Disclaimer.

Masashi Kishimoto

Summary:

Naruto tahu, bahwa sakit hati mendatangkan trauma yang mendalam di benaknya. Kata cinta hanya kalimat yang sudah mati dan pergi begitu saja mencampakannya. Hingga ia sadar bahwa rasa itu kembali datang dengan sendirinya saat rasa keberanian muncul untuk mengubah semua.

(Bad summary)

Rate: T, T+

Genre: Comedy, Romance, School Life, Slice of Life and many more.

Warn: OOC, Typo, EYD ancur, Bahasa baku campur bahasa jaksel(?) dan bahasa sehari-hari/tidak baku.


Bab 1 - Chapter 2: Jadi Mentor!


.

Menjelang malam yang makin larut, rumah-rumah yang tampak mulai sepi di sekitar kota Konoha menjadi penanda waktu tidur telah tiba. Sebagian ada yang masih beraktifitas kecil didalam kediamannya atau sudah lebih dulu memposisikan rasa nyaman diranjang untuk tidur.

Salah satu rumah berpagar tinggi berukuran cukup besar milik keluarga Hyuuga juga terlihat hening dan hanya terlihat ada lampu dari jendela-jendela rumah yang terlihat dari jalanan.

"Aku beneran heran denganmu, kenapa kau bisa suka dengan murid yang lebih mirip preman itu dibandingkan yang lain dikelas kita."

"B-bukan begitu, t-tapi aku kan memang.."

"Yah, mau bagaimana lagi? Sebagai temanmu aku hanya bisa men-support sebisaku dan membantumu saja."

"M-maaf merepotkanmu, Hotaru-san.."

"Banyak kan yang tampan dan muda. Seperti Utakata-Sensei dan—Eh, Utakata-Sensei mah punyaku!".

Anak kedua dari tiga keturunan keluarga Hyuuga itu hanya tersenyum kecil saat teman dekatnya malah juga ikut curhat tentang guru yang ia sukai, padahal awalnya Hinata yang ingin curhat.

Saat ini mereka berbicara via ponsel, setiap malam menjelang tidur setelah belajar ataupun tidak belajar mereka pasti akan saling telepon-menelepon entah itu Hinata yang memulai duluan atau Hotaru pun juga.

Kadang-kadang mereka membahas hal aneh dan curhat tentang apapun, asal membuat acara teleponan itu tidak membosankan. Contohnya tadi—,

Hinata sendiri berada di ruang keluarga sambil tiduran dengan posisi terlentang pada sofa panjang berwarna merah gelap dengan tangan kanannya memegang ponsel dan tangan kiri memeluk bantal sofa, piyama tidur dengan corak teddy bear sedang ia pakai untuk tidur malam ini.

"Omong-omong, aku lupa menanyakan sesuatu saat di sekolah tadi."

"Hm? Soal apa?"

Sesekali kakinya yang lebih panjang dari sofa menggelayut pada ujungnya sambil tetap mendengarkan Hotaru berbicara dari ponsel.

"Ide pendekatanku soal 'dasi' berhasil kah?"

"A-ah, itu." Kakinya berhenti bergoyang dan ekspresi wajahnya kini sedikit lebih serius.

"Bagaimana? Apa dia mulai tertarik?"

"Bisa dibilang begitu sih.." Bagian pinggir bantal kecil yang ada dipeluknya ia sedikit remas-remas sambil mencoba biasa saja dari sikap gugupnya yang datang lagi.

"Terus, terus? Dia menciummu?"

"B-bukan, ih!"

Secara cepat Hinata merubah posisinya menjadi duduk di sofa sambil mengerucutkan bibirnya. "D-dia tidak senekat itu lagipula kok..'

"Lalu?"

Hinata perlahan mengingat tentang kejadian bersana Naruto yang terjadi saat ia sedang menuju arah pulang naik bus.

..

..

..

"Err.. Tidak boleh ya?" Tanya Naruto lagi sambil menatap Hinata yang menunduk malu.

"T-tapi mengenalkan namaku sendiri boleh kan?"

Sesekali dari ekor matanya, Hinata menatap Naruto yang tampak kebingungan untuk bicara dengannya, sambil melihat tangannya yang terus Naruto pegang dengan erat.

"B-boleh.." Lirih Hinata, namun dapat didengar Naruto dan membuatnya langsung semangat kembali.

"Namaku Naruto, Naruto Namikaze! Murid dari kelas 2-A ya, salam kenal!" Ucap Naruto dengan senyuman 5 jari.

Hinata hanya mengangguk, Naruto kembali bingung.

Cowok yang memiliki kulit tan itu kini mencari sesuatu yang aneh dari dirinya sehingga Hinata enggan menoleh, kemudian tersadar ketika tangannya masih memegang tangan Hinata seenaknya.

"E-eh, maaf. Kurasa aku tidak sopan main pegang tanganmu tanpa izin.. Hehe.."

"I-iya."

Kemudian hening, hanya ada bunyi mobil yang sesekali lewat dan mereka berdua yang saling berlawanan tatap muka. Bus sepertinya agak telat datang dan mau tidak mau mereka menunggu bersama didalam diam seperti sekarang.

Tangan Hinata meremat rok sekolahnya seperti merasa tidak nyaman dan menerka bahwa seharusnya keadaan mereka sekarang saling ngobrol, bukan diam seperti ini, tapi memang Hinata sulit untuk mencoba ramah seperti bersama teman-temannya kecuali orang yang tidak dikenalnya, tapi kalau sekarang kan orang asing itu spesial untuknya.

Perlahan wajahnya terangkat, menunjukan wajahnya yang memerah pada pipi dan bibir yang tertutup rapat.

"Apa kau memang selalu pulang sendiri seperti ini?" Naruto menoleh dan membuka pembicaraan.

"T-tidak, biasanya aku dijemput Kakakku.."

