ooOoo
Karena Hidup itu terkadang merupakan Skenario yang Konyol
Disclaimer : Gintama By Sorachi Hideaki a.k.a Gorilla-Sensei. Story By Me
Warning : OOC, Rated T, AU, Typo.
ooOoo
Chapter 2 : Uji nyali kadang membawa berkah dan petaka di waktu yang sama.
Di setiap sekolah pasti memiliki legenda tersendiri. Beberapa cerita pasti sudah tak asing bagi Siswa maupun Siswi-nya dengan alur yang nggak jauh beda. Dimulai dari cerita horror hingga romansa. Dari cerita hutang di kantin sampai gorilla yang jadi satpam sekolah. Pokoknya, cerita yang melegenda dari abad ke abad, tahun ke tahun dan hari ke hari. Tapi, dari banyak cerita yang biasa melekat di otak dan hati pastinya cerita horror tentang sekolah itu. Baik tentang sekolah yang di bangun di atas tanah makam, penunggu di tiap ruangan, penghuni sekolah yang bunuh diri, hingga Gorilla yang menari. Oke, abaikan yang terakhir.
Dan jika, kita berbicara tentang cerita horror di sekolah, pastinya ada saja murid yang iseng buat membuktikan kebenaran ceritanya. Entahlah mereka itu iseng, kurang kerjaan atau terlalu lama sendiri. Yang pasti hal ini juga di lakukan oleh segerombolan manusia yang tengah berkumpul di salah satu ruang kelas berpapan nama, 3-Z.
"Apa semuanya sudah datang, Jimmy?" tanya Sougo yang tengah duduk di kursi guru dengan kedua kaki yang terangkat di atas meja dan tak lupa kedua matanya di tutup dengan penutup mata yang biasa digunakan olehnya.
"Eh, coba aku absen dulu, Taichou." sahut Si Jimmy tadi.
Jimmy atau yang di kenal dengan nama Anpanman dan biasa di panggil dengan sebutan Zaki, dengan nama asli Yamazaki Sagaru itu, mulai menghitung teman-temannya.
"Hijikata-San, Kamui-San, Harada, Takasugi-San, Soyo-Sama, Kagura-San, Tama-San, Banzai-San, Shimaru-San, Imai-san, dan Mitsuba-Dono. Ha'i, semua sudah lengkap, Taichou!" lapor si Sagaru.
"Bagus, Zaki. Kita bisa mulai sekarang." Sahutnya seraya membuka penutup matanya dan mengubah posisinya yang semula bersandar menjadi duduk tegap.
"Ane-ue! China! Apa yang kalian lakukan di sini?" matanya terbelalak kaget saat melihat dua perempuan yang di sayanginya turut berada di sana.
Kedua perempuan yang disebut Sougo tadi hanya nyengir lebar seraya melambaikan tangan.
"Tadi kami berdua diajak oleh Toshi-kun dan Kamui untuk ikut acara uji nyali di sini, Sou-chan." Jelas Mitsuba dengan suara halus nan elegannya itu.
"Tak apakan jika kita berdua ikut, Sadist?" tanya Kagura dengan senyum lebarnya. Wajah keduanya begitu excited.
Sougo menepuk dahinya singkat lalu, melirik dua orang yang ada di pojok ruangan tersebut. Si pemuda bersurai vermillion itu hanya tersenyum lebar sementara, yang satunya diam saja.
"Tak masalahkan Sougo? Semakin banyak orang, semakin seru." Hijikata Toshirou, pemuda bersurai dark green, Si maniak Mayonaisse yang sering di panggil Mayora itu mencoba memberi alasan. "Lagi pula, aku khawatir meninggalkannya sendiri di rumah sementara kita berdua tidak ada." Sambungnya.
"Halah! Bilang saja kau takut, Mayora-Nii. Ngakunya dokter, tapi dengan setan takut." Cibir Sougo, wajahnya di tekuk karena dia harus memanggil si Mayora itu dengan sebutan Nii-san, di depan Aneue-nya.
"Aku tidak takut, Kuso gaki!" sergah Hijikata cepat, muka dokter muda itu sedikit memerah.
Sekedar informasi, Hijikata Toshirou, Vice commander Shinsengumi di serial Gintama itu aslinya adalah seorang dokter muda berbakat yang bisa menyelesaikan Studi dokternya selama 4 tahun. Dan dikarenakan keluarga besar Hijikata tinggal di Bushu sama seperti keluarga Okita. jadilah Sougo, Mitsuba dan Hijikata tinggal satu rumah di Edo. Faktor lainnya, karena kedua keluarga mereka sudah bersahabat dan Toshirou adalah tunangan Mitsuba.
'Huh ...," Sougo menghela napas, " Pastikan kau tidak macam-macam dengan Ane-ue, Hijibaka-Nii." Sambungnya dan sekarang menatap wajah Kagura yang tengah tertawa riang bersama kakaknya, Kamui.
