"Sialan! Gara-gara dua raksasa sialan itu aku jadi terlambatkan ish! Menyebalkan sekali aku harus membersihkan toilet."
Terlihat seorang gadis tengah menggerutu sambil menggosok-gosok westafel dengan asal. Umpatan-umpatan kecil mengalun dari bibir tipisnya. Walaupun Baekhyun bukan satu-satunya orang yang terlambat, dia tetap saja marah-marah sendiri. Mau ditaruh dimana wajahnya? Mengingat Baekhyun adalah salah satu gadis populer di sekolahnya, semua orang yang masuk ke toilet melihanya dengan tatapan aneh. Sial sekali dia hari ini. Baekhyun mulai merutuki dirinya sendiri. Mungkin benar kata Chanyeol. Lihat saja, tanpa 'raksasa'nya, Baekhyun tertimpa sial sekarang.
Tadi malam ia terlalu asik belajar sampai akhirnya ia bangun terlambat. Karena ia ketinggalan bus, Baekhyun terpaksa menunggu bus selanjutnya karena Chanyeol berangkat dengan Kyungsoo dan Kris sudah berangkat sebelum Baekhyun bangun.
Baekhyun kembali melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Masa hukumannya sudah habis. Gadis itu menyeringai licik. Ia melempar lap yang tadi ia gunakan dan langsung melesat pergi tanpa menghirukan petugas kedisiplinan. Toh, dia sama-sama murid tingkat dua seperti Baekhyun. Yang membedakan hanyalah statusnya sebagai murid biasa sedangkan orang itu adalah anggota osis yang dijadikan petugas kedisiplinan.
Baekhyun berjalan dengan tergesa-gesa. Entah sudah berapa orang yang telah dia senggol. Langkahnya semakin memburu ketika sudah mendekati kelasnya. Tanpa ragu ia membanting pintu kayu itu yang sukses membuat seisi ruangan terlonjak kaget. Untung sedang tidak ada guru. Ia melangkahkan kakinya menuju seorang lelaki yang tengah senyum-senyum sendiri memandang keluar jendela. Dengan penuh emosi gadis itu menjitak kepala pemuda malang itu.
"Ya! Siapa yang berani menji—Kyaaaaaa Baekhyunie! Aku kira ku tidak masuk," ujarnya yang tadinya mau marah malah mendadak histeris dan langsung memeluk gadis itu.
"Lepas! Ya! Chanyeol!" bukannya melepaskan pelukannya, Chanyeol malah memperkuat pelukannya sehingga Baekhyun meronta sambil memukulnya meminta dilepaskan.
"Kau tahu, aku bahagia sekali," ujar pemuda itu ketika melepaskan pelukannya.
Niat baekhyun yang tadinya mau marah seketika hilang ketika melihat raut bahagia dari sahabatnya itu.
"Apakah tentang kyungsoo?" tanya Baekhyun sambil menaik-turunkan alisnya.
"Kau tahu saja," ujar Chanyeol sambil mencubit pelan hidung bakhyun. "Aku berhutang padamu, Baek," lanjutnya.
"Kalau begitu cepat bayar hutangmu," kata Baekhuyn santai.
"Ish, menyebalkan sekali," Chanyeol memanyunkan bibirnya.
"Tidak usah sok imut, Park Chanyeol," ujar Baekhyun sambil memutar matanya.
"Ngomong-ngomong, tadi kau kemana, Baek? Bolos ya?" tanya Chanyeol santai.
"Habis jumpa fans," jawab Baekhyun asal sembari mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Chanyeol.
Baru saja Chanyeol akan protes dengan jawaban Baekhyun, tiba-tiba ana-anak kelasnya berhamburan ke tempat duduk mereka. Ternyata Choi seonsaengnim datang. Itu tandanya ulangan matematika akan segera dimulai.
—
"Chanyeeeeeeeeeeeeeoooooooool, ayo kita pergi," ujar Baekhyun manja.
"Baek, maaf. Aku pulang bersama kyungsoo,"
"Terus aku sama siapa?" tanya Baekhyun memelas.
"Um….Kris?"
"Kan dia sama Taoooooo."
"Lalu bagaimana? Aku sudah janji dengan kyungsoo," tanya Chanyeol gusar.
"Kan kau juga sudah berjanji mau mengantarku ke toko buku, Yeol. Ya sudahlah aku sendiri saja," ujar Baekhyun ketus sambil meninggalkan Chanyeol.