"Lalu? Kakakmu sedang tidak bisa menjemputmu hari ini?" Bingung Naruto.

Hinata menggeleng. "H-hari ini aku ke perpustakaan dahulu setelah pulang bersama temanku.."

"Oh, aku paham. Jadi hari ini kau izin untuk pulang agak telat dan meminta Kakakmu untuk tidak menjemputmu?"

"I-iya."

"Yah, tidak apa-apa kok sesekali pulang telat, lagipula naik bus juga asik kalau menikmati perjalanannya."

Hening kembali, mungkin karena Hinata tidak punya balasan basa-basi setelah Naruto mengucapkan itu.

Tapi sebenarnya, ia menyadari sesuatu tentang masalah disekolah saat jam istirahat berlangsung. Masa, pagi muncul tiba-tiba dan main ikat dasi seseorang kemudian siangnya malah merusak makanannya. Bukannya itu tidak baik?

"A-aku minta maaf.."

Sepertinya rasa keberanian untuk tukar bicara dengan Naruto sudah mulai Hinata biasakan saat ini.

"Maaf untuk?"

"S-soal ke-kejadian aku menabrakmu."

"Menabrak?" Naruto amnesia mendadak sambil melihat langit untuk coba mengorek pikirannya.

"Oh, iya. Tapi—"

"T-tapi?" Hinata perlahan menoleh kearah Naruto.

"..."

Naruto bersedekap dan memejamkan matanya. "Ya, aku memang sudah memaafkan hal tadi."

"Tapi aku minta pertanggung jawaban."

"E-eh?"

"Soalnya makanan itu, hampir rata-rata sudah kotor saat aku bawa kembali ke kantong makannya." Bohong Naruto yang dibuat-buat seperti nyata.

"A-astaga.."

"Jadi sebagai gantinya, uang jajanku dipalak teman-temanku karena makanan mereka kubuat jatuh dan kotor." Bohong Naruto (lagi).

Wajah Hinata yang awalnya malu kini menjadi sedikit takut ketika Naruto meminta tanggung jawab karena perbuatannya. Kayaknya memang kecerobohannya karena lari dikejar Hotaru hingga menabrak Naruto itu cukup berlebihan, sudah kewajiban Hinata harus mengganti kerugian Naruto.

Tangannya kini saling meremat satu sama lain.

"Maaf, a-aku benar-benar minta maaf!" Hinata menundukan wajahnya dan ber-ojigi didepan Naruto berulang-ulang.

"Waduh." Ucap Naruto pelan sambil menatap Hinata kaget

Kayanya iseng Naruto berlebihan deh. Sampe Hinata kaya gitu coba, parah memang. Padahal mah temannya biasa-biasa aja dan makanan aman sentosa.

Hanya saja mumpung ada kejadian seperti ini, akhirnya Naruto memutuskan memanfaatkan kejadian ini untuk 'niat'nya yang sudah ia matang pikirkan saat disekolah.

"A-aku akan ganti semuanya.. S-sebutkan saja nominalnya!"

"Eh, tunggu, tunggu! Aku hanya ise— Maksudku tidak perlu sampai mengeluarkan uangmu!"

Naruto menahan Hinata yang panik ketika membuka tasnya untuk mencoba mengganti kerugian Naruto yang di buat-buat.

Lantas Hinata bingung bukan main, kemudian mengurungkan niatnya mengambil dompet yang berada dalam tasnya.

"Ehem—" Dehem Naruto.

"Soal kerugian nominal uang tidak masalah kok, kadang mereka juga sering berhutang padaku."

"...?"

"Aku ingin meminta ganti ruginya dengan cara lain."

Mengambil nafasnya kembali, kemudian Naruto sedikit mendekatkan jarak dengan Hinata hingga gadis itu malah jadi salah tingkah.

"Ini." Naruto menunjuk dasinya yang masih rapih terikat.

"K-k-kenapa?" Tanya Hinata gagap.

"Aku memiliki kebiasaan, yaitu tidak bisa mengikat dasi sejak kecil hingga sekarang." Dengan memainkam dasinya, Naruto mencoba menjelaskan ucapannya secara rinci.

"Hari ini saat melihatmu memakaikan dasiku, aku jadi tertarik akan sesuatu." Naruto kembali membiarkan dasinya pada kerah dan bersedekap kembali.

"Secara gamblang saja, aku ingin kau jadi mentorku untuk mengajariku bagaimana mengikat dasi yang rapih."

"Eh?"

"Hanya sementara, sampai aku bisa mengikat dengan benar."

Permintaannya kok aneh sih? Hinata malah makin bingung mau jawab gimana. Bahkan bibirnya ia gigit sendiri karena merada aneh dengan permintaan Naruto.

"Emm.."

Sebenarnya tidak masalah sih, Hinata mau saja asalkan kerugian yang ditimbulkannya dapat terganti. Hanya saja ia masih ragu, mereka juga baru bertemu secara empat mata hari ini. Ada rasa senang juga karena Hinata bisa dekat dengan Naruto, apa ia terima saja pemawaran Naruto ya?

"B-berapa lama?" Tanya Hinata tanpa menatap Naruto.

"Mungkin sebagai percobaan.. 3 hari saja dahulu. Kau setuju?"

"..."

"Bagaimana?".

"B-baiklah.."

..

..

..

"HAH! KOK DIA JADI KURANG AJAR SIH? PADAHAL KAU TIDAK SENGAJA KAN MENABRAKNYA!"

Refleks jarak telinga pada ponsel miliknya diberi jarak cukup jauh ketika Hotaru sudah meninggikan nadanya sambil emosi.

"Y-ya, sebenarnya salahku.."

"Ya ampun, Hinata."

Hinata hanya diam sambil tetap memainkan bantal dan menenggelamkan wajahnya pada bantal tersebut.

"A-apa jawabanku salah?".

