.
.
Rumor
Lord Elrond duduk di kursi ruang kerjanya di Rivendell, menunggu Gandalf tiba berkunjung. Sudah beberapa tahun sejak mereka bisa bertemu, tapi dengan banyaknya rumor buruk beredaran mereka menjadi terlalu sibuk untuk bisa meluangkan waktu untuk saling berbicara santai. Tapi sekarang, rumor-rumor yang beredar sudah terlalu mengkhawatirkan dan mereka harus mendiskusikannya.
"Ayah," Elrohir melangkah dari pintu. "Mithrandir sudah datang."
"Ah, persilakan dia masuk." Ia berdiri dan mulai berjalan ke balkon saat Gandalf si Kelabu tiba.
"Lord Elrond." Sang Penyihir menyambutnya dengan anggukan kepala.
Ia tersenyum. "Gandalf." Sambutnya kembali. Ia tampak sama seperti saat terakhir mereka bertemu. Pakaiannya kelabu seperti gelarnya, dengan hanya topi biru di kepalanya sebagai satu-satunya warna berbeda. Tongkatnya ia genggam dengan satu tangan, sementara pedang yang Elrond tahu adalah Glamdring terikat di sabuk pinggangnya. "Sudah cukup lama kita tidak bertemu, teman."
"Tentu. Apakah tujuanmu memanggilku ada hubungannya dengan rumor gelap yang sedang menyebar itu, Lord Elrond? Surat terakhirmu itu cukup mengkhawatirkan."
Elrond mengangguk. Ia bergerak duduk di kursi yang berada di balkon, sementara Gandalf mengambil kursi di seberangnya. "Banyak sekali rumor dan hal-hal yang buruk beredaran, temanku. Orc terlihat di sekitar Imlandris, menyerang desa dan kota Manusia, selalu menculik orang-orang saat mereka melarikan diri."
Kesedihan muncul di mata si Penyihir. "Tidak adakah yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan mereka yang diculik?"
"Aku telah mengirimkan para penunggang untuk melacak keberadaan kawanan Orc ini, tetapi itu sepertinya tidak diperlukan. Saat mereka menemukan kawanan Orc itu, mereka sudah mati dan penduduk desa yang diculik sudah kembali ke rumah mereka."
"Hmm... sungguh menarik." Gumam Gandalf. "Aku mendengar hal yang serupa dari Rangers Utara serta Rohan dan juga Gondor. Para Orc yang menyerang dan mengambil tahanan selalu dilacak kemudian dibunuh, para tahanan dibebaskan dan kembali ke kota dan desa terdekat. Sayangnya mereka tidak mengetahui siapa yang menyelamatkan mereka."
"Ya, aku tahu tentang itu. Sebulan yang lalu anggota patrol perbatasanku menemukan penduduk desa yang melarikan diri. Mereka mencari tempat perlindungan di Rivendell. Glorfindel sudah bertanya kepada mereka, yang mereka ingat hanyalah suara lonceng berdentang di udara dan sekelebat kain merah sebelum para Orc itu dibantai."
Elrond menghela napas. "Kami juga mendengar cerita yang serupa dari para pedagang yang singgah di Rivendell. Dan mereka mulai memanggil orang asing ini Nelladel."
Si Penyihir tersenyum, nada humor bisa terdengar dari suaranya, dan Elrond akan mengira Gandalf menganggap hal ini sepele jika ia tidak menyadari bagaimana mata penyihir itu berkilat dengan firasat. "Panggilan yang tidak buruk."
.
.
.
.
Path
"Ikuti jalur pepohonan ini; daunnya lebih cerah dan batangnya lebih besar. Mudah dibedakan dengan pohon biasa. Namanya Glass Glow, jangan sampai kalian salah mengenalinya."
Mata bocah perempuan itu membesar saat menatap daun hijau seperti kaca ditangannya. Jari telunjuk kecilnya meraba perlahan gurat-gurat daun yang memancarkan sinar redup.
Ia tersenyum dalam hati. "Pastikan kalian tidak keluar jalur, jika tidak kalian akan tersesat, mengerti?"
