"Maaf, Taeyong-ah. Hari ini Sehun-hyung tidak bisa bermain denganmu," ujar nyonya Oh pada sosok kecil Taeyong, yang datang mengetuk pintu rumahnya sore itu. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya itu berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan sosok kecil yang ia ajak bicara, "Sehun-hyung sakit cacar dan sekarang sedang tidur," sesalnya.

Senyum lebar Taeyong memudar. "Tapi―" anak kecil itu menunduk, "Sehun-hyung janji akan main sepeda denganku hari ini," lanjutnya. Ia sudah membawa sepedanya, ia sudah siap bermain seharian hari ini. Ia bahkan meminta papanya untuk membenarkan sepedanya kemarin.

Nyonya Oh mengelus kepala Taeyong. Tak tega juga melihat raut kecewa di wajah manis anak itu. "Setelah Sehun-hyung sembuh kalian bisa main lagi, hm?"

Taeyong mengangguk pelan.

Mama Sehun mengajaknya untuk masuk, mencicipi kue yang baru ia buat, tapi Taeyong kecil memilih untuk pulang. Ia sudah makan. Ia makan banyaaaaak sekali tadi karena berfikir akan bermain sampai petang dengan Sehun-hyungnya. Ia juga ingin mengajak hyungnya itu bertanding sepeda, karena terakhir kali mereka melakukannya, Taeyong tertinggal sangat jauh, bahkan sampai menangis dan Sehun mengatainya cengeng.

Dengan cemberut, Taeyong membawa sepedanya pergi. Tak ada yang bisa ia ajak bermain, karena tak banyak anak seumurannya di daerah ini, dan lagi ia tak kenal anak laki-laki lain selain Sehun. Ia takkan mau bermain dengan Koeun, Lami, Hina atau Herin. Terakhir kali ia main dengan anak perempuan, ia bermain rumah-rumahan. Menyenangkan, sih, tapi saat ia cerita pada Sehun, hyungnya itu menertawakannya. Mengatakan jika anak laki-laki tidak seharusnya main permainan seperti itu.

Tak ada yang bisa ia lakukan di rumah juga. Sudah sejak pagi Taeyong diam di rumah. Bermain sendiri, dengan legonya dan menonton kartun. Noonanya tak pernah mau mengajaknya main, selalu di kamar, bermain dengan ponsel lalu tertawa-tawa sendiri, menyuruhnya ini-itu, mencubiti pipinya, atau jika tidak malah memarahinya.

Makanya, bukannya mengambil jalan pulang, Taeyong kecil malah berbelok untuk pergi ke taman. Bersepeda sendirian terdengar tak terlalu buruk juga.

Yah, setidaknya untuk sepuluh menit pertama.

Taeyong cemberut. Bosan dengan cepat. "Sehun-hyung menyebalkan. Tukang bohong."

Ia terus berjalan mengelilingi taman, sambil terus mengatai Sehun, dan saat itulah ia menemukan paman aneh itu. Paman aneh yang jika Taeyong tak salah ingat, selalu membaca buku di bawah pohon. Paman yang selalu memakai topi, sarung tangan, dan mantel tebal padahal udaranya sama sekali tidak dingin.

Tanpa sadar langkah kakinya membawanya mendekat. Ia terdiam menatapi paman itu lama.

"A-apa?"

Dan hari itu ia tahu jika paman aneh itu tak seaneh yang ia pikirkan.

Namanya Paman Jaehyun. Bukan albino, setengah albino, ataupun alien, tapi dia akan sakit jika terkena sinar matahari. Taeyong menyukainya. Karena paman itu lucu. Ia selalu bergerak menjauh saat Taeyong mendekat. Padahal Taeyong tak akan menggigit.

Taeyong tersenyum makin lebar. Ia melambai, dengan semangat, "Sampai jumpa lagi, Paman Jaehyun!"

.


Everlasting

Jaehyun X Taeyong

NCT-U & SMRookies © SM Entertaiment

BL. AU. Typo (s). OOC (s)

.


"Woojae―"

Doyoung tertegun begitu sosok muda yang lebih tinggi darinya itu, dengan begitu saja, melewatinya dan menuju ke sofa depan televisi.

