Chapter 2

Tittle : Rebels of Oceans and The Sky

Based on story : "LADY LUHAN" Yumiko Igarashi's Manga Comic (1982-1984)

Genre : Hurt/Romance/Drama

CASTS : Oh Sehun x Xi Luhan, Park Chanyeol x Byun Baekhyun, And Other

Sorry For Typo(s)

Happy Reading

.

.

.

Seekor kuda cokelat dengan gagahnya menapakkan langkah dijalanan menuju kota. Tempat dimana semua jenis manusia berkumpul, memperdagangkan sesuatu atau membeli sesuatu. Namun suasana hari ini sedikit berbeda, suasana kota lebih riuh dari biasanya. Kain-kain warna warni dibentangkan di sudut sudut jalan. Penjual bibimbap, soju, dan tteokbokki bertebaran di sana sini, menciptakan aroma-aroma sedap makanan khas korea menguar memenuhi udara. Luhan dan Kris enggan berbicara satu sama lain sejak kepergian mereka dari pelabuhan.

"Ng- aku minta maaf hyung" Luhan membuka suara. Kris yang mengendalikan kuda dibelakangnya menoleh sejenak dan tersenyum saat mendengar suara adiknya yang sudah setahun ini menghantui kepalanya.

"Minta maaf untuk apa Lu?" Kris mempercepat laju kudanya.

"So-soal yang tadi, Apa kau tidak takut Huang Zi marah padamu?" Luhan menunduk dalam-dalam.

"Eh? Apa? Kau mengenalnya?" Kris menaikkan alis kirinya.

"Ng, tidak aku baru pertamakali melihat wajahnya tadi"

"Tidak apa apa nih? Aku takut Huang Zi marah" Luhan menoleh untuk melihat wajah kakaknya. Namun yang ia dapatkan adalah hembusan nafas Kris yang menerpa wajahnya.

Berada dalam jarak sedekat ini, dan laju kuda yang tak terkendali menyebabkan hidung Luhan terus-menerus menyentuh pipi kanan Kris. Memaksa jantungnya terus memompakan aliran panas untuk menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia ingin waktu berhenti untuk kali ini saja.

"Hyung!" Luhan menyentak kakaknya yang terus memandangnya.

"Eh? Apa?" Kris gelagapan.

"Soal tadi, jika kau bicara seperti itu nanti dia bisa membencimu"

"Daripada Huang Zi, adikku lebih penting" Kris tersenyum hangat pada adik manisnya.

Betulkah aku lebih penting?

Tentu saja! Adikku sangat penting!

Hati mereka seolah berbicara lewat tatapan tanpa suara. Kuda terus melaju, tak terasa mereka sudah sampai di pusat kota. Kris mengikat kudanya di salah satu pasak di sudut jalan. Suara kembang api dan tawa gembira mewarnai seluruh pusat kota yang kemarin hanya terasa hitam dan putih. Kris dan Luhan berjalan beriringan menuju sebuah kerumunan di tengah alun-alun.

"Padahal punya pacar itu katanya sangat membahagiakan" Luhan bergumam hingga terdengar oleh kakaknya.

"Benarkah? Kurasa tidak, adikkulah yang membahagiakanku" Kris mengasak surai putih adiknya.

"Benarkah? Hehehe, tapi jika aku menjadi Huang Zi, melihat kekasihnya direbut orang lain sepertiku pasti akan menjengkelkan ya?" Luhan menarik senyumnya hingga matanya melengkung tertutup.

Kris hanya tersenyum sebagai jawaban.

"Tapi aku juga senang hehe" Luhan berjalan didepan Kris yang masih berusaha mencerna apa yang barusan adiknya katakan.

Luhan dan Kris berdesak desakan dengan penduduk sipil yang memadati stasiun baru. Meriam berisikan kembang api terus dinyalakan untum memeriahkan suasana. Kris dan Luhan saling bergandengan tangan menuju kerumunan. Orang-orang berdesakan berebut tempat paling depan untuk melihat sesuatu yang entah apa patut dierebutkan. Luhan penasaran, tetapi karena tubuh pendeknya ia hanya bisa melihat punggung orang-rang tinggi didepannya. Berbagai macam cara sudah ia coba, mulai dari berjinjit sampai berlompat-lompat tidak jelas. Kakaknya tersenyum menyadari 'kekurangan' adiknya ini.

Kris jongkok ditanah kemudian menarik adiknya untuk naik ke pundaknya.

"Eh-eeeh hyung sudahlah aku bukan anak kecil lagi" Luhan malu bukan main karena dipandangi oleh orang-orang disekeliling mereka. Kris tidak peduli, kemudian bertanya kepada adiknya.

"Sudah kelihatan belum?"

"Ya- kelihatan sedikit hyung!" Luhan memposisikan tangannya di pelipis seperti perompak mencari kepulauan ditengah laut. Orang-orang disekitarnya sangat berisik, semua mulut mereka tidak ada yang terkatup karena sibuk bergosip dan bereaksi atas gosip lainnya.

"Katanya dia adalah Oh Sehun yang datang dari inggris!" Seru seorang bibi yang bergosip di belakang Luhan

"Benarkah? Dia orang inggris? Kenapa memakai nama korea? Tapi dia memakai marga Oh? Bukankah hanya keluarga bangsawan yang memakai marga itu?"

Kebiasaan menguping Luhan kambuh lagi, matanya tertuju pandang ke depan tapi telinganya menangkap radar dari mana-mana.

"Memang dia adalah bangsawan! Dia adalah cucu laki-laki dari gubernur jenderal Aaron Locko dari inggris"

"Wow! Sir Locko sudah banyak membantu perekonomian Korea karena setengah keluarganya berasal dari Korea, hebat sekali"

'Wow' batin Luhan antara kagum dan tidak percaya.

"Eh tapi siapa gadis disebelahnya"

Arah mata Luhan mengekori arah yang dimaksud.

"Gadis disebelahnya adalah tunangannya, dia juga putri bangsawan lho! Biasalah, bangsawan menikah tidak didasarkan pada cinta, tapi pada martabat"

"Mungkin juga tidak, mereka terlihat manis dan serasi! Satunya tampan, satu lagi sangat cantik dan anggun" Kemudian terdengar pekikan kagum dari seluruh bibi-bibi peserta gosip tersebut.

