Disclaimer :

Always Tite Kubo punya Bleach

Fict P,TMS! Punya Riztichimaru

Title: Please, Tell Me Something!

Tolong Review ya!!

Honto ni Arigatou gozaimashita

STOPP!!!

Don't Like Don't Read


Chapter 2: Tears and Hold

Wanita bersyall pink itu masih mendekapku erat walaupun matanya tertutup dan yang terdengar hanyalah dengkuran kecil darinya, aku bingung apa yang harus aku lakukan padanya.

Tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri disini dan pulang, lagipula pelukkannya begitu erat. Kalau aku lepaskan dia akan terbangun, mungkin akan berteriak dan memukuliku lagi.

'Ah… bagaimana ini?' tanyaku dalam hati.

Aku tidak tega membangunkannya, lalu kuputuskan untuk tertidur saja daripada tidak ada kerjaan lagipula rasa kantuk menyerangku habis-habisan.

Beberapa jam aku tertidur tidak terasa lagi olehku. Begitu nyenyaknya aku sampai lupa sudah berapa lama aku tertidur. Aku mulai sedikit membuka mataku ini dan melihat mentari jingga di upuk Barat telah beranjak pulang keperaduannya.

Huahhhzzz… aku menguap kembali, rasa letihku membuat kantukku bertambah. Aku sendirian di bangku panjang di halaman kuil Shinto ini, tidak ada siapa-siapa lagi. Kulirik jam tanganku, pukul 4 p.m.

'Ah… berarti aku sudah tidur selama dua jam lebih,' pikirku.

"Eh… tunggu dulu, rasanya aku ingat sesuatu. Apa ya? O ya… kemana wanita bersyall Pink tadi, kemana dia?" gumanku keras.

Aku celangak-celingukan mencarinya tapi tidak kutemukan. Aku beranjak dari bangku panjang ini, kemudian berjalan kesana-kemari di sekeliling taman halaman Kuil Shinto ini untuk mencarinya.

'Tidak, tidak kutemukan wanita itu. Kemana dia? Jangan-jangan sudah pulang,' pikirku lagi.

Ya sudahlah… mungkin benar dia sudah pulang, lagipula mengapa aku mencarinya? Untuk apa, tidak ada urusannya juga denganku.

Aku lalu memutuskan untuk pulang saja dan lagi hari juga sudah semakin gelap. Aku berlari menjauhi taman halaman kuil itu menuju halte bus di dekat KWCU universitasku, halte dimana aku menunggu bus yang menuju apartemenku.

------Gin Ichimaru's apartement------

Sesampainya aku di apatement, aku langsung mandi dengan cepat. Aku malas terlalu lama di kamar mandi, dingin sekali rasanya padahal musim gugur baru berjalan beberapa hari.

Setelah mandi aku berpakaian, tapi sebelum mengenakan baju. Aku melihat ada tanda biru-biru di pundakku. Tidak!! Bukan hanya dipundak, di pipi, di dada dan lenganku juga ada ada tanda birunya. Tanda biru??

'Ya… tanda biru itu adalah tanda lebam karena aku dipukuli oleh seorang wanita di taman itu siang tadi' pikirku.

Tanda biru itu terasa perih saat kusentuh. Wah… benar-benar wanita yang sadis, bisa-bisanya dia memukuli orang sembarangan sampai menjadikan tubuhku seperti ini.

Ah.. sudahlah mau gimana lagi, mau menuntutnya juga tidak bisa sebab tidak tahu dia ada dimana dan tinggal dimana. Hilang tanpa jejak begitu saja.

Setelah berpakaian aku memutuskan untuk makan saja. Lalu kubuka kotak makanan yang baru aku beli di kedai makanan milik Pak Urahara dan Nyonya Youroichi. Aku makan dengan lahap sebab aku begitu lapar, dari jam 11 siang aku belum makan hari ini.

