KIMI NO SEKAI
(DUNIAMU)
.
HUNHAN COUPLE
FANTASY-SUPERNATURAL-SUSPENSE
ALTERNATE UNIVERSE!
.
.
.
E
N
J
O
Y
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehun bilang, tebarkan. Aku sudah mengunci pintu kamarku dan mematikan ponsel. Ia bilang harus memberi isyarat terlebih dahulu sebelum melakukannya. Aku menarik napas dalam lalu membuangnya. Aku condongkan tubuhku, menatap wajah kanvasnya dari dekat kemudian memiringkan sedikit kepalaku. Aku mencium bibirnya. Berkali-kali karena membayangkan tekstur empuk nan lembut bibir tipisnya. Kemudian menjauhkan diri. Aku memegang bibirku. Gila memang, menyadari fakta bahwa aku habis mencium bibir kanvasnya.
Aku mengambil guci kecil yang berisi abu tersebut. Kutuangkan perlahan ke tangan. Gucinya kuletakkan di antara kedua kakiku. Kugunakan tangan kanan untuk menebarkan.
.
.
Abu yang ditebarkan Luhan secara ajaib dapat menempel pada lukisan Sehun. Luhan mengangakan mulutnya sendiri sambil terus menebarkan.
Jangan lupa membaca mantranya selama proses penebaran.
Luhan baru ingat. Segeralah ia buru-buru bangkit dan mengambil kertas kecil yang berisi mantra atas sihir kyschogar yang ia cari melalui gugel. Untung tadi baru tebaran pertama.
"Isr mentt grawpyscha itro nare alvieus. Segraeta uns mivarso de ylat nombus qo oralle qb vallen—"
Luhan terus merapalkan serentetan mantra tersebut sembari menebarkan abu Earth Raito.
.
"Selesai."
Aku meletakkan guci tersebut ke atas nakas beserta kertasnya. Aku melihat ke arah lukisan Sehun. Aku takjub. Abu tadi menempel sempurna menutupi seluruh lukisan. Aku lega sekaligus was-was. Apakah ini akan berhasil? Apakah aku benar membaca mantranya? Apakah Sehun sudah merasakan efeknya di sana?
Aku menggigit bibir bawahku. Memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, baik positif maupun negatif. Lalu aku teringat apa kata Sehun.
'Selama lukisanku tertutup abu, kau tidak akan bisa masuk, Luhan. Biarpun sudah kembali bersih. Ini butuh penyesuaian. Seperti yang tertera di buku Tuan Anstone, bahwa proses pengembalian wujud ini terjadi selama empat sampai lima hari. Kau bisa menjumpaiku setelahnya, namun harus dengan melakukan proyeksi astral lalu bermimpi sadar di atas tubuh astralmu. Dengan begitu, akan memungkinkan aku bisa menjangkaumu secara riil ketimbang dalam mimpi.'
.
.
.
"Tahukah kau betapa aku sangat merindukanmu?"
Aku masih mengatur napasku. Gila. Kai baru saja melahap bibirku dengan rakus. Sialan memang. Ia baru saja datang beberapa menit yang lalu.
"Tidak usah hiperbola seperti itu, Kai. Aku memang mudah dirindukan." Kai memutar bola matanya mendengar penuturanku. Aku merebahkan diri di ranjang. Kai tidur di sebelahku kemudian memelukku posesif. Posisi seperti biasa.
"Kau itu. Jangan suka ceroboh. Meninggalkan ponsel saat sedang berlibur, kau pikir bagus? Aku kesal ketika Bibi Ern berkata seperti itu. Ditambah, kau hanya liburan dengan si Junmyeon. Apa-apaan Ketua Osis itu, tch." Lalu menciumi leherku. Aku mengembuskan napas berat.
Seharusnya, aku rindu juga pada Kai, bukan? Dia bernotabene kekasihku. Namun, mengapa aku tidak merasa seperti itu? Malah biasa saja. Justru aku rindu Sehun.
Sehun...
Sudah tiga hari ini aku absen melihat rupanya, baik dalam lukisan atau pun di atas kanvas. Jantungku berdegup. Shit. Hanya dengan memikirkannya saja membuat degupan jantungku menggila. Serius, dia sangat memengaruhiku.
"Luhan? Apa kau melamun?"
Suara Kai menyadarkanku, lantas aku menggeleng. Aku balas memeluknya.
"Oh ya, lukisanmu ke mana? Mengapa tidak ada?"
Aku tergeming sejenak. Lukisan Sehun sudah kusembunyikan di loteng. Aman pokoknya. Aku tidak ingin Kai, Bibi Ern, maupun Paman Shu mengetahui dan bertanya—mengapa dengan lukisannya, Luhan? Tertutup abu? Kau apakan? Ini abu apa?
Kalau pun Bibi atau Paman bertanya ke mana lukisanku—
"Itu. Adik sepupuku meminjamnya untuk ia lukis ulang. Ia sedang mengasah kemampuan melukisnya. Tidak tahu dikembalikan kapan."
—aku tinggal mengatakan hal serupa. Kuganti dengan teman. Kai mengangguk dan bibirnya mulai menelusuri leherku. Aku berharap Kai tidak menyadari ketidakberadaan seluruh manga Prince?DokiDoki!ku.
.
.
.
Ini sudah hari kelima. Aku semakin merindukan sosok Sehun. Bagaimana keadaannya? Apakah ia telah normal? Aku gelisah, jujur saja. Aku mengkhawatirkan pria tampan itu.
"Aku harus melihatnya."
Kulangkahkan kakiku menuju loteng. Untung loteng rumah Bibi bersih karena rajin dibersihkan oleh pekerja rumah tangga kami. Aku berjalan ke sudut. Aku dapat melihat abu yang semula memenuhi lukisan Sehun, kini tinggal sedikit.
"Apa kau baik-baik saja? Aku merindukanmu."
Aku duduk di bangku kecil dan meletakkan lukisan Sehun di atas paha. Aku tidak berani menyentuh lukisan ini sampai abunya benar-benar sirna secara alami. Diserap Sehun. Abu yang tersisa hanya menutupi leher Sehun. Aku yakin hari ini akan selesai.
"Berjuanglah, Sehun. Semoga kau baik-baik saja."
Jantungku bertalu keras. Aku sudah berpikir keras. Bahwa benar, aku masih terobsesi dengannya. Tapi kali ini dengan rasa cinta. Aku yakin perasaan ini cinta.
