Peluit panjang berbunyi, semua orang terdiam sejenak hingga kemudian pecah suara sorak dan teriakan. Para gagak Karasuno berlari ke tengah lapangan, memeluk teman-teman seperjuangan yang telah berjuang di garis depan.
Mereka berpelukan membuat euforia panggung nasional semakin semarak, pendukung Karasuno bersorak mengumandangkan ucapan selamat. Para adik kelas berkumpul, mengangkat tubuh pria mungil bersurai jingga yang telah berhasil memasukkan spike terakhir.
Mereka angkat tubuh mungil itu kemudian mereka lambungkan ke atas, berulang-ulang membuat pria yang diangkat tertawa lebar.
"Hei hentikan aku pusing!" pekiknya.
Kemenangan 3-2 atas Karasuno melawan Itachiyama gakuen, membuat mereka akhirnya berhasil menyabet gelar juara nasional setelah dua tahun terakhir hanya mampu menjadi runner up.
Sang umpan Karasuno menatap partnernya dengan mata berbinar dan berlinang air mata.
"Kita berhasil Kageyama!"
Kageyama mengulum senyum, matanya sama berairnya dengan Hinata. Bahkan pria berwajah seram itu kini tidak mampu membendung air matanya lagi. Ia mengangguk keras.
"Benar, kita berhasil."
"Kita juara Nasional! Kita akan pergi ke panggung dunia."
Kageyama merinding, bahunya gemetar. Air mata pria itu kembali jatuh, ia mengangguk.
"Benar!"
Hinata mendekati partnernya itu, memeluknya erat, menumpahkan rasa bahagia yang meluap. Kageyama tidak memukul, tidak pula menendang seperti biasa. Pria itu justru balas memeluk partnernya. Ikut menangis bahagia bersamanya.
Aku bersyukur bertemu denganmu, Hinata.
Suara tawa dan alunan lagu terdengar dari ruangan kedap suara di salah satu tempat karaoke Tokyo. Sebelum pulang ke Miyagi, mereka menyempatkan diri untuk menikmati kota Tokyo sekaligus merayakan kemenangan mereka.
Pelatih Ukai tidak ikut, ia sudah tepar lebih dulu di penginapan setelah minum sake berbotol-botol. Takeda sensei juga tidak ikut, tentu saja karena tidak mau meninggalkan sang coach mengamuk sendirian di penginapan.
"Kageyama senpai dan Hinata senpai hebat sekali! Kami tidak bisa membayangkan nasib klub tanpa serangan cepat kalian." Ucap salah seorang kouhai membuat kouhai lainnya ikut tertunduk sedih.
Tsukkishima yang sedari tadi diam menghela napas. "Jangan terlalu bergantung pada mereka. Nekoma tidak punya banyak spiker ace, setter mereka yang sekarang pun tidak bisa disebut jenius, anggotanya juga tidak terlalu tinggi. Dengan semua itu, mereka masih bisa menjadi best four di turnamen." Pria itu membenarkan letak kacamatanya kemudian memicing membuat semua kouhainya bergidik, "jangan bilang kalian tidak mampu tanpa kami."
"Kalian tidak akan menang jika kalian tidak percaya diri," timpal Kageyama, "itu yang dikatakan mantan kapten kita Sawamura senpai. Aku bersyukur masuk ke Karasuno. Tim volinya hebat, aku ingin kalian meneruskannya. Jangan sampai julukan tobenai karasu kembali. Pertahankan gelar juara tahun depan."
Para kouhai memandang Kageyama takjub kemudian mengangguk serempak, "Hai' captain!"
"Tumben kau mengatakan hal yang hebat, Kageyama," celetuk Hinata membuatnya mendapat remasan cinta di kepala dari sang partner.
"Kau bilang apa boke?!"
"T-tidak ada, lepaskan Kageyama!" rintihnya membuat para anggota klub tertawa melihat dua sahabat itu.
Acara dilanjutkan, mereka menyanyi secara bergantian, bertanding skor siapa yang paling tinggi. Tentu saja henjin combi menjadikan ini ladang pertandingan mereka. Mereka bernyanyi dengan serius, tanpa di duga, Hinata memiliki suara yang bagus membuat decak kagum para kouhai.
Yamaguchi yang hari ini terlihat tidak terlalu bersemangat karena saat pertandingan gagal mencapai target sepuluh angka itu mulai menunjukan ketertarikannya saat Hinata bernyanyi.
Suara imut. Mengingatkan mereka pada idol rookie berwajah imut yang akhir-akhir ini debut.
Skor 90, high score sementara untuk Hinata.
"Kageyama, yang kalah traktir es krim di toko seberang."