"Baiklah, Kita mulai Saja sekarang. Selagi Ginpachi-Sensei dan Katsura-Sensei mengalihkan perhatian Satpam." Perintahnya telak yang di sambut suara riuh dari mereka semua.
.
.
"Dengar, begini peraturannya, kita akan mengelilingi setiap sudut sekolah ini secara kelompok. Tiap kelompok terdiri dari dua orang dan kalian semua wajib memfoto setiap ruangan yang ada di list ini," Sougo menjelaskan aturan main mereka seraya memberikan kertas kecil seperti map dengan tanda silang merah di beberapa tempat.
"Yang kuberi tanda adalah tempat yang wajib kalian foto, mengerti?" lanjutnya dan di balas dengan anggukan teman-temannya.
"Untuk mempersingkat waktu, Kau dan Tama-San yang pertama, Zaki!" perintahnya mutlak.
"Heh!? Tunggu sebentar, Taichou. Kenapa aku yang pertama? dan lagi ha...ha... harus bersama Tama-San." Protes Yamazaki dengan suara yang mengecil di akhir.
"Lakukan saja dan jangan banyak protes, Yamazaki." Kini Hijikata yang menimpali.
"He-em, Aku ingin cepat kembali ke rumah kemudian tidur." Ucap kamui dengan senyumannya.
"Ayo... cepat jalan, Yamazaki-San/Jimmy." Soyo dan Kagura menimpali.
Yamazaki tersenyum kecut saat para teman-temannya itu tak ada yang membelanya. Dia melirik Tama yang sedari tadi diam memperhatikan.
"Ayo, Yamazaki-san." Ajaknya seraya mengulurkan tangan dan tersenyum, membuat Yamazaki meleleh seketika dengan wajah merona.
Akhirnya, mereka berdua pun memulai acara yang mereka sebut sebagai uji nyali tersebut.
...
Yamazaki berjalan beriringan dengan Tama, melewati setiap koridor sekolah mereka menuju titik Start yang di tentukan di peta.
"Disini kah, mulainya?" Ucap Yamazaki seraya menuju ruang loker sepatu.
"Di peta menunjukkan tempat ini, Yamazaki-san." Sahut Tama seraya melihat peta di tangannya.
"Berarti kita akan mulai dari sini, ya?" Yamazaki melihat keselilingnya. Sepi, spooky, dan gelap. khas gedung sekolah di malam hari memang. Dalam hati Yamazaki berdo'a, agar mereka tak menemukan apa pun dan melihat apa pun selama kegiatan kurang kerjaan yang sedang mereka lakukan ini.
...
Yamazaki dan Tama kini tiba di salah satu ruang kelas yang bertuliskan '10-C'. Konon katanya, di kelas ini terdapat roh Siswi yang mati bunuh diri karena gagal naik kelas. Siswi yang frustasi tersebut bunuh diri dengan memotong nadinya di tempat duduk yang dia tempati, tepat tengah malam.
Yamazaki masuk ke ruang kelas tersebut di ikuti tama di belakangnya.
"Sepertinya tidak ada apa-apa di sini. Tama-san, Ayo, kita foto ruang kelas ini kemudian menuju ruang berikutnya." Ajak Yamazaki sambil mengeluarkan Smartphone-nya.
"Sepertinya begitu." Tama menganggukan kepalanya.
Mereka berdua kemudian mengambil foto dengan gaya selfie yang akan di serahkan kepada teman-temannya.
"Yosh ... Ayo kita ke ruang selanjutnya!" Seru Yamazaki semangat, tangan kanannya terangkat ke atas.
Tama mengangguk Setuju. Mereka kemudian berjalan menuju pintu kelas ketika hawa dingin menyerang keduanya.
Yamazaki berkeringat dingin ketika menyadari perubahan suhu ruang tersebut. Diam-diam dia melirik Tama yang ada di sampingnya guna melihat ekspresi perempuan itu. Berbeda dengan Yamazaki, Tama tetap tenang walaupun, dia juga merasakan hal yang sama dengan Yamazaki.
'Tenang Sagaru ... tenang ..." batinnya menyemangati diri.
Tepat saat Yamazaki menyentuh gagang pintu, terdengar suara gebrakan meja yang berada di pojok kelas tersebut. Suara itu mampu mengalihkan atensi kedua manusia berbeda gender yang kini berdiri kaku dan menoleh ke sumber suara.
Mata Yamazaki melotot, suaranya tercekat dan keringat dingin membanjiri tubuhnya saat kedua matanya menatap atensi sesosok bayangan gelap dari sumber suara. Yamazaki menggenggam tangan Tama secara tak sadar dan menarik mundur gadis itu secara pelan saat, sosok hitam bersurai panjang itu mendekati mereka.