"Aku...mencintaimu, Sehun."
.
.
.
'Kau bisa menjumpaiku setelahnya, namun harus dengan melakukan proyeksi astral lalu bermimpi sadar di atas tubuh astralmu. Dengan begitu, akan memungkinkan aku bisa menjangkaumu secara riil ketimbang dalam mimpi.'
Ucapan Sehun terngiang di kepalaku. Ini sudah hari ketujuh dan aku sudah sangat merindukannya. Biar saja ini hiperbola, tapi—aku merasa seperti kehilangan separuh napasku. Aku benar-benar rindu Sehun.
Aku mengambil ponselku dan mulai berselancar di internet.
Bagaimana cara melakukan proyeksi astral?
Aku membuka salah satu web. Di dalamnya tertera pengertian, sejarah, serta langkah-langkah mewujudkan proyeksi astral atau bisa juga disebut astral projection.
Aku langsung menghafalkannya dalam kepala. Sedikit informasi, aku ini orang yang punya daya ingat sangat kuat. Aku sangat menyukai pelajaran sejarah dan biologi dan bisa menghafal satu buku tersebut dalam waktu dua hari.
Bagaimana cara melakukan mimpi sadar di atas tubuh astral?
404 not found
Aku meringis. Sial. Aku tahu hal ini mustahil. Tapi Sehun yang mengatakannya. Aku berpikir keras.
Bagaimana cara melakukan mimpi sadar?
Aku membaca langkah-langkahnya dengan teliti sekaligus menghafal.
"Mimpi sadar disebut juga lucid dream—lucid dream?"
Ah, aku baru sadar. Aku pernah dua kali bermimpi sadar. Sadar saat dalam mimpi bahwa aku tengah bermimpi. Waktu itu tanpa sengaja. Aku menggigit bibir bawahku, berpikir keras.
"Bagaimana cara aku melakukan mimpi sadar pada tubuh astralku? Apa aku harus membuat terobosan sendiri? Menjadikan diriku kelinci percobaan? Apa aku akan selamat dan benar-benar bisa menjangkau Sehun? Bagaimana kalau aku tiba-tiba mati saat melakukannya?"
Mengapa pula harus dengan proyeksi astral terlebih dahulu? Apa karena ia ruh? Aku benar-benar bingung. Aku memercayai Sehun, tapi sepertinya ini akan sulit kalau aku tidak memantapkan hati dan tidak mempunyai nyali yang kuat. Ugh. Luhan, kau harus berani. Kau pasti bisa.
Demi Sehun.
Ya, demi pria yang aku cintai.
.
.
11.30 PM
Luhan menarik napas lalu membuangnya secara perlahan. Keadaan kamarnya sudah gelap, hanya sedikit pancaran cahaya bulan yang menemani. Ia melihat sekeliling kamarnya sekali lagi. Lalu dengan perlahan ia menutup matanya.
Semoga aku berhasil, Ya Tuhan. Tunggu aku, Sehun.
Relaksasi yang sangat dalam. Luhan mencoba melakukannya. Luhan merasa dirinya sudah tak mendengar detakan jam dindingnya. Itu tandanya ia berhasil. Luhan mulai mengatur napasnya. Menariknya lalu mengembuskannya perlahan. Ia terus melakukannya sampai merasa bahwa dirinya telah berelaksasi lebih dalam. Lalu ia berkonsentrasi dengan membayangkan suatu objek. Setelah itu ia mengosongkan pikirannya dan semakin memperdalam konsentrasi. Hingga Luhan merasa tubuhnya memberat. Semakin berat. Inilah saatnya Luhan mulai memikirkan sesuatu yang ringan. Luhan membayangkan bulu yang beterbangan. Sangat ringan.
Luhan meningkatkan konsentrasinya dengan membayangkan bulu-bulu tersebut terangkat ke atas dan menjadi semakin ringan. Dan pada titik itu Luhan merasa dirinya telah berhasil menciptakan tubuh astralnya. Luhan melihat pemandangan kamarnya yang semula gelap gulita menjadi dalam mode cahaya ungu. Luhan meningkatkan konsentrasinya lebih dalam dan barulah semua benda di kamarnya kembali terlihat pada warna aslinya. Matanya terpejam dan terasa semakin berat. Namun pandangannya terlihat semakin jelas.
Astral Luhan sedikit mengangakan mulutnya ketika ia berhasil melihat dirinya terbaring di ranjang. Ia berhasil. Maka dari itu, ia mulai melayang. Semakin tinggi. Raganya berada di ranjang sedangkan astralnya berada di atas genting.
Lebih baik jika astralmu melakukannya di ruangan terbuka. Apa kau sanggup?
Ia telah menyanggupinya. Astralnya mulai berbaring melayang. Lalu ia mencoba berelaksasi pada tubuh astralnya. Raga Luhan bekerja tiga kali lipat lebih relaks agar astralnya dapat merasakannya. Semakin relaks, lalu ia mulai memvisualisasikan gradasi warna. Raga Luhan membuat astralnya semakin relaks tetapi pikirannya tetap terjaga dalam keadaan santai.
Raga Luhan semakin memberat dan ia menyadari bahwa dirinya sudah masuk tahap sleep paralysis. Raga Luhan merasa dirinya akan mati karena tubuhnya berkali-kali lipat lebih berat seperti ditindih sesuatu. Raga Luhan mencoba relaks walaupun ia merasa tubuhnya akan remuk dan ia berusaha tak mengindahkan suara-suara jeritan dan berusaha berkonsentrasi dan relaks yang lebih dalam agar astralnya tenang. Dan raga Luhan berhasil membuat astralnya berada di sebuah terowongan yang gelap gulita. Luhan terus berkonsentrasi lebih dalam, berupaya menggerakkan astralnya agar berjalan melintasi terowongan.
Ia telah berhasil bermimpi sadar di atas tubuh astralnya. Astral Luhan terus berjalan melintasi terowongan. Samar-samar dirinya melihat siluet sesosok. Astral Luhan berjalan mendekatinya. Sosok itu pun melakukan hal yang sama. Raga Luhan berusaha mengontrol emosinya agar tetap konsentrasi. Sampai pada akhirnya, ia merasa astralnya telah didekap. Astralnya memejamkan mata erat.
"Kau berhasil, Luhan. Terima kasih sudah datang."
Astral Luhan membuka mata dan pandangannya menjadi terang. Matanya melihat hamparan jingga. Ia mendongak dengan wajah penuh tanya.