"Tentu saja!"

"Tapi setelah aku pikir-pikir, dengan cara konyol dia meminta rugi ini akan membuat kalian cepat akrab."

"Kok?"

"Iya, otomatis kalian akan lebih sering ketemu, entah itu mengajarinya memakai dasi atau ngobrol juga bisa."

Hinata diam, memikirkan ucapan Hotaru yang sedang dicernanya.

"Halo, Hinata?"

"Tidur yuk, aku mendadak mengantuk.."

"Oh? Ayuk! Aku baru sadar kita sudah bertelepon selama 2 jam ya."

Hinata hanya tersenyum ketika Hotaru diseberang sana terkekeh.

"Baiklah. Jaa, Hinata!".

"J-jaa, Hotaru-san!"

"Tidur nyenyak dan mimpikan Naruto sayang ya~"

"M-mou!"

Piiip!

Ponselnya ditaruh pada meja dekat sofa dan kini posisi Hinata tiduran miring sambil tetap memeluk bantalnya.

"Dasi ya?".

Mata lavendernya memejam dan ia mengusap wajahnya dibantal, membayangkan hari esok yang entah kenapa membuatnya cukup penasaran dan mendatangkan semangat untuk bangun lebih pagi. Untuk berterima kasih dengan Hotaru dan tentu saja yang baru saja mereka bahas.

.

.


Halaman sekolah Konoha Gakuen terbilang sudah cukup ramai pada pagi hari ini, para gerombolan murid berbarengan masuk dikarenakan bel masuk beberapa menit lagi akan berbunyi. Sehingga ada yang buru-buru untuk masuk atau masih cukup santai berjalan masuk.

Dipintu masuk gerbang, salah satu murid berdiri disana sambil menengok kearah manapun seperti mencari seseorang, sikap badannya tegap, kedua tangannya menelungkup pada dadanya dan saling meremat erat.

Mata lavendernya bergulir, melihat wajah-wajah dari tiap murid untuk memastikan bahwa orang yang ditunggunya tidak lewat begitu saja darinya.

"Naruto.."

Salah seorang siswa yang berjalan mendekat sambil memasukan kedua tangan pada sakunya membuat siswi itu refleks memanggil nama dari siswa itu dengan lirihan.

Pada awalnya Naruto menolehkan kepalanya keatas, namun ketika ia menundukan kepalanya kembali, wajahnya menunjukan ekspresi bingung karena siswi yang kemarin sempat 'bertegur' dengannya melihat kearah Naruto.

"Ohayō." Sapa Naruto ketika jarak mereka sudah dekat sambil tersenyum.

"O-ohayō.." Balas siswi itu dengan tergagap.

"Kau menungguku?"

Siswi yang ternyata adalah Hinata, mengangguk. "I-iya."

"Sebenarnya tidak perlu sih kau menunggu, aku sering datang agak siang."

Naruto menggaruk kepalanya yang mendadak gatal sambil memasang wajah menerka.

Tapi matanya menangkap raut kecewa dari Hinata setelah barusan mengucapkan itu. "Ma-maksudku, jangan sampai kau telat masuk kelas karenaku lho."

Hinata mengangguk pelan. "Ti-tidak apa-apa."

"Baik.. lah."

"Sesekali telat masuk juga menyenangkan kok." Balas Naruto, mengajarkan sesuatu yang buruk sambil tersenyum.

"A-ada janji."

"Janji?"

Hinata mengangguk kembali, membuat Naruto menebak apa yang siswi itu maksud. Tapi kemudian Naruto terkekeh pelan ketika ingat tentang kemarin.

"Iya, benar. Kita membuat kesepakatan. Aku baru ingat hehe." Ucap Naruto Tetap mempertahankan senyumnya.

"Tapi kurasa kalau sekarang melakukannya, waktunya tidak keburu. Bagaimana saat istirahat saja nanti?"

"E-eh? I-istirahat?"

Naruto manggut. "Kau tidak ada kegiatan saat istirahat makan siang nanti 'kan?"

"T-tidak." Balas Hinata singkat.

"Yosh!"

Naruto mengulurkan tangannya kepada Hinata. "Yuk, kita masuk. Beberapa menit lagi bel masuk akan berbunyi."

"H-he?"

Tangan Naruto yang nampak cukup besar bagi Hinata ditatapnya sambil mencerna ucapan Naruto yang terdengar 'agak' berani.

Naruto sendiri kaget karena Hinata malah terlihat ketakutan baginya.

"Eee.. M-maaf aku memang lancang."

!

Saat tangannya ingin diturunkan, Hinata meresponnya dan menggenggam kembali tangan Naruto sambil menundukan wajah.

Hinata yang tampak malu saat tangannya terulur dan digenggamnya, entah mendatangkan rasa nyaman dalam hati. Reaksi, tanggapan yang diberikan siswi bermata lavender itu seakan memberitahunya bahwa gadis ini begitu polos dan butuh perlindungannya.

"Okay!"

Senyuman secerah hatinya Naruto berikan yang terbaik, sambil menarik pelan tangan Hinata, membuat siswi itu menoleh lalu mengikuti tarikan tangannya. Berjalan beriringan dengan tangan yang saling tertaut cukup erat.

"Sekarang kau 'kan mentorku, jadi aku harus memperlakukan mentorku dengan hormat dan baik." Ucap Naruto, kemudian mengalihkan pandangan kearah depan.

Mulut Hinata sedikit terbuka ketika ia bereaksi pada ucapan Naruto, tangan kirinya yang bebas menutup mulutnya yang masih terkejut akan sikap Naruto yang begitu hangat saat ini.

..


..

"Eh, tidak makan siang bersama dulu hari ini?"

"I-iya, tidak apa kan, Hotaru-san?"

"Tumben."

