I'm on His Side

Cast: Kibum, Kyuhyun

Genre: Romance

Rate: M

Cerita Kihyun ini dibuat untuk hiburan semata. Tidak ada yang benar dalam cerita ini. Jika ada kesamaan adegan, itu tidak disengaja. Kalau ada typo, mohon dimaafkan.

Kyuhyun's side

Kado ulang tahun terindah bagiku adalah bisa tidur dengan lelaki yang sudah kuidam-idamkan sejak beberapa tahun lalu.

Nih, Kibum sedang tidur telanjang di sebelahku. Sudah jadi kekasihku pula. Tidak ada lagi hari suram kalau aku dan dia sudah bersatu. Tinggal singkirkan dua tawon yang suka berkeliaran di sekitar kita saja. Siwon dan juga Heechul.

Aku meraih ponsel di atas meja dekat kasur, tapi sial pinggulku sakit. Kibum main kasar meski akhirnya aku tidak bisa menolak. Lelaki satu ini punya libodo tingkat tinggi. Nafsunya menggebu-gebu. Untungnya aku orang yang kuat, kalau orang lain sudah pasti patah-patah tulangnya. Atau mati kering di tempat tidur. Memang sudah pas kalau aku yang akhirnya jadi pasangannya.

Kibum itu ...

Pokoknya aku suka dia mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Mulai dari dia berpenampilan biasa saja seperti saat di Universitas dulu, sampai berpenampilan menarik seperti sekarang. Lebih suka lagi saat dia telanjang bersama denganku di tempat tidur.

Kibum itu ...

Orang yang aku cintai sejak dulu.

Kubuka aplikasi chatting, kubuka juga layanan foto dalam aplikasi itu. Memasang pose mesum dengan background Kibum yang sedang tidur telanjang di bawah selimut yang sama denganku, kemudian mengambil gambar. Mengirimkan gambar itu ke group khusus.

Ryewook mengirimkan emoji mata melotot. Yesung menulis kata wow. Donghae tidak percaya. Memintaku membuka selimut dan memotret Kibum yang telanjang bulat. Oh, itu tidak mungkin kulakukan. Aku takut Donghae menyebar luaskan poto Kibum. Sedangkan seharusnya, pemandangan Kibum telanjang adalah konsumsiku seorang. Eunhyuk malah menuduhku curang dengan menaruh obat ke makanan atau minumannya. Mereka hanya tidak tahu kalau apa yang aku dan Kibum lakukan murni atas dasar cinta.

Lagipula ini kado dari Kibum.

Yah, meski semalam aku harus pura-pura mabuk parah.

Buru-buru kuletakkan ponsel ke tempat semula ketika kulihat Kibum menggeliat. Dia membuka matanya, memandangku, kemudian menyapaku.

"Pagi juga!" balasku sambil melemparkan senyum manis padanya. Hanya untuk Kibum, kalau bukan dia, aku tak akan tersenyum semanis ini. "Katanya kau mau kembali ke kota pagi ini," kataku mengingatkannya.

Dia mengangguk. "Jam berapa sekarang?"

"Enam."

Dia mengangguk lagi. "Masih ada tiga jam lagi." Dia merenggangkan tubuhnya, setelah itu menggeser mendekatiku. Dia mencium dahiku. "Kau ok?"

Aku cemberut sedikit. "Sakit." Kibum buru-buru duduk. Ekspresi khawatirnya terlihat jelas. Aku sampai ingin tertawa. Untung bisa kutahan, kalau tidak, Kibum bisa tahu aku tidak sepolos yang ada di pikirannya. "Punggungku sakit. Pinggangku sakit. Bahkan aku tidak bisa merasakan kakiku." Dan aku pura-pura memijit pelipis sekarang.

Masih dengan tatapan khawatirnya, dia berkata. "Kupanggilkan dokter, mau?"

Aku menggeleng cepat. "Malu."

Gila apa? Dia baru saja membobol bokongku, lalu dokter akan memeriksanya. Orang bermuka tembok pun masih akan malu kalau ada dokter sampai memeriksa ke tempat-tempat tersembunyi itu. Lagi pula dalamannya masih kotor. Ada banyak sampah Kibum yang bersarang di sana.

Kibum agaknya mengerti. Dia akhirnya tersenyum melihatku cemberut. Aku tahu sejak dulu kalau dia suka dengan orang-orang yang lucu. Orang-orang yang terlihat lemah, supaya bisa dilindunginya. Aku hanya tidak tahu kalau dia akan tertarik dengan lelaki juga. Selama ini, dia banyak berkencan dengan wanita. Jadi, sebagai pengagumnya, aku merasa tidak punya kesempatan. Siapa sangka setelah menuruti kata Donghae dan yang lainnya, dengan berpura-pura menjadi orang polos, Kibum langsung menyukaiku.

Setelah masuk perangkapku, Kibum tak akan bisa pergi.

"Bagaimana kalau kita membersihkan diri dulu. Aku akan siapkan air hangat untukmu!" Aku mengangguk. Dia menyibak selimut. Akan turun, tapi urung. "Kyu," dia tersenyum penuh cinta. Senyuman yang sering kulihat tapi baru bisa kunikmati sekarang. "Terima kasih untuk yang semalam."

Aku menggeleng kecil, menunduk sambil tersenyum malu-malu kucing.

"Kau yang ulang tahun, tapi aku yang dapat hadiah." Kibum mencubit daguku, mendongakkan wajahku sampai kami berhadapan muka dengan muka. "Kau benar-benar luar biasa," tambahnya. Tiba-tiba menciumku kilat.

Kibum meninggalkanku di kasur. Dia pergi ke kamar mandi dengan masih telanjang bulat. Setelah suara kran air untuk mengisi bak mandi dinyalakan, aku baru berani mengambil ponselku lagi untuk meneruskan chatting.

Datang ke kamarku setelah jam sembilan! Tulisku, yang segera ditanggapi dengan rentetan perkataan dan pertanyaan dari teman segrup. Tidak kubaca semua, langsung kututup aplikasi itu, kukembalikan ponsel di atas meja, lalu menunggu Kibum keluar dari kamar mandi.

Kibum menggulungku dengan selimut, kemudian membopongku ke kamar mandi. Di kamar mandi, aku diturunkan pelan-pelan, selimut dilucuti, aku dimasukkan ke bak mandi. Kibum tidak menyusulku. Dia pergi ke bawah shower, memutar keran air dan mengguyur tubuhnya sendiri dengan air hangat.

Aku di bak mandi cukup lama. Menunggu Kibum selesai dengan mandinya, sambil berpura-pura tidak berdaya hanya untuk sekedar menggosok tubuh sendiri. Ngomong-ngomong tubuhku memang sakit. Tulang-tulang kaku. Dan bagian bojongku nyeri tak tertahankan.

Selesai dengan prosesi guyur badan, Kibum menghampiriku dengan selangkangan berbalut handuk. Jongkok di samping bak mandi sambil mengulurkan sabun cair.

"Bagaimana?"

Aku tidak mengerti. "Apanya yang bagaimana?"

"Sudah dibersihkan?"

Ambigu. Aku belum membersihkan apa pun. Apa yang dia maksudkan?

Kemudian matanya melirik ke bagian bawah. Ke dalam air hangat, ke bagian bawah kakiku. Aku menangkap arti dari kalimatnya itu. "Oh, iya ..."

"Mau aku tolong?" tawarnya, sambil senyum tanpa arti. Padangannya masih fokus ke kakiku, sesuatu di antara kakiku, atau sesutu di bawah kakiku. Sontak aku mengulurkan tanganku ke antara paha, menutupi tonjolan lunglai di sana. Sejujurnya tidak ada gunanya, toh, Kibum sudah pasti tahu bagaimana bentuk dan seberapa besarnya, hanya saja bertingkah seperti orang lugu adalah satu hal yang harus kuperagakan di depan Kibum.

Aku menggeleng kecil. "Akan kulakukan sediri," kataku sambil pura-pura malu.

Kibum membantu menuangkan sabun ke bak mandi. Mengocok permukaan air sampai jadi berbuih. Setengah badanku yang telanjang tertutup oleh busa-busa lembut itu.

Dia mengecup puncak kepalaku. "Pelan-pelan saja!" katanya, setelah itu meninggalkanku di kamar mandi.

Mandiku agak lambat, selain harus membersihkan permukaan badan, ada bagian dalam badan yang harus kubersihkan juga. Masalahnya bagian itu sensitif, dan sedang terluka, jadi harus pelan-pelan. Itu pun masih terasa perih. Aku heran semalam bisa tahan dengan gesekan kasar Kibum meski sudah merasakan sakit yang bukan main. Sedangkan sekarang, disentuh jari-jari tangan saja seperti tersengat listrik. Perih dan sakit.

Berendam air hangat merilekskan otot-otot tegang di badanku. Tadinya susah untuk bergerak tanpa rasa sakit, sekarang sudah mendingan. Aku bisa berdiri, berpindah dari bak mandi ke bawah pancuran air, dan membilas badan dengan air hangat. Setelah selesai membilas diri, Kibum mendatangi kamar mandi lagi dengan sudah berpakaian rapi. Dia menggunakan bajuku. Cukup ditubuhnya, tapi terlihat agak tidak pas dipandang mata. Dia datang dengan selembar handuk baru di tangannya. Diberikannya padaku. Ketika aku digiring ke kamar, kamar sudah dibereskan. Tidak ada baju berserakan, juga tidak ada bed cover yang berantakan. Semuanya diganti dengan yang baru.

Memangnya berapa lama aku di dalam kamar mandi tadi, sampai semua yang ada di kamar sudah selesai dibereskan? Melihat ke jam dinding, aku baru tahu kalau bukan hanya agak lama, tapi lama sekali waktu mandiku tadi. Jam tujuh lewat beberapa menit. Aku menghabiskan lebih dari sejam untuk membersihkan diri.

"Aku meminta petugas hotel untuk menggantikannya. Semuanya akan langsung dicuci dan dikirim ke sini setelah selesai," kata Kibum sambil membantuku mengeringkan rambut dengan handuk lain di tangannya. "Aku sudah pesan makanan untuk sarapan. Juga menyuruh seseorang membelikan obat anti inflamasi, paracetamol, dan salep pereda nyeri."

"Kau memperhatikanku sampai sebegitunya."

Kibum tersenyum menenangkan. "Kau kekasihku. Kalau aku membuatmu sakit, aku harus bertanggung jawab menyembuhkanmu." Dia berpindah ke koperku. "Kau harus pakai baju yang agak santai hari ini. Mana yang mau kau gunakan?" tanyanya, sambil membongkar isi koper, mengeluarkan baju-baju longgar dari dalamnya. Aku menunjuk satu yang paling santai. Dia membawakannya, satu set dengan celana dan pakaian dalam. "Pakai baju dulu, supaya tidak dingin!" Dia membantuku berpakaian, memaksa meski aku sudah bilang bisa melakukannya sendiri.

Setelah berpakaian, Kibum mendudukkanku di depan meja bercermin. Dia mengambil pengering rambut yang disediakan pihak hotel dari dalam laci meja, mencolokkannya ke colokan listrik, lalu mengeringkan rambutku.

.

.

.

Makanan datang beberapa menit kemudian. Orang yang disuruh Kibum membeli obat datang tepat setelah kita makan. Kibum menyuruhku meminum beberapa, kemudian mengantarku ke ranjang untuk istirahat.

"Kubantu oleskan salepnya!"

Aku menggeleng. "Kau kan harus bersiap kembali ke kota. Lagipula cuma mengoleskan salep, aku bisa melakukannya sendiri."