Gadis itu berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya. Sudah janji dengan Kyungsoo? Ish! Bahkan dia sudah berjanji mau mengantar Baekhyun sejak 2minggu yang lalu.
—
Satu minggu berlalu,tak ada lagi suara pertengkaran antara Baekhyun dan Chanyeol. Tak ada lagi keributan yang biasa mereka buat. Di sekolah pun mereka jarang bersama. Sekalinya Chanyeol ada di dekat Baekhyun, topik obrolan mereka hanyalah Kyungsoo, Kyungsoo dan Kyungsoo. Entah mau senang atau tidak melihat kedekatan Chanyeol dengan Kyungsoo. Di satu sisi ia merasa senang melihat sahabatnya itu bisa mendekati Kyungsoo, tapi di sisi yang lainnya Baekhyun merasa dicampakan karena kedekatan Chanyeol dan Kyungsoo.
Gadis bersurai coklat itu menghela nafas berat. Manik coklatnya menatap langit yang hanya berhiaskan sang purnama bersama dua buah bintang yang menemaninya. Ia menatap nanar langit kelam itu. Langit malam seakan sedang menyindirnya. Dua bintang yang berdekatan itu adalah Chanyeol dan Kyungsoo dan bulan itu adalah dirinya. Terabaikan, sendiri dan tak seterang kedua bintang tersebut.
Ia menundukan kepalanya, tatapannya tertuju pada kakinya yang ada dalam kolam. Seakan-akan sebuah film. Otaknya memutar kejadian yang telah lalu. Terlihat tiga bocah tengah bermain air. Tertawa dengan lepas, menikmati kehidupan yang Tuhan beri tanpa harus mencemaskan apa yang akan terjadi esok. Entah bagaimana, hatinya tiba-tiba terasa sesak. Tak terasa setitik kristal bening meleleh dari pelupuk matanya.
Tanpa gadis itu sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari ambang pintu. Ia mendekati gadis itu perlahan. Sangat pelan sampai gadis itu tidak menyadari kehadirannya. Pemuda itu duduk di sebelanya, membuat gadis itu menoleh.
"Hei Baek," sapa pemuda itu.
"Hei Kris,"
"Something bothering you?" tanya Kris sambil duduk di samping baekhyun
Gadis itu hanya menganggukan kepalanya pelan.
"Chanyeol?"
Gadis itu mengangguk lagi.
"Kenapa lagi?" tanya kris.
"Dia berubah," ucap Baekhyun sambil menatap langit. Gadis itu mendesah pelan sambil memilin-milin ujung bajunya. "Sejak kecil kita selalu bersama kan, Kris? Tapi sekarang apa? Dia punya dunianya sendiri Kris, dunia yang tidak ada kita. Tak ada aku, kau ataupun Tao. Dunia yang tak aku kenal. Begitu asing,"
"People change, Baek," ujar Kris sambil merangkul pundak Baekhyun.
"I know Kris, I know," ujar Baekhyun. Ia menghela nafas. Menatap nanar sang rembulan yang mulai tertutup awan hitam.
"Tapi aku tak mau dia berubah. Setidaknya, jangan melupakan ku begitu saja. Dia kira aku ini apa?" lanjutnya.
"Bersabarlah, dia tak mungkin pergi terlalu lama. Suatu saat ketika dia membutuhkanmu, dia akan pulang. Friendship is like a home , Wherever you go, you'll come back someday," ujar Kris sambil mengelus pundak Baekhyun.
Entah bagaimana, suasana tiba-tiba berubah menjadi sangat klise. Langit malam semakin memojokan Baekhyun. Tetesan air mulai berlomba-lomba turun ke bumi. Seakan menambah kepiluan hati Baekhyun.
"Gerimis Baek, ayo masuk," ajak Kris, gadis itu hanya mengangguk lalu mengikuti Kris ke dalam.
—
Hembusan sang bayu di pagi hari menerpa pepohonan yang mulai menari dibuatnya. Butiran-butiran embun mengalir pelan di dedaunan, burung-burung yang sedang bernyanyi dan kupu-kupu berterbangan seaakan mengisi kekosongan di langit pagi. Terpaan sang surya mulai terlihat di ufuk timur. Bulatan oranye mulai menyembul Menampakan dirinya.
Seorang gadis terlihat tengah menggeliat di dalam selimut tebalnya. Tubuh mungilnya terbungkus selimut layaknya sebuah buritto. Gadis bersurai coklat itu membuka matanya perlahan. Ia merentangkan kedua tangannya sambil menguap lebar lalu mendudukan badannya. Tangannya meraih benda mungil berbentuk bulat yang tergeketak di atas nakas. Di lihatnya kedua jarum jam itu menunjukan pukul setengah enam. Dia beranjak dari kasur lalu meraih handuknya dan bersiap untuk sekolah.