Ketika jam istirahat tiba, kedua teman dekat ini biasanya akan mengobrol dulu di depan kelas mereka yaitu 2-B kemudian makan bersama di kantin atau saling membawa bekal sendiri.

Tapi kali ini Hinata meminta izin untuk tidak makan bersama dulu dengan Hotaru, tentu saja membuat temannya itu benar-benar bingung karena tumbenan Hinata meminta izin kayak gini.

"Kau lagi ngga laper? Atau jangan-jangan..."

Siswi berambut coklat itu tersenyum ketika sadar maksud Hinata yang tidak langsung jujur padanya. Tangannya bersedekap sambil tetap mempertahankan senyuman.

"Yasudah, cepat sana. Nanti kekasihmu lari dibawa orang lho."

"Hmmph!" Hinata manyun karena candaan Hotaru. "M-maaf ya, Hotaru-san."

"Tenang saja kok." Hotaru mengedipkan matanya.

Setelah meminta izin dengan baik, Hinata berjalan agak cepat menuju tempat pertemuan mereka di tangga dekat ruang guru dekat ruang guru yang hanya beberapa menit untuk melewatinya.

...

Sementara itu.

"Iya! Nanti langsung balikin kalau sudah selesai!" Ucap Naruto agak keras kearah Kiba yang pergi kearah perpustakaan.

Buku catatannya baru saja dipinjam karena maniak anjing itu alias Kiba lupa bahwa hari ini habis istirahat ada PR merangkum dari Ibiki-sensei yang harus dikumpulkan secepatnya.

Untuk masalah killer jika dibandingkan Anko-sensei, memang sama-sama killer kok, hanya saja Ibiki-sensei lebih menakutkan. Kok bisa? Ya jelas, bekas luka seperti sayatan di kedua pipinya dan tampang garang yang dingin pasti membuat siapa saja takut karena Ibiki-sensei lebih mirip Yakuza daripada guru.

Makanya setiap murid akan langsung mengerjakan tugas dari beliau daripada mereka dicekik atau diberi luka sepertinya. Ya, ngga gitu juga sih, palingan masuk daftar murid yang bermasalah pada buku catatan Ibiki-sensei.

Iya itu saja, sih. Makanya Kiba panik karena Naruto baru ingetin PRnya pagi tadi.

Keasyikan bengong karena Ibiki-sensei, malah Naruto tidak menyadari kegiatan menunggunya di dekat tangga diperhatikan dari jauh oleh Hinata yang masih agak malu untuk menyapa duluan.

Setelah berpisah pegangan tangan saat pagi tadi, mereka sepakat untuk ketemu disini nanti saat istirahat, sambil menentukan juga tempat yang cocok untuk memulai latihan tanpa terlihat atau terganggu penghuni sekolah yang lain.

Ketika Naruto sedikit sadar, wajahnya menoleh kearah Hinata lalu menatapnya dengan bingung.

"Hey! Kok diem disana?"

Ketika ia merasa dipanggil, Hinata tersentak dan berjalan pelan menuju Naruto.

"M-maaf aku melamun."

"Oh ya? Kayanya yang melamun aku deh soal Ibiki-sensei." Balas Naruto sambil memegang dagunya yang tanpa janggut.

"Omong-omong, benar'kan saat istirahat ini kau tidak ada kegiatan lain?" Lanjutnya sambil mengubah posisinya menyender pada dinding.

"Memastikan kembali saja sih."

Hinata menggeleng. "H-hai, aku sudah izin pada te-temanku kok."

"L-lagipula aku harus me-membayar hutangku kemarin "

"A-ah, kayanya aku punya tempat yang cocok deh." Naruto buru-buru ganti topik karena Hinata membahas perjanjian mereka.

"Ayo!"

"E-eh?"

Melewati kelas, kantin, aula depan sekolah, hingga lapangan mereka terus berjalan dengan keadaan Naruto yang menjadi pemandu lokasi tujuan mereka.

Hinata hanya mengikuti dengan gerakan agak cepat karena sesekali Naruto berlari dan membuatnya hampir tertinggal, tapi tidak ada rasa marah karena Naruto seperti tadi, mungkin dilakukannya agar tidak ada murid lain yang melihat mereka berdua.

Tapi tetap saja sih, rata-rata murid dapat melihat gerakan mereka dengan tatapan beragam, ada yang terkejut dan ada yang biasa saja. Meski begitu, Hinata hanya menunduk malu setiap kali ada murid yang melihat.

"Sedikit lagi sampai kok." Ucap Naruto sedikit menoleh.

Hinata diam, bingung menjawabnya.

"Nah, sampai!"

Tanah lapang yang berada dibelakang sekolah ternyata lokasi tujuan Naruto. Memang tidak ada yang akan lewat disini, karena lokasi ini cukup jauh dari kantin dan kelas.

Naruto mencetuskan ide konyol ini saat sebelum tidur semalam, dan inilah yang menurutnya paling aman selama bersekolah di Konoha Academy.

Kini mereka berdua saling berhadapan dibawah pohon yang rindang dekat dinding sekolah.

Dasi yang Naruto simpan dikantung celana ia keluarkan lalu mengalungi dasi pada kerah seragam sekolahnya.

"Nah, aku akan mencoba melakukannya sendiri dulu kali ini."

Gerakan pertamanya adalah mengaitkan bagian kepala dasi diatas bagian ekor dasi secara melingkar. Setelah terlihat ada lipatan diantara ekor dan kepala dasi, Naruto memasukan bagian kepala lalu menariknya hingga bentuk simpul dasi terbentuk.

"Yaaah.. Cuma ikatan asal seperti ini aja sih aku bisanya." Naruto malah sweatdrop sendiri melihat karyanya.

Memang sih terpasang, tapi kalau dilihat malah kelihatan miring ikatannya dan aneh pula—

"B-bukan begitu."

"He?"

"K-kalau seperti itu b-bukan ikat dasi."