Kibum mengangguk, pasrah.

"Aku harus segera ke kamarku untuk memastikan Heechul ada di sana."

Aku yang gantian mengangguk.

Kalau Heechul tidak ada di kamarnya, Kibum pasti akan kelabakan mencari. Itu akan membuat mereka telat ke bandara, dan akhirnya ketinggalan pesawat. Aku senang kalau Kibum ketinggalan pesawat, dia bisa menemaniku lagi. Tapi karena Kibum masih bekerja untuk kakeknya Heechul, keterlambatannya akan memberikannya masalah. Kalau Kibum dapat masalah dengan pekerjaannya, sama saja aku yang salah. Jadi, lebih baik kubiarkan dia pergi sekarang. Setidaknya kalau Heechul tidak ada di kamarnya, Kibum ada waktu untuk mencarinya. Kemudian mengajaknya kembali ke kota lebih cepat.

Untuk sekarang, itu dulu. Aku perlu buat rencana matang untuk membuat Kibum keluar secara baik-baik dari perusahaan kakeknya Heechul, kemudian pindah ke perusahaan ayahku. Memutuskan hubungan Kibum dan Heechul secara permanen, lalu menjadikan mereka hanya sekedar teman tanpa embel-embel romantisme sama sekali.

Heechul, cih ...

Lelaki itu benar-benar membuatku iritasi. Gara-gara dia menempel terus pada Kibum, aku jadi tak punya banyak kesempatan selama ini. Untung Kibum, lewat mulutnya sendiri mengatakan kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa.

"Nanti akan ada orang yang mengemasi piring-piring kotor, sekalian mengantarkan makan siang untukmu," Kibum masih memperhatikanku dengan baik. Efek menyerahkan diri padanya, dia benar-benar jadi sangat perhatian. Perlakuannya manis sekali. "Kau istirahat saja untuk satu hari ini. Kalau ada yang mengajakmu keluar, tolak saja dulu. Buat alasan apa saja supaya kau bisa tetap ada di sini untuk istirahat."

Aku mengangguk.

Memang itulah yang akan kulakukan hari ini. Tidur dan tidur saja. Ngomong-ngomong pinggangku sakit, tidak mungkin aku keluar dalam keadaan seperti ini.

Kibum mendekatkan mukanya. Lagi-lagi mencium bibirku kilat.

"Nanti aku akan meneleponmu!" Dia mengambil ponselku di sisi lain tepat tidur, mendekatkannya padaku. "Kalau ada apa-apa, cepat telepon aku!"

Aku mengangguk pasrah.

"Oh iya, aku hanya akan berada di kota satu dua hari, setelah itu ada perjalanan bisnis ke Busan. Kalau kau tidak ada kegiatan dan ingin berlibur ke sana, katakan padaku, aku akan kirim tiket untukmu."

"Aku ikut!" langsung kulontarkan keinginanku, tapi langsung kusambung dengan wajah lesu. "Tapi bagaimana kalau kedatanganku mengganggu bisnismu?"

Kibum menggeleng. "Akan ada waktu untuk kita liburan."

Aku masih berwajah lesu. "Tapi kita akan main kucing-kucingan lagi kalau Heechul juga ikut. Pada akhirnya kau akan tidur sekamar dengan dia, kan?"

Kibum tersenyum kecil. Dia menggeleng kecil juga. "Kemarin kau bilang akan cemburu kalau aku sering tidur sekamar dengan Heehul, mana mungkin aku melakukannya lagi. Lagipula aku ke Busan sendirian. Ini urusanku dengan klien, tidak ada urusan dengan Heechul. Jadi ..."

"Aku boleh ikut?"

Kibum mengangguk.

"Kita akan liburan berdua saja?"

Kibum mengangguk lagi.

Aku tersenyum senang. Kibum segera memelukku dan menjatuhkan ciuman berkali-kali di keningku.

"Kirimkan data dirimu padaku, nanti aku akan urus semuanya!"

Kihyun

Kibum meninggalkan ciuman manis. Sangat manis sampai-sampai bibirku yang belum sembuh dari bengkak semalam, membengkak lagi kali ini. Tidak luka, hanya merah dan bengkak, tapi perih juga. Untungnya bibir Kibum enak diemut meski agak-agak kasar. Agaknya dia tidak mengenal pelembab bibir.

Kibum juga baru saja mengirimkan pesan kalau suasana di kamarnya aman terkendali. Heechul ada di kamar dan sudah siap untuk diajak pulang. Sebelum pesawatnya take off, Kibum menelepon. Mengucapkan sampai ketemu lagi di Busan dan satu kalimat cinta sambil berbisik-bisik. Aku tahu Heechul pasti tidak jauh darinya. Meski begitu aku senang mendengarnya. Membalas ucapan cintanya dengan sangat percaya diri.

"Aku juga mencintaimu. Sampai ketemu di Busan!" kemudian telepon dimatikan.

Aku menyombongkan diri pada Donghae dan Eunhyuk. Memasang pose keren dan pasang seringan licik. Tapi ketika harus menyamankan diri di kasur, tidak bisa kutahan sakitnya ketika bokongku bergesekan dengan celana. Terpaksa aku mengaduh kecil.

Eunhyuk menanggapinya dengan cengiran lebar.

Donghae memandangku curiga. "Aku tidak yakin itu suara Kibum," katanya sambil melihat ponselku yang barusan ku-loudspeaker saat ditelepon Kibum. "Kalau benar Kibum, kenapa dia harus berbisik-bisik ketika mengatakan cinta padamu?" Eunhyuk menganggukinya.

"Karena ada Heechul di dekatnya," jawabku sambil pasang tampang masa bodoh meski barusan aku harus mengaduh merasakan bokongku yang nyeri. "Mereka dalam hubungan bos dan pegawai sekarang ini. Dia akan merasa tidak enak kalau bicara manis-manis denganku di depan Heechul."

Karena aku sudah menegaskan pada mereka berdua kalau Kibum dan Heechul tidak punya hubungan apa pun, mestinya mereka percaya dengan hubunganku dan Kibum.

"Jangan-jangan kau ada perjanjian dengan Kibum. Asal kau bisa tidur denganya, jadi yang kedua pun kau terima," Eunhyuk menyindir. Tentu saja aku berang. Kutimpuk dia dengan bantal. Dia mengeluh, tapi tidak terlihat kesakitan. Bahkan meneruskan kata-katanya tanpa beban, "Kita sudah tahu selama ini Kibum dan Heechul dekat, tingkah mereka pun tidak dipungkiri persis seperti sepasang kekasih. Kalau pun mereka bukan sepasang kekasih, kita juga tidak tahu kalau mereka pernah melakukan apa saja di belakang mata orang lain."

"Apa maksudmu bicara begitu?"

"Kibum dan Heechul selalu berada di kamar yang sama tiap mereka pergi bersama. Kau pikir mereka hanya akan tidur tanpa melakukan apa pun?"

Sumpah, aku ingin menyumpal mulut Eunhyuk. Dia tidak pernah punya etika kalau bicara. Setidaknya pandang posisiku sebagai kekasih baru Kibum. Setidaknya dia mengerti perasaanku bisa sakit mendengar penuturannya. Tapi ... benar juga apa yang dikatakannya. Meski yang kupercayai, Kibum tidak pernah melakukan apa pun dengan Heechul, siapa yang tahu kalau kepercayaan yang kutanam menghianatiku.

Aku melirik Eunhyuk dengan sangat sadis, tapi Eunhyuk melengos dengan cepat.

"Aku yakin Kibum tidak pernah melakukan apa pun dengan tawon satu itu?" Dan sebelum Eunhyuk mendebat omonganku, aku menambahkan "Meskipun dia pernah melakukannya, aku tidak peduli. Yang penting sekarang dia kekasihku. Tidak akan kubiarkan dia tidur dengan orang lain lagi selain aku."

Donghae nyengir, "Kau memang orang yang seperti itu. Suka sekali memaksakan kehendak."

Baguslah mereka masih paham siapa aku. Jadi, seharusnya tidak membuatku sakit hati dengan menyebutkan hal-hal yang berbau hubungan Kibum dan Heechul yang sebenarnya tidak pernah ada.

Aku mengeluarkan salep anti radang dari balik selimutku. "Aku punya sedikit kesulitan. Kalau kalian benar-benar temanku, kalian pasti akan membantuku." Donghae dan Eunhyuk melirik salep yang kulempar ke hadapan mereka. Keduanya dengan dahi mengerut memandangku curiga. Ya, mereka benar. Aku mau mereka membantuku mengoleskan salep ke bokongku. "Sakit sekali. Aku tidak bisa melakukannya sendiri."

"Setan kau!" Teriak Eunhyuk.

Donghae tanpa bicara langsung mengangkat tubuhnya dari ranjangku. "Aku senang punya teman sepertimu. Susah senang kita bagi bersama. Tapi bagian ini, tolong kau tanggung sendiri!" katanya sarkartis. "Ayo Hyuk, pergi dari sini!"

Aku tertawa keras-keras melihat reaksi mereka, membuat tubuhku terguncang dan itu menyakiti bokongku lagi. Aku memekik, kemudian mendesis menahan sakit. Eunhyuk dan Donghae gantian menertawakanku.

"Berapa kali kau disetubuhi Kibum semalam?"

Aku pura-pura berfikir agar mereka menyimpulkan sesuatu yang besar telah kuterima semalam. Dan akhirnya tidak kujawab.

"Lima kali?" Donghae menebak.

Hah ... Lima kali? Tentu saja tidak mungkin. Aku mencebik, kemudian menggeleng.

"Lebih dari lima kali?"

Lebih dari lima kali? Mereka pikir aku ini lelaki apaan? Aku mencebik lagi, dan tentu saja menggeleng lagi.

"Lalu berapa kali sampai kau mengaduh seperti itu? Lebih dari sepuluh kali? Tampaknya tidak mungkin kau masih hidup kalau Kibum sampai lebih sepuluh kali menyetubuhimu dalam semalam." Donghae menjauh dari ranjang, tapi dia tidak benar-benar pergi. "Kau bukankah baru pertama kali tidur dengan laki-laki, ya?"

Aku mengangguk.

"Jadi ..."

Dua jariku kupasang di udara.

Eunhyuk mengerutkan dahi lagi, tapi Donghae langsung tertawa keras-keras. "Apanya yang lucu, Hae?" Eunhyuk melontarkan pertanyaan dan aku setuju. Apanya yang lucu dari persetubuhanku dengan Kibum?

"Lain kali jangan sombong dulu kalau semalam kau baru bisa tahan dua kali."

"Hei ..." Aku protes. "Ini yang pertama tahu!" Aku memekik. Donghae kira enak berada di posisiku. Pantatku seperti dirobek, meski pada akhirnya aku tidak menemukan robekan di tepiannya. Cuma bengkak, memerah, dan perih ketika aku berusaha melihatnya lewat kaca tangan. Ih, tidak enak dipandang mata pokoknya. Tapi dengan tidak adanya luka, tandanya Kibum sangat berhati-hati saat berhubungan denganku. Dia tahu aku adalah orang yang sangat berharga baginya sampai-sampai dia menahan diri. Semalam cuma dua kali, meski aku tahu Kibum belum cukup puas. Dua kali pun rasanya seperti semalaman suntuk digenjot Kibum, padahal nyatanya satu sesi cuma sekitar setengah jam. Dilakukan pelan-pelan dan penuh perhitungan. "Nanti, kalau aku sudah terbiasa, aku pasti bisa melayani Kibum sampai puas. Bahkan sampai dia tidak bisa berdiri lagi!"

