Title : Jongin Labil
Rate : T+
Genre : Marriage life / Romance / Drama
Pair : Hunkai / Sekai / Uke|Kai
Disclaimer : Cerita ini diilhami dari cerita saya sendiri yang frustasi dan menangis karna beberapa kali kehilangan naskah cerita. Mungkin, cerita ini berisi kefrustasian saya. Atau penulis lain juga. Masalah terpendam dari para penulis. mungkin loh...
Warning: Typo. Aneh. Absurd. Membosankan.
Anggap saja ini adalah story lanjutan dari fanfict 'Kukejar Cintamu, Sunbae!' haha...
Y
U
U
"Sehun, maukah kau memasak untukku?" Tanya Jongin sambil berjalan gontai dari dapur menuju ruang tengah dimana Sehun tengah menonton televisi.
"Hm?" Sehun mengernyit heran.
"Aku lapar, Hun. Buatkan nasi goreng juga tidak apa-apa, tapi jangan pedas-pedas,"
"Eh? Bukankah kau sudah makan malam?" Sehun semakin heran.
Pasalnya Jongin sudah makan bersamanya tadi dan ini sudah malam untuk ukuran makan malam. Tetapi Jongin kelaparan? Ditambah, sejak kapan Jongin minta tidak pedas? Bukankah Jongin itu maniak pedas?
"Apa perutmu sedang bermasalah, Sayang?" Tanya Sehun.
"Tidak," jawab Jongin jujur, "Buatkan ya, Hun. Terserah apa saja. Aku sedang malas melihat dapur. Please?" Jongin menatap memelas.
Nah kalau begini memangnya Sehun bisa menolak aegyeo attack itu? Ya ampun, kelemahan Sehun berada di ekspresi anjing terbuang itu.
"Baiklah, aku akan buatkan. Tunggu ne," Jongin langsung mengangguk antusias.
Sementara menunggu Sehun memasak, Jongin memilah kaset mencari film. Beberapa kali ia menggeleng tidak cocok dengan judul kasetnya. Lalu ia menemukan kaset bercover meriah dengan penguin dan buaya chibi ditempat bersalju, dengan judul 'Pororo'. Yang justru membuat Jongin tersenyum sumringah. Dengan segera ia menyalakan DVD.
"Hehehe..." ia terkekeh menonton film kartun yang tengah diputar dari DVD-nya. Terlihat seperti anak kecil.
Dan kegiatan menonton itu masih berlanjut sampai satu episode, setelahnya Sehun memanggilnya dari dapur.
"Sayang, nasi gorengnya sudah siap,"
Jongin langsung melonjak dan berlari dengan semangat, tidak peduli lagi pada film 'Pororo' yang berlanjut ke episode dua.
"Wah, sudah matang ya. Sepertinya enak. Aku makan ya, Hun," katanya dengan mata berbinar.
"Silahkan," kata Sehun sambil tersenyum lalu menyodorkan sendok dan garpu.
Yang terjadi adalah, Jongin tidak menerima sendok dan garpu, malah menatap Sehun sambil mengerjap-ngerjap polos.
"Aku tidak mau," kata Jongin.
"Lho, lalu bagaimana kau memakannya kalau tidak pakai sendok dan garpu?" Tanya Sehun heran.
"Sehun suapi aku,"
"He?" Sehun langsung menatap Jongin takjup.
Tuhkan, semakin hari Jongin semakin aneh.
"Sehun, aaa..." Jongin membuka mulutnya minta diisi.
'Mengapa rasanya seperti aku sedang mengasuh anak kecil?'
A
L
Sehun baru saja masuk ke kamar setelah mencuci piring bekas makan Jongin dan mematikan film 'Pororo' yang tadi Jongin putar.
Lagi-lagi Sehun dibuat heran. Mengapa Jongin tiba-tiba menonton kartun anak-anak begitu. Memang sih itu kartun favorite Jongin, tapi tetap saja aneh. Pasalnya, sudah lama sekali Jongin tidak melihatnya. Sejak menjadi penulis.
Ngomong-ngomong soal penulis, apa kabar dengan novel Jongin yang sudah sangat dekat deadline? Kok Jongin tenang-tenang saja padahal naskahnya baru saja hilang? Jongin tidak terlihat berusaha mengejar penulisannya.
