Suasana di sebuah kamar nampak mencekam dengan pencahayaan yang redup juga rasa dingin yang menggerogoti setiap ruas jari.
Luhan kini tengah terduduk di atas ranjang King size miliknya. Kedua lututnya ia tekuk, wajahnya ia benamkan pada kedua lututnya. Tangan kurus miliknya mencengkeram erat hamparan sprei dibawanya. Napas nya terengah, keringat nampak membasahi tubuh kecilnya. Wajahnya mendongak memperlihatkan wajah pasi yang tersorot cahaya bulan yang mengintip dari celah-celah jendela.
"Haah...ha..hah... tidak.. ja..ngan."
"Tidak.. "
Luhan meracau samar. Tangannya semakin erat mencengkeram seolah-olah itulah sumber kekuatan bagi dirinya.
"Arrgh!"
Luhan mengerang keras saat merasakan hunusan tajam yang dengan gencar memenuhi dadanya. Tangannya kini bergerak memegangi dadanya. Hunusan itu melebur bersama dengan kilasan cepat kepingan memori yang mengabur dengan kilatan cahaya blitz, menciptakan rasa sesak yang kian menyiksa tubuh letihnya.
"Haah.. haa..hh... ha–"
Tangan miliknya menggapai - gapai meja nakas, mencari sesuatu dengan gerakan acak. Sepercik harapan Luhan dapatkan saat kedua tangannya mendapatkan satu benda yang dicarinya. Luhan dengan cepat memasangkan benda itu tepat hidungnya, membiarkan satu persatu molekul oksigen itu masuk melumuri paru - parunya.
Perlahan nafas nya pun kembali teratur. Luhan pun kembali merelakskan tubuh kecilnya, punggungnya ia sandarkan pada kepala ranjang. Ia melirik sejenak, melihat pada jam digital yang tertera pada meja nakas. Pukul satu empat lima pagi. Itulah waktu yang ditunjukkannya. Luhan memejamkan matanya sejenak mencoba mencari rasa tenang.
Selalu seperti ini. Padahal baru beberapa saat yang lalu ia memejamkan matanya namun tak lama kemudian ia kembali terbangun dengan rasa sakit juga potongan - potongan kejadian yang kejam menyiksa.
Blitz. Luhan benci cahaya itu, cahaya itu selalu membawa rasa sakit baginya, cahaya itu selalu menyiksanya. Kilatan itu seolah - olah tersenyum mengejek kearahnya menertawakan ketakutan miliknya, ingin sekali Luhan membanting kamera saat benda itu dengan lancang melemparkan cahaya yang sangat ia benci. Saat cahaya itu tertangkap kedua retinanya yang ingin Luhan lakukan adalah bersembunyi di balik selimut menenggelamkan tubuhnya, namun sayang ia harus tetap berdiri angkuh menatap sergapan cahaya itu, tak perduli seberapa takutnya ia tak perduli seberapa tersiksa nya ia tak perduli seberapa menyakitkannya ini, ia harus tetap berdiri tersenyum tenang menatap angkuh juga bersikap tak acuh.
Luhan tak sanggup jika harus terus tersiksa bawah tekanan ini. Namun ia bisa apa? Yang bisa ia lakukan hanyalah terus melangkah menjalankan peran miliknya, terus melangkah dengan wajah congkak nya, terus melangkah tanpa perduli bagaimana hancur nya ia.
Perlahan kelopak mata indah miliknya mulai memberat, sejenak ia lupakan semua masalah pelik hidupnya. Yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah tidur mengistirahatkan tubuh letihnya, membiarkan ia sejenak merasa damai walau ia tau beberapa saat lagi ia akan kembali tersiksa.
.
.
.