Donghae mencibir. Untungnya Eunhyuk menganggukiku.

"Aku sih maklum. Yang pertama memang akan sangat sulit. Bisa dua kali saja sudah jadi pencapaian yang luar biasa."

Aku membenarkan omongan Eunhyuk. Aku tidak tahu dia tahu darimana atau malah punya pengalaman serupa, yang penting omongannya sejalan dengan keadaan yang kualami sekarang.

"Tapi memang benar apa kata Donghae, lain kali kau jangan sombong dulu," lanjutnya.

Bagian itu aku tidak janji. Sombong itu sudah ada di dalam darahku. Aku tampan, aku pintar, aku kaya, aku juga selalu mendapakan apa pun yang aku mau. Bagian mana yang tak bisa kusombongkan?

"Menurut pengamatanku, Kibum itu tipe lelaki dengan hasrat seksual yang tinggi. Dua kali semalam agaknya tidak cukup baginya. Kalau kau mau bertahan dengannya, saranku kau harus banyak berlatih atau Heechul akan merebut posisimu sebagai kekasih Kibum. Dia punya potensi besar untuk bisa melayani Kibum dengan baik di ranjang."

Heechul akan kusingkirkan cepat atau lambat. Aku bersumpah.

"Aku akan sering berlatih."

"Berlatih dengan siapa?"

"Kibum lah. Siapa lagi?"Aku mendecih pada mereka. "Kan beberapa hari lagi aku dan Kibum akan liburan ke Busan. Aku akan pastikan kalau aku bisa lebih dari dua kali melayaninya!"

Donghae masih mencibirku. Dan Eunhyuk sekali lagi mengangguk puas dengan optimisme yang kuucapkan.

.

.

.

Seperginya Eunhyuk dan Donghae, aku dapat telepon dari Siwon. Dia mencariku. Ingin mengajakku makan siang sekaligus memberikan hadiah yang semalam dia janjikan padaku. Dia bilang sudah mendatangi kamarku tapi aku tidak ada di tempat. Terang saja, aku memang pura-pura tidak ada di kamar. Dia juga bilang tidak ada satu pun dari temanku yang tahu keberadaanku. Itu yang kuperintahkan pada teman-temanku agar tidak memberitahukan keberadaanku pada Siwon. Aku masih ingin istirahat. Setidaknya sampai pinggangku reda sakitnya dan bokongku bisa dibawa keluar tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain saat berjalan.

Aku mengatakan pada Siwon kalau aku sedang bersama ayahku. Alasan itu saja sudah jadi alasan terbaik agar Siwon tidak menggangguku dalam satu hari ini.

"Sebaiknya memang besok saja, Hyung." Aku mendengarkan usulannya untuk makan siang bersama besok. Aku tidak bisa langsung menjawabnya. Soalnya tidak jelas juga aku sudah bisa keluar kamar atau belum besok siang. Tubuhku yang sakit ini tidak main-main, agaknya tidak bisa sembuh dalam hitungan jam. "Besok, kau telepon aku dulu. Kalau aku bisa, kita bisa makan siang bersama. Kalau tidak bisa siang hari, kita bisa makan malam bersama. Bagaimana?"

Siwon mengiyakan. Karena tidak mau terlalu lama bicara dengan lelaki kuda satu itu, aku segera mencari alasan untuk menutup telepon. Aku berpamitan padanya, dan telepon kuakhiri.

Aku mengirim pesan pada Ryewook dan Yesung agar mereka datang ke kamarku. Kukatakan juga pada mereka bahwa aku butuh camilan. Jadi, mereka harus datang dengan camilan beraneka ragam. Sejam kemudian mereka datang dengan dua kantung penuh camilan. Hanya meletakkan camilan itu di kamar, mengucapkan selamat karena telah berhasil mendapatkan Kibum, kemudian mereka pamit mau pergi. Sama sekali tidak menyebutkan mau kemana meski sudah kupaksa untuk mengaku. Pada akhirnya aku sendirian di kamar. Makan camilan dan nonton TV. Membosankan, tapi memang hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

Aku tertidur beberapa jam. Melewatkan makan siang, bahkan sampai hari menjelang malam. Kondisi tubuhku sudah membaik. Bisa melakukan aktivitas lebih lancar daripada tadi pagi. Hanya saja, aku kelaparan. Seharusnya siang ini ada orang yang mengantar makan siang ke kamar. Mungkin karena aku tertidur hampir seperti orang mati, mereka yang mengantarkan makanan memutuskan kembali.

Kuhubungi layanan kamar, meminta mereka mengirim makanan lagi ke kamarku. Sementara makanan belum datang, aku menelepon Kibum.

"Sedang apa?" tanyaku. Mendengar suara kertas-kerta dibalik. Tampaknya Kibum sedang sibuk.

"Di kantor. Ada satu dua hal yang harus kuurus sebelum pergi ke Busan besok lusa."

"Jadi, kau sibuk?"

Suara lembaran kertas terhenti, kupikir Kibum menghentikan kegiatannya. "Sesibuk apa pun, aku akan selalu punya waktu untukmu." Aku kenal sekali siapa Kibum meski Kibum tidak menyadarinya. Dia tipe orang yang tidak suka bertele-tele, apalagi hanya sekedar menyenangkan hati pasangan. Apa yang dia katakan, itulah yang akan dia lakukan. Jadi, apa yang barusan dikatakan Kibum bukanlah gombalan. "Bagaimana keadaanmu, sudah lebih baik?"

Aku bergumam kecil menjawab pertanyaannya.

"Tidak lupa minum obat dan pakai salepmu?"

"Mmm ...," aku pura-pura dilema untuk menjawab pertanyaan itu. "Sebenarnya ...," membuat suaraku terdengar sedikit ketakutan. "... aku belum makan siang, jadi belum minum obat juga. Tapi keadaanku sudah lebih baik daripada tadi pagi."

"Kenapa belum makan? Tidak ada yang mengantarkan makan siang untukmu?" nada suara Kibum mulai naik karena dia sudah memesan makan siang yang harusnya dikirim ke kamarku. Kalau sampai tidak ada yang mengantarkan makanan itu, Kibum pasti akan marah pada pihak Hotel. "Aku akan membuat komplain untuk pelayanan hotel." Nah, kan!

"Tidak ... tidak begitu. Aku tertidur lebih dari lima jam. Melewatkan makan siang dan bahkan hari sudah sore." Aku mendesah kecewa dengan diriku sendiri. Yah, sejujurnya melelahkan menjadi melow begini, tapi harus bertahan sebelum tujuanku tercapai. "Aku sudah menelepon layanan hotel, mereka mengatakan kalau sudah mengirim orang untuk mengantarkan makan siangku. Karena aku tidak menjawab panggilan pelayan, mereka mengira aku tidak ada di tempat."

Dari seberang telepon, Kibum menggumamkan 'hm' pendek, tanda dia benar-benar mendengarkan ceritaku.

Duh, Kibum benar-benar kekasih yang perhatian. Tidak percuma aku menghalalkan segala cara, mengeluarkan semua tenaga untuk mendapatkannya.

"Aku sudah menyuruh mereka mengirim makanan lagi padaku. Aku akan makan sedikit sebelum minum obat. Emmm ...," Aku pura-pura bimbang lagi. "Aku benar-benar tidak mengganggumu, kan?"

"Tentu saja tidak. Bahkan aku berencana meneleponmu beberapa saat lalu. Aku khawatir kau kenapa-napa." Kalimatnya terhenti sejenak, kemudian dia menambahkan, "Sejujurnya aku juga merindukanmu!"

Aku ingin segera menjawab bahwa aku juga merindukannya. Hanya tidak ingin terdengar seperti orang yang gegabah saja, lalu aku membuat jeda. "Aku juga merindukanmu," kataku dengan suara yang kubuat mirip dengan bisikan. Supaya dia merasa akulah kekasih pemalu yang pantas untuk dipuja dan dilidungi olehnya.

"Begitu, ya? Aku jadi tidak ingin bekerja lagi, ingin langsung memesan tiket pesawat dan terbang lagi ke situ!" Aku terkekeh mendengar penuturannya. Ya, kalau sedang tidak menjalankan rencana untuk bersama Kibum dalam jangka panjang, aku juga ingin langsung memesan tiket pesawat, kemudian terang ke kota untuk menemuinya. "Aku serius."

"Beberapa hari lagi kita akan bertemu di Busan, kan?"

"Masalahnya aku benar-benar merindukanmu. Beberapa hari itu masih lama. Coba kau telaah lagi, kita baru jadi kekasih tiga hari, kemudian harus berpisah, dan baru bisa bertemu beberapa hari lagi. Ibarat pepatah, kehujanan tapi tidak benar-benar basah."

Aku tertawa. Benar-benar tertawa. Untungnya Kibum tidak mengomentari tawaku yang kelepasan itu.

"Memang ada pepatah seperti itu?"

"Kupikir ada, tapi aku lupa siapa yang pernah mengatakannya."

"Ya ..., kurasa kaulah yang membuatnya."

Kibum terkekeh dari balik telepon.

Kebetulan pintu kamarku diketuk. Karena kupikir itu pihak hotel yang mengirimkan makananku, aku menyuruh Kibum menunggu. Saat kubuka pintu, ada Donghae dan Eunhyuk di depan pintu kamar. Eunhyuk akan mengatakan sesuatu, buru-buru kubungkam mulutnya.

"Kibum, makananku sudah datang. Aku makan dulu, ya!" Kibum mengiyakan, mengucapkan selamat makan padaku. "Kau juga lanjutkan pekerjaanmu. Nanti kita sambung ngobrol setelah semuanya selesai. Bye Kibum!"

Kibum membalas salam perpisahanku, kemudian telepon ditutup.

.

.

.

"Wah, kau mau makan malam dengan Siwon?"

"Kenapa memangnya?"

"Katanya kau tak suka padanya. Katanya kau hanya butuh Kibum dalam hidupmu, kenapa kau menerima ajakan makan malamnya?"

Ah, Eunhyuk ini

Ada hal-hal yang tidak bisa disingkirkan begitu saja meski kita tidak suka. Harus dengan cara-cara tertentu. Setidaknya ke belakang tidak jadi masalah lagi. Seperti menyingkirkan Siwon dan Heechul. Dua orang itu punya potensi besar untuk membalas kalau sampai mereka disingkirkan dengan cara buruk. Menyingkirkan mereka harus dengan cara matang dan secara bertahap.

"Dia menjanjikan kado ulang tahun padaku."

Eunhyuk menemukan makanan ringan yang kutinggalkan di bawah ranjang. Dia mengambilnya, membawanya ke sofa dan memakannya di sebelahku. Donghae ikut menyendok makanan di piringku. Setidaknya aku tidak kekenyangan hingga tiba saat makan malam nanti. Aku dan teman-teman berencana makan malam bersama. Di kamar ini juga, dengan menu istimewa.

"Lalu?"

"Lalu kalian harus memberiku saran untuk menyingkirkan Siwon dan Heechul dari jalan percintaanku dan Kibum!"

Donghae berpindah dari piringku yang kosong ke camilan yang dipegang Eunhyuk. Mengambil setumpuk keripik di tangannya, menjejalkan satu persatu ke mulutnya. Sembari mengunyah, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Pose berpikir diperlihatkannya lagi seperti kemarin-kemarin ketika dia sedang mencari inspirasi untuk membantu yang lainnya.