Gadis itu membiarkan rambut panjangnya tergerai dengan indah. Hembusan angin menerpa rambutnya, membuat surai coklat itu menari-nari. Terlihat seulas senyuman miris bertengger di bibir cherry pink-nya. Dengan gontai gadis itu melangkahkan kaki rampingnya menuju halte bus.
Sudah hampir tiga bulan ini Baekhyun tidak mendengar suara derungan motor Chanyeol. Tak ada lagi percakapan aneh antara mereka. Baekhyun merindukan saat dimana Chanyeol berlaga bahwa dirinya merupakan pengawal kerajaan dan selalu memanggilnya tuan putri.
Deringan klakson motor terdengar dari depan gerbang. Terlihat sorang pemuda tengah melepaskan helm-nya. Tak lama muncul seorang gadis dari balik pagar rumahnya. Pemuda itu hanya berdecak pelan tatkala melihat gadis itu hanya mengenakan cardigan berwarna ungu yang terlihat sangat tipis. Padahal udara pagi ini terbilang cukup dingin.
"Astaga tuan putri, cardigan tipis itu akan membuat angin-angin nakal mengganggumu dan menyebabkan kau sakit," Ujar Chanyeol berlebihan sambil menyodorkan helm kepada baekhyun
"Please, ini masih pagi, Park," Baekhyun memutar bola matanya dengan jengah. Tangannya meraih helm itu.
"Aku tak akan membiarkan tuan putriku jatuh sakit," Chanyeol melepaskn jaket birunya lalu mengulurkannya kepada Baekhyun. "Pakai ini, tuan putri. Aku tidak rela tuan putriku kedinginan."
Baekhyun mendorong jaket itu ke dada Chanyeol,. "Shireo! Tak usah berlebihan, pengawalku tersayang. Tuan putrimu ini tahu kalau kau tidak tahan dengan cuaca dingin. Jika kau sakit, siapa yang akan menjemputku dengan kereta labu?"
"Tak apa tuan putri, aku ini laki-laki. Angin tidak mungkin membuatku sakit. Aku tidak mau tahu, kau harus memakai ini."
"Heol~ mana ada pengawal memaksa tuan putrinya,"
"Ada. Pengawal paling tampan bernama Park Chanyeol. Sudah, jangan banyak protes. Pakai jaketnya atau aku tinggal," ancam pemuda jangkung itu. Mau tak mau Baekhyun memakai jaket itu lalu naik ke motor Chanyeol.
Lamunan Baekhyun buyar tatkala bus yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ia masuk kemudian menghempaskan bokongnya ke arah kursi yang terletak di sebelah jendela. Ia menyumbat telinganya dangan earphone lalu menyetel lagu favoritnya. Lagu yang ia buat bersama ketiga sahabatnya saat natal tahun lalu. Suara petikan gitar Chanyeol dan dentingan Piano Tao. Suara baritone Kris dan suara lembut Bakhhyun terdengar begitu harmonis. Air matanya kembali luruh ketika lagu itu selesai. Akhir-akhir ini Baekhyun merasa dirinya sangat cengeng. Apapun yang berbau Chanyeol pasti berhasil membuatnya menangis.
Samar-samar Baekhyun mendengar gadis yang duduk di depannya menyebut-nybut nama Chanyeol. Buru-buru Baekhyun melepas headsetnya.
"Aku tidak menyangka kalau Chanyeol Sunbae sudah berpacaran dengan Kyunsoo Sunbae."
"Aku juga. Awalnya aku sempat berpikir kalau Chaenyeol sunbae itu pacarnya Bekhyun sunbae."
"Setahu ku mereka memang sudah bersahabat sejak kecil. Kau tahu Kris dan Tao sunbae kan? Nah mereka juga sahabat Baekhyun dan Chanyeol."
"Tapi, akhir-akhir ini aku jarang melihat mereka bersama, lho."
"Yang aku dengar sih, Kyungsoo sunbae itu tipikal orang cemburuan."
"Aigoo Soojung-ah, jangan suka membuat gossip deh."
"Ani. aku serius, Jinri. Aku dengar sendiri dari mantan kekasihnya. Kau tahu Kim Jongin kan? Dia itu mantan kekasih Kyungsoo. Mereka putus karena Jongin merasa terkekang."
