Alih-alih memeluk sang pria, Luhan malah membalikkan badannya dan lari menjauhi Kris yang terpaku memandang punggung sempitnya. Sedikit kesusahan saat harus melangkah dengan sepatu hak tingginya.
Sedangkan Kris? Pria itu bahkan sudah lemas karena menyadari ia tidak mendapatkan apa yang di inginkan. Selama ini Kris selalu mendapatkan segalanya dalam satu kedipan mata, walaupun ia berusaha tapi tetap saja dalam usahanya itu selalu ada campur tangan sang orangtua. Hingga saat ini ia merasa patah hati karena merasa apa yang ia lakukan selama ini sia-sia. Namun Kris tak ingin menyerah begitu saja, sudah waktunya ia membuktikan kalau ia mampu berusaha dengan keringatnya sendiri tanpa bantuan sang baba dan ini menyangkut hatinya.
.
.
.
Luhan berjalan sambil memeluk tubuhnya sendiri, jelas saja sendiri, ini bahkan sudah tengah malam. Hanya beberapa orang yang masih lalu lalang di kawasan perkantoran Beijing. Hawa dingin sudah tak ia rasakan lagi karena pikirannya sedang kalut. Andai saja menutup telinganya pasti ia akan menerima pernyataan cinta dari pria itu. Ini semua ia lakukan karena Luhan tak ingin keluarganya dicemooh oleh banyak orang. Terlebih cibiran dari rekannya di kantor. Sudah cukup lama ia mendapat tudingan yang tidak mengenakan karena banyak yang iri pada nasibnya yang beruntung.
Flashback on
"Lin-ah, kau lihat perempuan kedai itu? Cih, aku sungguh muak. Pintar sekali ia mencari muka." Cibir si gadis bersurai emas sambil memoles lipstick berwarna merah menyala.
"Aku pun juga muak melihatnya. Sudah berpakaian lusuh, ketinggalan jaman, masih nekat juga mendekati Tuan Wu. Dasar tidak tahu malu." Jawab perempuan yang bersurai cokelat.
Luhan mendengar itu semua dari dalam bilik toilet. Seharusnya Luhan sudah keluar dan membersihkan tangannya di wastafel, namun mendengar nama julukannya membuat ia mengurungkan niatnya itu. Ya, perempuan kedai adalah nama panggilannya di kantor. Banyak yang mengakui Luhan memiliki paras yang indah dan tubuh yang ramping dan padat di bagian yang tepat, namun Luhan menutupi itu semua dengan memakai pakaian yang tidak terlalu ketat. Luhan berperilaku ramah dan bersikap manis sehingga banyak karyawan senior yang menyukai perangainya. Bahkan para panitia seleksi sudah menduga kalau Luhan yang memenangkan seleksi pemilihan sekretaris karena reputasi dan prestasinya yang cemerlang. Namun karena keahlian bersilat lidah beberapa orang yang membencinya membuat reputasi baik Luhan jatuh perlahan. Luhan dituduh melayani nafsu para panitia seleksi yang hampir semuanya paruh baya. Belum lagi ditambah keluarga Luhan hanya keluarga sederhana dan tidak terpandang. Ia semakin dicemooh dan dicibir. Hanya beberapa orang yang masih mempercayainya. Termasuk sang tuan muda Wu.
Flashback Off
.
.
.
Kris memungut jasnya yang terjatuh saat Luhan berlari tadi. Ia menuju mobil mewahnya dan menjalankannya menuju kawasan yang kemungkinan dilalui Luhan. Kris sudah mengetahui alamat rumah Luhan karena pernah mengantarkan gadis itu pulang setelah meeting beberapa minggu yang lalu. Ia baru teringat tidak ada angkutan umum tengah malam begini. Ditambah lagi tas Luhan masih tertinggal di mobilnya, sudah dipastikan gadis itu tidak membawa apa-apa termasuk ponselnya karena Kris sempat menghubungi Luhan dan mendengar dering ponselnya ada di dalam tas gadis itu.
Kris mengusap rambutnya kasar, ia sempat frustasi karena tak kunjung menemukan Luhan takut terjadi sesuatu yang buruk. Sampai akhirnya ia melihat gadis itu sedang berjalan sambil memeluk dirinya sendiri, pasti ia kedinginan. Kris menepikan mobilnya dan turun untuk menghampiri Luhan. Ia menyampirkan jasnya secara diam-diam namun tetap membuat gadis itu terkejut dan menoleh padanya.
"Pulanglah bersamaku." Pintanya.