Oh Sehun, cucu Aaron Locke, dan disebelahnya adalah tunangannya. Bagi Luhan mereka adalah orang-orang dari dunia yang sama sekali tidak ia kenal. Mengingat kasta mereka jauh lebih tinggi diatasnya. Luhan hanyalah setitik debu kecil dantara kerumunan perunggu dan berlian. Telinganya sudah tidak lagi mencari mulut-mulut berdosa yang membicarakan seseorang. Matanya memicing, menyipit saat mengamati seseorang yang disebut-sebut sebagai kebanggaan warga korea. Orang yang diagung-agungkan oleh semua orang itu tampak tidak asing dimatanya. Matanya menelisik lagi, ia sungguh yakin orang yang hanya tampak punggungnya itu sangatlah familiar.

'Orang itu.. aku seperti pernah melihatnya?' Bisik Luhan dalam hati.

Setelah beberapa saat Luhan mengangguk mantap, yakin bahwa orang itu adalah orang yang ia temui pagi tadi. Luhan menjambak rambut kakaknya, mengarahkan kakaknya seperti mengemudikan seekor kuda untuk mencari tempat paling depan.

'Benarkah itu orang yang kutemui pagi tadi? Tapi mana ada bangsawan yang mau tiduran dipinggir selokan? Wow dari belakang benar-benar sangat mirip' Suara hati Luhan menginterupsi dan memaksanya untuk memastikan siapa orang itu.

Tiba tiba..

"Heeey! Orang parlenteee! Anyeooooonng!" Luhan berteriak keras seperti makhluk hutan masuk kota.

Pasangan itu menoleh, tapi Luhan hanya terfokus pada satu wajah.

Mata abu-abu yang memancarkan ketegasan dan keramahan, tubuh tinggi, pundak ramping, bibir setipis kain satin, bahu ramping dan kokohnya..

"Luhan!" Kris berseru karena tingkah adiknya yang mengagetkan. Luhan membekap mulutnya sendiri setelah sadar apa yang baru saja ia lakukan. Seketika semua orang menoleh ke arahnya, bibi-bibi penggosip mulai mencuap mulutnya lagi.

"Siapa itu yang berteriak dengan lantang?" Seorang bibi mulai mencibir.

"Tidak tahu! Memalukan sekali" Timpal satunya lagi.

"Kris-hyuuung lari!" Pekik Luhan dengan tangan mengacung ke udara. Kris tertawa saat adiknya sudah malu setengah mati,

"Haha itu lebih baik! Awas pegangan!" Kris mulai berlari meninggalkan kerumunan sambil tertawa sinting bersama adiknya.

"Aku.. Aku.. Turunkan aku hyung ini sangat memalukan!" Wajah Luhan merah padam saat semua mata tertuju padanya.

"Nanti saja, kuda kita dekat sini!" Kris mengeratkan tangannya pada lutut Luhan agar adiknya tidak jatuh.

….

Kris dan Luhan sudah beerada diatas kuda dan sudah melewati setengah jalan pulang saat matahari bergeser sedikit dari atas kepala.

"Huft! Akhirnya kita selamat, kau ini mengagetkan saja! Kalau sudah bersamamu aku jadi tidak mengerti apa saja yang saudah kulakukan" Kris terkekeh.

"Padahal sudah satu tahun, tapi kau samasekali belum berubah Lu"

"Ng, aku penasaran karena terlalu ingin melihat wajahnya jadi aku berteriak, bodOh ya? Padahal tidak ada gunanya meskipun hanya untuk memastikan" Cengirnya manis sambil menengok kearah kakaknya.

"Adikku benar-benar kekanakan! Dewasalah sedikit haha" Kris terkekeh diikuti tawa ringan adiknya.

"Eh lihat kereta pertama sudah berjalan! Orang tadi pasti naik kan?" Luhan berseru sejurus kemudian turun dari kuda.

"Eh Luhan! Berbahaya!" Kris memperingati, tapi sia-sia adiknya sudah mendarat ditanah dengan bertumpu pada lututnya.

"Kau tidak terluka?" Kris memeriksa tubuh adiknya yang malah sibuk mencabuti bunga lavender liar ditanah.

"Tidak masalah, hyung tidak ingat aku pemanjat terulung diantara kalian?" Kerlingnya pada kakaknya.

Luhan mengikat kumpulan lavender liar yang sudah dicabutinya dengan seutas pita berwarna biru. Menjadikannya sebuah buket ungu yang sangat indah.

"Ayo kejar!" Luhan berseru pada kakaknya yang baru dua detik duduk diatas pelana kudanya.

"Eh? Mengejar kereta dengan seekor kuda? Mustahil sekali!" Dua alis Kris hampir menyatu.

"Kris-hyung kan bisa melakukan apapun, kita tidak akan tahu jika belum mencoba!"

"Baiklah! Ayo lakukan!"

Bagi Kris apapun untuk Luhan pasti dia lakukan, apapun, termasuk nyawanya rela ia korbankan untuknya. Kuda berderap gagah melewati padang rumput mengejar kereta uap yang melaju. Uap putihnya terjulur panjang menuju gerbong paling belakang. Kris tidak peduli, walaupun harus melewati awan maumpu harus terbang. Kris bisa melakukan apapun untuk adiknya.

Sementara itu didalam kereta, Sehun sedang menikmati secangkir kopi dalam cangkir porselen mewahnya sambil melamun. Memandangi arak-arak awan diangkasa dari tepian jendela kereta. Pikirannya melambung tinggi, seperti pita film, bergerak menampilkan sebuah wajah di liang otaknya. Si surai putih, dengan mata segemilang bintang kejora.

"Apa yang sedang kau pikirkan Sehun? Apa gadis yang tadi itu?" Suara gadis bergaun satin mewah didepannya membuyarkan lamunan.

"Aku? Memangnya kenapa?" Sehun menjawab dingin, sekenanya.

"Anak itu pasti berkesan bagimu ya? Gadis Korea memang selalu penuh semangat"

"Bukan masalah itu kok"

"Aha? Lalu tipe yang bagaimana yang kau suka?" Gadis itu meneguk kopinya dengan anggun.

