BANGTAN ART UNIVERSITY

Taehyung melangkahkan kakinya menuju kelas dance. Mencari keberadaan seorang namja yang dari kemarin malam mengganggu tidurnya.

Ia menatap kedalam kelas tersebut namun namja yang ia cari tidak ia temukan.

"Omo! Lihatlah, ada Taehyung sunbae."

"Astaga, aku harus terlihat cantik."

"Dia benar-benar tampan."

"Kyaaa, dia tampan sekali."

Yeoja-yeoja yang ada di ruangan tersebut memekik kegirangan melihat Taehyung sedang berdiri di depan kelas mereka. Ini adalah kesempatan langka bisa melihat ketampanan namja itu dari dekat.

"Apa yang Taehyung sunbae lakukan disini?"

"Apa mungkin ia mencari Jungkook lagi."

"Ish, beruntung sekali namja itu."

Bisik-bisik itu terdengar dari mulut-mulut fans Kim Taehyung. Ya, seperti yang kalian ketahui seorang namja dengan ketampanan seperti Taehyung pasti memiliki segudang fans fanatic yang mengejar-ngejar dirinya. Berusaha merebut hati sang pangeran tampan. Ck, tentu saja itu tidak mungkin karena pada dasarnya hatinya hanya terpaut pada satu orang.

Taehyung melangkah pergi ketika tidak menemukan sosok yang ia cari.

Di ujung koridor nampak seorang namja pendek bername tag Park Jimin sedang berjalan kearahnya.

Mereka berdiri berhadapan.

"Apakah Jungkook baik-baik saja?" Tanya Taehyung to the point.

Jimin tidak menjawab pertanyaan yang Taehyung lontarkan. Ia hanya berjalan melalui Taehyung, sebelum akhirnya cengkraman Taehyung menghentikan langkahnya.

"Jawab aku Park Jimin!" Ujar Tae secara ketus.

"Bukan urusanmu, Kim Tae."

"Kehidupan Jungkook juga bukan urusanmu Park Jimin. Sekarang cukup jawab pertanyaanku atau lenganmu patah."

Cengkraman Taehyung pada lengan Jimin semakin menguat. Membuat Jimin mau tidak mau harus menjawab pertanyaan dari namja berkulit tan itu. Atau ia akan benar-benar kehilangan lengannya. Hey, Jimin sangat paham bahwa seorang Kim Taehyung tidak akan main-main bila itu menyangkut seorang Jeon Jungkook.

"Dia demam. Sekarang sedang berada di klinik kesehatan. Ia bilang tidak ingin diganggu." Jawab Jimin akhirnya.

Taehyung langsung melepaskan cengkramannya pada lengan Jimin dan berjalan menuju klinik sekolah. Tanpa memperdulikan ucapan Jimin berikutnya.

"YA! KIM TAEHYUNG. Jangan ganggu Jungkook."

.

.

Taehyung memasuki klinik tersebut secara perlahan.

Dilihatnya Jungkook duduk diatas kasur dan memandangi langit biru yang cerah. Senyum tipis terpatri diwajahnya yang sedikit pucat.

"Kook."

Jungkook tersentak kaget begitu mengetahui Taehyung ada didepannya.

"Mau apa kau kemari?" Tanya Jungkook ketus.

Hanya ingin memastikan apakah kau baik-baik saja.

"Kemarin malam Seokjin hyung mencarimu kemana-mana. Dia begitu mengkhawatirkanmu."

"Bukan urusanku." Jungkook berkata acuh.

"Jangan seperti ini Kook, tidak kah kau tahu bahwa kau sudah menyusahkan banyak orang dengan bertindak seenaknya sendiri seperti ini." Ujar Taehyung tegas.

Pandangan mata Jungkook menyiratkan kesedihan, Taehyung tau itu. Namun Jungkook tetap menyembunyikan dan berusaha tetap baik-baik saja.

"Kau selalu saja sok tahu Kim Taehyung-sshi. Kau tidak tau kejadian sebenarnya dan kau selalu berakhir menyalahkanku. Baiklah, benar! Aku memang menyusahkan banyak orang. Jadi, jangan pernah dekati aku lagi! Dan lebih baik kau segera pergi dari sini."

Tidak jangan usir aku Kook-ah, aku sangat mengkhawatirkanmu.

"Aku akan pergi dan menjauh darimu. Tapi tolong jangan berbuat seperti ini lagi, kau membuat Seokjin hyung khawatir."

"Apakah hanya Seokjin hyung kau pedulikan? Tidak kah kau tahu apa yang kurasakan?" ucap Jungkook sambil menatap Taehyung.

Tidak, aku juga sangat mempedulikanmu Jungkook-ah. Hanya kau yang ku pedulikan di dunia ini.

