Chapter 2 : Black Jacket
Dipagi yang tenang seorang remaja laki-laki Corite terlihat tidur dengan nyenyak. Laki-laki berambut hitam pendek itu tampak menikmati masa-masa damai dalam hidupnya.
KRING! KRING!
Disaat ia sedang asyik dalam alam mimpinya, suara yang terdengar paling tidak indah bergema didalam kamarnya. Membuat laki-laki itu terbangun dalam keadaan mata menyipit.
"Iya-iya aku sudah bangun." Keluhnya setelah tahu alarm yang dia pasang sendiri menjalankan amanatnya dipagi hari.
Setelah bangun dia melangkahkan kakinya kekamar mandi. Tidak lebih dari lima menit dia sudah basah sambil handukkan. Lalu ia kembali kekamarnya untuk memakai baju.
CEKELEK!
Dia melihat isi dalam lemari tersebut. 'Kira-kira pakaian apa yang ingin kupakai' begitu batinnya berbicara. Setelah lama berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk memakai kemeja putih dan celana panjang berwarna hitam. Ditambah jaket seifuku warna hitam dengan garis aksen berwarna putih plus tambahan dasi panjang berwarna biru. Setelah dirasa sudah rapi dia langsung menyambar tas dan inventory transdimensinya.
"Kak Sleinz, sarapannya sudah matang." Teriak seorang gadis dari ruangan bawah. Rumah ini terdiri dari 2 tingkat yang mana tingkat atas adalah kamar laki-laki Corite itu beserta perempuan yang tinggal dengannya. Sedangkan dilantai bawah terdapat ruang dapur, kamar mandi, ruang keluarga dan ruang tamu.
"Oke. Aku segera turun." Balas pemuda bernama Sleinz itu.
DRAP! DRAP! DRAP!
CEKLEK!
"Kau masak apa, Linz?" Tanya Sleinz kepada perempuan bernama Linz yang notabene adalah adiknya.
"Hari ini aku masak nasi goreng spesial, kak. Enak, loh?"
"Sungguh? Wah kalau beneran enak aku boleh nambah dong." Ujar Sleinz sambil meraih sendok dan piring.
"Sayang sekali, kakak. Karena nasi sisa semalam hanya sedikit jadinya hanya pas untuk 2 porsi saja. Hehehhe."
"Begitu? Yasudah tidak apa-apa. Satu porsi juga cukup."
Waktu sepuluh menit sudah cukup baginya untuk menghabisi jatah sarapannya. Sekarang setelah makan, Sleinz bersiap-siap untuk berangkat. Setelah yakin semuanya sudah lengkap, Sleinz berangkat menuju markas Cora. Tidak lupa dia berpamitan kepada adiknya untuk meminta doa restu.
Holy Alliance Cora, itulah bangsa yang menjadi asal kelahirannya. Bangsa yang mendiami planet Novus untuk memperebutkan area tambang. Dibangsa ini telah lahir banyak pahlawan yang dikenal luas oleh seluruh rakyat Cora. Nama-nama klan seperti Trinith, Qhadara, Dragunov, Draguila, Kharkaros, Valhala ataupun Artemis telah akrab ditelinga prajurit maupun rakyat sipil Cora. Mereka sudah kenyang memberikan banyak kemenangan untuk Alliance hingga membuat Cora menjadi salah satu bangsa terbesar dan paling diperhitungkan dalam perang.
Selain itu ada juga beberapa klan lainnya seperti Aldren, Kasanic, Yugovic, Sevisevic, Levanovic, Novaya, Dragunovic dan Stojkovic. Nama-nama barusan merupakan klan yang boleh dibilang baru terbentuk. Usia mereka rata-rata tidak lebih dari 20 tahun.
Markas Cora, 06:30 A.M.
"Hoammm. Sial padahal sudah sarapan tapi malah mengantuk begini." Rutuk Sleinz sambil berjalan di dalam Markas. Hari ini rencananya dia akan menjalankan ujian kelulusan. Apabila dia lulus Sleinz akan naik Job kedua. Job awal Sleinz saat ini adalah Champion.
Suasana di Hall of Fame begitu ramai oleh prajurit-prajurit baru yang akan mengikuti ujian. Saat Sleinz berjalan ke tengah-tengah prajurit-prajurit Cora, semua mata tampak mengarah kepadanya. Bisa ditebak hal itu karena Sleinz adalah satu-satunya prajurit yang terlihat pakai baju akademi. Sementara prajurit lain memakai armor lengkap dari atas sampai bawah. Beberapa dari mereka mencoba untuk menyindir Sleinz.
