WARNING: fanfic ini dibuat berdasarkan riset yang abal-abal dan pikiran saya yang sangat terobsesi dengan benda alam gaib /slapped.
Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Peter Pan © J. M. Barrie & Universal Studios and Coloumbia Pictures.
AS STARK AS OUR REMINISCENCE
-azureveur
© 2011
.
.
.
Chapter 2: Endless Thoughts
.
.
.
Keluarga Darling tak lagi melukis mimpi di ujung pendar mentari. Pagi minggu kedua di penghulu Desember seolah menjadi bulan-bulanan para warga Kensington Garden. Tuan Kent dan isterinya berlari lintang pukang di pelataran jalan.
Blok kelima dari tatanan plantologi kota seolah digunjing ricuh. Darah berceceran di sekitar ranjang doyong berkontur albasia. Dan seluruh warga sudah saling dorong menyarati serambi depan tempat kejadian perkara.
Wendy Darling baru saja tiba. Rambutnya kusut masai—belum sempat mematut diri di depan cermin. Di sampingnya berdiri si Constance kecil, bersama ayahnya, John.
"Apa yang terjadi, Mrs. Loudres?" tanya Wendy. Kepalanya berjengit-jengit berusaha menangkap bayangan di balik tali pembatas.
"Entahlah. Sepertinya telah terjadi pembunuhan," jawab Mrs. Loudres, menarik diri dari kerumunan.
Paras Wendy seketika memucat. Ditatapnya John dengan hati berdenyar. "Sebaiknya kau yang membawa Conney hari ini," bisiknya.
John yang gelagapan hanya dapat menekur. Menatap Conney yang tengah asyik masyuk bermain dengan Tuan Teddy.
"Com'on, Conney. Kita hampir terlambat," desak John, lekas-lekas menarik tangan Constance.
Gadis itu tersentak. Manik cokelatnya berkaca-kaca. Menyandang tatapan ringkih. Jemari mungilnya hendak menggapai-gapai ujung lengan Wendy.
"Aunt Wendy ..." panggilnya terbata-bata.
"Conney, maaf untuk hari ini. Aunt Wendy tidak bisa menemanimu," wanita itu memberi penjelasan, sembari membungkuk. Diusapnya kening Constance, lalu mendaratkan kecupan di ubun-ubun gadis mungil itu.
Constance masih memberengut muram. Satu per satu kaki reniknya mengentak-entak gontai di sepanjang aspal jalanan.
.
.
Tiga puluh detik terhanyut bersama keadaan, nyatanya tak membuat Wendy Darling tersadar. Mata sayu itu tak urung melepaskan siluet si Constance kecil dari trotoar jalan.
"Wendy?" tiba-tiba saja, seorang wanita meringking dari arah selatan.
"Mrs. Elanor?" alisnya terangkat, sembari mengangguk sesaat. "Apa kau tahu penyebab semua ini?" Wendy berusaha mengorek informasi.
Dahi Mrs. Elanor mengernyit. Matanya memicing jauh ke arah Opsir Doyle yang sibuk berkelit dengan buku pencatat.
"Er, aku hanya mendengar bahwa mereka menemukan jejak serigala."
Wendy membungkam. Memikirkan perbincangan teh semalam. Lantas, apa perkataan Michael bukan sekadar isapan jempol? Tanpa memedulikan rajukan warga, Wendy menyelinap ke perintang depan.
"Sorry, Miss. Anda tidak dapat melewati batas ini," cecar seorang opsir muda.
Alih-alih mengindahkan ucapan itu, Wendy menangkap sebersit bayangan Peter Roland di ujung sana. Tepat di pinggir ceruk anak tangga, pemuda itu seolah tak menyadari bahwa keberadaannya telah menjadi sebuah pertanyaan bagi Wendy Darling.
"Pete—" Wendy hendak memekik, namun tatapan tajam sang opsir terlebih dahulu menyergapnya.
