Perfect Nanny

.

Donghae Eunhyuk

.

Chaptered, Yaoi, Homo, Typos, alur lambat.

Remake from Perfect nanny candidate. Sasunaru fanfiction by haraguroi harikin

.

.

.

.

Chapter 2

.

.

Saat ini Hyukjae masih terus saja menangis sesenggukkan di kamar sahabat tercintanya, Kim Kibum. Sejak ia kabur dari rumah—atau lebih tepatnya di usir oleh sang Ayah—Hyukjae memutuskan langsung membawa semua barang-barangnya, semuanya yang menurutnya berharga. memasukannya kedalam koper bermerk miliknya, dan kabur ke apartement sang sahabat yang saat ini ia sambangi.

Entah mengapa, ketika melangkahkan kaki pergi dari rumah tempat tujuan yang muncul di otak Hyukjae hanya tempat tinggal sahabatnya ini.

Karena mungkin kalau ia pergi ke rumah Heechul yang ada malah Hyukjae yang akan di ceramahi habis-habisan oleh Heechul.

Zhoumi? Jangan harap jika Zhoumi akan selalu ada di apartement. Dia itu lebih banyak keluyuran.

Tapi sungguh, Hyukjae baru tahu hal ini kalau Kibum sahabat setianya ini sekarang tinggal satu atap dengan Choi Siwon.

"Sudahlah Hyuk, berhentilah menagis. Kau membuatku bingung."

Hyukjae mengusap kedua matanya yang berair dengan sebelah tangannya ketika mendengar ucapan sahabatnya ini.

"Bagaimana aku tidak menangis? Ayahku mengusirku dari rumah." Isak Hyukjae.

"Aku harus kemana Kibum-ah?" Hyukjae memelas dengan airmata yang sudah siap jatuh kembali sambil menatap sahabatnya.

"Kau tentu saja disini. Kau bisa tinggal di apartementku, Hyuk."

"Aku tidak mau mengganggu kehidupan rumah tanggamu di sini." Hyukjae bergumam pelan sambil mengerucutkan bibirnya.

"Hey apa yang baru saja kau katakan tadi hah? Rumah tangga katamu? Siwon hanya sedang menginap disini untuk beberapa hari kedepan, Hyuk." Jelas Kibum dengan gugup.

Hyukjae terdiam berpikir sejenak. Bukan, bukan memikirkan tentang ucapannya soal rumah tangga sahabatnya itu. Tapi Hyukjae pikir dia tidak mungkin tinggal di apartement Kibum dan menumpang selamanya bukan? Lagipula Kibum juga memiliki privasi, dia juga ingin berduaan saja dengan kekasihnya yang super tampan itu. Walau Kibum mungkin tidak akan tega mengusirnya , tapi Hyukjae juga harus tahu diri, 'kan?

Apa harus tinggal di apartement Zhoumi?

Ah, bahkan ketika Hyukjae menghubungi kekasihnya itu dan menceritakan perihal diusirnya ia oleh sang Ayah, Zhoumi sama sekali tidak datang sekedar untuk melihat kondisi Hyukjae. Sibuk sekali orang itu.

"Haruskah aku tinggal di apartement Zhoumi, Kibum?"

"TIDAK!" Kibum berteriak sangat nyaring sehingga membuat Hyukjae menutup telinga nya yang berdengung. Bisa tidak sih tidak usah seberlebihan seperti itu reaksinya?

"Tinggal dengan Zhoumi adalah ide paling buruk darimu yang pernah aku dengar!" ucap Kibum keras.

"Kau kan bisa tinggal denganku, Hyuk."

See ? Kibum pasti menawarkan Hyukjae tinggal bersamanya. Ahhh Dia memang seorang sahabat.

"Aku tidak bisa terus tinggal denganmu, Kibum. Bisa-bisa nanti Siwon cemburu padaku."

Sontak saja mulut Kibum ternganga karena mendengar ucapan Hyukjae barusan. Apa perkataannya tadi cemburu pada Hyukjae?

"Mana mungkin Siwon cemburu padamu yang bahkan jelas lebih terlihat cantik dariku?"

Sial, mulai lagi sahabatnya ini mengejek Hyukjae cantik, padahal mereka baru saja membicarakan hal yang serius. Lagipula Hyukjae itu kan tidak cantik. Dapat asumsi darimana wajah Hyukjae itu cantik?

"Berkacalah kau, Hyukjae. Memang wajahmu seperti gadis perawan." Seakan tahu apa yang ada di pikiran Hyukjae, Kibum kembali mengejeknya.

"Itu bukan cantik," sanggah Hyukjae.

"Itu adalah feromon."

Yang terjadi selanjutnya adalah Kibum menatap Hyukjae aneh.

"Feromon apanya? Sudah, lebih baik kau tinggal disini. Aku akan membicarakannya dengan Siwon." Kibum terdiam sejenak sebelum kembali berkata.

