"Alamat rumahmu dimana Ino-chan?" Tanya Sai sembari menstater motor sportnya. Lelaki itu mengangsurkan sebuah helm putih pada Ino, sedangkan dia sendiri sudah mengenakan helm hitamnya.
"Di Himawari Street." Jawab Ino sambil menaiki boncengan di motor Sai, setelah memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas boncengan, gadis itu segera mengenakan helm putih pemberian Sai.
"Bagus. Itu searah dengan rumahku." Kata Sai singkat. Ino yang rupanya tak dapat menahan rasa ingin tahunya segera bertanya pada Sai, "Memang rumahmu dimana Sai-kun?"
"Hanya 4 blok dari rumahmu kok." Jawab Sai sambil menjalankan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dan itu menyebabkan Ino mengeratkan pelukan tangannya pada pinggang Sai. Baik Ino maupun Sai, selama perjalanan keduanya sibuk tersenyum aneh, mengabaikan suasana sunyi yang mendadak muncul di antara keduanya.
"Ah di depan nanti berhenti ya Sai-kun. Itu, yang berpagar biru." Ino menunjuk-nunjuk sebuah rumah berpagar biru yang berjarak 500 meter dari tempatnya dan Sai sekarang.
Ckiitt …
"Nah, sudah sampai. Arigatou gozaimasu atas tumpangannya, Sai-kun." Ino mengangsurkan helm putih milik Sai ketika dirinya sudah berada di depan pagar rumahnya. Setelah memastikan Ino turun dari boncengan, Sai segera menarik tangan Ino pelan, menyebabkan pemilik mata aquamarine itu menatapnya dengan kebingungan.
"Gomen, apakah aku boleh meminta nomor handphone-mu?"
Ino yang kaget mendengar permintaan Sai yang begitu mendadak itu hanya bisa membatu, menyebabkan Sai harus turut diam.
1 detik.
3 detik.
5 menit.
"Ino-chan … halloooo~" Sai melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ino, menyebabkan Ino terbangun dari lamunannya.
"E-eh, ma-maaf, me-memang buat apa kau meminta nomor handphone-ku?" Tanya Ino balik. Gadis itu masih tak percaya jika Sai –yang notabene adalah orang yang baru saja dikenalnya beberapa jam yang lalu kini sedang berdiri di depannya dan meminta nomor handphone-nya! 'Astaga! Mimpi apa aku semalam?' Pikir Ino norak.
"Emmm, aku cuma mau mengenalmu lebih dekat. Jadi … boleh kan?" Tanya Sai dengan sedikit kikuk, lelaki itu kini sedang menatap Ino dengan pandangan mata penuh harap. Berharap Ino mau memberikan nomor handphone-nya.
"Emmm … tentu, nomorku, +8162****." Jemari Sai dengan lincah menyentuh layar handphone -nya. Setelah mengetik nomor handphone Ino, Sai segera menyentuh ringan icon berwarna hijau yang ada di layar handphone-nya. Tak butuh waktu lama sampai handphone Ino berdering, membuktikan jika panggilan Sai telah masuk kedalam log-nya.
"Itu nomorku, nanti kuhubungi. Jaa ne Utsukushī." Sai mengecup singkat dahi Ino sebelum meng-gas motor sportnya, meninggalkan Himawari Street.
Dan tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang mengawasi semua gerak-gerik Ino dan Sai sedari tadi. Tangan orang itu mengepal kuat, menyebabkan buku-buku jarinya memutih.
"Ternyata anak genk Crow. Cih." Dengus pemilik sepasang mata itu dingin. Sesaat setelah itu, pemilik mata itu segera pergi dari tempatnya bersembunyi tadi. Melajukan motornya keluar dari Himawari Street.
-xXx-
Ai to Uragiri
Rated : Semi M
Pairing : Sai .S. x Ino .Y. x Naruto .N.
Naruto © Masashi Kishimoto
Cover Image © Kireina Yume
Genre : Romance, Angst, Friendship
Warning : AU, GaJe, Aneh, Abal, Alur Kecepetan, Bad Languange, OOC, OC, Typo yang bertebaran, Bad Deskrip, dan sederet kesalahan lainnya. Miyu dan Rai tidak menerima FLAME tetapi CONCRIT!