"Yang kuat.." Sehun memandang jedela sambil berkata dalam hati.

Gadis yang kau maksud adalah seorang lelaki

Sehun kaget setengah mati saat wajah yang sedang ia lamunkan tiba-tiba menyembul didepan jendela yang tengah ia pandangi. Luhan tesenyum kepadanya sambil melemparkan sebuket bunga pada jendela yang terbuka.

Syuut! Dan Sehun menangkapnya.

"Yang tadi maafkan aku ya! Berikan buket itu pada tunanganmu! Semoga berbahagia!" Teriaknya saat kudanya sudah tidak mampu mengejar laju kereta.

Sehun terdiam menatap buket lavender ditangannya. Sehun mengingat dan mengingat,

Anak itu.. Gelang itu.. Entah kapan, dan entah dimana..

Matanya membulat kemudian memandangi tunangannya dengan tatapan tak terbaca, sebelum akhirnya terkesiap saat buket itu diambil oleh tunangannya.

"Benar-benar anak yang istimewa" Kata si gadis sambil meletakkan buket pada vas kosong didepannya.

"Buket yang indah, hmm dua orang tadi mungkin sepasang kekasih" Tunangannya menerka-nerka.

"Jessica, aku akan menemui ayah di gerbong depan.." Sehun merasakan sesuatu yang tidak enak saat tunangannya berkata demikian.

….

Luhan dan Kris mungkin saja sudah sampai dirumah jika adiknya tidak rewel meminta diturunkan didekat sungai.

"Fuahh! Segar sekali! Hyung tidak mau minum juga? Maaf, aku sangat haus hehe"

Kris menengok pada pohon akasia yang tinggal setengah dan menyisakan bekas hitam arang.

"Eh- pohon itu dibiarkan begitu saja?"

"Setahun lalu petir menumbangkan pohon itu kan?"

Ya benar, setahun lalu..

Langit berubah hitam pekat saat Luhan dan Kris tengah menangkap ikan bersama disungai. Tak lama hujan turun demikian derasnya, membawa arus kuat dari hulu sungai. Volume air semakin meningkat, yang tadinya hanya sebatas pinggang, kini mulai naik setinggi dada orang dewasa. Luhan memegang tangan Kris kuat sambil memegang keranjang berisi ikan yang sudah ditangkapnya. Berjuang bersama melewati arus kuat yang kian menghanyutkan, siao menenggelamkan tubuh mereka tak bersisa.

TARRRR! JDARRR!

Dua petir menyambar bersamaan seolah saling beradu. Memekakkan telinga dengan ledakan kuatnya yang seolah hendak memecah gendang telinga.

"H-hyung! Aku takut!"

"Ayo berlindung! Jangan sampai terpisah!" Kris mengeratkan genggamannya pada adiknya yang berusaha naik ke daratan.

"Ikan-Ikannya lepas!"

"Selamatkan diri dulu! Tidak usah memikirkan ikan itu!" Kris mulai panik.

Keduanya berlari mencari tempat berlindung. Petir menyambar lagi diiringi lengkingan panjang dibelakang Kris yang terkejut saat merasakan genggamannya kosong.

Sebuah pohon roboh dan terbakar hebat walaupun hujan masih deras mengguyur. Luhan berjongkok sambil menutup telinganya, menangis keras antara takut dan lega karena petir tadi lebih memilih menyambar pohon daripada menyambar dirinya. Kris segera menggandeng tangan adiknya membantunya berdiri, namun Luhan tersimpuh ditanah. Kakinya melemah karena syok akibat terlalu terkejut. Kris menggendong adiknya kemudian berlari menuju sebuah gua kapur kecil di dekat sungai.

Luhan menangis sesenggukan, memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya. Kris mengelus rambut putih adiknya, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

"Hujan benar-benar turun dengan lebat dan tiba-tiba" Kris mencoba mengajak adiknya berbicara, namun nyatanya adiknya tidak menyahut, dia hanya berbicara sendiri. Tiba-tiba suasana menjadi sangat terang, cahaya putih menyilaukan menerangi sekitar mereka selama sepersekian detik.

Petir yang sangat-sangat besar meledak dengan hebatnya seolah dapat menghancurkan bumi. Luhan berteriak kencang, dengan cekatan ia merengkuh menubruk kakaknya, menelungkup bersamanya menghadap tanah.

Kris memeluknya dengan erat, seolah takut kehilangan. Membiarkan adiknya menangis disisi wajahnya.

Hujan sudah agak mereda, menyisakan titik-titik kecil tak berarti yang sebentar lagi akan sirna.

"Kris-hyung ayo pulang, hujan sudah berhenti, petirnya sudah tidak ada" Luhan berusaha bangkit setelah menindih kakaknya terlalu lama. Kris bergeming, malah berbaring dan kembali membawa Luhan dalam peluknya. Membiarkan perasaannya menghangat bersama tubuhnya. Merasakan hawa nyaman yang mungkin akan ia rindukan suatu hari nanti.

"K-Kris hyung?" Kris hanya menatapnya tanpa suara, tapi batinnya bersuara.

'Biar begini saja Lu, biarpun hanya sebentar, biarkan saja tetap seperti ini'

"Kris-hyung?" Luhan menempelkan tangan dinginnya di pelipis kakaknya, hingga kakaknya tersadar dari lamunan panjangnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan? Ini menyejukkan ya? Meskipun dingin tapi membuat perasaan menjadi nyaman" Luhan tersenyum sambil terus menempelkan tangan dinginnya di pelipis kakaknya.

"Luhan.."

Agar dapat berpisah darimulah aku pergi naik kapal dan menjadi pelaut, agar aku bisa melupakanmulah maka kujalani kehidupan keras mengarungi lautan. Memaksa otak sialku untuk berhenti memikirkanmu, serta keinginanku yang sangat salah yaitu menjadikanmu sebagai kekasihku. Tapi setahunku jauh darimu malah membuatku semakin tersiksa. Aku hampir gila, bahkan takdir tak mampu memaksaku untuk menghilangkan wajahmu dari otakku..

