Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance, Humor
Pairing : Ichigo x Hitsugaya
Spoiler Warning : Semi-Canon, Shounen-ai. Bahasa tidak baku/tidak sesuai EYD. Don't like don't read!
.
Sebagian ide cerita, dialog dan paragraf diambil dari manga Love Beat karya Morie Mako dan novel MBA (Married By Accident) karya Ve Handojo. ^^
.
My first fic, enjoy!
.
.
Kejutan untuk Ichigo
.
CHAPTER 2
.
.
Di Soul Society…
"Benar nih, Rukia-chan?" tanya Matsumoto dengan info yang dibawa Rukia dari Gensei. Rukia nggak sengaja dengar pembicaraan Ichigo, Keigo dan Mizuiro waktu dia di Gensei. Begitu balik ke Soul Society dia langsung pergi mencari Matsumoto untuk memberi tahu info yg di dapatnya ini.
Rukia mengangguk. "Benar. Gue denger dan ngeliat sendiri kok pakai mata-telinga."
Kali ini giliran Matsumoto yang mengangguk mengerti. "Taichou ku yang manis itu... harus dipanasin nih," kata Matsumoto sambil tersenyum penuh arti (Matsumoto ini memang 'Fujoshi Yaoi maniak – sepertinya dia bangga dengan statusnya itu-). Dan sepertinya sekarang di kepalanya sudah ada suatu rencana licik.
.
.
.
Ruangan itu tampak remang-remang. Hanya ada sebuah lampu kecil penerang di atas meja. Di bangku kerja itu duduk sesosok manusia-gomen, seorang shinigami yang berpangkat Taichou. Sedang mengerjakan paper-nya tanpa melihat kalau hari sudah larut. Siapa lagi kalo bukan Hitsugaya. Sudah jadi kebiasaannya mengerjakan tugas sampai larut malam.
"TAICHOU~" teriak satu suara manja dari luar pintu kantor divisi 10 itu. Matsumoto sih Fukuitaichou.
"Matsumoto, kau pikir ini jam brapa?" jawab Hitsugaya sebal dengan teriakan cempreng fukuitaichou satunya ini. Matsumoto nyengir.
Dibukanya pintu kantor tersebut. "Hyaa…gelapnya!" kagetnya. Matsumoto berjalan kesisi dinding untuk menyalakan lampu di dalam kantor tersebut.
"Taichou, kok belum tidur?" Tanya Matsumoto basa-basi.
"Kau pikir karena siapa aku masih disini?" Hitsugaya menoleh sambil memberikan death glare terbaiknya. Matsumoto nyengir lagi. Memang hampir semua pekerjaan di divisi 10 ini dikerjakan Hitsugaya. Mau nyuruh si Fukuitaichou ini? Mimpi saja kaleee.
"Taichou, sampai sekarang berpacaran dengan Ichigo-san belum sampai ciuman, kan?" ucap Matsumoto langsung to the point.
Hitsugaya yang sedang minum teh di atas mejanya kontan tersedak mendengar ucapan Matsumoto tadi.
"MA-TSU-MO-TOOO!"
"Benar, kan?"
"URUSAI!" bentak Hitsugaya kesal. Ya iyalah. Datang kesini hanya buat orang naik darah saja.
Tiba-tiba raut muka Matsumoto jadi serius. Hitsugaya yang melihat raut Matsumoto yang seperti itu langsung terpana (Secara gitu loh, si fukuitaichou berdada besar itu nggak pernah begitu. Jarang malah).
"Kalo Taichou nggak ambil inisiatif, mungkin hubungan kalian berdua akan berakhir begitu saja." Kata Matsumoto dengan muka serius. "Setidaknya biarkan si Ichigo memeluk atau mencium, Taichou. Ichigo-san juga punya batas kesabarannya."
Hitsugaya tertegun dengan ucapan Matsumoto. Jarang banget si peminum sake ini bicara waras. Dalam hati, Hitsugaya membenarkan ucapan Matsumoto. Sudah hampir setahun dia dan Ichigo berpacaran. Dan Ichigo belum pernah menyentuhnya sama sekali (kecuali pegangan tangan). Bukan karena Ichigo takut padanya, tapi sikap keras kepala Hitsugaya yang sering keluar tanpa sadar. Kalo sikon-nya sudah kearah berbahaya – misalnya si kepala orange itu mau memeluknya atau menciumnya – Hitsugaya sering merusak sikon tersebut dengan memberikan death glare-nya. Yang kontan membuat Ichigo jadi batal melakukannya.