Ia hendak menyapa saeng kesayangannya itu begitu sosoknya muncul dari balik pintu, karena rasanya sudah lama sekali mereka tak mengobrol. Ia juga sudah dengar ringkasan cerita yang menimpa Jaehyun dari trio kwek kwek―Yuta, Ten, Johnny―dan ia ingin mendengar detailnya dari orang yang bersangkutan. Tapi melihat reaksi aneh saengnya ini. Mau tak mau Doyoung malah jadi semakin khawatir.

Pemuda itu menatap trio kwek kwek yang berada tak jauh darinya. "Apa dia sudah seperti ini sejak kemarin?" tanyanya.

Yuta menatap Johnny. Johnny menatap Ten. Ten balik menatap Yuta. Lalu ketiganya menggeleng bersamaan. "Dia masih baik-baik saja kemarin." Yuta mencoba mengingat. "Mungkin jadi sedikit pendiam dan lebih sering keluar, tapi ia masih baik-baik saja," tambahnya.

"Kenapa dia memegangi pipinya?" Ten iseng bertanya. Mengamati keganjilan yang dilakukan adik besarnya dari kejauhan.

Johnny angkat bahu, menjawab asal, "Sakit gigi, mungkin?"

"Vampir tidak bisa sakit gigi." Doyoung memijat pelipisnya. Masih kepikiran dengan perubahan aneh sang saeng. Dan tak habis pikir dengar asumsi aneh yang ia dengar barusan.

Yuta berdecak. "Johnny dan pikiran bodohnya―"

"―apa kau bilang?"

"Tidak."

"Yuta-hyung bilang Johnny-hyung bodoh," kekeh Ten tanpa dosa.

Yuta tersenyum dan merangkul saeng dengan senyuman lebar dan manisnya itu, "Terimakasih Ten sayang, sudah mau menjelaskan pada si bodoh itu."

Johnny tampak tersinggung,"HEI!"

"Ssttt! Jangan berisik." Doyoung mulai merasa sakit kepala.

Meski diantara keributan itu, sosok yang menjadi topik pembicaraan seakan tak terusik. Jung Jaehyun, yang sudah menjadi vampir terhitung hampir satu abad lebih. Dan hanya karena sentuhan ringan dari tangan mungil milik seorang bocah di pipinya sore tadi, kini seakan sudah berubah menjadi zombie. Tatapan matanya kosong. Tangannya memegang sebelah pipinya. Dia tertegun, dengan ekspresi yang lebih mirip dengan orang idiot (meski tetap tampan). Dan ia―inilah yang paling aneh― mengabaikan semua hyungnya.

Yuta menatap tanya Johnny. Yang ditatap mengangkat bahu tanda tak tahu menahu. Komunikasi yang aneh.

Ten mendekat, dengan rasa penasaran, mengamati zombie Jaehyun dengan alis terangkat tinggi. Iseng, ia mengibaskan tangannya di depan wajah itu. Sekali. Tak ada reaksi. Dua kali. Tak ada reaksi. Tiga kali-empat kali-lima kali. Sama, tak ada reaksi. Berkedip saja tidak, Jaehyun sepertinya telah sepenuhnya berubah jadi patung zombie. "Jaehyun-ah." Ia memanggil nama saengnya berulang kali, masih tak ada reaksi. Ia mencubiti pipinya, memainkan poninya, menjewer telinganya. Tak ada reaksi.

Dan tak butuh waktu lama zombie Jaehyun menjadi mainan yang sangat sempurna untuk Ten yang kini tertawa-tawa.

Doyoung menghela nafas. "Ten…"

Ten yang mulai kehilangan kendali, menghentikan aksi usilnya. "Maaf, maaf," katanya, nyengir.

Tak lama sosok lain muncul dari atas tangga. Dengan rasa penasaran berjalan mendekati kerumunan. "Ada apa?" tanyanya.

"Hansol-hyung!" Ten mendekati sang hyung dan menarik tangannya, yang ditarik mengikuti tanpa protes ke arah orang-orang yang berkerumun. "Lihat Jaehyun berubah menjadi zombie!" lapor Ten, entah kenapa malah terdengar dengan nada senang.