DON'T LIKE?, DON'T READ!, NO FLAME! But, If you like, REVIEW please!
Fic collab with Raito Kunazawa.
.
.
Enjoy…
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Chapter 2 : Rival.
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Siang itu terlihat sebuah motor sport berwarna hitam sedang melaju dengan ugal-ugalan di sebuah jalan yang cukup ramai di kota itu. Pemuda pemilik motor tersebut terus melajukan motor sportnya dengan kecepatan jauh diatas rata-rata –tak memperdulikan cacian pengguna jalan lainnya ketika dirinya melajukan motornya bagaikan orang kesetanan. Pemuda itu menulikan indera pendengarannya ketika mendengar umpatan para pengguna jalan lainnya. Dia berdecih beberapa kali ketika satu-dua goresan menyentuh body motornya akibat menyerempet beberapa kendaraan yang berada di depan maupun samping motornya.
'Kenapa dari tadi aku merasa diikuti ya?' Sai berucap dalam hati. Sesungguhnya dari tadi dia sudah merasa tak nyaman, batinnya mengatakan jika dirinya sedang diikuti oleh seseorang –entah itu siapa. Dan itu membuatnya gelisah, dia tahu jika dirinya memang memiliki banyak musuh di kota ini, tapi tetap saja dia tak nyaman. Ini pertama kalinya dia diikuti secara diam-diam. Biasanya mereka akan langsung mendatanginya dan menantangnya –mau itu adu jotos ataupun sekedar balap liar. Tapi ini? Ah, entahlah, dia sendiri juga bingung.
"Ah, mungkin hanya perasaanku saja." Sai berujar lirih. Lelaki berambut hitam eboni itu berusaha mengenyahkan segala pikiran negative dari kepalanya. Dia memang sedang tak ingin memikirkan hal-hal berat semacam itu, tidak, sudah cukup untuk saat ini.
Karena merasa bahan bakar motor kesayangannya menipis, Sai-pun membelokkan laju motor hitamnya ke arah pom bensin yang ada tepat di badan kiri jalan. Tak jauh di belakangnya, sebuah motor sport berwarna orange yang sedari tadi bergerak mengikuti laju motor hitam Sai-pun turut menepikan motornya di dekat pom bensin tempat Sai sedang mengisi bahan bakar. Orang misterius itu sedikit mengambil jarak –tak mau mengambil resiko jika Sai mengetahui kalau dirinya sedang dibuntuti.
Lelaki misterius itu melepaskan helm-nya, membuat surai pirang dan sepasang iris berwarna sky blue -nya terpampang dengan jelas. Lelaki berambut pirang itu mengambil handphone touch screen yang berada di dalam saku celananya, dengan lincah jari-jemarinya menari di atas layar handphone tersebut, setelah sebelumnya menekan icon berwarna hijau yang ada di layar, pemuda itu mendekatkan barang elektronik itu ke telinganya.
"Kiba, kau sedang dimana?"
"Aku sedang ada di café yang biasanya. Ada apa Naruto?"
"Malam minggu ini, kita kumpul di Shi Street, bisa tidak?" Pemuda berambut pirang yang dipanggil Naruto itu sekali lagi mengajukan pertanyaan pada seseorang yang kini sedang menjadi lawan bicaranya.
"Hmm … mungkin bisa. Ada apa, eh? Ada yang menarik di sana?
"Kau masih ingat dengan anak-anak genk Crow The Ice, kan?"
"Apa maksudmu anak-anak punk yang sering kumpul di Hira Street itu?" Sahut Kiba dengan antusias –terdengar dari suaranya yang mendadak mengeras.
"Yups … dan aku rasa, aku menemukan salah satu dari anggota mereka. Akan aku tantang dia balap-"
"Apa kau yakin Naruto? Mereka itu terlalu nekat. Dan apa kau sudah lupa bagaimana nasib Kimimaro yang hampir mati gara-gara ditendang Hidan waktu dia nutup jalannya, eh?"