"Hyuung! Berhenti melamun! Ayo kita pulang, dan berhenti memandangiku seperti ini!" Luhan menjauhkan tangannya namun Kris malah memegangi keduanya.

"Beginilah jika mempunyai adik yang sangat manis" Kris tersenyum sambil mangasak rambut putih adiknya.

"Kajja!"

….

Guk! Guk! Anjing coklat berlari kearah timur menakuti domba-domba yang tengah merumput. Chanyeol mengejar anjing nakal itu.

"Hei! Jangan kesana Mongg-" Langkah Chanyeol terhenti saat melihat dua orang lelaki di ujung padang berjalan ke arahnya.

"Chanyeol-hyuuung!" Luhan melambai.

"Wah aku pulang, monggu langsung menjemputku" Luhan menggendong anjingnya sayang.

"Selamat datang hyung! Apakah setelah berkeliling lautan kau jadi lebih pemberani?" Chanyeol menyapa saudara tertuanya.

"Kau ini! Ngomong-ngomong Luhan berubah ya?"

"Ha?"

"Setiap kali bertemu dia tambah manis!"

"Ini hanya beberapa bulan hyung, menurutku dia sama sekali tidak berubah"

"Hmm, dari Korea, menuju Sydney, lalu kepulauan Mac Donal, Cape Town, kemudian melewati Canari Island dan tinggal di Inggris. Setiap kali aku tiba di pelabuhan aku pasti ingat sini"

"Kenapa hyung mau menjadi pelaut? Kalu aku, aku tidak akan bisa melawan kerinduanku pada tempat ini bila berada di tempat yang terpisah jauh"

"Kenapa ya?" Kris malah balik bertanya.

"Hyung, kalian pulanglah duluan, aku akan mengembalikan kuda pada Sooman Ahjussi"

Kedua hyungnya mengangguk, kemudian Chanyeol mengiringi kakaknya menuju pondok sederhana mereka.

Sampai dirumah, seorang wanita tambun langsung menghambur dalam pelukan anak tinggi yang sudah lama tidak dilihatnya.

"Kris-anakku, selamat datang!" wanita tambun itu menangkup wajah tampan darah dagingnya.

"Aku pulang eomma" Kris tersenyum dan memeluk ibunya.

"Kau baik-baik saja kan disana?"

"Aku baik eomma, semakin baik saat melihat eomma dalam keadaan sehat seperti ini" Kris tersenyum.

"Aku akan siapkan air, mandilah dulu nak!"

"Nanti saja eomma, aku lapar ingin makan" Kris mengelus perutnya. Ibunya tersenyum lalu berjalan menuju arah dapur. Selang beberapa lama kemudian keluar lagi membawa piring-piring porselen sederhana.

"Tak begitu banyak, hanya ada ini saja, anak itu belum menyiapkan apa-apa. Padahal sudah eomma bilang agar menyiapkan makan malam"

"Anak bandel itu! Apa sih yang dilakukannya seharian" Wanita tambun itu menggerutu sambil menyiapkan sebotol soju untuk anaknya. Chanyeol membantu ibunya menuangkan isi botol pada gelas kakaknya.

"Aku ingin makan masakan eomma, sampai terbayang-bayang diatas kapal"

"Benarkah? Baiklah, tunggu sebentar"

Chanyeol menghela napas disamping kakaknya.

"Ada apa?" Kris bertanya dan hanya ditanggapi endikan bahu oleh adiknya.

"Eomma dan Luhan masih seperti biasa?" Kris berbisik.

"Kalau Luhan ceria aku ikut senang, tapi eomma jadi berubah sikap padanya"

"Kau juga keluarlah dari sini, beri mereka waktu agar dekat satu sama lain!"

"Tidak ah, aku masih ingin memperluas ladang sejak masih ada ayah!"

"Hehe, bercanda kok!" Kris memukul pelan kepala adiknya.

Langkah kaki terdengar dari ruang depan, semakin keras menuju ruang tengah dimana kedua kakaknya tengah membicarakan adiknya. Kris dan Chanyeol memandangi Luhan yang berlarian sambil membawa sebuah Koran.

"Aku pulang! Lihat apa yang kubawa, ini berita besar!" Luhan menggelar Koran yang dibawanya di meja makan.

"Akan ada pesta pelantikan gubernur jenderal baru dan juga lomba memanah!"

"Wah! Bukankah kau pandai berburu Luhan, mungkin kau bisa mengikutinya!"

"Hebat kan? Hadiahnya adalah mesin penggiling jagung yang diinginkan Sooman Ahjussi! Kalau aku menang hadiahnya akan kuberikan untukny-"

"Luhan! Berhenti membuat keributan, kemari dan bantu eomma!" Ibunya membentak.

"Ah! Iya! Hehe maaf eomma" Luhan membantu mengupas kentang bersama ibunya. Sedangkan kakaknya malah berebut koran untuk melihat berita yang dimaksud Luhan.

"Disini tertulis hanya untuk perempuan saja kok!" Chanyeol memicingkan mata,

"Ah, tapi hadiah tambahannya boleh menghadiri pesta dansa gubernur! Hebat sekali!"

….

Langit menghitam, menampakkan Kristal putih gemerlap yang tersebar di angkasa. Awan tipis mulai menghilang memberi jalan untuk cahaya sang dewi malam. Menerangi penduduk bumi yang akan terlelap dalam tidur.

Luhan meniup api lentera di kamarnya. Menutup tubuhnya dengan selimut wol setelah memakai kemeja tidurnya. Merebahkan tubuh dengan nyaman, membiarkan kepalanya mengingat-ingat seluruh hal yang ia lakukan tadi untuk membawanya ke alam mimpi.

Menjemput kakaknya, menghadiri pesta pembukaan trayek kereta baru yang meriah, kemudian..

Bola mata abu-abu yang mencairkan suasana, memberikan keteduhan dan keramahan. Rambut pirang yang halus, bahu lebar dan kokoh..

Oh Sehun.. Cucu Jenderal Aaron Locko..

Serta tunangannya..

DEG!

"Apa-apaan aku ini! Tidak boleh!" Luhan mengubur dirinya dalam-dalam dibalik selimut.

….