"Selamat, Luhan. Kau kini berada di perbatasan antara dunia mimpi dan dunia dua dimensi."
.
.
.
Aku takjub.
Wow
Aku—astralku berada di hamparan jingga dan bersama Sehun. Sehun yang sempurna.
Sehun bak malaikat tanpa sayap. Tidak ada lagi kaki komik, hanya ada kaki jenjang yang terbungkus celana hitam dan sepatu pantofel yang mewah. Amat memesona.
Aku tidak tahu ini berhasil atau tidak, aku ingin mencoba berbicara, namun telunjuk Sehun lebih dahulu menempel di bibirku.
"Jangan bicara apa pun, Luhan. Tubuh aslimu tidak sanggup. Bisa merealisasikan hal seperti ini saja sudah luar biasa menakjubkan. Kau mempunyai keinginan yang besar untuk bertemu denganku. Aku sangat menghargaimu."
Lantas aku tergeming. Lalu aku menunduk dan masih hamparan jingga yang retinaku tangkap. Aku menatap Sehun penuh tanya.
Sehun melirik ke bawah sekilas, kemudian menatapku. "Luhan. Sudah tertutup. Mustahil untuk melihat ragamu dari perbatasan ini. Ini sudah terlampau jauh dan aku yakin ragamu sudah mulai lelah di sana."
Aku mengernyit. Tidak terlalu suka jawaban Sehun. Lelah katanya? Bagaimana mungkin? Astralku tidak merasa lelah di sini dan justru sangat bahagia. Itu berarti, ragaku jauh lebih kuat, bukan?
"Luhan. Hentikan sekarang. Kau bisa bertemu denganku sekitar dua minggu lagi. Seperti waktu itu, tanpa melakukan ini lagi. Hvitur sedang dalam masa penyesuaian. Atasnya terdapat parasit akibat proses pengembalian kaki nyataku. Dan itu berbahaya bagimu. Karena kau astral, kau masih memiliki raga berjiwa. Kau bisa melakukan ini, sangat kuapresiasi. Kau bisa memulai, tentu kau bisa mengakhirinya juga, bukan?" ia tersenyum.
Aku tergeming. Sedikit tersinggung dengan ucapannya. Akhiri sekarang katanya? Yang benar saja! Setelah perjuangan ragaku yang sangat sulit untuk mencapai tempat ini, dan Sehun dengan mudahnya mengatakan bahwa astralku harus segera kembali? Dia gila atau apa? Kuprediksi, bahkan belum sampai sepuluh menit aku berada di sini.
Katakanlah aku posesif, egois dan keras kepala. Masa bodoh. Tapi yang aku inginkan, aku berada di dekat Sehun. Sesederhana itu. Mengapa terasa sulit sekali? Lagi pula, apa Sehun tidak senang bertemu lama-lama denganku? Aku sangat merindukannya! Lagi pula, astralku tidak mengalami apa pun saat ini, itu berarti, ragaku sudah sangat kuat di bawah sana, bukan?
"Luhan? Hei, kau melamun? Cepat kembali, Lu. Sebelum pusaran—"
"Tidak."
.
.
.
Mereka terkejut. Luhan sendiri tak percaya astralnya dapat mengeluarkan suara. Sehun membulatkan matanya lalu mencengkeram lengan Luhan.
"J-jangan bicara! Kalau kau berbicara barang satu kata saja, ragamu bisa melemah dan dalam bahaya! Konsentrasinya bisa hancur. Luhan, dengar. Kembali ke ragamu sekarang. Kau harus kembali sekarang sebelum—"
"Sebelum apa, huh? Aku tidak mau, Sehun. Aku ingin sebentar lagi. Berada di sisimu, hanya itu. Tak tahukah kau betapa aku sangat merindukanmu? Sangat mengkhawatirkanmu? Sangat ingin bertemu denganmu? Kau tidak menghargaiku! Kau pikir mudah melakukan semua ini, hah?!"
Sehun membelalakkan matanya.
"Luhan, kau..."
"Ap—"
DEG
DEG
DEG
Astral Luhan dapat merasakan dada sebelah kirinya sakit. Dentuman jantung yang disalurkan raga Luhan dapat ia rasakan. Astral Luhan terperenyak. Matanya membelalak lebar. Sehun ikut terduduk seraya memegang kuat bahu Luhan.
"L-Luhan, dengar aku. Enyahkan egoismemu. Itu sangat memengaruhi ragamu! Ragamu dalam bahaya. Kau telah banyak membuang energi yang diciptakan ragamu dengan susah payah. Sekarang, masih ada waktu untuk bisa kembali ke dalam ragamu. Kau dengar aku? Ragamu sekarat!"
.
.
.
Matanya sungguh sayu dan hanya menatap lurus ke depan. Apa ia ikut melemah karena raganya memberontak minta dipenuhi astralnya kembali? Aku menepuk-nepuk pipinya. Aku melihat sekeliling dan tak ada lagi jingga. Kembali gelap.
"Luhan! Bangun dan kembali ke ragamu! Tak ada kesempatan lagi! Sekarang!"
Namun ia tergeming kaku. Aku mengerang gusar. Bagian belakangku terkena terpaan angin. Aku mengguncang tubuh Luhan, berusaha menyadarkannya agar cepat kembali. Terpaan angin semakin kencang. Angin menerpaku dan Luhan dengan kuat. Inilah yang kukhawatirkan sedari tadi.
Aku memberanikan diri menoleh ke belakang dan ternyata pusaran angin sudah menanti. Semakin kencang dan sangat kencang. Dengan sekuat tenaga aku menarik Luhan agar masuk ke dalam dekapanku. Lalu kekuatan maha dahsyat menjebloskan kami ke dalam pusaran.
.
.
.
Putih.
Aku membuka mataku perlahan. Terang menyapaku. Hingga mataku terbuka sempurna dan pandanganku dipenuhi hamparan putih.
Seperti familier.
"Kau sudah sadar?"
Aku sedikit terkejut. Aku menolehkan kepalaku dan mendapati Sehun tengah duduk bersila di hadapanku. Mimiknya menyiratkan kekhawatiran. Memangnya ada apa?
"Syukurlah kau sadar. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kau membuatku hampir mati dua kali."
Aku mengernyit mendengar ucapannya. Sehun tengah memelukku erat dengan membenamkan wajahnya di ceruk leherku. Kemudian aku merasakan leherku basah.
Ya Tuhan, apa pria ini menangis?