"Sehun," Jongin yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang, memanggil seraya menepuk tempat disampingnya. Mengisyaratkan Sehun agar duduk disana.
Tanpa banyak bicara, Sehun menuruti, ikut masuk dalam selimut. Duduk berselonjor dan bersandar pada bantal yang ia letakkan diantara punggung dan kepala ranjang -diapit-. Kemudian membaca sebuah buku novel yang ia ambil dari nakas didekatnya.
Jongin menyusup dan bersandar pada dada Sehun setelah mengambil bukunya sendiri. Ia pun ikut membaca. Namun dahi Sehun mengernyit ketika melihat buku yang sedang Jongin baca. Kumpulan cerita dongeng bergambar.
What? Jongin membaca seperti itu diusia dua puluhan? Kok... Sehun semakin takut ya... niat hati ingin bertanya tentang deadline novel Jongin, jadi urung kalau begini pemandangannya.
"Baby, sejak kapan kau memiliki buku dongeng seperti itu?" Tanya Sehun dengan ketenangannya. Mengabaikan buku novel yang baru ia baca satu paragraf.
"Ehehe... tadi aku membelinya ditoko buku. Habis, sampulnya menarik. Tiba-tiba jadi rindu masa kecil ketika ibu mendongengkanku sebuah cerita sebelum tidur," jawab Jongin ceria.
"Oh begitu..." Sehun mengangguk mengerti.
"Mau kubacakan dongeng?" Jongin mendongak.
"Hum?" Sehum menunduk, "Aniya. Aku baca ini," Sehun mengangkat novelnya.
Jongin lalu mengangguk dan melanjutkan membaca buku dongengnya. Sehun lantas mengecup puncak kepala Jongin sekilas.
Lima menit berlalu, sepertinya Jongin mulai bosan.
"Umm..." Jongin bergumam sambil meletakkan buku dongengnya di kasur. Ia juga meraih novel yang sedang Sehun baca lalu duduk di pangkuan Sehun, berhadapan dengan Sehun. Menimbulkan kernyitan dahi dari Sehun. Berapa kali Sehun mengernyitkan dahi akhir-akhir ini?
"Wae, Sayang?" Sehun lalu membalas dengan merengkuh pinggang Jongin.
"Sehun," Jongin menempelkan keningnya pada kening Sehun.
"Hm?" Sehun mengecup sekilas bibir plum istrinya.
"Terima kasih ya, sudah memenuhi permintaan aneh-anehku akhir-akhir ini,"
"Sebenarnya kau kenapa, hm?" Tanya Sehun lembut. "Apa karna terlalu stres dengan deadline?"
Jongin menggeleng, "Tidak. Aku sudah menyelesaikan semuanya. Dihari aku datang ke kantormu, sebenarnya aku habis menemui penerbit,"
"Lalu bagaimana?" Sehun sedikit terkejut.
Sudah selesai? Kapan Jongin menyelesaikannya? Sehun tak pernah melihat Jongin berkutat dengan naskah setelah insiden ngamuk waktu itu.
"Semua baik-baik saja. Besok saja penjelasan panjangnya. Aku sedang tidak mau membahas itu. Ya?"
"Baiklah, aku tidak bertanya hal itu. Lalu, kenapa kau jadi aneh akhir-akhir ini?"
"Itu... aku juga sebenarnya tak tahu. Keinginan-keinginan aneh itu timbul begitu saja,"
"Hum? Begitu ya,"
"Maaf ya, merepotkanmu,"
"Merepotkan apa, hm?" Sehun mengelus belakang kepala Jongin dengan lembut, "Aku 'kan suamimu, sudah sewajarnya 'kan aku menuruti permintaanmu?"
"Terima kasih, Sehunnie," Jongin tersenyum manis seraya mengalungkan tangannya ditengkuk Sehun.
Kemudian Jongin memiringkan kepalanya dengan perlahan sambil memejamkan matanya. Bibirnya sedikit terbuka dan mulai mendekatkannya pada bibir Sehun.