"Zombie?" Hansol, pemuda dengan wajah imut itu memandang orang-orang di sana―Yuta, Ten, Johnny, Dooyoung―yang memasang tampang bingung dan tak mengerti. Sebelum kemudian mengamati sang saeng dan seketika serasa mengalami déjà vu. Rasanya belum lama ini ia melihat sesuatu yang seperti ini menimpa seseorang. Lalu kalimat itu tiba-tiba meluncur tanpa bisa dicegah, "Bagiku Jaehyun lebih terlihat seperti sedang jatuh cinta―"

Dan untuk pertama kalinya Jaehyun bereaksi dari mode zombie-nya.

Jika Jaehyun punya jantung layaknya manusia, mungkin jantungnya sudah berdetak di luar kendali sekarang.

"A-apa?"

.


Taeyong menyelesaikan makannya dengan malas. Hanya bersisa sayur-sayur tak enak di piringnya, dan ia sudah kenyang. Tapi mamanya pasti marah jika ia tak menghabiskan makannya. Dengan susah payah ia menelan benda itu, benda yang kata mamanya bisa membuatnya sehat tapi rasanya tak enak. Yaks.

Ia menyerahkan piring kotornya pada sang mama, yang sedang mencuci piring. Menerima ucapan terimakasih dari mamanya.

Kemudian duduk lagi di kursinya, menaruh kepalanya di meja.

"Tak pergi bermain, sayang?"

Taeyong menggeleng, menjawab pertanyaan mamanya. Kakinya yang tak sampai ke lantai terayun-ayun. "Sehun-hyung masih sakit," keluh Taeyong kecil. "Kenapa sakit cacar lama sekali? Aku jadi tidak bisa main sama Sehun-hyung," katanya. Cemberut.

Nyonya Lee tersenyum melihat tingkah putra kecilnya yang merajuk. "Memang seperti itu, sayang. Kecuali jika kau ingin tertular dan sakit cacar juga."

Tayeong menggeleng, ia tidak mau sakit cacar juga. Nanti ia tak bisa main sama seperti Sehun-hyung dan harus seharian di rumah. 'Kan bosan. Mamanya mengajaknya untuk mejenguk Sehun, tapi tentunya tidak sekarang. Sehun belum bisa dijenguk, mamanya bilang paling tidak seminggu lagi. Dan bagi Taeyong itu lama sekali.

"Sekarang aku harus main dengan siapa?" gumam Taeyong kecil pada dirinya sendiri.

Lalu saat itu bayangan satu wajah tiba-tiba muncul di benaknya. Membuatnya terlonjak bangun.

Paman Jaehyun!

Kenapa aku tidak pergi ke taman saja?

Taeyong kecil yang tiba-tiba saja semangat segera meloncat dari kursi dan bergegas menuju kamarnya. Matanya berbinar melihat bola orange miliknya, membawa benda bulat itu di jari-jari tangannya.

Paman Jaehyun mungkin sudah menolak ajakan bermainnya kemarin, tapi Taeyong akan mengajaknya lagi hari ini. Lagipula paman itu selalu sendirian, pasti kesepian jika tak ada teman. Kedatangan Taeyong pasti akan membuatnya senang, pikir Taeyong sambil tersenyum. Pikiranan polos khas anak kecil.

Baru saja ia akan meninggalkan kamarnya, sebelum berhenti sejenak karena teringat sesuatu. Paman Jaehyun tidak bisa terkena sinar matahari karena dia akan sakit, tentu saja ia takkan mau bermain bola basket bersamanya. Taeyong cemberut saat menyadarinya. Ia memandang kecewa bola di tangannya sebelum menaruhnya kembali. Berjalan keluar dari kamarnya dengan lesu.

Tidak mungkin juga jika bermain sepeda. Paman Jaehyun sepertinya tidak punya sepeda dan terlalu besar untuk meminjam sepedanya.

"Huft…"

Lalu apa?

Raut wajahnya yang sedang berfikir keras terlihat menggemaskan.

Taeyong mendekati mamanya. Menarik-narik celana yang dikenakan sang mama, menarik perhatian nyonya Lee yang baru selesai mencuci piring.

"Kenapa, sayang?"

"Ma, apa yang bisa dilakukan di taman tanpa harus terkena sinar matahari?" tanyanya.