Aku berjalan sendiri ditengah gelap yang menenggelamkan. Ku berjalan tertatih menapaki tepian jurang curam. Ku berjalan tertatih dengan sulur - sulur duri yang mengikat leher dan kedua kakiku. Aku berjalan dengan rasa sakit yang menusuk dada ku. Tak ada yang perduli bagaimana tersiksa nya aku. Tak ada yang perduli bagaimana kejam nya takdir memepermainkanku. Yang aku lakukan hanyalah terus berjalan dengan menyeret paksa ketakutan ku. Hanya gelap yang bisa ku lihat, hanya dingin yang bisa kurasakan. Tak ada yang lain kecuali tuntutan kejam jalan hidup ku.
.
.
.
Blitz
.
.
.
Genre :
Romance, Drama, Hurt/Comfort,
Warn :
Messing EYD, typo(s), cerita gaje, OOC, GS, and many imperfections that's you can find from my story.
Rated :
T - M(?)
Cast :
Lu Han
Oh Sehun
Pair :
HunHan
...
..
.
Chapter 1 : The Reason
Luhan menatap malas pada manager cerewet menyebalkannya, kedua kakinya ia naikan ke atas meja, sepasang lengan putih miliknya menyilang angkuh di depan dada.
"Dengar, aku tak mau. Dan selamanya takan mau. Jika kau memang sudah menyepakatinya, kenapa tidak kau saja. Lagi pula aku penat, jadwal ku nyaris selalu padat." Luhan lalu menyandarkan kepalanya ia sedikit menikmati waktu senggangnya. Ia kemudian kembali angkat bicara. "Sebagai manager, seharusnya kau mampu mengelola waktu sempit ku. Kau harusnya memperhatikan kan bagaimana keadaan ku, bukan hanya tenaganya saja yang kau peras."
"Oh, Luhan! Ayolah!" Perempuan itu menjerit tertahan, karena dirinya sungguh kesal atas apa yang model itu katakan. "Sungguh Lu, aku memutuskan ini dengan penuh pertimbangan. Lagi pula, waktu mu akhir - akhir ini senggang. Ini merupakan kesempatan emas. Banyak sekali model maupun artis yang menginginkan posisi mu, Lu. Dan kau ingin menyia - nyiakannya? Dan, hei! Aku tak pernah memeras tenaga mu. Kau ini, benar - benar..."
Baekhyun menggelengkan kepalanya, ia sungguh frustrasi menghadapi tingkah menyebalkan model nya ini.
"Terserah kau saja, yang pasti aku tak mau." Luhan menjawab tak perduli, ia hanya menganggap lalu ucapan managernya.
"Luhan... ayolah... Ku mohon, Lu.."
"Tidak."
"Luhan..ku mohon~"
"Tetap, tidak."
"Lu, aku akan melakukan apa saja. Asal kau mau. Ku mohon, Lu..."
Luhan bangkit dari posisinya, ia membenarkan kemeja putih miliknya. Menatap Baekhyun datar.
"Jika kau memang benar ingin aku melakukannya, setidaknya ada harga yang harus kau bayar."
Baekhyun terdiam, senyuman tampak mengembang di wajahnya. Ia tak menyangka jika Luhan menyetujuinya. Ia yakin Luhan akan lebih bersinar setelah ia memainkan film ini. Lagi pula peran yang dimainkan menurutnya sangat cocok dengan karakter Luhan.
Baekhyun menatap Luhan dengan berbinar. Ia mengangguk - nganggukkan kepalanya cepat.
"Tentu! Apapun untuk model cantikku."
Luhan tersenyum tipis. Ia lalu berjalan keluar dari ruangan ini. Ia menunduk sorot matanya kembali meredup, ia tak tau harus bagaimana lagi. Menjadi model saja ia harus tersiksa, apalagi menjadi pemeran utama dari sebuah mega project film besar. Ia tak tau seberapa banyak blitz lagi yang akan datang kearahnya. Ia tak sanggup jika harus terperosok lebih dalam lagi.
Luhan kembali mendongak, matanya menatap dingin. Ia berjalan dengan langkah yang mengalun pasti.
.
.
Hanya dalam logika dan matematika sajalah segala definisi bisa dengan sempurna menangkap konsep - konsep.
