Disclaimer : Bang Masashi

Story : My Own Idea

Pair : SaIno

Typo bersebaran, OOC, dsb


.

.

Sumarry : Aku yang mengagumi punggung putihnya itu hanya bisa berusaha mengejarnya sekuat tenaga, berusaha menyaingi jejaknya/ "Seharusnya, aku saja yang terluka."/ "Ino.., BERJUANGLAH!"/

.

.

.

.

.

.

.

WHITE MIRACLE

"Aku serius." Tetap kudengar perkataannya sambil meminum cokelat panas itu untuk mengahangatkan tubuhku. "Kau tampak bercahaya dan menikmatinya..."

Kutolehkan kepalaku menghadapnya dan mata kami saling bertemu dan menatap satu sama lain. "Seperti Malaikat." Ujarnya.

Pfutt

Karena terkejut, aku memuncratkan coklat dari mulutku.

"Ohok..ohok.." aku terbatuk "Ja...jangan bicara begitu. Bikin Malu tau."

"Hahaha.."Sai tertawa renyah "Wah mukamu merah. Manisnya.."

Perempatan siku telah muncul di dahiku dan aku ingin menghajarnya dengan jurus aikidoku. "Jangan menggodaku seperti itu!"

"Hei.. itu akan tumpah" ujarnya menunjuk pada cangkir cpkelat panas yang kupegang.

"Akh."

GUBRAK

Aku terjatuh menimpa tubuhnya. Wajahku kembali memanas mengetahui jarak antara wajah kami yang terlalu dekat. "Ma..Maaf."

Saat aku mencoba berdiri, kurasakan pinggangku dipeluk. Sai memelukku tepat dipinggangku. Mengunci gerakanku sehingga aku tak dapat berdiri.

"Aku tidak bercanda Ino-chan.." ia melepaskan tangan kanannya dari pinggangku dan menarik daguku untuk menatap matanya "Melihat rambutmu yang diterpa angin..., dan senyummu yang lama tak kulihat. Benar-benar.." ia menghentikan perkataannya sebentar, menatapku dalam seolah mencari sebuah jejak masa lalu yang pernah ada dalam memori "..cantik." lanjutnya.

Sadar akan sesuatu, dengan sigap aku melepaskan diri dan berjalan cepat mendahuluinya. Dapat kulihat dari ekor mataku kalau Sai juga mengikutiku dari belakang.

Deg...Deg..Deg... jantungku...jantungku... kenapa bisa berdetak kebih cepat. Gawat, ini tidak baik untuk jantungku. Aku berhenti di balik sebuah gedung dan menyenderkan punggungku di dindingnya.

"Maaf, padahal kamu sedang sibuk latihan." Terdengar suara samar-samar, aku melihat secara diam-diam dan melihat bibi Tsunade sedang berbicara dengan seseorang "Sakura-san, lomba estafetnya sebentar lagi, kan?" Hah? Sakura? Aku kembali melihat lebih jelas orang yang sedang berbicara dengan Bibi Tsunade. Benar dia adalah Sakura. "Dan sekolahmu selalu juara kan? Aku akan mendukungmu."

"Terima kasih." Jawab Sakura lembut.

"Ino, itu kan seragam sekolah yang sama denganmu." Ujar Sai yang sudah berdiri disampingku.

"Diam." Kataku.

"Tapi sakura-san, sayang sekali kamu tidak bisa ikut lomba, larimu kan yang paling cepat." Bibi Tsunade menghentikan suaranya sejenak "Padahal semua menantikan penampilan Sakura-san berlari di posisi pertama."

"Hmm... Posisi pertama, ya." Gumam Sai.

"Huh.. Jadi aku.. pengganti Sakura-san. Sebenarnya aku di posisi ke-4." Kembali kuingat dimana kaki Sakura keseleo di tangga karena terjatuh dari tangga yang licin "Kaki Sakura terluka, sih.. Jadi tidak bisa jadi pelari pertama."

"Walau pun yang lain tidak bicara apapun, tapi mereka pasti ingin berlari bersama Sakura." Kembali aku mengingat kejadian dimana semua orang mengacuhkanku dan menghampiri Sakura, yang kudengar hanya lah tawa mereka saja "Seharusnya aku saja yang terluka."

"Ino.." gumam Sai lagi.

"Lebih baik.., kaki ini menghilang saja.." ujarku sambil menekukkan kedua kakiku "..dengan begitu, aku tidak akan terbebani lagi dengan hal ini."

Kurasakan kepalaku diusap oleh Sai "Aku mengerti perasaanmu, Ino. Tapi jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kamu santai saja."

Aku membalakkan mataku tak percaya "Yang bisa santai dan tetap bisa menang itu hanya dirimu Sai-kun..." Aku menundukkan kepalaku tak sanggup mengangkatnya "Aku tidak punya sayap untuk terbang sepertimu, Aku beda denganmu Sai yang bisa menjadi nomor 1 hanya dengan menikmatinya saja."

Kurasakan tanganku sakit, bergetar. Seperti ingin hilang dari bumi, rasanya begitu sakit. Ditambah dengan hati yang sedang berkecamuk, aku masih tetap berusaha menahan sakitnya dengan memegangi tanganku.