"Dia pasti tidak niat jadi tentara." Ejek salah seorang wanita.
"Benar. Dia sebenarnya bego atau tolol, sih? Masa mau misi tapi tidak pakai armor lengkap? Mau mati kali, ya?" sindir temannya sambil melihat Sleinz dengan tatapan merendahkan seolah-olah melihat sesuatu yang menjijikkan.
Sleinz yang tahu dirinya jadi bahan ejekkan justru malah terlihat santai-santai saja. Dia tidak mempedulikan ejekkan yang mampir ke dirinya. Seolah-olah dia adalah orang yang paling tanpa beban sedunia.
Disaat kebanyakan prajurit sedang memperhatikan Sleinz, sesosok wanita Corite berjalan mendekati kerumunan para prajurit baru. Wanita itu Nampak anggun dengan jubah wakil Archonnya yang berwarna kombinasi putih dan ungu. Semua dalam sekejap memalingkan pandangannya kepada wanita itu. Tanpa ada komando dari siapapun, mereka menundukkan kepala untuk memberikan hormat. Wanita itu mengangguk pelan lalu memerintahkan mereka untuk kembali mengangkat kepala.
"Terima kasih, prajurit. Sebelum kita memulai ujian ini ada beberapa hal yang akan kusampaikan. Sebelumnya perkenalkan namaku Katrina Fairy Artemis. Aku adalah salah satu wakil Archon class Black Knight. Hal pertama yang ingin kusampaikan adalah…" saat bicara dia menghentikan kalimatnya setelah ia melihat seorang prajurit laki-laki yang tidak lain adalah Sleinz. Tatapannya yang tadi agak ramah berubah menjadi tajam.
"Kamu, cepat maju kesini?" perintah Katrina dengan nada ketus. Sleinz yang tidak berpikiran negative maju kedepan.
"Kenapa kamu tidak memakai armor lengkap!?"
"Armor saya sedang dicuci, Chamtalion. Jadi mau tidak mau saya pakai baju seragam." Jawab Sleinz enteng.
"Memang kamu tidak punya armor cadangan!?"
"Tidak." Kembali Sleinz menjawab tanpa masalah.
"Begitu? Kamu itu sebenarnya niat atau tidak, sih jadi tentara!?" Katrina dilihat dari tampangnya sangat tidak suka dengan Sleinz.
"Demi Decem saya bersumpah kalau saya sangat berniat untuk menjadi prajurit. Untuk itulah sekarang saya ada disini." Jawab Sleinz sambil menaruh tangan kanannya didada.
"Begitu!? Tapi sayang sekali karena…"
BRANG!
Tanpa diduga Chamtalion Katrina mengeluarkan perisainya dan memukulnya tepat di kepala Sleinz
"Decem tidak menerima prajurit macam kamu." Katrina melanjutkan perkataannya tadi yang sempat terputus. Sleinz yang kepalanya dipukul perisai mengusap pelipisnya yang sedikit mengeluarkan darah.
Setelah Katrina puas menghajar Sleinz, ia kembali melanjutkan pidatonya. "Pertama-tama saya ucapakan selamat kepada kalian semua yang sebentar lagi akan menjalani ujian. Tapi sebenarnya ujian ini hanya formalitas saja karena sejatinya hari dan detik ini juga kalian sudah jadi prajurit resmi. Itu berarti kalian siap untuk mengikuti war kapanpun. Yang kedua meski kubilang kalian hari ini resmi jadi prajurit, aku minta kalian tetap sungguh-sungguh menjalaninya. Aku tidak mau kalian bertempur setengah-setengah. Tunjukkanlah kemampuan terbaik yang kalian milikki. Buktikan kalian memang layak membela Alliance. Jangan seperti bocah disampingku ini! Mengerti!?"
"Siap! Kami mengerti, Nona Wakil Archon!" jawab semuanya serempak.
"Bagus! Untuk penjelasannya misinya kalian bisa baca diinformasi. Misinya sendiri berkelompok jadi kalian dimasukkan ke dalam kelompok secara acak. Mengerti!"
"Mengerti!"
"Bagus. Sekarang kalian boleh bubar."
Semua prajurit yang tadi berkumpul segera membubarkan diri untuk pergi ke pusat informasi. Tidak lama mereka sudah membentuk kelompoknya masing-masing. Saat Sleinz hendak ke pusat informasi, Katrina menahannya.