Dengan segenap keberanian, Hinata sedikit memajukan dirinya pada Naruto dan menjinjitkan kakinya agar ia dapat dengan mudah melepas ikatan dasi Naruto.

"Setahuku kayaknya musti diikat dulu bagian tajamnya dengan bagian kotak ini." Dengan menunjukan bagian kepala dasinya Naruto memberitahu Hinata.

Tapi Hinata malah tertawa pelan ketika Naruto menyebut bagian pada dasi dengan aneh, membuat Naruto mengerucutkan bibirnya seketika.

"Kok malah ketawa?"

"M-maaf." Hinata tersenyum kecil. "Penyebutanmu lu-lucu."

Hinata menunjukan kepala dasi yang berbentuk seperti bangun belah ketupat pada Naruto. "Ini bagian kepala dasi."

"Ini ba-bagian ekor dasi." Lanjut Hinata menujukan bagian ekor yang mirip persegi panjang.

"Bagian.. apa?" Naruto menggaruk kepalanya yang gatal karena bingung dengan penjelasan Hinata.

Hinata mengulanginya beberapa kali namun Naruto terkadang masih terbalik membedakan bagian-bagian ujung dasi, secara sabar pun Hinata menjelaskannya kembali.

"Ini kepala, ba-bagian tajamnya dasi." Tunjuknya pada bagian kepala dasi.

"I-ini ekor, bagian k-kotak dasi."

"Kepala? Ekor?"

Naruto menatap ujung dasi itu berulang kali bergantian sambil menyebutkan 'Kepala, Ekor', yang malah membuat Hinata kembali tertawa karena ketika Naruto menyebutnya tanpa koma, malah terdengar seperti 'Kepala Ekor Kepala'.

"Ah! Pusing aku, sebut saja bagian tajam dan kotak!".

"H-Ha'i." Hinata menutup mulutnya sendiri untuk menahan tawanya.

"Nah, Shisō baru saja melihat kebodohanku! Tolong ajari aku bagaimana menggunakan dasi yang baik!"

Ala tentara, Naruto memanggil Hinata dengan panggilan aneh sambil tangannya berpose hormat gerak secara dadakan saat setelah ia emosi sendiri.

"S-Shisō?" Balas Hinata bingung dengan panggilan namanya.

"Ya! Karena Shisō adalah mentor kursus dasi untukku dalam beberapa hari kedepan!"

"Oleh karena itu aku harus bersikap hormat kepada Shisō!" Lanjut Naruto.

Wajah Hinata malah memerah seketika dan menundukan wajahnya malu, sebutan Naruto itu entah kenapa membuatnya benar-benar merasa aneh.

Naruto menurunkan tangannya dan bersikap biasa lagi. "Sebelumnya.."

Naruto berdehem. "Aku ingin tau nama lengkap Shisō. Kemarin Shisō tidak sempat menyebutkannya!"

"E-eh?" Hinata menatap Naruto.

"H-Hinata Hyuuga.."

Singkat, padat dan jelas. Tanpa embel-embel lain dan hanya menyebutkan namanya.

"Hyuuga, ya?" Tanya Naruto.

"Atau kupanggil Hinata saja?"

"T-terserahmu." Balas Hinata.

"Okesip, Hyuuga-Shisō!"

Perbincangan yang terbilang unik itu dilanjutkan dengan Naruto kini mendengar arahan dari Hinata ketika tangannya kembali sibuk untuk membuat ikatan dasi yang rapih.

Dengan telaten, sabar, Hinata pelan-pelan memberitahu langkah-langkah yang simpel agar Naruto cepat paham.

"Ini?"

"S-salah!"

Naruto malah ngiket dasi kedagunya.

"Begini?"

"I-itu malah le-lebih mirip ikat sepatu.."

Hinata kembali membantu kebahlulan Naruto.

"EEEKK! LE-LEHERKU!"

"Eh, s-salah! Ja-jangan masukan bagian tajamnya!"

Barusan adalah pertunjukan Naruto yang malah mengikat kencang atau—bahasa kasarnya membetot dasi hingga kerah seragamnya malah mencekik lehernya sendiri.

Meski kadang memang Naruto itu ngga nyambung kalau diberi arahan begitu tapi dilakuinnya malah begini.

Cukup lama, Hinata berulang kali mengikat dasinya dan melepas kembali agar Naruto mempraktekkannya, sampai keajaiban(?) akhirnya muncul juga.

"Lipatannya ada, lalu masukkan..."

Sreet!

Naruto diam sesaat ketika hasil akhirnya beneran rapih seperti yang dilakukan Hinata, antara memikirkan ini beneran atau ia merasa ada yang salah.

"Akhirnya!" Naruto memainkan dasinya yang sudah terikat rapih tersebut dengan menariknya pelan.

"Shisō memang luar biasa!" Badannya menunduk ojigi pada Hinata dan membuat siswi itu kembali kaget.

"I-Iee, aku hanya me-memberi langkah-langkahnya saja "

"Tidak." Naruto menggeleng. "Karena Shisō aku bisa dengan rapih melakukannya."

"Sebenarnya sih.. A-ada beragam cara mengikat dasi."

Omong-omong, Hinata sebelum teleponan dengan Hotaru kemarin, dari internet ia mencari-cari referensi tentang hal yang berkaitan dengan benda panjang itu agar saat mengajari Naruto ia tidak salah melakukannya.

Tapi ia menemukan berbagai cara mengikat dasi, mulai dari yang mudah sampai sulit. Mungkin karena referensi ini, Hinata berani mempraktekkannya pada Naruto.

"Benarkah?" Tanya Naruto.

"Kalau begitu besok aku ingin Shisō mengajarkanku dengan cara yang lain!" Memasang tangan hormat kembali Naruto.