"Bukankah seharusnya lebih baik kau kembali saja ke rumahmu, Hyuk?

Ibu dan Ayahmu pasti mencarimu."

Hyukjae menggeleng.

"Mana mungkin? Jelas-jelas Ayah sudah mengusirku! Bahkan Ibuku juga tidak membelaku. Mereka sudah tidak peduli lagi padaku." Hyukjae menunduk memikirkan kata-kata yang baru saja keluar bibirnya.

"Minta maaflah pada orangtuamu, Hyuk. Mereka tidak mungkin tidak memaafkanmu."

"Tapi mereka tidak akan menerima Zhoumi, Kibum!"

Kibum menghela nafas frustasi.

"Dengar Hyuk, kau tidak mungkin kan membangkang pada orang tuamu hanya demi Zhoumi yang bahkan belum kau kenal jelas?"

Hyukjae hanya menundukkan kepala mendengar pertanyaan Kibum.

Memang benar, aku membela Zhoumi kali ini. Tapi, Ayah sudah keterlaluan menuduh Zhoumi seenaknya.

"Ayahku sangat keterlaluan menuduh Zhoumi." Gumam Hyukjae.

"Ayahmu tidak mungkin asal menuduh Hyuk. Dia Sangat sayang padamu, dan setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak mereka." Nasihat Kibum.

"Sudahlah, Kibum. Untuk saat ini dan entah sampai kapan, aku tidak akan pulang kerumah."

"Mungkin aku bisa menyewa apartement untuk tinggal." Putus Hyukjae.

Dan di depannya Kibum hanya bisa kembali menghela nafasnya lelah, sahabatnya ini memang benar-benar keras kepala. Haah...

.

.

.

.

oOHaeHyukOo

.

.

.

"Biar kubantu carikan tempat tinggal untukmu ya?" Hyukjae hanya mengangguk mendengar ucapan Zhoumi.

Setelah menginap semalam di rumah Kibum, paginya Hyukjae menemui Zhoumi. Untunglah kekasihnya itu sedang tidak berkeliaran kemana-mana sehingga bisa di menemui.

Semalam, Hyukjae sudah memutuskan untuk mencari

apartement untuk tinggal.

Hyukjae tidak mungkin kan menumpang pada Kibum selamanya. Ia Juga tidak mungkin tinggal di apartement Zhoumi, setidaknya saran Kibum kali ini ada benarnya.

"Kudengar ada apartement yang di sewakan tak jauh dari sini. Mau kesana?" tawar Zhoumi.

Hyukjae terdiam sebentar sebelum menjawab.

"Kuharap apartement itu belum tersewa. Jawab Hyukjae sambil menatap kekasihnya yang sedang tersenyum.

Mungkin menurut Ayah dan Ibu, atau kedua sahabatnya Zhoumi bukanlah orang yang baik. Tapi, bisa Hyukjae rasakan sendiri Zhoumi orang yang menyenangkan. Entah mengapa mereka mengatakan itu padanya.

Bicara soal Ayah dan Ibu, sepertinya mereka serius mengusir Hyukjae dari rumah. Buktinya mereka sama sekali menghubunginya, tidak khawatir lagi pada Hyukjae ternyata. Hyukjae benar-benar merasa dibuang oleh orang tuanya sendiri.

Hyukjae menatap seisi ruangan yang di sewanya sebagai tempat untuk waktu yang entah sampai kapan.

Apartement ini tidak besar, sungguh. Bahkan ini mungkin tidak ada besarnya jika di bandingkan dengan kamar Hyukjae di kediamannya dulu. Tapi yasudahlah setidaknya ia sudah memiliki tempat tinggal sendiri untuk saat ini.

Beranjak ke arah kasurnya, Hyukjae menidurkan tubuhnya disana. Haah, berharap hari kedepan tidak akan merepotkan.

.

.

.

.

oOHaeHyukOo

.

.

.

Sepertinya Hyukjae harus berterimakasih pada Kibum dan mulut besarnya itu. Kekasih Siwon itu dengan santainya menceritakan masalah yang terjadi pada Hyukjae ke seorang Kim Heechul!

Oh, ayolah. Semua orang yang kenal Heechul tahu, dia itu kalau sudah menyangkut orang terdekatnya akan menjadi sangat menyeramkan.

Heechul mengomeli Hyukjae habis-habisan dan memaki-maki Zhoumj dengan kosa kata kasarnya yang jarang sekali ia ucapkan.

"Tolonglah, Heechul." Saat ini Hyukjae sedang melancarkan serangan puppy eyesnya agar Heechul tidak memberitahu keberadaannya pada sang Ayah.

"Kumohon Hyung. Kau teman terbaikku." Bisa di lihat Heechul yang berdecak sebal karena permohonan Hyukjae.