"Tidak lama lagi Ichigo-san bakal ulang tahun, kan? Setidaknya berikan hadiah special untuknya, Taichou." Kata Matsumoto mengakhiri keterdiaman Taichou-nya.
Hitsugaya tercengang lagi. Matsumoto yang hanya teman Kurosaki saja ingat ultahnya. Tapi dia sendiri nggak ingat sama sekali (lebih tepatnya Lupa!). Gumamnya dalam hati.
Sepertinya Taichou sudah termakan pancing ku. Batin Matsumoto dalam hati ketawa-ketiwi.
"Taichou kalau menurutku hadiah ulang tahun yang pas untuk Ichigo-san hanya itu." Matsumoto sengaja memotongnya.
Hitsugaya heran. "'hanya itu', apa?"
Matsumoto mendekat kearah Hitsugaya dan membisikkan sesuatu ke telinganya. "Melakukan 'itu', Taichou~" dan Matsumoto langsung ngacir jauh-jauh sebelum dimarahi.
"MATSUMOTOOOO!"
.
.
.
Besoknya Ichigo belum datang untuk mengunjungi Hitsugaya di kantornya, Divisi 10. Padahal itu sudah jadi kebiasaannya setiap hari (sebelum pergi ke sekolahnya maksudnya – si Kepala Orange ini masih sempat-sempatnya untuk datang ke Soul Society-). Biasanya sambil membawakan setangkai bunga lily putih – nah! Kalo yang ini dilakukannya setelah dia resmi berpacaran dengan Hitsugaya. Walau sering dibilang norak oleh orang-orang Soul Society yang tidak menyukai hubungan mereka berdua (lebih tepatnya lagi jealous! Karena satu-satunya kembang di Soul Society itu dirampas Kepala Orange) – Hari ini si Kepala Orange itu nggak kelihatan batang hidungnya. Hitsugaya sampai senewen menunggu kedatangannya. Sebenarnya si mungil ini (di Bankai Hitsugaya) sayang banget pada Ichigo. Hanya saja sikap kerasnya sering keluar tanpa sadar.
.
.
.
Setengah jam lalu di Karakura (Rumah Ichigo)…
.
Ichigo sedang bersiap untuk pergi ke Soul Society untuk menemui kekasih hatinya itu tapi ditahan oleh seseorang.
"Ichigo, aku tadi di minta tolong Matsumoto untuk menyampaikan pesan ini untukmu." Kata Rukia yang berada di kamar Ichigo. Dikeluarkannya kupu-kupu hitam dari Matsumoto.
"Ichigo-san, saya minta tolong hari ini dan lusa tolong jangan pergi ke Soul Society dulu." Suara Matsumoto keluar dari kupu-kupu hitam tersebut.
Ichigo heran. "Kenapa memangnya?"
"Selama dua hari itu para Taichou dari setiap divisi akan rapat penting. Jadi kemungkinan besar kau tidak bisa menemui Hitsugaya Taichou. Taichou meminta saya untuk memberi tahu anda."
"Terus kenapa bukan Toushiro sendiri yang bicara?" Ichigo masih heran plus ada nada kecewa karena selama dua hari dia nggak bisa menemui Hitsugaya.
"Oh jelaaaas!" terdengar nada bangga Matsumoto. "Aku kan Fukuitaicho yang setia pada Taichounya. Jadi aku harus membantunya" Ichigo yang mendengarnya langsung sweatdrop dan merasa mau muntah. Setia nenek mu! Ngerjain tugas saja nggak becus. Gerutu Ichigo.
"Baik lah. Sampai kan salamku pada Toushiro, ya!" ucap Ichigo. Tampaknya masih kecewa berat. Tapi dia bisa mengerti bagaimana pekerjaan Hitsugaya sebagai seorang Taichou disana.
Dan sepertinya si Kepala Orange ini sudah termakan pancing Matsumoto dan Rukia. Ini memang salah satu rencana licik Matsumoto dan Rukia kaki tangannya yang setia.
.
.
.
Di Soul Society…
Divisi 10
.
"TAICHOOOU! OHAYOUU…" Teriak Matsumoto seperti biasa.
"Matsumoto… bisakah kau memberi salam yang biasa saja?" ucap Hitsugaya. Nada suaranya terdengar bete berat. Karena sedari tadi Ichigo belum mengunjunginya. Matsumoto yang melihat perubahan Taichou-nya itu langsung tersenyum senang. Karena pancingannya kena telak ke dua sejoli itu.