"Siapa takut, boke!"
Kini sang partner beraksi, begitu suara indah itu keluar, semua orang seketika menyibukan diri untuk menutup telinga seperti Tsukishima atau menahan tawa seperti Yamaguchi dan Hinata. Sang raja lapangan terus menyanyikan bait lagu ballad Jepang itu dengan lantang. Skor tercetak disana begitu lagu selesai.
Semua orang syok, terutama si jeruk.
Skor 92, atas kemenangan Kageyama.
"Kau yakin alatnya tidak rusak, suara fales itu diberi high score." Celetuk Tsukkishima membuat Kageyama meraung marah.
"Apa kau bilang Tsukishima?!"
"Yah, aku juga tidak menyangka Hinata kalah," kini Yamaguchi yang bersuara.
Kageyama bercecih, "alat mana bisa membedakan mana suara yang bagus atau tidak. Yang penting sekarang aku menang! Hinata, tepati janjimu."
Hinata mendengus, "padahal suaraku lagi bagus darimu kusoyama!"
"Terima saja kenyataan kalau kau kalah boke! Jangan cari alasan."
"Baiklah! Tidak usah teriak Bakageyama." Pria mungil itu bangkit dan keluar ruangan dengan kaki terhentak, "rasa apa?"
"Hah?!"
"Aku bilang es krim rasa apa? baka!"
Kageyama tersenyum miring membuat Hinata darah tinggi melihatnya, "vanilla saja."
"Kau tidak mentraktir kami senpai?" tanya salah seorang kouhai.
"Beli sendiri!" teriak Hinata lalu membanting pintu.
Hinata mengusap-usap lengan, pemuda imut itu menengadah keatas, melihat ribuan kapas putih berterbangan bersama angin. Tubuhnya menggigil, ia terlalu kesal hingga melupakan jaket klubnya di tempat karaoke. Persetan dengan tubuhnya yang terkena flu, toh hari ini memang pertandingan terakhirnya.
Pemuda itu menyebrang begitu lampu puffin crossing berubah hijau. Ia segera masuk ke sebuah toserba di seberang jalan, memilih beberapa es krim di lemari pendingin. Mungkin setidaknya ia juga sekalian mentraktir para kouhainya itu mengingat kurang dari lima bulan lagi ia akan lulus dari SMA.
Ia ambil beberapa bungkus es krim, tidak lupa yang rasa vanilla untuk si partner tercinta. Enggan berlama-lama di luar, ia segera mendekati meja kasir untuk membayar.
"Are, jaket Hinata senpai tertinggal disini padahal di luar sangat dingin." Ucap salah satu kouhai yang melihat jaket klub Karasuno tersampir di sofa.
Tsukishima menyeringai lalu melirik kearah Kageyama yang asik dengan burgernya, "pergi dan antarkan jaketnya ou–sama, kau kan kekasihnya."
"Siapa yang mau jadi kekasih si bodoh itu?!" desis sang raja lapangan lalu bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?"
"Tentu saja mengantarkan jaketnya, apa lagi?"
Tsukishima seketika mengulum senyum, "ternyata kau memang kekasihnya," sindirnya membuat Yamaguchi ikut tertawa.
"Aku hanya tidak mau dia sakit lalu tidak bisa menerima tossku lagi."
"Kau perhatian sekali ou–sama."
Bola mata blueberry berputar malas, enggan menanggapi si gudang-garam- berjalan-Karasuno itu lagi, ia ambil jaket partnernya dan pergi keluar.
Udara dingin menelusup kulit begitu ia melangkah keluar dari toserba. Hinata meniup-niup telapak tangannya yang memutih, "padahal di Tokyo tapi tetap saja dingin sekali."
Pemuda itu mendongak, demi melihat lampu puffin crossing. Mata sewarna madu menangkap sosok gadis bersurai mirip sepertinya yang melangkahkan kakinya di zebra cross.
Hinata tercekat, "nona lampunya masih merah."
Seakan hanya angin lewat, gadis itu bahkan tidak menoleh. Kakinya terus melangkah menyebrangi jalan. Suara deru mesin membuat Hinata menoleh ke ujung jalan, sebuah truk besar melaju cepat kearah gadis itu.
"Nonaa!" teriak Hinata beriringan dengan suara klakson truk.
Gadis itu berhenti, tepat di tengah jalan. Ia menoleh dan menatap Hinata dengan senyum sedih membuat napas pria mungil itu tertahan. Bibir gadis itu bergerak, ia mengucap sesuatu. Hinata tidak mendengarnya, namun pria itu tahu apa yang ingin diucapkan sang gadis senja.
Dia bilang..