Segera kubalas dekap tubuhnya. Aku memaksakan diri untuk ikut duduk namun ia menahannya.
"Jangan, Luhan. Kau masih sangat lemah. Cukup seperti ini." Suara Sehun terdengar sendu dan bergetar dan aku merasa leherku semakin basah. Aku menangkup pipinya dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat wajah tampannya dibanjiri oleh air mata.
"Hei. Mengapa kau menangis, Sehun?"
Aku bertanya selembut mungkin sembari menghapus jejak-jejak air mata yang membasahi pipinya dengan ibu jariku. Sehun memegang tanganku yang tengah menangkupnya.
"Maafkan aku, Lu. Ini semua salahku. Maafkan aku. Aku berdosa."
Aku merasa dadaku sesak karena Sehun menyalahkan dirinya. Aku sangat tidak suka. Kemudian aku menarik lembut lehernya lalu menempelkan kening kami.
"Sst. Sehun, kau bicara apa? Kau melakukan kesalahan apa? Jangan seperti ini, Sehun. Kumohon."
Dari jarak sedekat ini aku dapat melihat jelas raut rasa bersalahnya. Aku meringis dalam hati lalu kutangkupkan kedua pipinya.
"K-kau...hampir celaka. Karenaku, karena proyeksi astral dan bermimpi sadar itu. Aku sungguh menyesal. Aku memang egois, aku tak pantas dikagumi olehmu, aku—"
Kubungkam bibirnya dengan bibirku. Aku melumatnya selembut mungkin. Kuharap ciuman ini dapat menenangkan Sehun. Dan terbukti ketika ia membalasnya tak kalah lembut.
.
.
.
"Memangnya berapa lama aku pingsan, Sehun?"
Sehun meletakkan dagu runcingnya pada bahu Luhan. "Kuprediksi, tiga hari. Dan selama tiga hari itu pula, ragamu mengalami mati suri. Dan saat ini kau sudah sadar, aku yakin ragamu di sana sedang dalam keadaan koma."
Luhan sedikit bergidik mendengar penuturan Sehun. Ia memegang tangan Sehun yang tengah melingkari perutnya. Sehun memeluknya posesif dari belakang.
"Aku pikir, aku sudah sama sepertimu. Berada di dunia yang sama denganmu." Ia terkekeh pelan setelahnya. Sehun mengendus leher Luhan posesif.
"Tidak. Kau masih memiliki raga nyata dan hanya astralmu yang terjerembap di sini. Kau hanya mati suri. Berbeda denganku. Aku roh dan raga nyataku sudah benar-benar menyatu dengan bumi." Bisik Sehun yang kini mulai menciumi dan sesekali menyesap leher samping Luhan. Luhan menahan diri agar tidak kelepasan mendesah. Bibir Sehun terasa begitu panas di lehernya. Lihai nan posesif.
"Ugh. Sehun, hentikan. Aku masih ingin bertanya padamu."
Sehun berdecak kesal ketika Luhan tiba-tiba memutar tubuhnya sehingga cumbuannya pada leher Luhan terlepas. Luhan tahu saat ini merah sedang terpatri di wajah sampai telinganya. Lehernya masih terasa lembab. Ia menangkup pipi Sehun.
"Sehun. Bisakah kau jelaskan padaku tentang perbatasan itu? Dan bagaimana dirimu bisa berjumpa dengan astralku di perbatasan? Apa yang kau lakukan?"
Seulas senyum tipis terpulas di wajah si tampan. "Perbatasan itu bernama insiviour. Mengapa aku menyuruhmu untuk melakukan mimpi sadar di atas astralmu? Karena jika kau hanya bermimpi sadar, tak akan mungkin bisa menjangkauku secara riil. Aku berpikir dan menemukan solusi itu. Ternyata kau dapat melakukannya. Aku sangat terharu sekaligus takjub ketika kita bertemu di insiviour."
Sehun menggenggam tangan Luhan kemudian menghujani punggung tangannya dengan beberapa kecupan hangat. Lalu kembali menatap Luhan.
"Proyeksi astral memberiku kesempatan dan nyatanya berhasil. Kau melakukannya di tempat terbuka, kau tahu, secara tidak langsung alam ikut serta mendorongmu agar bisa menjangkauku. Kalau dalam ruangan tak mungkin sampai. Kalau kau bertanya apa yang aku lakukan hingga dapat menjangkaumu,"
Ia menatap Luhan lekat. Lalu mengecup singkat kedua pipinya. "Aku juga melakukan mimpi sadar. Karena aku roh, jadi tidak perlu melakukan proyeksi astral sepertimu. Mengapa aku bersikeras menyuruhmu segera kembali? Karena saat itu insiviour sedang tidak stabil. Terkena dampak dari proses pengembalian kakiku. Memang dari sini ke insiviour terbilang cukup jauh, namun setahuku, pusaran angin akan muncul kalau perbatasan itu sedang mengalami ketidakstabilan."
Lalu Sehun kembali mendekat dengan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Luhan. Tangan pria itu memeluk pinggang Luhan erat, posesif. Luhan jadi bertanya-tanya dalam hati. Mengapa Sehun jadi err...semacam—bergairah?
Sehun menciumi leher Luhan dengan ahli. Kini ia menggigit lalu menyesap kuat leher Luhan. Membuatnya menyisakan tanda kemerahan. Kepemilikan. Sehun tersenyum puas lalu saat akan membuat tanda lebih banyak lagi, Luhan menangkup wajahnya.
"Ugh. Sehun, apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau jadi—"
Luhan menghentikan kalimatnya ketika Sehun mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum miring. Sangat seksi dan memesona.
"Apa? Bergairah? Kuakui, ya. Menengadahlah."
Luhan langsung menengadah dan pandangannya dipenuhi oleh semacam serabutan hitam yang terhampar. Lalu ia kembali menatap Sehun.
"Itu adalah parasit. Parasit yang membuat hasratku melambung. Aku jadi sangat bergairah sejak aku mendapatkan kaki nyataku. Memang, aku roh. Tapi bukan tidak mungkin hasratku bisa terbangun setelah terkubur ratusan tahun lamanya, bukan?"
Luhan tergeming. Tanpa sadar ia menelan ludahnya sendiri. Sehun sudah menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher satunya. Siap membuat tanda. Luhan menahan napas.
"Lalu, kapan parasit itu akan hilang, Sehun?"