.
_ Marvin Minsky_
.
.
.
Luhan sekarang sedang duduk menyender di pojok ruangan, tak ada yang menyadari keberadaannya karena ya, di ruangan ini memang telah di setting menjadi redup sesuai temanya.
Ia kemudian berjalan ketempat pemotretan berlangsung. Tema kali ini adalah tentang lorong waktu. Luhan entah mengapa merasa gugup. Kedua jarinya terasa basah melihat konsep yang di usungkan. Kali ini pencahayaan tampak redup, karena titik fokus pencahayaan bukan berasal dari lighting melainkan dari kilatan blitz, agar konsep yang diinginkan bisa benar-benar sempurna tertangkap.
Luhan kini berdiri di tengah latar, meskipun ia tengah gugup namun ia bisa menyembunyikannya. Seperti biasa, ia berdiri angkuh. Ia melihat seorang stylish sedang berbincang sebentar kepada fotografer.
Melihat gestur fotografer yang akan memulai sesi ini, Luhan dengan sigap berada dalam posisinya. Ia melihat tangan fotografer itu memberikan sebuah instruksi dengan jarinya.
3
2
1
'Jepret'
Tangkapan pertama. Luhan mencoba memasang raut dinginnya, kali ini Blitz lebih jelas menyergap kedua retinanya. Ia merasakan sekujur tubuhnya bergetar, tapi dengan lihai ia mencoba menutupinya.
'Jepret'
Tangkapan kedua, semua begitu terasa jelas bagi Luhan. Suasana redup ini seolah memaksa putaran waktu kembali terulang di kepalanya. Memaksa ia kembali berjongkok dalam paduan bayangan yang tergambar jelas dalam pandangannya.
'Jepret'
Tangkapan ketiga. Luhan diam terduduk di sebuah kursi kebesaran yang menjadi salah satu bentuk settingan. Ia duduk dengan anggun, aura bangsawan terasa begitu kental dalam balutan kesempurnaannya. Dagu indah itu terangkat angkuh menunjukan bentuk aristokrasi miliknya. Luhan mencoba menetralkan nafas nya yang terasa memberat. Ia dengan tenang menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan.
'Jepret'
Tangkapan keempat. Luhan bangkit, kilatan blitz itu entah mengapa semakin menyiksanya. Ia merasakan kedua lututnya melemas memecahkan pundi - pundi pertahanannya. Sebisa mungkin Luhan menutupinya dalam usapan pongah yang ia pertontonkan. Tapi kilatan blitz itu semakin lama semakin lancang melemparkan ketenangan miliknya merusaknya dan mengacak - ngacak habis perasaannya. Luhan bahkan hampir kehilangan titik fokus miliknya.
"Fokus, Luhan - ssi! Pose! Just Pose! C ' mon, fokus! Fokus!" Sang fotografer rupanya berteriak kearahnya, tapi dengan senyum dinginnya Luhan tanpa perduli mengacuhkan nya. Dengan tenang Luhan menarik nafas nya, matanya ia pejamkan mencoba mengumpulkan energinya kembali. Tak lama matanya kembali terbuka memperlihatkan tirai kokoh yang anggun menjuntai menutup, dengan tatapan dinginnya ia kembali menatap sang fotografer. Luhan dengan tenang meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melakukannya.
Akhirnya setelah beberapa kali sesi pemotretan ini, ia bisa melewatinya. Luhan merasa lelah, energinya seolah terkuras habis. Setelah selesai melakukan pemotretan ini, ia langsung keluar tanpa memperdulikan perkataan dari sang fotografer juga asistennya. Luhan melangkah keluar dengan tergesa. Ia dengan cepat memasuki rest room yang tak jauh dari ruang pemotretan, memasuki salah satu bilik.
