(SUPER) PLAIN LOVE STORY
.
.
.
.
A.N : saya Sedih pas baca komen ada yang nanya Chanyeol suka sama Kris apa ga..
jadi di sini saya bilang, Kris itu cinta pertama Chanyeol. makanya dia sedih tiap Kris nyebut nama cewek idolanya (dan itu dengan kriteria yang beda sama dirinya, in this case :Seo Junhyun sama Hyun ah)
dan Chanyeol di benci banyak cewek karena dia tengil, tukang pamer dan ga sopan.
.
.
Enjoy reading
.
.
Semoga menghibur.
.
.
Berangkat bersama dengan Sehun dan Jongin itu menyenangkan. Chanyeol jadi bisa tersenyum lebih lebar karena para gadis yang melihatnya pasti akan berakhir dengan gerutuan tidak terima.
Kai oppa (yang biasa mereka lihat sangat berkharisma dan seksi di atas panggung) akan terlihat seperti anak anjing penurut jika sedang bercanda dengan dua sahabatnya ini. Dan para gadis yang melihat itu akan menjerit tertahan. Mereka sudah pasti iri.
Mungkin di mata mereka Kai hanya memiliki dua sisi. Yang pertama adalah sisi seksi, berkharisma, tampan dan menggoda di atas panggung. Dan sisi kedua adalah Kim Jongin dengan wajah mengantuk dan tersenyum sekenanya.
Penemuan sisi manis Jongin yang seperti ini adalah harta karun tersendiri.
"Mana Krystal? Dia tidak menghampirimu?" Sehun bertanya setelah Chanyeol mengatakan akan naik ke kelas di lantai 3, yang di jawab gadis bermata lebar itu dengan pandangan menghakimi selama beberapa detik.
Semua orang di asrama menyukai Krystal.
Termasuk Kris yang beberapa kali terang-terangan memuji Krystal di hadapannya.
"Ya! Kau tidak berpikir pertanyaan seperti itu akan melukai harga diriku?"
Chanyeol semakin memicingkan matanya, menatap pemuda dengan kulit pucat itu dari atas kebawah, kemudian mendengus ketika mendapati jawaban dari sahabatnya itu hanya sebuah cengiran. Ia dengan cepat berbalik kemudian berlari menaiki tangga.
Samar-samar ia mendengar Jongin yang tertawa sambil mengatakan jika ia terlihat menggemaskan.
Sebenarnya pertanyaan seperti itu tak benar-benar melukai harga diri Chanyeol. Ia hanya merasa bosan karena semua orang di asrama lebih sering menanyakan tentang Krystal padanya.
Chanyeol merasa dirinya tidak terlalu buruk di bandingkan dengan gadis itu.
Matanya lebar dan kakinya indah, lehernya juga indah (Itu lah alasan kenapa Chanyeol tidak pernah mau mengenakan pakaian panjang, dan selalu mengikat rambutnya)
Kebanyakan orang mengatakan ia mirip dengan kakaknya, dan di matanya, Park Yoora itu cantik seperti malaikat.
Jadi paling tidak Chanyeol seharusnya secantik malaikat juga.
.
.
.
.
"Hei Chanyeol, jika seluruh laki-laki di asrama ini melamar kakakmu, siapa yang akan kau terima?" Amber tiba-tiba mengajukan pertanyaan ketika mereka menikmati hari minggu dengan kue kering buatan bibi Han.
"Minseok oppa" jawabnya tanpa pikir panjang. Dari semua orang di sana, memang Kim Minseok adalah yang paling normal, lagipula, dia jelas tidak mungkin membuat dirinya sendiri patah hati dengan memilih Kris.
"Tapi Park Yoora menyukai pria tinggi, dengan wajah tampan dan memiliki mata tajam"
Chanyeol hanya melirik pemuda tinggi yang mengucapkan kalimat itu. Ia dulu pernah berpikir jika Kris dan Yoora berkencan di belakangnya, namun ketika kakaknya ketahuan sedang berciuman dengan pemuda pendiam dengan bahu selebar landasan pesawat, prasangkanya itu seketika memudar.
"Dan eonnie lebih menyukai pria pendiam"
Seketika asrama itu sepi.
Minseok hanya tersenyum tipis kemudian meraih cookies di atas meja. Memakannya dalam diam. Tampaknya pemuda itu benar-benar menikmati atmosfir tenang itu.
"Terimakasih Chanyeol" gumamnya.