Sehun mengedikkan bahunya seraya mengendusi leher Luhan dengan intens. "Aku tidak tahu. Tidak tercatat dalam buku Tuan Anstone."
Luhan menggigit bibir bawahnya kuat. Sehun tengah menggigit, menjilat, lalu menyesap lehernya dengan begitu ahli. Tanda kemerahan semakin memenuhi lehernya. Lidah Sehun mulai menyusuri rahangnya. Luhan memejamkan matanya. Saat akan mendesah, tiba-tiba Sehun menghentikannya.
"Luhan..."
Luhan membuka mata dan langsung bersinggung tatap dengan si hazel. Sehun merapatkan dirinya pada Luhan. Luhan menangkup pipinya.
"Kenapa?"
"A-aku...butuh pelampiasan. Pelarian yang nikmat. Aku sangat bergairah. Aku ingin dirimu. Betapa aku ingin menjamahmu lebih dalam. Aku merasa ingin meledak karena terus menahan gejolak menyenangkan ini."
Sehun menggigit bibir bawahnya kaku, "Aku membutuhkanmu...untuk menjadi tempat pelampiasanku."
.
.
.
Tak ada sehelai benang lagi yang melingkupi tubuh mereka. Sehun melakukannya dengan cepat. Ia di atas Luhan yang tengah terbaring lemah. Sehun mencium bibir Luhan intens. Ciuman yang begitu intim dan Sehun merasa hasratnya kian melonjak kala kejantanannya secara tak sengaja menggesek milik Luhan. Detik itu juga, Sehun ereksi total. Ia terus menggesek-gesekkan penis besarnya hingga penis Luhan ikut berereksi total. Lidah Sehun menjelajah rongga mulut Luhan dengan lihai. Luhan hanya bisa mendesah tertahan. Luhan merasa ingin meledak hanya karena Sehun menggesekkan bagian selatan tubuh mereka.
Sehun melepas pagutannya. Luhan melihat kilatan bara api di mata hazelnya. Sehun menatapnya lekat lalu tersenyum miring, "Kau sangat memesona, Luhan."
Luhan mengalungkan tangannya pada leher Sehun ketika pria itu mulai membuat tanda di dadanya. Sehun menggigit dada Luhan gemas lalu mengisapnya kuat. Bibirnya turun hingga menemukan tonjolan cokelat kemerahan milik Luhan. Lalu disesapnya puting tersebut kuat-kuat. Luhan mendongakkan kepalanya.
"Ugh, Sehun."
Tangan satunya mencubit gemas puting kanan Luhan. Luhan mengerang nikmat tatkala tangan kokoh Sehun memijat lembut kepemilikannya. Putingnya masih dimanja. Sehun mengocok penis Luhan dengan tempo pelan. Luhan merasa sekujur tubuhnya seperti disengat aliran listrik. Terlalu nikmat.
"S-Sehun..."
Sehun mendongak dan alangkah terpesonanya ia ketika melihat wajah pasrah Luhan karena tindakannya. Wajahnya dihiasi merah. Sehun tak tahan, ia pun melumat ganas bibir Luhan. Ia menyesap bibir Luhan kuat sesekali menjilatnya. Tangannya masih aktif mengocok penis Luhan dengan tempo sedang.
"Kau adalah astral paling seksi, Luhan." Bisikan Sehun tak mampu meredam desahan bisingnya karena kecepatan tempo yang Sehun lakukan pada penisnya. "Dan aku bersyukur bisa menjamahmu."
"Sial, Sehun. Tanganmu akan kutumpahi mani sebentar lagi—ahh.."
Luhan mengatur napasnya. Sehun tersenyum simpul ketika tangannya ternodai cairan Luhan. Sehun menjilatnya hingga habis, kemudian melempar senyum tampan ke arah Luhan yang masih menikmati sisa-sisa orgasmenya.
"Tidak buruk." Ia pun melumat kembali bibir Luhan dengan bergairah.
"Aku tahu kau pernah bercinta dengan pria itu. Saat aku melihatnya," Sehun memegang dada kirinya. "dadaku sesak. Yang terhubung denganku, terhubung dengan orang lain." Kemudian ia mengecup kening Luhan.
"Kau hanya perlu pasrah di bawahku. Aku akan membawamu terbang lebih tinggi melebihinya."
Luhan kembali ereksi. Sehun begitu seksi serta memesona. Sangat. Ia mendesah tertahan ketika Sehun membuka kedua kakinya dan hanya dengan tatapan matanya saja, Luhan merasa pertahanannya sudah dimasuki kejantanan Sehun.
"Lakukan apa yang kau inginkan, Sehun. Aku milikmu."
.
.
.
Sempit, ketat dan hangat. Baru setengahnya, tapi aku sudah ingin meledak. Aku melihat Luhan, wajahnya sungguh seksi. Aku amat terpikat. Dan dengan sekali dorongan, aku berhasil memenuhi lubangnya. Fuck. Dirinya melingkupiku dengan sempurna.
"Aku sudah berjanji akan membawamu terbang lebih tinggi, Luhan. Dan selama proses mengantarmu menuju langit ketujuh, kau jangan pernah absen menyebut namaku."
Kukira Luhan sudah siap. Lantas aku mulai menggerakkan penisku perlahan. Ia mengerang, aku mencubit putingnya gemas lalu bibirku memagut bibirnya sambil terus melakukan penetrasi secara lembut.
"Ahh. Persetan dengan kenyataan ini tubuh astralmu. Kau menjepitku dengan sangat nikmat, Luhan."
"Ahh ahh, Sehun. Di sana—ohh. Fuck. Oh Ya Tuhan, Sehun."
Aku mencumbu putingnya sambil terus menyodokkan penisku agar menyentuhnya di titik yang sama. Kenyataan bahwa terselip namaku di antara desahan erotis Luhan, membuatku semakin semangat menyiksa prostatnya.
.
.
Sehun gila. Penisnya lebih gila. Terus menyodok titik kenikmatanku dengan cepat, tepat dan telak. Temponya semakin cepat dan aku mendesah keras-keras sembari terus menyebut namanya. Mataku terpejam. Tangan Sehun mengocok serta penisku.
"Shit, Luhan. Aku—ahh. Penisku mencintai lubangmu."
Aku membuka mataku dan mendapati pemandangan erotis kala menyaksikan penis besar Sehun bergerak cepat keluar masuk lubangku dan ukurannya tiga kali lebih besar dari pertama ia menusukku.