'Sekarang saatnya! Pancingan kedua dilempar.' batin Matsumoto.
"Taichou…sudah menyiapkan kado apa buat Ichigo-san?" Tanya Matsumoto. "Ultahnya kan tinggal 3 hari lagi."
"Matsumoto, dari pada kau mengoceh nggak jelas. Cepat kerjakan tugasmu." Hitsugaya mengacuhkan pertanyaan Matsumoto. Sebenarnya dalam pikirannya dia masih bingung mau kasih hadiah apa ke Kepala Orange itu. Karena dia jarang bertanya tentang kegemaran dan kesukaan Ichigo kalo mereka lagi bersama.
Matsumoto mendekati meja kerja Hitsugaya. Diletakkannya setangkai bunga lily putih yang biasa dibawa Ichigo untuk Hitsugaya di atas meja Hitsugaya. "Tadi Rukia-chan bertemu saya di jalan kemari. Ichigo minta titip ke Rukia-chan untuk di berikan ke Taichou, karena dia nggak bisa datang menemui Taichou." Kata Matsumoto yang jelas bohong besar.
Hitsugaya tersentak. Kaget. Biasanya Ichigo sendiri yang menemuinya langsung untuk memberikan bunga tersebut. "Kurosaki kenapa? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Tanya Hitsugaya cemas.
"Nggak tuh!" jawab Matsumoto sambil mengangkat kedua bahunya. Dalam hati sebenarnya dia jerit-jerit gaje. Karena pancingnya ke makan lagi. Asoy! "Selama dua hari ini dia nggak akan menemui Taichou dulu. Katanya nggak mau ganggu kerjaan Taichou." Lanjut Matsumoto datar.
Hitsugaya lagi-lagi terkejut. Kurosaki tidak akan menemuinya selama dua hari. Kenapa? Gumamnya dalam hati bingung plus cemas. Tidak biasanya Kurosaki begini. Apa dia sudah bosan, ya? Karena sudah setahun pacaran cuma pegangan tangan saja.
Matsumoto tersenyum smirk. Oke! Sekarang cuma ditambah bumbu-bumbunya.
"Taichou, mungkin Ichigo-san sudah nggak sanggup lagi ngejalanin hubungan ini. Karena sikap Taichou yang seperti itu." Ucap Matsumoto. Sekarang raut mukanya dia buat serius kayak kemarin malam. Hitsugaya kontan menoleh.
"Maksudmu?" tanya Hitsugaya. Sebenarnya dia sudah tahu kesalahannya. Hanya saja dia ingin mendengar pendapat Fukuitaichou-nya.
"Kan sudah kubilang tadi malam. Ichigo-san itu juga punya batas kesabarannya."
"Apa dia sudah bosan, ya? Karena selama ini cuma pegangan tangan saja." Hitsugaya mengajukan hipotesa di pikirannya tadi.
Matsumoto mengangguk-ngangguk kepalanya. "Itu benar! Orang lain saja kalau melakukan hal-hal begitu terus bakal bosan juga akhirnya." Ini dia salah satu bumbu Matsumoto.
"Begitu, ya?" Hitsugaya mengangguk-angguk. Dia membenarkan ucapan Matsumoto. Dia saja yang setiap hari mengerjakan tugas paper segunung ini (sangat) bosan sekali.
"Ah! Ini untuk Taichou." Matsumoto mengeluarkan beberapa buku dari dalam kantong plastik yang dibawanya. Hitsugaya heran. Tumben nih pemalas bawa-bawa buku. Gumamnya dalam hati.
"Dibaca dan dipelajari ya, Taichou." Setelah menyerahkan beberapa buku yang lumayan tebal itu Matsumoto langsung ngacir pergi.
"Buku apa sih ini?" Hitsugaya mengambil salah satu buku itu dari atas meja. Dan…
"MATSUMOTOOO!" teriak Hitsugaya.
.
.
.
Di Karakura…
.
'Dua hari ya. Padahal baru beberapa jam nggak ketemu Toushiro tapi gue sudah kangen berat.' gumam Ichigo dalam hati.
Semua pelajaran yg diterangkan guru di depan kelas tidak diperhatikan Ichigo. Sekarang pikirannya sedang melayang-layang di tempat lain.
Di Soul Society…
Kantor Divisi 10
.