"Haah baiklah. Dan Sekarang kau tinggal dimana?" Hyukjae terdiam sejenak mendengar pertanyaan Heechul.

Bingung harus memberitahu tempat tinggalnya yang sekarang atau tidak.

Jika Hyukjae memberitahukannya pada Heechul ia hanya takut kalau Heechul akan melaporkan pada orang tuanya—eh tunggu, orang tuanya kan sudah tidak peduli lagi pada anak semata wayangnya ini.

"Aku menyewa sebuah apartement ."

Heechul mengernyit, "Kau bisa membayarnya?"

"Hei, kau pikir aku tidak punya uang!" protes Hyukjae mendengar pertanyaan Heechul.

"Bukan. Berapa uang yang ada di tabunganmu? Apa cukup untuk kebutuhan Tuan Muda sepertimu, eh?"

Aku terdiam sejenak.

"Yah, mungkin untuk kehidupanku enam bulan kedepan bisa tercukupi."

Tunggu!

"Tidak akan cukup! Bagaimana kalau aku ingin belanja?"

Heechul mendengus sebal, Kibum menepuk dahinya mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabat mereka.

"Kau bodoh! Masih sempat memikirkan hal itu?" Hyukjae mengernyit mendengar ucapan Kibum.

"Tentu saja! Itu juga kebutuhanku!"

"Bodoh." Sindir Heechul pedas.

"Kau ini sudah tidak di biayai oleh kedua orang tuamu, Hyuk. Berpikirlah untuk berhemat."

Hyukjae terpaku. Berhemat? Selama ini Hyukjae belum pernah berhemat selama Dua puluh tahun ia hidup.

Bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya untuk berhemat. Apa iya Hyukjae harus melakukannya? Kenapa pula ia harus melakukannya? Kenapa harus sesulit itu?

Ah, sudahlah Lee Hyukjae. Semua akan baik-baik saja.

.

.

.

.

oOHaeHyukOo

.

.

.

.

"Jadi malam ini, anda ingin makan apa, Tuan Lee Hyukjae?" Hyukjae terkekeh pelan karena tingkah Zhoumi yang tiba-tiba berlagak sok menjadi

butler ini. Hyukjae melirik kearahnya yang sedang menyetir mobil.

"Mm.. Aku sedang ingin makan steak ." Hyukjae menjawab.

"Your wish is my command, Tuanku."

Zhoumi berujar, dengan itu akhirnya mereka segera menuju tempat itu.

Sejak percakapan Hyukjae dengan kedua sahabatnya yang menyuruhnya untuk berhemat, Hyukjae telah berpikir bahwa ia merasa itu tidak perlu. Ia masih ingin menikmati hidup tanpa harus membatasi apa yang ia inginkan.

Seperti malam ini, lagi-lagi Hyukjae makan malam bersama Zhoumi di salah satu restoran Steak ternama di Seoul. Oke, mungkin patut sedikit di curigai mengapa Zhoumi jadi sering berada di sisi Hyukjae sejak empat hari yang lalu.

Sudah tepat sebelas hari Hyukjae meninggalkan kediamannya dan nampaknya orangtuanya sudah benar-benar tidak peduli lagi. Atau yang mereka pikirkan kalau anak itu mudah dibuat? Jadi tidak masalah hilang, tinggal buat lagi yang baru, begitu? Hyukjae sudah benar-benar di buang oleh orang tuanya sendiri. Sungguh miris bukan?

Semakin hari uang di tabungan Hyukjae juga sudah tidak sebanyak ketika ia memutuskan keluar dari kediamannya yang sangat mewah itu. Uang di tabungannya sudah hampir habis, atau mungkin hanya cukup untuk ia makan sampai besok saja.

Salahkan saja barang-barang bermerkmodel terbaru keluar di saat seperti ini, Hyukjae tidak akan bisa untuk menahan nafsunya ingin memiliki barang-barang tersebut!

Dan lagi Zhoumi—yang alasannya—meminjam uang lagi untuk membeli sepeda lipat yang entah Hyukjae tidak tahu untuk apa. Tapi rasanya Zhoumi memang tidak membeli sepeda lipat. Karena tidak pernah aku lihat ia memamerkannya. Dan lagi Hyukjae berkata untuk tidak mengembalikan uangnya! Ah, Ia selalu kalah oleh kekasihnya itu.

Semoga saja hal buruk tidak terjadi pada keuangan Hyukjae.

.

.

.

.

oOHaeHyukOo

.

.

.

.

Sepertinya Doa Hyukjae sama sekali tidak di kabulkan! Bulan kedua ia kabur dari kediamannya, kiamat menghampirinya!

"Sudah kubilang bukan?" Hyukjae semakin membenamkan wajahnya di pundak Kibum saat mendengar ucapan Heechul.