Sehun ikut memejamkan matanya sambil tersenyum kecil sekilas. Sebelum kedua bibir itu saling menempel dengan sempurna dan mulai melumat, menyesap, menjilat dengan irama pelan dan romantis. Saling berbagi ciuman hangat penuh perasaan.
Jongin terlihat mengacak-acak rambut Sehun ketika mereka bertarung lidah, bahkan, "mmh..." timbul lenguhan lirih dari Jongin.
"S-sehun," Jongin mundur duluan dan menatap Sehun sayu.
"Hm?" Sehun mengucupi wajah Jongin dengan pelan.
"A-ayo bermain,"
"Heh?!" Sehun langsung terkejut mendengarnya.
Tentu saja terkejut. Sejak kapan Jongin meminta duluan dengan malu-malu begini? Oh my... what happened? Kim Jongin tidak pernah minta duluan sebelumnya. Semakin aneh saja.
"T-tapi, aku tidak mau sampai masuk. Aku mau foreplay saja,"
God! Apalagi ini?!
"Sayang, besok mau tidak mengunjungi ibumu?" Kata Sehun.
"Tentu aku mau! Aku rindu ayah, ibu, Jess noona, dan Yifan hyung!" Jawab Jongin antusias meski dengan wajah sayu.
"Kalau begitu, besok kita pergi, ne?" Dan Jongin mengangguk senang.
"Sebelum itu... ayo... ciuman lagi... dan bermain foreplay, Sehun,"
Sehun menyeringai. Ia lantas melepas kaos Jongin cepat dan membuangnya. Lalu mendorong bahu Jongin untuk berbaring di kasur dengan cepat pula.
"Jangan menyesal jika terdapat tanda ungu disekujur tubuhmu nanti," Kata Sehun sambil menenggelamkan wajah di ceruk leher Jongin dan mulai menjilatnya sensual.
"Umhhh..." Jongin menjenjangkan lehernya, "Tidak akan, Sayang," katanya tertahan menahan desahan ketika Sehun menggigit kecil dan mulai menghisap lehernya, "Tapi dengan satu syarat,"
"Apa?" Tanya Sehun kini menatap Jongin bingung.
Jongin balas menatap dengan sayu. Yang justru membuat Sehun semakin ingin menyerang. Jongin lalu mengalungkan tangannya kembali dan tersenyum.
"Tidak boleh menindih perutku," kata Jongin.
"Huh?"
Ini terdengar seperti kode atau firasat?
Y
U
U
R
A
M
A
Sehun, Jessica, dan ibu Jongin nampak sedang berbincang serius di ruang tengah rumah ibu Jongin. Sementara Yifan dan Jongin terlihat sedang bergurau di tempat lain rumah ini.
Sepertinya yang paling dirindukan Jongin adalah Yifan. Karna faktanya, ketika tadi datang, orang yang Jongin cari adalah Yifan. Bukan ibu, ayah, ataupun noonanya. Yah... hubungan kakak adik itu memang sangat dekat seperti dulu. Sehun tidak kaget melihat betapa manjanya Jongin pada Yifan.
"Noona, kau 'kan dokter, apa kau punya kenalan dokter psycologist?" Tanya Sehun.
"Huh? Memangnya ada apa?" Jessica mengernyitkan dahinya bingung.
"Maafkan aku sebelumnya, Ibu mertua, Noona. Aku sebenarnya khawatir dengan Jongin akhir-akhir ini. Dia menjadi sangat aneh seperti terganggu psikologisnya. Aku takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," jelas Sehun ragu.
"Mwo?! Ada apa dengan putra bungsuku? Aneh seperti apa, Sehun?" Ibu Jongin melotot.
"Tolong maafkan aku, Ibu mertua, bukan maksudku berprasangka buruk ataupun menuduh Jongin gila. Aku hanya khawatir padanya," Sehun menunduk, "Seminggu lebih ia bertingkah tidak wajar dibanding usianya. Dia bertingkah laku seperti anak kecil, seperti tiba-tiba menonton 'Pororo', membaca dongeng untuk anak kecil. Dia juga mudah ngambek ketika permintaannya tidak dituruti. Dia pernah meminta rekan kerjaku menyanyi untuknya saat ia ke kantorku, ketika keinginannya tak dituruti dia langsung menangis. Permintaannya aneh-aneh. Semuanya dimulai setelah ia kehilangan naskah proyek novelnya,"
Hening... kedua wanita dihadapan Sehun nampak sedang mencerna penjelasan Sehun.
