Planning
Awal Perencanaan
Main Cast : Jaeyong (Jaehyun x Taeyong) NCT
Warning : BXB (Boys Love)
..
IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. Thank You
Sorry for Typos
Happy Reading
..
Mungkin sekarang Yeri benar-benar seperti orang stalker. Jika bukan karena seorang pria cantik yang berjalan di depan nya kini, dia tidak akan melakukan ini. "Demi Jaehyun Oppa. Aku rela seperti ini. Fighting!" batin Yeri. Dengan berlari kecil Yeri mengimbangi jalan Taeyong. Berdeham sebentar dan berhasil membuat Taeyong menoleh ke arah nya.
Yeri tersenyum canggung. "Annyeong haseo sunbae" Yeri membungkukan badannya.
Taeyong tersenyum. "Eoh! Annyeong haseo"
"Sunbae bolehkah aku mengenal mu? Aku Yeri" Yeri merentangkan tangannya ke depan agar Taeyong menjabat tangannya.
"Aku Taeyong. Lee Taeyong. Senang bisa mengenal mu Yeri-ssi"
"Bolehkah aku memanggil mu Taeyong oppa?"
Taeyong tersenyum cerah menampilkan gigi nya yang rapih dan mata nya yang menyipit. Membuat Yeri berteriak histeris dalam hati. "Tentu saja Yeri-ya"
"Oppa kita berada di fakultas dan jurusan yang sama. Jadi tidak masalahkan kalau nanti aku banyak bertanya kepadamu?"
"Oh tentu saja. Bertanya saja padaku Yeri-ya. Tidak perlu sungkan, oke"
"Ne Oppa"
Tiba-tiba saja terdengar seorang berteriak memanggil Taeyong dengan suara yang kencang. Dan menurut Yeri itu berlebihan, melihat jarak perempuan itu dengan Taeyong tidaklah sejauh Seoul dan Jakarta. Yeri menatap kesal kearah perempuan yang sedang berjalan kearah Taeyong dan dirinya, dengan langkah yang menurut Yeri terlihat sangat angkuh.
"Kita pulang sekarang" Ujar perempuan itu sambil menarik tangan Taeyong.
Tentu saja Yeri tidak menerima itu. Hey, dia sedang berbicara dengan Taeyong dan seenaknya perempuan itu menarik tangan Taeyong untuk meninggalkan dirinya. Dengan cepat Yeri pun menahan tangan Taeyong. "Kau tidak sopan. Apa kau tidak bisa lihat, jika aku sedang berbicara dengan Taeyong oppa"
Perempuan itu berdecih. "Kau tidak tahu siapa aku? Dan apa-apaan itu panggilan Taeyong oppa? Seakan-akan kau sudah mengenal lama Taeyong"
Yeri mendengus. "Memang nya namamu sangat penting untuk ku ketahui"
Perempuan yang dikenal bernama Lee Irene pun menggeram kesal. "Yak! Aku kakaknya Taeyong dan aku akan mengajak adikku pulang. Apa itu salah?"
Yeri gelagapan mengetahui kalau perempuan di depannya kini adalah kakak dari Taeyong. "Ahh. Mianhae eonni"
"Tidak perlu berbicara sok akrab seperti itu kepada ku. Ayo pulang" Irene kembali menarik tangan Taeyong.
Sebelum ditarik menjauh oleh kakaknya, Taeyong sempat tersenyum dan berkata "Sampai jumpa lagi Yeri-ya". Membuat Yeri tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Oke. Mungkin mulai sekarang aku harus berhati-hati dengan perempuan itu" Ujar Yeri sambil menghentakan kakinya kesal.
.
-oOo-oOo-
.
"Kau mengenal baik dengan gadis itu Taeyong?". Sekarang Taeyong dan Irene sedang berada di dalam mobil, menuju ke rumah mereka. Dan sedari tadi Irene yang berada di belakang kemudi terus saja bertanya random kepada adiknya.
Taeyong menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku baru bertemu dengannya tadi. Tapi ku rasa dia anak yang manis"
"Berhenti menilai seseorang hanya dengan satu kali pertemuan Yongie"
"Tapi aku merasa seperti itu noona. Mungkin feeling?"