"Kau itu Tuan Muda manja yang tidak mengerti kalau sewaktu-waktu uang bisa habis! Hancurlah dirimu sana, Lee Hyukjae bodoh."

"Sst , Heechul Hyung! Kau tidak lihat Hyukjae sedang menangis?" Kibum membela Hyukjae, dia mengelus punggung sahabatnya itu berusaha menenangkan.

"Aku nasehati kau untuk berhemat, kau tak dengarkan." Heechul menghela nafas. "Lalu kau mau bagaimana? Kusarankan kau lebih baik Kembalilah pada orang tuamu Hyuk, dan meminta maaflah pada mereka."

Hyukjae menatap Heechul sebal.

"Aku kembali kesana? Mereka tidak peduli padaku lagi! Bahkan mereka tidak menyuruh orang mencariku!" Hyukjae mendengus,

"Lagipula mereka keterlaluan mengatai Zhoumi seperti itu."

"Dengar ini Lee Hyukjae, bahkan di saat kau sedang kesulitan seperti ini adakah kekasihmu itu untukmu?" suara Heechul meninggi, nampaknya dia emosi.

"Hyuk-ah," Hyukjae menoleh ke Kibum.

"Sampai kapan kau membela orang itu? Dia mempermainkanmu."

Hyukjae menepis tangan Kibum yang ada di pundaknya setelah mendengar kalimat itu, menatap kedua sahabatnya dengan sangar.

"Kalian jangan berkata macam-macam tentang Zhoumi! Kalian memang tahu apa?"

Heechul mendengus,

"Kau sendiri tahu apa tentangnya?

Nothing !"

Hyukjae terdiam mengulum bibir bawahnya. Memang benar, tidak banyak yang ia ketahui tentang pemuda yang menjadi kekasihnya itu.

"Lupakan saja,aku malas membahas ini berulang-ulang. Toh nanti kau akan melihatnya sendiri, baru kau menyesal." Hyukjae melirik Heechul yang nampak memijat pangkal hidungnya.

"Jadi bagaimana kau akan tinggal nanti? Masih punya uang untuk membayar sewa apartement mahalmu itu?

"Aku sudah membayar sewa untuk bulan ini, sampai akhir bulan ini aku tidak memiliki uang lagi, mungkin aku akan keluar dari apartement itu." Jelas Hyukjae.

"Kau bisa tinggal di tempatku dulu kalau kau mau." Hyukjae menatap Kibum. Lagi-lagi dia menawarkan ini padanya.

Yah, kalau dipikir memang menguntungkan, Hyukjae jadi tidak perlu repot mencari tempat tinggal yang lebih murah. Tapi, pikiran lainnya, ia tidak mungkin tinggal di tempat tinggal Kibum sementara kekasih Kibum juga ada disana bukan?

Hyukjae menggeleng. "Aku tidak mau mengganggu rumah tangga romantismu dengan Siwon." Kibum melotot kearah Hyukjae.

"Kalau begitu siap-siaplah dirimu untuk mencari pekerjaan." Hyukjae tertegun menatap Heechul horor.

Pemuda berambut Hitam itu memutar bola matanya.

"Kau pikir uang datang begitu saja?"

"Tapi aku bahkan belum lulus kuliah! Apa iya harus bekerja?" Oh, sama sekali tidak pernah terpikir oleh Hyukjae untuk bekerja di umurnya yang masih muda ini. Bekerja dengan modal kau hanya lulusan Sekolah Menengah Atas? Pasti pekerjaan kasar dan berat!

"Kau yang ingin kabur dari rumah, kau yang tanggung resiko." Ujar Heechul tajam.

"Atau minta uang saja sana pada kekasihmu itu. Bukankah selama ini kau yang selalu memberikan apa yang dia mau?"

"Betul. Balas budi." Timbal Kibum.

Hyukjae menggeleng. Masa iya dirinya meminta lagi apa yang telah ia berikan pada Zhoumi?

"Kau gila?" Maki Hyukjae. "Mana mungkin aku meminta lagi apa yang telah kuberikan?"

"Daripada kau tidak punya uang?"

Hyukjae kembali tertegun mendengar ucapan Heechul. Benar, debit cardnya memang sudah benar-benar mengempes.

Dan Parahnya lagi Hyukjae tidak bawa credit card karena berpikir itu tidak akan diperlukan. Bodohnya dia , ratap Hyukjae memelas.

"Setidaknya mintalah Kekasihmu itu membantumu." Kibum mengusap pundakku.

"Aku juga bisa membatumu sedi-

ouch !"

Heechul memukul kepala Kibum keras, membuat sang korban mendelik padanya.

"Sebaiknya kita jangan membantunya Kibum. Biarkan dia dewasa dengan masalahnya sendiri."