"Aku heran," Eunhyuk membuka suara lagi. "Kurang apa Siwon itu? Dia tampan, dia pintar, dia kaya, dia tergila-gila padamu yang artinya dia sangat menyukaimu dan akan membahagiakanmu, tapi kau malah akan menyingkirkannya."

"Hyuk, kita sudah bahas ini berkali-kali. Meski Siwon itu punya kelebihan di banyak hal, aku tidak menyukainya sedikitpun. Kau juga tahu aku jatuh cinta dengan Kibum sejak lama. Perasaan seperti ini tidak bisa diubah-ubah seenaknya. Cinta itu buatan dari Tuhan."

Eunhyuk terkekeh. "Kau percaya Tuhan sekarang?"

"Aku percaya Tuhan sejak dulu." Aku melihat Donghae. Dia masih dengan pose yang sama, mengunyah dan berpikir. Agaknya akan lama menunggunya menemukan ide. Aku harus bicara dengan Eunhyuk lagi sambil menunggunya. "Hanya tidak menunjukkannya pada kalian!"

"Oh," Eunhyuk mengangguk, tapi senyum masih terkembang di bibirnya. Dia masih tidak percaya. "Bagaimana dengan hubungan Heechul dan Kibum?"

"Mereka tidak ada hubungan," sangkalku keras.

Eunhyuk terkekeh lagi sebelum mengangkat bahu, pasrah dengan kekeras kepalaanku.

"Pokoknya kalian harus menemukan cara agar Siwon menyerah denganku." Donghae berdehem dan mengangguk. Aku dan Eunhyuk melihatnya lagi, tapi posisi berpikir Donghae masih sama. Tandanya masih belum menemukan ide. "Aku mau Heechul tidak dekat-dekat lagi dengan Kibum. Lebih bagus lagi kalau kalian menemukan cara membuat Kibum keluar dari perusahaan kakeknya Heechul, kemudian pindah ke perusahaan ayahku."

Sementara Donghae kembali mengunyah dan berpikir, Eunhyuk menaikkan alisnya. Mempertanyakan keinginanku soal kepindahan Kibum.

"Nantinya kau yang akan memimpin perusahaan ayahmu. Kupikir tidak baik membuat Kibum jadi bawahanmu. Lagipula Kibum belum tentu mau."

"Aku lupa bilang pada kalian kalau aku menolak untuk menggantikan posisi ayahku di perusahaan."

"Apa?" Eunhyuk kaget.

Donghae yang sedang berpikir keras pun menoleh mendadak, sama kagetnya dengan Eunhyuk.

"Ayahmu tidak marah?" Eunhyuk bertanya lagi.

Aku tidak begitu akur dengan ayahku, terlebih ketika ayah memaksaku untuk jadi penerusnya. Terus terang aku tidak suka jadi pemimpin. Aku tidak suka hal-hal yang formal. Aku tidak suka terikat. Meski aku tidak menolak jadi penerima warisan keluarga, aku tidak begitu suka menjaga warisan itu.

Terus terang lagi, aku punya sifat keras kepala yang diturunkan dari ayah. Makin gencar aku menolak, makin keras ayah menuntutku jadi penerus. Untuk itu membawa Kibum ke perusahaan akan jadi solusi.

"Marah besar. Itu kenapa Ayah langsung memperkenalkanku sebagai penerusnya di pesta kemarin. Bahkan aku tidak tahu ayah akan melakukannya."

Aku mendesah pelan. Frustrasi kalau mengingat pesta kemarin. Tiba-tiba aku dijanjikan akan bergabung di perusahan padahal aku tidak suka kerja kantoran. Karena ada banyak kolega ayah di pesta itu, tidak mungkin aku menolaknya, karena ayah pasti akan kehilangan muka di hadapan koleganya. Lagipula menolak permintaan ayah ancamannya pasti didepak dari rumah dan dicoret dari daftar warisan keluarga.

Setidaknya dari acara itu aku bisa bertemu Kibum. Setelah itu dapat ide untuk menolak jadi penerus, tapi tidak dicoret dari daftar ahli waris. Yaitu, membawa Kibum ke perusahaan. Menyodorkanya pada ayah sebagai penggantinya, sementara aku bisa tinggal nyaman di rumah.

"Makanya, aku mau Kibum bergabung di perusahaan Ayah. Biar dia yang menggantikan posisi Ayah sementara aku akan melakukan kegiatanku sendiri."

"Kegiatan sendiri seperti jadi istri yang baik dengan ungkang-ungkang di rumah dan menghabiskan uang suami?" Eunhyuk menebak menggunakan nada sarkastis yang menyakitkan hati, tapi kenyataannya kalau aku memang mau hidup nyaman tapi tidak kekurangan uang, menikah dengan Kibum adalah satu-satunya jalan. "Kau mau bergantung pada Kibum. Masalahnya, Kibum mau atau tidak kau gantungi hidup?"

Aku tertawa kecil, mencemooh pertanyaan Eunhyuk. "Kibum mencintaiku. Tidak mungkin dia menolak menikah denganku!" jawabku. Percaya diri bahwa Kibum tidak akan melakukan penolakan. Buktinya, baru beberapa hari aku jadi kekasihnya, dia sudah seperti suami betulan bagiku. "Pokoknya ideku harus jadi kenyataan. Hanya bagaimana cara menjadikannya kenyataan? Itu tugas kalian untuk menemukan caranya."

Eunhyuk mendecih. "Kalau begitu maumu ..."

Donghae tiba-tiba menjentikkan jari, membuat Eunhyuk menghentikan perkataannya.

"Kupikiri," kata Donghae. Remahan keripik di mulutnya muncat. Dia menghentikan perkataannya sejenak untuk menelan bulat-bulat keripik itu. Mengambil jus milikku, kemudian menyeruputnya sedikit. "Kupikir aku punya cara. Agak sedikit memalukan, tapi kalau kau tidak keberatan mempermalukan diri sendiri, Heechul dan Siwon akan langsung menyingkir dengan sendirinya."

Aku penasaran dengan ide itu.

"Selain itu, Ayahmu pasti akan merekrut Kibum jadi penerusnya."

"Sedikit memalukan itu cara yang seperti apa?"

Donghae tidak langung menjawabnya. "Kau setuju dulu baru aku terangkan caranya!"

"Jangankan sedikit memalukan, sangat memalukan pun kalau soal Kibum, Kyuhyun akan lakukan," potong Eunhyuk, sebelum aku mengutarakan persetujuanku. Toh, itu sudah mewakili jawabanku. "Yang penting hasil akhirnya, kan Kyu?"

Aku mengangguk. Selain setuju aku juga penasaran untuk segera melakukan rencana itu.

Donghae menjabarkan rencananya. Aku dan Eunhyuk mendengarkan, sekali dua kali menambahkan ide. Mengganggap rencana itu sudah sempurna, kami sepakat akan melakukannya secepat mungkin.

"Tapi bantuanku tidak gratis." Setelah menutup pembuatan rencana, Donghae tiba-tiba mengutarakan maksud. "Kau tahu kan kalau aku akan membuka cafe baru?" Akut tidak tahu, tapi demi memuluskan rencana, aku mengangguk. "Aku butuh dana. Kau harus investasi di cafeku setidaknya sepertiganya."

Yang kaya kan ayahku, bukan aku. Uang mana yang harus kugunakan untuk investasi, sementara hobi yang kujadikan pekerjaanku sekarang tidak banyak menghasilkan uang? Tapi ya sudahlah, aku akan usahakan. Entah minta pada nenekku secara diam-diam atau harus mengosongkan saldo tabunganku.

"Tidak masalah. Tapi sementara ini, uangku terbatas. Jadi, aku tidak bisa memberimu banyak uang. Nanti setelah seluruh harta ayahku jatuh di tanganku dan Kibum, aku akan berikan lebih banyak." Donghae mengangguk dengan mudah. Aku tidak pernah ingkar janji pada teman-temanku, makanya Donghae percaya. Sekarang tinggal Eunhyuk. Minta apa orang ini dariku" Aku memandanginya, mengangkat dagunya untuk menanyakan apa yang dipintanya. "Kau minta apa dariku?"

"Emmm ...,"

"Ah, lama!" protesku. "Pikirkan saja dulu. Nanti kalau kau sudah ketemu mau minta apa dariku, katakan padaku! Sementara ini, rencana harus berjalan dengan lancar!"

Eunhyuk dan Donghae bersamaan mengangkat jempolnya.

Kihyun

Makan malam dengan Siwon.

Sialan, Siwon benar-benar tampan. Kibum kalah telak darinya. Tapi tidak apa-apa, meski begitu tidak ada yag mengalahkan Kibum di dalam hatiku.

"Hyung," aku menyapanya saat menjumpainya di restoran yang dijanjikan. "Maaf ya, Hyung. Aku sedikit telat. Kau sudah lama di sini?"

Siwon menggeleng. Tersenyum tampan.

Kadang-kadang aku terlena dengan senyuman Siwon. Perhatian dan kebaikan lelaki ini membuatku terenyuh. Hanya entah kenapa aku tetap tidak bisa jatuh cinta padanya. Malah aku heran pada Kibum yang kata orang tidak punya banyak pesona malah bisa membuatku jatuh bangun merasakan cinta. Jujur saja, pertama kali aku menceritakankan perasaanku pada teman-temanku, mereka tidak percaya. Setelah sekian lama, aku lebih memilih sendirian hanya untuk menunggu punya kesempatan mendapatkan Kibum, mereka malah mengira aku diguna-guna Kibum. Kalau boleh aku mengatakan, bukan Kibum yang menguna-gunaku, tapi aku mengguna-guna diriku sendiri agar tetap jantuh cinta pada Kibum.

Urusan cinta-cintaan seperti itu, cuma Kibum yang bisa.

"Tidak masalah. Aku juga baru datang."

Siwon berdiri untuk meyambutku. Beruntung dia tidak berusaha menarikkan kursi untukku duduk. Aku tidak suka hal-hal seperti itu, kecuali kalau Kibum yang melakukannya.

Lalu kita duduk hampir bersamaan.

"Wajahmu terlihat cerah sekali hari ini. Ada yang membahagiakan agaknya!" tebaknya.

Aku tersenyum kecil. Tebakkan Siwon benar, hanya tidak memungkinkan bagiku untuk mengatakan kalau aku bahagia bisa bersama Kibum setelah sekian lama menunggu.

"Memangnya kelihatan?" tanyaku balik sambil menutupi pipiku, mencegah Siwon melihat seumpama ada semburat merah di sana.

Sialnya, tiap kali memikirkan soal Kibum, soal hubungan kemarin pun jadi teringat juga. Kalau sudah begitu otakku terus-terusan berkayal untuk bisa tidur dengan Kibum lagi. Teringat ujaranku pada teman-teman kalau aku akan bisa memuaskan Kibum dalam waktu dekat. Jadi, sudah pasti di Busan nanti aku akan tidur dengan Kibum. Kalau Kibum tidak memintanya, aku yang akan merayunya. Persetan rasa malu. Aku Cho Kyuhyun, tidak pernah malu dengan hal-hal yang menyangkut kebahagianku sendiri.

"Memangnya apa yang kau bahas dengan ayahmu kemarin sampai hari ini kau tak bisa menutupi kebahagiannya?"

Syukurlah Siwon salah menebak.