Wendy merunduk gusar, tatkala otaknya memutar cara untuk menerobos ke dalam rumah usang itu. Peter Roland membuatnya kian penasaran. Pertemuan mereka bukan berlandaskan sebuah ketidak-sengajaan. Namun, apakah pertemuan untuk kedua-kalinya patut dianggap sebagai takdir?
Wanita muda itu masih tepekur di pinggir perintang. Ditiliknya Peter yang tersenyum culas ke arah Opsir Doyle. Mereka saling bertukar sapa, sampai akhirnya kedua pemuda itu memasuki tempat kejadian perkara.
Prasangka itu begitu ganjil, kala Wendy tak sengaja memergoki bahwa Peter Roland memiliki relasi dengan keluarga Munez—sang pemilik rumah.
"Sebaiknya Anda tidak menghalangi prosedur penyelidikan ini, Miss," tegur Opsir Lewis, berkacak pinggang.
"Tapi dia—" kilah Wendy, terhenti. Manik safirnya berkilat-kilat, melihat sosok Peter yang telah menyembul di balik kerai pintu. Pemuda itu lekas melengos, menabrak kerumunan. Wajahnya pucat pasi. Dengan langkah gontai, menyisir trotoar sarat pedestrian.
.
.
"Tuan Roland!" Wendy berlari dengan bibir fuchsia-nya yang berkoar-koar.
Langkah jenjang Peter Roland terlanjur melaju. Sekonyong-konyong, sebuah genta di perempatan Bayswater Road berhasil menangguhkan decitan sol sepatunya. Pemuda itu menengok. Dan tatapan mereka pun bertemu.
Wendy nampak tersipu. Parasnya semerah buat bit. Lengkap dengan senyuman menawan—mengonce keluk sempurna.
Peter menekur canggung. Hatinya berdenyar.
Wendy menekuk kedua tungkai kaki, sembari menjinjing keliman gaun monokromnya.
"Ah, Miss Darling?" alis Peter berjengit, berusaha memindai paras anggun itu.
Wendy mengangguk. "Wendy," sambungnya, mengoreksi. "Apa kau tengah dalam perjalanan pulang, Sir?"
Pemuda itu terheran, mengapa wanita yang salah mengenali dirinya mudah sekali bercengkerama dengan orang asing. "Er, sepertinya," ujar Peter, tak yakin.
Wanita itu tersenyum, "Bagaimana dengan robusta? Apa kau keberatan?"
Pemuda itu menyeringai getir. Entah apa yang membuatnya kehilangan kendali. Tidak seharusnya ia berdiri di tengah khalayak dan mengundang beberapa pasang mata untuk melirik. Namun, kala itu—di mana mata safir Wendy mengukir sebuah percikan janggal di lubuk hatinya. Stereotip berang itu tak ayal meredam. Membuatnya merasa damai, walau sesungguhnya ia ingin sekali menginjakkan kaki ke paviliun dan memaki Adeline.
"Sama sekali tidak." Keduanya berjalan, beriringan. Sampai mereka tiba di depan kedai kopi Tuan Figgs.
.
.
"Apa yang mengundangmu ke kediaman keluarga Munez, Sir?" tanya Wendy, meletakkan cangkir teh-nya.
"Bukan sesuatu yang penting, tapi kami mengenalnya. Maksudku, kekasihku."
Wendy hampir saja menyemburkan separuh isi cangkir, jika tak lekas-lekas mengejan napas."Kau memiliki …"
"Kekasih?" Peter hanya tak ingin menyebut Adele sebagai seorang kekasih, tapi toh seluruh penghuni paviliun tentu tahu, bahwa mereka kerap menghabiskan malam bersama.
Pemuda itu mengangguk, namun sebaliknya, Wendy hanya memandangi permukaan cangkir sembari merutuki diri. Perlahan jemarinya merogoh-rogoh celah saku, dan mengeluarkan sebentuk pemantik.
Dengan cepat, api tersulut di ujung puntung rokoknya.
"Munez dan keluargaku—kami sama-sama berasal dari kalangan yang sama," ucap Peter, mengaduk-aduk cangkir robusta.
"Aku tak mengerti. Kau—kau bukan orang Spanyol. Lalu, mengapa kau berkata bahwa kalian berasal dari kalangan yang sama?"