[Aku ingin mati]
Suara klakson kian menggema, nyaring memekakan gendang telinga. Hinata menatap truk yang kian mendekat dan gadis yang tidak juga beranjak itu bergantian. Ia tidak tahu apa yang merasukinya. Wajah sedih gadis senja berputar di otak, membuat kakinya bergerak dan berlari menyusul sang gadis ke tengah jalan.
Semuanya berlangsung sangat cepat, Hinata bisa melihat wajah gadis senja yang terkejut begitu ia memilih menghampirinya dan mendorong paksa tubuhnya ke pinggir jalan.
Seperti sebuah slow motion. Bumi terasa berputar, tubuhnya terhantam kuat, terpental dan kepalanya membentur pembatas jalan. Hinata tahu tindakannya bodoh, padahal begitu banyak impian yang belum ia capai, masih ada janji yang belum ia tepati, masih banyak orang-orang tersayang yang menunggu kepulangannya di Miyagi.
Hinata bisa merasakan perlahan nyawanya seperti ditarik paksa keluar. Telinganya berdengung, penglihatannya kabur, dadanya sakit luar biasa seakan ada yang meremas kuat jantungnya.
"Hinata!"
Ah. Ada yang memanggilnya, itu suara Kageyama. Mungkin ini halusinasi sebelum kematian.
"Hinata!"
Sosok surai raven tertangkap penglihatannya yang mengabur. Itu benar Kageyama ternyata.
"K..kage..yama."
Hinata berjuang memaksa dirinya untuk tetap sadar, kini ia bisa melihat wajah sang partner dengan jelas. Wajah Kageyama memucat begitu melihatnya. Semengerikan itu kah sosoknya sekarang?
"Hinata bertahanlah! Boke, jangan berani-berani pergi dariku! Ambulan akan datang, bertahanlah," jeda sejenak, Hinata bisa melihat bulir air jatuh dari mata blueberry itu, "kau belum menepati janjimu boke! Kau bilang akan terus berada di satu lapangan denganku!"
[Jangan katakan itu, Kageyama.]
Bibir pucat si pria mungil gemetar, napasnya terputus-putus, air matanya jatuh bercampur bersama darahnya yang menganak sungai.
"K..ge...y..ma."
"Jangan bicara!" bentaknya kalut. "Jangan katakan apapun lagi boke, bertahanlah sedikit lagi."
[Maafkan aku Kageyama, aku bodoh.]
"Kau akan hidup! Pasti. Kita akan bermain lagi, aku berjanji akan memberikan sebanyak apapun toss untukmu. Jadi jangan bicara lagi."
[Maafkan aku, sungguh. Maafkan aku.]
Napasnya terputus-putus, tubuhnya sesekali mengejang, mata sewarna madu itu sesekali terpejam lalu terbuka lagi namun meredup. Tangan mungil itu terangkat walau gemetaran, disentuhnya pipi pria raven itu, tidak peduli wajah sang partner akan kotor karena darahnya.
Tangan itu sangat dingin, seperti es. Kageyama memegang tangan Hinata, membiarkan partner kecil itu menyentuh pipinya.
Pemuda mungil itu mengusahakan senyum, sejenak Kageyama menghela napas lega, namun apa yang diucapkan sang partner setelah itu seakan membuat dunia Kageyama hancur seketika.
"Aku ka..lah K..kageyama."
"gomen..ne."
Tangan dingin itu memberat, seiring mata sewarna madu yang perlahan menutup, di tengah riuh orang berkerumun dan suara sirine ambulan. Kageyama bisa mendengar hembusan napas panjang dari sang partner.
Napas terakhirnya.
Kageyama membeku di tempatnya, ia belum juga melepaskan tangan pria mungil itu saat petugas kesehatan datang untuk memeriksa korban.
"Nak, minggir dulu!" bentak salah seorang petugas kesehatan.
Mereka memeriksa Hinata, menekan-nekan nadi di tangan dan dadanya. Kageyama ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Salah seorang petugas yang memeriksa Hinata menggeleng kearah rekannya. Mereka berkomunikasi tanpa kata, namun Kageyama mengerti jelas maksud semuanya.
Hinata tidak selamat. Dia mati. Itulah artinya.
Disisi lain gadis yang terselamatkan menatap nanar kerumunan orang di tengah jalan. Tubuhnya tersentak begitu mendengar percakapan beberapa orang yang baru keluar dari kerumunan.
"Korbannya tidak selamat, dia meninggal dunia."
"Ini akan jadi berita heboh besok, korbannya ternyata pemain tim nasional muda Jepang nomor 10 dari SMA Karasuno."
"Ini akan jadi berita duka untuk para penggemar voli di seluruh Jepang."
Bersambung...