Seorang kakek tua terbatuk-batuk saat membuka pintu rumahnya. Keriput di wajahnya menunjukkan garis hidup keras yang sudah ia jalani selama ini. Pahit asin kehidupan seolah sudah jadi makanan sehari hari baginya. Senyumnya mengulas saat mendapati tiga orang laki-laki mendatanginya.

"Sooman Ahjussi!" Luhan menggandeng kedua lengan kakaknya sambil bergelantungan disana.

"Selamat pagi Ahjussi!" Chanyeol menyapanya.

"Ah, lama tidak bertemu Paman Lee"

"Wah, Kris sudah pulang ya! Uhuk, uhuk" Paman itu terkekeh ringan sambil terbatuk.

"Wah, Luhan sekarang punya dua pacar yang penurut ya? Uhuk uhuk"

"Paling baik!" Luhan berseru sambil berayun di lengan kedua kakaknya.

"Eh! Luhan berat! Jangan begitu, kau sudah besar lenganku bisa patah" Canda Kris

"Apa aku segemuk itu?" Luhan mempoutkan bibirnya.

"Wah, kalian selalu akrab ya! Eh tapi kenapa kau pakai pakaian seperti itu Luhan?"

Si kakek mengamati busana yang Luhan kenakan. Celana katun hitam selutut dengan sedikit kerutan dan renda. Serta kemeja putih yang sepertinya lebih cocok untuk wanita.

"Dia bersikeras ingin ikut lomba memanah itu , padahal sudah jelas hanya diperuntukkan untuk perempuan"

"Tapi cocok kan? Apa aku terlihat cantik?" Luhan berputar-putar.

"Dilihat dari bagian manapun kau tetap terlihat cantik Luhan" Kris tertawa.

"Apa itu sebuah pujian?" Luhan bersungut-sungut diikuti kekehan terbatuk dari si kakek.

"Ahjussi bersiaplah! Kajja!" Si kakek masuk ke dalam rumah, membalut tubuhnya dengan jas hitam kemudian mengekori tiga anak lelaki itu menuju alun-alun.

Alun alun tampak ramai, suasana yang meriah sama seperti saat pembukaan trayek kereta kemarin. Banyak gadis gadis putri tentara yang bergerombol saling menjagokan diri.

"Pengumuman! Lomba akan segera dimulai! Ketentuannya adalah, barang siapa yang berhasil menjatuhkan apel yang dilemparkan Tuan Oh paling banyak, maka dialah pemenangnya!" pembawa acara berteriak lantang dari podium.

"Ah.. kecil!"

"Hadiahnya hanya untukku!"

Orang-orang saling mengunggulkan diri.

"Peserta dan juri penghitung harap menempatkan diri"

Satu-persatu peserta mulai berguguran setelah panahnya gagal membidik target, kini tersisa dua peserta yaitu Luhan dan seorang gadis dengan bekas luka di pipinya. Luhan sedikit bergidik, bekas luka itu tampak seperti cakaran binatang buas. Mungkin gadis ini sangat ahli dalam berburu.

"Luhannie 23 buah lulus!"

"Amber Josephine Liu 23 buah lulus!"

"Luhannie! 25 buah lulus!"

"Jose 25 buah lulus! Wow pertandingan semakin sengit para hadirin! Peserta tidak menunjukkan tanda tanda kekalahan! Sampai kapan kita harus berdiri disini haha"

"Luhannie 40 buah lulus!"

"Josephine Liu… Ah gagaaal! Pemenangnya adalah LUHANNIE" Sang juri mengangkat tangan Luhan tinggi-tinggi.

"Horeeee! Berhasil!" Luhan melompat dan memeluk kedua kakaknya.

"Wah hebat! Sampai akhir tidak ketahuan!" Chanyeol membalas pelukan adiknya.

"Naiklah dan terima hadiahmu nak! Kau telah memperlihatkan perlawanan yang begus! Benar-benar tangan yang hebat!" Sang juri menyuruhnya naik ke panggung.

"Karena kau sudah berusaha keras, kami memberimu hadiah kehormatan! Ciuman selamat dari putra bangsawan Inggris!"

"Eh?" Luhan terkaget.

Sehun bangkit dari tempat duduknya untuk mendatangi sang pemenang yang akan menerima hadiah darinya.

"Selamat ya, tuhan memberkatimu" Oh Sehun memandanginya lekat-lekat kemudian tertegun.

"K-kau?" Bisiknya tak terdengar.

"S-saya rasa hadiahnya sudah cukup" Luhan kaget bukan main, takut penyamarannya terbongkar.

"Haha tidak usah malu-malu! Korea adalah negaramu, dan kami senang ada anak perempuan sepertimu! Gubernur jenderal sudah mengijinkan, ayolah hanya kecupan ringan di dahi saja kok!"

Kris menggeram dari bawah panggung saat Oh Sehun bukannya mencium kening tetapi malah mencium bibir Luhan dengan lembut. Luhan yang merasakannya sesuatu yang basah mengenai bibirnya tiba-tiba meleleh. Kakinya lolos begitu saja, jatuh terduduk lemah.

Tiba-tiba..

Duak! Kepalan tangan menghantam rahang tajam Sehun dengan kerasnya.

"Hyung!" Chanyeol berteriak.

"Kau bajingan keparat! Luhan ayo pulang!" Kris menarik tangan adiknya.

"H-hyung!" Luhan menunjukkan tangan pada gubernur jenderal yang wajahnya tampak memerah menahan amarah.

Lee Sooman gelagapan, takut sesuatu terjadi pada cucu-cucu kesayangannya.

"Tangkap laki-laki itu!" Gubernur jenderal mengangkat tangannya, diikuti pasukan bersenjata menghadang jalan Luhan dan Kris.

Sehun mencoba bangkit dibantu oleh tunangannya.

"Sudahlah kakek, dia tidak berbuat jahat!" Sehun meraba pipinya yang membengkak. Kemudian mengusir pasukan yang menodongkan bayonet di wajah Kris dan adiknya.

"Sebagai seorang kakak, sudah sepantasnya dia melindungi adiknya, jadi aku dipukulnya" Sehun berusaha menenangkan.