"Aa, aku ingat kok. Tapi itu salah Kimimaro sendiri yang nekat pakai aturan balap liar. Aku akan pakai aturan resmi. Tenang saja." Kata Naruto membela diri. Lelaki bermata sky blue itu kini sedang mengeluarkan seringai rubah miliknya.
"Kalau pakai aturan resmi, kita harus keluar uang buat beli jalan dengan nyuap polisi, baka!" Teriak Kiba frustasi. Dia tak mengerti dengan jalan pikiran temannya itu. Mau membuang-buang uang hanya untuk menantang anak genk Crow? Stupid!
"Yeah, mau bagaimana lagi? Ini jalan kalau mau tetap hidup sampai garis finish."
"Oke, kalau begitu, siapa yang akan turun, eh? Kau kan tahu sendiri kalau motorku dan motor Sasuke masih ada di bengkel setelah insiden kemarin itu. Sedangkan Gaara harus menjaga Temari bersama Kankuro."
"Shit! Kau meragukanku, eh? Aku ini lebih jago balapan dibandingkan dirimu dan Gaara, baka!" Balas Naruto kasar. Sepertinya lelaki beriris biru ini sedikit tersinggung karena dirinya tak dimasukkan dalam hitungan oleh Kiba.
"Ups, gue lupa sama elo. Hehehe, gomen ne Naruto."
"Hahhh … ya udahlah, kita bahas besok di sekolah aja, ok? Gue sibuk." Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Naruto segera memasukkan handphone-nya dengan asal-asalan dan memacu laju motornya untuk mengejar motor Sai yang belum lama kembali menggilas aspal di jalanan.
"Dimana bajingan itu? Cih, cepat betul dia menghilang." Kata Naruto pada angin. Lelaki itu sedang emosi ketika dirinya tak menemukan jejak Sai setelah sebelumnya Sai mengisi bahan bakar motornya. Keberadaan lelaki berambut hitam itu sudah tak dijumpai mata sky blue -nya lagi.
-xXx-
"Hmmm … ini orang pada kemana sih? Motornya ada di garasi, tapi pintu rumahnya dikunci. Apa sedang ada pesta?" Kata Sai yang sedari tadi mengamati rumah sahabatnya itu. Rumah berwarna pastel itu kini tampak lenggang –tak menunjukkan tanda-tanda jika di dalam rumah itu ada penghuninya.
Karena didorong rasa penasaran, Sai-pun mengambil kunci duplikat rumah yang dia punya dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sahabatnya. Setelah melewati pintu rumah yang kini sedang menjeblak terbuka, Sai mengernyitkan keningnya karena melihat hal-hal ganjil yang ada di dalam rumah itu saat ini.
'Baju seragam wanita?' Pikir Sai bingung. Tak mau ambil pusing, Sai segera melangkahkan kakinya menuju dapur. Dan alangkah terkejutnya dia ketika menemukan sebuah bra dan CD wanita yang tergeletak dengan tidak elite -nya di atas meja makan. Kini otaknya sudah selesai memproses apa sebenarnya yang sedang terjadi di rumah sang sahabat. Maka dia-pun berteriak keras –tak memperdulikan apa tanggapan sahabatnya nantinya.
"Woy, Rai! Kau habis ngapain sih kok ada barang-barang wanita di dapur?! Jangan bilang kalau kau habis pakai dapur!" Teriakan Sai yang teramat sangat tidak elite itupun membuat sahabatnya yang sedang asyik di dalam kamar terkejut dan segera berlari ke arah dapur.
"Oh, kau ternyata Sai. Tumben kau datang kemari tanpa kasih kabar dulu." Kata Rai dengan wajah terkejut. Kontras dengan wajah Rai yang terkejut bukan main, Sai malah memasang ekspresi yang kelewat santai.
"Kenapa harus kasih kabar dulu? Aku kan punya kunci rumahmu, kau di rumah dengan siapa, eh?"
"Dengan Karin." Jawab Rai sambil memunguti barang-barang laknat milik Karin yang tersebar dimana-mana. Setelah mengambil semua barang-barang milik kekasihnya, Rai –dan Sai- berjalan dengan santai menuju kamar Rai.