Tanpa menunggu jawaban Kris langsung menggandeng tangan kecil Luhan dan membawanya menuju mobil. Tak ada yang bersuara di dalam mobil. Hanya Luhan yang sibuk memandangi jalanan dari kaca sampingnya, sedangkan Kris mencuri-curi pandang dengan tatapan sendu. Tak terasa kuda besi itu sampai di kediaman Paman Xi yang sederhana, menyadarkan Luhan dari lamunannya.
"Terima kasih atas tumpangannya, Tuan." Ucap Luhan sambil menunduk dan meraih tasnya, ia ingin segera memasuki kamar dan menangis.
Kris tak menjawab apapun bahkan menoleh pun tidak, membuat nyali Luhan yang ingin mengucapkan selamat malam dan hati-hati di jalan menciut. Tepat setelah Luhan keluar Kris segera menginjak gas karena tak ingin berada di dekat gadis itu lama-lama. Semakin lama ia berada disana maka semakin kuat keinginannya untuk memeluk Luhan sampai pagi. Ia masih sayang nyawanya dan tak ingin diamuk oleh Paman Xi karena memeluk putri semata wayangnya dengan brutal.
"Aku mencintaimu." Bisik Luhan saat melihat mobil itu melaju dengan sendu.
"Selamat tidur, sayang." Bisik Kris tak kalah sendu.
.
.
.
Sosok tampan Kris Wu melamun dengan tatapan kosong di belakang meja kerjanya. Ia tampak seperti foto model yang sedang berpose untuk majalah khusus eksekutif muda. Ia tak habis fikir dengan keputusan Luhan saat menolaknya. Meskipun sedikit narsis, ia akui ia tampan, mapan, dan penuh pesona. Hanya Luhan yang berani menolaknya. Jika itu wanita lain, Kris yakin hanya dengan sekedipan mata saja wanita itu pasti sudah bertekuk lutut untuknya. Ia terkekeh mengingat kejadian semalam. Mentertawakan kebodohannya sendiri.
Flashback On
Kris sedang berjalan menelusuri taman kota. Melepaskan penatnya karena masalah pekerjaan, sahamya sedikit menurun ditambah lagi sekretaris yang baru diangkatnya selama tiga bulan membuat ulah karena mabuk saat mendampinginya menemui klien. Beruntung para klien penting itu juga setengah mabuk sehingga tidak menyadari tingkah aneh sekretarisnya.
Pria jangkung itu memasuki toko bunga kecil yang menarik perhatian karena berdesain vintage. Ia ingin membeli bunga untuk ibunya yang berulang tahun dan sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri acara makan malam keluarga untuk merayakan ulang tahun ibunya. Sejenak Kris berhenti untuk mengamati bunga apa saja yang ada di dalam toko itu, sebelum akhirnya seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan senyuman ramah dan keibuan.
"Ada yang bisa aku bantu?"
"Ah, bibi, aku ingin membeli bunga untuk ibuku, dia berulang tahun hari ini dan aku ingin meminta maaf karena tidak sempat merayakannya." Jelas Kris.
"Ah...begitu. Tunggu sebentar ya, kau bisa duduk dulu disana." Tunjuknya mengarah ke kursi besi berwarna putih yang ada di sudut ruangan itu.
Kris mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu, bau harum menyerbu hidung mancungnya seakan tak memberi kesempatan bagi semua bau-bauan tak sedap yang bisa mengganggu pernapasannya. Ia menunggu beberapa saat sampai sepasang langkah kaki mungil mendekatinya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati gadis ramping berambut panjang dan bermata rusa sedang tersenyum. Kris memperhatikan gadis itu berharap ia akan mendapatkan senyuman yang sangat mempesona. Namun harapan hanyalah tinggal harapan karena gadis itu tersenyum namun melewatinya, tak meliriknya sedikitpun. Kris hanya mengerjapkan matanya seolah terpesona oleh gadis itu. Dan semakin jatuh saat mendengar suaranya yang melengking tapi merdu.
"Ibu...aku datang." Seru Luhan sambil memeluk ibunya yang berdiri membelakangi pintu.
"Astaga...kau mengagetkan ibu. Bagaimana liburanmu di Korea? Paman dan bibimu sehat kan?"
"Mereka sehat ibu, hanya tingkah konyol Jongdae yang membuat paman dan bibi merestui pernikahan Jongdan dan Minseok. Sepertinya mereka butuh hiburan dari si kepala kotak itu." Celoteh Luhan membuat ibunya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Ibu sedang merangkai bunga?"
"Iya, anak muda itu ingin memberi bunga untuk ibunya yang berulang tahun. Kau mau merangkainya?" Tawar ibu Luhan.