"Kelemahanku karena dia sangat menarik sampai-sampai aku lupa akan tempat dan tunanganku, tapi tanah dan langit inilah yang melindungi orang-orang seperti mereka" Sehun berbicara keras hingga seluruh orang yang hadir mendengarnya.

"Maafkan aku Luhan, karena telah membuatmu terkejut, pulanglah bersama kakak-kakakmu dan bawalah hadiahmu" Sehun tersenyum pada Luhan dan mendorongnya pelan menuju kakak-kakaknya.

"Ayo pulang Luhan" Kris menggandeng adiknya yang masih dilanda shock ringan.

"TUNGGU!" Suara seorang gadis sangat lantang dari arah belakang. Jessica terlihat marah dan menyibakkan gaun satin mewahnya saat bangkit. Wajahnya menyiratkan kebencian luar biasa.

"Aku belum memaafkanmu! Laki-laki itu harus meminta maaf karena sudah memukul tunanganku!"

"Aku adalah bangsawan, tidak ada alasan yang dapat kuterima karena telah memukul Sehun yang merupakan cucu Jenderal Aaron Locke, dan juga tunanganku, seharusnya kamu dihukum mati!" Jessica sangat garang menatap Luhan yang sangat ketakutan.

"Kalau kau tuan putri? Kalau kau yang mati disini olehku apakah seonggok mayat juga masih bisa menyombongkan dirinya?" Kris terkekeh mengejek.

"Hyung!" Luhan menghempaskan tubuh kakaknya yang dirasa sudah bersikap keterlaluan.

"Ciumlah sepatu Tuan Oh yang mengendalikan tanah ini, maka aku akan memaafkanmu!" Jessica memandang tajam kearah Kris.

Kris tersentak sesaat akan tatapan matanya.

"Aku.. mohon maaf sebagai pengganti kakakku!" Chanyeol bersimpuh dihadapan Sehun yang terkejut melihatnya.

"Chanyeol!" Kris berteriak

"Jessica, jika bibir anak ini menyentuh sepatuku, maka aku akan melakukan hal yang sama padanya" Sehun berkata dingin pada tunangannya. Jessica mulai berkeringat dingin, tak menyangka tunangannya lebih membela anak kampong itu daripada membelanya.

"Sudahlah berdirilah kamu! Tanpa memikirkan kedudukan aku akan mengingat hal yang terjadi di sini" Jessica berkata sinis.

"Haha, kakak yang melindungi adiknya" Jessica mencibir kemudian kembali ke singgasana mewahnya.

"Ingatan yang menyebalkan ya?" Sehun tersenyum pada Chanyeol dan membantunya berdiri.

"Tapi aku sangat lega, Kris kakakku akan bersedia berlutut pastilah pada saat dia mati, aku hanya tak bermaksud menyerahkan nyawaku hanya karena perbedaan status" Chanyeol membalas senyuman Sehun.

"Aku juga sependapat.."

….

"Uhuk! Terimakasih banyak ya, atas apapun karena berkat mesin penggiling jagung ini kalian semua jadi repot" Lee Sooman mengerutkan kening tuanya.

"Yang penting kita mendapatkannya dengan selamat" Chanyeol menyerahkan kotak kayu berisi mesin penggiling pada Sooman Ahjussi.

"Aku akan mengeluarkan teh chamomile, apa kalian mau beristirahat dulu? "

"Aku pulang saja" Kris berlalu begitu saja meninggalkan mereka.

"Aku juga, Luhan santailah disini dulu" Chanyeol menyusul Kris kemudian.

Luhan dan Lee Ahjussi saling pandang.

"Apa Kris baik-baik saja? Dia diam terus sedari tadi?" Tuan Lee menunjuk si anak paling tinggi.

"Hmm mungkin dia benar benar tidak menyukai perlombaan itu"

Luhan mengindikkan bahu kemudian berlari kearah dapur menyusun dua buah cangkir alumunium dan sebuah teko tembaga. Berjalan dengan hati hati seolah sedang bermain sirkus. Luhan meletakkan teh dan gula di meja.

"Chanyeol paling pandai bicara, tapi Kris memiliki sikap yang sama dengan eomma, sedangkan aku dan Chanyeol mirip ayah"

"Ayahmu adalah laki-laki yang baik hati dan juga kuat, kalau saja dia tidak meninggal pasti ladangmu sudah menjadi luas"

"Chanyeol yang akan melanjutkan usahanya" Luhan tersenyum sambil memasukkan gula balok kedalam tehnya.

"Padahal kalo Kris tidak jadi pelaut pasti akan lebih baik lagi"

Tuan Lee dan Luhan terdiam sejenak.

"Luhan? Kau sangat menyayangi kakak-kakakmu ya?" Tuan Lee mengasak rambut cucu kesayangannya.

"Ya! Sangat sayang!" Luhan berseru riang.

Dalam perjalanan menuju rumah Kris dan Chanyeol saling tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Menendangi kerikil tak bersalah yng menghalangi jalan mereka, kemudian menghela napas bersamaan.

"Chanyeol.. Kalau saja tadi kau mencium sepatu orang itu, pasti akan kupotong lidahnya!" Kris mengepalkan tangan.

"Hari ini.. Syukurlah kita masih hidup ya hehe" Chanyeol terkekeh.

"Kalau cucu gubernur jenderal yang bodOh itu tidak mencium Luhan sembarangan seperti itu-"

"Tapi kau benar-benar terlihat seperti melindungi pacarmu" Chanyeol tersenyum penuh misteri pada kakaknya. Kris tersentak, ucapan itu seakan tengah mengejeknya.

"BodOh! Aku akan melindungi adikku bagaimanapun!" Kris mendadak kesal sendiri.

Aku tidak ingin melihat Luhan berubah dan berdampingan dengan orang lain!

Aku akan membenci orang itu, siapapun dia..

"Kita bisa bicara seperti itu, tapi andaikan Luhan menyukai seseorang, kita tidak bisa melindunginya" Chanyeol berkata seolah sudah membaca isi hati Kris.

Kau tidak mengerti Chanyeol, kalau Luhan jatuh ke tangan orang lain mungkin saja aku akan terbakar

Atau mungkin juga aku akan merebutnya kembali..

