Disclaimer : Masashi kishimoto
Pairing : Ino Yamanaka, Shikamaru Nara, Sasori
Warning : OOC, many typos.
Mikansei Communication
Part 2
Sebenarnya Ino sedikit terkejut saat Sasori mengatakan bahwa ayah dan
kakaknya sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya
tapi dia pura-pura tak peduli dan berusaha menelan rasa penasarannya
bersama dengan makanan yang ada dalam mulutnya.
Setelah menyelesaikan acara makannya dia menyusul Sasori yang sedang
menikmati rokoknya di ruang keluarga.
"Hei, soal tadi apa kau tahu apa yang sedang mereka bicarakan" tanya
Ino pada akhirnya.
"bukannya tadi kau bilang itu bukan urusanmu ?" Sasori pura-pura
mengacuhkan pertanyaan Ino.
"haiisssh...kau ini, iya itu tadi sebelum kau bilang kalau
pembicaraan mereka ada hubungannya denganku" dengan suara tertahan Ino
berusaha mengendalikan rasa jengkelnya karna jawaban dari Sasori yang
membuat emosinya kembali tersulut.
"khekheh...kalau kau benar-benar ingin tahu cobalah bersikap manis
kali ini padaku atau kau bisa mencari tahunya sendiri" Sasori melirik
Ino sekilas dan mempertahankan sikap acuhnya untuk menjahili Ino lebih
jauh. Ingin sekali rasanya Ino mencekik orang ini sampai mampus karna
telah mengerjainya habis-habisan saat dia benar-benar ingin tahu
tentang sesuatu, tapi bukan Ino namanya kalau dia kalah hanya dari
seorang Sasori.
"cih, ya sudah kalau kau tak mau memberitahukannya padaku, lagipula
kalau memang pembicaraan itu tentangku cepat atau lambat mereka juga
akan memberi tahuku sendiri" Ino lantas beranjak dari tempatnya untuk
melanjutkan ritual tidurnya di kamar, namun sebelum dia benar-benar
pergi dari sana Sasori yang merasa kalah karna gagal mengerjai Ino
masih sempat mendengar Ino mengumpat padanya
"dasar chibi genit, dia pikir bisa mengerjaiku semudah itu, awas saja nanti"
"hei, kau bilang apa ?" sahut Sasori.
"CHIBI GENIT...WHEEEKS" kata Ino sambil menjulurkan lidahnya kearah Sasori.
Seketika Sasori membulatka mata saat mendengarnya, sejak kapan dia
mendapat sebutan "chibi genit" dari gadis itu. 'sial' umpatnya dalam
hati.
Di dalam ruangan ayah Ino.
"Otou-san, biarkan Ino tinggal bersamaku"
"Tidak bisa, Tou-san membutuhkan Ino disini"
"Kalau begitu menikahlah lagi, setidaknya agar ada seseorang yang
menjaga Ino saat tou-san harus bertugas" Deidara mencoba memberi
solusi.
"menikah lagi bukanlah urusan yang mudah seperti yang kau pikirkan
Deidara, banyak pertimbangan saat harus menjatuhkan pilihan pada
seseorang" lagi-lagi Inoichi mencoba berkelit.
"lalu mau ayah bagaimana, menikah lagi tak mau, melepas pekerjaan ayah
sebagai detektif tak bisa, kuajak tinggal bersamaku juga tak mau ?
Apa tou-san tak memikirkan keadaan Ino, bagaimana kalau terjadi
apa-apa pada Ino saat Tou-san sedang bertugas ?" Deidara benar-benar
tak habis pikir dengan sikap ayahnya terhadap posisi Ino yang selalu
ditinggal sendirian di rumah, dia tahu ayahnya sangat menyayangi Ino
tapi menurutnya bukan begini seharusnya ayahnya bersikap.
"Maaf, bisakah kita membicarakan hal ini lagi lain kali ? Tou-san
sangat lelah sekarang, tou san mohon pengertianmu Deidara" Inoichi
mencoba mengakhiri perdebatannya dengan Deidara atau lebih tepatnya
mencoba menghindar dari tekanan Deidara.
"Terserah Tou-san, tapi keputusanku sudah bulat kalau sampai lusa
Tou-san masih belum menentukan sikap minggu depan aku akan memberitahuTIno dan mengajaknya tinggal bersamaku"
Keesokan harinya
"ayo cepat Shikamaru, kau lamban sekali mengayuhnya" kata Ino tak
sabar dibelakang Shikamaru.