"Aku takut karna terlalu stres dia jadi aneh begitu," lanjut Sehun.
Tidak lama, sang ibu memberikan senyum menenangkan pada menantunya itu. Ia bahkan menggenggam tangan Sehun dengan hangat, seolah mengatakan bahwa Jongin tidak apa-apa. Padahal, Sehun tengah kebingungan.
"Kau tak perlu khawatir, Sehun, Jongin baik-baik saja. Kurasa itu wajar," katanya tenang.
"Wajar bagaimana, Bu?"
"Untuk lebih jelasnya, sepertinya Jessica akan lebih tahu,"
"Mengapa aku, Bu?" Tanya Jessica bingung.
"Hah... dasar dokter muda tidak peka, Ibu saja tahu apa yang terjadi pada adik bungsumu," Ibu Jongin mencibir.
"Sebenarnya apa maksud Ibu?" Sehun nampak semakin bingung.
"Jess, bawa adikmu ke rumah sakitmu. Periksa dia dengan metode medis. Bukan psikolog,"
"Mwo? Ibu ingin bilang bahwa Jongin sedang sakit?" Sehun terhenyak.
Ibu Jongin malah terkekeh, "Tidak. Tapi, ikuti saran Ibu. Sekarang kau bawa istrimu ke rumah sakit, kau akan tahu jawabannya segera,"
"Tapi, aku dokter kandungan, Bu," sergah Jessica.
Ibu Jongin malah tertawa mendengar penuturan putrinya,
"Jongin..." Panggil ibu Jongin pada putranya.
"Iya, Bu?" Jawab Jongin sembari menghampiri ibunya diikuti Yifan.
"Sini, duduk disamping ibu," pinta sang ibu.
"Eoh? Ada apa, Bu?" Jongin mengernyit.
"Hanya ingin pegang perutmu," kata sang ibu kemudian mengelus-elus perut yang sebenarnya masih rata milik Jongin.
"Cucuku, sudah berapa lama kau di dalam perut, hm?" Sang ibu tersenyum berbicara pada perut Jongin.
"APA?!" Pekik ketiga anaknya serta Sehun terlalu terkejut.
"A-apa maksud, Ibu?" Tanya Jongin dan Sehun hampir bersamaan.
"Kau mengidam ya, Nak?" Tanya sang ibu pada Jongin, "Sepertinya kandunganmu sudah sebulan lebih,"
"HAH?!" Lagi, keempat anak muda itu terpekik cengo.
"Tapi Jongin laki-laki, Bu. Mana bisa hamil!" Sergah Yifan.
"Kalian belum tahu ya kalau ayah kalian adalah male pregnant? Ayah kalian sebenarnya punya rahim, tapi dia straight, hahaha..."
"APA?!" Lagi, mereka terpekik kompak.
"Jessica pasti pernah membahas tentang lelaki yang dapat hamil 'kan ketika kuliah?" Tanya sang ibu.
"I-iya sih, Bu. Memang ada namja yang seperti itu karna dulunya transgender," terang Jessica.
"Sayang, kau transgender?" Sergah Sehun pada Jongin.
"Apa?! Aku lelaki dari dulu!" Jawab Jongin.
"Tunggu, Sehun, penjelasanku belum selesai," kata Jessica, "Tetapi ada juga namja tulen yang bahkan dapat menstruasi seperti kasus di Jerman baru-baru ini, dia memiliki rahim, tetapi menstruasinya dimulai ketika ia berumur tiga puluh empat tahun,"
"Jaman sudah gila!" Pekik Yifan.
"Sayang, sepertinya keistimewaan ayahmu menurun padamu," Ibu tertawa, "Jaga baik-baik cucu ibu ya,"
"Untuk lebih pasti, ayo kita periksa, Jongin," kata Jessica, "Omong-omong, Fan, kau juga perlu diperiksa tidak? Siapa tahu kau juga memiliki rahim," Jessica nyengir lebar sambil menaik turunkan alisnya jenaka.
