BIRTHDAY CAKE (YOUR GUARDIAN)
Chapter 2
Dear lovely Readers,
Terimakasih telah menyempatkan waktunya untuk membaca ini. FF ini semata-mata dibuat karena saya kangen banget sama Hunhan moment. Semoga ini bisa menggantikan rasa kangen kalian juga ya! Storyline murni dari isi pikiran saya. Cerita ini akan saya buat alur timeline, dengan setiap jeda waktunya tetapi mungkin hanya terjadi pada awal chapter saja. Chapter 1 dan 2 mungkin belum terlalu fokus untuk Hunhan, tapi saya sarankan untuk mengikuti dari chapter 1, karena jika tidak, cerita yang kalian dapatkan tidak akan utuh :) Sekali lagi, enjoy ya! Selamat berpetualang di ruang imajinasi~
MAIN CAST Sehun x Luhan
This is yaoi story, so beware
Genre Angst, Romance, Fluff, Family
April 2006
Angin berhembus kencang kala itu, Luhan mendekap erat tubuhnya mungilnya. Kakinya berhenti di depan teras rumah, ada sesuatu yang mengganjalnya. Apa ya? Ada yang ketinggalan kah? Dia menoleh ke belakang dan mendapati pintu rumah sudah terbuka. Hembusan angin semakin kencang masuk melalui celah-celah kayu tipis. Luhan bergidik, "Luhan!" Ibunya terdengar memanggil dari dalam rumah. Keluarlah sesosok wanita paruh baya berambut lurus berwarna hitam legam. Matanya agak memicing dengan bola mata yang besar, hidungnya bertengger mancung pada pusat wajahnya. Ini bukan Ibunya, melainkan Ibu tirinya yang sudah dinikahi secara resmi tiga tahun lalu oleh Ayahnya.
"Ya Ma?" jawab Luhan.
"Pulang jam berapa sayang?" Kalimatnya manis, semanis madu.
"Seperti biasa, jam 5 sore" Wanita itu menganggukan kepalanya sedikit dan berlenggang masuk ke dalam rumah. Dilihatnya ayahnya sedang berdiri di belakangnya, Ibu Tirinya mengecup pipi Ayahnya dan mengatakan dengan suara yang hampir tidak bisa didengar oleh Luhan, tapi dia masih dapat mendengarnya walau sayup-sayup, "Dia akan pulang jam 5 sore, maaf aku lupa. Hari ini aku akan belikan dia kue ulang tahun" Tidak! Dia ingin mengatakan tidak. Tidak usah! Tapi bibirnya terasa kelu dan akhirnya luhan membalikkan tubuhnya menuju jalan setapak.
"Luhan ah?" Ayahnya memanggil di belakangnya. Sekali lagi Luhan menoleh. "Selamat ulang tahun yang ke enam belas" ucapan itu disambut dengan senyuman khas Ayahnya, bagian kanannya agak sedikit dimiringkan ke atas dan matanya berbinar. Luhan percaya kali ini Ayahnya tulus.
"Iya Pa" Ayahnya meremas bahunya erat, dari sorot matanya sepertinya ada sesuatu yang ingin diutarakan tetapi tertahan di hatinya. Sudah lama sekali mereka hanya berjalan di tempat, tidak sama-sama bergandengan tangan lalu berlari. Hubungannya dengan ayahnya stagnant, diam di tempat. Sampai sekarang, Luhan pun tidak tahu kenapa Ibunya harus meninggalkan Ayah atau sebaliknya. Atau begitulah memang sebuah takdir hidup, kau tidak akan berhenti bertanya, kenapa, kenapa sampai benar-benar tahu alasannya. Ada baiknya jika jalani saja dan syukuri waktu yang tersisa. Luhan terlihat mengangguk pelan, Ayahnya tidak menangkap gerakan ini.
Tidak lama tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di depan mereka, sang pengendara turun dari motor dan langsung menatap Luhan. "Apa benar ini rumah Luhan? Anak dari bapak Yixing?" Keduanya mengangguk. Sang pengendara yang ternyata adalah anak laki-laki itu pun mengambil sebuh kotak dari motornya. "Ini ada titipan dari Ibu Minri, silahkan dibuka" kedua ayah dan anak itu kaget dan hanya bisa tertegun menatap kotak yang sekarang di genggam Luhan. Bau coklat merebak di udara. Saking kagetnya mereka tidak sadar bahwa sang pengantar sudah memacu motornya kembali dan pergi. Tangan Ayahnya gemetar ketika membuka penutup kotak tersebut.
Luhan mengambil sebuah kertas yang tertempel disana, di bacanya dengan baik-baik. "Untuk anak Eomma Tersayang. Luhan yang Tampan. Selamat Ulang tahun yang ke-16 –Seo Minri" Matanya membelalak kaget. Ibu? Ini dari Ibunya? Ibunya yang menghilang begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal? Ibu kandungnya yang tidak ada sedetik pun Luhan tidak memikirkannya? Ini ibunya?! Bagaimana bisa tiba-tiba hanya datang dengan sebuah kue?! Kemana dia?!