"Heh, kau mau kemana?"
"Tentu saja ke Pusat Informasi. Aku 'kan mau ikut misi juga." Jawab Sleinz.
"Hoh, tidak bisa. Aku punya misi khusus untukmu." Tukas Katrina sambil memberikan sebuah amplop.
Sleinz menerima amplop itu dan membaca isinya. Isinya kurang lebih seperti ini.
"Bunuh Pit Boss Ethernal Flame Draco dan ambil jantung dan hatinya."
"Jadi, aku disuruh membunuh Pit Boss Beast Mountain?" Tanya Sleinz dengan wajah polos.
"Ya. Kalau kau mau kululuskan kau harus jalankan misi ini. Sebagai prajurti kau harus mau menjalankan tiap misi yang diberikan atasanmu walaupun itu hampir mustahil. Itulah jalan hidup seorang prajurit."
"Baiklah. Kalau begitu aku terima misi ini. Aku langsung berangkat, ya?" kata Sleinz sambil berjalan pergi.
Selagi berjalan, Sleinz bergumam pelan "Astaga, ternyata dia sangat perhatian sekali. Pantas saja kalau pemimpin bangsa mengangkatnya menjadi Wakil Archon. Aku harus belajar banyak darinya."
Setelah Sleinz pergi, tidak lama datang rekan Katrina dari belakang. Seorang wanita berambut blonde panjang yang juga mengenakan pakaian yang sama dengan Katrina
"Hahaha, dia pasti akan mati kalau coba melawan Ethernal Flame Draco. Salah dia sendiri coba cari masalah denganmu. Iya 'kan, Katrina?" katanya sambil menyenggol tubuh Katrina.
"Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal." Kata Katrina serius.
"Mengganjal? apanya yang mengganjal?"
"Aku yakin sekali kalau tadi aku memukul kepala orang itu dengan sangat keras. Tapi entah kenapa dia justru tidak jatuh tersungkur. Tubuhnya itu benar-benar kokoh seperti tembok." Jelas Katrina.
"Masa, sih?" sangsi wanita itu dengan tatapan tidak percaya.
"bocah itu. Siapa sebenarnya dia?"
.
.
.
Markas Cora 07:30 A.M.
"UWAAA TELAT! TELAT! TELAT!"
Seorang laki-laki Corite berambut hitam tampak sedang berlari dengan tergesa-gesa di aula markas. Jika dilihat kemungkinan dia datang terlambat. Dengan wajah panic di terus berlari hingga dirinya sampai di Hall Of Fame.
"Lho, kok disini sepi, ya? Apa mungkin acaranya ditunda? Atau mungkin sebaliknya?"
Didera rasa kebingungan, pria dengan cirri-ciri berambut hitam pendek bergelombang dan memakai jaket hitam itu coba mencari orang-orang sekitar untuk dimintai keterangan. Tak lama kemudian pandangan matanya tertuju ke sosok wakil Archon Katrina. Dia lalu mendekati wakil Archon dan bertanya.
"Permisi, kira-kira tempat untuk prajurit baru untuk mengambil ujian kelulusannya dimana, ya? Kok disini hampir tidak ada siapa-siapa?"
Katrina yang melihat lawan bicaranya yang juga tidak memakai armor lengkap kembali menunjukkan kekesalannya.
"Heh, siapa kamu dan mau apa datang kesini!? Terus kenapa kamu tidak memakai armor lengkap!?" tanyanya ketus.
"Saya Slavicsa Slavic. Tujuan saya datang kesini untuk mengambil ujian kelulusan prajurit. Alasan saya tidak pakai armor karena armor saya kotor jadi sementara ini sedang saya cuci dan saya tidak punya armor cadangan." Jelasnya tanpa dosa.
Katrina yang hari ini sedang bad mood tampak kesal karena lagi-lagi dia mendengar fakta yang sama tapi dari orang yang berbeda.
"Kuberi kau 2 hal! Pertama ujian kelulusan dimulai pukul 06:30 dan kau baru datang pukul 07:30. Orang yang menyia-nyiakan waktu tidak pantas disebut prajurit. Kedua, oke karena aku sedang baik hati bolehlah kamu kuijinkan ikut. Tapi kamu akan kuberi misi yang berbeda dari yang lain. Nih, baca sendiri!" omel Katrina sambil melempar sepucuk amplop ke wajah Slavic.
