"Ayo, kita makan malam bersama." Jimin menarik lengan Yoongi menjauh dari balkon yang sekarang mereka tapaki. Yoongi ingin memberontak tapi apa daya dirinya yang terlalu rapuh untuk menolak ajakan dari pria gila, sekaligus bejat ini. Atau sebut saja, pemuda bajingan yang baru saja ia kenal di malam ini. Sejujurnya ia tidak pernah dekat dengan pria sampai seperti ini, kecuali ayahnya sendiri yang selalu bersamanya.
Kadang Yoongi butuh sesosok pria yang seperti ayahnya yang mampu menemaninya seumur hidupnya. Ia tidak tahu bagaimana kalau dia hidup tanpa ayahnya.
"Kapan?" tanya Yoongi disela – sela genggaman tangan Jimin yang erat hingga tubuhnya bergetar, karena lelaki dingin itu menggengamnya dengan erat. Dan, perlu tahu, bahwa Yoongi menyukai itu.
"Sekarang." Ujar Jimin tegas, mengajak Yoongi hingga lorong.
Jimin mengajak Yoongi ke tempat yang belum tersentuh para undangan. Sebenarnya ia membuat acara ini, tapi ia tidak mengikutinya. Begitulah sifat Jimin sebenarnya, meski belum terkuak semuanya.
Ia membuka pintu besar yang di dalamnya sudah dihidangkan beberapa masakan mahal yang diyakini oleh Yoongi. Ia ingin membuka mulutnya karena kemegahan ruangan ini, tembok marmer berwarna emas, karpet mahal yang ia tapaki sekarang. Benar – benar membuat dirinya terpana. Sebegitu kaya—kah pemuda di depannya ini.
Dan, tidak lupa dengan lukisan kupu – kupu besar di ujung ruangan.
Meski temaram, tapi Yoongi menyukai suasananya, seperti menenangkan hati. "Buka gordennya," ujar Jimin pada pelayannya.
Benar – benar membuat Yoongi terpana dibuatnya, kemegahan, keindahan menjadi satu, pula langit malam kota New York baru saja ia lihat dari atas sini. Sangat megah, hingga Yoongi tak berhenti melihatnya. Yoongi menyukainya. "Aku tahu, kau akan menyukainya."
Yoongi terkekeh.
"Ayo." Jimin menarik tangannya lembut, membawanya ke meja makan, menarik kursi, lalu membiarkan Yoongi duduk duluan. Benar – benar membuat hati Yoongi menjadi istimewa dibuatnya.
"Kenapa kupu – kupu?" Yoongi menanyakan lukisan di ujung ruangan indah nan megah ini.
"Mungkin, karena kupu – kupu merupakan lambang metamorfosa yang sempurna—"
"—seperti dirimu." Yoongi malu dibuatnya. Pipinya seperti kepiting rebus.
"Aku tidak pernah mengatakan diriku sempurna, seperti katamu." Ucap Yoongi pelan, sambil menyuapi stik daging sapi yang di panggang setengah matang.
"Tapi—baru saja aku mengatakan padamu, Yoongi."
"—kau tidak bisa mengelak dari itu." Jimin tersenyum hangat hingga membuat tubuh Yoongi bergetar sambil menegukkan anggur ke tenggorokan keringnya.
"Apa setiap orang kau panggil seperti itu, Jim?" Yoongi memancing. Mencari tahu lebih dalam apa yang akan Jimin jawab atas pertanyaannya.
"Aku tidak terpancing atas pertanyaan seperti itu, Yoongi." Seringai Jimin kembali menajam, sambil menatap mata Yoongi dalam tanpa berkedip. Hingga Yoongi lagi – lagi harus meminum anggurnya.
"Baiklah," ujar Yoongi memutar bola matanya.
Jimin bangkit dari tempatnya, berjalan ke arah Yoongi bersama dengan tatapan yang mengintimidasinya. Bisa – bisanya ia masuk ke kandang singa tanpa penjagaan yang ketat.