Diberi permintaan seperti itu, Hinata diam dan mengangguk pelan, menatap Naruto dengan wajah yang memerah dan senyuman kecil dibibirnya.

"Ha'i!" Jawab Hinata, sambil melebarkan senyumnya yang mulai ia beranikan.

Relung dadanya terasa hangat.

Percakapan aneh, kursus dasi, dan panggilan dari Naruto padanya, membuat kupu-kupud alam perutnya terbang dengan indah menuju hati hingga menimbulkan sensasi aneh pada tubuhnya.

Sebenarnya tujuan ini hanya untuk mengganti masalahnya kemarin, tapi dilain sisi rasa senang mengalir dalam lubuknya. Sejenak ia sudah mulai berani berekspresi melupakan malu yang perlahan pudar didepan Naruto karena rasa senang ini.

Mungkin 'kah jatuh cinta seunik ini?

Mereka menikmati kegiatan mereka dengan seru dan lupa akan sesuatu, karena jam istirahat hampir habis dan mereka belum makan siang.

.

.


"Ini bukumu. Aku tidak sempat menaruhnya kembali ke dalam tasmu ketika istirahat hampir habis."

"Oh, jangan lupa beliin Steam Wallet ya."

"Weh, kambing! Kau tidak bilang harus ada imbalannya!"

"Haha canda kok."

Koridor sekolah mereka lewati dengan saling canda, cahaya langit sore menerangi koridor dari jendela pada bagian kanan dinding koridor, bayangan mereka terpantul bersama dengan tawa yang keluar dari mereka.

"Kali ini kau yang kukerjain. Enak kan?" Naruto bersedekap sambil mengangkat kepalanya sedikit sombong.

"Jadi kau sengaja tidak memberitahuku secara langsung lewat chat saat kemarin malam agar aku dihukum, hah!" Seru Kiba menunjuk wajah Naruto.

"Aku ngga bilang begitu kok."

"Halah! Kampret memang kau!"

Naruto menghela nafas. "Tapi selesai juga kan rangkumanmu."

"Iya juga sih.."

Jam pulang sekolah baru 10 menit berbunyi, tapi sekolah sudah nampak cukup sepi jika diperhatikan. Apa memang Konoha Gakuen ini memiliki murid dengan ilmu teleportasi?

Setidaknya kan bisa ajari Naruto dan Kiba, agar mereka bisa dateng dan pulang tanpa takut terlambat lagi. Tapi sih kayanya memang muridnya gerak cepet kalau jam pulang sudah tiba.

Oke lupakan, itu ngga jelas sama sekali.

"Btw, kau masih main CS:GO?" Tanya Kiba yang mengalihkan topik.

"Jarang sih, kebanyakan toxic jadi malas main aku."

"Kalau begitu selingkuh ke game sebelah aja yuk!"

"S-selingkuh?"

"Iya, ada game tembak-tembakan baru yaitu—"

Naruto berhenti berjalan dan mendadak ucapan Kiba tidak didengarnya, tatapannya tertuju pada jendela kaca koridor menuju kearah halaman tengah sekolah yang memiliki taman kecil dan bangku-bangku kayu dibawah pohon.

Bola mata birunya terpaku, seakan hanya objek yang disorot kedua matanya itu menghipnotis pikiran.

"Naruto?"

Kiba menoleh kebelakang dan melihat Naruto yang ada dibelakang. "Woi!"

"Kayaknya aku ke perpustakaan dulu deh."

"Loh, tumben. Kau kesambet apa?"

Naruto menoleh ke Kiba. "Aku jadi ingat bahwa ada buku yang ingin kupinjam."

"Oh.. Yasudah deh.." Selidik Kiba dengan mata yang sedikit tertutup.

"Maaf ya!"

Setelah mengucapkan itu, Naruto pergi meninggalkan Kiba yang masih bingung dengan sikap temannya tersebut. Menggaruk kepalanya, lalu Kiba mengedikkan bahunya sambil melanjutkan berjalan pulang.

"Mau insaf dari bandel sepertinya."

Selepas itu, Naruto berlari menuju lantai dasar dari anak tangga dekat koridor yang berlawanan arah dari Kiba yang menuju halamdan depan sekolah dengan cepat. Tapi malah membuat nafasnya tersengal karena main ngibrit aja tanpa perencanaan.

"Waduh.. Ambil nafas dulu deh.."

Dengan badan tertunduk dan tangan menumpu pada bahu, sesekali secara teratur Naruto menghirup banyak oksigen dan mengeluarkannya untuk mengisi paru-parunya yang habis oksigen karena kegiatan larinya.

Kini ia berdiri persis dihalaman taman hijau sekolah setelah melewati anak tangga, yang tujuannya adalah seseorang duduk dekat bangku taman saat ia melihatnya dari lantai atas.

Jarak mereka beberapa meter, tapi Naruto merasa orang itu tidak menyadari ada dirinya.

Kemudian ia berjalan sambil sedikit merapihkan bajunya yang sedikit berantakan karena berlari sambil mengelap peluh pada kening.

"Halo, Shisō!" Ucap Naruto ketika jarak mereka kini hanya 3 meter.

Shisō-nya atau Hinata menoleh dari acara melamun memandang langit biru kejinggaan kearah Naruto dengan wajah bingung.

"Na-Namikaze-san?"

"Maaf menganggu, hehe." Naruto tersenyum 5 jari.

"Aku berencana langsung pulang saat ini, tapi aku melihat Shisō sendirian dari lantai atas. Jadinya aku datang menyapa saja deh."

"Begitukah?" Tanya Hinata.

"Benar!" Balas Naruto.

"Bolehkah aku duduk disampingmu Shisō?"

"Eh? Ma-maksudku, silahkan.."

Kini Naruto duduk bersama Hinata, awalnya saling tegur sapa dan jadi saling diam karena sibuk dengan pikiran masing-masing mereka.

