Tittle : "Mystery of The Twins"
Author: Little Evil
Genre : Mystery, Romance
Main Cast (s):
Cho Kyuhyun (SJ)
Kim Kibum as Cho Kibum (SJ)
Park Hyura (OC)
Other Cast (s) :
Choi Donghyun (OC)
Lee Sikyung (OC)
Kim Jisung (OC)
SJ Member
Length : Series
Rated : T
Facebook : Iffah Pevensie
Twitter : iffah_MUFC19
Blog : iffahgames . wordpress . com
Disclaimer :
Some scene (s) are inspired by D. Conan series but the plot (s) are absolutely mine.
Summary :
Kisah dua saudara kembar yang tak pernah bisa bersatu, namun secara tak sadar akan sangat kompak saat berhadapan dengan suatu kasus. Lalu bagaimana jika keduanya melabuhkan hati pada gadis yang sama?
Chapter 2
Sungguh. Terlihat jelas bagaimana dua pasang iris lain warna itu begitu hidup. Memancarkan sorot tajam yang begitu menghanyutkan. Ketika kau menyelaminya, niscaya kau akan tenggelam dalam naungannya. Hey! They've found their passions.Ah, apa aku melewatkan sesuatu? Baiklah, aku akan dengan senang hati menceritakannya pada kalian semua.
Warga Seoul, terutama kepolisian Seoul, sudah tak asing lagi dengan sosok saudara kembar Cho itu. Cho Kyuhyun dan Cho Kibum. Reputasi mereka tak bisa dianggap remeh. Sederet kasus pembunuhan baik kecil maupun berskala besar berhasil mereka pecahkan. Bekerja sama dengan para detektif kepolisian, bahkan tak jarang mereka menemukan celah yang tak terungkap sebelumnya di tangan para detektif.
Tahun 1888, tahun kelam bagi warga kawasan distrik kumuh Whitechapel, London. Pembunuhan berantai yang dilakukan oleh penjahat berdarah dingin yang dikenal dengan sebutan 'Jack the Ripper' meneror kota London. Hal serupa terjadi di kota Seoul belum lama ini. Kejahatan yang sangat rapi dan tak adanya barang bukti apapun di TKP tak ayal membuat pihak kepolisian cukup kewalahan.
Keresahan berkepanjangan melanda warga Seoul. Bukan tanpa alasan. Kerap kali ditemukan tubuh tak bernyawa di gang-gang sempit dengan jenis luka yang sama. Satu tusukan fatal di tenggorokan korban. Hal yang sama dilakukan oleh Jack the Ripper pada para korbannya di London tempo dulu. Warga Seoul menyebutnya sebagai meos-isseun-saram–pencabik atau disingkat MIS. Dan melihat betapa random-nya MIS dalam mencari korban, membuat siapapun tak bisa menyembunyikan perasaan was-was dan takut yang teramat sangat. The atmosphere was full of fear, dude!
Cho Kyuhyun dan Cho Kibum. Dengan tingkat intelegensi dan insting tajam diatas rata-rata, berhasil mengungkap identitas asli dari seorang MIS, yang tak lain adalah adik kandung Inspektur Kim Youngwoon, kepala divisi bagian kasus pembunuhan Kepolisian Seoul.
Motifnya cukup sederhana untuk sukses membuat puluhan nyawa tak berdosa melayang. Keputusan inspektur Kim untuk meninggalkan adiknya di sebuah panti asuhan karena mereka sabatang kara -kedua orang tuanya tewas akibat kecelakaan- ternyata menggoreskan luka yang dalam di hati adiknya. Ia merasa di buang, tak diinginkan. Sejak saat itu muncul tekad dalam dirinya. Ia bersumpah akan membuat kakaknya memperhatikannya. Dirinya hanya butuh perhatian dari seorang kakak, setelah seluruh anggota keluarganya membuang mereka berdua.
Kini, pria berusia dua puluh lima tahun yang diketahui bernama Kim Joongwoon itu harus rela menghabiskan sisa hidupnya di balik dinginnya teralis besi. Namun dirinya berdalih sama sekali tak menyesali perbuatannya. Rasa bersalah tertutupi oleh rasa puas lantaran berhasil menarik perhatian sang kakak kandung yang sangat ia sayangi. Dan inspektur Kim? Yang bisa dilakukannya hanya menyesali keputusannya dahulu.