"Heechul Hyung, kau jahat sekali pada teman sendiri!" Bukan. Itu Bukan Hyukjae yang protes, melainkan Kibum.

"Bukan jahat. Hanya mengajarkan pada anak ini untuk lebih berpikir dewasa dan tidak bertindak sesuka hatinya. Dia yang berbuat dia yang tanggung. Aku tidak mau tahu." Hyukjae hanya bisa tertunduk sambil mengulum bibir bawahnya mendengar kata-kata Heechul. Terdengar jahat dan baik sekaligus di telinganya.

"Kalian jangan khawatir, aku tidak akan meminta bantuan materil kepada kalian." Tenang saja Lee Hyukjae tidak akan ingkar janji ,lanjutnya dalam hati.

Kedua bola mata Kibum menatap Hyukjae sedih, Heechul tampak mengangguk puas.

"Bagus. Sebaiknya kau carilah kerja dan meminta bantuan pada kekasihmu itu."

.

.

.

oOHaeHyukOo

.

.

.

Hyukjae memang telah menulis lamaran pekerjaan, tapi sialnya ia teringat bahwa ia kan—memang—tidak membawa ijasah kelulusannya! Percuma saja bukan? Mereka tidak akan percaya jika tidak ada bukti kalau Hyukjae ini telah lulus dari Sekolah Menengah Atas.

Haah , ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang ia pikirkan. Lagipula tidak pernah terbesit di benak Hyukjae jika ia akan mencari kerja.

Wajar saja Hyukjae adalah pewaris tunggal dari keluarganya, setelah lulus kuliah nanti, Ayahnya pasti akan memberikan semua bisnisnya pada Hyukjae. Yah, itu dulu sebelum dirinya di usir oleh sang Ayah.

Sepertinya Hyukjae memang membutuhkan Zhoumi. Siapa tahu ia dapat membantu mencari pekerjaan untuknya, atau mungkin saja ia memiliki kenalan agar ia bisa bekerja dan mendapatkan uang lagi.

Tapi berkali-kali Hyukjae menghubungi kekasihnya, dan mengirim pesan singkat padanya sama sekali tidak ada jawaban. Hyukjae hanya ingin bertanya, memastikan terlebih dahulu padanya apakah pria itu ada di apartementnya atau tidak karena ia ingin kesana.

Menghela napasnya, Hyukjae kembali menaruh ponselnya di saku celana. Sia-sia saja, lebih baik langsung ke apartement Zhoumi saja, lagi pula sudah lama Hyukjae tidak berkunjung kesana.

Hyukjae tersenyum tipis membayangkan ekspresi kekasihnya nanti ketika mendapati Hyukjae tiba-tiba ada di kamar apartement nya.

.

.

.

oOHaeHyukOo

.

.

Apa yang akan kau lakukan jika mendapati orang yang tidak kau kenal tidur di ranjang kekasihmu bersama dengan kekasihmu disebelahnya? Marah kah? Atau seperti Hyukjae sekarang?

Diam.

Hyukjae hanya bisa terdiam tidak bergerak melihat apa yang tersaji di hadapannya.

Zhoumi, Kekasihnya itu nampak bertelanjang dada terlelap sambil memeluk seorang wanita bersurai biru. Ya, wanita. Tanpa busana. Keparat!

Hyukjae berjalan menghampiri Zhoumi yang masih terlelap, dan tanpa ragu memukul kepalanya dengan tas yang ia bawa.

"Ouch !" pemuda itu nampak meringis kesakitan, memegangi kepalanya. Wanita yang tadinya terlelap bersama Zhoumi juga ikut terbangun.

"Oh, hai, Hyukjae."

Hyukjae berdecih kesal melihat wajah kedua manusia di hadapannya yang mensmpakan wajah seskan sama sekali tidak bersalah, ditambah nada suara Zhoumi yang nampak santai.

"Apa maksudmu dengan semua ini, fucking-dolly-face !"

Zhoumk menyeringai, merangkul wanita bersurai biru itu.

"Yah, seperti yang kau lihat sekarang, Tuan Muda Lee Hyukjae yang bodoh." Ia terkekeh.

"Aku tidak membutuhkanmu lagi sekarang. Oh ya, kenalkan, ini kekasihku, Fei. Cantik bukan?"

"Sialan kau, brengsek!"

Membutuhkanku? Jadi selama ini dia hanya memanfaatkan Hyukjae? Tangan Hyukjae mengepal erat.

"Kau tidak punya apa-apa lagi sekarang. Bukankah kau kesini ingin meminta bantuanku untuk mencarikanmu pekerjaan hn? Seperti aku sudi saja." Zhoumi masih mempertahankan seringaiannya.

"Kau sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang dan aku tidak memerlukanmu lagi. Lagipula orang tuamu juga telah membuangmu, bukan?"