Alis nyonya Lee tertaut mendengar pertanyaan itu. Tapi melihat raut serius putranya mau tak mau membuatnya berfikir, mencoba mencari jawaban yang bisa memuaskan. "Mm… bagaimana dengan― menggambar?" usulnya. Nyonya Lee terkekeh saat melihat bola mata anaknya membola dengan sendirinya. Lucu sekali, pikirnya. Ia mencubit pipi anak bungsunya itu dengan gemas. "Kau bisa menggambar di bawah pohon untuk menghabiskan waktu tanpa terkena sinar matahari."

Kedua bola mata itu mengerjap.

"Ya!"

Taeyong terlonjak senang. Mengucapkan terimakasih pada mamanya dan langsung berlari masuk ke kamar. Mengambil buku gambar dan tempat crayon, kemudian berlari keluar rumah setelah berpamitan pada sang mama.

"Hati-hati. Jangan pulang terlalu sore―" tapi sosok kecil itu sepertinya tak mendengar. Karena menghilang dengan sangat cepat. Nyonya Lee hanya bisa geleng-geleng saja sambil tersenyum kecil. "Anak itu…"

.


Jaehyun memang masokis.

Meski sudah tahu jika datang ke tempat ini akan sangat tidak baik untuk kesehatannya. Baik secara fisik, dan terlebih untuk mental dan kesehatan jiwanya. Dia tetap saja datang dan berharap akan bertemu lagi dengan sosok kecil yang membuatnya menjadi bukan dirinya kemarin. Para hyung-nya sudah memperingatinya untuk menjauh saja sebelum semuanya terlambat. Tapi ia masih bersikeras. Bahwa ia hanya ingin memastikan.

Dan di sinilah Jaehyun. Kembali menghabiskan waktunya dengan buku, di bawah pohon, tempat favoritnya di taman itu. Tapi kini ia tak sendirian, karena seorang anak kecil berumur tujuh tahun duduk tak jauh dari tempatnya. Entah Jaehyun harus merasa terganggu dengan aroma manis yang menguar menggiurkan itu atau justru senang.

Jaehyun tak berhenti menatapinya. Anak kecil itu mengambil seluruh atensinya, bahkan dari buku, pacar setianya sejak berabad-abad lalu. Ia belum menambah satu paragrafpun bacaan dari bukunya sejak anak itu tiba-tiba saja datang―kali ini bukan dengan membawa sepeda, melainkan sebuah buku gambar berukuran cukup besar dan menjinjing kotak crayon. Anak itu menyapanya, duduk, dan mulai mengeluh tentang 'Sehun-hyung masih belum sembuh. Aku bosan,' bahkan sebelum ia sempat membalas sapa dan bertanya alasan kenapa ia datang.

Yah, sebelum Jaehyun diabaikan dan anak itu asyik dengan kegiatannya sendiri. Dengan buku gambar dan crayon warna-warni yang dibawanya.

"Paman Jaehyun! Lihat! Aku mengambar pohon!" ujar anak itu semangat, mengangkat buku gambarnya dan memperlihatkan hasil sibuknya selama beberapa waktu. Dua garis linear yang tak sejajar yang diberi warna coklat dengan sesuatu dari warna hijau tua yang dibuat berupa benang kusut di atasnya. Err

"Bagus?" Jaehyun tak tahu harus berkata apa-apa lagi.

Taeyong tersenyum lebar, dan kembali mengambil crayon dengan warna lain dan menambah objek lukisannya. Anak itu terlihat serius selama beberapa saat, sebelum kembali mengangkat buku gambar dan memperlihatkan lukisannya. "Tebak! Ini gambar apa?" Tunjuknya padanya objek yang baru ia buat.

Jaehyun mengerutkan kening sesaat. Sesuatu yang serba hitam dan benda kotak kecil yang diwarnai merah. Lalu ada matahari dan rumput-rumput―tunggu! Meski mungkin gambarnya hanyalah gambar anak-anak, sepertinya Jaehyun mempunyai gambaran mengenai apa sebenarnya itu. "Itu―" Jaehyun memberi jeda, mencoba menebak, "Aku?"

Kepala anak kecil itu terangguk-angguk. Senyum bangga menghiasai wajahnya. "Yup! Bagus 'kan?" tanyanya antusias.