Tatapan mata anak itu beralih ke arahnya. "Y-ya, Mister."
Kali ini senyum tipis mengembang di sudut bibirnya. Tangannya bergerak ke rambutnya yang tertutup tudung jubahnya, ujung jemarinya menyentuh benda yang dicarinya. Ia menarik keluar sepasang lonceng kecil yang semula terikat di rambutnya, bunyinya berdenting halus di udara.
Ia meraih tangan bocah perempuan itu, dan menaruh lonceng tadi di tangannya.
"Ini untukmu, pastikan jangan hilang."
"Eh, M-mister?"
"Dengarkan instruksiku dengan baik," selanya. Mata anak itu semakin membesar, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil.
"Saat kalian berjalan melewati jalur itu, kalian belum tentu aman. Mungkin kalian bertemu hewan buas, atau mungkin juga makhluk-makhluk seperti mereka..."
Wajahnya memucat. Bocah itu merinding.
Tangannya bergerak menepuk pelan kepala bocah perempuan itu. "Nah, tapi aku yakin kalian akan baik-baik saja selama berada di jalur itu dan berhati-hati. Oh, dan benda ini," jemarinya mengetuk pelan lonceng yang sekarang digenggam erat bocah itu, "adalah kunci utama menuju tempat perlindungan aman."
Ia tidak bisa menahan senyum pahit berkembang di sudut bibirnya.
(Safe, you say? What a hypocrite—)
—Blink.
(Smile, smile)
"Setiap satu kali matahari terbenam dan matahari terbit, bunyikan lonceng itu. Begitu seterusnya. Seberapa pun lelahnya kalian, tetap bunyikan. Seharusnya setelah bunyi lonceng ke enam, kalian akan bertemu dengan orang-orang yang sangat cantik." lanjutnya. Pfft, cantik?
Tawa kecil lolos dari bibirnya. Dan saat melihat ekspresi si bocah ia tidak dapat menahan tawa geli yang meluncur dari bibirnya.
"Cantik?"
"Pftt—hihihihi... snrk—pff... ahem. Ya, cantik. Sangat cantik. Dan mereka memiliki rambut paling indah di dunia. Aku yakin mereka tidak akan keberatan kalau kau ingin menyentuh rambut mereka jika kau bertanya..."
...Membayangkan ekspresi pokerface mereka saat ditanya dengan inosennya oleh bocah perempuan apakah ia boleh bermain dengan rambut mereka yang indah dan cantik itu dan bolehkah ia mengepang rambut mereka?
Their face. Oh Etro, their face...
Dan jika dari mata berbinar bocah di depannya itu, bayangannya itu akan segera terwujud secepatnya.
"Orang-orang yang sangat cantik ini adalah Elf. Dan mereka yang akan melindungi kalian semua, dan jika mungkin bisa membawa kalian pulang. Selama mereka bertanya apapun kalian menjawabnya dengan jujur."
Mata bocah itu mulai berkaca-kaca. "P-pulang...? Ke tempat... Mama...?"
Tangannya mengacak-acak rambut bocah itu. Rasa panas di dadanya berubah dingin membeku saat pemandangan bocah di depannya bertumpang tindih dengan ingatan yang lain...
Ia memaksa tangannya tidak mengencang.
"Ya, pulang." Ia tersenyum lembut. Sebelum tatapannya berubah serius. "Aku ingin kau menjaga yang lain, karena kau yang lebih tua di sini. Kau harus bisa menuntun mereka selama perjalanan, karena selama kalian bersama-sama, aku yakin kalian semakin cepat bisa pulang kembali. Apa kau mengerti?"
Bocah itu hanya menatapnya syok, sebelum tekad bersinar di matanya.
Ia mengangguk pasti. "Baiklah, Mister. Aku akan berusaha."
Ia menyunggingkan senyum tipis, matanya tertuju pada sosok-sosok tak sadarkan diri di belakang bocah itu.
.
.
.
.
Glass Glow : a mythical tree. With glowing trunks and glassy leaves. Definitely NOT canon.
AU. Very AU.