Dengan gemetar, tangannya mencari-cari suatu benda dalam tasnya. Ia kemudian meraih sebuah tabung oksigen portable, lalu memasangkan nya. Luhan meraup udara dengan cepat, nafas nya memburu dan terasa berat. Luhan memegangi dadanya yang terasa seperti tertusuk - tusuk.
"Haah.. haah.. haa-ah.."
Nafas nya masih tersenggal. Tangannya kembali bergerak mencari sesuatu dalam tasnya. Sebuah botol obat penenang juga obat untuk pernapasan nya. Dengan cepat Luhan mengambil dua butir di masing masing botol dan menelannya.
Ia masih memegangi dadanya, nafas nya memang masih tersenggal namun tak separah tadi. Setelah beberapa saat ia menenangkan dirinya, Luhan bergegas keluar. Ia kembali berjalan di koridor. Matanya menatap tak suka pada salah satu wanita yang tak jauh dari tempat ia bekerja diri.
Cih, senyum licik itu. Luhan sungguh ingin merobek nya, mencakar nya habis. Sungguh ia sangat kesal terhadap jalang satu itu, debut pertamanya dengan wanita itu hanya berbeda beberapa bulan saja. Dan entah mengapa wanita yang selalu mengumbar kemolekan tubuhnya itu selalu saja berusaha mencari ulah dengannya dan selalu mengganggunya. Hanya tatapan picik dan seringai memuakan yang hanya Luhan temukan dari sosok satu itu.
Wanita itu melangkah mendekat kearahnya, ia mendekati Luhan dan tanpa permisi sebuah wedges hitam tinggi mendarat tepat diatas kaki Luhan, menginjak nya dan mencoba menumpukan beban tubuhnya dalam satu tekanan.
Luhan mendesis pelan saat tiba - tiba merasakan benda tumpu mengoyak kakinya. Matanya memincing tajam sarat akan pekat hitam yang membingkai nya.
"Uh - Oh! Maafkan aku, Luhan - ssi. Aku sungguh tak sengaja. Kau tau sendiri, dirimu terlalu bersinar sehingga aku tidak bisa terlalu jelas melihat mu." Wanita itu berujar dan wajah bersalah yang menjijikkan. Raut wajahnya mengerut penuh sesal tapi dengan hiasan seringai kemenangan dan alunan suara mengejek yang terdengar sumbang.
Luhan menggeram pelan, giginya bergemeletuk samar. Ia kemudian tersenyum senang melihat seseorang tengah melewatinya dengan nampan berada dalam tangan orang itu. Luhan mengambil satu gelas penuh air dalam nampan itu dan menumpahkan isinya tepat diatas kepala yeoja itu.
"Mungkin sedikit air akan membukakan mata anda, nona. Seharusnya kau bangun dari mimpi indah mu itu, kau terlalu naif memandang bagaimana kehidupan ini berjalan. Kau adalah wanita dewasa yang memang sudah matang, seharusnya begitu pula dengan sikap mu."
'Set'
'Prang'
"Kau yang seharusnya merelevankan antara kedewasaan dan bentuk sikap mu, Luhan - ssi." Seorang namja tegap dengan rambut pirang tiba - tiba menyeruak masuk kedalam perdebatan. Tangan putih kekarnya, mencengkeram erat tangan wanita bersurai coklat itu. Jeda sejenak, dan ia pun kembali melanjutkan. "Kau berfikir bahwa seolah-olah kau yang paling benar dalam hal apapun, kau selalu berfikir bahwa Kau lah yang paling sempurna, tapi dalam kenyataannya, tidak. Kau yang terlalu naif dalam menilik bagaimana perputaran kehidupan ini. Kau pikir, segala hal bisa mudah kau genggam? Kau pikir semua persepsi pintar mu itu adalah yang paling benar? Tapi tidak, Luhan - ssi."
Pria itu kini melepaskan genggaman pada tangan Luhan. Ia kembali angkat suara.