Kapten mungil itu sedang termenung sambil menatap keluar jendela kantornya. Menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Paper work-nya baru dikerjakan 3 lembar (3 lembar sodara-sodara! Tumben!). Diliriknya buku-buku yang dibawa Matsumoto kemarin. Sial! Jadi terbawa-bawa sampai mimpi gara-gara buku itu. Gerutu Hitsugaya kesal. Walaupun semalam dia kesal karena perbuatan Matsumoto (memberi buku-buku itu), akhirnya malah dibacanya karena penasaran. Tapi nggak tahan lama, karena baru membaca lima lembar saja. Buku itu langsung dilemparnya.
Hitsugaya melihat kearah luar jendela lagi. Ck! Gue kenapa sih, gerutu Hitsugaya dalam hati. Padahal baru beberapa jam Kurosaki belum menemuiku. Tapi kenapa… Argh… Baka!
Hitsugaya pun meninggalkan kantornya untuk menghirup udara segar.
"Fufufufu…tidak ku sangka pancinganku berhasil Rukia-chan. Ini juga berkat bantuanmu," ucap Matsumoto bangga dengan rencananya.
"Yang benar Rangiku-chan? Jadi Hitsugaya Taichou juga tertipu oleh aktingmu?" Rukia menatap kagum cewek berdada besar disampingnya.
Tanpa diketahui kedua orang itu. Ada seseorang yang tidak sengaja lewat situ dan mendengar obrolan mereka. Dia menghilangkan Reiatsu kehadirannya. Kapten mungil itu sebenarnya mau memarahi fukuitaichou-nya yang kabur dari pekerjaannya serta buku yang diberikannya kemarin. Tapi begitu mendengar obrolan licik dari mulut Matsumoto, dia urungkan.
"Tentu." Matsumoto tersenyum bangga, "dengan membuat Ichigo-san tidak menemui Taichou selama dua hari. Pasti Taichou bakal kangen berat padanya. Dan fufufufu…," pikirannya sudah berkhayal yang nggak-nggak.
Hitsugaya yang mendengarnya kontan terpana. Jadi ini memang kerjaan si pemalas itu? Sialan! Sudah nggak sayang nyawa rupanya si Fukuitaichou itu. Dan bersamaan dengan itu cuaca di tempat itu turun menjadi dingin karena Reiatsu Hitsugaya.
Kedua cewek itu merasakan keadaan disitu berubah. Reiatsu ini…batin keduanya dalam hati. Dan benar saja, begitu mereka berdua menolehkan kepala mereka ke belakang. Tampak Hitsugaya sudah masuk ke kondisi siaga menyerang.
"Taichou…" Matsumoto sweatdrop.
"Hitsugaya Taichou…" Rukia gemetaran melihat raut muka Hitsugaya yang sudah sadis itu.
"Jadi ini kerjaan kalian berdua ya? Fuh…" Hitsugaya menyeringai kejam. Kedua orang itu berpelukan ketakutan seperti Shaggy & Scooby Doo.
"Soten ni zase… Hyourinmaru," dan bersamaan dengan itu satu serangan kena telak kedua orang itu. Menjadi patung es yang…Wow hebat!
.
.
.
Ichigo berlari kearah rumahnya dengan kencang. Kepala Orange itu mengira mungkin hanya hujan gerimis. Tapi begitu lima langkah hujan besar tiba-tiba mengguyurnya.
Begitu hampir sampai di rumahnya. Dua puluh meter dari tempatnya berdiri, dia menyipitkan matanya. Siapa itu yang berdiri di depan rumah? Kenapa nggak masuk kedalam. Gumam Ichigo.
Begitu jarak Ichigo cuma lima meter dari sosok itu. Ichigo tersentak kaget. "Toushiro? Kenapa disini?"
Hitsugaya menolehkan kepalanya. "Aku ingin bertemu kamu Kurosaki." Jawabnya. Seluruh baju yang dikenakannya basah kuyup karena menunggu Ichigo ditengah hujan.
Ichigo yang mendengarnya kontan terpana. Bingung. Tapi senang -?-.
"Masuk yuk. Lebih baik kamu ganti dengan baju yang kering. Nanti kamu sakit, kalau basah kuyup begitu." Ajak Ichigo, sambil membuka pintu. Hitsugaya mengikutinya.
"Tadaima," ucap Ichigo.
Kepala Orange itu heran. Tidak ada salam balasan dari adiknya Yuzu seperti biasa. Ataupun tendangan salam dari ayahnya. Dia berjalan ke dapur dan melihat ada pesan yang tertempel di kulkas.