Biasanya aku membawa makan siangku ke taman halaman kuil Shinto itu, tapi tadi aku tidak bisa dan tidak jadi memakannya. Ya, tidak jadi memakannya karena aku sibuk menghadapi wanita aneh yang tiba-tiba menangis, meronta , memukuli dan memeluk tubuhku.

'Dasar wanita aneh!' makiku.

Karena malam ini malam minggu, aku tidak bermaksud tidur lebih cepat. Aku memutuskan untuk menonton acara TV saja, aku menonton tanyangan Nasional Geography dan juga berganti-ganti menonton Shonen Anime.

Setelah kedua acara itu selesai, aku mulai bosan menonton acara selanjutnya yang menyiarkan acara gossip terus. Aku heran mengapa orang-orang begitu ingin tahu dan peduli dengan urusan orang lain, padahal itu juga tidak ada hubungannya dengan mereka. Sungguh kegiatan yang tidak ada gunanya, hanya membuang-buang waktu saja.

Lalu aku beranjak mendekati notebook-ku dan menyalakannya. Aku berniat untuk mencari bahan-bahan materi tugas kuliahku yang harus segera aku selesaikan. Setelah dua jam lebih berselancar di lautan Website dengan Search Engine. Akhirnya semua yang kucari sudah ditemukan, dengan segera kuselesaikan tugas-tugas kuliahku sampai tuntas tak bersisa lagi.

Malam sudah menunjukkan pukul 12.12 a.m. Mataku sudah tidak tahan lagi ditambah letih menyergap tubuhku dan perih di beberapa bagian tubuhku. Aku tidak sempat lagi beranjak pindah ke tempat tidurku.

Aku tertidur di meja belajarku dengan notebook yang masih menyala dan menampilkan screen saver dengan tulisan ICHIMARU GIN - KWCU ENGINEERING. Ya, screensaver itu menampilkan nama pemilik notebook yang berarti kalau itu adalah namaku. Nama seorang mahasiswa tahun pertama yang kuliah di KWCU-Universitas favorit di Kota Karakura ini- jurusan Teknik Mesin.

Walaupun sudah tertidur dan notebook masih menyala aku tidak khawatir karena aku sudah menyeting Time Off notebook-ku, jadi notebook-ku bisa mati secara otomatis sebab aku tahu kalau terus menyala maka energinya akan terus terpakai dan itu sama saja dengan tidak menghemat energi listrik dan juga tidak peduli pada global warming.

Ah, aku mulai membicarakan masalah global warming lagi. Aku memang sangat peduli pada lingkungan alam. Tetapi aku tidak peduli pada orang-orang yang tinggal didalamnya. Mereka selalu memandang buruk tentangku dan seyumanku ini. Jadi untuk apa peduli pada mereka, mereka juga tidak peduli padaku.

***

Sudah enam hari sejak aku bertemu wanita'aneh' itu di taman Halaman Kuil Shinto itu. Hari ini hari ketujuh, hari Sabtu lagi. Kebiasaanku mengunjungi tempat itu -Halaman Kuil Shinto- masih terus akan kulakukan sampai kapan pun, aku tidak ingin menyianyiakan keadaan tenang di musim gugur ini dengan hanya tidur di apartemenku yang sumpek dan bising oleh teriakan pada tetangga kamarku.

Aku terus menyusuri trotoar jalan yang ditutupi oleh dedaunan yang gugur berserakan. Langkahku semakin cepat karena matahari membakar kulit wajahku, perih rasanya. Akhirnya aku tiba juga di taman Halaman Kuil Shinto dan melangkah mendekati bangku panjang yang biasa kududuki.

'Ah… ternyata ada seseorang yang duduk disana juga' pikirku.

Biasanya tidak pernah ada yang duduk di bangku panjang itu. Hanya aku sendiri yang duduk disana selama ini, sejak aku mengenal tempat ini. Kakiku terus melangkah mendekati bangku itu. Dari kejauhan aku melihat seseorang yang sedang duduk itu. Dia berambut panjang berwarna orange dan menelungkupkan wajahnya di pahanya.