….

Luhan terdiam di sebuah parit tempatnya dulu bertemu dengan Sehun. Kepalanya ia longokkan kea rah anak sungai, menangkap cerminan dirinya dalam latar langit membentang biru diatas cakrawala. Ia terus terbayang saat Sehun menempelkan bibirnya di bibir Luhan. Ia tidak munafik, ia sungguh terpesona dengan bola mata abu-abu yang tadi menatapnya dengan lembut. Ia juga baru tersadar, pesta dansa kemenangannya pasti sudah berakhir.

'Bagaimana rasanya jika aku berdansa dengannya ya?'

Hal yang tadi sungguh mengejutkannya, tapi tidak dipungkiri itu cukup menyenangkan.

Sehun, Sehun, dan Sehun.. hanya itu yang ia pikirkan sekarang. Luhan pasti sudah gila, hanya karena menyebut namanya dalam hati, bayangan Sehun muncul dalam pantulan air, seolah tengah menggodanya. Luhan menoleh, memastikan bayangan air itu benar adanya, dan ternyata Sehun benar-benar ada disana, memandangi dirinya yang tengah terperangah seolah ia sudah menemukan tambang berlian.

"Setelah perlombaan tadi aku bermaksud mencarimu, dan ingin meminta maaf padamu"

'Bayangan itu berbicara' Pikir Luhan tidak percaya, tangannya bergerak menyentuh rahang tegas pemuda didepannya.

Sehun terkekeh melihat reaksi Luhan yang sepertinya masih tidak percaya dengan kehadirannya, ia memegang tangan Luhan dengan lembut.

"Ayolah, aku tidak suka berbicara sendiri" Sehun memencet hidung bangir Luhan.

"Benarkah? Kau telah meninggalkan pesta dansa?" Luhan memiringkan kepala.

"Aku melarikan diri"

'Untuk mencariku? Yang benar saja!' Luhan menutup mulutnya sendiri.

Mereka saling pandang sesaat, tenggelam dalam manik mata masing-masing.

"Kau benar-benar seperti perempuan dengan pakaian itu" Sehun membuka suara.

"Hehehe, mau bagaimana lagi aku harus memberikan sesuatu untuk paman Lee, aku harus berusaha mati matian agar penyamaranku tidak terbongkar"

"Tapia ku tidak peduli dengan pakaian itu, aku hanya ingin melihatmu" Sehun tersenyum dan mengelus pipi lelaki didepannya.

"Hei! Kau sengaja ya? Kebiasaan!" Luhan mengibaskan tangan Sehun yang sudah menempel di pipinya.

"Apa kau sungguh membenciku?" Sehun kecewa dengan reaksi Luhan padanya.

"Bu-bukan benci!" Luhan terbata.

"A-aku tak tahu siapa kamu sehingga harus.." Luhan berhenti sejenak saat wajah Sehun mendekat di wajahnya..

"Harus apa?" Sehun terus mendekatkan wajahnya.

"Harus bilang, suka padamu" Pipi Luhan merona hebat.

"L-lagi pula kamu punya tunangan, i-ya begitu kan?"

Sehun menghela napas,

"Jessica adalah temanku sejak kecil, untuk dapat menguntungkan orang tua maka kami bertunangan"

"Dalam dunia kami hal seperti itu sudah sangat wajar" Sehun memandang Luhan yang terus menatapnya.

"Tapi berbeda denganmu, aku seperti sudah mengenalmu. Bola mata bersinar, juga bibir itu, serta rambut putih yang tergerai, juga lambing pada gelang yang kau kenakan ini" Sehun meletakkan tangannya ditengkuk Luhan,

"Seperti sedang menatap lukisan, segalanya persis sama"

Sehun dan Jessica tersesat saat sedang bermain di sebuah bekas benteng kerajaan. Ia dan Jessica menemukan luksian yang sangat besar disana.

Jessica merengek takut ingin pulang saat melihat lukisan besar itu. bola mata bersinar, rambut putih tergerai, orang itu telah meninggalkan kenangan yang benar-benar mendalam bagaikan seorang bidadari di hati Sehun.

Di setiap senggangnya dari masa kecil hingga dewasa, ia isi waktunya dengan melamun berjam-jam didepan lukisan itu.

"Sehun.." Luhan menyadarkan lamunan lelaki tampan didepannya.

"Waktu pertama kali melihatmu, aku sudah merasakannya, lalu hari ini aku melihatmu dengan begitu dekat, aku merasa dunia hanya berputar untuk kita berdua" Sehun mencium tangan Luhan dengan lembut.

Luhan tersenyum atas ucapan yang ia terima.

"Dapat bertemu denganmu merupakan suatu keajaiban bagiku Tuan Oh"

"Berhenti memanggilku seperti itu, aku tidak menyukainya"

Luhan terdiam..

"Sebut namaku, karena dimataku kau sudah tidak dapat kulepaskan"

Jemari Sehun mengangkat dagu Luhan untuk mendongak dan saling bertukar tatapan. Ibu jarinya ia gerakkan untuk menyentuh bibir lembut lelaki yang menatapnya penuh kasih. Tanpa sadar tangan satunyamerengkuh tubuh Luhan agar semakin merapat padanya.

Bibir mereka bersentuhan, merasakan manis yang luar biasa sebelum akhirnya saling memangut lembut satu sama lain. Sehun tersenyum disela-sela ciumannya, tidak menyangka bibir Luhan dalah candu yang tidak dapat ia lepas. Tan pa sadar tangan Luhan mengalung di leher Sehun untuk memperdalam ciuman mereka. Angin menjadi saksi bisu dua makhluk yang sedang jatuh hati pada sebuah pandangan pertama

….

Kris sudah menghabiskan berbotol-botol soju untuk melupakan hari tersial dalam hidupnya. Melihat adiknya yang dicium oleh lelaki lain membuat hatinya bergejolak penuh luapan emosi. Ia butuh sesuatu untuk menyalurkan emosinya.

"Kalau terus seperti ini sebelum matahari tenggelam kau bisa mabuk hyung" Chanyeol mengingatkan sambil membawa masuk kayu bakar.

"Mana ibu?"