Lihatlah, 'hanya' ingin mendapat sebuah perhatian, seseorang bahkan rela melakukan apapun tak terkecuali hal keji –melayangkan puluhan nyawa tak berdosa di sekitarnya.
Kasus inilah yang menjadi titik awal The Twins- mereka memanggilnya- menjadi kepercayaan pihak kepolisian. Layaknya Holmes dan Watson, keduanya beraksi dan memadukan hipotesa-hipotesa akuratnya, memecahkan berbagai kasus kejahatan khususnya pembunuhan di kota kelahiran mereka, Seoul.
Ritme langkah kaki jenjang Kyuhyun terlihat semakin cepat. Iris hazelnya yang tajam mengedar ke segala penjuru yang mampu terjangkau ekor matanya. Raut kehawatiran pun tak luput dari wajah tampannya yang memang putih pucat.
"Sial ! Aku kehilangan jejak bocah itu!" Kyuhyun menggeram kesal. Sedikit merutuki dirinya yang kurang cepat mengejar bocah lelaki itu.
Tak jauh beda dengan Kyuhyun, Kibum pun menunjukkan reaksi yang sama, meski raut wajah tetap dalam stoic faceandalannya.
"Kau yakin melihatnya berbelok kearah sini, Kyu?" suara Kibum membuat Kyuhyun yang berjalan di depannya menolehkan matanya tajam.
"Kau meragukan penglihatanku,eoh? Aku bukan namjaberkacamata kuda yang jelek sepertimu!" Kyuhyun membalas dengan nada sarkatis. Are you kidding me, dude?!
Setelah melewati beberapa tikungan, mata Kyuhyun menangkap sosok anak kecil yang terlihat akan menyeberangi jalan tak jauh di depannya. Bocah itu berdiri dengan tenang di ujung zebra crossyang melintang di depannya, mencari celah yang dirasa aman untuk menyeberang. Pandangan Kibum melihat bocah itu dari sisi wajahnya, ia merasa familiar dengannya. 'Bukankah?'
"Bukankah itu Choi Donghyun, Kibum –ah?" Kibum membenarkan ucapan Kyuhyun dalam benaknya.
Bocah yang sedari tadi mereka ikuti, tak lain adalah tetangga mereka sendiri. Putra dariahjussiChoi, pemilik kedai jjangmyeon –mie saus hitam favorit mereka. Kyuhyun dan Kibum mengenal baik bocah lelaki itu. Hei, hampir tiap hari mereka memuaskan lidahnya di kedai sederhana milik ahjussiChoi itu.
Mata Kyuhyun dan Kibum kembali terbelalak lebar menyadari sebuah Holland Range Roverhitam melaju dengan kecepatan yang tak bisa di bilang pelan. Sepertinya mobil itu tengah menjadikan tubuh mungil Donghyun sebagai sasarannya.
Kali ini Kibum kontan membawa kakinya berlari cepat, ekor matanya sempat menangkap bongkahan batu selebar kepalan tangan. Dengan kekuatan penuh, Kibum menggerakkan kaki kanannya menendang batu itu, mengarahkannya pada kaca depan range roverhitam di depannya.
PRANG!
Kyuhyun sedikit tersentak saat sebuah batu melayang melewati tubuhnya begitu cepat, melesat ke arah mobil hitam di depannya, bahkan ia sempat merasakan gesekan udara yang terjadi di antaranya. Retakan tepat di depan kaca pengemudi kini terpampang jelas. Alhasil mobil tersebut pun oleng dan berakhir dengan menabrak tiang listrik di depannya.
Suara benturan yang cukup keras mengalihkan atensi orang yang lalu lalang di sepanjang jalan Milsseon tersebut. Kyuhyun dengan segera memeriksa mobil itu dan lagi-lagi nihil. Sementara Choi Donghyun, si bocah mungil itu kembali selamat dari marabahaya yang menghampirinya untuk kedua kalinya. Bahkan langkah kecilnya masih terlihat riang. Ia melanjutkan perjalanannya. Sepertinya anak itu tengah melakukan misinya –berbelanja beberapa bahan makanan pesanan ayahnya. Ah, anak pintar.
"Kemana perginya pengemudi sialan itu?!" Kyuhyun mulai geram. Hal yang baru saja terjadi semakin menguatkan dugaannya. Seseorang memang tengah mengincar nyawa Donghyun. Dan Kibum tengah memikirkan hal yang sama dengan saudara kembarnya.