Aku menggelengkan kepala. "Masalah keluarga. Masalah kecil, tapi membahagiakan, Hyung," kataku. Tidak berbohong. Kemarin aku memang membahas masalah keluarga, bukan dengan ayahku tapi dengan Eunhyuk dan Donghae. Tentang Kibum yang nantinya akan jadi bagian dari keluarga Cho. "Aku menolak untuk jadi penerus Ayah di perusahaan. Lebih tertarik membangun usahaku sendiri. Untungnya Ayah tidak marah."

"Bagus sekali. Aku juga tertarik membuat usaha. Mau pesan makanan sekarang?" Setelah aku mengangguk, Siwon memanggil pelayan. "Jadi, usaha apa yang akan kau buat?, tanyanya lagi. "Kalau butuh partner, aku bersedia."

Pelayan datang, membagikan buku menu. Aku memilih makan dan minuman, menyebutkan jenisnya pada pelayan. Siwon, seperti biasa, dia ikut apa saja yang aku lakukan, termasuk memesan apa yang aku pesan juga.

Setelah mencatat dan mengulangnya dengan menyebutkannya jenis pesanan yang kami pesan, pelayan itu meninggalkan kami dengan janji sepuluh menit lagi pesanan akan diantar.

"Membuka cafe," jawabku. "Aku sudah berpartner dengan Donghae, aku terpaksa menolakmu, Hyung. Kalau kau mau, jadi pelanggan kami saja!"

"Pasti!" Siwon mengangguk mantap.

Pasti. Dia akan jadi pelanggan kalau aku yang jadi pelayannya. Tapi maaf, Yang Mulia Siwon, aku lebih suka jadi tukang suruh daripada pesuruh. Jadi, aku bosnya di sini.

"Oh, iya ..." Siwon meraih sesuatu di bawah meja. Mengambil tas kecil, merogoh dan mengeluarkan kotak beludru dari dalamnya. Kemudian menyodorkan kotak itu padaku. "Hadiahmu yang tertuda!" katanya sambil mendorong kotak itu ke depan tanganku.

Siwon memberiku kotak?

Aku berpikir yang bukan-bukan. Aku takut setelah mengambil dan membuka kotak itu, Siwon mengatakan tegah melamarku dengan cincin berlian 24 karat dari toko perhiasan keluarganya. Sial! Aku tidak bisa menerima lamaran Siwon.

Dengan berat hati kuambil kotak itu.

Kotak beludru sudah di tanganku.

Aku berharap tengah makan malam dengan Kibum, lalu diberi kotak yang sama. Berisi cincin yang meski tidak ada berliannya, aku akan menerimanya dengan senang hati.

Oh, Kibum. Tiba-tiba aku merindukannya. Sangat merindukannya.

Pelan-pelan kubuka kotak itu sambil memanjatkan doa dalam hati. Semoga pikiranku yang bukan-bukan tadi tidak jadi kenyataan. Setelah terbuka, sebuah jam tangan yang meski tanpa merek, sudah terlihat kalau jam ini dibuat oleh tangan profesional. Bahkan di bagian dalamnya ada namaku. Syukurlah!

"Selamat ulang tahun!"

Akhirnya aku bisa menyunggingkan senyum lega pada Siwon.

"Kau sudah berkali-kali mengucapkan selamat ulang tahun padaku, Hyung!"

Siwon hanya tersenyum. Lagi-lagi seperti itu, bersikap gentleman dan romantis.

"Kau repot-repot memesankan jam tangan spesial untukku. Bagus sekali. Aku suka jam ini."

"Untuk orang yang spesial, hadiahnya harus spesial juga!" Siwon membuatku iba. Aku spesial baginya, tapi dia tidak spesial bagiku. Dan harus bagaimana mengucapkan maaf padanya kalau sembentar lagi aku akan menyingkirkannya dari jalan percintaanku dan Kibum? "Mari kupasangkan untukmu!"

Siwon mengambil jam dari tanganku. Melonggarkan jam tangan itu, menarik tanganku, kemudian memasukkannya ke dalam lingkaran jam tangan. Setelah mengencangkannya, Siwon mendorong tanganku kembali dengan diakhiri sedikit belain kecil. Aku tahu dia sengaja melakukannya.

"Pas di tanganmu."

"Terima kasih."

Aku mengambil topik-topik yang netral untuk dibicarakan dengan Siwon. Sedangkan Siwon satu dua kali menyelipkan pembicaraan yang sifatnya merujuk ke permasalahan pribadi. Asal dia tidak menyodorkan diri padaku, aku masih bisa menjawabnya. Kalau sudah menyangkut kekasih atau apa pun itu, aku lebih sering mengalihkan pembicaraan.

Makan malam selesai sedikit lambat karena Siwon banyak mengajakku berbincang. Dia mengantarkanku kembali ke kamar hotel. Aku menyelesaikan urusanku dengan Siwon di depan pintu kamar, karena aku tidak mau Siwon mampir.

"Terima kasih makan malam dan hadiahnya!" Aku menunjukkan pergelangan tanganku di depannya.

"Sama-sama. Lain kali ..."

Jangan ada lain kali! Tolakku dalam hati.

"Donghae dan yang lainnya menungguku. Kami sudah janji mau membahas bisnis yang akan kami rintis." Aku membuka sedikit pintu kamar, memperdengarkan suara berisik Donghae, Eunhyuk, Yesung, dan Ryewook agar Siwon percaya. Mereka memang sengaja kusuruh menunggu dalam kamar, karena setelah ini akan ada pembagian tugas untuk rencana kemarin. "Karena ini sifatnya rahasia, aku tidak bisa mengundangmu."

"Tidak apa-apa!" katanya santai. "Aku akan menunggu sampai bisnismu terealisasi, kemudian jadi pelanggan tetap!"

"Kalau begitu aku masuk dulu!"

"Tunggu dulu!" Aku urung untuk masuk. "Kyu ...,"

Siwon mulai mengulurkan tangannya. Kalau yang aku dengan dari cerita Ryewook dari drama-drama percintaan yang dia tonton, adegan seperti ini akan berakhir jadi pelukan atau ciuman. Aku jelas harus menghindarinya. Ketika tangan Siwon hendak meraih tanganku, aku segera menghindar.

"Apa, Hyung?" Aku pura-pura tidak mengerti. Pura-pura bergegas untuk masuk ke dalam kamar. "Teman-teman menungguku, Hyung!"

"Tidak ada. Hanya ingin memberimu semangat, semoga kalian sukses berbinis untuk ke depannya!"

Aku mengangguk sambil tersenyum. "Bye, Hyung!"

"Bye!"

Aku masuk, kemudian menutup pintu.

.

.

.

Pundakku ditepuk, aku berjengit.

Yesung ada di belakangku, tengah mengerutkan dahi memperhatikan tingkahku. Melihatku mengintip lewat lubang pintu agaknya aneh baginya.

"Siwon masih ada di depan pintu?"

"Sudah pergi," jawabku sambil melenggang masuk. Pura-pura tidak terjadi apa-apa barusan.

Yesung mengikutiku masuk. "Kau dapat jam itu darinya?"

Matanya awas juga, padahal pergelanganku tertutup lengan baju hampir sepenuhnya. Aku mengangkat tangan, menyibak lengan baju dan menunjukkan jam itu pada Yesung dan semuanya. Mereka terpana sesaat, kemudian masing-masing dari mereka menggumamkan kalimat-kalimat yang sifatnya mengejek. Ada yang mengatakan jam itu mahal tapi tidak bagus, ada yang mengatakan kalau dia juga bisa membeli jam sama di toko jam langganannya, ada juga yang mengatakan bahwa aku pamer.

Sesungguhnya mereka hanya iri.

"Akhir pekan besok aku ada pertemuan keluarga. Kalau kau tidak keberatan, boleh kupinjam jammu?" Yang lebih realistis, Ryewook. Tidak menyembunyikan keiriannya dengan kalimat sindiran, tapi langsung bermasuk untuk meminjam jam tanganku.

"Kau mau pamer dengan barang milik orang lain?" tanyaku yang dijawab Ryewook dengan cengiran lebar. "Lagipula ada namaku di sini!"

"Dibaliknya, kan? Tidak masalah. Tidak akan ada yang tahu jam itu bukan milikku kalau aku tidak menunjukkan nama itu pada siapapun." Ryewook masih berharap.

"Pinjamkan saja!" Donghae menimpali. "Kau tidak seharusnya bangga memakai barang-barang pemberian Siwon kalau sebentar lagi kau akan mendepaknya jauh-jauh."

Jam ini benar-benar bagus. Benar-benar berkelas. Dan tentu saja pas dengan ukuranku. Tapi, benar juga apa kata Donghae. Aku tidak boleh menyukai pemberian orang yang tidak aku sukai. Nanti dia besar kepala, kemudian berharap banyak.

Demi nama persahabatan, aku terpaksa mengangguk.

"Jangan dirusak! Kembalikan tepat setelah kau selesai dengan pertemuan keluarga itu!"

Yesung menepuk pundakku lagi. "Kau bukan hanya posesif terhadap orang, bahkan pada barang sekalipun!" Dia berdecak kemudian.

"Lagipula kenapa harus pinjam punyaku, padahal kalian bisa beli sendiri."

"Bisa, tapi tidak yang seperti itu." Yesung membela Ryewook. "Kecuali kau tanyakan pada Siwon, di mana dia pesan model jam yang seperti itu, kemudian katakan padaku supaya aku bisa memesan untuk Ryewook juga!"

"Tidak sudi!"

Aku langsung melepas jam tangan itu. Agak tidak ihklas, tapi segera melemparkannya pada Ryewook. Untung dia menangkapnya dengan cekatan, kalau jatuh dan rusak, kan aku yang rugi.

Setelah aku duduk, kita berlima ngobrol. Dengan Yesung yang rebahan di paha Ryewook seperti mereka sepasang kekasih. Eh, mereka memang sepasang kekasih, kan? Aku tidak ingat mereka mendeklarasikan hubungan di depanku. Hanya saja sejak satu dua tahun yang lalu mereka dekat dan makin dekat saja.

Donghae duduk di sebelahku, merebahkan punggung di sandaran sofa. Eunhyuk di sebelahnya memakan keripik sisa kemarin. Kami berlima tengah menunggu Kibum mengirimkan jadwal penerbangan untukku ke Busan besok.

Lama-kelamaan aku tidak sabar. Ingin sekali menelepon Kibum dan menanyakan kesanggupannya mengajakku liburan ke Busan. Aku tahu dia sibuk, tapi aku tidak bisa tahan menunggu.

Saat ponsel hendak kupencet, panggilan dari Kibum datang.

Langsung lega meski hanya melihat nama Kibum di layar ponselku.

"Jangan bicara!" perintahku pada teman-teman. Segera kuterima telepon itu. "Kibum," sapaku dengan suara mengebu-gebu.

"Kyu, maaf aku baru bisa meneleponmu saat ini. Seharian aku sibuk sekali!"

"Tidak apa-apa. Aku mengerti kesibukanmu!"

Donghae memasang pose sedang muntah sementara Yesung mendecih, aku langsung memukulnya. Kuisyaratkan agar dia tidak membuat suara sekecil apa pun lagi.

Ya, ya, aku memang tidak sesabar itu, tapi aku sedang akting. Bisakan mereka tidak merecoki?

"Kau sudah makan?" Kibum curiga, mungkin. Dia mengeluarkan pertanyaan lagi, "Sedang di mana sekarang?"

"Aku sudah makan." Aku melemparkan pertanyaan balik. "Sedang bersama teman-teman, tapi aku menyingkir sebentar. Kau sendiri sudah makan malam?"

"Oh, aku mengganggu waktu kalian. Perlu kutelepon lagi nanti?"

