Chapter 2: Clueless

"Hm, saya harus mencari bukti-bukti terlebih dahulu tuan. Jika tuan menginginkannya saya dapat mecarinya sekarang juga,"

"Hm, baiklah. Bawakan semua bukti-bukti dan informasi yang ada, malam ini juga!"

"Yes My Lord."

Disclaimer: Kuroshitsuji punya Yana Toboso. Naruto punya Masashi Kishimoto. Fic ini sumpah asli gak bohong, punya saya~

Warning: Garing, abal, gaje, aneh, typo, OOC, dan lain-lain.

Summary: Sebastian telah mengumpulkan informasi, saksi-saksi dan bukti yang ada. Tetapi keadaan ini malah memaksanya dan Ciel untuk kembali ke-Inggris demi mencari informasi lebih lanjut dari…

Baca aja sendiri *dihajar*

ENJOY ^^

Pagi harinya, semua orang yang ada di kantor hokage Cuma bisa cengo. Itu lho, mulutnya dimonyongin sepanjang 5 cm, terus jari telunjuk ditaruh didepan mulut...

Eh, salah lagi?

Nah, pasalnya semua orang heran melihat Sebastian pagi itu sudah membawa setumpuk karung beras bersama 5 jerigen minyak untuk dibagi-bagikan kepada desa sebelah yang lagi kena krisis air bersih.

Oke, fine, saya tau itu emang ngaco...

"J-jadi...kau sudah mengumpulkan semua buktinya dalam satu malam? Bagaimana bisa?" tanya Shizune dengan muka yang cengo. Saya harap anda jangan membayangkannya.

"Ya, saya sudah mengumpulkan semua bukti-bukti yang ada," jawab Sebastian sambil menaruh setumpukan kertas plain ukuran A4 diatas meja hokage. "Apa jadinya bila seorang butler dari keluarga Phantomhive tidak bisa mengumpulkan bukti-bukti ini?" lanjutnya. Semuanya masih cengo.

...

Krik...krik...krik...

...

Krik...krik...krik...

...

Krik...krik...krik...

"Jadi," kata Kakashi yang memecah keheningan. "Adakah yang dicurigai menjadi tersangka dari bukti-bukti yang ada?" lanjut Kakashi.

"Sayangnya," Sebastian memasang tampang seriusnya. Semua orang yang diruangan itu terpaku menatapnya.

"Belum ada."

"Oh..." kata Shizune mulai merasa cemas lagi.

"Hm, keadaan ini sangatlah menyulitkan," kata Kakashi.

"Kita...harus gimana nih?" tanya Sakura.

Semuanya sibuk berfikir. Tiba-tiba bocah pendek bemata biru ini, alias Ciel *dihajar Ciel* menyeletuk dengan OOC-nya,

"Hoy kenapa kita nggak tanya aja sama Authornya?"

"Oh iya benar juga," kata Naruto ikut-ikutan OOC.

"Heh author! Kelanjutannya gimana nih jadinya?" tanya sang Ciel.

"Aduh gimana sih! Di-script kan udah jelas. Lu sama Sebastian balik lagi ke-Inggris. Minta sumbangan sama sanak sodara karena bentar lagi perusahaan Phantomhive bakalan bangkrut," jawab author dengan ngaco yang dihadiahi deathglare dari seisi ruangan kantor hokage.

"Woy, woy author. Yang serius ngapa? Kita lagi dalam posisi sulit tau." kata Sebastian ikut-ikutan OOC.

"Iye, iye. Lu sama Ciel balik lagi ke-Inggris. Terus minta ilham deh tuh sama Underwear, eh maksudnya Undertaker," akhirnya author berbicara yang sebenarnya.

.

.

Karena ulah author yang dodol, akhirnya Ciel dan Sebastian kembali lagi ke-Inggris dengan biaya yang ditanggung oleh Ciel sendiri. Maklum, soalnya sang author yang gaje ini lagi bokek. Kan Ciel kaya tuh, bolak-balik Jepang-Inggris mah, kecil kan buat Ciel? Apalagi dia punya butler yang super multiguna.