Tangan Yamazaki sudah bersiap di gagang pintu, ketika ada sosok serupa tepat di sampingnya berkata, "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya sosok tersebut dengan suara seraknya dan senyum lebar nan menakutkan.
Yamazaki makin tercekat ketika mendapati sosok dengan wajah berlumuran darah dan tak lupa cairan merah yang mengalir dari pergelangan tangan yang terangkat ke atas, menepuk pundaknya.
"GYAAAA!" teriak Yamazaki yang langsung membuka pintu tersebut secara kasar dan menggeret Tama keluar dari sana.
...
"Hosh ... hosh ... hosh ..." terdengar suara napas Yamazaki dan Tama nampak ngos-ngosan.
"Sepertinya, kita sudah aman." Ucap Yamazaki dengan napas yang masih belum teratur. "kau baik-baik saja kan, Tama-san?" tanyanya khawatir.
"Aku baik-baik saja, Yamazaki-san." Jawab Tama dengan senyuman yang selalu melekat di wajahnya.
Yamazaki merona setiap kali dia melihat senyuman Tama yang menurutnya manis itu. tetapi, Yamazaki juga merutuki dirinya yang gagal tampil keren tadi. Gila! Sekolahnya beneran berhantu.
Dengan harap-harap cemas, Yamazaki melihat keselilingnya lagi. Haa, ternyata mereka berlari hingga ke toilet yang terletak di ujung koridor lantai satu.
Tama membaca petanya lagi, "Sepertinya ini ruang selanjutnya, Yamazaki-San." Katanya seraya menunjuk toilet di depannya.
Yamazaki meneguk ludahnya. 'Semoga tak ada apa pun di sini.' Batinnya.
Mereka berdua kemudian berjalan memasuki toilet itu. Konon katanya, di dalam toilet tersebut ada sesosok wanita yang mati aborsi di bilik paling ujung. Banyak orang yang sudah bertemu dengan sosok wanita penghuni toilet itu. katanya juga, rupa wanita itu sangat menyeramkan dengan perut yang robek dan usus keluar.
"Sepertinya, kita juga harus foto di tempat ini." Suara Tama memecahkan lamunan Yamazaki.
Yamazaki mengangguk sambil mengaktifkan aplikasi kameranya dan berjalan mendekat ke arah Tama. Dalam hati Yamazaki bertanya-tanya, kenapa Tama bisa tetap santai di situasi creepy seperti ini. Sasuga, perempuan yang lebih dewasa dua tahun darinya itu memang hebat. Tak salah Yamazaki menaruh hati pada Sosok Tama.
Selesai mereka berfoto, lagi-lagi Yamazaki melihat sosok menyeramkan yang ada di sana. Kali ini sosok itu persis dengan gambaran yang sering orang-orang ceritakan.
Yamazaki kembali meneguk ludahnya saat, sosok itu semakin dekat ke arah mereka. Tak menunggu waktu lama, Yamazaki langsung lari dari sana dengan kembali menyeret tangan Tama.
...
Yamazaki terus lari dan lari sambil menyeret tangan Tama. Nasibnya benar-benar sial hari ini. Walaupun, dia bersyukur bisa berduaan dengan gadis pujaannya, tapi dia juga tak berbohong untuk menyesal mengikuti acara laknat yang di ketua oleh ketua kelasnya itu, Okita Sougo. Demi Anpan yang sering dia makan setiap hari, tidak bisakah hantu-hantu itu berhenti muncul di sekitarnya.
Ya, dia akui ini salahnya karena sudah ngikutin acara laknat bin kurang kerjaan ini. Tapi, itu pun dia lakukan karena ajakan perintah mutlak dari Okita Sougo. Tau sendiri, manusia super sadist itu pasti memiliki cara untuk menyeretnya ikut.
Yamazaki menghela napas frustasi seraya mengacak-ngacak rambutnya.
"Obake no Aho!" teriaknya frustasi tanpa sadar kalau mereka tengah berada di ruang terakhir yang harus di datangi dalam acara uji nyali itu.
"Kau baik-baik saja, Yamazaki-San?" tanya Tama khawatir.
"Aku baik-baik saja, Tama-San." Balasnya, 'Ya, setidaknya fisikku masih baik-baik saja tapi, jiwaku yang merana!' lanjutnya menjerit dalam hati.
Tama tersenyum, " Sebaiknya kita istirahat di sini dulu saja, Yamazaki-San."
Yamazaki mengangguk setuju dan duduk bersender pada tiang ring basket di sampingnya. Mereka berdua sudah tiba di gedung olahraga yang terletak di belakang sekolah rupanya.
"Tama-San hebat," Yamazaki memulai percakapan di antara mereka.
"Eh?" Tama menatap Yamazaki tak mengerti.