Jaehyun terdiam memandangi si bocah. Sebelum mengangguk dan tertawa kecil menyadari betapa menggemaskannya anak kecil di depannya, yang rupanya telah menghabiskan waktunya dengan serius untuk membuat gambar tentang dirinya yang sedang membaca di bawah pohon. Rasanya sudah lama sekali tak ada orang yang melakukan hal seperti itu untuknya. Rasanya seperti diperhatikan dan itu membuatnya merasa senang. "Kenapa kau menggambarku, Taeyong-ah?"

"Karena Paman Jaehyun lucu! Taeyong suka!" jawabnya polos. Dengan senyum lebar Taeyong menggeser duduknya mendekati sang paman, membuat Jaehyun seketika bergerak menjauh. "Lihat! Paman selalu bergerak menjauh saat aku mendekat," katanya sambil terkekeh.

Jaehyun tertegun.

Sebelum tertawa lebih keras. Apakah ia baru saja menerima pernyataan dari seorang bocah berumur tujuh tahun?

Jaehyun mengganti tawanya dengan senyum, menutup bukunya―yang kini terkesan tidak menarik. "Kemarilah," kata Jaehyun, menepuk tempat kosong di sampingnya yang menyandar pada batang pohon. Mungkin akan sedikit berbahaya karena aroma manis yang menggiurkan itu akan semakin kuat tercium, tapi Jaehyun yakin bisa menahannya. Ia bisa memikirkan hal lain yang bisa membuat perhatiannya teralih, contohnya mungkin kelakuan-kelakuan absurd para hyungnya di rumah. Lagipula ia takkan tega menyakiti anak kecil yang menggemaskan ini. Tidak setelah tindakan manis yang ia buat untuk Jaehyun. Yah, kecuali mencubit pipinya keras-keras karena terlalu gemas.

Taeyong membawa serta buku gambar dan crayonnya dan berpindah ke samping sang paman.

"Karena Taeyong sudah membuatkan gambarku. Maka aku juga akan membuatkan satu," katanya. Mengambil alih buku gambar dan crayon dari tangan kecil itu. "Bagaimana jika― seekor gajah?" tawarnya.

Taeyong mengangguk antusias.

Jaehyun tersenyum dan mulai membuat gambarnya. Hanya sebuah sketsa sederhana. Mulai dari kepala, telinga lebar, kemudian belalainya yang panjang, badan, kaki, dan yang terakhir ekor. Dan selesai. Jaehyun lupa kapan terakhir kali ia menggambar, tapi sepertinya kemampuan menggambarnya masih oke.

"Kereeeen!" Mata bulat itu berbinar menatap hasil gambaran sang paman pada buku gambarnya, yang terliht begitu mirip. Jaehyun tersenyum, senang melihat ekspresi yang muncul di wajah anak itu. "Buatkan lagi, paman!" tangan kecil itu menarik-narik lengan mantelnya dengan antusias.

"Apa?"

"Um, seekor kucing? Lalu anjing―" Taeyong mulai membuat hitungan dengan jari-jari mungilnya, sambil menyebutkan "Burung, ikan hiu, harimau, jerapah, ah― hantu! Buatkan gambar hantu untukku, paman!"

Jaehyun hanya bisa tertawa.

Jung Jaehyun mulai merasa seperti menjadi seorang pengasuh anak. Tapi anehnya ia sama sekali tak keberatan. Justru sebaliknya.

Mereka menghabiskan sore itu dengan memenuhi lembar demi lembar buku gambar Taeyong dengan berbagai gambar, menggambar bersama. Rasanya menyenangkan. Benar-benar menyenangkan. Jaehyun benar-benar menikmati waktunya sore itu dengan si kecil Taeyong, dengan penuh tawa.

"Paman."

"Hm?"

"Terimakasih sudah menemaniku main hari ini, paman Jaehyun," cengir si kecil Taeyong.

Cup.

Dan Jaehyun kembali tertegun saat mendapati ciuman kecil di pipinya.

Sosok kecil itu berlari. Melambai dari kejauhan dengan senyum lebar, "Aku akan datang lagi besok! Sampai jumpa, paman!"

.


-To be Continued-

.