"Bukankah ini keajaiban? Semua pria itu tidak ada yang melihat fisik kakakmu dan mereka berusaha menjadi pendiam"
"Secara fisik Park Yoora tampak seperti Chanyeol, hanya dengan versi lebih dewasa, dan anggun"
Sehun yang mengucapkan kalimat itu. Membuat Chanyeol mengerutkan keningnya bingung. Dapat daripada perbandingan itu?
Ia melirik Kris mulai yang sibuk dengan teh tawarnya. Pemuda itu membalas tatapannya sekilas kemudian menampilan cengiran bodoh untuk membenarkan dugaannya.
"Mati kau Kris"
Chanyeol memang tidak pernah bereaksi dengan wajar jika itu berhubungan dengan Kris.
.
.
.
Pada akhirnya tidak ada yang bisa diam.
Minseok semalaman penuh meminjat kepalanya dan menelan semua protes yang ingin di utarakannya.
Alasannya, pertama karena dia sadar biang keributan kali ini adalah Park Chanyeol, kedua, karena ia sadar Park Chanyeol tidak bisa di nasehati, ketiga, Park Chanyeol sedang berdebat dengan Kris, dan yang ke empat, Park Chanyeol memiliki seluruh dunia jika Kris sedang memperhatikannya.
Jadi mana mau Chanyeol memperhatikan orang lain.
"Tutup mulutmu Kris!"
Minseok melirik Luhan yang bahkan terbahak karena pertengkaran dua orang bodoh itu, kemudian berdiri dari posisinya saat ini.
Dari semua warga asrama memang hanya dia yang tidak suka keributan.
Jadi opsi yang paling tepat untuk di pilih adalah pergi.
.
.
.
.
"Kris"
Pada selasa malam Chanyeol datang mengganggu yang lebih tua lagi. Rambut kecoklatanya adalah yang pertama kali terlihat dari dalam ruangan, menyapa Kris yang masih sibuk dengan tugas dan tumpukan buku tebalnya.
Sang pemilik kamar hanya mendengung dan membiarkan gadis itu masuk dan duduk di atas ranjangnya. Kali ini dengan cara duduk yang manis.
"Kau benar-benar berkencan gadis dengan marga Jung itu?" Chanyeol bertanya dengan suara pelan, menendang udara dengan kaki kanan dan kirinya secara bergantian seraya memandang pemuda yang menjadi object pertanyaannya dengan penuh harap.
Kris tidak langsung menjawab, pemuda itu sepertinya tak terlalu mendengarkan juga. Ia membuka beberapa halaman pada buku tebalnya kemudian menyalinnya.
Chanyeol juga diam, tidak berniat mengulangi pertanyaannya ataupun bersikukuh meminta jawaban.
"Jung siapa? Krystal?"
"Jaemi, Gadis jurusan sastra itu"
"Jung? Namanya Kang Jaemi Chanchan! Kau dengar dari siapa?"
Si pemilik marga Wu masih sibuk dengan notes nya, menggunakan nama 'manis' untuk memanggil Chanyeol mungkin merupakan upaya yang di lakukannya agar si gadis tidak merasa di abaikan.
Chanyeol mengerucutkan bibirnya, kemudian menggerakkan ke kanan dan ke kiri. Berpikir. Sekaligus berupaya menyembuhkan sakit hatinya.
"Luhan oppa, ku pikir kau tidak sedang dekat dengan siapapun"
Kris akhirnya mengalihkan pandangan dari buku tebal tersebut, ia hanya melirik Chanyeol beberapa saat kemudian membawa fokusnya kembali pada tugas.
"Kami sudah beberapa minggu ini dekat, kau saja yang tidak pernah mau dengar jika aku cerita"
Tentu saja.
Gadis bodoh mana yang mau mendengar cerita yang akan menyakiti hatinya?
"Bagus sekali, masih ada gadis yang tersisa dan tidak terpengaruh dengan kehadiranku"
"Aku sudah menerangkan padanya dari awal jika kau tinggal bersamaku, dari kota yang sama, dan bahkan tumbuh bersama"
Ponsel Kris bergetar dan dengan cepat mendapat perhatian dari sang pemilik. Dengan wajah cerah jari-jari besar itu mengetuk-ketuk layar ponsel kemudian meletakkannya di atas meja kembali.
Focus pada tugas kembali.
Chanyeol mengembungkan pipinya sebal, ia yang sejak tadi meremas ujung kaosnya dengan gelisah karena menunggu jawaban merasa terendahkan. Ketika ia bicara pemuda itu (sok) sibuk menggarisi buku serta menyalinnya.
Dan ketika pesan datang semua hal tidak penting lagi.
Si gadis bermata lebar tampak tidak baik, wajahnya memerah dan ia menggigit bibir bawahnya terlalu kuat.
Setelah menghela nafas dengan keras, ia berjalan keluar dari kamar si pemuda lebih tua, tanpa pamit.
Meninggalkan Kris yang menatap nanar pintu kamarnya yang kini tertutup.
.
.
.
.
.
Hari Jum'at.
Pukul 19.20 dan suasana asrama masih terlalu ramai. Bibi Han dan paman Song sedang keluar, menikmati kencan yang biasa mereka lakukan sebulan sekali.
Mereka adalah pasangan yang sudah menikah lebih dari sepuluh tahun dan masih sangat harmonis walaupun tidak memiliki keturunan.
"Hyung, jika semisal Chanyeol dan Amber noona tenggelam, dan keduanya tidak bisa berenang siapa yang hyung selamatkan pertama kali" pertanyaan Klasik dari Jongin. Di tujukan pada Luhan yang sejak tadi menggoda Chanyeol karena cara duduknya benar-benar manis.
"Aku tidak akan menyelamatkan siapapun" Luhan menjawab tanpa berpikir, memberi jeda pada kalimatnya selama beberapa detik untuk menatap sang penanya kemudian melanjutkan "Aku kan tidak bisa berenang"
Jongin mengumpat karena jawaban tak bermutu itu. Ia kemudian melirik Sehun yang hanya di jawab pemuda dengan kulit pucat dengan matanya yang melebar.
"Kris hyung" panggil Sehun yang akhirnya mengerti maksud Jongin "Jika Chanyeol dan Jaemi noona yang tenggela—"
"Tentu saja aku akan menyelamatkan Chanyeol"
Jantung Chanyeol mencelos mendengar jawaban cepat itu, ia hampir saja berpikir itu adalah jawaban reflek karena Kris terlalu memikirkannya.
"Aku akan menyelamatkannya bersama Jaemi, gadis itu benar-benar pandai berenang. Dan dia tampak benar-benar seksi jika sedang basah"
Senyum di wajah Chanyeol seketika menghilang. Ia berdiri kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan ruang tengah dan masuk ke dalam kamarnya.
"Sialan, aku bahkan malu pada diriku sendiri"
.
.
.
.
Kang Jaemi mendatangi Chanyeol beberapa hari setelah insiden pertanyaan konyol Jongin. Gadis itu menyapanya dengan senyuman tipis, kemudian menarik kursi di seberang mejanya dan duduk tanpa menunggu di persilahkan.
"Ku dengar kau sudah seperti adik bagi Kris oppa, jadi aku mendatangimu untuk berkenalan"
Gadis itu tampak baik saja, tersenyum dan berbicara dengan lembut padanya.
Jika di lihat secara fisik, gadis ini memang sangat berbeda dengan Chanyeol. Pakaiannya benar-benar terbuka. hampir seperti cara Kim Hyuna berpakaian.
Dan Chanyeol tidak pernah minder jika membicaraan tentang wajah. Ia jelas lebih cantik dari gadis dengan make up tebal ini.
"Kami hanya berada di asrama yang sama, Amber juga dekat dengan Kris… Oppa"
Chanyeol memberi jeda pada kalimatnya, agak ragu untuk menambahkan panggilan oppa, tapi toh panggilan itu meluncur juga dari mulutnya.
Dan gadis di hadapannya tersenyum. Matanya berkeliaran menatap wajah Chanyeol dan turun ke dada, sampai bagian atas tubuh yang tidak tertutup meja yang membatasi mereka, kemudian naik hingga ke ujung rambut lagi. Membuat Chanyeol tidak nyaman.
"Err... Sunbaenim, apa ada yang lain?"
"Ah, tidak… kau tidak pernah punya kekasih ya? Payudaramu kecil sekali"
Sialan!
.
.
.
"Aku benci kekasihmu itu! Lalu memang kenapa jika tubuhnya seksi? Payudaranya pasti tidak asli kan? dan bokongnya juga! Tidak tahu sopan santun, mengomentari fisik orang di pertemuan pertama! Memang kita sudah akrab?"
Chanyeol langsung mengoceh ketika Kris masuk kedalam rumah, pemuda itu menatapnya sekilas tanpa mengucapkan apapun.
Hanya melepas sepatunya kemudian tersenyum dan mengacak poni gadis yang sedang berkacak pinggang itu.
"Kau bertemu Jaemi hari ini?"
"Siapa lagi menurutmu?"
"Kami sudah putus tadi siang, mungkin dia mencarimu karena marah"
"Ada apalagi denganku?! Aku tidak berusaha bergelendot padamu selama 2 minggu kalian berkencan"
"Memang"
"Lalu?"
"Aku berkata kau selalu mengomel karena aku terlalu banyak berkencan dan kuliahku berantakan"
"Kau gila! Pantas saja semua gadis membenciku"
Dan Kris kemudian tertawa mendengar kalimat itu, ia mengacak rambut Chanyeol kembali. kemudian menarik kedua pipi gadis itu dengan gemas.
"Aku bosan dengannya" ungkapnya. Terlalu mudah. "Maafkan aku oke, bagaimana jika ku belikan sepatu?"
"Aku tidak semurah itu"
"Kau mau perawatan kuku Baekhyun juga?"
"Deal"
Kau tetap murah Park Chanyeol.
.
.
.
.
.
Kris menepati janjinya dengan membawa Chanyeol ke salon untuk perawatan kuku langganan Baekhyun. Mengingat gengsi Byun Baekhyun, Chanyeol yakin untuk berlangganan di salon ini pasti membutuhkan biaya tidak sedikit.
Seorang gadis dengan rambut berwarna pirang yang menyambutnya ketika membuka pintu, senyum gadis itu semakin lebar karena matanya menangkap wajah tampan pemuda yang berjalan di belakang Chanyeol.
"Jangan coba-coba lari, kau sudah berjanji padaku"
Kris menghela nafas lagi. Ia sudah ribuan kali meyakinkan gadis ini bahwa laki-laki sejati tidak pernah mengingkari ucapannya sendiri.
Dan ia lelah jika harus mengatakan hal konyol semacam itu lagi.
Terlebih di depan banyak orang dan beberapa di antaranya sedang menatapnya kagum
"Namamu sudah di panggil, masuklah! Jika kau selesai dan tidak menemukanku disini kau boleh memenggal kepalaku"
"Baiklah, aku suka ide memenggal kepala orang" Chanyeol tersenyum, meniup ke sepuluh kukunya dramatis kemudian berjalan dengan gontai menghampiri wanita paruh baya yang beberapa detik lalu memanggil namanya.
Wanita itu jelas sedang memperhatikan Kris ketika Chanyeol berlalu.
Mungkin penampilan Kris saja yang terlalu menonjol, dengan tinggi badan di atas rata-rata pemuda Korea, dan di dukung wajah super tampan yang sangat pas dengan warna rambut pirangnya.
Atau gadis-gadis di salon ini saja yang terlalu kampungan. Tidak pernah melihat lelaki tampan.
"Chanyeol?" ia mendengar suara seorang gadis yang tak terlalu asing ketika satu kukunya selesai di percantik. Menoleh pada sumber suara kemudian (terpaksa) tersenyum manis.
"Jinri Eonni"
"Ku pikir kau tidak suka datang ke tempat seperti ini?" gadis itu tersenyum, dengan eye smile yang indah. Dan Park Chanyeol benci mengakui jika gadis ini memang sangat cantik. Terlebih eye make up yang mendukung penampilannya untuk terlihat lebih mempesona
"Kris oppa yang membayar, jadi…"
"Kau datang bersama Kris oppa?"
Chanyeol sebenarnya hanya ingin terdengar lebih imut dan memanggil Kris dengan embel-embel oppa, bagaimanapun ia harus menyelamatkan image nya di depan gadis yang cantiknya tidak tau diri ini.
"Iya, dia menunggu di depan"
"Kalian tidak pernah berubah ya, Kris oppa selalu bersedia kau peralat"
Chanyeol tidak bisa membedakan jika kalimat yang di ucapkan Jinri itu sebuah kalimat sarkas atau tidak. Gadis itu terkikik sendiri dan kemudian tersenyum sangat manis padanya.
Mungkin hanya sebuah gurauan. Walaupun terdengar menyakitkan (bagi Chanyeol)
.
.
.
.
.
"Hai Oppa"
Kris membeku menatap gadis cantik itu.
"Jinri"
"Aku mengejar oppa pindah ke Seoul" canda gadis itu. Chanyeol mengakui bahwa suara tawanya juga terdengar manis.
"Benarkah?" Out of character sekali, Kris yang gugup terlihat sangat aneh. "Sepertinya kau sudah lama berada di Seoul mengingat kau sudah mendapatkan salon langganan?"