Telinga Hyukjae memanas mendengar ucapan si sialan Zhoumi ini. Hyukjae menatapnya garang, ia tertawa.

"Kenapa? Mau meminta semua yang telah kau berikan padaku? Dasar bo- argh!"

Dengan cepat Kedua tangan Hyukjae bergerak mencekik pemuda yang masih berada di atas kasurnya—yang tadinya—kekasihnya itu. Zhoumi melepas cekikan Hyukjae dilehernya dengan paksa.

"Dasar gila!" makinya sambil terengah.

Kemudian Hyukjae melepaskan sepatu kulitnya, menamparkannya ke wajah Zhoumj berkaki-kali.

"Kau bajingan brengsek yang tidak tahu diri." Kali ini Hyukjae mengarahkan tangannya memukul pipinya, bisa dilihat ujung bibirnya berdarah, dan wanita yang tertidur bersama Zhoumi menatap Hyukjae ngeri.

"Beraninya kau mencari perkara denganku!"

Hyukjae kembali memasang sepatunya, kemudian dengan segera menarik Zhoumi turun dari ranjangnya dengan sekali tarikan. Sejenak ia berpikir, mungkin karena rasa kesal, tenaganya menjadi lebih kuat.

Masa bodoh, Hyukjae bersiap untuk menendang Zhoumi yang sudah berada tepat di kakinya, namun kedua tangannya menahan kaki Hyukjae.

"K-kau, dasar gila." Hyukjae berdecih, menendang wajah bagian kirinya dengan kaki kanannya.

"Dasar bajingan busuk!" Hyukjae menunduk, menonjoknya sekali lagi. Dan memandang pria di hadapannya jijik.

"Jangan pernah menunjukan wajah menjijikkanmu dihadapanku lagi mulai sekarang."

Hyukjae berjalan melewati pria yang sudah berstatus mantan kekasihnya itu, membanting gelas kaca yang tertaruh manis di nakas. Dan mengambil pecahan dari gelas itu, kemudian menghampiri wanita bersurai biru yang bergetar ketakutan menatapnya.

"Dan untukmu." Hyukjae menggores pipinya dengan pecahan kaca yang ia pegang.

"Jangan pernah berani kau hadapkan wajah pelacurmu di hadapanku. Cih!" Hyukjae meludah di wajahnya, menggoreskan sekali lagi serpihan kaca pada wajahnya.

"Che. Keparat."

.

.

.

oOHaeHyukOo

.

.

.

' Selamat, doamu terkabul dengan cepat. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri kelakuan Zhoumi.'

Send.

Hyukjae menatap layar handphonenya. Dua menit kemudian balasan pesan ia terima dari Heechul.

' Oh, aku ucapkan selamat kalau begitu. '

Hyukjae meringis merasakan nyeri di ulu hati. Zhoumi sialan. Ah, tidak, memang Hyukjae saja yang terlalu bodoh, percaya padanya, tidak peduli ucapan sahabat bahkan kedua orang tuanya.

Hyukjae menggerakan kaki, mengayunkan tubuhnya yang terduduk di ayunan di taman pinggiran kota. Tangan Hyukjae yang tadinya memegang kedua sisi tambang ayunan ini, beralih mengusap kedua ujung matanya. Hyukjae tersenyum miris, Hyukjae menangis, huh?

Entahlah, sesampainya ia disini, air matanya yang sedari tadi berkumpul di pelupuk mata, menetes begitu saja pada akhirnya. Hyukjae tidak mungkin menangis di hadapan Zhoumi dan wanitanya itu. Hyukjae tidak akan mungkin memperlihatkan sisi lemahnya pada orang yang brengsek seperti itu.

Hyukjae mengadahkan kepala, melihat langit malam. Andai ia mendengarkan apa kata sang Ayah, ia pasti tidak akan seperti ini. Sekarang ia telah di buang, Hyukjae tidak mungkin kembali ke orang tuanya.

Andai saja Hyukjae mengetahui bahwa Zhoumi seperti itu sejak lama.

Kini Hyukjae tidak punya siapa-siapa lagi untuk membantu. Hyukjae berdiri sendiri tanpa topangan. Tanpa Ayah dan Ibu yang selalu membiayai. Tanpa kedua sahabat yang tidak akan membantunya lagi. Tanpa si brengsek Zhoumi yang selama ini sangat ia percayai namun hanya memanfaatkannya saja.

Hyukjae mengusap air matanya kasar. Sial, air mata ini tidak mau berhenti. Hyukjae ini laki-laki, mana mungkin menangis terus layaknya wanita seperti ini?

Hyukjae terlonjak saat merasakan ada yang mengusap pipinya, sebuah sapu tangan. Hyukjae menolehkan kepala, seseorang berdiri di belakangnya dengan sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.

Onyx.