"haaaahh...kau cerewet sekali Ino, kenapa tak pakai sepedamu sendiri
saja dan lagi tak biasanya kau berangkat jam segini"
"ini karna aku bangun telat, dan kebetulan aku melihatmu membawa
sepeda saat sepedaku bannya kempes"
"apa kau begadang karna PR matematika Anko-sensei kemarin ?"
"Astaga...berhenti Shikamaruuu !" teriak Ino panik sambil
menepuk-nepuk punggung Shikamaru.
" ADA APA ?" Jawab Shikamaru kaget setelah berhasil menghentikan sepedanya.
"aku belum mengerjakan PR sama sekali, aku lupaaaa..."
"ini, cepat salin di bukumu" entah ada angin apa tiba-tiba Shikamaru menyerahkan buku PRnya pada
Ino. Ino melihatnya dengan ragu,
"kau yakin ?"
"tentu saja, cepatlah" Ino melirik jamnya kemudian beralih pada buku
itu dan mendorongnya kembali kearah Shikamaru.
"tidak perlu, lagipula waktunya tidak akan sempat" bersamaan dengan
itu Ino turun dari boncengan sepeda Shikamaru dan menyuruh Shikamaru
untuk meninggalkannyasendiri.
"sebaiknya kau bergegas Shika, aku mau membolos saja hari ini, lagipula aku juga sedang malas ke sekolah" kata Ino sambil beranjak
pergi.
"hei, kau mau ke mana ?"
"ke mana saja asal tak ke rumah" jawab Ino sambil melangkah.
"kalau begitu aku ikut, naiklah" bukannya ke sekolah Shikamaru malah
berniat ikut membolos bersama Ino.
"kau serius ?" tanya Ino dengan senyum setannya, kemudian setelah memastikan keseriusan Shikamaru Ino kembali naik ke boncengan sepeda Shikamaru.
Ya sebenarnya Ino
memang berharap Shikamaru mau membolos bersamanya saat dia mengatakan
akan membolos tadi. Dan entah kenapa ada rasa senang sekaligus bangga
yang menelusup ke dalam hatinya saat melihat Shikamaru menawarkan diri
untuk menyertainya membolos. Katakanlah ini jahat, karna Ino secara
tidak langsung telah menghasut salah satu murid teladan untuk membolos hanya karna keperluan pribadinya yang bahkan
tak bisa dikatakan benar apalagi penting. Tapi karna Ino disini
berperan sebagai tokoh antagonis jadi dia tak mau ambil pusing bahkan
dia berusaha membuang segala rasa bersalah tentang ketidakpatutan dari
tindakan membolos yang akan mereka lakukan hari ini. Ino menyeringai
dalam boncengan Shikamaru yang semakin kencang melaju.
.
.
.
.
Shikamaru tak pernah menyangka jika kegiatan membolos bersama Ino bisa
lebih menyenangkan daripada tidur dikelas saat jam pelajaran
berlangsung, Shikamaru bahkan melupakan kantuk yang selama ini selalu
identik dengan dirinya, seharian bersama Ino juga sepertinya bisa
membuat dia lupa dengan kata 'mendokusai' andalannya.
Tak disangkanya juga kalau Ino bisa menerima semua kesenangan anehnya
seperti menghabiskan waktu memandangi awan setelah mereka bermain-main
tak jelas disungai dengan pancing yang dipinjamnya dari penduduk
sekitar tempat mereka menghabiskan hari membolos mereka, meskipun sebenarnya hanya Shikamaru yang menikmati acara 'memandangi awan' itu karna Ino sibuk sendiri dengan kegiatannya bermain game dengan PSPnya.
Shikamaru bahkan tak sadar bahwa dirinya sudah terjerat pada pesona
sisi pemberontak Ino.
.
.
Sesampainya di rumah,
"Hei Pig, kau dari mana saja, kenapa baru pulang ?" tanya Sasori,
tapi Ino malah mengacuhkannya dan mencoba membuka pintu rumahnya yang
ternyata masih terkunci
"Wah wah, kau masih marah rupanya ?"
"Tidak juga" jawab Ino datar.
"Lalu yang barusan, kenapa kau mengacuhkanku ?" terang Sasori.
Terdengar Ino menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar.
"pertama, namaku INO bukan Pig. Kedua, kenapa kau suka sekali
mengurusi urusan orang ? Dan ketiga, kenapa kau masih disini bukankah
seharusnya kau sudah pulang bersama Deidara tadi pagi ?"