"Kita harus bergegas, Kyu. Jangan sampai kehilangan jejaknya lagi."
" Ne, kajja!"
Di tengah perjalananannya, Donghyun melihat sebuah mobil mainan berwarna merah tergeletak di ujung jalan, tepat di sisi kanan pertigaan. Mata kecilnya berbinar ceria. Ingat, dia hanya anak-anak yang tentu akan sangat senang saat melihat mainan kesukaannya.
Dengan berlari kecil, Donghyun membawa tubuhnya mendekati mainan tersebut. Saat tangan mungilnya hendak mengambil mobil mainan itu, tanpa aba-aba, dari belakang tubuhnya seseorang membekap hidung serta mulutnya erat. Dan tak butuh waktu lama, tubuh mungil Donghyun pun terkulai dalam dekapan sosok pria bertubuh kurus di belakangnya.
Seringaian terpatri di bibirnya. Di bawanya tubuh Donghyun dengan santai, seolah ia tengah mendekap putranya sendiri. Ia tak ingin membuat orang-orang di sekelilingnya curiga. Kakinya melangkah menuju suatu tempat. Tanpa menyadari sesuatu yang terjatuh dari genggaman tangan kecil bocah dalam dekapannya.
Dalam pencariannya, si kembar Cho menjumpai sosok gadis yang masih mengenakan seragam sekolah. Seragam yang sama dengan Kyuhyun dan Kibum. Gadis itu tampak tengah menikmati suasana kawasan pertokoan Gwangshin. Dan merekamnya denganhandycamhitam di tangannya.
Saat dua sosok yang dikenalnya muncul dalam layar handycamyang sedang dalam posisirecord,Hyura –gadis itu- mengalihkan atensinya dari layar virtual dan menatap dua saudara kembar yang berdiri di hadapannya.
"Anyeong,Kyuhyun –ah dan~ Kibum –ssi?" suara Hyura terdengar sedikit ragu di akhir kalimatnya.
"Hyura –ya?" Langkah Kyuhyun dan Kibum serempak terhenti setelah mengenali sosok gadis manis dengan senyuman tipis di depannya.
"Apa yang kau lakukan? Ah! Apa kau melihat bocah lelaki sekitar lima tahun melintas di sekitar sini? Aku yakin dia melewati jalan ini." Kyuhyun nampak senang bertemu pujaan hatinya. Namun saat ini ada hal jauh lebih penting daripada melancarkan aksi acara tebar pesonanya.
"Dan bocah itu masih mengenakan seragam taman kanak-kanaknya." Kyuhyun menambahkan.
Alis Hyura bertaut. Dirinya tampak tengah mengingat sesuatu. 'Bocah kecil dengan seragam. Ah~ mungkinkah?'
Dengan cepat ia memeriksa handycamnya. Jemarinya dengan lincah menekan tombolreplay. Dan matanya sukses melebar, menemukan sosok bocah yang mungkin Kyuhyun maksud.
"Kyu~" Hyura menolehkan pandangannya pada pemuda berkulit putih pucat di depannya.
Kyuhyun dan Kibum yang mengamati reaksi wajah Hyura, sontak mendekatkan diri mereka pada gadis itu. Keduanya ikut mengamati sosok bocah dalam layar yang sedari tadi menjadi objek pencariannya. Tidak salah lagi. Kyuhyun dan Kibum masih ingat betul seragam yang dikenakan Donghyun. Dalam rekaman itu, Donghyun terlihat tengah tersenyum lebar dengan melambaikan tangannya pada sebuah- cermin? Ya, bocah itu tersenyum ke arah cermin cembung yang memang biasanya terletak di sudut-sudut jalan kota Seoul itu.
"Tunggu. Dimana kau merekam ini?" Hyura menoleh sekilas kearah Kibum yang membuka suaranya.
"Disana. Perempatan Hankook itu." Hyura menunjuk dengan jemarinya. "Ayo, ikuti aku."
Tanpa menunggu lama, ketiga remaja sebaya itu melangkahkan kakinya menuju tempat yang dimaksud. Mereka mulai berlari kecil. Hyura hanya bertanya dalam benaknya, apa yang sebenarnya tengah terjadi? Namun ia memilih untuk memendamnya dan mengikuti langkah kedua pemuda tampan di depannya. Apapun itu, ia yakin hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dinggap remeh.
Trak.
