan masih ada typo..

Chapter selanjutnya A-tan usahakan sama sekali nggak ada typo.. :)

.

.

Okay, thank you for reading all~

Hope you like it.. :D

Review please?

.

.

.

*Athena Fortissian Phantomhive*