Nah anggap saja sekarang Ciel dan Sebastian sudah berada di-Inggris. Lah kok bisa? Yah di fanfic ini apapun bisa terjadi sesuai dengan kehendak saya selaku author. Kalau author berkehendak seorang Ciel Phantomhive menikah dengan sang author yang cantik, baik dan manis ini, *author, para tokoh dan readers muntah-muntah* maka jadilah author menikah dengan Ciel dengan mas kawin seperangkat alat dapur dibayar utang. #plak

Hehe iyadeh saya ngaku, itu alesan doang karena saya males ngejelasin dan ngetik perjalan Sebastian dan Ciel kembali ke-Inggris.

SKIP~

Sekarang Ciel dan Sebastian sudah berdiri di sebuah toko kelontong atau apapun itulah namanya (maklum, author lupa soalnya) bertuliskan 'Underwear; menjual semua pakaian dalam yang unik dan portable'.

Ups tunggu, tunggu kayaknya salah tempat.

.

.

Sekarang, Ciel dan Sebastian sudah berada didepan sebuah tempat yang bertuliskan 'Undertaker'. Tanpa ba-bi-bu mereka segera nyelonong masuk ketempat tersebut.

"Hi...hi...hi...selamat datang tuan muda Ciel. Apakah anda butuh peti sekarang? Saya sudah menyediakan peti portable ukuran 3x4 meter yang dapat membuat nyaman pemakainya. Tersedia layanan Wi-Fi, GPRS, 3G, Kamera 6.5 pixel, Bluetooth, Browser, Google Translate, Facebook, Twitter, Yahoo Messenger dan masih banyak yang lainnya. Bukan hanya itu tuan muda, peti ini juga dapat membuat masakan dan minuman yang siap saji dengan sekali menekan tombol. Oh bukan hanya itu saja, namun peti ini juga memiliki kolam renang berkedalaman 12 centimeter serta jacuzzi yang nyaman dan hangat. Hi...hi...hi...bagaimana, anda tertarik?" oceh Undertaker tanpa jeda iklan.

"Wah bol—ehem, maksudku aku tidak tertarik," jawab Ciel yang jaga imej.

"Oh sayang sekali. Hi...hi...hi..." kata Undertaker agak sedikit kecewa karena barang dagangannya tidak berkesan dihati sang tuan muda.

"Langsung saja, kami kesini karena ingin mencari informasi," kata Ciel kemudian.

"Hi...hi...hi...tapi seperti biasanya, anda harus memberikan saya..."

"Lawakan terbaik?" potong Ciel.

"Hi...hi...hi...lawakan itu sudah kuno. Saya akhir-akhir ini ingin mencoba bagaimana rasanya mendengar cerita yang ber-rated-kan M, hi...hi...hi..." kata Undertaker OOC.

Ciel hanya bisa cengo ditempat. Sementara Sebastian yang mesum itu sudah memiliki beribu cerita yang alirannya mengarah k—

"WOY CUT! CUT! Undertaker lu salah dialog!" teriak author pake toa yang dipinjem dari tetangga.

"Hi…hi…hi…bukankah anda yang membuat dialognya?" tanya Undertaker dengan muka polos.

"…" *readers, Ciel dan Sebastian sweatdrop*

"Ehem, oke-oke…saya salah," kata author yang gak mutu ini sambil nge-ganti dialog Undertaker di script. "Nah mari ulag dari adegan Ciel yang sedang membayangkan cerita rated M yang aka—eh, maksudnya bagian Ciel yang bertanya kepada Undertaker. Tiga, dua, satu and action!"

"Lawakan terbaik maksud mu?" ulang Ciel.

"Hi…hi…hi…anda benar sekali bocchan…"

Ciel menengok Sebastian dan butlernya itu sudah menangkap sinyal-sinyal cinta dari tuan mudanya tersebut.

OKE NGACO LAGI. Maklum, otak author lagi konslet karena belum bayar utang listrik~

"Tuan muda, tolong tunggu diluar dan JANGAN mengintip." kata Sebastian dengan nada tenang yang mengancam.

Setelah itu Ciel beranjak dari tempat tersebut dan menunggu diluar.

1 menit...

5 menit...

15 menit...

"!". Akhirnya terdengarlah suara tawa yang berhasil merubuhkan jembatan london (?) dari dalam.

"Tuan silahkan masuk." kata Sebastian kemudian sambil membukakan pintu untuk Ciel. Cielpun segera masuk dengan gaya tenangnya yang seperti biasa.

