YOU ARE THE APPLE OF MY EYE
Remake Novel of Giddens Ko
.
CHANBAEK – GS FOR UKE
ANOTHER CAST
Author hanya me-remake dengan mengganti pemeran, latar, dan lain-lain. Tetapi cerita tetap berdasarkan pada novel aslinya.
.
.
Summary
Kau sangat kekanak-kanakan – Byun Baekhyun
Sedikit pun kau tidak berubah, nenek yang keras kepala – Park Chanyeol
Semua berawal saat Park Chanyeol, seorang siswi pembuat onar, dipindahkan untuk duduk di depan Byun Baekhyun, supaya gadis murid teladan itu bisa mengawasinya. Park Chanyeol merasa Byun Baekhyun sangat membosankan seperti ibu-ibu, juga menyebalkan. Apalagi, gadis itu selalu suka menusuk punggungnya saat ia ingin tidur di kelas dengan pulpen hingga baju seragamnya jadi penuh bercak tinta. Namun, perlahan Park Chanyeol menyadari, kalau Byun Baekhyun adalah seorang gadis yang sangat spesial untuknya.
Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu.
.
.
Chapter 2
Bagaimana rasanya duduk di depan Byun Baekhyun?
Sangat konvensional, seperti rumusan ke-72 dari 99 macam rumusan novel kisah cinta. Byun Baekhyun sangat pandai, sedangkan aku adalah siswa pembuat onar dengan nilai yang menyedihkan.
Nilai matematika-ku sangat rendah karena aku tidak mengerti konsep dasar dari penjumlahan dan pengurangan terhadap faktorisasi atau dekomposisi? Sungguh kebetulan, aku tidak pernah lulus ujian Matematika. Bahkan, nilai tertinggi yang kudapat dalam ujian matematika adalah 50. Sangat memalukan! Selain Matematika, pelajaran yang harus menggunakan otak, yang tak lain dan tak bukan yaitu Fisika dan Kimia, juga membuatku tertekan. Jika ada perubahan kecil dalam soal, habis sudah diriku.
Dalam satu angkatan terdapat sekitar 500 siswa dan namaku berada di urutan ke-400 sekian. Aku tak begitu buruk, bukan? Karena masih ada murid lainnya yang berada di peringkat setelah diriku.
Namun ketika di kelas seni, aku sangat serius belajar karena aku ingin menjadi seorang komikus. Entah di jam pelajaran atau jam istirahat, aku akan menggambar di bagian kosong buku PR. Aku sama sekali tak peduli dengan nilaiku. Tidak peduli, sangat tidak peduli...
Kembali ke pertanyaan tadi. Bagaimana rasanya duduk di depan Byun Baekhyun?
Harus aku akui... rasanya malu, tertekan, dan sangat tidak nyaman.
"Park Chanyeol, apa kau tidak merasa kalau ribut di saat pelajaran adalah sesuatu yang kekanak-kanakan?" Byun Baekhyun mengatakannya pelan-pelan dari belakangku.
"Bagaimana ya.. tapi, setiap orang memiliki caranya sendiri ketika berada di dalam kelas." Aku menjawab sembarangan sambil tersenyum.
"Jadi, kau memilih cara yang paling kekanak-kanakan seperti itu?" Ucapan Byun Baekhyun tidak terkesan menyalahkan, hanya terdengar dewasa.
Aku mengupil dengan pahit, sambil melihat rambut panjangnya yang tergerai rapi.
"Kurasa kau bisa menghabiskan waktumu untuk hal yang lebih berguna." Byun Baekhyun menatap mataku.
Aku mengeluarkan jariku dari lubang hidung, merasa kecil mendengar pernyataan itu.
Brengsek!
Jika ia bertanya padaku "Mengapa kau selalu melanggar peraturan?", aku bisa menjawabnya sambil tertawa "Aku ini nakal, cukup nakal, tapi apa urusannya denganmu?".
Byun Baekhyun juga bisa menyalahkan dan memarahiku, lalu menyuruhku untuk mematuhi aturan dan jangan sampai membuatnya terlibat dalam masalah. Dengan begitu, aku bisa membalasnya "Apa pedulimu kalau aku mati? Nilaimu kan sangat bagus!"
Namun, Byun Baekhyun sengaja menggunakan kata "kekanak-kanakan".
Murid dengan prestasi baik ada di mana-mana. Namun menurutku, Byun Baekhyun adalah perempuan yang baik, seorang perempuan dewasa dengan kata-katanya yang dapat menaklukanku.
Menaklukanku.