"Sialan!"
Y
U
U
"Sayang, aku harus bereaksi seperti apa? Aku tidak percaya ini!" Sehun berujar heboh begitu melihat hasil pemeriksaan Jongin yang menunjukkan bahwa istri tan-nya itu benar-benar hamil. Padahal ia sudah melihat kertas itu berkali-kali sejak di rumah sakit. Bibirnya terus menyunggingkan senyum lebar.
Masih tidak percaya! Jongin asli pria, tapi hamil! Ini namanya keajaiban.
Eum, apa ya... apa Jongin sudah memiliki firasat sebelumnya kalau dia hamil? Ingat 'kan ketika foreplay semalam Jongin tidak mau ditindih?
"Sehun, kau sudah mengucapkan itu berulang kali," Jongin yang berdiri didepan suaminya memasang pose berkacak pinggang.
"Aku terlalu bahagia, Sayang! Ya ampun, aku akan menjadi ayah!" Sehun lantas melonjak dan memeluk Jongin erat.
Jongin terkekeh sembari membalas pelukan sang suami.
"Aku jadi tidak khawatir kalau begini. Kau tahu? Aku sempat mengira kau gejala kelainan jiwa. Tetapi ternyata, kau mengidam! Maafkan aku karna telah berpikir macam-macam. Aku hanya khawatir," Sehun mengoceh panjang.
"Iya, tidak apa-apa, Sehun. Aku paham kok,"
"Aku akan jadi ayah! Terima kasih, Jongin! Aku benar-benar berterima kasih!"
"Selamat ya, Ayah muda... hihi.." Jongin terkikik dalam pelukan Sehun.
Sehun lalu melepas pelukannya kemudian berlutut didepan Jongin. Memeluk pinggang Jongin, dan menempelkan telinganya di perut Jongin yang masih rata.
"Hai, Baby, aku Oh Sehun. Calon ayahmu," kata Sehun berbicara pada calon bayinya.
Jongin tersenyum senang sembari mengelus kepala Sehun diperutnya. Sungguh dia pun tak kalah bahagia dengan Sehun. Ia juga tak pernah menyangka bahwa ia dapat hamil.
"Baik-baik di dalam sana sampai saatnya keluar nanti. Jangan nakal dengan ibumu. Ayah berjanji akan menjaga kau dan ibumu dengan sebaik-baiknya," kata Sehun lagi sambil mengecup perut Jongin. "Aku menyayangi kalian,"
Sehun benar-benar bahagia.
Dengan begini, Sehun tak perlu khawatir lagi tentang labilnya Jongin akhir-akhirnya. Sehun sudah harus menghilangkan pemikiran tentang 'membawa Jongin ke psikolog'. Jessica bilang, semua hanya bawaan bayi yang dikandung Jongin. Sehun benar-benar bersyukur semua baik-baik saja.
Malah lebih baik. Sebentar lagi akan hadir malaikat kecil yang melengkapi keluarga kecil mereka.
W
I
N
T
E
R
Sehun tengah terduduk di ruang kerjanya -di kantor- sambil mengetikkan sesuatu pada laptop slimnya. Sesekali ia akan tersenyum kecil jika ingatan mengenai kehamilan Jongin mampir tanpa sengaja dalam benaknya.
Membayangkan bagaimana nanti repotnya mereka mengurus anak, mampu membuat senyum Sehun semakin lebar, pasti akan menarik nantinya. Sehun harap, anaknya akan lahir laki-laki. Tapi, perempuan juga tidak apa-apa deh. Yang penting sehat.
Sehun terlihat meregangkan ototnya sebentar, sebelum pandangannya jatuh pada amplop coklat yang kotor dengan coretan tinta. Kalau tidak salah, amplop itu 'kan amplop yang waktu itu Jongin bawa setelah dari kantor penerbit. Ah, mungkin Jongin lupa membawanya. Omong-omong, isinya apa ya?
Sehun mengambilnya, lalu terkekeh kecil melihat hasil coretan pada sampul amplop besar itu. Memangnya amplop ini bukan berisi dokumen penting ya, sampai dicoret-coret begini.