"Jangan!" potongku. "Tidak apa-apa kita bicara sekarang. Lagipula teman-temanku tidak penting." Yesung mau membuat ekspresi jijik lagi, tapi aku segera mengancamnya dengan mengudarakan kepalan tanganku di depannya. "Aku rindu suaramu. Bukan hanya suaramu sebenarnya, aku rindu semuanya dari dirimu."

Kibum terkekeh di sana. Dia juga menyuarakan hal sama, mengatakan rindu padaku. Duh, dunia seperti milikku dan Kibum. Empat temanku yang sekarang tengah ada di sekitarku ini, hanyalah kerikil yang tak masuk hitungan.

"Oh, ya. Aku sudah memesan tiket untukmu. Penerbangannya sore hari. Detail lengkapnya akan kukirim ke emailmu."

"Mmm," gumamku.

"Aku akan sampai di sana pagi hari, mengerjakan bisnis dulu. Mungkin malam hari baru bisa bergabung denganmu di hotel. Kau tunggu saja di kamar. Jangan kemana-mana sebelum aku kembali!"

"Mmm,"

"Aku ingatkan dulu padamu kalau aku akan sibuk satu dua hari, jadi kuharap kau tidak keberatan. Setelah itu selesai, seluruh waktuku hanya akan kuberikan padamu."

"Tidak masalah. Yang terutama adalah pekerjaanmu. Masalah kita bisa menikmati liburan atau tidak, bagiku tidak begitu penting. Yang terpenting aku bisa menemuimu, menemanimu, itu saja!"

Kibum tertawa lagi. "Kau memang kekasihku yang terhebat!" pujinya.

Memang aku yang terhebat. Tidak akan ada lagi orang seperti aku di dunia ini. Kibum jelas beruntung menjadikanku kekasih.

"Kyu, aku tidak enak menyita waktumu saat sedang bersama teman-temanmu. Kau selesaikan urusan dengan mereka dulu. Nanti kalau kau sudah kembali ke kamarmu, telepon aku!"

"Emm ..."

"Jangan berpikir aku tidak mau berlama-lama bicara denganmu ya ..." Kibum mengartikan keenggananku dengan sangat baik. Dia salah paham. "Aku tidak mau mengacaukan persahabatanmu, itu saja."

"Aku tahu!" jawabku pura-pura tidak rela. "Nanti aku akan meneleponmu."

"Kau sedang cemberut, ya?"

"Tidak!" sangkalku dengan nada lemah, lesu, dan pura-pura. Sebenarnya aku memang tidak sedang cemberut. "Aku biasa saja!"

Suara tawanya membahana di telepon. "Kalau begitu aku tutup teleponnya sekarang!"

Tidak menjawab, aku langsung mematikan telepon. Itu caraku agar Kibum menganggap aku sedang merajuk padanya. Bukankah aku terdengar lucu? Aku suka dianggap lucu oleh Kibum.

Baru menyunggingkan senyum, Yesung langsung menoelku.

"Yang terpenting bisa menemui dan menemani, ha?" nadanya sisnis. "Bah!" dia mengumpat. "Kau pembohong besar!"

"Suka-suka aku!"

"Aku kasihan pada Kibum."

"Hei..." aku protes. "Dia akan dapat segalanya kalau bisa melewati ujian seperti ini!" Aku menoel balik Yesung. "Dia dapat harta warisanku, dapat perusahaan yang dibangun turun-temurun oleh keluargaku, dapat posisi yang menguntungkan di mana-mana, dan tentu saja dapat aku!" kataku. Sombong, tapi bodoh amat. "Tropi terhebat di dunia ini, apa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun!"

Empat orang di sekitarku, menoyorku bergantian.

"Sombong!" teriak Eunhyuk langsung ke telingaku.

"Ok, ok. Jangan bahas soal kesombonganku. Aku baru dapat email dari Kibum!"

Melihat email Kibum, bukan hanya tiket dan jadwal penerbangannya, hotel dan nomor kamar pun juga diinformasikan, semua dipesan atas namaku. Aku menunjukkan isi email itu pada mereka. Kemudian rencana disusun mulai dari sekarang.

Apa saja yang harus kulakukan nanti. Apa peran Donghae dan yang lainnya. Semuanya diatur rata. Seperti ide-ide yang lancar kita lakukan sebelumnya, kali ini pun juga kuprediksi akan selancar itu. Tidak ada pembahasan masalah halal atau tidak di sini. Yang terpenting adalah hasil. Selama semuanya menunjang hasil, tidak halal pun harus kita lakukan. Jangan sebut kita licik, kita hanya sedikit lebih pintar dari kebanyakan orang.

Semuanya siap.

Semuanya akan kembali ke kamar masing-masing.

Aku mengantar mereka keluar. Yesung dan Ryewook pergi lebih dulu. Bergandengan mesra, kemudian memeluk satu sama lain sambil berjalan ke lift.

"Heh," Donghae dan Eunhyuk menoleh padaku. "Aku tidak ingat mereka ada hubungan. Kenapa mereka mesra begitu?"

Eunhyuk menepuk jidatnya sendiri, sementara Donghae menyentil jidatku.

Sakit tahu! rutukku dalam hati.

"Mereka menyatakan cinta satu sama lain di depan kita dua tahun yang lalu."

Dua tahun lalu, aku tidak ingat.

"Ketika di pantai. Kau mengajak kita berlibur, nyatanya itu niat terselubungmu untuk membuntuti Kibum. Ingat?"

Aku terlalu sering mengajak mereka berpergian hanya untuk membuntuti Kibum. Selain mencintai Kibum dengan sangat tulus, aku juga membuntuti Kibum dengan sangat ulet. Aku stalker, mereka bilang begitu dulunya.

Tapi di pantai, aku masih belum ingat.

"Yang kau ngiler melihat Kibum telanjang dada ..." Eunhyuk memaksaku mengingat. Dan akhirnya aku ingat.

Waktu itu Kibum sedang berlibur dengan teman-temannya. Tentu saja Heechul ikut. Agak sebal karena selalu melihat tawon satu itu ada di sekitar Kibum, tapi ketika melihat Kibum telanjang dada kemudian menceburkan diri ke air laut, sebalku hilang seketika. Aku terpesona dengan tubuh Kibum, tapi sumpah aku tidak ngiler seperti yang dikatakan Eunhyuk barusan.

Yah, waktu itu perhatianku tersita pada Kibum. Kalau bertepatan dengan itu Yesung dan Ryewook saling mengutarakan perasaan, tentu saja aku tak memperhatikan. Ya sudahlah. Aku pura-pura ingat saja.

"Oh, iya. Aku lupa soal itu." Aku mengangguk-angguk. "Lalu kalian kapan saling mengutarakan perasaan?" tanyaku yang segera dihadiahi tendangan kecil namun menyakitkan di garis kakiku oleh Eunhyuk. Donghae melirikku tajam. Kenapa sih orang-orang ini? Salahku di mana coba? Mereka saling suka, tidak ada salahnya terbuka. Atau Donghae tidak tahu Eunhyuk suka padanya, dan Eunhyuk tidak tahu Donghae suka padanya? Dari gesturnya sih ... Shit, aku membuka rahasia mereka di depan satu sama lain kalu begitu. "Oh, maaf soal itu. Aku tidak bermasud ...!"

Segera masuk ke kamar. Pintu kubanting dan kuabaikan teriakan Donghae dari luar.

Yang tadi, aku benar-benar tidak bermasud ...

Daripada pusing memikirkan dua orang itu akan saling jujur atau tidak, lebih baik aku telepon Kibum. Kuambil ponsel, kupencet nomor dan suara Kibum sejuk terdengar di telinga.

"Kau sudah sedirian sekarang?"

"Iya, sudah."

"Kita video call!"

Aku mematikan ponsel, kemudian video call dengan Kibum. Tepat ketika Kibum menjawab, aku melihatnya, tubuh setengah telanjangnya ada di layarku. Aku teringat ketika di pantai waktu itu. Aku teringat juga tubuh telanjang Kibum malam itu.

"Kibum, kau baru mandi?"

"Iya," jawabnya singkat.

"Tidak segera memakai baju? Nanti kau sakit."

Kibum terlihat sedang berpikir keras, kemudian mengutarakan maksud dengan melempar kode. Dia bilang sedang merindukanku, dia bilang sedang telanjang sekarang, sampai dia benar-benar memperlihatkan tubuh telanjangnya di kamera, dia bilang aku tampan malam ini, padahal kan aku selalu tampan. Dari situ aku menarik kesimpulan kalau Kibum mengajakku yang tidak-tidak saat video call. Sebagai kekasih yang polos, aku harus terlihat tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkannya. Sampai kemudian dia secara gamblang mengajakku seks lewat video. Malu-malu kuiyakan. Tapi batinku menjerit ...

Asyik, seks video dengan Kibum!

Kihyun

Pegawai hotel tidak tanya-tanya terlalu banyak karena Kibum sudah berpesan pada mereka bahwa aku akan datang. Petugas langsung membawaku dari bandara ke hotel, kemudian mengantarku ke kamar.

Seperti apa yang dikatakan Kibum, aku tidak boleh kemana-mana sebelum dia kembali ke kamar. Aku pun menurut. Aku memesan makanan dan terus menunggunya di hotel.

Menunggunya di hotel, bukan berarti tidak keluar kamar juga. Aku hanya keluar kamar, mengetok kamar sebelah, mendapati Donghae dan Eunhyuk benar-benar cek in di sebelah kamarku, aku merasa senang. Apalagi ketika mereka bilang kalau semuanya sudah aman terkendali, aku langsung merasa lega.

Kembali ke kamarku dan Kibum. Menunggu seperti istri setia, sementara antek-antek bergerilya di luar sana.

Malam semakin larut, Kibum pun pulang. Aku tidak berkeinginan membukakan pintu, lalu tersenyum manis untuknya. Aku lebih suka pura-pura tidur di sofa, biar terlihat kalau aku ini kekasih idaman yang setia menunggu meski kecapaian sekalipun.

Suara langkah Kibum kudengar jelas mendekat ke arahku. Dia bergerak sebentar sebelum kemudian tangannya yang besar mengelus rambutku. Bibirnya menyusul, mengecup dahiku. Selang beberapa menit, tubuhku melayang. Hampir menjerit karena kaget, untung aku segera sadar kalau Kibum tengah menggendongku. Dibawa ke ranjang. Diletakkan pelan-pelan di kasur.

Aku menggeliat, kemudian membuka mata.

"Kibum ..."

Dia tersenyum.

Manisnya ... aku tidak tahan.

"Kau kembali ..."

Ketika aku ingin duduk, dia melarangku. "Tidur saja kalau kau capek!" Aku menggeleng cepat. "Ok, kau tunggu di sini. Aku akan mandi dengan cepat!" Aku mengangguk, kemudian dapat kecupan kilat di bibir dan ditinggalkan ke kamar mandi olehnya.

Saat Kibum di kamar mandi itulah, aku segera mencari ponselku. Mengetik pesan secepat mungkin untuk di kirim ke Donghae dan Eunhyuk di kamar sebelah.

Kibum sudah pulang. Aku bersenang-senang dulu, ya! Pakai emoji meleletkan lidah.

Donghae membalas dengan kata-kata kasar, dengan banyak tanda seru di belakangnya. Eunhyuk hanya mengirim gambar jempol terbalik.

Jangan iri. Kalian sudah berdua, kenapa tidak senang-senang saja sekalian! Kirimku lagi

Mereka kompak mengirim gambar tangan mengepal. Aku segera menyudahi chatting daripada mereka makin marah.