Ino menghitung pernyataan dan pertanyaannya sekaligus dengan jari-jari
lentiknya dan menggerak-gerakkannya dihadapan Sasori yang mulai
frustasi dengan sikap acuh Ino.
Namun sebelum Ino masuk ke dalam rumah sebuah kalimat menghentikan langkahnya,
"kenapa sekarang kau mengacuhkanku padahal dulu kau adalah berbie
kecilku yang manis ?" kata Sasori kecewa.
Seketika Ino teringat masa-masa gembira saat dia masih sangat sering
bermain dengan Deidara dan Sasori waktu masih kecil dulu.
"Benar, dulu aku adalah barbie kecilmu yg manis tapi sekarang semua
sudah berubah jadi maaf jika aku tak lagi sama seperti yang kau
pikirkan" Ino meninggalkan Sasori yang masih mematung di depan pintu
tanpa ada tanda untuk beranjak.
Ino membanting pintu kamarnya dengan kasar menyalakan musik dengan
volume maximum dan menjerit sekeras-kerasnya.
Ino benci pada Sasori yang selalu mengganggunya, dan
mengingatkannyapada kenangan-kenangan manis masa lalu yang mati-matian
ingin dia lupakan, tapi dia lebih membenci dirinya sendiri yang tak
kunjung bisa melupakan pikiran-pikiran konyolnya tentang perasaannya
sendiri juga hubungan anehnya dengan Sasori yang tak pernah bisa dia
ungkapkan pada siapapun.
Masalah sebenarnya bukan tentang Sasori, tapi tentang dirinya sendiri,
dia sadar betul dengan itu.
Dengan berpura-pura acuh dan marah pada
sikap jahil Sasori, Ino berusaha membohongi dirinya sendiri demi
menghentikan perasaan konyolnya agar tak semakin berkembang
terhadap kebaikan-kebaikan Sasori.
Meski sebenarnya belakangan ini Sasori menunjukkan
sinyal-sinyal positif seolah menanggapi perasannya dengan member perhatian-perhatian khusus terhadapnya, namun Ino tetap
takut untuk berharap, dia sudah memutuskan untuk tak berharap lebih,
tidak lagi untuk kali ini.
Bagi Ino ini bukan masalah patah hati karna menurutnya patah hati itu hal biasa
yang efeknya tak seberapa pada dirinya, yang sulit dia terima adalah
kenyataan bahwa dulu dia pernah salah, salah menempatkan perasaannya
pada Sasori kala itu, salah karna tak pernah mengutarakannya pada
Sasori lebih cepat, dan salah karna tak menghentikan perasaan itu
lebih awal. Ino merasa malu karna telah salah paham terhadap sikap
baik Sasori kala itu, marah atas sikap kepengecutannya, dan menyesal
dengan keputusannya membiarkan perasaannya melayang terlalu tinggi
hingga akhirnya harus terjatuh karna kesalahannya sendiri, meskipun semua itu karna dia memang belum benar-benar mengerti tentang perasaan aneh yang baru pertama kali dia alami saat itu, dan saat dia mulai mengerti perasaan aneh apa itu dia tak mau mengakuinya.
Dan segala
perasaan yang campur aduk itu belum bisa Ino kuasai sampai saat ini
tiap kali berada didekat Sasori.
Sementara itu Sasori hanya bisa merenungi apa yang salah dari dirinya
kali ini sambil menatap sedih ke arah kamar Ino, ingin rasanya dia
masuk dan meminta maaf pada Ino tapi dia tahu dalam situasi kamar yg
diciptakan Ino seperti sekarang menandakan bahwa Ino sedang ingin
sendiri untuk meluapkan emosinya, hal yang tak pernah bisa Sasori
rubah dari kebiasaan-kebiasaan Ino yang lain sampai saat ini, hal yang
selalu berhasil membuat dirinya merasa tak berguna.
yooosh...akhirnya kepublish juga part 2 nya, silahkan reviewnya dan caci makinya sekali lagi XD
Dan terimakasih banyak untuk teman-teman yg sudah mau repot-repot meninggalkan jejak untuk fic abal saya ini
hyo kun, semoga bisa semakin kerasa feel konfliknya^^
Zielaviena, hahaha...itu masih rahasia, lihat saja nanti.
Pixie YANK, Gray Areader jangan bosan untuk selalu mengkoreksi newbie ini yaaa ^^
Lastri nara, ini sudah dilanjut. ^^
akhir kata, jya matta in the next part ^^