"Hmm...baiklah."
Dengan terampil bunga-bunga itu dirangkai di menjadi bentuk yang indah. Luhan tersenyum puas melihatnya. Ia segera mengambil pena dan kertas kecil untuk kartu ucapan. Ia mendekati pria itu.
"Tuan Kris Wu?" Luhan membelalakkan matanya karena terkejut, laki-laki yang sudah ia lewati tadi ternyata atasannya di kantor.
"Apa kita pernah bertemu?" Jujur saja dalam hati Kris bersorak senang karena ternyata wanita itu mengenalinya. Namun Kris tidak ingat apa ia pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya.
"Iya Tuan. Saya Xi Luhan staff bagian personalia di perusahaan anda."
"Itu perusahaan ayahku, Nona Xi." Jawab Kris dengan senyum mautnya.
"Tuan, silakan tulis ucapan anda di sini." Luhan memberikan kertas dan pena itu kepada Kris.
Kris pun menulis ucapannya untuk sang mama. Sesekali sudut matanya melirik gadis mungil yang masih setia menunggu kartu ucapan itu untuk diselipkan ke rangkaian bunganya.
"Kenapa kau memberiku bunga-bunga ini? Apa artinya?" Tanya Kris yang penasaran dengan makna bunga-bunga cantik itu.
"Mawar putih melambangkan ketulusan, Tuan. Aku dengar dari ibuku bunga-bunga ini untuk ibu anda yang sedang berulang tahun. Secara tidak langsung mawar putih ini melambangkan ketulusan anda dalam membalas kasih sayang seorang ibu. Sedangkan bunga baby's breath melambangkan kebahagiaan, tidak ada kebahagiaan lain selain melihat senyum orang-orang yang kita cinta kan?" Jelas Luhan panjang lebar, membuat Kris tersenyum mendengar makna bunga yang terucap dari bibir mungil gadis itu.
"Apa ada lagi yang kau perlukan, Tuan?"
"Ah, tidak. Ini sudah lebih dari cukup. Jadi berapa semuanya?"
"Tidak perlu Tuan, anggap saja ini hadiah kecil dariku untuk Nyonya Wu."
Kris tersenyum kemudian mengambil selembaran uang dari dompet kulitnya.
"Baiklah, ini. Simpan untuk ibumu. Jangan menolak, anggap saja ini hadiah kecil untuk ibumu karena bunga yang cantik ini. Lain kali aku akan datang kembali kemari." Kris memberikan Y200 untuk Luhan. Tanpa menunggu jawaban pria itu sudah membalikkan badannya untuk segera keluar menuju mobilnya.
"Terima kasih banyak, Tuan. Semoga harimu menyenangkan." Teriak Luhan yang didengar oleh Kris membuat pria itu tersenyum penuh arti.
Flashback off
Kenangan beberapa tahun itu sempat menyeruak kembali dalam ingatannya. Membuat hatinya yang sempat kosong karena kejadian semalam menjadi hangat kembali. Jam kantor sudah habis dari satu jam yang lalu, namun Kris masih betah merenung di depan mejanya. Ia sedikit mengabaikan Luhan hari ini, bukan marah karena sudah ditolak. Ia hanya tak ingin Luhan menjadi sasaran emosinya yang sedang tidak stabil. Kris juga sempat kecewa karena Luhan sudah melayangkan surat pengunduran dirinya dari perusahaan itu.
Kris ingin berjalan-jalan sebentar di lingkungan sekitar kantornya. Penampilannya menjadi pusat perhatian para ibu-ibu muda yang sedang menjaga anak-anaknya bermain di taman. Ia mendudukkan dirinya di sudut, agak jauh dari kerumunan orang. Kris memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan penatnya. Tanpa ia sadari sepasang mata rusa mengawasinya dari kejauhan, tak ingin kehilangan jejak pria yang dicintainya. Biarlah orang mengejeknya bagai peguntit, ia tak peduli. Yang penting adalah Kris masih ada dalam jangkauan matanya.
'Tak perlu menjadikanmu milikku. Seperti ini saja sudah cukup bagiku. Hanya mengawasimu dari jauh dan memastikanmu baik-baik saja.' Batin Luhan sambil berlalu pergi.
'Bagaimana bila kujalani hidupku tanpa melihatmu? Hanya dibatasi ruang atasan dan sekretaris saja aku sudah tidak tahan untuk memelukmu, bagaimana jadinya bila aku tak melihatmu sekali saja, Luhan?' Kris bermonolog sambil memejamkan mata tajamnya.
.
.
.