Hyukjae tertegun menatap sepasang bola mata yang senada dengan langit malam yang tadi ia pandangi. Sinar rembulan seperti menyorot langsung sosok itu.

Tampan. tampak seperti seorang yang laki-laki idaman dalam sebuah novel yang sering ia baca, dan seperti pangeran yang tampan yang sering Ibunya dongengkan ketika ia masih kecil.

"Tidak baik menangis sendirian malam-malam di tempat sepi. Mengundang kejahatan." Bibir Hyukjae sedikit terbuka tanpa mengeluarkan suara mendengar suara itu.

"Hei, kenapa kau diam saja?" Hyukjae masih terdiam.

Ugh, mengapa tidak bisa mengeluarkan kata-kata begini?

Orang ini kini berada di hadapan Hyukjar, berjongkok sehingga sejajar dengan Hyukjae. Mata itu, menatap kembali, secara dekat.

"Kau kenapa menangis?" Hyukjae tertunduk mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, ia dan Zhoumi, dan penyesalannya tentu saja.

"Hei, air matamu turun lagi."

Secara refleks Hyukjae menyentuh pipinya yang basah. Ah, sial, ia menangis di hadapan seorang pria tampan yang tidak di kenal.

"Hei, sebaiknya aku antar kau pulang ya?" Hyukjae menggeleng menolak tawarannya. Saat ini Hyukjae sedang tidak ingin berada di apartement, entahlah.

"Dimana tempat tinggalmu?" Hyukjae tidak menjawabnya. Bola mata onyx itu nampak khawatir menatapnya.

"Kau keras kepala sekali." Ujarnya.

"Sangat berbahaya berdiam diri di tempat sepi begini. Mengudang kejahatan kau tahu?"

Pemuda itu menghela nafas karena sama sekali tidak mendapat jawaban dari Hyukjae.

"Ada sesuatu di tenggorokanmu yang menyangkut sepertinya." Hyukjae menggeleng, wajah pemuda itu condong mendekat ke wajahnya.

"Sebaiknya aku pulang. Semoga kau baik-baik disini." Dia melangkahkan kaki menjauh. Rasanya Hyukjae tidak rela pria tampan ini menjauh darinya.

"T-tunggu!" Hyukjae mencoba menahan langkah pria itu dengan suaraku, dan berhasil. Matanya kembali tertuju pada Hyukjae. Hyukjae berdiri ingin menghampirinya yang berada dua meter di depan. Sialnya, ia tersandung kakinya sendiri.

"A-akkh Sakit ." Hyukjae merintih. Bagaimana bisa ia tersandung kakinya sendiri? Hyukjae mengusap lututnya yang nampak terluka.

Perhatian Hyukjae terarah pada pria tampan itu yang nampak terkekeh atas tingkah konyolnya. Hyukjae menunduk malu. Pipinya terasa memanas.

Pemuda itu entah sejak kapan berjongkok kembali dihadapan Hyukjae, lalu tersenyum sambil mengusap lutut Hyukjae yang terluka.

"Kau terluka."

"E-eh?" Hyukjae memekik bingung melihat pria itu menghadapkan punggungnya—yang nampak kokoh—dihadapannya. Ia menoleh.

"Naiklah." Senyumannya tersungging manis di bibirnya.

"Aku akan menggendongmu. Tempat tinggalku tidak jauh dari sini."

Terdiam sejenak sebelum akhirnya Hyukjae menuruti perintahnya. Entah mengapa, Hyukjae merasa kalau orang ini bukanlah orang jahat.

Hyukjae menikmati tiap langkah kaki milik pria yang mengendongnya, rasanya sungguh nyaman dan hangat. Seakan terhipnotis ia semakin menyamankan diri di gendongannya.

"U-uh, siapa namamu?" tanya Hyukjae setelah beberapa menit kami lewati dalam hening.

Hyukjae bisa merasakan punggungnya bergetar kecil, pria itu tertawa.

"Kau baru menanyakan namaku setelah aku menggendongmu?" Hyukjae cemberut mendengarnya.

"Kau terlebih dahulu yang memperkenalkan diri."

Hyukjae merenggut kesal.

"Tidak mau. Jika kau tidak mau memberitahukan namamu, aku akan memanggilmu Pangeran Tampan." Hyukjae merasakan langkah kaki pria itu berhenti. Apa dia tidak suka ucapannya?

Pada akhirnya kaki-kaki jenjang milik pria itu membawa Hyukjae melangkah lagi, Hyukjae meliriknya yang sedang tersenyum.

"Kau unik sekali. Kalau begitu aku akan memanggilmu Malaikat Manis."

Hyukjae terbelalak. Unik katanya? Dan apa juga panggilan itu yang membuat pipi Hyukjae memanas saja.

Hyukjae memukul pundaknya kecil.

"Sungguh, namamu siapa wahai Pangeran Tampan?" Hyukjae gugup di balik pertanyaan yang ia lontarkan.