"Yeah, Sehun. Fuck me. Bergerak lebih cepat—ahh ahh ahh. Fuck."
.
.
Sehun terus menyodokkan penisnya keras-keras sembari melumat ganas bibir Luhan. Luhan ikut menggerakkan pinggulnya ketika ia merasa kenikmatan ini seakan tiada matinya. Mereka bergerak berlawanan dengan tempo cepat dan semakin cepat.
"Luhan, lubangmu membuat penisku ingin meledak."
Sehun menjilat dan mengisapi leher Luhan. Menebali tandanya.
"Sehun—ahh. Fuck."
Sehun tersenyum ketika tangannya dibanjiri mani suci Luhan.
"Pengkhianat. Aku yang menyodokmu, namun kau menggapai awan terlebih dahulu." Bisik Sehun serak.
Sehun mengejar kenikmatannya sendiri. Luhan masih menikmati sisa orgasmenya. Dan tiga hentakan cepat terakhir, Sehun menyusul Luhan menggapai awan.
Dirinya meledak dengan sangat banyak dan puas di dalam lubang Luhan.
"Ugh. Pelampiasan—tidak. Percintaan yang nikmat." Bisik Sehun dengan suara sarat akan kepuasan seksual.
.
.
.
"Kau gila."
Sehun terkekeh. Keduanya berbaring sebelahan. Masih dalam keadaan telanjang. "Kau yang membuatku gila."
Kemudian Sehun berbaring miring lalu mendekap Luhan erat. Dikecupinya pucuk kepala pria manis itu berkali-kali. Luhan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher pria itu lalu menghirup aroma tubuh Sehun kuat-kuat. Mint yang memikat.
"Luhan."
"Hm?"
"Aku harap kau tidak menyesal bercinta denganku. Tidak apa kan jika aku menggunakan kata bercinta bukan seks?" Sehun mendongakkan kepala Luhan dan menatapnya lekat. Luhan menangkup pipi kiri Sehun. Kebiasaan manis.
"Aku tidak menyesal, Sehun. Ya, tadi itu memang bercinta. Bercinta didasari oleh cinta, sedangkan seks belum tentu." Senyum terpulas. Sehun mendekatkan wajahnya.
"Kau...sungguh mencintaiku? Benarkah?"
Luhan mengangguk lalu mengecup hangat bibir Sehun. "Ya. Ini cinta, Sehun."
Tangan Sehun tergerak guna membelai rambut Luhan. "Aku merasa sangat berharga. Dapat dicintai tiga dimensi sepertimu...aku sangat bahagia, Luhan."
Luhan mencubit pelan hidung mancung Sehun lalu mengeratkan pelukannya. Balasan tanpa kata. Sehun mengangkat sebelah alisnya.
"Bagaimana aku bisa memercayai kalau kau sungguhan mencintaiku, Lu?"
Luhan tiba-tiba menggigit bibir bawahnya karena Sehun tengah menggesekkan area selatan mereka. Oh, hanya beberapa gesekan namun keduanya cepat bereaksi. Ereksi total kembali. Terjadi dengan cepat, Luhan kini sudah berada di atas tubuh pria tampan tersebut.
"Kau harus memercayaiku. Bercinta membuktikan segalanya, bukan?"
Sehun mengerjap beberapa kali. Lalu ia ikut duduk. Posisinya menjadi lebih intim. Sehun mulai mengendusi leher Luhan.
"Benar. Lakukanlah. Untukku."
Tiga kata patah yang membuat hasrat Luhan kembali terbakar. "Siap, Earth."
Sehun pikir, percintaan mereka selanjutnya dan selanjutnya akan terasa semakin panas.
.
.
.
Sehun bilang, selama parasitnya belum hilang, hasratnya akan terus terbakar. Aku sekarang mengerti mengapa Sehun menyuruhku cepat kembali waktu itu. Karena aku astral, dan hvitur sedang tidak steril. Sangat berbahaya memang. Tapi tak apa, selama Sehun bisa melaksanakan gejolaknya, aku tak apa. Tidak ada kata pelampiasan namun hanya ada kata percintaan. Percintaan yang semakin hebat.
"Sehun."
"Hm?"
Anak ini cukup manja rupanya. Ia sedang menciumi leherku dengan mimik bahagia. Ugh.
"Ini sudah hari ke berapa?"
"Kuprediksi, hari keenam." Ia mendongak lalu dengan cepat menyambar bibirku. Melumatnya sebentar.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin bertanya. Bagaimana keadaan ragaku kalau aku sedang bercinta denganmu?"
Ia terkekeh pelan lalu mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu pasti, Luhan. Tapi aku yakin, kau masih koma."
Aku menggigit bibir bawahku. "Sehun. Kalau aku pergi dan parasit ini masih ada, apa yang akan terjadi padamu?"
Sehun mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum. "Aku yakin aku akan menjadi orang yang paling tersiksa. Aku roh, terjebak di dunia ini, gairahku terbakar namun tidak bisa menuntaskannya. Adakah yang lebih kejam dari itu semua?"
Aku menangkup pipinya lalu mengecup singkat. "Sehun, aku sudah memutuskan."
Sehun mengernyit, "Apa?"
"Aku akan tetap berada di sini sampai parasit-parasit ini hilang total. Aku menemanimu."
Sehun menampakkan mimik tidak enak. Ia membulatkan matanya. "K-kau serius?" aku mengangguk yakin, "Ya."
"Luhan. Aku khawatir dengan ragamu. Kalau kau terlalu lama berada di sini, kau bisa saja mati sungguhan."
Aku menelan ludahku mendengar penuturannya. "Dan kalau hal tersebut sampai terjadi, aku bersumpah tidak akan memaafkan diriku."
Aku mengembuskan napas lalu mengusap lembut pipinya. "Aku tidak peduli. Aku serius dengan ucapanku. Aku tidak ingin kau tersiksa. Aku sangat mencintaimu, Sehun. Aku rasa aku sudah gil—"
Bibirku basah. Sehun menautkan bibir kami. Melumatnya lembut.
"Kau yang membuatku gila, Lu. Ungkapan terima kasih memang sangat tidak cukup untuk membalas segala bentuk jasamu padaku. Tapi—tidak ada ungkapan yang lebih tepat dibanding terima kasih. Terima kasih, Luhan."
.
.
.