"Belum lama, aku ingin menghubungi oppa, tapi tidak tau bagaimana" Jinri bergumam pelan, pipi merahnya yang merona terlihat lebih menonjol ketika ia bicara. Dan cara bicaranya juga sangat lembut berbeda dengan gaya bicara Chanyeol yang bar bar.
"Aku masih belum mengganti nomor ponselku, berjaga-jaga jika ada teman lama yang ingin menghubungi" Kris tersenyum, pemuda itu memberi penekanan tersendiri pada kata teman lama dan itu membuat Jinri terkikik dengan cara yang terlihat imut.
"Oppa masih setampan dulu"
"Kau bahkan menjadi lebih cantik"
Chanyeol meresa gerah. Ia menatap kedua wajah orang-orang di hadapannya kemudian berdehem untuk menampakkan diri. Walaupun gagal.
"Bagaimana jika eonni makan siang bersama kami"
Chanyeol tidak yakin jika itu adalah keputusan yang bijak. ia hanya ingin membuat dirinya terlihat diantara dua mantan kekasih yang sedang melakukan reuni kecil-kecilan itu.
"Boleh juga"
.
.
.
.
Choi Jinri adalah mantan kekasih Kris. Cinta pertamanya, kekasih pertamanya dan patah hati pertamanya. Kehadiran gadis itu jelas tidak akan memberikan reaksi biasa saja dari pemuda tampan pujaan hatinya.
Bahkan sampai saat ini Kris tidak pernah menyebut nama Choi Jinri dengan ekspresi biasa.
"Bagaimana kabar oppa? Kita tidak bertemu lebih dari 3 tahun"
"Baik, ternyata sudah lama sekali ya, kau pasti sudah punya banyak kekasih sekarang?"
Itu sebenarnya cara menanyakan tentang kekasih yang sangat kuno, Chanyeol memutar matanya jengah, ia menjulurkan lidah ingin mutah lantas memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa bersuara.
"Tidak juga, tidak ada yang seperti oppa"
Chanyeol tidak berselera makan. Meskipun begitu ia tetap memasukkan makanan kedalam mulut dengan kalap. Persetan dengan bersikap anggun dan menjaga penampilan.
Kris yang mendengar keributan yang di timbulkan gadis itu mengalihkan matanya dari sang mantan kekasih. Kemudian mengamati wajah Chanyeol dan piring di hadapan gadis itu secara bergantian.
"Makan yang benar" pemuda itu memukul pelan kepala gadis itu, membersihkan mulut gadis jorok itu secara kasar kemudian melemparkan tisu yang di gunakan tadi ke wajah Chanyeol.
"Kau kan bisa memberitahuku dengan cara yang lebih baik Kris! Lihat saja jika kau memperlakukan kekasihmu seperti ini, mereka pasti akan memutuskanmu detik itu juga"
"Mereka akan memutuskan Kris oppa, jika melihat oppa memperlakukanmu seperti itu" Jinri menginterupsi. Ia menatap Kris dan Chanyeol secara bergantian, masih dengan senyum yang sama.
Chanyeol tidak ingin menjawab itu. karena jelas sekali gadis itu sedang menyindirnya.
Hubungan mereka berakhir karena gadis tidak tau diri seperti Chanyeol yang terus mengganggu kencan sepasang kekasih itu dengan mencari perhatian Kris setiap detik.
"Gadis ini kan memang tidak bisa mengurus dirinya sendiri"
Chanyeol hanya berdesis kesal karena kalimat pria yang lebih tua. Ia sadar ada gadis lain yang sedang mengamati tingkah mereka dengan tidak nyaman. Jadi mulutnya di paksa untuk diam.
Kris sendiri tampaknya sangat puas dengan reaksi itu, dan tertawa seraya mengacak poni Chanyeol.
"Kalian memang tidak pernah berubah ya?"
.
.
.
Continued
.
.
Saya sedih
pertama, Krisyeol fic semakin menghilang, 2. Krisyeol shipper berkurang. 3. bottom! Chanyeol fic ga ada lagi. 4. saya ga ada asupan fic.
JADI maklumi saja kalo fic semakin ambur adul.
ga ada vitaminnya.
Makasi yang kemarin REVIEW. IT MEANS ALOOOOOOTTT.. yeah walopun yang review yang banyak.. but thank anyway. XOXO.
untuk yang mengharapkan Lumin atau Sekai mohon maap disini ga ada boy x boy nya. kan ceritanya ini GS.
dan ada satu lagi yang jadi cewek selain Chanyeol. tapi cuma nongol sebentar.
.
Review Juseyo..
naikkan mood saya PLEASE~~~~