"Kau dulu, wahai Malaikat Manis." Dia tersenyum menantang.

"Baiklah, baiklah." Akhirnya Hyukjae mengalah.

"Panggil saja Hyukjae."

"Hyukjae, eh? Nama yang bagus" Pria itu kembali tersenyum pada Hyukjae yang berada di gendongan punggungnya.

"Panggil aku Donghwa."

Donghwa? Hyukjae tersenyum, "Nama yang keren."

"Terimakasih Malaikat Manis."

"Hei namaku Hyukjae, Pangeran Tampan!" protes Hyukjae. Donghwa nampak tidak mempedulikan.

"Aku rasa piggy-back ini sangat romantis." Pipi Hyukjae kembali memanas. Ah, orang ini.

Tiap langkah yang menembus dinginnya malam mereka hangatkan dalam obrolan kecil. Donghwa, sungguh hangat.

.

.

.

oOHaeHyukOo

.

.

.

Esoknya Hyukjae menemui kedua sahabatnya yang ngotot ingin bertemu dengannya usai kejadian Zhoumi semalam.

Ya, semalam aku bermalam di tempat Donghwa—Hyukjae lebih sering memanggilnya Donghwa Hyung atau Pangeran Tampan—setelah insiden heroik pria itu yang menggendong Hyukjae ketika terluka. Selain tampan, dia juga baik, terlebih lagi sifatnya yang lembut itu membuat Hyukjae senang berada di dekatnya.

"Jika butuh bantuan, hubungi aku langsung dan jangan sungkan."

Uh, pipi Hyukjae kembali terasa memanas mengingat apa yang ia katakan semalam.

"..menghubungiku—hei Hyukjae! Kau tidak mendengarkanku?" Hyukjae tersentak saat bahunya di guncang oleh Kibum. Hyukjae menatap bingung.

"Hah? Kau bicara apa?"

Kibum mendengus sebal.

"Kubilang ketika kejadian itu terjadi kau langsung menghubungiku agar aku juga dapat menghajarnya." Hyukjae tertawa hambar. Ia memang tidak memberitahu Kibum, hanya Heechul yang ia beritahu kemarin.

Kemudian mungkin beberapa jam berikutnya Heechul yang memberi tahu Kibum tentang kejadian kemarin, membuat Kibum menelfon Hyukjae dengan suara histerisnya di seberang sana.

Kibum mengatakan bahwa ia ingin melihat keadaan Hyukjae, dan akhirnya mereka datang ke apartement Hyukjae.

"Lalu bagaimana? Sudah dapat pekerjaan?" Bisa di lihat Kibum yang langsung memelototi Heechul.

"Hyung, Kau—" Telunjuk Kibum mengarah ke wajah Heechul.

"Temanmu sedang sedih pasca break-up dengan kekasihnya kau bertanya soal pekerjaan?"

"Semalam aku bertemu dengan seorang pria—"

"Kau sudah mendapat kekasih baru? Fantastic !" Belum sempat kata-kata Hyukjae terselesaikan, Kibum sudah menyelanya.

"Kibum jangan menyela!" protes Hyukjae.

"Bukan kekasihku. Singkatnya aku bertemu orang baik yang menolongku semalam, berkenalan, lalu berteman."

"Kau yakin dia orang baik." Hyukjae mengangguk mantap menjawab pertanyaan Heechul.

"Siapa dia?"

"Donghwa. Namanya Donghwa." Bisa di lihat sejenak mata Heechul melebar.

"Ada yang salah?"

"Tidak. Semoga dia tidak seperti Zhoumi saja."

"Apa dia tampan?" Kibum menatap Hyukjae bertanya.

"Tentu. Lebih tampan dari Siwon milikmu itu." Melihat Kibum yang nampak memajukan bibirnya terlihat lucu, Hyukjae sungguh tidak bisa berhenti meledeknya.

"Sudah." Lerai Heechul.

"Sebaiknya kita makan siang di luar. Aku yang bayar." Ucapan Heechul disambut sorak gembira dari Hyukjae dan Kibum.

Senang sekali memiliki dua sahabat baik yang selalu ada untukmu. Namun, masalah Hyukjae belum selesai sampai disini.

Hyukjae sudah memutuskan, ia akan meminta bantuan Pangeran Tampan setelah ini.

.

.

.

TBC

.

.

To be Next Chapter

.

.

.

.

.

.

Chapter 2 its out... Selamat menikmati semuanyaa

Terimakasih buat yang udah baca terlebih yang udah mau riview ff ini terimakasih banyak.

Buat agloo tetimakasih dukungannya, iya pastinya dong aku sudah mengantongi ijinnya, kita udah chit chat di wa

Buat kakaknya jisung makasih lagiiii

Terakhir aku berharap banyak dari riview kalian