Ponsel kusembunyikan.

Aku menunggu Kibum lagi.

Ketika Kibum sudah bergabung denganku di tempat tidur, dia memelukku posesif. Menciumiku sampai hampir seluruh mukaku basah oleh salivanya. Aku pasrah dan pura-pura tidak berani menciumnya balik. Dia berkali-kali mengatakan sangat merindukanku, tapi menyayangkan tidak bisa puas bermesra-mesraan denganku karena harus menyelesaian bisnis. Aku bilang tidak masalah, toh setelah bisnisnya selesai, waktunya akan dihabiskan denganku.

Malam ini habis dengan kita berciuman kemudian tidur sambil berpelukan.

.

.

.

Geli, membuatku tertawa terpingkal-pingkal sekaligus menggeliat tidak karuan.

Ucapan selamat paginya unik. Baru saja aku membuka mata, Kibum sudah menjatuhkan ciuman di keningku. Di pipiku, hidungku, bibirku, pada akhirnya dia menciumi leherku. Mana Kibum belum bercukur pula, rambut halus di wajahnya membuat geli.

"Kibum ..." aku protes, sambil menggeliat-geliat. Mencoba melepaskan diri dari pelukannya. "Geli tahu!"

Dia segera menyetuh dagunya sendiri. "Oh, aku lupa bercukur," tapi ekspresinya seperti dia sengaja tidak bercukur. "Kau sama seperti keponakanku. Kalau aku menciuminya, dia selalu meronta-ronta dan bilang geli. Tapi aku suka ekspresi kegelian itu, termasuk ekspresi geli yang barusan kau perlihatkan." Lalu dia dengan sengaja menggosokkan mukanya yang kasar ke pipiku.

Kan geli. Geli-geli nikmat.

Aku meronta lagi. Memasang wajah paling sebal ketika Kibum akhirnya melepaskanku.

"Selamat pagi!" ucapnya kali ini dengan benar.

"Pagi juga!" balasku sambil tersenyum semanis mungkin.

"Kita punya banyak pilihan acara pagi ini. Kau mau yang mana, mandi dulu, makan dulu, atau mau mandi bersama sambil kau memberiku makan?"

"Kibum ..." Aku cemberut. "Kau mesum!"

Dia tersenyum picik.

Aku hidup di antara orang-orang yang picik. Keluargaku, paling picik adalah ayah dan sepupu-sepupuku. Teman-temanku, tentu saja Donghae dan yang lainnya. Aku akrab dengan hal-hal berbau kepicikan. Tapi Kibum lain, piciknya membawa manfaat bagiku.

"Maksudku makan di kamar mandi. Makan betulan. Kau pikir apa?" tanyanya masih dengan senyum picik di wajhnya. "Kau yang mesum!"

"Ah!" aku mengeluh kemudian mendorong dadanya menjauh. "Kau sibuk hari ini. Sana pergi!"

Kibum hanya tertawa, kemudian mendekat lagi padaku. "Sepagi ini? Tentu saja tidak. Aku punya waktu beberapa jam untuk bergelung di kasur ini bersamamu. Yah, itu kalau kau mau."

"Tuh, kan. Kau yang mesum!"

"Hei, aku cuma bilang bergelung di kasur, tidak melakukan yang vulgar-vurlgar." Sekali lagi dia membuatku malu. Malu-malu kucing, meski sebenarnya kucing ini sudah kebal dipermalukan dari jauh-jauh hari. "Aku berencana melakukannya setelah aku benar-benar menyelesaikan pekerjaanku."

Aku terdiam, dia menyunggingkan senyum. Tangannya melingkar di pinggangku, kepalanya diturunkan, lalu mencium dadaku yang masih menggunakan kaos tidur. Mengirup dalam-dalam apa yang sebenarnya tidak berbau.

Eh, aku baru bangun. Aku takut tubuhku bau.

"Mau bergulung denganku?" tanyanya setelah selesai mengirup dadaku dan terlihat mabuk kepayang. "Hanya bergelung!" tegasnya.

Aku mengangguk.

Kibum segera menarik selimut, menggulung tubuh kita berdua di dalamnya. Dia menyentuh-nyentuh setiap inci tubuhku yang hanya bisa kuprotes dengan geraman. Kemudian menciumiku lagi, menggosokkan wajah kasarnya lagi, lalu tertawa kencang ketika aku mengeluhkan wajah berbulu kasarnya.

.

.

.

Di hari yang sama, di waktu yang lain.

Donghae dan Eunhyuk mengacungkan jempol padaku. Mereka meninggalkan hotel bersama peralatannya setelah aku membalas acungan jempolnya. Setelah tak mendapati keduanya lagi, aku masuk ke kamar. Menunggu telepon dari antekku yang masih di kota. Selang beberapa menit, telepon yang kutunggu pun tiba. Yesung bilang rencana berjalan lancar, target sudah memakan umpan dan akan mulai menggelepar.

Siang harinya ada pesan masuk dari Ryewook, dia bilang terget sudah bergerak.

Main kode-kodean seperti kita ini agen rahasia saja.

Karena semua sesuai rencana, terkurung di dalam kamar hotel pun aku jabani, asal itu untuk menunggu Kibum. Tapi ketika malam belum tiba, Kibum sudah kembali ke hotel. Membawa muka agak khawatir, dia mendekatiku.

"Rasanya semuanya sudah sesuai rencana. Aku tidak tahu kalau akan meleset seperti ini."

"Ada apa, Kibum? Bisnismu gagal?" Aku jadi ikutan cemas.

Dia menggeleng. Langsung meraihku dan memelukku erat. "Heechul tiba-tiba menelepon dan mengatakan akan bergabung denganku." Aku sedih mendengarnya. "Maaf. Aku menjanjikan liburan berdua, tapi datang gangguan seperti ini!" Lalu menciumi puncak kepalaku untuk menyalurkan permintaan maafnya. "Dia pasti akan memaksa untuk tinggal satu kamar denganku, tapi karena aku sudah janji untuk tidak sekamar lagi denganya. Dia harus mau tidur sendirian."

"Lalu kau akan menyembunyikanku darinya seperti aku selingkuhanmu?" tanyaku. Kecewa sepenuh hati.

Kibum menggeleng. "Kau kekasihku, bukan selingkuhanku. Jangan katakan seperti itu lagi!" tegurnya. Tapi aku kecewa. "Dengarkan aku dulu. Aku melarang Heechul ikut karena aku mengatakan ini bisnis yang tidak bisa diikut campurinya. Aku menggunakan uang perusahaan untuk mengatur penerbangan dan hotel tempat kita menginap ini." Aku ingin protes, tapi dia segera menutup mulutku. "Penerbangan dan hotel lain yang kupesan atas namamu, itu pakai uangku. Kau tidak lihat betul-betul email yang kukirim, ya?"

"Aku melihatnya."

"Tapi tidak memperhatikannya!" Kibum mendesah. "Aku memesan kamar di hotel lain atas namamu dan berlaku mulai besok. Sedangkan kamar ini atas namaku. Masa berlakunya habis setelah malam ini. Besok pagi kita harus pindah ke kamar itu."

Aku buru-buru merogoh kantung saku, mengeluarkan ponsel dan menilik kembali email yang dipesan Kibum. Membacaya sekilas, kemudian tersenyum lega.

"Sudah lihat?" Aku mengangguk. "Kita akan menghabiskan malam panjang kita di sana. Hanya aku dan kau. Tidak ada Heechul, tidak ada siapapun!"

"Kalau Heechul marah kau tidak mau tinggal dengannya, bagaimana? Kalau dia marah karena kau telah menggunakan waktu seenaknya, yang seharusnya untuk bisnis tapi malah kau gunakan untuk bersenang-senang, bagaimana? Kalau dia marah, kemudian menyuruh kakeknya memecatmu, bagaimana? Kalau dia ..."

Kibum memasang telunjuknya tepat di depan bibirku.

"Besok aku akan bilang padanya kalau aku sudah berkencan denganmu. Besok adalah hari Sabtu. Apa salahnya menghabiskan akhir pekan dengan kekasihku. Toh, bisnisnya sudah selesai. Selesai dengan sukses besar malah." Aku cemberut tapi juga mengangguk. "Lalu apa haknya untuk marah? Hidupku bukan miliknya. Jadi, kalau dia tetap marah, biarkan saja. Anggap anjing yang tengah mengonggong!" Akhirnya aku tertawa kecil. Sungguhan senang Heechul dibilang anjing oleh Kibum. "Kalau dia mengadu pada kakeknya, kemudian aku dipecat, aku tidak akan kesulitan untuk mencari pekerjaan baru. Aku ini hebat dalam bisnis, semua perusahaan akan memperebutkan orang bertalenta sepertiku!" Aku cemberut lagi. Mecubit lengan Kibum sampai dia meringis keskitan.

"Kau narsis!"

Kibum tertawa. "Sekarang jangan berpikir yang berlebihan lagi. Cium aku dulu, lalu kita berkemas agar mudah pindah ke kamar lain, besok!"

Malu-malu aku memajukan bibirku. Menempelkannya ke bibir Kibum. Dia hanya menggeleng, segera menarik tengkungku dan mematuk bibirku dengan kasar. Dia main kasar, aku pun membalas. Ah, sial aku kelepasan lagi. Semoga Kibum masih menganggapku kekasih yang lucu dan lugu setelah ini.

Ciuman Kibum enak, sih!

Kihyun

Pindah. Bukan di kamar hotel yang bertumpuk-tumpuk tanpa pemandangan apa pun, tapi di kamar sendiri, bangunan sendiri. Ini penginapan yang meski tidak mahal, tapi menjamin privasi. Pemandangannya bagus. Ada kolam ikan buatan dan taman di belakang. Ada jalanan sepi dengan bunga-bunga indah di depan. Bahkan jarak satu kamar dengan kamar lain saja lebih dari sepuluh meter.

Aku membuka pintu kaca di belakang kamar. Membiarkan udara sejuk masuk ke kamar. Kibum sedang mendorong-dorong koper kami masuk dari pintu depan.

"Bagaimana? Suka?"

Aku mengangguk.

Selesai meletakkan koper secara sembarangan di lantai, agak jauh dari tempat tidur, Kibum mendatangiku. Memelukku dari belakang dan mengecupi tengkukku. "Mau dengar musik?" Sebelum aku menjawabnya, Kibum sudah melangkah pergi. Dia menyalakan pemutar musik dan memilih lagu-lagu romantis. Dia datang lagi, memelukku lagi, mencium leherku, lalu meletakkan dagunya di pundakku.

"Apa kolam ini ada ikannya?" tanyaku basa-basi.

Kibum memandang keluar, ke kolam yang kutunjuk. "Mungkin, tapi untuk apa kau peduli tentang kolam itu. Kau harusnya peduli padaku."

"Hn?"

Dia membalikkan badanku, melihat ke mataku. Tanganku digengamnya ringan, ditarik ke atas, dicium jari-jarinya oleh Kibum. "Kita sudah berada di kamar kita sendiri. Kau bebas melakukan apa pun yang ku mau." Aku mengangguk. "Kau ingin apa dulu?"

Langsung bercinta, bisa? Aku sudah tidak tahan, nih!

"Terserah kau!" Aku mengerling, menggoda, tapi pura-pura tidak sadar.