Kyuhyun tertegun saat merasa kakinya menginjak sesuatu yang keras. Sebuah miniaturKamen Yaibatergeletak tepat di bawah sepatunya.
"Ini- milik Donghyun." Kyuhyun melirik Kibum. Iris kelam Kibum mengamati miniatur di tangan Kyuhyun. Kemudian menganggukkan kepalanya.
"Benda ini sangat berarti bagi bocah itu. Tak mungkin ia meninggalkannya begitu saja. Kecuali ada sesuatu yang terjadi padanya." Kyuhyun dan Kibum semakin yakin atas prediksinya.
"Tunggu. Sebenarnya ada apa dengan kalian?" Hyura yang sejak tadi mengamati keduanya berdiskusi, akhirnya menyerukan pertanyaan yang selama ini terus berputar dalam benaknya. Dan ia merasakan firasat yang kurang baik untuk saat ini.
Baik Kyuhyun maupun Kibum menolehkan atensinya pada gadis itu. Keduanya saling melempar pandangan sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.
"Dengar baik-baik, Ra –ya." Kyuhyun mencengkeram pelan kedua bahu Hyura, iris hazelnya menatap Hyura dalam.
"Aku dan Kibum sedang dalam sebuah misi yang mungkin berbahaya. Seseorang tengah mengincar nyawa Donghyun dan kami tengah menyelidiki hal ini." Kyuhyun berkata pelan dengan penuh penekanan berharap gadis di depannya segera memahami pesan yang ia sampaikan.
"Dan kami rasa kau tak perlu ikut lebih jauh. Banyak hal terjadi di luar ekspektasi." Kali ini Kibum menyuarakan suara hatinya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya terhadap gadis di hadapannya. Sementara Kyuhyun persisten menatap Hyura dalam. Keduanya berharap gadis itu segera memahami situasi yang terjadi.
"Apa? Mana mungkin aku diam saja, biarkan aku ikut kalian, arasseo?"Hyura memberikan pandangan memohon. Dialihkan pandangannya bergantian antara Kyuhyun dan Kibum. Hyura merasakan tanggungjawab sama dengan mereka. Nyawa seorang bocah tak berdosa tengah terancam, mana bisa ia hanya berdiam diri?
"Dengar. Aku janji tak akan mengganggu kalian. Aku hanya merasa, aku harus menyelamatkan bocah itu. Ini adalah rasa kemanusiaan." Hyura kembali menegaskan.
Kyuhyun menghela nafasnya berat. "Arasseo.Kita tak punya banyak waktu." Tangannya bergerak membuka zipperransel hitamnya dan memasukkan miniatur Yaiba milik Donghyun ke dalamnya.
Hyura tersenyum puas mendengarnya. Ia tak menyadari, senyuman singkatnya itu cukup memberi efek yang berarti bagi kerja jantung Kyuhyun.
Deg.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. 'Aish, pabbo! Bukan saatnya memikirkan hal seperti ini, Cho Kyuhyun~'Ia berujar dalam benaknya sendiri. Berusaha menetralkan detak jantungnya yang bekerja semakin cepat.
Langkah ketiganya berhenti tepat di depan tiang besi setinggi dua meter yang berada di persimpangan jalan. Cermin cembung dengan diameter tiga puluh sentimeter terletak diujung atasnya.
"Disini. Ya, disini aku melihat bocah itu, Kyu~" Hyura terlihat yakin setelah memastikan lokasi yang ada sama dengan rekaman dalam handycam-nya.
Pandangan Kyuhyun dan Kibum sudah sibuk mengamati cermin di depannya. Mereka mendongak, melempar pandangan serius. Mencoba menemukan petunjuk yang bisa mengarahkannya pada benang merah kasus yang tengah mereka hadapi. Melalui cermin itu mungkin mereka bisa menemukan petunjuk yang menuntunnya pada posisi keberadaan Donghyun saat ini.
"Ah, patta!Kibum –ah, kau melihatnya?" Kyuhyun mulai mengukir smirkandalannya di wajah tampannya. Pertanda ia menemukan hal yang menjadi benang merah dalam kasus yang tengah dihadapinya.
Kibum membalasnya dengan smirkyang tak kalah berbahaya. Hei, lihatlah! Ini sungguh momen yang sangat langka. Si kembar Cho yang tak pernah terlihat akur itu, saling melemparkan senyum miring yang bahkan dalam kesehariannya tak pernah saling menatap. Ini satu-satunya hal yang mungkin bisa dikatakan sebagai persamaan diantara keduanya. Percayalah, gadis-gadis diluar sana akan menunjukkan reaksi over-nya ketika menyaksikan momen langka ini. Well, that's so ridiculous!