Ada namanya dan nama Jongin yang terpisah tanda 'hati'. Ada beberapa gambar lucu disana. Gambar seorang bayi. Kenapa Jongin menggambar bayi? Apa mungkin Jongin sudah memiliki firasat lebih dulu ya kalau dia mengandung? Menarik sekali. Insting calon ibu. Eh, ibu? Tapi Jongin laki-laki. Bagaimana menyebutnya ya?
Ada juga gambar buaya chibi yang Sehun tahu adalah salah satu tokoh kartun 'Pororo', siapa nama buaya ini... ah iya, Krong namanya. Dasar Jongin, gara-gara hamil jadi aneh begini. Tapi keanehan ini malah lucu lho. Kecuali bagian tempramental Jongin sampai membanting laptop kala itu.
Omong-omong soal laptop remuk, Sehun jadi ingat sesuatu. Jongin bilang naskah deadline-nya sudah beres? Bagaimana bisa? Masa iya dalam sehari Jongin bisa mengulang naskahnya yang hilang?
Drrt... drtt...
Belum sempat Sehun membuka amplop milik Jongin, ponselnya bergetar diatas meja.
Rupanya Jongin yang menelfon.
"Ya, Sayang?" Sapa Sehun dengan senyum tampan.
"Aku dalam perjalanan ke kantormu, kita makan siang bersama, ya,"
"Baiklah. Hati-hati, Baby,"
"Hm,"
Pipp...
Setelah sambungan telephone terputus, Sehun kembali pada objek sebelumnya, amplop coklat.
Ia membukanya, lalu mengeluarkan isinya. Hanya selembar kertas dengan bubuhan tulisan hasil ketik komputer.
Bagian pertama yang Sehun lihat adalah kop surat. Tercetak tebal dengan font besar, sebuah perusahaan penerbit yang menaungi Jongin selama ini.
Lalu, matanya menelusur lebih kebawah di sisi kiri, perihal surat.
Tunggu, ini-
"Pengunduran diri dan pembatalan kontrak?!" Mata Sehun membulat sempurna. Terkejut tentu saja.
Maka tanpa basa-basi lagi, ia membaca isinya.
"Mustahil!" Ujarnya tak percaya.
Demi Tuhan! Ini surat pembatalan kontrak kerja antara Jongin dengan redaksinya yang sudah ditandatangani. Sudah sah. Tanggalnya sama dengan kedatangan Jongin dikantornya waktu itu. Dan jika diingat-ingat, Jongin mengaku bahwa kala itu dia baru saja dari kantor penerbit.
Terkejut bukan main. Apa-apaan ini!
Sehun harus segera menemui Jongin.
"Yeobo?"
Nah kebetulan Jongin sampai diwaktu yang sama.
"Jongin, kita harus bicara," kata Sehun to the point, menarik Jongin yang baru saja sampai untuk duduk di sofa.
Jongin tidak mengerti dan sedikit terkejut, raut wajah Sehun nampak serius.
"Bisa kau jelaskan maksudnya ini?" Sehun mengangkat amplop coklat kumal beserta isinya, "Pembatalan kontrak? Kenapa?"
Jongin terhenyak, "I-itu... aku..." mendadak lidahnya kelu.
Sebenarnya, Jongin sudah siap mental akan membicarakan ini dengan suaminya, sungguh ia akan berterus terang. Tapi, Jongin tidak menduga kalau surat penting itu ternyata tertinggal dikantor Sehun. Ditambah, ia langsung mendapat interogasi tegas, Jongin jadi gugup. Mental yang telah ia siapkan luntur begitu saja. Apalagi, Sehun memang tipikal orang yang dapat menekan meski hanya dengan aura.
"A-aku... m-maaf," Jongin menunduk merasa bersalah.
"Jelaskan padaku," perintah Sehun mutlak.
"S-sebenarnya, a-aku sudah merencanakan pengunduran diri dan pembatalan kontrak dengan penerbit semenjak beberapa bulan lalu. A-aku memutuskan berhenti menjadi penulis," Jelas Jongin takut-takut.
Sehun tersentak sekaligus terpana. Sungguh Sehun tidak menyangka jika ternyata Jongin sudah memiliki niat untuk mundur dari dunia penulis, bahkan sebelum Sehun memiliki niat untuk memisahkan sang istri dari hobinya.