"Woy! Sampai kapan kau mau nyulik Karin, eh?" Teriak Sai dari balik pintu –tentu saja. Dia tak segila itu untuk masuk ke dalam kamar milik sahabatnya yang notabene di dalamnya ada seorang wanita yang telanjang.
Setelah 5 menit tak ada jawaban, daun pintu itupun kini sedang terayun membuka –memperlihatkan sepasang kekasih yang tadi sedang –you knows lah …
"Iya, iya. Ini aku mau nganterin dia pulang." Jawab Rai tanpa repot-repot menyembunyikan nada suaranya yang teramat sangat tidak ikhlas itu. Sedangkan di belakang punggung tegapnya, bersembunyilah Karin yang sedang tertunduk malu karena ketahuan seseorang sedang berada di kamar cowok.
"H-hai Sai-kun, kamu tadi kemana? Kok dicari ke lapangan sudah gak ada?" Tanya Karin untuk mengalihkan perhatian Sai. Saat ini gadis berambut merah itu sedang meremas kaos milik kekasihnya dengan gelisah, dia malu –tentu saja.
"Aku tadi nganterin Ino pulang. Err- apa aku boleh bertanya sesuatu padamu Karin?"
"Bo-boleh, mau tanya apa Sai-kun?" Balas Karin terbata, dalam hati dia berdoa semoga saja yang Sai tanyakan bukan mengenai apa yang sedang dilakukannya di dalam kamar Rai.
"Aku mau tanya soal-"
"Sepertinya dia mau tanya soal Ino. Tolong kasih tau ya sayang." Potong Rai, lelaki berambut coklat itu menarik tangan kanan Karin dengan penuh percaya diri.
"Apa itu benar Sai-kun?"
"Hmmm." Gumam Sai pelan sambil mengangguk kecil. Karin-pun menghela napas lega karena Sai tak mengungkit-ungkit kejadian di dalam kamar Rai.
"Mau tanya info apa Sai-kun?"
Sai mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara dengan pelan, "Apa … apakah Ino sudah punya … pacar?"
Karin yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya bisa mengernyitkan dahinya. Tanpa disadari oleh Sai, ada sebuah nada penuh harap agar Karin berkata jika Ino sedang single alias jomblo –dalam ucapannya tadi.
"Seingatku dia gak punya pacar. Dia emang dekat ama beberapa cowok sih, tapi dia single kok. Kenapa kau tanya hal itu Sai-kun? Apakah kau suka padanya, eh?"
"Kurasa aku memang menyukainya." Jawab Sai dengan tampang innocent -nya. Rai yang sedang minum-pun alhasil tersedak ketika mendengar jawaban Sai yang amat santai itu. Dan karena tak mau ambil pusing lagi, Rai-pun segera menarik tangan kanan Karin pelan sambil berucap, "Hime, ayo kuantar pulang, nanti keburu malam. Oh iya Sai, hubungi Sasori, Hidan, dan Yahiko ya … ajak kumpul di taman alun-alun kota. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Konan."
"Jam berapa?"
"Jam 7. Nanti kubawakan makanan." Kata Rai sambil menjalankan kuda besinya -menggilas aspal jalanan dengan ban sepeda motornya.
Setelah kepergian Rai dan Karin, Sai-pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Rai lalu menyalakan DVD yang ada di dalam ruangan tersebut dengan volume yang cukup bisa memecahkan gendang telinga dengan mudah. Tak lama setelah itu, mengalunlah sebuah lagu beralirkan punk rock dari sepasang speaker yang terpasang di sebelah DVD itu.
-xXx-
Saat itu Ino sedang berada di dalam kamarnya yang bernuansa ungu itu dengan tenang. Gadis cantik berambut pirang itu sedang asyik tenggelam dalam pikirannya. Sai. Dialah yang kini sedang dipikirkan oleh gadis pirang tersebut. Seorang laki-laki berparas tampan yang beberapa jam lalu sudah mengantarnya pulang dengan selamat.
Disaat sedang asyik-asyiknya melamun, handphone ungu miliknya bergetar pelan, menandakan ada e-mail yang masuk ke dalam handphone-nya. Setelah meraih handphone kesayangannya, Ino segera mengusapkan ibu jarinya dengan lembut ke layar ponselnya, saat itulah dia mendapati sebuah e-mail dari lelaki yang dari tadi sedang ada di pikirannya. Sai Shimura.
From : Sai Charming (+8115****)
Hai Ino-chan, Kamu lagi apa? Maaf kalau aku ganggu.
Dengan wajah penuh senyum, Ino segera menyentuhkan jemarinya ke atas layar sang handphone guna membalas pesan dari lelaki yang diam-diam dipujanya, eh?
From : Ino Sweety (+8162****)
Hai juga Sai-kun, aku sedang belajar. Kamu gak ganggu aku kok. Kamu sendiri sedang apa?
Sai tersenyum tipis ketika membaca balasan e-mail dari Ino. Gotcha! Sedikit lagi, dan dia yakin jika Ino akan terjatuh ke dalam pelukannya.
From : Sai Charming (+8115****)
Aku gak sedang melakukan hal yang berguna kok ^_^
Oh iya, ngomong-ngomong, Ino-chan sekarang itu kelas berapa?
Dan mmh, malam minggu ini kamu ada acara apa gak?
Ino-pun sedikit kaget ketika kornea matanya membaca balasan dari Sai, mata birunya membelalak cukup lebar –tak mempercayai hal yang kini sedang terjadi. 'Apa ini ajakan kencan?' Pikir Ino. Gadis bermata aquamarine itu segera menarikan jari-jarinya –membalas dengan segera pesan dari pangerannya.
From : Ino Sweety (+8162****)
Aku kelas 2 IPA 3 Sai-kun.Kalau boleh tau, Sai-kun itu sekolah dimana dan kelas berapa ya?
Hemmm, maaf Sai-kun. Malam minggu ini aku sudah ada acara. Memangnya malam minggu ini mau apa?
From : Sai Charming (+8115****)
Aku kelas 3 IPS 3. sekolahku di ASHS.
Sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan-jalan Ino-chan.
Ino memandang balasan Sai dengan sendu. 'Kenapa harus malam minggu ini … andai saja tadi aku tidak menyetujui ajakan Naruto-kun, pasti aku bisa pergi denganmu Sai-kun.'
From : Ino Sweety (+8162****)
Maaf Sai-kun. Mungkin lain kali saja ya.
Sai menghela napas berat guna membuktikan atensi jika dia sedang kecewa atas balasan Ino. Perlahan, dia-pun melirik jam tangan hitam yang tengah melingkar di pergelangan tangannya.
6.25
Sai segera menghubungi Sasori, Hidan, dan Yahiko via confusecall ketika dirinya sudah mendapati jika angka jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih. Tapi Sai malah kecewa begitu tahu kalau ketiga temannya sudah dikabari oleh Konan terlebih dahulu. Karena tak ingin berlama-lama, Sai segera menyambar kunci motornya yang tadi diletakkannya di atas nakas dan segera pergi ke taman kota untuk berkumpul dengan teman-temannya.
-xXx-
Di sebuah taman yang dianugerahi suasana yang sejuk dan asri kini sedang terlihat segerombol anak-anak muda yang terdiri dari 4 orang cowok dan seorang cewek yang kita kenal dengan nama Sasori, Yahiko, Hidan, Sai, dan Konan. Dari penampilan kelima orang itu, orang-orang pasti sudah mengira jika mereka adalah anak-anak genk yang sedang bergerombol. Dan beberapa dari mereka saling berbisik dengan tatapan merendahkan pada keempat cowok yang kini sedang berdiri bergerombol di samping Konan. Lain cowok, lain lagi cewek. Walau saat itu mereka memandang rendah kepada para cowok –Sasori dkk-, mereka tak akan memandang rendah ke arah Konan –mereka justru memasang tampang semanis mungkin –berharap jika Konan akan tertarik pada mereka. Namun naas, bukannya Konan yang terpesona, tapi justru keempat cowok itulah yang tertarik untuk menghajar orang-orang tersebut hingga babak belur.
"Hei! Kalian ini apa-apaan sih?! Kenapa kalian main hajar aja sama orang yang gak bersalah!" Teriak Konan ketika melihat teman-temannya menghajar beberapa orang laki-laki hingga babak belur.
"Apanya yang gak bersalah?" Kata Sasori dengan santainya setelah menginjak tangan kanan seorang lelaki yang telah menjadi korbannya –seolah tak menyadari jika hal yang dilakukannya itu buruk. Sebelum Konan sempat menanggapi ucapan lelaki berambut merah itu, Sasori sudah terlebih dahulu menyambung ucapannya dengan nada jijik, "dia –menunjuk lelaki yang kini sedang mengerang kesakitan sambil memegangi tangan kanannya- itu godain kamu. Masa gak sadar sih?!"
Sai, Hidan, dan Yahiko hanya manggut-manggut gak jelas –mengiyakan saja ucapan yang telah Sasori lontarkan tadi.
"Tapi gak perlu sampai dihajar, kan? Apa gak bisa dikasih tahu dulu?!" Bela Konan. Gadis cantik berambut ungu itu menatap dengan sadis keempat temannya itu. Tapi tentu saja, keempat lelaki itu tak terpengaruh dengan deathglare tajam dari Konan.
"Ya udahlah gak usah dibahas lagi. Sebenarnya tujuan kita kumpul di sini itu mau ngapain?" Tanya Sai yang mulai jengah. Lelaki berambut hitam itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana miliknya. Mata onyx-nya yang tajam menyorot keadaan taman yang entah kenapa jadi lebih ramai daripada biasanya.
Konan menghela napas begitu mendengar pertanyaan Sai. 'Selalu to the point.' Inner Konan. Gadis bermata violet itu menyodorkan selembar kertas pengumuman kepada keempat lelaki berwajah tampan yang ada di depannya. Sasori segera mengambil kertas pengumuman itu dan membacanya dengan keras –entah apa tujuannya.
"DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH MEMBER CLUB OLAHRAGA ASHS. KAMI SELAKU OSIS ASHS AKAN MENGADAKAN PERTANDINGAN PERSAHABATAN DENGAN KSHS. OLEH KARENA ITU DIHARAPKAN KEPADA SETIAP KETUA CLUB OLAHRAGA UNTUK MEMBERITAHUKAN PADA SETIAP ANGGOTANYA AGAR BISA IKUT BERPARTISIPASI DALAM PERTANDINGAN INI.
TERIMA KASIH.
TERTANDA, KETUA OSIS YANG PALING GANTENG."
"Hahahaha, apa tadi? Yang paling ganteng? Nagato over banget PD-nya." Ujar Hidan sambil tertawa dengan kencang. Walau tak mengucapkan kata-kata frontal layaknya Hidan, semua orang yang ada di sana tak urung memiliki pikiran yang sama dengan lelaki berambut putih klimis itu. Ketua OSIS mereka memang sedikit –yaahhh, begitulah.
"Wah … wah … jadi Nagato ingin menyerang KSHS ya? Taktik pertandingan persahabatan ini oke juga." Kata Sasori dengan senyum sinis andalannya.
"Ini pertandingan persahabatan. Bukan tawuran." Kata Konan mengingatkan teman-temannya.
"Menurutku ini adalah perang tertutup. Bukan begitu eh, Sai?" Kata Hidan sambil menatap Sai yang dari tadi hanya berdiam diri. Mengatupkan kedua belah bibirnya rapat-rapat.
"Ya, sepertinya Nagato memang berencana untuk menyerang KSHS dengan menggunakan taktik ini. Bagus sekali. Mari kita hancurkan KSHS teman-teman." Ujar Sai penuh dendam. Lelaki berambut hitam klimis itu diam-diam mengepalkan kedua tangannya yang kini sedang bersemayam dalam saku celananya.
"Apa kau masih belum bisa menerima hasil yang kau terima kemarin Sai?" Tanya Konan pelan. Mata violet-nya memandang Sai dengan penuh tanya.
"Hahaha, mana mungkin seorang Shimura bisa terima dengan hasil seri. Kau itu lucu sekali Konan." Ujar Sasori dengan nada yang ketara sekali sedang merendahkan Sai.
Sai yang tidak terima segera menarik kerah baju Sasori dan berniat untuk memberikan hadiah kepada lelaki bermata hazel itu sebuah pukulan 'pelan' dari tangan kanannya, tapi sebelum tangannya mendarat di wajah putih milik Sasori, Yahiko dan Konan sudah terlebih dahulu menarik Sai –begitu pula dengan Hidan yang segera menarik Sasori menjauh, mengantisipasi agar lelaki baby face itu tak akan mendapatkan bogem mentah dari salah satu sahabatnya tersebut.
"Hei, hei … kita kan sudah bersahabat dari kelas 1 junior high school, masa masih mau berantem gara-gara hal sepele sih?" Tegur Rai yang ternyata sudah duduk di atas pagar sedari tadi.
"Eh inu, darimana saja kau? Kok baru nongol?" Sapa Hidan pada Rai. Lelaki berambut putih itu masih tetap memegangi tangan kanan Sasori dengan erat -tak mau mengambil resiko jika akan ada baku hantam yang terjadi.
"Aku dari tadi ada di sini kok. Kalian aja yang gak sadar." Jawab Rai cuek. Sudah biasa baginya jika teman-temannya tak menyadari kehadirannya ketika berkumpul seperti ini, dan itu bukan masalah besar untuknya.
"Jadi?" Kata Konan sambil melirik Sai dan Sasori.
"Iya aku tahu. Minggu depan, mari kita pecundangi anak-anak KSHS." Kata Sasori sambil merangkul pundak Sai. Begitulah mereka, sedetik bertengkar, sedetik lagi sudah kembali bersahabat. Unik dan menarik bukan?
Ketika mereka sedang asyik membahas strategi yang akan mereka gunakan untuk memenangkan pertandingan itu, tiba-tiba dari seberang jalan terlihat sebuah motor sport berwarna orange yang berhenti dan mendatangi mereka.
"Hai, aku Naruto." Kata orang itu memperkenalkan diri. Mata sky blue lelaki itu menyorot jenaka pada sekumpulan orang yang kini tengah ada di depannya –menyembunyikan suatu niat buruk di dasar hatinya agar tak diketahui oleh orang-orang di hadapannya.
"Maaf ya, tapi kami gak butuh namamu. Mau apa kau kemari, eh?" Tanya Sai dengan senyum palsu yang sudah menjadi trademark-nya. Ucapan ketus dari Sai rupanya tak berguna untuk memudarkan cengiran rubah yang tersungging dengan gagah di bibir Naruto.
"Simpel. Aku hanya ingin menantang kalian." Kata Naruto ringan, Sai tergelak pelan mendengar penuturan Naruto yang baginya sangat lucu.
"Kau sendirian menantang kami berlima, eh? Ada berapa nyawamu?" Ucap Sai dengan nada merendahkan. Mata onyx-nya menyorot tajam pada sepasang mata sky blue yang tetap memandangnya jenaka.
"Hei hei … tenang dulu, aku bukan menantang kalian berkelahi. Aku hanya mau menantang kalian balapan. Balap liar." Ujar Naruto dengan teramat santai.
Apakah yang akan terjadi? Dan apa sebenarnya hal yang tengah direncanakan oleh Naruto dengan menantang anak genk Crow untuk bertanding melawannya. Mari kita lihat di chapter selanjutnya.
-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-TBC-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-
Miyu : Ehehehe, hai readers, maafin Miyu ya karena lama banget update ini cerita. Beneran deh, ini salah Miyu, sebenernya kerangka chapter 2-nya udah dikirim ama Rai-nii sehari setelah chapter 1 di-publish. Tapi yah … begitulah, Miyu sibuk banget belakangan ini gegara jadwal sekolah Miyu yang padaaaaaattt banget. #malah curcol XD.
Rai : Woy para Senpai … jangan pada ngamuk ke Miyu ya gara-gara telat update, nanti dia gak jadi traktir loh hahahaha …
Miyu : Traktir apaan? #muka bingung.
Rai : Traktir jitakan hahahaha #ketawa nista + watados.
Miyu : ayayay, acuhkan orang gila itu ya minna #digiling Rai-nii. Nah, sekarang saatnya membalas reviewww #buka file review. Okay, pertama dari Kireina Yume, ini udah panjang belum? Kalau belum maaf ya … salahin jadwalku aja yang gak ngebolehin muridnya istirahat #kunyah schedule. Ahahaha, okelah, tetep ikutin cerita ini ya #maunya *plak.
Rai : Karena saya lagi baik hati, maka saya gak akan giling Miyu kok. Cukup dicincang aja #nyengir. Yak, inilah review kita yang kedua … hmmm, dari baka ero vorever, tenang aja, kalau memang mau lemon, nanti ku beliin di took sebelah hahahaha. Ehem, ada lemon kok, udah siap malah, tinggal publish aja sebenernya #senyum mesum. *plak.
Miyu : dan yang ketiga dariii #baca file. Kira-chan Narahashi, ACHAAA~ #alay mode. *digeplak Acha. Ehehe, oke … sip Acha, nanti kalau lemon bakal aku kasih tanda kok. Dan lemonnya –kata Rai-nii- ada di chap 4 kok . Tetep ikutin fanfic ini ya #cipok berdarah XD
Rai : Dan untuk si cantik Na Fourthok'og #gombal mode *dihajar Na. hehehe, mohon dimaklumi ya, karena tangan saya penuh dengan kekurangan. Terima kasih untuk concrit-nyaaa … itu sangat membantu #sujud-sujud. Dan untuk masalah alurnya akan aku usahakan yang terbaik agar gak ngebut lagi. Ahahaha, review lagi ya #senyum manis *plak.
Miyu : Na-chan, jangan terpengaruh ya sama gombalannya Rai-nii #dihajar Rai-nii. yak, review kelima dariii Uchikurai, ahahaha, nanti kau bakal tau kok nee bagian mana yang gak boleh ditiru #kedip-kedip gaje *plak. Leo? DIHATIKUUU hahahaha #otak konslet XD
Rai : Review kelima dari Hyruma Rayn, oke, terima kasih ya bos Hyruma atas sarannya, hehehe, KSHS itu Konoha Senior High School.
Miyu : Yang kedelapan ini dari salah satu one-chan-ku juga lohhh *gak tanya :p. yak, review kedelapan ini dari Hana Suzuran. Uwooo … makasih ya nee buat concrit-nya. Ahahaha, masa sih kayak Sasu? #cium Sai *loh?. E-eh? GaaHina ya ? hehehe, in progress kok nee *dihajar Hana-nee. Oke sip, review lagi onee sayanggg … #cipok berdarah XDD.
Rai : Oke, ini review terakhir dating dari Rani iyura-chan ghetoh, imouto-mu ya Miyu?
Miyu : ahahaha, kok tahu? #nyengir.
Rai : =.=, oke ini balasan review untuk si manis Rani-chan, wah … Rani-chan gak percaya ya ama Miyu? #ngeluarin kaca pembesar *loh?. Ya, nanti bakal aku kasih tanda kok, mungkin 1 chapter fulllllllllllllllllllll …#muka mesum *digaplok Miyu XD.
Miyu : yak, Rani-chan khusus buat kamu aku bakal ikut ngomong juga XD #digaplok Rai-nii. Ahahaha, kenapa gak percaya aku buat rated M? bukan aku kok yang buat lemon. Tapi dia #tunjuk Rai-nii *dipelototin. Okedah, kamu ama Acha sama, minta dikasih pembatas. Oke, review lagi ya…
Rai : oke, Karena reviewnya udah dibalas semua, aku dan Miyu mau minta maaf dulu seandainya kami punya salah ama kalian semua. Dan semoga dengan membaca fic kami, puasa kalian tidak batal hahaha #ketawa nista.
Miyu : #sweatdrop. Okelah. Akhir kata, aku dan Rai-nii mau bilang …
Rai dan Miyu : REVIEW PLEASEEEEE~
Salam,
.
.
.
Miyu & Rai
08-05-12