"Bodoh! Kau sudah dewasa. Bertingkahlah layaknya orang dewasa jangan bertindak seperti anak-anak."

Taehyung melangkahkan langkahnya meninggalkan klinik kesehatan, dan meninggalkan Jungkook yang hanya terdiam terpaku.

Taehyung menutup pintu klinik tersebut dan menyandarkan tubuhnya.

BODOH! BODOH! BODOH! Selalu saja begini. Ia tidak mengerti kenapa semua gerak tubuhnya dan ucapannya selalu menjadi tidak berdaya di hadapan Jungkook.

Aku mencintai mu Jungkook-ah, dan aku begitu peduli padamu. Kumohon maafkan aku.

.

.

Jungkook merasa dunianya hancur saat itu juga ketika Taehyung meninggalkannya dengan ucapan yang menyakitkan. Ia merasakan hatinya terpecah belah dan pening langsung menyerang kepalanya.

Kim Sialan Taehyung itu membuat keadaannya kembali memburuk.

Akh! Jungkook sangat membenci semua yang ada di diri Kim Taehyung. Saking bencinya hingga ia begitu mencintai sosok itu.

Aku begitu bodoh karena mencintai dirimu untuk kedua kalinya. Dan sepertinya untuk kesekian kalinya pun rasa cintaku hanya akan tertuju padamu, meskipun beribu kali kau menyakiti diriku.

Dan Jungkook kembali menangis dalam diam di pagi itu.

.

.

.

Jimin berjalan dengan malas ke kantin. Tidak ada Jungkook yang menemani dirinya untuk makan siang hari ini. Itu membuatnya lesu dan tidak bersemangat. Ia begitu khawatir dengan keadaan Jungkook. Pagi tadi panas tubuh Jungkook begitu tinggi namun ia bersikeras tidak mau pergi ke dokter. Alhasil Jimin memutuskan untuk membawa Jungkook ke klinik sekolah. Selain Jimin bisa memantau keadaannya, ia juga tidak akan meninggalkan Jungkook di apartemennya sendirian. Bocah itu hanya memakan bubur tadi pagi, itupun hanya 3 sendok. Sedangkan siang ini ia bilang ingin tidur saja. Bagaimana namja bertubuh cukup pendek itu tidak khawatir. Ia takut kondisi Jungkook akan semakin memburuk. Apalagi suhu tubuhnya tidak kunjung turun sejak kemarin malam. Jimin mengusap rambutnya kasar. Apa yang harus ia lakukan?

Jimin menatap makanan yang ada dihadapannya dengan malas. Menu hari ini adalah menu kesukaan Jungkook. Dan itu membuatnya semakin tidak bersamangat.

"Hai Park Jimin." Sapa seseorang dihadapannya secara tiba-tiba.

Namja itu langsung mendudukkan dirinya di depan Jimin tanpa meminta ijin terlebih dahulu.

"Ah, J-Hope sunbae. Apa yang kau inginkan?" Tanya Jimin sarkastik.

"Ish, Jimin-ah jangan begitu kejam padaku. Aku kan hanya ingin makan bersamamu."

"Maaf, aku akan kembali ke kelas." Jimin langsung mengambil apel dan berniat untuk pergi sebelum J-Hope menghentikannya.

"Park Jimin! Benarkah Jungkook ada bersamamu?"

Jimin yang sudah berdiri kini kembali duduk dan menatap J-Hope dengan tajam. Ia berniat untuk tidak memberitahukan keadaan Jungkook kepada siapapun, karena ia ingin melindungi namja bergigi kelinci itu. Termasuk kepada seseorang yang kini sudah menjadi 'keluarga'nya.

"Haaah." Helaan nafaslah yang keluar sebagai jawabannya.

"Jawab aku Park Jimin. Kau tidak mau kan namamu ada di daftar blacklist siswa."

Shit! Jimin lupa bahwa kini J-Hope sama berkuasanya dengan kepala sekolah. Ayah tirinya atau ayah Jungkook adalah salah satu donatur terbesar di sekolah ini. Itu tandanya tidak akan ada yang berani menentang kata-katanya.

"Jangan ganggu Jungkook dan lebih baik kau urusi dirimu sendiri sunbae, pasti lelah berpura-pura menjadi baik." Jawab Jimin menghilangkan rasa hormatnya kepada J-Hope.

"Oh Jimin ku yang manis kenapa kau begitu kejam kepadaku. Aku hanya ingin memastikan bahwa Jungkook tidak akan kembali kerumah. Aku malah ingin berterima kasih kepadamu karena telah menampung adik kecilku. Tolong jaga dia. Jangan biarkan dia pergi dari apartemenmu dan kembali kerumahku. Itu juga yang kau harapkan kan. Aku tau kau memiliki rasa terhadapnya."