"Hmm, ini misinya?" Slavic membuka amplopnya dan membaca isinya. "Membunuh Ethernal Flame Draco? Di Beast Mountain ya? Okelah kalu begitu. Sudah ya aku pergi dulu." Sambung Slavic main pergi begitu saja.
"Cih, kenapa sih hari ini ada aja yang namanya orang aneh?" keluh Katrina pada rekannya.
"Tapi entah kenapa kok si Slavic itu mirip sama laki-laki sebelumnya, ya?"
"Mau mirip atau enggak itu bukan urusanku. Sudahlah aku mau kembali ke ruanganku!" tukas Katrina tak mau ambil pusing.
.
.
.
Beast Mountain
Disalah satu sudut Beast Mountain Nampak sekelompok pasukan Cora yang terdiri dari 6 orang sedang berkumpul. Kelihatannya mereka dapat misi di Beast Mountain.
"Dengar untuk mendapatkan madu Queen Mahr, pertama-tama kita tarik dulu anak buahnya. Tugas ini cocok untukmu, Lana. Berhubung jobmu adalah Knight kuminta kau untuk menahan pengawalnya." Kata seorang pria berkepala plontos member instruksi.
"Aku mengerti." Jawab wanita bernama Lana.
"Yang kedua berhubung sarangya ada didahan yang paling tinggi, kuminta Ivan untuk menembak pangkal sarangnya untuk kau tembak jatuh dengan panahmu."
"Oke, siap." Kata Ivan.
"Yang terakhir dan yang paling berbahaya adalah Queen Mahr itu sendiri. Ingat, tidak mudah bagi kita untuk menarik Queen Mahr karena dia sangat protektif sekali dengan sarangnya. Setelah Lana menarik anak buahnya, kita akan serang Queen Mahr bersama-sama. Kerjasama kita akan diuji di misi ini." Jelasnya.
"Ya, aku paham." Kata pria Caster berkacamata.
"Baiklah. Ayo kita selesaikan misi ini."
"Ya!"
Mereka pun bersiap untuk menyerang sarang Queen Mahr. Ketika mereka mulai dekat Lana yang ditugaskan untuk menarik para Hive Mahr agak ragu dan berkata "Vukasin, aku agak ragu dengan rencana kita. Disana jumlah Hive Mahr dan Sting Host Mahr sangat banyak. Rasanya mustahil bagiku untuk menahan semuanya."
"Kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu. Sudahlah ikuti apa kataku saja! Jangan membantah!" tegas Vukasin yang berjob Champion.
"I..iya." dengan hati ragu Lana maju untuk memancing kumpulan Mahr.
DRAP! DRAP! DRAP!
"DISABILLTY FORCING!" Lana mengaktifkan skill penarik monster dan sukses memancing kumpulan Mahr. Lana memancing merekamenjauh dari tempat semula.
KIIIII! SYAAA!
"BAGUS! Lana sudah menarik anak buahnya! Ivan bersiap diposisi! Yang lainnya kita serang Queen Mahr ramai-ramai!" teriak Vukasin memberi komando.
"Siap!"
Mereka pun mulai menyerang Queen Mahr yang belum beranjak dari sarangnya. Serangan pembuka dimulai oleh pria Caster berkacamata.
"FLAME ARROWW!"
BOOMM!
Serangan force panah api Caster mengenai Queen Host Mahr. Tapi itu tidak berdampak apa-apa. Queen Host Mahr yang merasa terganggu marah dan menyerang Caster berkacamata.
STACKK!
"ARGH! TANGANKU!" Erangnya setelah menerima sengatan Queen Host Mahr. Rupanya monster itu bisa menembakkan sengatnya dari jarak jauh sehingga dia tidak perlu repot-repot bergerak. Vukasin dan dua rekannya kaget bukan main bahwa ternyata Host Mahr bisa menembak. Mereka pun jadi kehilangan konsentrasi.
"ISTOYANOV!" Teriak Ivan ketika melihat temannya jatuh tidak sadarkan diri. "Sial! Tidak ada waktu lagi. Aku harus menembak sarangnya!"tambahnya.
Ivan menarik anak panah dengan busurnya. Ia bidik target dari jarak 200 meter. Namun, saat hendak melepaskan tembakkan, Queen Host Mahr melihatnya. Sontak monster berclass Hero itu langsung menembakkan sengatnya ke arah Ivan.
STACKK! TRANG!
Sengatannya hanya mengenai busur Ivan. Tapi kerasnya tembakkan membuat Ivan kehilangan keseimbangan hingga membuatnya jatuh di sebuah turunan.