"Apa yang kalian temukan?" mata Hyura menyiratkan rasa penasaran yang tinggi.
"Cermin ini memantulkan refleksi area persimpangan ini." Kibum memulai penjelasannya. "Kau lihat? Bayangan yang terpantul dalam cermin adalah sisi jendela dari bangunan di seberang jalan." Tangan Kibum mengarah pada bangunan tiga lantai di seberangnya.
"Aku yakin, Donghyun pasti melihat bayangan seseorang yang mungkin ia kenal, berdiri di jendela itu."
"Bagaimana kau tahu, Kyu?" Hyura mengerutkan keningnya bingung.
"Bukankah tadi kau melihat Donghyun melambaikan tangannya ke arah cermin?" Kyuhyun menolehkan atensinya pada gadis disampingnya. "Ah, aku mengerti." Hyura menganggukkan kepalanya kecil sebagai respon. Ia mulai paham sekarang.
"Tunggu apalagi? Kita harus memastikannya, 'kan?" Hyura bergegas membawa kedua kakinya melangkah menyeberangi jalan di depannya, menuju bangunan tiga lantai yang menjulang. Disusul dua pemuda tampan yang mengikuti langkahnya di belakang.
Ketika langkahnya mencapai pelataran bangunan kosong itu, Hyura menundukkan kepalanya. Ia melihat sebuah beany hatabu-abu tergeletak di depan kakinya. Sebelah tangannya yang bebas beralih mengambil benda tersebut.
"Tidak salah lagi. Ini milik Donghyun." Hyura menunjukkannya pada Kyuhyun dan Kibum. Kedua saudara kembar itu kembali menganggukkan kepalanya bersamaan. Dengan langkah mantap, mereka tak ragu memasuki bangunan tersebut. Mencoba menepis firasat buruk dalam benak masing-masing.
'Semoga kami belum terlambat..'
Langkah kaki pelan terdengar saat Kyuhyun, Kibum dan Hyura mulai menginjakkan kakinya di lantai dasar bangunan dengan pencahayaan minim. Gesekan antara sepatu yang mereka kenakan dengan lantai lembab dibawahnya menjadi ritme yang mengiringi langkah. Mereka memicingkan matanya berusaha menyesuaikan pandangannya. Terjadi kontras pencahayaan yang jelas di dalam dan luar bangunan.
"Ruangannya terlalu banyak. Belum lagi dua lantai diatas. Sebaiknya kita berpencar dari sini. Aku rasa bangunan ini tidak akan bertahan lama. Kau lihat papan di depan tadi? Bangunan ini akan dihancurkan pukul empat sore ini." Kyuhyun melirik Kibum disampingnya.
"Itu berarti dua puluh menit dari sekarang." Terang kibum setelah melirik arloji di tangan kirinya.
"Arasseo.Hyura -ya, aku mengandalkanmu. Aku dan Kibum akan memeriksa lantai dua dan tiga, sementara kau periksalah lantai dasar ini. Gwencahana?"
Hyura menganggukkan kepalanya singkat sebagai respon instruksi dari Kyuhyun. Tak ingin membuang waktu, ketiganya bergegas untuk berpencar. Nyawa bocah tak berdosa kini ada di tangan mereka. Mereka tak ingin melewatkan celah sedikitpun. Sembari merapalkan doa dalam hati, ketiganya melangkahkan kakinya. 'God bless me.'
Tak lama setelah ketiganya memisahkan diri, suara teriakan Hyura terdengar, menggema di seluruh penjuru bangunan.
"KYAAAAAA!"
To be continued~
What' on your mind?
Just say it on the review box.
Thank you, everyone!
Ah, one more thing. Special thanks to :
CieLavi . XxStarTimeZhafirxX . Nako . Hikaru . Jessi
Yang sudah meluangkan waktunya untuk sekedar menuangkan pikirannya di kotak review pada chapter 1. Maaf sebelumnya, ini pertama kali aku publish di FFN dan belum paham tentang rule disini. Karena story ini terinspirasi dari D. Conan series, aku kira masuknya kategori Detective Conan, ternyata Screenplays. Makasih atas koreksinya ;) *hug*
With love, Little Evil :]