"Besok, jangan menemui dia lagi. Aku merasakan aura negatif dari gadis itu"
"Noona, berhentilah berburuk sangka dengan orang lain. Lagi juga kenapa noona melarang ku untuk bertemu lagi dengan Yeri. Saat bertemu tadi, aku jadi merasa punya adik. Dia adik yang manis"
"Ikuti perkataan ku untuk tidak lagi bertemu dengan nya"
"Noona selalu saja berburuk sangka dengan semua orang yang mendekati ku. Padahal kan mereka hanya ingin berteman dengan ku. Apa yang salah?"
"Kau sudah mempunyai Ten dan Jungwoo sebagai teman mu. Lantas berapa teman lagi yang kau inginkan Taeyong?"
"Noona, Ten dan Jungwoo adalah pengecualian. Mereka sudah ku anggap sebagai saudara ku sendiri, kami besar bersama dan menjalani hari-hari bersama. Tapi aku hanya ingin sebuah teman noona"
"Apa bedanya?"
"Tentu saja berbeda. Lagi pula bukankah noona sudah keterlaluan kepadaku? Aku ini sudah dewasa. Jadi aku yang menentukan kemana hidup ku berjalan, bahkan eomma dan appa tidak pernah melarang ku untuk berteman dengan siapa saja"
"Dalam usia memang kau sudah menginjak usia dewasa, tapi dalam sikap dan sifat mu kau tetaplah adik ku yang polos. Dan aku tidak ingin adik ku yang cantik ini di nodai oleh orang lain". Irene tersenyum sambil sebelah tangannya mengusak rambut hitam Taeyong.
Taeyong berdecak sambil memajukan bibir nya. "Menyebalkan. Nonna selalu mengatakan aku cantik, padahal aku ini pria. Dan jika noona terus saja bersikap seperti ini lantas kapan aku memiliki seorang kekasih?"
"Hey. Untuk apa seorang kekasih? Kau sudah mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari ku. Apa itu kurang cukup?"
"Rasanya berbeda noona. Ten dan Jungwoo mengatakan kalau di beri perhatian dan kasih sayang dari orang yang kau cinta itu terasa mendebarkan. Dan aku ingin merasakan itu, pasti seru"
Irene menepikan mobilnya karena mereka sudah sampai di depan rumah. Melepaskan sabuk dan sekarang tubuhnya sedang menghadap kearah adik nya yang sedang memasang ekspresi bersedih. "Coba mengahadap kearahku"
Taeyong melepaskan sabuk dan menghadap Irene dengan tatapan bertanya.
"Kau tahu? Suatu hubungan itu adalah sebuah komitmen. Dan yang pasti itu melibatkan hati, sesuatu yang sudah melibatkan hati itu adalah masalah yang kompleks. Kau akan merasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Apa kau siap?"
Taeyong menganggukan kepalanya.
"Aku bahkan merasa tidak yakin kau bisa melakukannya Yongie. Kau pernah jatuh cinta dengan seseorang?"
Taeyong menggelengkan kepalanya. "Bagaimana aku ingin jatuh cinta. Jika noona saja selalu menghalangi mereka yang ingin berdekatan dengan ku"
"Aku melakukan itu hanya tidak ingin kau merasakan apa yang dirasakan mereka di luar sana. Aku menyayangi mu, maka dari itu aku tidak ingin membuat adik yang aku sayangi begelung di sebuah rasa sakit yang tak akan berujung"
"Apa jatuh cinta itu menyakitkan? Sesakit itu? Hingga tidak mempunyai ujung?"
Irene menganggukan kepalanya. "Kau pernah merasa sakit saat di tinggalkan seseorang?"
Taeyong menganggukan kepalanya. "Itu disaat eomma dan appa pergi ke Jepang selama 1 tahun"
"Dan rasa sakit itu, tidak sebanding dengan rasa sakit saat kau memutuskan untuk mencintai seseorang. Di dalam suatu hubungan tidak akan mungkin berjalan dengan lurus sesuai keinginanmu, karena selalu saja ada masalah di setiap harinya. Entah itu masalah kecil ataupun masalah besar sehingga membuat mu di tinggalkan oleh orang yang kau cintai"
"Kan saling mencintai untuk apa meninggalkan noona? Eomma dan appa, mereka saling mencintai tapi mereka tidak meninggalkan satu sama lain"
"Itu berbeda cerita Taeyong. Karena eomma dan appa sudah terikat dengan suatu hubungan yang sakral bernama pernikahan. Maka sebisa mungkin disetiap ada masalah mereka menyelesaikannya dengan kekeluargaan. Berbeda dengan sepasang kekasih yang hanya di landasi dengan nafsu"
"Lalu, kenapa tidak langsung menikah saja?"