"Masih di ladang"

Chanyeol menumpuk kayu akar yang dibawanya disebelah perapian.

Luhan berciuman dengan lelaki lain, tapi mengapa bisa membuatku merasa sangat jengkel seperti ini

Kalau dia berhasil menjadi kekasihnya pasti akan membuatku gila!

Ini sudah keterlaluan!

PRANGGG! Sebotol soju luluh lantak berserakan di lantai kayu..

"Hyung?" Chanyeol tahu kakaknya sudah mabuk berat.

"Aku akan menemui Luhan" Kris berjalan sempoyongan kearah pintu.

"Untuk apa?"

"Bicara padanya.." Bicaranya semakin kacau.

"Bicara apa?"

"Apa kau harus puas dengan menjadi seorang kakak yang baik hah?! Tapi tidak denganku! Aku tidak mau!" Kris membentak adiknya sambil menitikkan air mata.

Chanyeol terkesiap mendengar ucapan kakaknya.

"Hyung kau sudah mabuk jangan terlalu banyak minum" Chanyeol berusaha menenangkan.

"Kalau ia bisa membahagiakannya kenapa aku tidak boleh? Akan kukatakan bahwa aku bukan kakaknya agar aku bisa bahagia dengannya!"

Chanyeol menghadang pintu masuk.

"Berhenti" Chanyeol mendorong tubuh kakaknya agar menjauh dari pintu.

"Luhan percaya bahwa kita adalah kakak-kakaknya, berhentilah mengorbankan kebahagiaan Luhan hanya demi kesenanganmu saja" Chanyeol semakin merapatkan tubuhnya pada pintu kemudian memegang gagang pintu dengan erat seolah enggan membiarkan seekor singa keluar dari kandangnya.

"Jangan katakan pada Luhan, kumohon jangan.." Sebuah bulir halus meluncur pada pipi Chanyeol.

"Kenapa kau harus melukai hati Luhan? Dia adik yang sangat manis dengan saudara yang sangat akrab, bagaimanapun kenangan itu tidak bisa dibuang begitu saja, ini akan menyakitinya seumur hidup" Chanyeol menangis meratap sambil memegangi dahinya.

"Aku tak akan melepaskannya, aku tidak mau meneruskan kebohongan ini seumur hidup!"

"Kau tega melukai hatinya demi kebahagianmu sendiri? Kau tidak pantas kupanggil sebagai seorang kakak!" Chanyeol berteriak nyalang pada saudaranya.

BUGH! Kris memukul kepala Chanyeol, hingga Chanyeol terduduk di daun pintu.

"Jangan berpura-pura menjadi anak baik Chanyeol!"

"Maafkan adikmu yang munafik ini, walau sampai matipun aku mencintainya, sampai matipun aku tak akan pernah mengatakan suatu hal yang menyakitinya!" Chanyeol balik menendang kakaknya hingga terpelanting jatuh diatas kursi hingga kursi kayu tak bersalah itu patah.

"Kau!" Kris bangkit dan memandang adiknya dengan tatapan garang.

"KAU TIDAK MENGERTI APA-APA! YANG BISA KAU LAKUKAN HANYALAH MENANGIS DAN BERTERIAK!" Kris menendang adiknya dengan brutal.

"Benar, aku tidak mengerti apa-apa! Luhan memang tidak memiliki ikatan darah dengan kita, tapi sampai kapanpun ikatan itu akan tetap menjadi ikatan persaudaraan" Chanyeol tersenyum dengan mulut sobek akibat pukulan kakaknya.

Kris semakin marah, menendang-nendang adiknya yang terus meringkuk kesakitan, sampai akhirnya pintu terbuka dengan lebar. Menampakkan wujud seorang perempuan tambun yang menatap terkejut pada dua buah hatinya yang saling bergelung seperti predator dan mangsanya. Keranjang berisi sayur ditangannya jatuh begitu saja di lantai kayu.

"HENTIKAN! ADA APA SEBENARNYA!" Perempuan itu berteriak.

"Hehe.. Aku.. Aku akan menikah dengan Luhan bu!" Kris meracau sambil tertawa akibat pengaruh alcohol. Otaknya hamper gila karena adiknya.

Sang ibu memandang kosong kedepan, kemudian terduduk jatuh ke lantai.. dengan suara lirih wanita itu berbicara,

"Jadi, hal itu yang membuat kalian saling berkelahi?" Pandangannya masih kosong seperti tengah melihat hantu.

"Kalian yang selalu akrab, b-berkelahi karena anak itu?" Ibu itu tak kuasa menahan amarahnya.

"KENAPA HAL INI TERJADI PADAKU?! Aku sudah tahu bahwa suatu saat laki-laki keparat itu akan menimbulkan bencana di rumah ini!" wanita itu meraung raung sambil memeluk kaki anak tertuanya.

"Kris! Kumohon jangan pernah katakana hal menakutkan itu" Wanita itu tersedu-sedu meratap seperti pengemis pada anaknya sendiri.

"Bangunlah bu, kakak hanya sedang emosi" Chanyeol berusaha membantu ibunya bangun dan melepaskan tangan ibunya dari kaki Kris.

Kris berdecih, kemudian menendang meja dengan kasar dan membanting pintu rumah dengan kasar, berlalu meninggalkan dua orang yang bersimpuh di lantai kayu rumahnya.

Ibunya terperanjat melihat kelakuan anak tertuanya,

"KRIS! KEMBALI! KRIIS! Aku akan membunuhnya! Aku akan membawa mayat anak itu dihadapanmuu!"

.

.

.

.

To Be Continued..

Luhan anak siapa? Kris kemana? Emaknya gimana? Kok emaknya jahat banget?

Hoho tunggu chapter selanjutnya deh..

Yee akhirnyaa chapter 2 kelarr, update cepet yaa? Hehe mumpung nganggur liburan, maklum Author gaada temen main.

Gimana menurut kalian tentang chapter ini? Seru? Atau garing-garing aja nih? Semua saran ditampung di kolom review yaa hehe..

Insyaallah minggu ini bisa update dua kali, soalnya Author nganggur terus hiks, kupasrahkan hidupku di layar laptop!

Jangan lupa review okeee? Love you,, see yaa!