Naruto menatap langit, seperti yang Hinata lakukan sebelumnya. Sementara Hinata menundukan kepala melihat jarinya yang ia mainkan diatas rok sekolahnya.

"Apa kau selalu sendiri seperti ini, Shisō? Seperti kemarin di halte?"

Siswi itu berhenti memainkan jarinya dan menoleh pelan. "N-ngga juga kok."

"Lalu?"

"T-temanku pulang lebih dulu, da-dan aku menunggu un-untuk dijemput

"Oh iya, aku lupa Shishō bilang kemarin bahwa biasanya Shisō dijemput." Naruto menggaruk pipinya karena merasa aneh nanya hal yang sama seperti kemarin.

"Hm. Kukira Shisō menunggu seorang pacar disini."

"Eh?" Hinata kaget dan sontak berdiri tegap. Sehingga Naruto ikutan terkejut dan menatapnya.

"Tidak!"

Terkejutan Naruto mendadak jadi rasa bersalah, jawaban dan balasan Hinata ini tidak diduganya sama sekali

"S-Shisō?"

"E-eh?"

"...?"

"Huwaaaaah!"

Hinata menjongkokkan badan dilantai taman sambil menutup wajahnya yang sekarang memerah sempurna karena bertingkah aneh didepan Naruto. Mana sambil teriak pula barusan, uhh!

Bahkan lawan bicaranya hanya kedap kedip sambil terus memikirkan tingkah awkward mereka masing-masing.

"A-a-aku malu.."

"S-Shisō..?" Ucap Naruto terus bertanya.

"M-m-maaf berteriak.. Dengan kencang.. Barusan.." Hinata terus mengusap wajahnya dengan nada bicara putus-putus, imej-nya didepan Naruto hancur lebur sudah—.

"T-tidak apa.. Kok." Naruto ikut-ikutan putus bicaranya.

"Aku senang Shisō sudah mulai berani bicara dengan bebas padaku."

"Huh?" Hinata mengangkat wajahnya.

Naruto ikut berjongkok sambil sesekali pandangannya melihat kearah lain.

"I-iyaaa.. Aku kira pembicaraan kita akan terus alot karena kemarin aku memaksa untuk melakukan perjanjian dasi dengan Shisō.. Karena yang aku tahu Shisō itu pemalu saat pertama melihatnya.."

"Be-begitu.." Sambil tetap mendengarkan, Hinata menundukan wajah menatap lantai taman.

"T-tapi aku senang kok, Shisō benar-benar mengajariku dengan sabar dan telaten.. Meski aku kadang bebal saat diajari tadi dan juga, kita baru saling mengobrol hari ini." Naruto tersenyum mengingatnya kembali.

"Aku hanya ingin Shisō terus mengajariku sampai aku benar-benar bisa mengikat dasi."

Perlahan, posisi jongkoknya malah turun dan membuat Naruto terduduk dengan posisi kaki terlipat.

"Untuk soal ganti rugi, aku sudah tidak memperdulikannya. Selama 3 hari ini aku hanya ingin Shisō mengajariku tanpa ada latar masalah dibaliknya.."

Entah mengapa, mendengar itu pertahanan hati Hinata goyah, membuat perasaan berdebar-debar dalam hati semakin tidak dapat ia tahan hingga tangannya meremat dadanya sendiri, berusaha menenangkan isi hati.

"B-boleh.. kah?" Tanya Naruto meyakinkan, sambil merubah tatapannya kearah Hinata.

"Iya.. Terima kasih."

"Beneran?"

Hinata berdiri tegap, hingga Naruto mendongak dan ikut berdiri sambil memasang wajah bertanya-tanya.

"W-waktunya hanya 3 hari.. Aku akan mengajari dengan baik hingga selesai.."

Saat itu, tatapan mereka bertemu secara langsung, saat bola mata berbeda warna itu saling melihat.

Naruto bersumpah, senyuman dari siswi itu kali ini sangat manis, begitu tulus dengan rona di pipinya, rambut birunya yang cocok sebagai mahkota dan bingkai wajahnya. Tanpa sadar wajahnya ikut memerah dengan mulut yang sedikit terbuka.

Mungkin saat ini yang bisa dijelaskan adalah.

'Saling terpana pada lawan bicara."

..

..

"Na-Namikaze-san sudah mengetahui namaku dari Kiba-san ya.."

"He'em, maaf sebelumnya aku menanyakan nama Shishō lagi." Naruto tersenyum iseng

"Shishō ingat siapa Kiba kan?"

"M-mungkin, a-aku masih kesal dengan Kiba-san." Hinata mengerucutkan bibirnya.

"M-masalah itu 'kah? Aku juga sudah dengar darinya."

"Kalau aku satu kelas dengannya sejak SD dulu, mungkin saat Shisō di isengin sudah aku lempar bangku ke kepalanya itu!" Jawab Naruto berapi-api sambil mengepalkan tangan.

Cemberut Hinata hilang dan kini malah tertawa melihat Naruto yang mulai random dengan menunjukan gerakan ala kung-fu didepannya.

Setelah bicara dari hati ke hati yang dadakan beberapa menit sebelumnya, mereka kini berjalan bersama yang dimana lokasi sat ini berada pada halaman depan sekolah menuju gerbang keluar. Ini karena Naruto tidak ingin sang Mentor menunggu dengan bosan di taman hijau sekolah sendirian.

Maka dari itu, Naruto mengajak Hinata untuk menunggu saja didepan gerbang sekolah. Sekalian ditemani Naruto biar ngga ngebosenin banget nunggunya, biarlah Naruto pulang agak telat hari ini.

"Hotaru-san malah cemburu saat a-aku bilang bahwa kursus dasi hari pertama ini sukses."

"Hotaru-san?" Tanya Naruto.

"I-iya, teman sekelasku."

"Hmm, apa dia marah saat aku melakukan perjanjian denganku?"