Annyeong~ Ini dia chapter duanya. Maaf jika lama karena harus bulak-balik hapus dan ketik ulang karena kurang sreg. Hehe.

Ini balasan review chapter kemarin:

freakfujo: Ini sudah dilanjut :3

kimxjae: Ini sudah dilanjut. Kayaknya awal-awalnya emang ga jelas, maafin yah XD

Yoh Yollie: Iyakah? Selamat datang di kapal JaeYong. Mari berlayar bersama, chingu XD Di chapter ini Taeyong masih kecil, time skipnya mungkin beberapa chapter ke depan. Hehe. Maaf kalo misalnya bikin ga nyaman. Untuk OTP NCT selain JaeYong sih ada TaeTen, YuTen, DoJae, YuTae, JohnTen, MarkMin, JohnSol, dan banyak lagi. Bisa dipair-pairin sendiri ko. Suka-suka aja XD

ulfah. cuittybeam: Ini ya. Uhuk.

Byunyunee: Annyeong~ Ini temanya ga berat ko, chingu. Ten emang unyu, loveable banget, duh. XD Hansolnya udah muncul, meski cuma bentaran. Paman Jaehyun ga gigit Tae kok. Ga sekarang :3

martabakcoklat: Jangan guling-guling nanti kotor. Wah kesan vampirnya ga ada berarti yah ehehe. Iya pasti imut banget bawaannya pengen culik kalo ada, chingu. XD

laxyovrds: Nanti ada time skipnya kok. Maafin kalo ini annoying, emang idenya aja aneh. Kalo mereka jadian hm... mungkin nanti XD

suki-chan07: Ini sudah dilanjut. Makasih udah suka. Siap, chingu :3

Jaenoona: Jae emang cute, duh. Lebih ke selera aja. Yang penting JaeYong ya, ching? Hihi. *kibar bendera JaeYong*

jaeyongyong: Ini sudah dilanjut. Nah, aku kira aku doang yang anggap Taeyong cute banget pake baju itu, ching XD

rahma12desti: Hihi. Maafin ya Jaehyun yang ganteng dibuat pedo dulu :3

Ollasuke: Anak NCT sm SMRookies emang masih polos-polos, bawaannya pengen nistain XD Iya, mereka berdua keliatan deket banget. Momentnya bertebaran, bikin senyam-senyum. Hihi. Siap! Semoga makin banyak yang buat fic dengan pair JaeYong. Biar makin banyak asupan. Dan ini masih dilanjut kok :3

Iceu Doger: Aku juga baru tau kok chingu XD Paman Jae ga akan gigit Tae kok, ga sekarang. Hihi. Nah iya, namanya bocah tau apa ya? XD

mingsgf: Sudah dilanjut. Salam JaeYong shipper :3

SOS: Wah kebetulan dong. Ini sudah diupdate :3

capungterbang: Iya Jaehyunnya dibuat pedo dulu, chingu. Makasih. Ini sudah update :3

Guesteu: Hehehe. Emang nih ff JaeYong masih jarang. Semoga nanti makin banyak XD. Maafin kalo ceritanya kesannya maksa ya, ching. Ini sudah dilanjut :3

Sekar310: Makasih masukannya yah. Udah ada di chapter ini nih :3 Semoga typonya jarang-jarang juga. Hehe. Ini sudah dilanjut, semoga suka :D

miumiu: Jangan gitu dong, ching. Hehe. Ayo teriak bareng aku liat kemanisan mereka. Makasih udah suka dan makasih juga semangatnya :3

kim joungwook: Iya pasti imut banget. Makasih, chingu. Ini sudah dilanjut :3

Shim Yeonhae: Maaf ya kalo ceritanya annoying. Tenang, nanti ada time skip kok :3

Terimakasih untuk semua yang sudah review di chapter kemarin. Bacanya bikin senyam-senyum sendiri, duh. Yang fav dan follow juga, terimakasih. Seneng banget tahu banyak yang suka JaeYong juga.

Oh iya, panggil aku Byul aja ya chingudeul. Lets be a friend~ :3

Lets give more love for JaeYong ;3

Ditunggu review untuk chap ini yah~

P.S: Maaf AN nya lebih panjang dari ceritanya XD