'Ichi-nii…kalo pulang tapi kami bertiga nggak ada, berarti kami sedang pergi ke supermarket beli bahan makanan. Ada sisa kari di meja. Yuzu.'
"Ada apa, Kurosaki?" Tanya Hitsugaya.
"Nggak pa-pa. sepertinya orang rumahku sedang keluar." Ichigo berjalan ke kamarnya di lantai dua.
Hitsugaya tersentak kaget. Itu berarti kami cuma berdua saja di rumah ini?
"Nih," Ichigo menyerahkan sebuah handuk beserta baju dan celana panjangnya ke Hitsugaya.
Hitsugaya menerimanya. "Arigatou."
"Ku buatkan teh dulu ya." Ujarnya sambil berjalan ke luar kamar.
Baju Ichigo besar sekali. Gumam Hitsugaya sweatdrop. Hitsugaya pun memakai baju tersebut.
"Bajuku pasti kebesaran untukmu ya?" kata Ichigo berjalan masuk ke kamarnya sambil membawa dua gelas mug. "Tapi kamu manis, kok." Senyumnya kemudian.
Hitsugaya blushing. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Baka! Aku harus menenangkan hatiku. Batinnya panik.
Ichigo yang duduk samping Hitsugaya di lantai kamarnya menoleh. "Kenapa kamu disini? Bukannya ada rapat penting antar kapten divisi selama dua hari." tanyanya.
Hitsugaya menatap Ichigo. Dan menceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi.
"Jadi begitu…" ucap Ichigo setelah tahu siapa dalangnya hal ini. Hitsugaya tersadar. Sebenarnya tujuannya kemari bukan untuk menemui Ichigo saja.
"Kurosaki, besok ulang tahunmu kan? Kau mau kado apa?" tanya Hitsugaya. Suaranya terdengar gemetar. Karena tidak biasanya dia nanya begini secara langsung.
"Eh? Aku tidak mau apa-apa." Jawab Ichigo. Sedikit kaget dengan pertanyaan Hitsugaya yang tidak biasa. Tapi kemudian dia ingat sesuatu. "Ah! ada sih, tapi itu bukan barang." Lanjutnya.
Hitsugaya yang sedang minum teh-nya terdiam. Yang dia inginkan bukan 'barang'. Bukan 'barang'? Hitsugaya akhirnya sadar. Jangan-jangan… dia… mau kami melakukan 'itu'? muka Hitsugaya kontan blushing. Dia jadi teringat dengan buku-buku yang diberikan Matsumoto itu.
Walaupun sebenarnya Hitsugaya sudah tahu apa yang diinginkan Ichigo. Tapi kapten mungil itu menanyakan lagi, agar lebih jelas. Sebenarnya dia agak ragu dengan pikirannya.
"Kurosaki…boleh tanya? Apa sih yang kamu mau?" tanya Hitsugaya lagi. Kali ini sedikit gugup plus cemas.
Ichigo menghentikan minum teh-nya. Ditatapnya Hitsugaya di samping kirinya. "Gampang sekali, kok. Pokoknya yang biasa dilakukan sepasang kekasih." Ichigo tersenyum lembut.
Yang biasa…dilakukan sepasang kekasih? Pasti… pasti… 'ITU' yang dia maksud? Batin Hitsugaya panik. Ternyata pikirannya benar!
Ichigo tidak sadar dengan keadaan Hitsugaya di sampingnya. Dirangkulnya bahu Hitsugaya agar mendekat kearahnya. "Aku senang kau datang Toushiro. Kau tahu? Cuma beberapa jam saja kita berdua tidak bertemu aku sudah kangen." Ucap Ichigo.
Hitsugaya tertegun. Ternyata bukan cuma dia saja yang kangen pada kepala Orange ini. Hitsugaya tidak sadar, sekarang Ichigo sudah mendekatkan wajahnya ke Hitsugaya. Begitu dia menolehkan kepalanya. Ichigo langsung mencium bibir mungilnya. Mata hijau zambrud Hitsugaya terbelalak. Dia tidak menyangka kalau Ichigo akan menciumnya. Dan secara refleks kedua tangan Hitsugaya mendorong kuat tubuh Ichigo. Sehingga tubuh kepala orange itu terdorong kebelakang dan kepalanya terbentur kaki meja belajarnya.
Hitsugaya pun langsung ngacir ke luar kamar Ichigo. Cowok berambut putih itu tidak sadar. Akibat perbuatannya. Sekarang kepala orange itu pingsan di dekat meja belajarnya.
.
.
To Be Continued