"Hhhh, padahal aku lebih suka melihat Chanyeol sunbae baersama Baekhyun sunbae,"
"Wae?"
"Habisnya kalau dia bersama Baekhyun sunbae aku bisa lebih bebas mendekati Chanyeol sunbae,"
"Ish, dasar centil."
Baekhyun kembali memasang hedsetnya, kali ini denga volume maksimal. Ia sudah tidak peduli lagi. Baekhyun memejamkan matanya sambil kembali tersenyum miris. See? Chanyeol dan Kyungsoo berpacaran saja dia tidak tahu.
—
Baekhyun P.O.V
Malam ini terasa begitu panjang. Tak ada lagi kehadirannya. Kehadiran sosok sahabat yang selalu menemaniku. Semuanya tak akan terasa sama tanpa kehadirannya. Tak ada lagi pesan bodoh yang selalu kuterima setiap malam. Cinta memang merubah segalanya. Sejak dia mengenal gadis itu, semuannya terasa berbeda. Aku tidak bisa melakukan segala hal yang rutin kami lakukan. Kini kami layaknya dua insan yang baru mengenal. Canggung dan senyuman palsu selalu mengitari saat kami bersama. Tawa yang enggan dan senyum yang tertahan, seolah aku tak pernah ada. Terdapat sedikit rasa penyesalan yang mengganjal di hatiku. Kalau saja waktu itu aku tidak menawarkan bantuan agar kau bisa dekat dengan gadis itu, semuanya tak akan seperti ini. Memang penyesalan selalu datang terakhir. Sudah tiga bulan ini aku tak pernah berkomunikasi lagi denganmu. Menurut kabar yang aku dengar, kau sudah resmi berpacaran dengannya ya? Berita seperti ini saja aku tahu dari orang lain, bukan dari mulutmu. Menyedihkan, bukan? Sahabat macam apa aku ini?
Author p.o.v
Gadis itu meraih sebuah bingkai foto yang terletak di nakas. Terlihat ada tiga bocah belepotan adonan kue di sana. Seorang gadis kecil sedang tersenyum dengan lebarnya sambil merangkul seorang bocah gendut yang tersenyum tak kalah lebarnya dari gadis kecil itu dan seorang bocah tampan yang hanya tersenyum tipis. Setitik air meluncur dengan bebasnya dari sudut matanya. Baekhyun menghapusnya dengan kasar. Ia ingat, saat itu mereka akan membuat kue untuk ibu Chanyeol yang malah berakhir perang adonan. Tiba-tiba raut wajah baekhyun berubah. Gadis itu terlihat marah. Ia bangkit sambil mencengkram bingkai itu dengan kuat lalu membantingnya ke lantai.
"KAU PEMBOHONG YEOL! KAU JAHAT! KAU BILANG KAU TAK AKAN MENINGGALKANKU!" Baekhyun merosot ke lantai. Ia memegang dadanya. Hatinya terasa sakit. Pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok pria bertubuh tinggi yang segera berlari memeluk Baekhyun.
"Kau kenapa Baekhyun?" tanya Kris panik.
"Kris….Chanyeol, Kris,"
"Baekhyun, dengarkan aku. Kau mengerti kan bagaimana namanya orang yang baru berpacaran? Apalagi sekarang mereka sedang manis-manisnya sedang cemburuan-cemburuannya. kalau kau punya pacar juga pasti kau seperti itu, Baek. Itu sifat alami perempuan. Walaupun di luar terlihat biasa saja, tapi di dalam hatinya pasti tidak enak kalau pacarnya dekat dengan yeoja lain. Sekalipun kau sahabatnya."
"Tapi Kris—"
"Tenangah, hubungan mereka baru satu minggu. Mereka masih ada di fase romantis. Percaya padaku dua atau tiga bulan lagi mereka akan meras bosan dan si chanyeol brengsek itu akan mencarimu, tunggu tanggal mainnya saja," ujar Kris mencoba menenangkan Baekhyun.
"Sekarang aku harus apa?" Baekhyun menatap Kris sambil berkaca-kaca. Kris tersenyum sambil melepas pelukannya. "Bersikaplah seperti biasa, jangan cengeng, Byun. kalau kau menangis itu tandanya Kyungsoo menang. Bersikaplah seolah-olah tidak terjadi apapa."
Baekhyun menganggukan kepalanya mengerti. Ia tersenyum sambil menghpus air matanya. Kris benar. Untuk apa Baekhyun harus menangisi Chanyeol? Memangnya Chanyeol peduli dengan kondisinya sekarang?
TBC