"A-aku menyadari perubahan temprament-ku semenjak insiden kehilangan naskah pertama kalinya. Aku sadar bahwa semakin kesini aku semakin buruk. Jadi, aku berhenti memaksa diriku untuk bergelut dalam bidang ini. Aku... ingin menyelamatkan psikologisku sendiri. Meski menulis adalah hobi dan impianku, tetapi jika ini membuatku menjadi buruk, aku akan berhenti," Jongin memberi penjelasan lebih lanjut sambil memainkan ujung jaket merahnya, "S-sebenarnya, aku sudah membuat naskah cerita lebih pendek sebagai pengganti jika aku gagal dalam naskah inti. A-aku sudah membicarakannya dengan penerbit tentang hal ini sebelum aku mulai mengerjakan proyek baru. K-karena kemarin a-aku gagal, jadi naskah cadangan yang akan diterbitkan sebagai karyaku yang terakhir,"
Sehun menghela napas pelan, Nyatanya, Jongin sadar diri, bahkan sudah memprediksi bahwa akan gagal. Sehun tahu, bukannya Jongin tidak percaya diri, tetapi karna Jongin merasakan firasat dari jauh-jauh hari bahwa proyek kali ini akan gagal.
"Urusanku dengan penerbit sudah selesai, aku sudah membayar denda pembatalan kontrak,"
"Kenapa tidak berdiskusi denganku dulu, hm?" Sehun menggeser duduknya lebih dekat dengan Jongin. Kali ini nadanya melembut. Setelah mendengar penjelasan sang istri, ia tidak lagi menekan. Jongin sedang hamil, tidak boleh stres.
"M-maafkan aku," Jongin menduduk.
Puk...
Sehun menepuk kepala Jongin pelan, menatap pemuda itu dengan lembut, lalu beradu dahi dengan Jongin yang masih menunduk, "Jika itu keputusanmu, sebagai suami, aku akan mendukungmu,"
Jongin mendongak dengan sedikit terkejut, beradu tatap dengan mata hitam sang suami mencari kepastian dalam jarak yang begitu dekat. Jongin menemukan ketulusan dan dukungan dimanik Sehun dengan jelas. Hatinya seketika menghangat, jantung yang semula berpacu cepat berangsur stabil. Lega.
"Apa yang akan kau lakukan jika bukan menulis?" Tanya Sehun tanpa sedikitpun mundur dari posisi mereka.
"Aku akan fokus padamu dan juga bayi kita. Aku akan menemukan kesenangan lain nanti,"
Wajah Sehun menghangat. Rasanya, kali ini ia diperhatikan secara penuh. Maka ia tersenyum tulus seraya mengusak rambut Jongin dengan sayang.
"Lagipula, masih banyak hal yang menarik dari menulis. Benar 'kan?" Jongin tersenyum dengan eyesmile yang amat manis. Apalagi dengan jarak sedekat ini, Sehun sangat suka.
"Aku cinta padamu. Apapun yang akan kau lakukan, aku tetap sayang padamu dan akan mendukung," kata Sehun.
"Terima kasih, Ayah muda," Jongin terkikik.
Lalu mereka saling memeluk.
O
W
A
R
I
E
Sepasang kaki mungil itu terus melangkah untuk menyamakan langkah dengan orang dewasa yang menggandengnya. Tentu skalanya berbeda, jika pemuda tan berjalan santai, maka bocah lelaki berpipi gempal itu nampak lebih cepat melangkah. Tas punggung berbentuk krong itu nampak bergoyang-goyang seiring langkah kecilnya. Lucu sekali.
Beberapa karyawan yang melihat sepasang ayah dan anak itu hanya tersenyum kecil atau berbisik-bisik. Tapi, biarlah. Toh sebenarnya bukan hal tabu lagi kalau Kim Jongin dan putra tiga tahunnya sering menampakkan diri di kantor itu.
"Ayah! Ayah!" Bocah itu melepaskan gandengannya begitu memasuki sebuah ruangan. Ia berlari menghampiri sesosok lelaki berjas rapi yang tengah berbincang dengan salah seorang relasi bisnis.
Hap!
Bocah itu melompat memeluk orang yang ia panggil ayah.