Aku merasa berada dalam situasi yang aneh. Nama lain yang sering muncul dalam daftar hitam, seperti Chen, Kai, dan yang lainnya terus membuat keonaran ketika pelajaran dan di waktu yang sama membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Namun aku, setiap kali ingin melontarkan sebuah lelucon, orang yang di belakangku malah mengeluarkan kata "kekanak-kanakan". Karena itu, aku lebih baik diam dan menundukkan kepala.
Aku menolehkan kepala, hanya untuk mendapati mata Byun Baekhyun yang jernih menatapku tanpa malu.
"Hei, tenanglah. Kalau aku terus-menerus membuat keributan di kelas, Guru Kim pasti akan memindahkanku lagi sehingga kau tak perlu repot!" Aku cemberut, sedikit tersinggung.
"Sebenarnya kau pintar. Kalau kau mau belajar dengan tekun, nilaimu pasti meningkat pesat," bisik Byun Baekhyun padaku.
Jawaban yang tidak relevan.
"Huh, bukankah itu hanya omong kosong? Meskipun aku sangat pintar, tapi aku takut menghadapi kepintaranku sendiri." Aku kembali menjawab.
"Kalau begitu, pergunakan kepintaranmu sebaik-baiknya. Ingat, biaya sekolah sangat mahal!" Byun Baekhyun mulai terdengar seperti ibu-ibu.
Beginilah obrolan kami, topiknya sekolah menjadi "aku harus mengubah hidupku".
.
.
Setiap pagi, aku bersepeda ke sekolah. Sampai di sekolah, aku kelelahan dan mataku mengantuk. Kulihat Byun Baekhyun sudah duduk di kelas mengulang pelajaran. Aku meletakkan bekal di laci, setelah itu aku segera meletakkan tangan di atas meja, dan tidur. Namun, Byun Baekhyun menusukkan pulpen ke punggungku. Aku bangun dan menolehkan kepala untuk berbicara dengannya.
"Park Chanyeol, kau tahu tidak, kemarin ada seekor anjing liar datang ke rumahku, namanya si Putih..."
"Si Putih? bagaimana mungkin seekor anjing liar bisa memiliki nama?"
"Tentu saja kami yang menamainya. Kau tahu tidak, si Putih sangat bersih. Kemarin adikku memberinya makanan, lalu dia menggoyangkan ekornya..."
"Anjing pintar. Kalau kau suka, kenapa tidak memeliharanya saja? Anjing itu sudah bernama, jadi bukan anjing liar lagi."
"Tidak bisa, kami tidak boleh memelihara anjing di rumah."
"Kau tega sekali. Bukankah dengan memberinya nama berarti kau adalah pemiliknya?"
"... pikiranmu ini sungguh kekanak-kanakan."
Sebelum pukul 07.30, Byun Baekhyun selalu menceritakan kepadaku hal-hal yang terjadi di rumahnya kemarin. Entah masalah besar atay kecil, Byun Baekhyun akan menceritakannya dengan riang.
Ia suka menceritakan hal kecil yang terjadi dalam kehidupannya. Ternyata, orang yang rajin belajar dan suka sok tua sepertinya juga senang membicarakan hal-hal sepele. Aku berpura-pura tampak tertarik, dan Byun Baekhyun akan semakin bersemangat menceritakan hal seperti ini padaku.
Dalam hati, muncul perasaan aneh. Dilihat dari sisi manapun, murid pintar seperti Byun Baekhyun sebenarnya tidak ada bedanya denganku. Ia seperti murid nakal yang bisa datang lebih awal dan tidak terlambat. Benar-benar menggelikan. Akhirnya, sebelum pelajaran dimulai, aku dan Byun Baekhyun mengobrol tentang banyak hal. Mengobrol dengan murid teladan ada untungnya juga hehehe.
.
.
Tak peduli sekarang atau dulu, nilai adalah hal penting yang menjadi tolak ukur seorang guru terhadap muridnya.
Seorang murid, meskipun berbakat (menggambar, musik, karate, menembakkan karet gelangm dan lain-lain), kalau nilai pelajarannya tidak cukup bagus, akan dianggap "tidak bertanggungjawab", juga dianggap "pembangkang". Sebaliknya, seorang murid yang memiliki nilai baik, walaupun hanya menonjol dalam satu bidang studi tretentu, sudah dianggap gurunya "sangat hebat, bahkan yang ini pun bisa!". Hal itu menjadi sesuatu yang berharga.
Tak terkecuali sekolahku.
Sekolah kami membuat suatu daftar yang disebut "daftar merah" sebagai penghargaan terhadap hasil ujian. Enam puluh siswa dengan nilai terbaik dari satu sekolah bisa masuk ke daftar merah ini. Nama beberapa orang ini akan ditulis dengan menggunakan huruf kaligrafi di selembar kertas merah besar, lalu ditempel di papan pengumuman sekolah. "Kali ini, kau kurang berapa poin untuk masuk ke daftar merah?" menjadi pertanyaan antarteman sekolah.