"Aku memang bukan seorang Latino. Tapi aku pernah tinggal beberapa bulan di Meksiko dan berkerabat dekat dengan para Quileute. Lalu, aku bertemu Adele—kekasihku."
Wendy tak menyangka, bahwa Peter akan berkata secanang itu. Ia jelas bukan Peter Pan yang selama ini Wendy impikan. Namun, bagaimana dengan para Quileute? Kata itu bukan 'lah hal asing di telinga Wendy. Berulang kali Michael menebar jampi, hanya karena ia membenci kata itu memasuki indera pendengarannya. Namun, apakah Peter Pan adalah salah satu dari mereka?
"Miss Darling, apa kau baik-baik saja?"
Wanita itu masih saja bergeming. Membiarkan kelopak matanya tak mengerjap.
Jemari hangat sekonyong-konyong Peter menyentuh punggung tangannya. Wendy tersentak, "Apa ada yang salah, Sir?"
"Apakah kau bersedia menceritakan sebuah dongeng untukku?"
Hanya ada sebuah kesenyapan yang menggaung. Wendy tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Peter Roland dan dongeng?
"Tapi, Sir," desah Wendy, resah.
"Baiklah jika kau tidak ingin. Aku hanya penasaran dengan dirimu. Mengapa kau memanggilku dengan sebutan Peter Pan kala itu? Apa aku mirip dengannya?"
Lidah Wendy terasa kelu; sama seperti ulu hatinya yang tertikam sembilu. Kendati ia sangat mengharapkan pertanyaan itu, namun bukan sebagai pertanyaan bodoh yang mendasarkan rasa penasaran Peter akan sebuah anekdot kuno.
Wanita itu berdeham. Degup jantungnya memuncak.
Peter masih menatapnya. Rambut cokelat tuanya tersugar ke atas, memperlihatkan wajahnya yang tampan, tak ubahnya dekade lalu.
Wendy terhenyak. Bibirnya yang terkatup mulai merapal, "Cerita itu berawal dari Hook. Apa kau mengenalnya?" Ia mengambil jeda sesaat. "Seorang kapten bengis dengan awak kapal kepercayaannya: Smee."
Cengiran khas itu terukir tepat di ujung bibir Peter—tepat di mana Wendy pernah memberikan bidal miliknya.
"Hook? Mengapa mereka memanggilnya seperti itu?" ujar Peter.
"Tangannya berbentuk kail, maka semua negeri memanggilnya: Hook." Wendy menoleh ke luar jendela. Teringat pada malam, kala Peter pertama kali memasuki rumahnya dengan sebuah siluet yang beterbangan di seantero rumah.
Andaikata ia dapat memutar kembali lembaran almanak, kembali pada waktu John memaksanya membacakan deongeng itu untuk kesekian kalinya. Pastinya ia takkan membiarkan Peter pergi. Meninggalkannya di tengah jendela berbingkai kayu ek.
"Lalu, bagaimana dengan Peter Pan? Mengapa kau tak ingin bercerita tentangnya?" Alis Peter berjingkat.
"Peter …" Wendy masih tak merasa tepat membicarakan Peter dengan Peter yang salah. "… Pan. Ia bocah yang menolak untuk tumbuh dewasa. Ia mengajariku, John, dan Michael untuk terbang menyusuri langit Neverland."
Peter Roland terbatuk. Sengau tawanya becampur dengan dehaman keras yang tersangkut di pangkal paru-paru.
"Apa yang terjadi, Sir?" Raut Wendy tersirat cemas.
Tangan Peter terkibas-ibas, seolah ingin dongeng magis itu tetap mengalun.
"Baiklah." Wendy menolak untuk menatap mata kelabu itu. "Aku tak pernah menyangka bahwa ia akan melawat rumahku, tetapi malam itu, Nana—anjing pengasuhku—berdengking nyaring. Dan kami pun merasa terbebas, terbang melalui jendela rumah."
"Apa semudah itukah kalian dapat terbang?" Peter berusaha menahan kekeh tawanya di celah tenggorokan.