"UARGHH!"
BRUGHH!
"Aw! Kakiku rasanya patah. Argh!" renguhnya sambil berusaha untuk bangun. Ironis, tempat dimana Ivan jatuh adalah sarang Blue Scale Klan. Melihat ada mangsa yang bisa disantap, kawanan Blue Scale Klan itu berubah menjadi agresif.
"IVAN!" Teriak Vukasin begitu melihat Ivan dalam bahaya. Sebenarnya dia berniat untuk menolong, tapi situasinya yang sedang bertempur melawan Queen Host Mahr membuatnya memilih untuk lebih fokus dengan lawannya.
"UWAAAA! UWAAA!" teriak Ivan panik diiringi dengan derai air mata. Ivan berusaha untuk lari. Tapi selain dia cedera, lokasi Beast Mountain yang selalu hujan membuatnya menjadi licin. Hal itu membuat Ivan tidak bisa apa-apa.
GRAAA!
Salah satu Blue Scale Klan menangkap Ivan dan melemparkannya ke kawan-kawannya.
BRUGH!
"GYAAA! TOLONG! TOLONG!" hanya teriakkan minta tolong yang bisa dilakukannya. Terjebak diantara kumpulan monster ganas tentu membuat siapa saja menjadi panik. Tak terkecuali Ivan, yang siap-siap akan pergi ke alam kematian. Dia hanya bisa menutup matanya menanti detik-detik kematiannya.
"SHINING CUT!
CRASH! "GRAAA!"
BRUGH!
Ketika eksekusi akan berjalan, salah satu Blue Scale Klan mendadak tumbang. Tewas dengan tubuh terpotong-potong. Siapa pelakunya? Bagaimana dia bisa membunuh Blue Scale Klan dengan sekali serang.
Pertanyaan itu terjawab. Diatas tanjakkan berdiri seseorang berjaket hitam memegang pedang panjang bermata tunggal. Rupanya dia yang tadi memotong Blue Scale Klan. Kini dia menatap kumpulan Blue Scale Klan lainnya yang mengerubungi Ivan.
"Pra..prajurit tidak…niat?" gumam Ivan pelan begitu dia mengenali pria berjaket hitam itu.
"Aku lebih suka bertarung satu lawan satu karena itu sangat adil." Kata pria itu yang tak lain adalah Sleinz. Selesai berkata, Sleinz melompat tinggi ke kerumunan. Lalu dia menyerang semua Blue Scale Klan seorang diri.
"Its Show Time. SUPERSONIC SLASH!"
SLASH! SLASH! SLASH!
Tebasan secepat kilat yang memotong secara bertubi-tubi sukses memotong-motong tubuh para monster tersebut terutama yang berada dibarisan depan. Setelah mengeluarkan jurus tadi, Sleinz menghantamkan kakinya ketanah hingga membuat tanahnya bergetar hebat bagaikan gempa. Beberapa Blue Scale Klan yang masih hidup terlempar tinggi ke udara. Moment itu dimanfaatkan Sleinz untuk menghabisi mereka diudara. Sleinz melompat keatas dan mengaktikan jurusnya.
"SUPERSONIC CROSS CUT!"
ZRASH! ZRASH! ZRASH!
"GRAA!"
Tragis. Semua Blue Scale Klan tercabik-cabik hingga menjadi potongan kecil. Beast Mountain sesaat terjadi hujan darah merah yang pekat. Sleinz pun mengakhiri pembataiannya dan pergi entah kemana.
"Apa..apa yang…barusan..itu?" gumam Ivan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ivan berpikir kalau prajurit yang dicap tidak niat perang saja sudah semengerikan itu entah bagaimana kalau dia benar-benar serius untuk perang.
Sementara Vukasin dan kawan-kawan yang sempat menyaksikan adegan tadi juga tidak kalah terkejutnya. Mereka tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tapi terlalu lama menyaksikan membuat Vukasin cs lengah. Tak sadar Queen Host Mahr menembakkan sengat yang konon racunnya 10 kali lebih kuat dari ular.
STACK! STACK! STACK!
"GAWAT!" Vukasin yang pertama sadar dengan serangan tidak bisa berbuat banyak. Mustahil rasanya menghindar dari situasi ini.
"POWER CLEAVE!"
SRING!
Entah kali ini siapa muncul lagi seseorang yang menangkis sengatan Host Mahr. Muncul lagi seorang pria yang juga memakai jaket berwarna hitam dan membawa pedang. Bedanya pria memakai jaket dengan bulu-bulu di kerahnya. Pedangnya sendiri berciri-ciri berwarna hitamdan bermata ganda.