Setiap siswa yang masuk daftar merah menjadi semacam kekuatan bagi kelasnya, juga menjadi maskot kelas. Guru Kim tersenyum senang karena jumlah siswa di kelas kami yang menempati daftar merah sangat banyak. Guru bidang studi lain pun merasa bangga.
"Kalau kali ini yang masuk daftar merah bisa meraih peringkat satu dari angkatan, aku akan mengajak kalian bermain ke Guinsa saat liburan." Guru Lay mengumumkan. Seisi kelas bergemuruh senang.
Daftar merah ya... ibarat kentut buatku.
Meskipun tak berhubungan denganku, tetapi yang kupelajari dengan serius adalah bakat kesenian. Seni adalah kata sifat abstrak. Sementara kelas berbakat adalah kata benda. Kelas kami memiliki banyak murid yang tekun belajar. Setiap kali selesai ujian, kelas kami selalu masuk peringkat ketiga pada daftar merah di setiap tahunnya. Keran itu, tak aneh jika kami ingin menjadi peringkat pertama.
"Masuk daftar merah, ya... Numpang tanya, Byun Baekhyun yang berprestasi baik, apakah Anda pernah dihapus dari daftar merah?" Aku mengambil pulpen, menjadikannya mikrofon, lalu menyodorkan ke depan Byun Baekhyun.
"Jangan terlalu kekanak-kanakan, oke?"
Prestasi Byun Baekhyun sangat baik. Ia selalu menjadi sepuluh besar di sekolah.
"Huh, kau ini cerewet sekali! Setiap hari kau menghabiskan waktu berapa jam untuk belajar?" ejekku.
"Park Chanyeol, kalau kau belajar serius setiap hari, kau juga pasti bisa masuk daftar merah." Byun Baekhyun menatapku serius.
"Aku tahu, kok. Kalau aku pintar, aku bahkan bisa membuat diriku sendiri takut." Aku ttertawa, sedikitpun tidak merasa malu.
Kepercayaan diriku yang serampangan, benar-benar serampangan, adalah sebuah kesombongan alami.
.
.
Oh Sehun, alias Sehun, adalah teman baikku. Keluarganya sangat kaya. Setiap minggu, ia pasti membeli majalah anak muda terbaru, kemudian meminjamkannya padaku untuk dibaca di rumah agar kami bisa sama-sama membahas berita terbaru mengenai Dragon Ball. Namun, meskipun berteman akrab dengan Sehun, ia masih sulit memahami kepercayaan diriku yang berlebihan.
Sepulang sekolah, aku menemaninya menunggu bus sekolah sambil membaca majalah.
"Park Chanyeol, akhir-akhir ini kau sering mengobrol dengan Byun Baekhyun, ya?" Sehun duduk dibawah pohon, mendongak menatap langit.
"Hm," gumamku terus membaca majalah.
"Bukankah itu sangat aneh? Kalian mengobrol tentang apa?" Sehun terus memandang langit.
Ia selalu memandang langit, membuatku berpikir bahwa orang yang selalu memandang langit sedikit bodoh.
"Tentang apa saja." Aku mengerutkan dahiku, terus membaca majalah.
"Tapi nilainya kan sangat bagus, bagaimana mungkin dia memiliki hal yang bisa dibicarakan denganmu?" Sehun masih menatap langit, sepertinya lehernya tidak pernah merasakan sakit.
"Sehun." Aku mengupil sambil tetap membaca majalah.
"Kenapa?" Sehun dibingungkan dengan bentuk awan di langit.
"Aku ini orang yang spesial," ujarku sambil melihat kotoran hidung di jariku.
"Masa?" tanya Sehun sambil setengah melamun.
"Serius. Kadang keunikanku membuat diriku sendiri takut!" Aku menempelkan kotoran hidungku ke tas Sehun yang berwarna biru.
.
.
TBC!
.
.
Halo I am comeback nih! Hehe maafin ya kalo pendek. Kemarin aku liat visitors nya lumayan banyak, tapi review nya tidak berbanding lurus dengan yang mengunjungi ): Tapi thanks a lot untuk yang sudah review dichapter awal. Baru awal kok udah pada nanyain endingnya ya wkwkw :"). Terimakasih juga untuk yang sudah follow dan favorite story ini, makasih banyakk. Konflik mungkin belum kelihatan yaaa wkwk.
Untuk memberi kritik serta saran, silahkan review di kotak review hehehe. Don't be silent readers, guys! See you next chapter! chuu :*
Gomawo yeorobun (:
