Help Me, Please!

.

Naruto © Masashi Kishimoto || This story © AkaiLoveAoi

T rated || Yaoi/BL || Alternative Universe

Warn: typos, OOC

A SasuNaru Story

.

"Aku tidak menyangka akan ada yang melamar,". "Terlebih seorang pria sepertimu,". "Mampus,". "Kau, pesanlah sesuatu,". "Ta-Tapi—". "Ssst, tidak usah menyela,".

[Omake Inserted]


Bagian 2: Belajar


.

.

Kenyataannya, debaran jantung Naruto bukanlah karena ada benih afeksi baru yang tumbuh di hatinya—melainkan karena ada kejutan-kejutan kecil dari pria itu yang tidak biasa baginya. Oh, tentu. Mereka adalah orang yang sama-sama asing dan baru bertemu satu sama lain beberapa saat yang lalu.

Masih dengan gelas kertas yang berisi susu hangat di tangannya, Naruto melirik jendela depan dan samping secara bergantian. Dari situ Naruto nyaris lupa akan fakta bahwa jalanan Tokyo adalah bak pembuluh darah utama Jepang—sangat ramai dan sangat sibuk. Baik trotoar maupun jalan raya terasa begitu penuh. Terima kasih pada Uchiha Sasuke karena membuatnya tidak perlu merasakan padatnya trotoar kota malam itu.

Mengabaikan pikirannya mengenai Tokyo, dalam kepala ia sibuk berandai-andai mengenai pria yang duduk di jok sebelahnya. Baru kali ini ia dibelikan minum saat jumpa pertama. Naruto berpikir apa itu adalah tindakan yang wajar? Atau ini adalah salah satu sifat pria itu? Kalau kata orang-orang, terlalu baik—mungkin?

Selain aroma kayu-kayuan yang menjadi pewangi mobil Sasuke, Naruto dapat mengendus aroma samar dari gelas kertas lainnya yang diletakkan Sasuke di dekat perseneling. Ia tahu itu kopi—mungkin saja kopi hitam karena baunya kuat sekali—yang dibeli Sasuke bersamaan dengan susu yang ada dalam gelasnya. Jujur, ia tidak begitu menyukai minuman berkafein tinggi tersebut, namun agaknya kali ini Naruto tidak terganggu dengan wangi kopi yang menguar itu.

"Aku tidak menyangka akan ada yang melamar," ujar Sasuke memecah hening. Pandangannya masih fokus ke jalanan dan tangannya masih mengendalikan kemudi. Naruto menoleh ke arah pria itu, mencoba memberi balasan, "…Eh—" bibirnya mencoba merangkai kata.

"Terlebih seorang pria—seperti mu," Sasuke menyela lebih dulu sebelum Naruto berkata. Si pirang melepas tawa ringan secara refleks saat ia mendengarnya. Maa, aku juga tidak menyangka akan benar-benar menelpon dan melamar untuk bekerja pada pria ini¸batinnya sambil tersenyum-senyum. Ia menyandar pada jok dan menyesap lagi susu hangatnya.

Pupil Naruto melebar saat ia menyadari bahwa Sasuke membelokan mobilnya untuk masuk ke sebuah kawasan apartemen yang begitu mencolok di tengah malam yang mengurung Tokyo. Bangunannya begitu tinggi dengan lampu-lampu temaram yang menghiasi dinding bagian luarnya. Tentu Naruto terpukau, tidak usah ditanya lagi bagaimana wajahnya yang mengeluarkan ekspresi terkejut. Sasuke memarkirkan mobilnya di lantai bawah tanah, kemudian keluar dari mobil dan mengambil tas kerjanya yang ia taruh di bangku belakang.

"Turunlah," ia melongokan kepalanya ke dalam, melihat Naruto sekilas dengan mata hitamnya yang tegas. Suara yang bagai titah itu langsung membuat Naruto tegak. Sasuke mengambil gelas kopi dan mencabut kunci mobil, Naruto bisa melihat pria itu meminum seteguk selagi ia keluar dari mobil.

Si pirang menyelempangkan tasnya dan berjalan mendekat ke arah Sasuke—oh, sudah pasti ia tetap menyelipkan jarak diantara mereka. Suara sepatu kerja Sasuke terdengar hingga ke telinganya, apa karena basement yang sangat sepi—sehingga suara-suara remeh dengan mudahnya bergema? Pikir Naruto demikian.

Langkah mereka mengarah ke pintu masuk, Sasuke menekan tombol elevator yang mengarah ke atas. Denting ringan terdengar ketika elevator itu tiba di lantai bawah tanah. Naruto mengekor di belakang Sasuke yang masuk telebih dahulu. "Tidak usah gugup. Kamar ku tidak setinggi yang kau pikirkan,". Ya, itu yang Sasuke katakan—sembari jarinya menekan tombol angka 11 di deretan tombol lantai yang terpatri di dinding elevator.

'Apanya yang tidak tinggi—sialan,' umpat Naruto dengan alis mengerut heran. Dirinya bertanya-tanya berapa sesungguhnya total lantai yang dimiliki gedung ini—sehingga lantai sebelas saja disebut tidak tinggi. Ia bersandar lemas pada dinding elevator yang tampak seperti cermin. Oh, ia dapat melihat pantulan wajah yang kelelahan dan ia sama sekali tidak terkejut kalau itu adalah wajahnya sendiri. Yap, terima kasih pada Uchiha itu karena jantungnya benar-benar dibuat berolahraga hari ini.

.

.

.

"Silakan," ujar pria itu, setelah ia menggesekan suatu kartu yang tampak mahal itu ke alat pemindai yang menempel di dekat pintu. Sasuke melepas sepatunya, melangkah masuk dengan beralaskan kaus kaki. Ia melepas mantel dan menggantungnya di hanger dekat sofa. Mengikuti apa yang pria itu lakukan, Naruto turut menaruh mantelnya di tempat yang sama.

Si pirang melihat ruangan yang sama sekali berbeda dengan kamar yang selama ini ia huni. Oh, ya ampun, membayangkan kalau selama ini Sasuke tinggal seorang diri dalam ruangan sebesar ini—Naruto pikir, apa pria itu tidak merasa kesepian? Mulutnya belum berani berbuat apapun selain menganga karena takjub.

"Ini tempat ku," ujar Sasuke pelan, memecah keheningan yang tercipta. Pria itu kemudian meletakan gelas kopinya di atas meja yang menghadap ke dapur. Sasuke mencuci tangannya di wastafel, "Kau boleh melihat-lihat," lanjut pria itu, masih di area dapur. Ia melangkah ke depan pintu kamar mandi dan meletakan kaus kaki di keranjang baju kotor.

Sasuke belum menyalakan semua lampu—yap, karena ia terlanjur terbiasa—membuat Naruto gatal untuk menyalakan beberapa lagi. Lampu lorong mati secara otomatis ketika tidak ada orang disana—usaha yang bagus untuk menghemat listrik (dan tenaga tentunya).

Ruangan itu tampak seperti ruangan pada umumnya. Sebuah apartemen dengan berukuran besar, dengan layar televisi lebar dan tipis, karpet bulu yang hangat, sofa tiga dudukan, meja makan minimalis dan tirai cream yang tampak lembut. Ia tidak tahu siapa yang mendesain ruangan ini, tapi rasa-rasanya Naruto ingin mengacungkan jempol kepada orang itu—oh demi apapun ruangan ini bahkan terasa sangat nyaman untuknya yang belum ada satu jam bediri disana.

"Kuharap kau akan terbiasa," suara Sasuke terdengar lagi—pria itu telah mengganti bajunya menjadi pakaian yang lebih kasual. Sweater rajut warna hitam dan celana training warna abu-abu, itu yang Naruto lihat ketika ia membalikan badan kearah suara. Pria itu kembali memegang gelas kertas yang berisi kopi, ia memandang Naruto tanpa ekspresi yang berarti. "Kalau begitu, mohon bantuannya, Uzumaki Naruto," ujarnya.

Bahu Naruto menegang, kepala tertunduk—berusaha memberikan kesan sopan pada sang majikan. "A-Aku disini juga—mohon bantuannya, Uchi—ah—Sasuke-san!". Ah, apa dia baru saja bertindak seperti orang yang kikuk? Gagal sudah rencana membuat first impression yang baik dihadapan sang pria.

Decih geli terlontar samar dari si raven—yang diam-diam berharap jangan sampai si pirang mendengarnya. "Bagus—oh ya, keberatan tidur di sofa? Aku akan meminjamkanmu selimut," balas Sasuke, menaruh gelas kopinya di meja depan televisi. Tanpa menunggu jawaban dari si pirang, Sasuke menaiki tangga dan kembali turun dengan menggotong selimut tebal di tangannya. Dilemparnya selimut itu ke sofa, kemudian si empunya duduk sejenak di atas sofa yang kelihatan empuk itu. Maa, sepertinya ia memang tidak memiliki pilihan, eh?

Naruto melihat tangan pucat Sasuke yang terulur, menepuk sisi sebelahnya yang kosong sambil melirik netranya.

'Sini,'.

Apa ia menangkap pesan itu dengan benar? Naruto berharap ia tidak akan lebih kikuk dari hari ini!

Si pirang menurut—ikut duduk di samping Sasuke dengan tetap menyelipkan jarak. Sunyi benar-benar menguasai ruangan itu, sampai-sampai Naruto dapat mendengar suara buang napas milik Sasuke. "Besok—aku berangkat pukul delapan,". Hanya iris safir Naruto yang penasaran—ia melirik kearah si raven. "Kau, tidurlah," lagi, Naruto belum bisa mengatasi bagaimana tajamnya tatapan milik pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Uchiha Sasuke.

Ia tidak terpesona—tentu saja tidak!

"Ba-baiklah," jawabnya disertai anggukan. Mengambil kembali gelas kopinya, Sasuke naik ke lantai mezanin itu dan tidak lagi terlihat. Si pirang berharap pria tersebut segera terlelap—dengan mengabaikan fakta bahwa Uchiha itu baru saja menenggak segelas kopi. Lebih baik dirinya yang berusaha untuk istirahat karena esok hari ia harus bangun pagi-pagi sekali, tentu saja… untuk mulai bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga.

Saat selimut tebal itu menutupi tubuh dan pikirannya nyaris mengawang—ia baru ingat satu hal yang sangat penting dan membuatnya sangat berdebar-debar.

.

.

Ia tidak bisa memasak.

.

.

.

"Mampus,". Hari debutnya menjadi ART terancam gagal total.


Keesokan harinya—masih di apartemen milik Uchiha.

.

.

.

Cukup lama tidur tanpa teman sekamar membuat Sasuke mempunyai jam biologis sendiri. Ketika ia bangun pagi itu, jam menunjukan pukul tujuh. Masih ada satu jam untuk bersiap-siap.

Sasuke perlahan menuruni anak tangga. Matanya melirik ke arah sofa—tempat yang ia ingat sebagai ranjang Naruto kemarin malam. Yap, seharusnya demikian—karena sedetik kemudian yang ia jumpai hanyalah sofa kosong dengan selimut terlipat rapi.

"Naruto?" Sasuke mencoba membuat si pemilik nama muncul. Kaki Sasuke mengitari apartemennya sendiri—mencari sosok pemuda pirang yang semalam tidur di sofa. Semua tempat menunjukan hasil yang nihil.

Oh? Apakah ini yang orang-orang sebut sebagai one-night-stand? "Tch,".

Sedikit—ia merasa seperti ditinggalkan. Ingat, hanya sedikit. Tak perlu waktu yang lama, Sasuke mengabaikannya—ia berlalu ke dapur untuk meminum segelas air, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi, berusaha menjernihkan pikirannya dengan menyiram diri. Uap air hangat mengepul memenuhi kamar mandi, membuat kaca-kaca menjadi buram.

Keluar dengan air menetes dari rambut, Sasuke naik kembali ke lantai mezanin dan berpakaian. Pria itu memakai setelan jas hitam dengan kemeja warna biru. Ia kembali ke lantai bawah sambil menenteng tas dan dasi warna abu-abu—berniat untuk memakainya saat tiba di kantor nanti.

Perihal Naruto yang pergi benar-benar tidak mengusiknya—ia tidak memikirkan hal itu hingga ia membuka pintu apartemennya, berniat untuk turun ke basement dan melajukan mobilnya ke tempat kerja.

"… Sa-Sasuke-san,". Ada suara yang mencegah ia melangkah lebih jauh. Pikiran si raven kembali. Manik hitam jatuh pada Naruto—pria yang terduduk sambil memeluk lututnya sendiri. "Kau—" suaranya menggantung. "Apa yang kau lakukan disini?" tatapan penuh tudingan sekaligus keheranan ia layangkan pada Naruto yang bersandar pada dinding.

Si pirang menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan bagaimana ia bisa terjebak dalam situasi ini.

"Um—ano—aku…". Benar-benar—ia tidak sanggup menjelaskan kalau iris onyx Sasuke masih melekat padanya. Terlihat sangat menakutkan baginya. "… sebenarnya… aku tidak bisa memasak, Sasuke-san," akunya jujur. Naruto berusaha mengatakan hal itu sejelas mungkin dengan memikirkan berbagai risiko yang menghantuinya setelah ini. Pertama mungkin pria itu akan menertawakannya atau mungkin langsung menghujatnya—dan kemudian ia akan dipecat dari pekerjaan yang bahkan belum ia mulai ini. Dan kemudian ia akan kembali menganggur… oh sial.

Ia sudah cukup mengutuk diri sendiri sejak tadi pagi. Menyalahkan dirinya yang dengan bodohnya lupa bahwa ia sama sekali tidak pernah mencoba hal yang dinamakan memasak. Paling jauh hanya merebus air dengan teko listrik.

"A-aku bangun lebih pagi untuk mencari konbini yang menjual menu sarapan—karena aku tidak ingin Sasuke-san berangkat dengan perut kosong. Namun… saat tiba di lantai dasar aku baru menyadari bahwa aku tidak memiliki uang untuk membelinya—".

"Lalu? Mengapa kau malah diam disini?".

"… Aku pikir Sasuke-san masih tidur… jadi tidak enak kalau aku membunyikan bel," balasnya.

"Kau bisa menelpon ku,".

"Aku tidak mempunyai pulsa—selain itu, aku meninggalkan ponselku di sofa…" ujarnya dengan nada bersalah. Sasuke membuang napas dengan suara kasar.

"Mengapa kau tidak petugas untuk membukakan pintu?". Naruto menggeleng begitu pertanyaan itu teracung. "Aku tidak berani—mereka begitu menakutkan!".

Astaga, ia baru tahu kalau pemuda pirang itu bisa sebodoh ini. Sasuke memijit pelipisnya, pusing. Paginya benar-benar kacau hari ini.

"Ikut aku,". Suaranya berubah tajam—memberi titah pada Naruto untuk mengekorinya. Ia tidak berani menyela, si pirang memilih menurut dan mengikuti kemana si tuan melangkah.

Oh, Kami-sama… inikah akhir dari debutnya sebagai ART? Ah—bahkan ia belum mulai bekerja. Sungguh bukan kenangan yang indah.

"Duduk,".

"Eh?".

Naruto benar-benar tidak sadar kalau Sasuke telah membawanya ke sebuah tempat yang hangat dan terlihat ramah. Ada musik klasik yang diputar pelan, ia turut melihat kursi besi yang tertata begitu rapi. Seolah-olah ini adalah kedai makan pagi yang—eh, tunggu.

"Duduk, Naruto,".

Apa-apaan ini? Mengapa mereka ada disini?

"Kau, pesanlah sesuatu,". "Ta-Tapi—". "Ssst, tidak usah menyela,". Naruto benar-benar bingung dengan tingkah sang tuan. Karena kasihan pula dengan pelayan yang telah menunggu, akhirnya Naruto membaca menu dan menyebutkan pesanannya.

"Aku ingin … o-ochazuke,". Sasuke menyandar pada sandaran kursi. "Buat dua porsi," tambahnya—membuat Naruto makin kaget karena berpikir kalau ia harus menanggung pesanan dua orang. Astaga—ia harus bagaimana?

.

.

.

Sosok Naruto menjadi satu-satunya atensi Sasuke saat ini. Ia memperhatikan bagaimana panik dan khawatirnya wajah itu saat ia memberikan titah pada pria itu, sambil menatapnya tajam dan menyeretnya paksa ke kedai yang terletak di lantai dasar apartemen.

Harusnya ia memecatnya. Harusnya ia kecewa dengan kenyataan bahwa pria yang bahkan tidak bisa memasak itu berani melamar sebagai ART. Harusnya—harusnya ia tidak membelikan makan pagi untuk si pirang ini. Harusnya ia tidak merasa lega karena ternyata pria itu tidak pergi. Harusnya ia biarkan saja pria itu—

… ah

Tanpa Sasuke inginkan—dalam hatinya ia bersyukur karena Naruto tidak meninggalkannya. Hangat menyelimuti dada ketika ia menyesap kuah ochazuke yang ia pesan kembar dengan milik Naruto. Sasuke merasakan sesuatu menggelitik relungnya—ia sendiri belum tahu apa namanya.

Yang jelas… ia tidak menyangkal ini.

.

.

.

"I-Ini…".

"Kartu untuk masuk ke apartemenku,".

"Ke-Kenapa Uchi—maksudku Sasuke-san memberikannya padaku?".

"Hah? Karena kau asisten rumah tanggaku,".

"Sa-Sasuke-san tidak memecatku?".

"Tidak sekarang,".

Rasanya Naruto ingin berteriak syukur di depan lonceng kuil. Inikah yang disebut mukjizat dewa?

"Terima kasih, Sasuke-san!".

"Pastikan kau ada di rumah saat aku pulang,".

"Ba-baik!".

"Jaa, aku pergi dulu,".

"Ah—itterashai—eh," Naruto menutup mulut seolah salah bicara. Ia melotot takut karena membuat pria itu berhenti berjalan dan menoleh ke arahnya.

Jantung Naruto bedebar keras—belum tahu reaksi apa yang akan dikeluarkan Sasuke Uchiha.

Oh—ia melihat seringai tipis! "Ittekimasu," balasnya seraya ia berbalik melanjutkan langkah. Naruto belum berkutik dari sana hingga Sasuke benar-benar hilang dari pandangannya. Sumpah—keberadaan pria itu benar-benar olahraga untuk jantungnya!


bersambung


Hai! Jumpa lagi dengan Ao disini~ Miss me already? /nggak ada/ Oke... jadi pertama Ao mau minta maaf dulu karena update cerita ini lama banget ya ampun /nangis/ Iya... ada berbagai macam penyebab wkwk jadi mohon dimaafkan aja... tetep difave dan follow ya :)) [dan jangan lupa dibawah ada omake].

Dan untuk chapter ini, awalnya bukan begini konsepnya (udah sempet beres cuman entah kenapa rombak lagi jadi lama) dan rombakan ini belum tentu lebih baik dari sebelumnya-dan Ao takut banget karakter keduanya jadi amburadul, maafin banget kalau itu emang bener-bener keliatan. Ao berusaha menyesuaikan dengan plot yang udah Ao bikin sebelumnya. Jadi semoga kalian suka dengan jalan ceritanya.

Kalau ada saran atau kritik, Ao terbuka untuk itu semua, jangan sungkan untuk PM atau review cerita ini oke? Agar cerita ini makin berkembang kearah yang lebih baik~

Sankyuu

AkaiLoveAoi


OMAKE


Malam di hari yang sama, kediaman Uchiha.

.

.

.

Sasuke menekan bel saat Naruto sedang membereskan barang-barang di lantai bawah. Ia membukakan pintu untuknya, sesuai dengan keinginan sang tuan tadi pagi.

"Oh? Apa Sasuke-san mampir ke toko buku?" saat Sasuke mencuci tangan, Naruto melihat barang bawaan Sasuke yang bertambah. Ia mendapati tas kertas bertuliskan nama toko buku yang terkenal di dekat tempat mereka tinggal.

"Ya. Buka saja,". "Eh? Tidak apa-apa?". Sasuke menggeleng dan mempersilakan Naruto untuk membukanya.

Ada beberapa buku... dan semuanya adalah buku yang bertema 'how to cook in easy and right way,' atau 'cara memasak untuk pemula,' dan sejenisnya. "Jangan sampai kau tidak membaca buku itu," kata Sasuke, lalu duduk santai di sofa sambil melonggarkan dasinya.

Astaga... entah Naruto harus merasa senang karena dibelikan buku memasak... atau merasa terbebani karena kini pria itu sibuk mencoret-coret buku yang berisi resep makanan seolah memberikan pesan kalau 'aku ingin makan ini... ini juga... ah, ini juga,'.

"Sasuke-san... terima kasih sudah repot-repot membelikan buku seperti ini," katanya, mengenyampingkan pikirannya yang barusan. Ia duduk di karpet tebal nan hangat, menatap Sasuke dari bawah. "Aku akan berusaha sebaik mungkin... membuatkan masakan kesukaan Sasuke-san!".

Decih tawa terlontar samar, Naruto mendengarnya. "Baiklah. Aku akan menunggu," balas Sasuke dengan elusan pelan di puncak kepalanya. Oh... sampai kapan Sasuke akan membuat jantungnya berdebar seperti ini? Naruto lelah!


(beneran) bersambung