"Sudah ku katakan pernikahan itu suatu yang sakral, yang di jalankan oleh orang-orang yang saling mencintai dengan tulus. Jika nanti kau memiliki kekasih belum tentu kekasih mu ingin di ajak menikah"
"Lalu apa aku harus seperti ini terus hingga tua?"
Irene tertawa, inilah yang membuatnya sulit melepaskan Taeyong untuk jatuh cinta. Karena sebenarnya, adiknya itu seperti bayi yang tidak pernah punya dosa. "Bukan seperti itu juga Yongie. Jika suatu saat ada seseorang yang mencintai mu dengan sungguh-sungguh. Mencintaimu dengan tulus dan murni. Tanpa memikirkan nafsunya saja, mungkin saat itu aku akan melepasmu. Dan yang pasti orang itu adalah pilihanku"
"Noona aku ini sudah dewasa, biarkan aku jatuh cinta dengan seseorang yang aku cintai, tanpa di paksa untuk di jodohkan"
"Tidak bisa. Aku tidak percaya dengan pria dan gadis di luar sana. Yang pasti mereka harus menjalani beberapa pelajaran dariku. Sebelum aku merestuinya untuk bersamamu"
"Noona" Taeyong merengek sambil menggoyangkan tangan Irene.
.
-oOo-oOo-
.
Sedari Universitas hingga masuk kedalam rumahnya, Yeri tidak berhenti menghentakan kakinya karena kesal. Rencananya hari ini, dia ingin berkenalan dengan Taeyong dan mengajak Taeyong main kerumah nya. Oke, mungkin ini terlalu cepat. Tapi Yeri maunya seperti itu, pengen cepat Taeyong dan kakak nya bertemu, lalu membuat rencana selanjutnya. Tapi justru rencana awalnya gagal total, gara-gara kakaknya Taeyong. Jika bukan mengingat 'mari bersikap baik di depan kakak ipar' Yeri yakin sudah memukul wajah angkuh perempuan yang mengaku kakaknya Taeyong itu.
"Nenek sihir itu sudah membawa pergi Putri dari ku. Aku harus buat rencana lain, agar nenek sihir itu tidak ikut campur dalam misi ku membawa Putri ke hadapan Pangeran"
Saat melewati ruang tengah, Yeri melihat suatu pemandangan yang membuat mata dan hatinya panas. Bagaimana tidak? Disaat dia sedang membuat rencana lain untuk bisa mempertemukan Taeyong dengan kakak nya. Justru dia dihadapkan pemandangan, dimana dia melihat kakak nya Jaehyun, sedang tertidur di paha gadis yang sedari dulu ingin dia musnahkan dari muka bumi ini.
Dengan langkah cepat dia meraih bantal sofa, lalu mendekat kearah mereka yang masih belum menyadari kehadirannya. Dengan kekuatan penuh, Yeri memukuli mereka dengan bantal sofa yang dia genggam dengan kuat.
"Ini bukan tempat mesum!". Teriak Yeri dengan masih memukuli mereka.
Jaehyun sudah menyilangkan tangan di depan wajahnya, menghindari pukulan Yeri di wajahnya yang tampan. "Yeri apa yang kau lakukan? Yeri hentikan. Yak! Jung Yeri!". Ujar Jaehyun, dengan di akhiri bentakan yang kencang.
Membuat Yeri menghentikan aksinya, namun selanjutnya yang dia lihat justru adiknya memasang wajah sedih, dengan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.
Jaehyun gelagapan lalu bangun dari posisinya yang masih berbaring di sofa, tapi kepalanya sudah tidak berada di paha kekasihnya. Karena kekasihnya sudah berdiri dan menghindar sejak tadi.
"Hey, kenapa menangis?". Jaehyun mencoba meraih tangan adik satu-satunya itu, tetapi Yeri menepisnya dengan kuat.
"Oppa jahat. Oppa berani membentak ku demi wanita itu". Ujar Yeri dengan air mata yang sudah jatuh menuruni pipinya, tidak lupa juga telunjuknya yang mengarah kearah kekasih kakaknya.