Kibum mengecup bibirku pelan. Setelah itu memadangiku lagi. Masih diam beberapa saat, kemudian mengecup bibirku lagi. Dia menghembuskan nafasnya keras, agaknya kalah dengan napsunya sendiri. Tiba-tiba menciumku, melumat bibirku, menjilat, kemudian memasukkan lidahnya ke rongga mulutku. Dia mau apa pun aku menurut. Meski akhirnya aku tidak tahan diam saja, lalu tidak sadar membalas dengan kepiawaianku. Kami berciuman hebat, tidak sadar tangan Kibum yang tadinya mengelus pinggangku kini masuk ke dalam bajuku.

Tangannya meremat pinggulku dan aku mengerang.

Kibum langsung berhenti menciumku. Menarikku dan melemparkankanku ke kasur. Dia hampir-hampir meloncat, merangkak di atasku, lalu kembali menciumiku. Tidak tahan berlama-lama, dia melepas bajuku. Menciumi leher, kemudian turun ke dada. Sebelah tangan memilin, sebelah lagi menjilat dadaku.

Aku mendesah.

"Kibum ..."

Dia tidak peduli. Malah terprovokasi.

Kibum menciumku lagi dengan cepat. Dia berpindah ke celanaku, melepas kait, menurunkan resleting, kemudian menarik keluar celanaku, celana dalamku sekalian. Melempar semua benda itu ke lantai. Kibum awalnya hanya memandang, kemudian memegangnya, mengurutnya.

"Ah ... Ah ..." Oh, Kibum sialan. Dia pintar berbuat mesum. Ini enak sekali. "Kibum ..." lagi-lagi namanya kusebut.

"Mendesah saja sesukamu. Tidak apa-apa!" Dia bukan lagi Kibum yang sabaran. Di matanya hanya ada nafsu yang sebentar lagi akan meledak. Hanya Tuhan yang tahu kenapa dia bersabar untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. "Suka?"

Tidak tahu aku menggeleng atau mengangguk, tapi Kibum langsung tersenyum.

Kakiku menjepit tangan Kibum, dia melebarkannya dengan sabar. Mengurut lagi sambil merunduk dan menciumi dada dan perutku. Gerakannya terhenti hanya untuk menggantikan tangan dengan mulutnya yang panas dan basah. Sekali lagi aku mengatupkan kakiku, menjepit kepala Kibum di selangkanganku.

Hisapannya kencang, aku jadi tidak kuat dan akhirnya ...

Yah, Kibum melepaskanku.

Mau kucekek dia sampai mati. Aku sudah terlanjur diselimuti kabut nabsu juga, pakai dilepaskan sebelum aku keluar. Kan sebal jadinya!

"Jangan buru-buru, Sayang!" Dia menarikku ke atas. Menempatkan kepalaku dengan benar di atas bantal. Kibum melucuti pakaiannya sendiri. Celana dalamnya membentuk tenda yang sangat besar, aku juga ingin melakukan hal sama seperti apa yang dilakukan Kibum padaku dengan benda di dalam tenda itu. Sampai Kibum melucutinya. Kibum kecil mengacung menunjukku dengan sombong. "Aku ambil peralatan." Dia beranjang dan kembali dengan cepat.

Peralatan yang dibawanya dilempar sembarangan. Kembali padaku, menciumku, membelaiku, mengurut juniorku, dan akhirnya mengurut juniornya sendiri di hadapanku.

Kibum mengambil pelumas, menuang banyak sekali. Meratakan ditangannya, lalu meratakan di belahan belakangku. Membelai dengan santai sampai akhirnya membenamkan jarinya. Meski aku meringis, mengeluh, melenguh, bahkan mengerang antara sakit, gatal, dan juga nikmat, aku merasa sangat tidak sabar. Sampai Kibum mengurut miliknya lagi. Memasang pengaman, melumuri, kemudian memasang pose penetrasi di depan selangkanganku.

Kibum menekan, tapi aku segera memuku-mukul lengannya. Seperti dugaanku, dia tidak peduli. Malah meraih kedua kakiku, menyampirkannya di bahunya. Lalu menekan dengan pelan, tapi kuat, kemudian mendesah lega karena sudah masuk sempurna.

Aku memukul-mukul lenganya lagi.

"Kita belum menutup pintunya!" aku memekik, tapi yang keluar suara desahan. Suaraku hilang, padahal aku dan Kibum belum memulainya.

Kibum melihat ke sana. Pintu belakang yang terbuka lebar dengan kelambu biru muda transparan yang berkibar ditiup angin. Bahkan pintu depan pun belum dikunci.

"Kalau ada yang lihat ..."

"Mereka yang akan malu sendiri. Biarkan sajalah. Toh, kita sudah sampai sini!" katanya sambil menunjuk bawah dengan dagunya, di bagian dia dan aku saling terhubung. "Lagipula siapa yang dengan sengaja akan lewat belakang kamar kita?" katanya sambil menarik dan mendorong kuat.

"Ah Kibum ..." Aku mendesah. Ada yang tertumbuk di dalam sana. Yang rasanya membuatku melayang.

Lagi! Lagi! Lagi! Bagian itu, tusuk lagi, Kibum! Jeritku dalam hati.

Seakan jeritan batinku didengarnya, dia menarik dan mendorong lagi. Kuat sekali dia bergerak, sampai tubuhku terlonjak-lonjak. Suara tamparan kulit dengan kulit yang tercipta bahkan telah mengalahkan musik yang diputar Kibum.

Kata 'Kibum' dan 'Ah' berkali-kali keluar dari mulutku. Habis mau bagaimana lagi. Kalau bercinta kan dengan Kibum, jelas namanyalah yang aku sebut. Dan karena rasanya enak, kalau bukan kata 'Ah' lalu apa lagi yang bisa kusebut? Lagipula mendesah saat sedang bercinta itu refleks.

"Ah ah ah ... Kibum. Ah ah ah ...!"

"Moan, Baby!" perintah Kibum. "Yang keras!"

.

.

.

Aku membuka mata, Kibum tengah bermain ponsel di sebelahku. Dia masih telanjang, tapi tampaknya sudah membersihkan diri. "Kibum ..."

Dia menoleh padaku. Tersenyum, merundukkan kepala untuk menciumku.

"Bukankah Heechul datang hari ini? Kau akan menjemputnya di bandara, kan?"

Dia menggeleng. "Aku sudah mengiriminya pesan. Aku tidak bisa menjemput, sebagai gantinya pegawai hotel akan menjemputnya. Dia sudah ada di kamarnya dengan aman sekarang. Kalau kita tidak sibuk, sore nanti kita temui dia dan mengatakan hubungan kita. Kalau sibuk sampai malam, ya ... kita temui dia besok saja!"

Aku tersenyum malu-malu. Aku tahu apa maksudnya sibuk itu.

"Aku lapar, Kibum."

"Sudah kupesankan makan siang. Mereka akan mengirimkannya jam satu nanti." Aku mengerutkan kening. Kenapa makan siang sangat lambat? "Aku mau satu ronde lagi. Kau sudah janji sebelum beristirahat tadi. Hanya saja, sudah tidak ada pengaman tersisa." Dia nyengir lebar. "Aku lupa membawa persediaan. Kalau kau punya ..." aku buru-buru menggeleng. "Kalau begitu, tidak usah pakai tidak apa-apa, kan? Lagipula waktu itu kita sudah mencobanya."

Aku mulai menimbang-nimbang.

"Rasanya juga enak dan lebih nyata," bujuknya.

Iya sih! Aku pun tergoda, kemudian mengangguk malu-malu. "Beri aku sepuluh menit. Aku mau ke kamar mandi dulu!"

Kibum mengangguk. "Aku bantu, mau?" Membantuku membersihkan apa yang akan dikotorinya lagi? Cih, dasar mahkluk mesum! Aku cemberut, berbading terbalik dengan apa yang kuutarakan dalam hati. "Lebih cepat lebih baik, kan?" Aku menolaknya.

Kihyun

Malam hari saat aku dan Kibum akan menemui Heechul, ada yang mengirim tautan ke ponselku. Nomornya tidak dikenal. Aku curiga apa isinya. Lalu membuka tautan itu. Hanya laman gosip biasa, tapi isinya luar biasa. Judulnya, Anak Bos Cho "dikerjai" oleh manager dari perusahaan lawan. Berita ini mengatakan kalau kemungkinan aku sedang mabuk, atau sengaja dimabukkan, lalu dikerjai. Motif yang dituliskan dalam berita itu adalah bahwa si manager tengah balas dendam atas urusan bisnis antara kedua belah pihak yang tidak mencapai kesepakatan. Foto yang dipajang di laman utamanya memang terlihat kalau seseorang dalam keadaan loyo tengah dipaksa. Jelas itu fotoku dan Kibum, hanya saja bagian mukanya di buramkan.

Ketika aku menunjukkannya pada Kibum, Kibum tidak percaya. Menganggap laman itu ilegal, kemudian mengatakan kalau berita itu bohong belaka. Aku pun membuka laman yang disarankan untuk dilihat, berisi foto-foto tanpa diburamkan, tapi masih untung area-area privat kami tidak terlihat. Kutunjukkannya pada Kibum. Baru setelah itu Kibum percaya berita itu dibuat untuk menghancurkan kita.

Foto kegitan kita seharian ini. Siapa sih yang tiba-tiba mengintip dan memotret kita? Kibum sih, dibilang harus menutup pintu dulu, dia malah tidak mau. Kan, sekarang foto mesum kita jadi konsumsi publik.

Semua fotonya terlihat seperti aku sedang dipaksa Kibum, seperti aku sedang digagahi Kibum dalam keadaan tidak berdaya. Padahal kita berdua sama-sama menginginkannya. Kita berdua sama-sama berdaya untuk menghabiskan beberapa ronde di tempat tidur, bahkan waktu pun terlewat sampai sore hari.

"Siapa yang mengirimkannya padamu?"

Aku menggeleng. Nomornya tidak dikenal.

"Kemungkinan berita ini akan sampai ke orang tuamu atau tidak?"

Aku mengendikkan bahu. Moodku sedang buruk.

Kibum buru-buru memelukku. "Maaf!" bisiknya.

Aku menggeleng kencang. "Kau yang dituduh di sini. Jadi, jangan minta maaf!" Aku tersenyum tidak tulus padanya. "Terlepas apa yang akan terjadi nanti kalau berita ini sampai di tangan Ayahku, aku janji akan membelamu. Kita melakukannya bersama, harus dihadapai bersama juga!"

Kibum mengecup puncak kepalaku. Dia berterima kasih.

"Aku jadi tidak mood untuk bertemu Heechul, bisakah kita kembali saja!" pintaku, memelas.

"Ok!" Kibum membawaku berbalik ke kamar. "Kali ini akan kupastikan semua pintu tertutup. Aku akan menutup tirainya juga!" katanya sambil menuntunku yang loyo setelah melihat berita itu.

.

.

.

Kibum di kamar mandi saat aku mengirim pesan ke group. Aku mengeluh tentang malunya aku kalau sampai di luar banyak orang yang melihat fotoku dengan Kibum.

Itu adalah foto-foto yang paling netral. Susah tahu, mengambil foto seperti itu. Kebanyakan kau dan Kibum sedang pamer ekspresi keenakan. Kau dan Kibum pamer gambaran 'itunya' Kibum menusuk-nusuk pantatmu. Kau kira kita tidak jijik melihatnya? Lihat sendiri video mesummu nanti. Kau sendiri pasti akan muntah! Sudah, tidak usah protes dan nikmati saja prosesnya!

Itu jawaban Donghae, mewakili teman-teman yang lain.

Demi hasil akhir yang baik, aku pun pasrah.

To be continue

Episode terakhir tayang bulan depan ya.