"Hai, Teo," Sapa lelaki putih itu dengan senyum lebar sambil mengecup pipi anak kecil itu.
"Putra Anda, Presdir Oh?" Tanya teman Sehun.
"Iya, ini putraku, dan ini istriku," Sehun memperkenalkan keluarga kecilnya.
Jongin mengangguk hormat sambil tersenyum ramah.
"Kalau begitu, saya permisi," Rekan bisnis Sehun lantas pamit.
"Terima kasih dan hati-hati, Tuan Choi,"
Sepeninggalan rekan bisnis Sehun, Jongin lantas duduk disamping Sehun.
"Nah, Ayah muda, jaga Teo ya," Kata Jongin.
"Memang kau mau kemana?" Tanya Sehun heran.
"Hari ini adalah peresmian Cafe Temperatur,"
"Kenapa tidak kau ajak saja, Teo," Sehun mendengus. Sementara sang anak hanya menatap Sehun dari pangkuannya.
"Aku tidak bisa mengajaknya, aku akan sibuk nanti. Aku tahu jadwalmu tidak padat hari ini," Jongin bangkit dari duduknya, "Jadi, tolong ya, Ayah," Jongin nyengir lebar.
"Tapi,"
"Tidak lama kok. Hanya dua jam. Aku akan kembali secepatnya," Kata Jongin, "Teo, ayo cium Papa dulu," Jongin mensejajarkan wajahnya dengan Teo. Lalu sang anak mengecup kedua pipi Jongin dengan imut, "Jangan nakal sama ayahmu, ne? Oke?" Jongin mengacungkan jempolnya.
"Oke!" Teo membalas mengacungkan jempol.
"Bagus," Jongin mengusak rambut Teo sekilas, "Aku pergi dulu ya, Ayah," Lalu mengecup bibir Sehun sebelum berlalu pergi.
"Tunggu, Jong! Aish!" Sehun mendesis sebal. Lalu ia menatap anak dalam gendongannya.
Pasti akan merepotkan.
"Ayah, Teo lapal," Teo merengek.
Tuh 'kan benar.
"Ayah, Teo ingin menggambar,"
"Ayah, Teo bocan, ayo main kuda-kudaan. Ayah yang jadi kuda,"
"Ayah, Teo ngantuk,"
"Ayah, bla bla bla bla..."
Aduh berisik~ anak siapa sih cerewet sekali~
Hoi, dia anakmu!
Sehun membenturkan dahinya dimeja. Ternyata setelah punya anak, repot sekali. Apalagi yang seumuran Teo begini. Pasti banyak cerewetnya. Anak ini lebih mirip Jongin daripada dirinya. Aduh, ini bahkan lebih parah daripada masa Jongin ngidam dulu.
"Ayah-"
"Sstt..." Sehun mendesis menyuruh anaknya berhenti mengoceh, "Ayo susul Papamu saja. Ayah tidak bisa mengurusmu sendirian apalagi pekerjaanku sebenarnya banyak. Sekalian saja recoki cafe baru Papamu, bagaimana Teo? Setuju 'kan?" Sehun lalu menggendong putra semata wayangnya untuk pergi.
Menyusul Jongin yang pergi satu jam lalu untuk peresmian cafe yang merupakan bisnis baru Jongin. Ya, setelah berhenti menulis lalu melahirkan sesar, Jongin merencanakan bisnis cafe, dan baru terlaksana sekarang, setelah sekiranya sang anak sudah cukup besar untuk diajak ketempat kerja.
Okey, itu bagus. Akhirnya Jongin menemukan hal menarik lain selain menulis. Tentu Sehun juga senang, tapi mengurus anak bukan keahlian Sehun. Aduh!
E
N
D
Ngomong-ngomong, yang soal pria tulen menstruasi itu, saya pernah baca artikel online. Tapi, saya lupa ga simpan linknya-_- jadi maaf ya ga bisa kasih bukti ;-;
Oh iya, ini ff mpreg pertama hahaha kalau jelek dan ga masuk akal ya maap-_-v
Tunggu, kenapa kalian tahu Jongen halim dan isi amplop onoh surat pengunduran diri?-_-
Astogeh~