"Aaaahhh...eennghhh...jangan digigit Chen." Xiumin meringis menahan sakit di nipplenya.
"Diamlah baby, aku sedang berkonsentrasi. Milikmu sempit sekali." Chen memasukkan miliknya dengan satu kali sentakan.
"Sssshhhh...gerakkan Chen."
"Tunggu dulu sayang, aku ingin menikmati bibir manismu."
Perang lidah tak bisa dielakkan lagi. Kedua pasangan yang bergairah itu sedang tidak peduli tempat, bahkan dapur menjadi tempat favorit mereka untuk memadu kasih. Baju Xiumin belum terlepas secara sempurna dari tubuhnya. Rok hitam rimplenya tersingkap keatas, kemejanya hanya tersisa satu kancing yang masih terpasang dan menggantung di pinggangnya. Bra tanpa tali dan celana dalamnya sudah terlempar entah kemana, semoga saja tidak masuk ke dalam kuah sup yang baru saja dimasak Xiumin. Ia sedang duduk diatas meja makan dan Chen berdiri di depannya, menikmati hidangan dua buah gundukan yang menjadi favoritnya semenjak menikah.
"Gerakkan Chen, aku tidak tahan...aaahhh." Xiumin gelisah karena bagian bawahnya sudah terlanjur basah dan gatal.
"Baiklah sayang, jangan tahan desahanmu...oohhh...sempit."
"Aaahh...aaaahh.."
"Sssshhh...aaahh...aaahh"
"Terus sayanghh..." Xiumin menjerit penuh nikmat.
"Aaahh...aahhh...Chen, aku hampir sampaihh..." Mendengar itu membuat Chen makin bersemangat dan ingin segera sampai ke puncak.
"Ooohhh...ohh...jangan mainkan vaginamu seperti itu sayang, membuatku tidak tahan."
"Ssshhhh...aaahhhh."
Bersamaan dengan desahan lega itu bel di rumah sederhana mereka berbunyi. Dengan tergesa Xiumin segera membereskan kekacauan yang mereka buat. Setelah memastikan bra dan celana dalamnya ketemu, ia segera memasuki kamar untuk merapikan diri dan memastikan di ruang makan tidak tercium lagi bau cairan semen milik Chen.
"Oh, Tuan Wu? Silakan masuk. Akhirnya kau datang kemari." Chen tidak terkejut dengan kedatangan Kris karena mereka sudah sangat akrab saat masih menjadi mahasiswa dulu. Kris yang lebih senior dari Chen juga sering membantu saat juniornya itu kesulitan.
"Terima kasih. Tidak perlu seformal itu Jongdae-ah. Ini, aku bawakan sedikit makanan ringan untuk kalian."
"Terima kasih, ge. Istriku sudah memasak makanan spesial begitu tahu dirimu akan datang kerumah ini." Jelas Chen setelah mereka duduk di ruang tamu.
"Ah Tuan Wu, selamat datang." Xiumin membungkukkan badannya untuk menyambut atasannya tersebut. Ia lebih percaya diri setelah mengganti bajunya yang sempat lengket akibat aktivitasnya bersama Chen tadi.
"Terima kasih." Jawab Kris.
Xiumin kembali ke dapur untuk membuat tiga gelas jus jeruk dan membawa camilan untuk disuguhkan kepada tamunya itu. Ia tersenyum mengingat betapa frustasinya seorang wakil direktur hanya karena ditolak oleh sepupunya. Sungguh menggelikan karena dua orang tersebut seperti saling berlomba untuk hatinya. Sang laki-laki ingin membuktikan bahwa cintanya itu tulus, sedangkan yang wanita tidak ingin harga dirinya diinjak-injak karena menerima cinta seorang putra konglomerat.
"Silakan diminum Tuan."
Tanpa diduga, Kris langsung menyambar salah satu gelas dan meminum isinya sampai habis. Membuat Xiumin terkekeh geli dan Chen membulatkan matanya.
"Aku tahu anda sedang patah hati Tuan, tapi tidak perlu seperti itu. Bringas sekali, itu hanya jus jeruk, bukan bibir Luhan." Perkataan nakal dan mengejek itu membuat Xiumin mencubit pinggang suaminya yang sedang tertawa lepas membuat Kris memelototkan matanya.
"Xiumin, tolong beritahu sepupumu. Kalau dia berani-beraninya meninggalkan diriku sendirian di kantor, jangan harap ia akan selamat. Aku bisa saja nekat membawanya ke gereja untuk menikah lalu aku juga tidak segan-segan menghamilinya saat itu juga. Kau mengerti?"