"Menyerang disaat pandangan lawan teralihkan itu menurutku tidaklah keren." Ucap pria yang ternyata adalah Slavic. "Waktunya penghabisan." Slavic berlari menuju Queen Host Mahr.
"INFINITY BURST BLADE!"
SRING! SRING! SRING! DUAR!
Serangan kuat dengan menebas berkali-kali dan diakhiri dengan ledakkan berhasil membuat Queen Host Mahr mati seketika. Setelah memusnahkan Queen Host Mahr, Slavic menghabisi Mahr yang tadi dipancing Lana. Lalu setelah menolongnya, Slavic pergi ke arah lain.
"Prajurit tidak niat nomor 2?" ujar Ivan kebingungan.
"Aku yakin orang itu bukanlah orang yang sama dengan yang pertama tadi." Kata Vukasin.
"Sama-sama berjaket hitam dan membawa senjata satu tangan. Kemampuan mereka juga abnormal. Siapa sebenarnya mereka berdua?" tanya Lana penasaran.
"Sudahlah anggap saja yang tadi itu Cuma kebetulan. Berkat mereka kita bisa mendapatkan madu Hive Mahr. Ayo lekas kita ambil dan kita bawa Istoyanov ke rumah sakit." Usul Vukasin yang memilihtidak ambil pusing.
Setelah mereka mengambil madunya, mereka pun kembali ke markas Cora untuk membuat laporan. Bagi mereka misi hari seperti menantang maut. Andai saja 2 orang misterius itu datang, sudah dipastikan mereka akan mati hari itu juga.
To Be Continued
" I prefer to fight one one because it was very fair." "While Attacking the opponent sideracked when is not cool" (Sleinz Salzburg & Slavicsa Slavic in Chapter 1)
A/N : Oke akhirnya Chapter 2 berhasil saya buat. Membaca fanfic yang lain membuat saya ikut coba-coba membuat fanfic sendiri. Tapi mohon maaf kalau saya tidak ikut-ikutan membuat Bellato. Yah itung-itung buat penyeimbanglah masa fanfic baru lagi-lagi isinya Bellato. Oke sebelum mengakhiri saya akan memberikan sedikit informasi untuk fanfic ini.
Seperti halnya Bellato, disini divis juga dibagi dalam empat bagian, yakni :
Warrior S.p.A
Class yang mengutamakan kekuatan dalam bertarung jarak dekat. Dahulu hanya mereka yang memiliki ketahanan fisik diatas rata-rata yang bisa masuk jurusan ini. Tapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan, mereka yang berfisik pas-pasan bisa masuk ke divisi ini. Mereka yang bergolongan fisik tersebut disebut sebagai Light Warrior. Contoh, Sleinz dan Slavic.
Ranger Corporation.
Class yang mengutamakan kecepatan dan kelincahan dalam bergerak. Berkonsentrasi dalam pertarungan jarak jauh dan ahli dalam senjata panah, senapan api dan pisau lempar. Umumnya ranger menjaga jarak dalam , ada juga beberapa ranger yang lebih suka pertarungan terbuka dan jarak dekat. Mereka kebanyakan memilih class lanjutan Stealer dan dijuluki sebagai streetfighter.
Spiritualist Institute
Class yang mengandalkan kekuatan alam dalam pertempuran. Spiritualist Cora sangat terkenal dengan kemampuannya dalam memanggil mahkluk titipan Decem dari alam lain yang disebut animus. Keberadaan animus membuat bangsa Cora tidak bisa dipandang sebelah mata.
Specialist Kaisha
Sering disebut sebagai class support bangsa. Mereka bertugas untuk menyokong pasukan lainnya dalam pertempuran baik dalam menyuplai senjata, amunisi, memperbaiki peralatan maupun ahli medis. Specialist sangat dibutuhkan dalam perang berskala besar.
Baiklah, sekian informasi dari saya. Untuk karakter utamanya Sleinz Salzburg basis utamanya mirip dengan karakter Kirito dari Sword Art Online sementara Slavicsa Slavic basis utamanya dari karakter Seha Lee (Haruto Kaguragi) dari game Closers Dimensions Online. Untuk pengenalan katakter mungkin akan menyusul dichapter berikutnya. Terima kasih. Kritik, masukkan dan saran akan saya tunggu.
Salam
Slask Wroclaw