Jimin menggertakkan giginya kesal. Ia memang ingin Jungkook selalu berada disisinya, tapi bila itu tidak membuat Jungkook bahagia Jimin tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Rasa cinta dan sayangnya untuk Jungkook sudah lebih besar daripada untuk dirinya sendiri. Dan Jimin bertekad akan melakukan apapun untuk Jungkook asal namja yang ia cintai itu bisa mendapatkan kebahagiaan.

"Aku akan selalu menjaganya tapi aku juga tidak akan membiarkan kau merebut kebahagian Jungkook. Aku permisi J-Hope sunbaenim."

Jimin benar-benar pergi meninggalkan J-Hope.

J-Hope hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Jimin. Ia tahu bahwa Jimin begitu mencintai Jeon Jungkook. Mungkin suatu saat nanti itu bisa menjadi keuntungan untuk J-Hope.

.

.

Mon, 09/12/2016

To : Seokjin-hyung

Aku sudah bertemu dengan Jungkook. Ia baik-baik saja dan untuk sementara ia akan tinggal dengan Jimin.

12:45 pm.

Send.

Kim Taehyung baru saja memberitahukan keberadaan Jungkook kepada Seokjin hyung. Ia tidak ingin semua orang menjadi terlalu khawatir dengan Jungkook. Yah, walaupun ia sedikit berbohong.

Taehyung masih menatap Jungkook melalui pintu klinik sekolah. Sudah 15 menit ia berdiri disana dan ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk kembali masuk dan mengecek keadaan namja yang ia cintai. Namja yang berbeda 2 tahun darinya itu kini sedang memejamkan matanya dan tertidur pulas dengan wajah yang sedikit pucat. Oh, betapa Taehyung begitu ingin memeluk tubuh itu. Betapa Taehyung ingin mengucapkan maaf. Betapa Taehyung ingin kembali kecil disaat mereka selalu bersama. Betapa Taehyung begitu merindukan masa-masa itu.

Taehyung sedikit terkejut ketika tiba-tiba Jungkook terbangun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi yang ada di dalam klinik tersebut. Tanpa pikir panjang Taehyung langsung masuk untuk mengecek keadaan Jungkook.

Hoekkk! Hoekk!

Betapa terkejutnya Taehyung ketika melihat Jungkook memegang wastafel untuk menyangga tubuhnya sambil memuntahkan cairan putih dari mulutnya.

.

.

"Jungkook-ah!" Taehyung memegang tubuh Jungkook.

Jungkook sedikit tersentak. Ia menatap wajah Taehyung. Kenapa namja ini bisa berada disini? Pikir Jungkook.

Jungkook membersihkan mulutnya setelah rasa mual itu tidak menghantam perutnya lagi dengan Taehyung yang masih memegang tubuhnya.

Jungkook menyentak tangan Taehyung. "Jangan ganggu aku!" tegasnya.

Kim Taehyung sialan! Jungkook benar-benar tidak mau Taehyung melihatnya dalam keadaan lemah seperti ini. Jungkook berjalan pelan kembali ke tempat tidurnya sebelum akhirnya rasa pusing menyerang kepalanya. Jungkook hampir saja terjatuh sebelum Taehyung memegang tubuhnya.

Jungkook benar-benar diambang kesadarannya. Sungguh ia tidak mau pingsan di hadapan Taehyung karena itu akan menunjukkan kelemahan dirinya.

"Kurasa kau masih butuh bantuanku." Tanpa pikir panjang Taehyung langsung mengangkat tubuh Jungkook bridal style dan tidak menghiraukan erangan putus asa Jungkook lagi.

Dengan kesadaran yang menipis ia sudah takluk dalam dekapan Kim Taehyung dan sekali lagi Jungkook kembali terjerat pesona namja itu hingga kegelapan mengambil alih dunianya.

.

.

"Ngghh.." Jungkook membuka matanya secara perlahan.

Putih.

Putih dan putih disekelilingnya.

Mata Jungkook terbuka sempurna dan ia langsung mengedarkan pandangannya. Shit! This is hospital. Tempat yang ia benci. Ia tidak akan mau datang kemari kecuali ia berada di ambang kehidupan dan kematian.

Jungkook mendudukkan dirinya membuat kepalanya kembali berdenyut kesakitan.

Akhh.

Jungkook memegangi kepalanya, berharap rasa nyeri itu segera berkurang. Pandangannya masih buram namun ketika rasa sakit dikepalanya berkurang pandangannya menjadi jernih kembali.

Dengan cekatan Jungkook mencabut jarum infus yang berada di lengannya. Persetan dengan rasa nyeri yang kini menjalar keseluruh tubuhnya. Membuatnya harus tersungkur kelantai ketika akan beranjak pergi dari kasurnya.

Bughh!