Semakin dekat aku pada bangku panjang itu, aku mendengar ada isakan tangis. Satu meter dari depan bangku itu, aku memperhatikan orang itu. Ternyata???

Dia adalah wanita'aneh' yang aku temui Sabtu kemarin disini. Aku memberanikan diri untuk menyapanya.

"Nona, apa anda menangis lagi? Apa anda baik-baik saja?"tanyaku karena dia terus menahan isakan tangisnya. Tidak ada jawaban, dia masih menelungkupkan wajahnya di pahanya.

"Nona.. aku bertanya padamu, apa anda tidak kenapa-kenapa?" tanyaku lagi, kali ini aku berusaha sabar bertanya padanya.

Hening, tidak ada satu katapun keluar dari bibirnya.

"Ya… sudahlah kalau begitu. Terserah anda saja," ucapku padanya. Aku lalu duduk mengambil posisi satu meter darinya dan mulai mendengar MP4-ku. Aku melihat langit sebentar.

'Sepertinya sedikit berawan, mungkin nanti malam akan hujan' pikirku ketika melihat lazuardi biru berawan itu. Seperti biasa aku mengantuk dan mulai memejamkan mataku lebih rapat lagi sampai cahaya mentari tidak bisa menembus kelopak mataku.

Tetapi tiba-tiba…

Wanita itu menangis lagi di dadaku, memukuliku dan meronta-ronta walaupun tidak terdengar dia berteriak. Aku kaget dan langsung berdiri.

"Nona, anda ini kenapa? Kenapa memukuli orang sembarangan begitu? Badanku sakit tahu!" bentakku padanya. Aku kesal kenapa dia memukuliku, aku kan tidak salah apa-apa padanya aku hanya bertanya sedikit.

'Tidak mungkin karena bertanya sedikit dia memukuliku. Kalau iya, sadis sekali orang ini. Jangan-jangan dia psikopat,' pikirku ngeri.

Wanita itu masih menangis tersedu-sedu dan memandangku heran. Aku tidak tahu apa maunya wanita itu. Lalu dia menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku panjang itu dan menutup matanya yang masih berlinangan air mata.

Aku tidak tahu harus bersikap apa padanya, aku lalu duduk kembali di ditempat dudukku semula dan berniat tidur. Saat mataku benar-benar terpejam, aku merasa ada yang menyandarkan tubuhnya ketubuhku dan meletakkan kepalanya ke dadaku dan memeluk pinggangku. Aku membuka mata, ternyata…

Wanita ber-syall pink itulah yang menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku bingung mengapa dia berbuat begitu, aku juga tidak bisa membentaknya lagi sebab dia juga tidak memukulku. Beberapa puluh menit aku terdiam dan membiarkan dia menyandarkan kepalanya di dadaku.

"Nona, apa anda tertidur?" tanyaku padanya. Lagi-lagi tidak ada jawaban.

'Ah..benar, dia sudah tertidur,' pikirku setelah melihat wajahnya. Lalu aku memutuskan untuk tidur juga. Kantuk menyerangku lagi.

Kali ini aku jadi tidak bisa tertidur walaupun aku berusaha memejamkan mataku. Wanita ini terlalu erat memelukku sehingga posisiku jadi tidak nyaman untuk tidur siang ini. Karena tidak bisa tertidur aku terus mendengarkan musik di MP4-ku sampai habis baterainya. Karena baterainya habis, aku tidak mempunyai kegiatan apapun. Kupandangi lagi langit biru yang mulai berubah menuju senja keorangean.

Sudah Tiga jam lebih wanita ini tertidur mendekapku, pegal sekali rasanya tidak bisa menggerakan tubuhku. Tetapi wanita ini dengan bebas bergerak melepas dan memeluku. Dia terkadang mempererat dan mereganggkan pelukannya serta mencengkaram kemejaku dengan kuat.