"Sebenarnya bekal apa yang kau punya untuk mendeklarasikan bahwa Kau adalah hal yang paling sempurna? Harta? Popularitas? Atau keindahan wajah mu? Kau memang memiliki semua itu, tapi ingatlah bahwa itu hanya sementara. Satu hal yang tak pernah kau miliki adalah, hati."
Pria itu melepaskan jas hitam yang sempurna terpasang di tubuhnya, dan memasangkan dengan apik pada tubuh wanita yang saat ini tengah menggigil karena rasa dingin air yang menyiramnya. Oh Sehun, pria itu kembali menatap Luhan dengan mata tajam miliknya.
"Ku akui kau memang sempurna, kau memang memiliki segalanya tapi, bukan berarti kau bisa dengan mudah mempermainkan orang lain. Seharusnya kau belajar memahami arti memiliki dan menyayangi, agar kau bisa tau apa arti dari sebuah perasaan menyayangi itu sendiri."
Sehun pun berbalik melangkah menjauh, dengan seorang yeoja yang ada dalam rengkuhannya. Pria itu melangkah menjauhi sosok Luhan dengan tubuh bergetar nya, menjauhi Luhan dengan sesak di dadanya, menjauhi Luhan dengan rasa sakit dari sembilan pisau yang mencabik isi hatinya.
Luhan terdiam, hatinya mencelos saat Sehun pergi menjauh dengan sosok lain, saat Sehun menjauh setelah memerosokkan habis perasaannya, Sehun pergi tanpa tau hal yang terjadi sebenarnya. Entah mengapa ia tak rela saat Sehun, satu - satunya sosok yang Luhan tanpa sadar ia percayai begitu saja pergi meninggalkannya dengan rasa kecewa.
Tanpa Luhan sadari, kedua bola matanya berkaca dan runtuh seketika. Ia menunduk, bibirnya terkatup rapat menyembunyikan sebuah isakan, kedua tangannya memegang erat dadanya.
Mengapa harus semenyakitkan ini?
.
.
.
When someone is going through a storm, your silent presence more powerful than a million empty words.
.
_Thema Davis_
.
.
.
Luhan memegangi erat kemudinya. Ia sengaja berbelok menuju jalan lain dari biasanya. Entah kenapa ia ingin menenangkan hatinya terlebih dulu. Jalan ini begitu sepi dan tak banyak kendaraan yang melintas apalagi dengan waktu yang memang sudah larut ini, sungguh berkebalikan dengan sisi kota yang sering ia lewati.
Sejenak pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi, ia merenung pada apa yang dikatakan oleh Sehun tadi. Luhan tak tau apa yang dirasakannya. Selama Luhan mengenal Sehun, walau seberapa seringnya ia bertengkar dan saling menyindir tapi tak pernah pria itu sampai berkata merendahkannya seperti tadi dan Luhan merasa harga dirinya terlukai.
Luhan kemudian tersentak saat kedua retinanya menangkap cahaya keemasan yang menyorot dari besi besar, kedua gendang telinganya seolah robek mendengar bunyi klakson yang nyalang berdentang. Dengan cepat ia membanting stir kearah tepi. Laju kendaraan tak mampu ia kuasai karena rasa panik yang mengambil alih dirinya. Ia terus memacu laju mobilnya menembus gelap pekat yang mengelilinginya hingga ia menabrak sebuah gundukan batu besar. Kepalanya terantuk dashboard dengan keras, pening beserta anyir karat memenuhi kepalanya.
Luhan tak tau apa yang harus ia lakukan. Kedua tangannya bergetar hebat, rasa lemas memerangkap tubuh letihnya. Dengan sisa tenaga ia membuka pintu mobilnya, keluar dengan langkah sempoyongan.
Luhan jatuh terduduk tak lama setelah ia keluar, kedua tangannya memeluk lututnya mencoba menghalau rasa dingin dan takutnya. Ia kini sendirian di tengah malam yang sepi dengan rentetan kejadian yang hampir saja menghabisi nyawanya. Ia semakin memeluk erat tubuhnya, tak dipedulikannya mobil mewah yang kini mengepulkan asap, dan betapa parahnya kerusakan di bagian depan.