Pertanyaan itu akhirnya pergi bersama aliran air mata yang telah membasahi pipinya. Jemarinya erat menggenggam secarik kertas itu. Lututnya menyerah, dan akhirnya ia jatuh ke tanah dengan memegang kue. Hati Luhan sangat lembut, aku tidak sampai hati memberi tahu padanya…
Sehun memarkirkan motornya di bawah naungan sebuah pohon, dari sini dia masih bisa melihat kedua orang itu tertegun memandang sebuah kue coklat. Dia menggelengkan kepalanya ketika melihat anak yang bernama Luhan itu jatuh ke tanah dan menangis "Mana ada anak laki-laki cengeng seperti itu? Eomma pasti senang sekali kalau melihatku menangis dan merengek seperti itu" sehun tertawa pelan. Tiba-tiba handphonenya berdering di dalam saku. Dia menatap layar yang menyala dan mendapati itu adalah ibunya. "Yes Mom? Tugas udah beres, sekarang aku berangkat ke sekolah"
"Se-sehn..sehun ah…." Isakan terdengar dari sebrang sana, napas Sehun tercekat.
"Eomma kenapa? Ada masalah apa? Sekarang dimana?"
"Tante Min..ri, tante Minri…." Isakan itu semakin besar dan Sehun yakin Ibunya pasti sudah dalam keadaan yang sangat kacau. Jemarinya menggenggam erat handphone tersebut hingga kukunya memutih. Pandangannya teralihkan pada sosok Luhan yang kini masih berlutut dan menangis, ayahnya berdiri kaku di sebelahnya dan sesekali menepuk bahunya. Mudah-mudahan bukan berita itu yang akan kudengar, "Tante Min..rin. Minrin meninggal…." Ibunya menambahkan. Tiba-tiba hati Sehun sakit, perih, hancur. Matanya masih menatap lekat Luhan. Air mata pun tergenang di pelupuknya secara tiba-tiba.
April 2010
Luhan pernah membaca sebuah buku yang membahas tentang jeda dalam hidup. Jeda, spasi atau semacamnya. Mungkin masih banyak yang belum mengetahui bahwa jeda atau spasi ini sangat penting keberadaanya. Bayangkan saja jika kita sedang menulis atau mengetik tanpa menggunakan spasi. Kita tidak akan mengerti artinya, atau mungkin saja kita mengerti artinya tapi kemudian itu menjadi hambar, tidak bisa dinikmati karena terlalu rapat susunan katanya. Mungkin saja tulisan ini tidak akan menjadi kalimat yang berarti tanpa spasi. Spasi dibuat agar kumpulan kata-kata ini mengandung arti,agar kamu mengerti yang aku sampaikan. Jika tidak ada spasi, kamu pasti akan kepusingan membacanya.
Tidak hanya dalam pembuatan kalimat spasi digunakan. Tetapi dalam hidup juga, mungkin bisa dikatakan sebagai jeda. Jeda dalam hidup, Luhan yakini sama dengan spasi pada kalimat. Jeda dibuat agar kita mengerti filosofisnya, makna dan isi dari hidup, sama seperti dalam sebuah kalimat. Empat tahun kebelakang adalah jeda terpanjang dalam hidupnya. Jauh dari hiruk-pikuk yang bernama kebahagian masa remaja, tapi luhan disana memahami bahwa jeda yang dibuatkan Tuhan padanya adalah sesuatu yang mengandung arti. Pasti mengandung arti.
Setelah mengetahui Ibunya sudah tiada, Luhan tak berhenti menyesali dirinya. Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku akan menjadi anak yang baik untuk Ibu, how selfish I am. Kamu tahu kan meminta waktu kembali itu adalah bentuk dari keegoisan manusia, bersyukur adalah satu resep penting dalam dapur kehidupan. Dan ketika Luhan meminta itu, dia mencoba menguatkan, bahwa tidak ada yang terpenting sekarang adalah mendoakan Ibunya.
Jemarinya menyentuh sebuah rak kaca di depannya, terpampang lah disana foto seorang Seo Minri sewaktu muda, tersenyum bahagia tanpa jejak kepedihan. Disebelah foto ada sebuah guci kecil yang berisi abunya, jasadnya yang telah dikremasi. Dan di tengah-tengah kedua benda tersebut adalah sebuah liontin berbentuk hati yang didalamnya terdapat sebuah foto seorang laki-laki yang menggendong seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu botak, giginya tidak rapi karena terlalu sering makan coklat. Anak laki-laki itu adalah Luhan dan laki-laki yang menggendong adalah Ayahnya. Luhan tersenyum kecil.