"Langsung saja. Kami kesini ingin mencari informasi tentang kasus hilangnya hokage di Konohagakure." jelas Ciel langsung setelah ber-dehem.

"Hi...hi...hi...saya hanya bisa memberikan ini..." kata Undertaker sambil memberikan sebuah toples.

Ciel membukanya, dan...

"Biskuit berbentuk tulang?" tanya Ciel sambil mengernyitkan alis.

"Hi...hi...hi...kelihatannya anda lapar, jadi saya ingin memberikan biskuit saya itu..." jawab Undertaker dengan polosnya.

"..."

.

.

"Jadi, Undertaker hanya mempunyai ini sebagai petunjuk?" kata Ciel agak heran sambil mengacungkan sehelai bulu berwarna putih. Disebut bulu ayam, bukan. Disebut bulu angsa, juga bukan. Disebut bulu kucing, apalagi.

"Ya tuan. Walaupun agak sedikit tidak membantu, namun saya yakin ini dapat membantu kita untuk menemukan tersangkanya."

Ciel hanya menunjukan muka bingung tanda tak mengerti dengan kata Sebastian. Begitupun juga dengan author yang sama-sama tak mengerti. Sementara Sebastian hanya nyengar-nyengir gak jelas yang bisa mengundang kedatangan petugas dari rumah sakit jiwa di Inggris.

"Jadi bagaimana tuan? Kita kembali ke Jepang atau tetap disini sampai kita menemukan petunjuk selanjutnya?" tanya Sebastian.

Setelah beberapa detik berfikir, maka keluarlah dengan jelas kata-kata dari mulut sang tuan muda tersebut.

"Kita kembali ke Jepang dan menjemput utusan-utusan Konoha untuk pergi segera ke Inggris. Aku punya firasat kalau pelakunya adalah seseorang yang tinggal di Britania Raya ini."

.

.

Sebastian dan Ciel sudah kembali lagi ke Konoha. Saat ini mereka sedang berada di Kantor Hokage bersama Naruto, Shikamaru, Kakashi dan Shizune.

"Ciel-sama mengapa anda mengumpulkan kami semua disini?" tanya Kakashi.

"Yeah kau ini mengumpulkan kami pagi-pagi sekali. Merepotkan saja..." gerutu Shikamaru.

"Apa katamu?" tanya Ciel sambil memasang dathglarenya ke Shikamaru yang langsung diam dan memasang tampang malasnya.

"Mendokuse..." rutuk Shikamaru.

"Apakah semua sudah berkumpul disini?" tanya Sebastian yang celingak-celinguk kekanan dan kekiri.

"Eh, sepertinya belum. Mana Temari?" celetuk Naruto yang ikut celingukan.

"Katanya dia ada urusan sebentar diSuna." jawab Shikamaru dengan nada yang masih malas-malasan seperti biasanya.

"Oh begitu, baiklah kalau begitu kita mu..."

"Oh kami-sama! Ini gawat!" seru Temari yang tiba-tiba muncul didepan pintu ruang hokage, memotong omongan Sebastian barusan.

"Temari-san, ada apa? Seperti dikejar hantu saja," tanya Shizune yang berkedip-kedip heran.

"G-Gaara!" ucap Temari yang mencoba mengatur nafasnya.

"Gaara? Ada apa dengan Gaara, Temari-nee?" tanya Sakura kemudian.

"D-dia..." jawab Temari yang masih berusaha mengatur nafasnya.

"Hilang!"

.

.

To Be Continued~

Akhirnya chapter 2 selesai juga~

Terima kasih banyak untuk para readers yang mau membaca fic saya yang makin gaje dan garing ini -_-

Ya saya tahu, fic ini lebih pendek dari fic sebelumnya karena satu dan lain hal. Mohon maaf juga bila fic ini malah makin garing dan membosankan. Huaa saya baru sadar betapa hancurnya fanfic saya ini, huohuoo~ #gaplok #curcol.

Oke oke, berdoa sajalah saya akan membawakan chapter 3 dengan lebih humor, menarik, eksotis dan bombastis #halah.

Sekali lagi terimakasih untuk para pembaca. I'M REALLY APPRECIATE IT.

Review please? ^^

Kyoraa~