'Mimpi apa wanita ini? Kenapa menarik-narik kemejaku sekencang ini?' tanyaku dalam hati.

Kulirik jam tanganku, ternyata sudah pukul 2.30 p.m. Diam-diam aku masih memandangi wanita bersyall pink itu. Hari ini dia mengenakan kaos sedikit ketat berwarna pink polos dengan jaket berwarna hijau tua dan celana Jeans tiga perempat berwarna cokelat tua, satu lagi tidak ketinggalan sehelai syall warna pink menggantung di leher jenjangnya yang kelihatan putih mulus.

'Cantik sekali, dia benar-benar cantik walaupun garis hitam dibawah matanya nampak dengan jelas terlihat. Tapi dia tetap terlihat cantik,' pujiku dalam hati sambil terus memandangi wajahnya yang sedang tertidur pulas.

Beberapa saat kemudian, dia terbangun dari tidurnya. Dia melepaskan pelukkannya dan sedikit menjauh dariku. Aku terus memperhatikannya.

"Nona… anda tidak apa-apa, kan? Apa anda sakit?" tanyaku ketika melihat mukanya tampak sedikit pucat dengan mata sembabnya.

Dia hanya memandangiku dan menatap mataku. Mataku bertemu pandang dengan mata biru mudanya. Dia memalingkan pandangannya kearah jalan menuju kuil Shinto itu, aku pun menundukkan wajahku.

Tiba-tiba dia langsung berdiri, mengambil tasnya dan melangkah cepat kearah jalan raya. Aku terperangah, kenapa tiba-tiba pergi dan tidak mengatakan sesuatu padaku. Aku mengejarnya, dia terus berjalan makin cepat lalu berlari.

"Nona, anda kenapa?" tanyaku sambil berlari mengejarnya.

"Nona, anda mau kemana? Kenapa tiba-tiba pergi begitu?" tanyaku lagi.

"Nona, tolong jawab aku! Nona… nona… nona!!"panggilku dengan keras. Tetapi dia sudah hilang ditikungan jalan. Aku berhenti mengejarnya.

"Ah.. aku kehilangan jejaknya lagi," gumanku sambil ngos-ngosan.

Aku lalu berbalik ke bangku panjang itu untuk mengambil tas milikku dan berjalan pulang dengan langkah gontai.

'Ada apa dengan wanita'aneh' itu? Kenapa pergi tiba-tiba begitu, aku kan tidak memakan orang. Kenapa dia berlari ketakutan seperti itu? Ah.. entahlah, bukan urusanku juga lagipula kenapa aku harus mengejarnya dan memanggil-manggil dia. Aku ini aneh atau bodoh?' pikirku sambil menendang-nendang dedaunan kecoklatan yang berserakan ditengah jalan menuju halte bus KWCU itu.

Sepanjang jalan menuju halte bus aku terus memikirkan wanita itu. Tanpa sadar aku sudah jauh melewati halte bus dan tersadar seketika.

"Ya ampun, kenapa aku sudah berjalan sejauh ini? Kenapa Sampai-sampai haltenya jadi kelewatan gini," gumanku keras sambil menepuk dahi dengan tangan kananku.

Ahh… mengapa aku jadi bodoh begini? Bodoh karena memikirkan wanita yang tidak aku ketahui identitasnya, wanita yang menangis di dadaku, wanita yang memukuli dan memelukku sembarangan begitu.

Ahh.. entahlah aku malas memikirkan hal bodoh dan tidak penting seperti itu. Lalu aku berbalik arah menuju halte bus yang telah aku lewati tadi. Tetapi aku masih penasaran pada wanita itu, mungkin tidak ya aku bertemu dia lagi di taman halaman kuil Shinto itu.

'Kenapa aku malah berharap bergitu?' tanyaku dalam hati.

Jumat, minggu berikutnya………

Padi ini begitu dingin, aku bergegas turun dari bus yang kunaiki yang berhenti di halte di depan Kampus KWCU. Aku berlari menuju ruang kelasku.