Waktu bergulir dengan cepat. Walau waktu tidak bereksistensi di hvitur. Parasit-parasit tersebut semakin menipis. Tiada hari tanpa bercinta. Sehun pikir, parasit tersebut akan cepat lenyap kalau hasratnya tersalurkan. Mungkin dalam waktu dua atau tiga hari lagi, parasit tersebut akan hilang total. Hampir tiap hari juga Sehun dan Luhan tidak mengenakan pakaiannya kembali sehabis bercinta. Hanya dekapan hangat yang mengakhiri. Dilanjut dengan percintaan kedua, ketiga dan seterusnya. Sehun tidak mengenal kata lelah, karena parasit tersebut sangat memengaruhinya. Astral Luhan pun tidak masalah untuk menjadi tempat benih hasil gejolak menyenangkan dari Sehun.
"Aku mencintaimu, Sehun."
"Ya. Aku tahu."
Ungkapan yang sama sehabis percintaan mereka.
.
.
Putih.
Aku membuka mataku perlahan. Sehun memelukku dari samping sedangkan aku telentang.
"Oh. Apakah ini sudah waktunya?"
Aku merasa ada pergerakan kecil dari Sehun. Aku menoleh dan mendapatinya sedang mengerjap.
Lucu.
"Kau bicara apa?"
Aku mengarahkan telunjukku ke atas. Aku menoleh dan mendapati air wajah tidak-bisa-ditebak Sehun.
"Benar-benar bersih."
Aku mengangguk lalu kusandarkan kepalaku pada dadanya. "Ya, Sehun."
Sehun balas mendekapku, "Sudah waktunya untuk kembali, Luhan."
.
.
Sehun mengatakan, aku hanya perlu bermimpi sadar. Satu-satunya cara agar aku dapat kembali ke ragaku adalah dengan itu. Dan Sehun bilang, di insiviour terdapat pintu teleportasi tak kasat mata. Hanya bisa dimasuki raga nyata atau pun astral yang memiliki raga nyata sepertiku.
"Temukan dengan insting. Kau harus tiga kali lipat lebih konsentrasi dan relaksasi. Tanamkan pemikiran 'Aku siap memasuki pintu teleport. Aku akan datang'. Kau harus optimis."
.
.
.
"Jika kau sudah berhasil memasukinya. Otomatis, astralmu yang bersamaku akan lenyap."
Luhan mengangguk pelan. Aku memegang tangannya erat. Kutatap manik cokelat kelamnya lekat.
"Luhan. Kau tahu, bukan, kalau kau adalah satu-satunya harapanku?"
Ia mengangguk pelan lalu menipiskan jarak di antara kami. "Kenapa, Sehun?"
Aku mengembuskan napas pelan. Aku tidak tahan untuk tidak mengutarakannya. "Maafkan aku. Mungkin ini berat, tapi hanya kau yang bisa melakukannya, Luhan."
Ia mengangkat sebelah alisnya dengan mimik penuh tanya. Tanganku beralih guna membingkai wajahnya. Aku mengembuskan napas sekali lagi. Jujur, aku tidak tahu apakah ia sanggup—ingin atau tidak.
"Mungkin aku bisa sepertimu, tapi apakah kau bersedia melakukannya untukku?"
.
.
.
Ini sensasi yang lebih gila dari pada saat aku mencoba berproyeksi astral lalu mimpi sadar. Sehun mudah saja melakukan mimpi sadar, dia ruh. Sedangkan aku? Ini membutuhkan kekuatan ekstra lagi, karena ini astralku—walaupun dalam wujud dua dimensi.
Aku melirik Sehun yang bersila di sebelahku sebelum akhirnya aku benar-benar menutup mata untuk berelaksasi.
'Kuharap kau kembali, dan membawa apa yang kuharapkan.'
.
.
Masih seperti ini. Terhampar jingga. Bagaimana caraku untuk menemukan pintu teleport itu? Ugh.
Aku siap memasuki pintu teleport. Aku akan datang.
Aku mengedarkan pandanganku. Berjalan pelan ke arah utara. Telapakku meraba-raba insiviour yang nyatanya tida berdinding ini.
Aku siap memasuki pintu teleport. Aku akan datang.
.
Kiranya sudah hampir setengah jam astral Luhan berbaring di sebelahku. Mengapa ia belum menemukannya? Apa Luhan kurang berkonsentrasi?
Aku hanya bergeming sembari menunggunya lenyap. Jujur, aku khawatir. Tapi yang kulihat, Luhan sudah melakukan relaksasi yang sangat dalam.
Kumohon jangan membenciku, Luhan.
Kumohon kabulkan permintaanku, Luhan.
.
.
.
Terhalang.
Kuraba. Benar saja. Inilah pintu teleport itu, pasti. Kupikir sudah hampir satu jam aku berjalan ke arah selatan insiviour dan ternyata membuahkan hasil. Segera kuraba guna meraih kenop tak kasat matanya. Dapat.
Aku memasukinya. Benar-benar pintu. Hanya kotak seperti ini. Tak ada lagi jingga. Empat sisi ruangan teleport ini terhias kaca buram dan seperti dibercaki air. Aku menyentuh kacanya.
Dingin.
Katakanlah ini aneh, karena jika dari luar sama sekali tidak kelihatan. Tapi begitu masuk, ini normal.
Aku memejamkan mata dan kedua tangan kurentangkan hingga telapakku menyentuh kaca.
Bawa aku pergi.
.
.
"Ya Tuhan? B-benarkah...ini?"
Kai refleks mengangakan mulutnya. Ia menoleh dan mendapati Bibi Ern serta Paman Shu yang bermimik sama seperti dirinya. Terkejut.
"L-Luhan kembali, Bi!"
Digenggamnya tangan Luhan dengan erat kemudian dikecupinya tangan tersebut. Kai melirik lagi ke arah elektrokardiograf. Ia benar tak salah lihat. Tidak ada lagi garis panjang, berganti dengan laju detak yang selama ini ia nantikan. Kekasihnya, telah kembali.
"Aku akan memanggil dokter."
Paman Shu meninggalkan ruangan. Bibi Ern mendekati ranjang. Ia membekap mulutnya sendiri sembari meneteskan air mata haru.
"Terima kasih, Ya Tuhan. Kau mengabulkan doa kami."
Air mata Kai membasahi tangan Luhan. Kai pikir, tidak ada yang lebih berharga selain fakta bahwa Luhan telah kembali.
.
.
"Kai sangat menyayangimu, Lu."
Luhan menghentikan aktivitas mengunyahnya sejenak.
