Eomma
Are you doing good?
There is not any problem, right?
I has been 7 years since you've left
Until now, I can't still believe that you're gone.
Ah, It's been too long
Meanwhile, Im married and have a kid
I really want you to see my baby
Eomma
I think Im immature eventough I'm an adult now
Eventough Im already married ,even my daughter was born
It feels as trough Im still playing with a toys
Because to My mom, Im always a young child
I don't know what to do
Eomma
Today I looked down the veranda
And waved to my young daughter who turned 2 year old this spring
She wearing a yellow school bag
And I suddenly felt as if I wanted to talk with you
Bus terlihat lengang dengan beberapa penumpang saja, Kyungsoo duduk sendirian di bangku agak belakang, jendela terbuka lebar dan angin yang masuk mengacak rambut tipisnya, sesekali ia menatap ke arah gantungan kunci berbentuk bayi malaikat yang sedang memadu kasih, digantung secara asal di kaca spion tengah, suaranya sedikit gaduh akibat gesekan antara besi pengait dan bahan keramik.
Bunyi Gemerincing.
Perjalanan untuk sampai ke rumah masih setengahnya lagi, Kyungsoo masih melamunkan mengapa bunyi-bunyian itu terdengar seperti nyanyian kesepian sebelum ia menyadari bahwa keramik replika malaikat itu tak lengkap, satu diantaranya tak berkepala.
Malaikat Kesepian.
'Ting'
'Ting'
Bunyi mangkuk keramik yang berbenturan dengan sumpit aluminium terdengar berulang-ulang di ruangan sempit itu.
"Surat apa yang ia simpan? Apa ia diam-diam memiliki surat tanah?" Tanya kakak ipar Kyungsoo tak sabar.
"Ia tak meninggalkan surat apapun." Kyungsoo mengunyah olahan ikan yang sedikit asin itu.
Kyungsoo sedang menikmati makan malamnya yang sederhana, rasanya seperti tercekat duri ikan meski ikan yang ia makan jenis ikan tak bertulang, kakak ipar perempuannya terus mengawasinya sampai suapan terakhir.
"Berikan surat itu." tagihnya terus menerus.
"Dewan pengurus gereja tak tahu siapa itu Junmyeon-hyung "
"Ia meninggal secara Kristen."
"Tak ada yang ia tinggalkan untuk kita. Dan Kristen tak menebar abu jenazah."
Kyungsoo beranjak, membereskan peralatan makannya ke dapur. Kakak iparnya masih mengikutinya.
Gerakan tangan Kyungsoo membuat busa meluap di sekitar bak pencucian.
"Apa benar tak ada yang ditinggalkan Junmyeon untuk kami?"
Kyungsoo menatap gadis kecil berusia 10 tahun yang perlahan merayap dan memeluk ibunya. Mata kecilnya mengawasi Kyungsoo pamannya.
"Bukankah telah kau bakar habis?"
"Tidak untuk penelitian-penelitian bodohnya!"
"Hyung tak meninggalkan apapun... selain luka mendalam untukmu."
"Aku hanya butuh surat itu."
Kyungsoo tak menghiraukan rengekan kakak iparnya, ia menuju kamarnya.
'Kau hanya akan tertawa melihat surat-surat hyung. Ini bukan surat warisan atau surat-surat tanah seperti yang kau pikirkan, kau tak akan pernah merongrong ku untuk sebuah mellow diary ini bukan?'
Kyungsoo tertawa mengejek pada secarik kertas penuh tulisan Junmyeon yang sedikit tak rapi itu. Surat untuk ibu mereka? Sangat konyol...
Apa kematian terlihat sangat jelas seperti anggur dalam gelas kaca?
Tanggal di surat itu semakin membuatnya sesak, apa yang dilakukan Junmyeon sehari sebelum meninggal adalah pemikiran tersulit untuk Kyungsoo.
Kyungsoo kehilangan ibu di usia 7 tahun, sementara Junmyeon di usia genap 22 tahun, tepat setelah bayi perempuannya lahir. Gadis kecil itu memiliki mata neneknya.