"A-ano.. Soal itu.. Dia malah mendukungku.."

"Hah? Kukira dia akan membela dan menampar wajahku karena kurang ajar meminta hal aneh padamu!" Naruto facepalm.

"Entah kok sekarang banyak banget orang aneh di lingkungan sekolah ini."

Naruto malahan tidak peka apa yang Hinata maksud dengan Hotaru, sudah terang-terangan mengatakan itu tapi jawaban si kuning itu malah ngelantur kemana tahu. Kenyataannya sih hampir ditentang Hotaru tapi ngga jadi—.

Tapi yasudah, Hinata juga senang karena ia perlahan-lahan dekat dan tahu sifat Naruto untuk kedepannya nanti.

"Hobimu apa Shisō, kalau boleh aku tau?"

"Hm? M-mungkin membaca buku ya.. Kadang-kadang aku juga suka menjahit sih."

"Woah, menjahit? Ternyata Shisō punya bakat untuk jadi desainer ya!"

"H-hanya menjahit untuk iseng saja kok."

"Tetap saja itu luar biasa!"

"Kalau Namikaze-san?" Tanya Hinata.

"Aku?"

Hinata mengangguk.

"Main game aja sih di komputer, kadang-kadang juga di hp main game. Tapi aku lebih suka komputer."

"Gamers ya."

"Nah itu!"

Kemudian mereka tertawa bersama, hingga menyadari bahwa kini jalan aspal sudah terlihat didepan mereka yang saat ini pada gerbang sekolah.

"Memang siapa yang menjemput, Shisō?"

"Neji-Niisan, Kakak—"

Krak!

Bunyi tulang retak entah darimana muncul dibelakang Naruto.

"K-k-kakak?"

"Iya, ada apa memang Namikaze-san?"

"A-ah! Tidak kok!" Jawab Naruto sambil nyengir dipaksa

Waduh. Kalau Kakak Hinata persis seperti yang Kiba bicarakan, habis riwayat Naruto karena mungkin Kakaknya itu akan menanyakan untuk apa Naruto bersama Hinata. Sejenak ia memikirkan sesuatu.

'Membayar ganti rugi dengan kursus dasi'

Auto bogem mentah kayanya sih.

"Itu, dia. Mobil berwarna putih!"

Naruto mengikuti arah tunjukkan Hinata pada samping kiri jalan. Dari kejauhan, mobil yang berbentuk sedan cukup mewah berjalan dengan kecepatan rendah menuju kemari.

Deg-degan? Tentu saja! Apalagi kini mobilnya sudah berhenti didepan mereka!

Kaca mobil terbuka, Hinata langsung mendekati kaca mobil terbuka itu untuk menyapa sang supir mobil yang sepertinya tidak salah lagi adalah Kakak Hinata.

"Neji-Niisan mau turun?"

Alarm bahaya semakin kencang terdengar dikepala Naruto. Naruto sendiri? Udah komat-kamit baca doa.

Hinata mundur dan pintu mobil terbuka, dari mobil tersebut keluar seorang laki-laki dengan tinggi yang semampai melebihi Naruto, rambut panjang yang dikuncir ekor kuda dan pakaian kasual keren berdiri tegap menatap Hinata.

"Apa anda terlalu lama menunggu saya, Hinata-sama?"

"Hmm. Tidak kok."

"Kalau begitu mari masuk mobil."

"T-tunggu Neji-Niisan. Aku pamit dulu kepada temanku!"

"Teman?"

Hinata berbalik kearah Naruto yang udah banjir air keringat.

"Namikaze-san? Kau baik-baik saja?"

"H-hah? Yaaa tentu! Aku baik!" Jawab Naruto dengan nada aneh.

"Benarkah?"

"T-tidak apa kok! Kakakmu sudah menunggu tuh!"

"B-baiklah.."

Hinata melambai pada Naruto, lalu masuk dari kursi penumpang dan menutup pintu mobil. Namun Kakaknya Hinata tidak masuk juga, karena ia sedang menajamkan mata pada Naruto.

"H-halo! S-salam kenal, Ojii-san!"

"Ojii-san? Apa saya terlihat tua sampai kamu memanggil saya dengan panggilan itu?"

Salah, salah langkah. Benar-benar salah.

Kakak Hinata yang dipanggi Neji olehnya itu berjalan mendekat kearah Naruto dengan wajah dingin, jarak mereka dekat hingga Naruto sedikit mendongkak untuk melihat wajah Neji.

"Jangan dekati Hinata lagi kalau kamu masih ingin wajahmu itu tersusun rapih."

"Ha?"

"Nejii-Niisan!"

Hinata yang curiga dengan tingkah Kakaknya yang seperti mengintimidasi Naruto, turun dari mobil dan mendekati keduanya yang saling beradu pandang.

"Namikaze-san bukan orang jahat!"

"Hm. Wajah seperti Yankee ini cukup bahaya jika dekat dengan anda."

"Sudah! Kalau Neji-Niisan menghalangiku berteman dengan orang lain, jangan jemput aku lagi sampai kapan 'pun!"

"Sis—, Hinata.." Naruto kaget saat Hinata membelanya dan menahan Neji.

Setelah itu Hinata kembali masuk kedalam mobil dengan perasaan yang masih kesal hingga membanting pintu mobil dengan kasar.

Neji menatap mobil. "Cih."

Kemudian ia berbalik dan masuk kedalam mobil, menutup pintunya dan dari jendela yang terbuka itu ia menatap kembali Naruto.

"Pertimbangkan ucapan itu."

Setelahnya mobil berjalan kembali, meninggalkan Naruto yang diam ditempat, matanya yang tertutup bayangan rambut membuat ekspresi wajahnya sulit dibaca secara langsung.

"Sebenarnya.. Apa yang terjadi?"

..

..

To be Continued!