"Kau bahkan tak menampakkan ekspresi takut saat melihat hantu-hantu tadi. Padahal, aku sudah berkeringat dingin dan berteriak ketakutan tadi" Jelas Yamazaki seraya tersenyum lebar.
Tama tersenyum, "Itu semua karena aku sudah terbiasa, Yamazaki-San."
"Eh?" Kini giliran Yamazaki yang tak mengerti.
"Ada salah satu mata pelajaran kuliahku yang menjelaskan bagaimana caranya berkomunikasi dengan hal seperti tadi." Tama agak sulit memberikan penjelasan ke Yamazaki.
"Oh iya, aku baru ingat. Tama-San kuliah di jurusan Psikologi, benar?" Yamazaki menepukkan kedua tangannya ketika mengingat gadis di depannya ini adalah Mahasiswi Psikologi di Universitas edo.
Tama hanya menjawab dengan senyuman. Baginya melihat Yamazaki dengan berbagai ekspresi itu memberikan hiburan tersendiri untuknya. Entah kenapa, dia mulai merasakan perasaan aneh hinggap ke perutnya.
.
Saat mereka asyik bercerita, tiba-tiba mereka kembali mendengar suara aneh. Kali ini adalah suara dentuman bola beradu lantai.
Yamazaki menatap waspada sekelilingnya. Tidak ada apapun. Tetapi, dia bisa dengan jelas mengdengar suara pantulan bola yang makin mendekat itu.
Hampir dekat, dekat dan suara itu menghilang. Yamazaki menghela napas lega ketika suara pantulan bola itu sudah tak terdengar lagi.
"Sepertinya, tidak ada apa-apa di-," Suara Yamazaki terhenti ketika dia merasa ada tetesan air yang jatuh ke wajahnya.
Wajah Yamazaki dan tama memucat ketika melihat cairan merah pekat yang jatuh di wajahnya itu. mereka berdua sama-sama terdiam sejenak.
Kemudian, sesosok makhluk botak yang menggelinding dan tepat terhenti di depan kaki Yamazaki. Yamazaki bersiap mengambil ancang-ancang untuk kabur kembali.
Dan tepat saat sosok itu berkata, "Booo!". Yamazaki sudah berlari dengan Tama dalam gendongannya sambil berteriak "Obake no Aho!".
-Chapter 2: End-
Omake:
Di sebuah tempat yang jauh dari lokasi Yamazaki dan tama berada, ya, sebenarnya nggak jauh-jauh juga, karena tempat itu adalah ruang kepala sekolah. Nampak beberapa pucuk kepala manusia tengah duduk menatap layar monitor di depan mereka.
"Hahahaha!" tawa pemuda bersurai pasir beserta semua yang ada di sana tak terbendung setiap kali melihat video yang terekam di layar monitor yang terhubung ke setiap CCTV yang ada di ruang sekolah mereka.
"Mampus! Yamazaki pasti malu sekali." Timpal manusia bersurai dark green di sebelahnya.
Di samping mereka juga berdiri pemuda berambut afro memegang kertas bertuliskan, "Tama-San, nampak tak takut Zzz."
"Setidaknya hubungan mereka ada kemajuan." Timpal pemuda bersurai dark purple dan di aminin oleh pemuda bersurai tail green, silver dan hitam panjang di sebelahnya.
"Kalian benar-benar jahat terhadap zaki aru~." Sambung gadis vermellion yang tengah duduk di pangkuan pemuda bersurai pasir tadi.
"Ya, setidaknya misi kita sukses, kan?" timbrung pemuda bersurai vermellion yang tengah menangkat tong sampah guna dia lemparkan ke wajah pemuda bersurai pasir. Namun, dengan cepat di cegah dengan pria bersurai silver.
"Terima kasih untuk bantuan kalian semua dengan begini tingkat ke galauan Jimmy pasti berkurang." Pemuda bertubuh kekar dengan kepala plontos itu membungkuk terima kasih.
"Daijoubu, lagi pula ini menyenangkan.Nee, Minna?" kata perempuan bersurai pasir yang di setujui oleh semua orang yang ada di sana.
"Kalau begitu, ayo, kita semua pulang." Perintah pemuda bersurai silver jabrik itu.
Dan akhirnya mereka semua pulang meninggalkan Yamazaki sendirian di sana bersama tama.
Sementara itu,
Yamazaki nampak terbengong ketika mendapati ruang mereka kumpul tadi kosong melompong dengan tulisan besar di papan tulis 'KAMI PULANG DULUAN ZAKI, TOLONG ANTAR TAMA-SAN PULANG!'
Yamazaki memandang tulisan di papan itu dengan perasaan campur aduk, kemudian berteriak.
"OKITA-TAICHOU SIALAAAAN!"
Beneran fin.