"Aku terlambat lagi, pasti sensei akan memarahiku,"gumanku sambil terus berlari menuju ruangan kelasku itu.

Karena terlalu tergesa-gesa dan terus berlari sampai-sampai aku tidak mendengar kalau ada teman-temanku yang memanggilku sedari aku masih di gerbang utama kampus tadi.

Dua orang mahasiswa, yang satu berambut merah dan memiliki banyak tato ditubuhnya dan yang satu lagi berambut orange. Postur tubuh mereka yang tinggi dapat dengan mudah aku kenali walaupun dari jarak yang jauh. Mereka memanggil-manggilku dari kejauhan. Aku berhenti dan menuggu mereka mendekatiku.

"Gin, besok Sabtu jam 11.30 siang setelah Saturday English Club kita ada lomba debat di Karakura State University. Kami ngedaftarin kamu jadi pesertanya satu tim bareng aku dan si strowbery Ichigo Kurosaki ini." Temanku yang berambut merah -Renji Abarai- memberitahuku tentang lomba debat yang akan dilaksanakan besok Sabtu.

"Hei! kalian apa-apaan, main daftarin orang sembarangan gitu. Aku kan belum tentu bersedia ikut," ujarku kesal pada kedua temanku itu.

"Maaf Gin, kita tahu kita salah. Tapi ini demi fakultas kita juga. Cuma kamu yang cerdas dan jago debat English di jurusan kita," sambung Ichigo.

"Iya Gin, tolong dong. Lain kali kami gak bakal kayak gini. Kali ini bener-bener mendesak. Please," ujar Renji memelas dihadapanku.

"Oke lah kalau begitu. Ngomong-ngomong lombanya berapa lama, ada berapa kontestan?" tanyaku lagi pada dua temanku yang memiliki warna rambut yang tidak biasa itu.

"Kurang lebih empat jam, mungkin jam 2.30 sudah selesai kok. Kurang lebih ada 10 kontestan dari beberapa universitas di kota Karakura ini," jawab Ichigo.

"Oh, Banyak juga kontestannya pasti lama banget tuh. Wah berarti..." gumanku sedikit keras. Renji dan Ichigo sedikit heran. Tidak biasanya aku berguman kalau mengikuti lomba, biasanya aku yang paling aktif.

"Gin, memangnya kamu ada acara Sabtu besok?" tanya Renji heran disertai tatapan dari Ichigo.

"Ah.. tidak, tidak ada acara kok. Jam 11.30 ya. Oke, besok aku datang. Aku masuk ke kelas dulu, sepertinya aku sudah telat masuk nih. Ja mata ashita!" pamitku pada kedua temanku yang masih kelihatan heran padaku. Aku lalu bergegas ke kelasku.

Setelah masuk kelas dan mengikuti kuliah aku sedikit bosan dengan penjelasan dosenku Mayuri-sensei. Tanpa sadar aku melamun. Aku memikirkan tentang acara debat besok Sabtu.

'Debat biasanya dilakukan pada hari Minggu atau di jam-jam kuliah, mengapa debat kali ini dilakukan di hari Sabtu?' tanyaku dalam hati sepertinya aku sedikit tidak suka dan agak kesal dengan perubahan jadwal debat yang sembarangan seperti itu. Tetapi kenapa aku kesal, bukannya aku biasa mengikuti debat yang berubah-ubah jadwalnya.

Aku terus melamun, entah apa yang aku lamunkan sampai-sampai Mayuri-sensei menegurku.

"Ichimaru, kamu melamun ya? Awas nanti cairan Kimia itu tumpah ke tangan kamu. Bisa-bisa cairan itu membakar tangan kamu. Tolong jangan melamun kalau sedang kuliah!"

Mayuri-sensei memperingatkanku, teman-teman sekelasku memandangiku heran. Tidak biasa-biasanya aku melamun waktu kuliah. Biasanya aku akan mendampingi Mayuri-sensei memperagakan percobaan Kimia di depan kelas, maklum aku asisten dosen Mayuri-sensei.