"Aku tak suka seseorang memutar bola matanya di depanku." Yoongi mendengus kasar, menatap Jimin berani, meski dirinya menciut di dalam hati. Ia tidak pernah sekali – kali menatap seseorang seberani ini.
"Kau cantik." Jimin menyeringai mengelus pipi Yoongi dengan napas kasar di sekitar lehernya.
Ia mengecupnya lagi.
Ia. Mengecup. Bibirnya. Lagi.
Lalu, Jimin mulai menyesapnya dalam, bertautan. Mereka melakukan ciuman panas, yang dibalas oleh Yoongi. Bibir mereka bertautan tanpa memikirkan waktu yang sudah terkikis, dan juga paru – paru mereka yang mengemis oksigen. Sekali lagi, Yoongi belum pernah bercumbu panas kecuali dengan ayahnya. Ini baru pertama kalinya ia bercumbu panas dengan orang lain, selain ayahnya yang tampan itu. Tapi ia membencinya.
Hanya bercumbu, tidak lebih.
Cumbuan antara ayah dan anak, tidak lebih. Sayang.
"Jim—" Yoongi mendesah, menjambak rambut Jimin. Jujur, dada Yoongi sudah naik turun meminta oksigen. Tenggorokannya panas, hingga ia tidak bisa bernapas.
"Maaf, sayang." Jimin tersenyum, mengecup lembut lagi bibir merah yang sudah membengkak itu. Dan mata sayu yang menatapnya seperti orang kelaparan.
"Jim..." Yoongi terkikik karena kelakuannya baru saja. Ia baru saja mencium seseorang yang baru ia kenal. Bukan. Mencumbunya dengan panas.
Tautan mereka benar – benar panas, hingga tidak ada siapa pun berani menginterupsinya.
Kaki Yoongi tidak bisa berjalan dengan baik, tubuhnya seperti jeli. Tidak bisa berjalan dengan tegap tidak seperti di runway.
"Pelan – pelan, Yoon." Jimin merengkuk tubuh ringkih Yoongi yang dilihatnya benar – benar rapuh. Kecil. Kurus, hingga membuat dia meringis dilihatnya.
"Sehari kau makan berapa kali?" Jimin bertanya pada lelaki rapuh di depannya.
Yoongi menggedikan bahunya.
"Aku tahu kau kelaparan Yoon," kata Jimin menelisik matanya.
"Jim, aku baru saja memakan beberapa suap daging."
"Kau sedari tadi hanya meminum anggurmu, Yoon. Kau gila, apa dengan tubuh seperti ini kau bisa bertahan hidup?"
"Buktinya, aku masih hidup, Jim." Yoongi berdiri menatap lelaki di depannya. Bagaimana tidak membuat dirinya bertanya – tanya. Tadi dia berubah menjadi binatang buas yang siap menerkamnya kapan saja, dan sekarang ia berubah menjadi pria khawatir, yang menurut Yoongi berkelakuan manis.
"Jangan terlalu baik kepadaku, Jim."
"Aku tidak baik, aku bajingan."
"Buktinya?" Yoongi menarik diri dari genggaman tangan Jimin lalu, berjalan menatap kota dari jendela.
"Aku bercumbu denganmu, tanpa izinmu." Yoongi terkekeh. Alasan klise.
"Lalu, maumu?" tanya Yoongi tak menatap Jimin lagi.
Apa yang harus ia lakukan dengan diri terkunci di ruangan semegah ini bersama Jimin, si pemuda yang memiliki suasana hati tidak bisa ditebak olehnya. Ia tidak pernah merasa sebingung ini, sejauh ini bersama pria.
"Menolongmu, mungkin."—"ya, mungkin." Lanjut Jimin.
"Tidak ada yang bisa menolongku sejauh ini, Jim." Lirih Yoongi dalam tatapan kosong keluar jendela menatap langit gemerlap kota New York, yang tidak segemerlap dirinya.