"Hiks.."
Satu isakan lolos dari kedua bibir mungilnya. Sehun benar, ia hanya terlalu naif dalam menilai kehidupan ini. Tapi apakah salah jika Luhan hanya ingin berdiri tegak diantara titian rapuh yang siap menghantam tubuhnya keras, apakah salah jika Luhan hanya berharap bisa bertahan walau begitu banyak gelombang ombak yang menerpa rakit kecilnya. Mengapa semua orang hanya menuntut kesempurnaannya saja tanpa peduli bagaimana tersiksa nya ia.
"Hiks..hiks..."
Buliran itu semakin bertambah saat mengingat sosok Sehun yang mengacuhkan nya. Tak ada yang menginginkannya, pikir Luhan. Tak ada satupun, ia seolah berjalan sendirian. Tanpa ada yang memperdulikanya. Seharusnya, seharusnya ia Biarkan saja truk tadi menghantam mobilnya, merusak tubuhnya menghancurkan nya agar sama seperti apa yang jiwa Luhan rasakan kini. Percuma ia hidup juga, tapi tanpa ada yang sudi menerima dirinya.
"Hiks..hiks. .. hiks..."
Luhan menangis karena rasa sakitnya. Ia menangis untuk ketidakberdayaannya dalam menghadapi hidup. Ia menangis , untuk hidup menyedihkannya.
Sudah hampir lima belas menit berlalu, namun Luhan masih bergeming dalam posisi yang sama. Wanita itu menangis tersedu - sedu, menumpahkan isi hatinya. Luhan bahkan tetap diam saat perlahan hujan datang membasahi tubuhnya, yang Luhan lakukan sekarang adalah diam, tubuhnya terlalu lelah bahkan untuk berpindah seinchi pun. Yang Luhan lakukan hanyalah terus menunduk membenamkan wajahnya dalam lipatan pertahanan itu. Membiarkan rasa dingin yang kian membekukan tiap celah persendiannya. Membiarkan binar redup kan mengambil alih kesadarannya. Dalam tiap hembusan detik itu Luhan hanya menangis meratap.
.
.
.
Sehun kini ada dalam perjalanan pulang, ia melirik sejenak pada arloji yang tertera pada pergelangan tangannya. Pukul sebelas dua puluh. Mata tajamnya menatap fokus pada jalan yang akan dilaluinya. Matanya menyipit saat melihat ada sesuatu yang ganjil pada jalan yang akan dilewatinya. Awalnya ia tak perduli dengan apa yang ada dihadapannya, sampai lampu terang milik mobil mewahnya menyorot pada satu objek yang tengah terduduk di bawah guyuran hujan, ia terduduk di samping mobil yang nampak familiar baginya.
Sehun dengan cepat turun dari mobilnya, siapapun itu disana hal ini bukanlah hal yang bisa dibilang baik-baik saja. Ia kemudian belari menghampiri, jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok siapa yang meringkuk menyedihkan itu.
"Luhan?!"
Sehun berteriak memanggil namanya. Ia tidak percaya ini. Sosok Luhan kini berada dihadapannya terisak lemah dengan bibir yang sudah membiru dan bekas luka dengan sisa sisa darah di pelipisnya.
"Hei, Lu! Kau tak apa kan? Luhan, Luhan! Apa kau dengar aku?" Sehun kembali bertanya, suaranya teredam bunyi hujan yang semakin melebat. Kedua lengannya menangkup pipi Luhan yang terasa dingin. Dan jawaban Luhan sama. Hanya sebuah isakan lemah dan racauan samar yang tak mampu Sehun tangkap.
Sehun tak mampu melihat itu, melihat seorang angkuh Luhan yang kini tak berdaya. Tak ada satupun arogansi yang mampu Sehun tangkap saat ini. Yang Sehun lihat hanyalah tatapan hampa dari sosok rapuhnya juga bisikan putus asa yang mengalun samar dari kedua belahan bibirnya.