"Peter Pan memiliki peri, ia memanggilnya Tink—kependekan dari Tinkerbell. Debu peri 'lah yang membuat kami dapat terbang."
"Peri?" Peter Roland tepekur dengan mulut menganga. "O, tentu saja tak ada yang perca—"
Secepat kilat jari itu melesat. Wendy menyentuh bibir Peter tanpa berpikir panjang. "Jangan pernah katakan itu. Mereka akan mati." Ucapannya begitu datar, sedingin yang pernah terbisikkan di gendang telinganya.
Peter terkesiap.
Mata biru Wendy membeliak. Tubuh rampingnya terjajar mundur, menabrak sandaran sofa. "Sorry, Sir." Parasnya bagaikan dirajah malu; tak sanggup lagi berlakon seolah-olah Peter Roland tak terlibat dalam kisah itu. Roman wajahnya seperti dipatri terbalik, menyerupai Peter yang apatis, yang selalu berlagak tak mengacuhkan keberadaannya.
Tanpa mengucapkan pamit, Wendy melesap di balik pintu kedai.
.
.
.
Rinai hujan masih berkerisik di pelataran depan. Tepat di samping serambi paviliun, ditemani sebatang Camel Wides. Adeline Foster berdiri berbalut bathrobe kasmirnya. Paras jelita itu berbinar-binar, menatap tubuh Peter yang basah kuyup melonjak ke petak mungil di bibir beranda.
"O, Peter," aksen Britania Raya itu tak ayal menguar.
"Hentikan itu, Adele," Peter tak sempat menjeling. Wanita itu telah menelusup, masuk ke dalam rangkulannya. Begitu cepat hingga gerakan spontan itu hampir tak kasatmata. Bibir Peter yang menganga, dipagutnya tanpa kata-kata. Adeline mungkin berpikir bahwa Peter akan membalas ciuman itu, namun sayang, tak ada hasrat yang terisa tak ubahnya amarah.
"Adele!" sentak Peter.
Adeline membungkam. Buku-buku jari pucat itu masih mencengkeram bahunya. Guruh menggelegar. Memperlihatkan mata kelabu yang berkilat-kilat di bawah naungan langit.
"Apa yang kauinginkan, Peter? Tak biasanya kau menolak itu semua?" Manik matanya membeliak.
"Aku—" pemuda itu terbata. Kalam yang terajut di pangkal lidahnya bak tersirap masuk. Dadanya bersedu-sedan, kala kedua tangan itu terbentang putus asa. Ia tak sanggup mengaku, namun Adeline terlebih menatapnya. Menelisik penampilan janggal itu dengan sekali sorot.
"Kau menemuinya," ucapannya datar. Nadanya seperti terhanyut di tengah hujan. "Wendy Darling. Kau menemuinya 'kan, Peter?"
Peter Roland mengangguk. "Aku memang menemuinya. Namun, setidaknya aku tak melakukan hal kriminalitas seperti dirimu."
"Kriminalitas? Memangsa bukan 'lah suatu tindak kiriminal, Peter? Tapi apa yang telah kau lakukan itu—secara tak langsung—telah memasukkan kita semua ke dalam perangkap!" Adeline mulai berapi-api. Napasnya memburu, riuh rendah.
Peter melonggarkan cengkeramannya.
"Kau salah mengencani wanita, Pete. Apa kau tahu, siapakah Wendy Darling?"
Peter membisu. Wendy Darling, gadis dalam dongeng. Tak seharusnya ia menyimpulkan pertemuan singkat itu dengan sebuah kalimat konklusi.
"Entahlah. Tapi sepertinya aku akan lebih memilihnya daripada dirimu yang sekarang."
Detik yang sama Adeline mengamuk. Mata zamrudnya menguak kelam. Berpinggiran merah dengan bercak kornea keemasan.
Peter beringsut mundur. Menghela separuh napas. Membiarkan tubuh kekar itu menerkam dirinya. Keduanya terjungkal. Menabrak birai pembatas beranda.
"Adele! Hentikan! Apa yang kau lakukan, huh?"