"Ya sudahlah anak-anak, sekian dulu kuliah kita hari ini. Jangan lupa tugas kelompok dan tugas individunya dikumpulkan segera." Mayuri-sensei menyudahi kuliah hari ini.

"Gin, bisa tolong bawakan kertas-kertas tugas kalian ini!"

"Hai sensei! Akan aku bawakan," jawabku pada Mayuri sensei.

Aku lalu membawakan kertas-kertas tugas itu dan mengikuti Mayuri-sensei dari belakang. Setelah jauh dari kelas, tiba-tiba Mayuri-sensei berhenti dan memandangiku. Aku terkejut.

'Ada apa dengan Mayuri-sensei?' pikirku dalam hati. Tidak biasanya dia berhenti di tengah jalan seperti ini.

"Ichimaru, mengapa kamu melamun hari ini, tidak biasanya kamu melamun di kelasku? Kamu ada masalah? Apa kamu habis berkelahi lagi dengan orang-orang?" Mayuri sensei memberondong pertanyaan padaku.

Aku senang Mayuri-sensei tidak mengganggapku seperti orang lain yang menganggapku licik. Dia terlihat mempercayaiku walaupun aku juga sering melihat senyum liciknya.

"Ah.. tidak ada apa-apa Sensei. Aku baik-baik saja, aku tidak berkelahi dengan orang," jawabku.

"Oh, begitu ya. Baiklah segera taroh kertas-kertas itu di mejaku. Jangan lupa kamu masih asistenku, jadi jangan sering-sering melamun dikelas!"

"Hai Sensei,"jawabku dan segera aku mengantarkan kertas-kertas itu kemejanya.

Besoknya……

Hari ini aku tergesa-gesa pergi ke kampus lalu mengikuti Saturday English Club seperti biasanya. Setelah acaranya selesai aku segera berangkat ke Karakura State University bersama Ichigo dan Renji. Kami berangkat dengan mobil milik Rukia Kuchiki pacarnya Ichigo, Rukia tentunya juga ikut.

Kulihat Renji ternyata juga pergi bersama pacarnya Tatsuki. Rukia duduk di depan bersama Ichigo, aku duduk ditengah bersama Renji dan Tatsuki. Kulihat mereka begitu mesra walaupun kedua couple itu sering bertengkar kecil dan bahkan saling meledek serta memaki. Tetapi kutemukan sesuatu dalam pertengkaran mereka itu.

Kutemukan bahwa mereka sebenarnya saling menyayangi walaupun caranya sungguh sangat tidak enak untuk dilihat. Terkadang aku sedikit kesal dengan tingkah kekanak-kanakan mereka. Tetapi aku tidak pernah marah pada mereka, aku lagi-lagi selalu tersenyum dengan tingkah koyol mereka.

Sejak pertama masuk kuliah aku sudah mengenal mereka dan juga pacar-pacar mereka. Mereka teman baikku dan tidak kutemukan kecurigaan di wajah mereka, hanya Rukia yang selalu curiga dengan seyumanku.

Dia tidak percaya pada seyumanku. Katanya, seyumanku sebenarnya bukanlah senyum tulus ada kelicikan di dalammnya. Aku tidak terlalu peduli dengan anggapannya,toh dia juga tetap baik padaku.

20 menit kemudian kami tiba di Karakura State University dan segera menuju ruang lomba debat. Lama sekali kami menunggu giliran maju berdebat. Rasanya bosan sekali, waktu sudah menunjukkan pukul 1.30 p.m tapi kami belum berdebat juga untuk debat sesi kedua, sesi pertama kami sudah mengikutinya sekarang tinggal menunggu sesi final.

Kami sudah memenangkan debat sampai posisi semi final dan tinggal menuggu debat finalnya saja. Aku tampak begitu gelisah, hari ini hari Sabtu harusnya aku berada di taman halaman Kuil Shinto dan bertemu dengan Wanita bersyall pink itu, sudah dua kali aku bertemu dengannya di hari Sabtu. Hari ini aku mungkin tidak bisa datang kesana. Tetapi aku juga tidak tahu, apa dia juga datang kesana apa tidak.

'Apa dia ada disana lagi apa tidak?' tanyaku dalam hati.

Tetapi untuk apa aku bertanya seperti itu dan gelisah seperti ini, bukankah aku tidak ada hubungannya dengan wanita itu.

Mengapa aku jadi seperti ini? Gelisah menunggu waktu atau gelisah karena menunggu debat final. Bukannya aku sudah biasa mengikuti debat seperti ini sejak Senior high School dulu.

"Gin, kelihatannya kamu gelisah sekali. Kamu gugup karena kita akan berdebat di final nanti?" tanya Ichigo yang memperhatikan sikapku dan nyaris membuatku berteriak karena dia mengagetkan lamunannku.

"Ah, tidak… tidak ada apa-apa, aku tidak gugup," jawabku disertai senyumku ini padanya. Dia hanya terseyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak gugup tapi gelisah begitu, dasar kau Gin!" sambung Renji.

"Kau sedang memikirkan sesuatu, Gin?" tanya Rukia yang dari tadi diam di dekat Ichigo.

"Ayo, kau sedang mikirkan siapa?" ledek Tatsuki yang sedang makan pisang bersama Renji, sementara Rukia dan Ichigo berebut makan strowberi dan jeruk. Aku heran dari mana mereka mendapatkan buah-buahan. Aku tidak lapar jadi aku tidak ikut makan buah-buahan itu.

"Ah, kalian berdua ini. Aku tidak memikirkan apa-apa selain debat nanti, sudahlah kalian jangan meledekku begitu. Lebih baik kalian urus saja dua pacar kalian yang rakus makan buah itu," jawabku berbohong sambil memperhatikan Ichigo dan Renji yang saling mengatai buah-buahan pada nama mereka masing-masing.

Beberapa saat kemudian tepatnya pukul 1.15 p.m. Kami dipanggil oleh panitia untuk segera mengikuti debat. Aku, Renji dan Ichigo segera berdebat sengit dengan lawan kami anak jurusan teknik Elektro dari Karakura State University. Akhirnya setelah satu jam berdebat sengit dengan lawan kami, kami akhirnya menjuarai lomba debat itu. Renji dan Ichigo terlihat senang sekali. Rukia langsung memeluk kekasihnya itu sedangkan Tatsuki hampir menendang Renji karena Renji mau memeluknya.

Setelah penyerahan tropi dan hadiah, aku buru-buru berlari keluar ruangan. Kulihat jam dinding di ruangan itu menunjukkan pukul 2.30, aku berlari kencang dan mengabaikan panggilan teman-temanku. Aku bergegas menuju halte bus di dekat gerbang kampus Karakura State University ini dan langsung masuk ke bus jurusan kampusku –Kampus KWCU-.

Di dalam bus aku benar-benar gelisah dan panik. Aku ingin cepat-cepat sampai ke taman halaman Kuil Shinto itu dan ingin segera menemui wanita bersyall pink itu. Tidak tahu apa alasanku ingin bertemu dengannya. Waktu 20 menit di bus ini serasa satu harian, tidak sabar aku menunggunya dan terasa aku mulai kesal.

Tidak lama kemudian aku sampai di halte bus dekat kampusku. Aku turun dari bus dan langsung berlari secepat kilat menuju taman halaman Kuil Shinto itu dengan napas yang tersengal-sengal dan keringat bercucuran. Aku terus berlari mendekati bangku panjang di taman halaman Kuil Shinto itu dan ternyata wanita bersyall pink itu…

…To be Continued…


Noto: Yang udah RnR makasih banyak, maaf kalo masih banyak typonya.

Review ya… domo.