"Tenang. Tenanglah, Lu. Tak apa, semua akan baik - baik saja... ya baik - baik saja..." Sehun memeluk Luhan tangannya ia gunakan untuk mengusap helaian coklat yang terbasahi air hujan. Sehun semakin mengeratkan pelukannya, ia semakin dalam menenggelamkan Luhan dalam dada bidangnya tak memperdulikan bajunya yang kini terbasahi air hujan maupun dari pakaian Luhan. Sehun hanya mendekap Luhan erat dengan bisikan penenang yang menyelingi.
Sementara itu Luhan terbuai oleh kehangatan yang sekian lama tak di kecapnya. Tubuhnya lelah, hujan juga semakin gencar membasahi tubuhnya membekukan setiap tetes aliran darah miliknya. Luhan memejamkan matanya tangannya mencengkeram erat kemeja milik Sehun otak miliknya seolah ikut membeku, yang Luhan inginkan hanya rasa nyaman itu. Luhan mengerjap - ngerjapkan matanya, semakin lama kelopak mata miliknya kian memberat. Tubuhnya seolah melayang saat gelap kini berhasil mengambil alih kesadarannya.
"Luhan? "
Sehun bertanya heran, saat tak merasakan pergerakan dari dekapannya.
"Luhan? Lu, hei.. Luhan... Kau tak apa kan.. Lu? " Sehun menepuk - nepuk pipi Luhan pelan. Namun tak ada reaksi apapun, Sehun juga merasakan sosok yang ada dalam pelukannya kini terkulai lemas. Mencoba untuk tenang meski panik menghampirinya, Sehun mengangkat Luhan dalam pelukannya, dan dengan cepat membawa Luhan masuk kedalam mobilnya.
Sehun menatap wajah Luhan. Wajah pucat denga goresan yang cukup besar di pelipis kanannya. Tangannya bergerak perlahan mengusap tiap inci paras indah itu, menelusuri tiap keindahan yang terangkai bersamaan dengan sentuhan anggun di dalamnya. Sehun sungguh tak menyangka akan bertemu Luhan apalagi dengan keadaan yang di luar bayangannya. Luhan memang menyebalkan tapi melihat gadis itu menangis begitu rapuh membuat Sehun berfikir bahwa lebih baik ia dicela oleh sosok angkuh Luhan.
Tangan Sehun bergerak mengambil ponsel, ia berencana menghubungi temannya.
"Kyungsoo, Bisakah kau datang ke apartemen ku?"
'Kau gila Oh Sehun, untuk apa Kyungie ku menemuimu di tengah malam seperti ini.' Sehun hanya memutar bola matanya malas.
"Ck, cepatlah pergi ke apartemen ku. Dan Jika kau mau, kau tinggal mengikuti Kyungie mu itu."
'Hn..'
"Satu lagi."
'Ck, apa?'
"Bilang pada Kyungie mu itu untuk membawa peralatan kedokteran nya. Aku tunggu kau dalam sepuluh menit."
Sehun langsung mematikan panggilan tanpa perduli ocehan samar dari sebrang sana. Sehun kembali menjalankan mobilnya, ia harus cepat sampai ke apartemennya. Keadaan Luhan saat ini tak bisa menunggu lebih lama lagi.
.
.
.
"Bagaimana keadaannya?"
"Cukup baik, benturan di kepalanya tidak terlalu parah. Tapi keadaan tubuhnya lah yang saat ini aku khawatirkan." Wanita bermata bulat itu kembali menjelaskan pada sosok tegas sahabatnya.
"Memang seperti apa?"
"Sistem imun dalam tubuhnya begitu lemah, sepertinya ia membutuhkan istirahat selama beberapa hari."
"Hn.. lalu?"
"Tak ada lagi, hanya biarkan saja ia istirahat."
"Kau bisa pulang sekarang, atau kau bisa menginap disini karena waktu sudah sangat larut."