"Ck...seperti itukah tingkah seorang pria yang sedang terpojok karena ditolak?" lagi-lagi Chen mengejeknya.
"Kau pikir dulu Xiumin langsung menerimamu, hah? Aku bahkan sangat tahu bagaimana wajahmu saat kau ingin menenggak cairan serangga karena tiga kali ditolak oleh istrimu." Kris melancarkan balasannya yang membuat Xiumin tertawa dan Chen terdiam karena malu.
"Aku pamit dulu, aku tidak ingin mengganggu kalian lebih lama. Pengantin baru butuh waktu untuk berduaan kan?" Goda Kris membuat pipi Xiumin merona.
"Tapi aku sudah memasak untukmu Tuan." Rayu Xiumin untuk membuat atasannya tersebut tinggal lebih lama.
"Maafkan aku Xiumin, aku hanya ingin mampir sebentar saja tadi. Lain kali aku akan mampir lagi kemari."
"Baiklah jika begitu."
"Dan kau Chen, bibir Luhan lebih manis dari jus jeruk buatan istrimu." Kris menyeringai sebelum membalikkan badannya dan berlalu pergi.
Perkataannya barusan membuat Xiumin dan suaminya membelalakkan matanya tak percaya. Ternyata sudah sejauh itu hati Luhan ditaklukkan oleh pria jangkung itu.
TBC
Apa ini? Jangan protes...oke? yang penting udah update kan? hohoho...#jogetjogetlightsaber. Maaf kalo yg ini gak nyambung, banyak typo, dan ada alay2nya dikit...hihihi. selama ini aq selalu telat update karena terhalang sama kehiatan luarku yg bikin aq tepar sebelum tengah malam, akibatnya males nulis ff. juga gara2 stres karna kelamaan nganggur...huweeeee #curcol
Balasan review
Kim Sohyun :: hm...terima gak yaaa? Hehe...Terima kasih ya udah baca & review
NoonaLu :: iya ini udah lanjut.. Terima kasih ya udah baca & review
shinodaryuuko :: loh...perasaan disini gak ada sehun deh. Atau mau dibuat rebutan antara Kris sama sehun? Hehe. Terima kasih ya udah baca & review
Guest28 :: masalah konfliknya liat ntar aja ya, gak seru kalo dibocorin sekarang...hehe. Terima kasih ya udah baca & review
Laabaikands :: ini udah lanjut sayang.. Terima kasih ya udah baca & review
Sumiya wu :: hiks...kita sama2 kangen bang naga...mare pelukan #plakk. Terima kasih ya udah baca & review
Lisnaohlu120 :: ini udah lanjut kok... Terima kasih ya udah baca & review
siscaMinstalove :: lah capslock jebol...hahaha. tu udah ada encehnya dikit dari xiuchen...hehe. Terima kasih ya udah baca & review
shinlophloph :: maaf ya kalo cerita yg aku bikin terkesan alay dan gak sesuai dengan apa yang kamu mau. Ini hanya sekedar khayalan yang aku tuangin lewat tulisan. Ya maaf-maaf aja ni, kalo tulisan aku kurang bagus, maklum lah bukan ahlinya dan masih pemula. Jadi ya ada beberapa kalimat yang "alay". Kalo gak suka boleh ditinggalin kok. Terima kasih ya udah baca & review
itsmay :: ketauan ni cuma nungguin yadongnya doang...haha. Terima kasih ya udah baca & review
fanbaekyeolhan :: ini udah tbc loohh...hihihi. Terima kasih ya udah baca & review
RlyCJaekyu :: terima gak yaaaa... Terima kasih ya udah baca & review
Siensien :: udah ni.. Terima kasih ya udah baca & review
Luluhunhun :: apa ni? Hahaha. Terima kasih ya udah baca & review
fausiashara:: sehun ya? Bisa tu dicoba...hehe. entah aku kuat atau gak bikin sampe mereka punya anak. Ditunggu aja ya. Terima kasih ya udah baca & review
LuluHD :: iya ini dah lanjut. Terima kasih ya udah baca & review
zhithaangel:: kapan hayooo...kris yg sekarang kan beda dari kris yg dulu #baper. Terima kasih ya udah baca & review
Lisasa Luhan :: iya udah lanjut.. Terima kasih ya udah baca & review
Kim Yuta :: ini udah lanjut sayang.. Terima kasih ya udah baca & review
Babyponi :: 2 kampret? Hahaha. Marriage lifenya masih lama, sabar ya...hehe. Terima kasih ya udah baca & review
NishiMala :: ini udah ada rate M nya biarpun bukan krislu, yg penting ada kan? Haha. Terima kasih ya udah baca & review