"Bukan seperti itu Yeri. Aku hanya kaget saat kau tiba-tiba memukuli ku seperti itu"
"Sebelumnya, oppa tidak pernah membentak ku tapi sejak ada dia. Oppa sering membentak ku dan memarahi ku. Aku takut, oppa seram jika marah"
"Oke, maafkan aku. Iya, aku salah. Jadi maafkan Oppa hm?". Jaehyun mencoba untuk menenangkan adiknya, karena dia tidak ingin Yeri berkata macam-macam kepada kakak tertuanya. Bisa habis Jaehyun malam ini, kalau sampai kakaknya tahu dia membuat Yeri menangis.
"Aku tidak akan memaafkan oppa, sebelum oppa mengusir wanita itu dari rumah". Ujar Yeri masih dengan akting nangisnya. Tentu saja akting, memang apa yang kalian pikirkan? Yeri adalah 'The Best Actrees' yang sesungguhnya.
Dengan perlahan Jaehyun menarik tangan Yeri dan membawa nya kedalam pelukannya. Lalu mengisyaratkan kepada kekasihnya untuk segera pergi dari rumahnya. Karena, dia sangat paham dengan sifat adiknya jika permintaannya tidak di turuti. Bisa-bisa rumah ini hancur gara-gara teriakan kakak dan ayah nya. Yeri sudah pasti akan mengadukan hal yang berlebihan, agar Jaehyun salah dimata kakak dan ayah nya.
Kadang Jaehyun seringkali merutuki makian kepada kakak dan ayah nya, yang sangat memanjakan Yeri sebagai anak bungsu di kekuarganya dan juga sebagai anak perempuan satu-satunya. Akibat dari mereka yang sangat memanjakan Yeri itu, semakin lama Yeri semakin banyak tingkah.
Jaehyun tahu kalau Yeri sangat membenci kekasihnya, entah karena alasan apa. Setiap di tanya, Yeri selalu menjawab 'Hanya tidak suka saja' dan itu bukanlah sebuah jawaban yang Jaehyun harapkan. Setiap kekasihnya main kerumahnya, tidak akan pernah di buat merasa tenang oleh Yeri. Karena persetan dengan otak cerdik adiknya itu, Yeri selalu punya banyak cara untuk menjahili kekasihnya.
Dan tanpa Jaehyun sadari Yeri sedang tersenyum dengan penuh kemenangan di dada Jaehyun yang sedang memeluknya dan mengusap rambutnya.
..
To Be Continue...
..
..
Hallo!
Aku balik ke ff yang ini, maaf banget serius dah. Bukan maksud untuk menelantarkan ff ku yang lain. Hanya saja ide ff ini jalan terus. Sedangkan ff yang lain mentok. Sumpah, aku gak boong.
Setelah dapet ide banyak, aku janji koq bakal up secepatnya di ff ku yang lain. Sabar yaa, aku juga bingung. Pengennya tuh sama rata, ff ini up ff yang lain juga up. Tapi apa daya otak ku yang seberapa ini tidak bisa terlalu banyak ide untuk ff ku yang lain.
Untuk yang ff I Only Had a Heart. Serius itu masih masa pengetikan. Perasaan gak kelar-kelar. Iyaa aku tau emang gak kelar-kelar aku pun bingung mau ngelanjutin kaya gimana. Udah di ketik di hapus lagi. Jadi gitu ajah terus, gimana mau kelar kan. Selain itu alasannya karena adik aku tuh lagi masa-masa lebih sering bergulat dengan laptop. Aku punya satu laptop jadi aku memberikan ke adikku terlebih dahulu yang lebih membutuhkan untuk hal penting mengenai pelajarannya.
Jadi ini aku ngetik ajah di hp. Tau gak si hp tuh keyboard nya gak sebesar laptop dan masalahnya jari jempol aku itu besar makanya typo nya itu tak terkendali. Sedihh aku nihh. Ada yang berniat meminjamkan laptop kah? Plakkk di gampar readers. Canda yaa.
Kalian-kalian yang membaca ff aku ini. Aku minta review nya dongg. Hargai sedikit saja aku sebagai penulis. Karena nulis dan ngarang cerita tuh gak gampang lohh.
Terima Kasih
NiniSoo1288