"Tak perlu, lagi pula ada Jongin yang akan mengantarkan ku." Kyungsoo babgkit dari ranjang yang ia duduki. Tangannya mengusap pelan kepala Luhan.
"Baiklah, aku pulang. Salam ku untuk Luhan jika ia sudah sadar. Selamat malam."
"Hem.."
Kyungsoo keluar di ikuti Kai dibelakangnya, Sehun menghela nafas nya lelah. Ia memandang Luhan denga teduh. Sebuah senyuman Sehun lukiskan saat kedua iris nya menangkap bayangan Luhan yang nampak begitu tenang terlelap dengan selimut yang hangat menyelimuti. Wajahnya tak sepucat seperti tadi, kini bias bias kemerahan muncul menghiasi pipi putih itu.
Sehun bangkit dari duduknya, tanganya bergerak mengusap lembut rambut Luhan.
"Jaljayo ne, Luhan ah. Mimpi indah." Sehun lalu mengecup pelan pipi Luhan. Ia lalu berjalan menuju sofa, mengistirahatkan tubuhnya. Matanya menilik sebentar kearah ranjang, memastikan bahwa sosok itu baik - baik saja. Lalu tak lama Sehun pun terlelap, terpejam menelan ke alam mimpi.
.
.
.
"Hiks."
"Hiks... tidak.."
"Hiks.. hiks... hentikan.."
"Hiks.."
Sehun terbangun saat samar - samar kedua telinganya menangkap isakan pelan. Sehun memincingkan matanya yang masih terasa berat. Ia heran, ia merasa baru saja memejamkan matanya.
Luhan.
Mata Sehun kembali terbuka lebar saat mengingat sosok itu. Sehun bangkit dan melangkah menuju ranjangnya. Bisa Sehun lihat Luhan yang sedang meringkuk menyembunyikan wajahnya, sedang terisak pelan. Keringat memenuhi wajah pucatnya, tubuh itu tampak bergetar hebat nafasnya tampak begitu berat.
"Luhan?"
Sehun memanggil Luhan dengan pelan.
"Lu, kau tak apa kan? Luhan?"
"Hiks..."
"Lu, Luhan..."
Sehun kembali memanggilnya namun sama saja hanya isakan yang menyahut. Tak tahan dengan itu, Sehun pun masuk ke ranjangnya dan memeluk sosok Luhan yang bergetar hebat. Sehun memeluk Luhan, membenamkan nya pada dada bidang miliknya. Sehun berbisik pelan menenangkannya. Tangannya mengusap punggung sempit itu lembut, mencoba menyampaikan rasa aman padanya. Sehun memeluk Luhan hingga ia tenang, membiarkan kaus putihnya basah oleh air matanya. Sehun memeluk Luhan hingga sosok itu mencengkeram erat kaus nya, membenamkan tubuh mungilnya lebih dalam. Sehun memeluk Luhan sampai kedua kelopak matanya memberat dan juga sampai merasakan hembusan teratur yang menerpa dadanya yang mengalun bagaikan melodi pengantar tidur untuknya. Sehun memeluk Luhan hingga ia jatuh terlelap.
TBC
Akhirnya selesai juga. Saya di sini mau minta maaf apabila jalan cerita yang saya sajikan itu mudah di tebak atau pun banyak ketidak sempurnaannya, saya mau minta maaf jika harus terlambat dalam mempublish ini. Saya disini adalah newbie, masih banyak kekurangan yang saya miliki, saya juga tidak punya pengalaman dalam dunia tulis menulis jadi saya mohon bimbingannya. Yang Part Of Soul, itu juga masih dalam proses maaf kalo misalnya saya terlalu lama dalam mengupdate.
Terima kasih juga bagi readernim yang sudah mau memfav, follow and review, juga bagi readernim yang mau meluangkan waktunya untuk membaca fic ini.
Akhir kata
.
.
Mind to Review?
.
.
Salam.
Mr. Taka Hiahashi