Kepingan tembikar hancur beralaskan tanah. Kepala Peter terasa nyeri. Dahinya mengernyit, tak kehilangan pandang. Menilik mata Adeline yang berluap amarah.
"Hentikan? Kau yang harusnya tidak melakukan itu, Peter!" Napas Adeline memburu.
Kedua lengannya menegak. Bibirnya menggeru nyaring di tengah pekikan hujan. Bulir-bulir air mata itu menggelenyar keluar, alih-alih terbenam bersama hatinya yang menggelegak.
Peter berusaha menahan, namun tubuhnya terempas. Terjerembab menghampiri ceruk anak tangga. Kakinya yang hendak melangkah, sontak terpuntir. Adeline telah merenggut mata kakinya—bersiap merajam tubuh ringkih itu.
Peter menggerung kesakitan. Kemeja satinnya koyak, bersimbah darah.
"Adele!" Tangan itu merenggut lengan gempal di hadapannya.
Adeline terdiam. Mata rubinya tak lagi sekuarsa kaca.
Dipagutnya bibir Adeline dalam diam; sehancur hatinya—merutuki kutukan bulan yang terpatri dalam darah mereka.
"Bisakah kita hentikan semuanya?" pinta Peter, mendesah.
Adeline terpaku.
Paras rupawannya tak lagi memahat wajah seorang wanita. Kutukan keparat itu memang menguasai dirinya. Bukan karena purnama, tapi karena apa yang teremban pada dirinya. Alpha dan beta—tak semudah itu mengartikan lika-liku hubungan Adeline Foster dan Peter Roland. Bukan sekadar kekasih atau panggilan calon isteri. Adeline Foster hanya semata-mata mengubah Peter untuk menemani dirinya tanpa arti atau pun wejangan palsu.
"Peter," suara gerungan itu begitu rikuh. Mata rubinya berangsur membias—tersinkron antara hijau zamrud berlembayung perak.
"I'm sorry, Adele." Dikecupnya dahi wanita itu dengan lembut. Peter bersenandung. Terbalut naungan senja.
Berada di langit yang sama. Tepat seperti malam, pertama kali mereka berjumpa. Peter bukan 'lah remaja rumahan yang kerap menghabiskan waktu berlarian di Oxford Street. Ia terdampar di bawah perincing misletoe, di pinggir trotoar gerai. Dan Adeline Foster menemukannya. Gadis itu mendengar sebersit rintih tolong di tengah salju. Pakaian pemuda di hadapannya begitu minim—menyerupai manusia hutan dengan pipi tercoreng hitam.
Peter, kata pertama kala ia memperkenalkan namanya. Ada sebuah perasaan yang mengelitiki hati Adeline, hingga ia tak lagi tinggal diam dan hanya memandangi laki-laki itu dengan tatapan iba.
"Kita harus pindah." Tak ada jalan lain, Adeline harus membawa pergi kawanannya. Malam ini, akan terjadi pertumpahan darah. "Michael Darling dan kawanannya akan melacak keberadaan aroma tubuhmu," bisiknya.
"Mereka tak pernah tahu kita berhimpun di tempat ini," Peter berusaha berkilah.
"Tidak. Mereka telah mencurigai tempat ini berbulan-bulan lalu. Jika kau ingin tetap bersamaku. Kita harus meninggalkan paviliun doyong ini."
Pemuda itu tak lagi bersesumbar. Pikirannya seolah melarung, memikirkan apa yang akan terjadi pada kawanan mereka. Christopher baru saja menikmati malam pertamanya setelah melancong berbulan-bulan lalu. Dan kini, mereka harus kembali berpindah. Mencari lahan baru yang entah di negeri antah berantah.
"Kau tak perlu khawatir, Peter. Aku mengenal seseorang di Glasgow yang akan membantu kita," jelas Adeline, mengelus pipi pucat pemuda itu.
Peter menyungging seulas senyum, tatkala denyut nadinya tetap berdenyar. Mendambakan wajah Wendy Darling yang raib di balik pintu kedai.
.
.
.
to be continued…