Cklek.

Pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok Jin-hyung yang terkejut melihat Jungkook tersungkur dilantai.

"Jungkook-ah."

Seokjin bersiap untuk membantu Jungkook berdiri. Namun namja bergigi kelinci itu menatapnya sebal. "Lepaskan tanganmu." Ucap Jungkook, ia sudah tidak punya tenaga untuk menyentak tangan Jin yang berada di lengannya.

"Kumohon jangan seperti ini Kook-ah. Keadaanmu masih belum membaik."

"Apa pedulinya kau? Pedulikan saja 'adikmu' yang baru."

Jungkook masih terduduk dilantai sambil menahan nyeri dikepalanya. Entah kenapa nyeri itu kini semakin menjadi. Jungkook yakin ia akan kembali tidak sadarkan diri bila ia begini terus.

"Jungkook-ah, kau juga adikku yang kusayangi. Kau harus istirahat terlebih dahulu. Keadaanmu belum membaik. Kumohon untuk saat ini jangan egois. Biarkan aku membantumu."

Ya, dan Jungkook akhirnya menyerah dan membiarkan sang hyung membantunya. Jin langsung menidurkan Jungkook kembali ke ranjangnya. Jungkook sudah pasrah dengan apapun yang Jin lakukan. Ia merutuki kondisinya yang hanya bisa terbaring lemah. Setelah ia benar-benar sembuh nanti ia sudah berencana untuk pergi sejauh mungkin dari mereka berdua. Hem, hanya rencana.

"Jungkook-ah maafkan hyung. Kumohon kembalilah kerumah. Hyung benar-benar merindukanmu. Hyung akan menjagamu. Jangan sakit seperti ini Jungkook-ah."

Itu adalah sepenggal kalimat yang Jungkook dengar dari Jin sebelum akhirnya ia kembali tertidur.

Aku juga merindukanmu hyung.. appa.. eomma.

.

.

Jeon Il Woo memijat keningnya yang berdenyut. Ia baru saja mendapat kabar dari Seokjin –anak pertamanya- bahwa Jungkook sedang berada di rumah sakit dikarenakan demam tinggi. Ia tahu dan sangat paham bahwa itu semua adalah karena dirinya. Ia rela mengusir Jungkook malam itu dan tanpa disangka-sangka hujan turun dengan lebatnya. Dan lihatlah apa yang ia alami sekarang, ia begitu menyesal dan menyalahkan dirinya. Tidak harusnya ia mengusir Jungkook, terutama Jungkook adalah anak kandungnya dan darah dagingnya sendiri. Akibat perbuatannya yang bodoh itu kini Jungkook harus terkapar dirumah sakit.

Stupid Daddy! Tega sekali kau kepada anakmu! Begitulah isi pikiran dari Il Woo. Sungguh, Jeon Il Woo tidak akan benar-benar tega untuk mengusir anak bungsunya yang cantik. Ia masih sangat menyayangi Jeon Jungkook, namun apadaya pada saat itu amarah begitu mengambil alih dirinya hingga akhirnya ia mengalahkan hati nuraninya.

"Maafkan appa Kook-ah." Ujar Il Woo begitu menyesali perbuatannya.

"Sekretaris Kim!"

"Ya tuan Jeon." Jawab Sekretaris Kim yang langsung masuk keruangannya.

"Siapkan mobil dan kosongkan jadwalku sore hari ini."

"Ba- Baik tuan. Tap- tapi anda akan pergi kemana tuan?"

"Jungkook masuk rumah sakit. Aku harus menjenguknya."

Sekretaris Kim sedikit tersentak namun ia langsung memasang muka khawatirnya.

"Sampaikan salamku kepada Tuan Muda Jeon dan kuharap ia segera sembuh."

Il Woo tersenyum kecil mendengarnya. "Terimakasih."

.

.

Sekretaris Kim bergegas meninggalkan ruangan tersebut untuk segera menyiapkan mobil sesuai perintah bosnya. Namun sebelum itu, ia sempat menghubungi seseorang melalui ponselnya.

"Sica-ya, Jeon keparat itu akan mengunjungi anaknya dirumah sakit. Sepertinya kita harus bersabar untuk menyingkirkan mereka."

Terdengar gerutuan dari seseorang diseberang sana.

"Dengar! Untuk saat ini jangan lakukan apapun terlebih dahulu."

Tit. Sambungan itu pun terputus.

.

.

TBC

Di cerita ini memiliki beberapa conflict. Ada conflict romance dan keluarga. Saya sedikit buat alur cepat untuk masalah conflict keluarga karena saya ingin menonjolkan pada romance mereka.

Sekian dan mohon vomment dari kalian. Ayo kibarkan bendera VKook shipper!

#TeamBottomKookShipper

#VKook

#TaeKook