Kepalaku kembali diusap oleh Sai, bahakan kali ini lebih lembut. "Ino.. Kamu suka memendam perasaan, sih.."

Ia menunduk sedikit dan menyentuhkan keningnya dikeningku "Terkadang... Kamu harus mengeluarkan semua perasaanmu itu."

Kenapa? Kenapa ia malah memberiku senyumannya? Bukankah aku sudah cukup menyakiti perasaannya? Aku ini memang lah bodoh. Ia kembali berdiri dan melepaskan tangannya dari kepalaku. Sampai detik ini pun, ia masih tersenyum. Sai..., kau..

"Sai!" kami menoleh pada seseorang yang berambut kuning jabrik dengan kaos orange yang memanggil Sai "Kamu di panggil oleh Guru Gay, penanggung jawab klub atletik."

"Benarkah?" Sai menoleh padaku lalu kembali menatap pemuda itu "..aku akan kesana." Ujarnya sambil tersenyum. Senyum palsu. "Aku pergi dulu, ya, Ino-chan."

Dengan mengatakan itu, ia kemudian pergi meninggalkanku sendiri kuharapkan sekarang ini aku ingin ia tetap lah berada disini.

.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

.

.

Kulangkahkan kakiku tanpa arah. Hanya satu yang sedang aku pikirkan sekarang ini. Senyuman Sai yang tulus saat aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tak aku katakan. Padahal tadi kata-kataku kejam sekali, dan pasti sudah menyakiti perasaannya. Tapi Sai sama sekali tak menyalahkanku. Kali ini, aku harus minta maaf.

"Kamu sudah kembali, Sai."

Sebuah suara terdengar ditelingaku. Dapat kulihat Sai dan Guru Guy ada di sana. Aku mendengarkan mereka diam-diam.

"Karena kamu tidak dapat beasiswa olahraga itu lagi, kamu harus bersekolah di sini, ya?"

Eh? Apa?! Perkataan guru benar-benar tak bisa dipercaya. Apa Sai ada masalah disekolahnya? Kurasa ini karena dia suka semaunya sendiri.

"Apa boleh buat, aku..." tampak kulihat ia membuang nafasnya dengan berat "...tidak bisa berlari seperti dulu lagi." Sambungnya.

Tidak bisa berlari...lagi?!

"Haah.." guru menggelengkan kepalanya "...cedera memang tidak bisa dipisahkan dari olahraga... gara-gara otot pergelangan kakimu itu robek, merusak karir olahragamu. Meski begitu, semangat lah selalu dengan semangat mudamu!" dengan mengakhiri percakapan mereka dengan menepuk pundak Sai, guru pun pergi.

Apa yang kudengar ini tak bisa kuterima. Tuhan, mengapa dunia ini tak adil?

Tap... Rasanya kakiku sangat berat untuk melangkah, sehingga menimbulkan bunyi.

Sai membalikkan badannya menatapku tak percaya "Ino..."

Tidak.. "Ini tidak benar, kan?" suaraku semakin parau.

"..."

Karena selama ini, Sai selalu tersenyum.

"Kita anggap saja ini bercanda.." ujarnya sambil tersenyum.

Sai... Bagaimana perasaanmu waktu mendengar kata-kataku tadi.

"Seharusnya aku saja yang terluka."

Dan kau masih bisa tersenyum.

"Aku tidak punya sayap untuk terbang sepertimu, Aku beda denganmu Sai yang bisa menjadi nomor 1 hanya dengan menikmatinya saja."

Apa yang kau rasakan waktu mendengar itu?

"Lebih baik.., kaki ini menghilang saja.."

Entahlah.

Pipiku tersa hangat karena tetesan air mata yang mengalir diatasnya. Aku semakin merasa bersalah. Apa yang kau raskaan, Sai? Dan aku tak tahu apa yang harus aku katakan sekarang...

"Sai.." suaraku serak. Sangat serak. Sebagai orang yang telah melukaimu.., apa yang harus aku katakan?

"Ini memang bukan candaan." Sepasang tangan hangat merengkuhku kedalam pelukannya lembut, memberi sebuah kenyamanan namun membuatku semakin merasa bersalah. "Aku.. aku akan terus berlari... karena aku menyukainya." Ia mengelus memelukku sambil mengusap rambutku.

"Ke..kenapa?"

"Entahlah.. akan kuberitahu nanti" jawabnya singkat mempererat pelukannya.

Aku juga suka lari.. ketika kau memperlihatkan punggungmu yang menyilaukan itu dengan seragam yang serba putih, melihatmu berlari sambil tersenyum.., membuatku ingin terus berlari. Dan jika aku bisa sebebas itu, aku juga.. bisa seperti Sai.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

.

Sekarang aku sedang berkumpul bersama timku. Tidak berkumpul yang sebenarnya karena aku hanya menyendiri di sudut ruangan.

"Akhirnya besok kita tanding!" ujar salah seorang anggota timku yang bercepol dua, Tenten. "Aku akan berusaha memecahkan rekorku sendiri!" sambungnya.

"Aku juga!" seru Temari.

"Terkadang... Kamu harus mengeluarkan semua perasaanmu itu."

Perkataan Sai terngiang di otakku. Benar. Aku harus mengeluarkan perasaanku.

"Aku juga.." ujarku.

"Eh... Ino-chan." Kata Hinata terkejut. Dan mereka bertiga melihatku terkejut.

"Mungkin aku tidak tahu apa aku akan bisa menggantikan Sakura... Tapi... Aku akan berusaha sekuat tenaga agar bisa menang." Aku meneguhkan hatiku "Aku ingin kalian berlari bersamaku. A..aku ingin berlari bersama kalian semua."

Semua menatapku teduh.

"Ino.. Kami tidak pernah mau kamu menjadi pengganti diriku." Tanpa kusadari, Sakura telah berdiri dibelakangku sambil tersenyum. Kemudian ia berjalan mendekati yang lainnya. "Yang kami inginkan... kamu merasa ingin berlari bersama kami." Lanjutnya.

"Benar. Kami tahu, kok, kalau kamu telah berlatih keras sendirian." Ujar Tenten.

"Tapi, Ino-chan... kamu tidak bisa sendirian saja. Kita harus jadi tim yang kompak supaya bisa menang." Timpal Hinata.

"Ino. Kami senang kamu bisa punya perasaan sama seperti kami." Kata Temari dan menggengam tanganku.

Mereka semua memegang tanganku erat. Selama ini aku salah. Aku pikir aku bisa melakukannya sendirian. Tapi itu tidak mungkin. Aku tidak sempurna.

.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

.

"BERSIAP..."

DORR

Suara letusan senapan memberikan tanda bahwa pertandingan telah dimulai dan aku menunggu tongkat estafet diberikan padaku.

Ketika tongkat estafet telah diberikan oleh Temari, dengan segera aku melangkahkan cepat kakiku untuk memenangkan lomba ini.

Grep

Kupegang erat selempang yang melambangkan sekolahku. Dengan kekuatan dari semuanya, Aku... dapat menginjak tanah ini. AKU PASTI TIDAK AKAN KALAH.

Semua penonton menyorakkan suara mereka untuk mendukung sekolah pilihan mereka. "Ino!" ditengah suara itu, dapat kudengar suara khas seseorang yang selama ini menjadi seseorang yang telah kuidolakan, seseorang yang pernah kugoreskan luka, namun tetap memberikan dukungannya serta senyuman tulusnya itu. "BERJUANGLAH...!" teriakannya sangat besar seperti memberikan dorongan yang kuat padaku. Orang itu, adalah, Sai.

Dengan menambah kecepatan aku terus berlari seperti terbang. Dan sekarang, tak ada yang bisa menghentikanku. Dan kudengar... suara sayap diterpa angin.

.

.

.

.

.

.

.

"Hiks..Hiks..Hiks.."

"Ino.. Kerja bagus." Ujar Sai.

"Hiks.."

"Padahal.. Aku berniat menghiburmu kalau kamu kalah."

Hah? Apa maksud orang ini yang sebenarnya, aku benar-benar tidak mengerti. "Jangan bercanda disaat seperti ini. Harusnya kamu memberiku selamat." Jawabku sambil memeluk piagam penghargaan juara 1 yang kuraih.

"Baiklah.., kalau begitu kuucapkan selamat."

"Kau tidak sungguh-sungguh!"

"Terserah, Weee!" ujarnya sambil menjulurkan lidahnya "Hm! Gimana kalau kita lomba? Kalau kamu kalah traktir aku kue. Ini kan malam natal."

"Aku akan berlari sekuat tenaga." Jawabku.

"Baiklah. Ayo!" Dengan begitu ia berlari mendahuluiku.

Dibawah langit...

Yang dingin dan putih.

Hari ini pun, kukejar punggungmu itu.

.

.

.

.

.

"Hei Sai!"

.

"Apa? Kau tidak boleh berbicara jika sedang berlari!"

.

"Aku hanya ingin bertanya!"

.

"Tanya saja!"

.

"Alasanmu menyukai lari, apa?!"

.

"Kenapa kau bertanya?!"

.

"Kau bilang akan memberitahuku. Sekarang beritahu aku!"

.

"Apa kau benar-benar ingin tahu?!"

.

"Tentu saja!"

.

"Alasannya..., karena aku menyukaimu!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

THE END


Yeay! Akhirnya fanfic ini selesai juga!

Kalian tahu? Haru jadi terharu membaca review kalian semua.

Terima kasih untuk dukungan, saran dan semua yang kalian tulis di kolom review. Haru suka sama kalian semua deh! .

Uuppss.. Bukan berarti Haru LGBT yakk! Haru sendiri hanya lah remaja yang masih labil dan masih banyak kekurangannya. Maklum, apalah daya Haru yang hanya manusia wkwkwkwkwkk..

Big Thanks To :

- Wiz-Land609

- hana109710 Yamanaka

-Guest

- Yuki

- Lily

- ChoCo