"Ibu, besok aku kembali ke asrama. Tapi besok sebelum berangkat, aku pasti menunggu kue dari Ibu" Luhan sekali lagi mengelus pelan rak kaca didepannya. "Ayah sedang ada masalah dengan Eomma Eunjung. Eomma Eunjung meminjam hutang pada seorang rentenir dan sekarang kami sedang terseok-seok membayarnya" Luhan tertawa kecil, entah miris atau sedih, bahkan dia tidak bisa membedakannya. "Sebenarnya Ayah menyuruhku untung tidak pulang, karena keadaan rumah sedang kacau. Rentenir itu sering bolak-balik ke rumah, kadang mengambil beberapa barang. Tapi aku mulai tidak mendengarkannya lagi, setelah dia menahanku menjadi pemain sepak bola, aku sudah tidak ingin mendengarkannya lagi. Iya, Ibu pasti kesal mendengarku membantah Ayah. Tapi ini kulakukan agar bisa mendapatkan kue itu" Luhan tertawa renyah, kali ini tertawa sungguhan. Matanya membentuk bulan sabit dan terbentuk kerutan di sekitarnya.
Sudah empat tahun kue itu selalu datang di depan rumah Luhan tepat di hari ulang tahunnya, dengan rasa yang sama dan pengantar yang sama. Sosok anak laki-laki dengan perawakan tinggi kurus, yang kalau singgah di rumahnya tidak pernah melepaskan helm yang dikenakannya. Luhan sama sekali tidak tahu dari mana kue itu datang, dulu dia tidak penasaran karena yang selalu dia cari adalah kue bertabur coklat. Tapi entah perasaan apa ini, tapi kali ini dia harus mencari tahu. Mungkin mengucapkan kalimat terimakasih.
Luhan memberikan penghormatan pada Ibunya dengan membungkukkan sedikit punggungnya, menatap foto itu sekali lagi, Luhan pun melenggang pergi. Kepergian Luhan disambut dengan hembusan angin yang membuat anak laki-laki berambut coklat itu berhenti sejenak, menoleh ke belakang dan tiba-tiba saja bulu roma nya berdiri. Luhan menggigit bibir bawahnya dan melanjutkan langkahnya. Dia menaruh tangannya di dalam saku dan mengecangkan genggamannya pada tas punggungnya. Matanya hanya tertuju pada snekaers yang dikenakannya. Lalu langkahnya kemudian dipercepat dan akhirnya dia berlari, yang terakhir dia dengar adalah suara mesin motor yang mengerung di belakangnya, tetapi Luhan terlalu janggal untuk menoleh. Dia berlari dan terus berlari.
"Ibu, apakah kamu mendengarku?"
Pukul empat sore kala itu sepulang 'menjenguk' Ibu, ketika Luhan menengadahkan kepalanya ke langit, air hujan tumpah ke wajahnya. Ia berlari kecil, mencari tempat berteduh. Padahal beberapa meter lagi sampai ke depan rumahnya. Tapi anak laki-laki itu memilih berteduh karena sepertinya hujan tak ingin damai dengannya. Kemeja longgarnya yang tidak dikancing membuat pola sayap dibelakang punggungya, kakinya terus berlari.
Ia akhirnya berteduh dibawah naungan pohon di sisi jalan. Ternyata dari sini ia bisa melihat rumahnya di kejauhan, terlihat Ibu Tirinya sedang sibuk mengambil jemuran mereka dibawah derasnya hujan. Eomma Eunjung, begitu dia memanggilnya. Seorang wanita tegas, baik hati namun Luhan sama sekali tidak disentuh oleh kasih sayangnya.
Tangannya mengatup satu sama lain, lalu merasakan kehangatan disana. Bibirnya membiru, menahan dingin, dan salah satu penghangatan adalah dengan menggosokkan kedua telapak tangannya. Tubuhnya hampir lepek.
Luhan masih memerhatikan rumahnya, hingga tiba-tiba suara deru motor memecah konsentrasinya. Motor itu parkir di sisi jalan dan sang pengendara melesat dari motor dan berteduh di sampingnya. Ia tidak mengenakan jaket hanya sehelai kaos hitam tipis yang membalut kulitnya. Namun, sang pengendara berlari kembali ke arah motor dan mengambil sebuah kotak dari sana. Luhan merasa familiar.
"Ah sial, basah tidak ya?" gumamnya. Luhan mendelik, melihat sosok itu dari melalui poninya yang basah. Sosok disebelahnya sepertinya tidak menyadari keberadaan Luhan karena terlalu sibuk melihat kondisi kotak itu. Tiba-tiba bau coklat merebak di udara, bau ini aku kenal
Luhan melangkahkan kakinya mendekati sosok pengendara itu. Tangan mungilnya menyentuh bahu bidang itu. Si pengendara terlonjak keget, hampir saja jatuh terjerembab ke tanah.
"Ya! Aduh bikin kaget aja!" serunya. Luhan menjauhkan tangannya dari si pengendara. Luhan meneliti mata dibalik helm tersebut. Seperti meyakinkan bahwa dia mengenal sosok ini selama empat tahun lalu.