"Dia hampir terjaga tiap malam. Hanya tertidur satu atau dua jam, itu pun sambil menggenggam erat tanganmu. Anak itu tidak ingin melewatkan momen bersamamu barang satu detik saja. Ia ingin menjadi orang pertama yang tahu kalau kau kembali. Ia begitu rapuh, namun tetap menunggu."
Luhan menelan buburnya dengan gugup. Perasaan bersalah memenuhi pikiran dan hatinya. Bibi Ern menyodorkan sesendok bubur lagi. Luhan menerimanya.
"Saat ia tahu bahwa kau mengalami mati suri, ia menangis meraung seperti orang gila. Selama tiga hari kau mati suri, ia tidak makan apa pun. Ia hanya minum, itu pun harus kupaksa." Bibi Ern mengaduk bubur.
"Dan saat tahu kalau kau mengalami koma, Kai sedikit bahagia. Namun ia terus berharap dan meminta pada Tuhan kalau kau harus kembali. Kalau ia tertidur, ia terus mengigau 'Luhan, sadarlah. Kembali, aku menantimu.' Dia begitu tegar."
Bibi Ern menangkap raut bersalah Luhan kemudian ia meletakkan mangkuk bubur tersebut di meja dan tersenyum. "Cinta Kai sangat kuat. Kau seharusnya beruntung dapat memilikinya. Ia bahkan sering mengatakan kepadaku bahwa ia rela bertukar posisi denganmu atau pun ia rela melepas jiwanya untukmu."
Bibi Ern membelai pelan rambut Luhan. Luhan hanya bergeming kaku. Ia tersenyum penuh pengertian.
"Kau lihat, kan, betapa mata Kai memancarkan kebahagiaan saat pertama kali kau membuka mata?"
Luhan mengangguk pelan. "Dia bilang, tidak ada hal yang lebih membahagiakan saat menerima fakta bahwa matamu kembali bersedia menatap matanya."
.
.
.
Bibi Ern mengatakan, bahwa aku mengalami koma selama satu minggu tiga hari. Ia mengatakan bahwa saat ingin membangunkanku di pagi hari, tubuhku telah terbaring kaku di ranjang. Dokter mengatakan bahwa aku tidak memiliki tanda-tanda penyakit seperti serangan jantung. Namun terkapar begitu saja. Tidak ditemukan luka juga pada tubuhku. Namun dokter mengatakan bahwa aku memang mati suri—dengan penyebab tak pasti. Ia menganalisa bahwa mungkin aku mati suri saat tertidur.
Aku menyandarkan punggungku pada sandaran ranjang. Kutengadahkan kepalaku guna menatap langit-langit.
Kai baru saja meninggalkanku dua puluh menit yang lalu karena ia harus menjemput Ayahnya di bandara. Ayahnya habis pulang bertugas dari Nepal. Menjadi diplomat memang seperti itu, selalu sibuk dan bepergian.
Kai mengatakan bahwa ia akan kembali tidak sampai satu jam. Aku memegang keningku. Bahkan aku merasa, kecupan Kai masih terasa hangat.
Aku memegang dadaku. Bergemuruh. Perasaan bersalah itu muncul tiap kali aku melihat wajahnya. Aku akan pulang besok dan Kai sudah berjanji akan merayakan kepulanganku dengan hal yang pasti akan membuatku bangga memiliki kekasih sepertinya.
Aku terkekeh pelan. Pria itu memang begitu percaya diri.
"Kai sangat mencintaiku..."
Aku memegang dadaku yang kini tengah terpacu cepat. Teringat akan sesuatu. Sesuatu yang membuat darahku berdesir gugup.
"Aku...harus bagaimana? Kai sangat mencintaiku, tapi Sehun—"
Sehun.
Pria itu membuatku seolah terikat dalam belenggu. Aku masih ingat apa yang dikatakannya saat sebelum aku bermimpi sadar.
Aku menggigit bibir bawahku kala mengingat ucapannya. Aku ingat bagaimana matanya memancarkan sinar penuh harap, bagaimana rautnya menyiratkan harapan besar, bagaimana peluh membanjiri pelipisnya kala mengucapkan serentetan kalimat tersebut.
"Sehun...apa yang harus kulakukan?"
Aku mengacak rambutku frustrasi. Katakanlah aku egois nan naif. Aku menginginkan Sehun nyata, namun tidak tahu harus mengiyakan ucapannya atau tidak. Pria itu sangat memengaruhiku.
Aku mencintai Sehun, tapi—haruskah aku...?
.
.
.
"SELAMAT DATANG, LUHAN!"
Teriakan yang kemudian disusul dengan tiupan terompet kala Luhan membuka pintu rumah. Luhan menoleh ke arah Kai yang sedang merangkulnya. Mimiknya dipenuhi tanda tanya. Kai terkekeh pelan lalu ia berbisik, "Kejutan untukmu." Luhan sedikit terkejut kala Kai mencium pipinya.
"Tahan, Kai! Jangan bermesraan di hadapan kami, bisa tidak? Luhanku sayang, kemari sini. Jangan dekat-dekat dengan buaya darat." Luhan tidak tahan untuk tidak tertawa kala teman sekelas sekaligus sahabat kecilnya—Baekhyun, menariknya dari rangkulan Kai. Ia beralih merangkul Luhan.
Ada Chanyeol—kekasih Baekhyun, Kyungsoo—si Ketua Kelas, Junmyeon—si Ketua Osis dan Lay—si tukang tidur di kelas. Tak lupa ada Bibi Ern dan Paman Shu yang turut menampakkan mimik bahagia. Terdapat semacam banner bertuliskan; SELAMAT DATANG KEMBALI, LUHAN. KAMI MERINDUKANMU.
Terdapat kue berukuran besar juga dan di atasnya terdapat bentukan kue berwujud chibi dirinya. Luhan yakin itu pemberian Junmyeon. Luhan membekap mulutnya guna menahan isak. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia masih dirangkul Baekhyun. Kini dirinya sudah berada di hadapan teman-temannya.
"Karena orang spesial, harus diperlakukan spesial juga. Ugh. Aku sangat merindukan rusa manisku." Air mata Luhan sukses terluncur saat Baekhyun memeluknya erat. Ia balas memeluk sahabat kecilnya itu.
Diikuti dengan Chanyeol, Kyungsoo, Lay lalu Junmyeon yang ikut memeluk Luhan. Kai berjalan menghampiri teman-temannya itu. Senyum bahagia masih terpulas sejak tadi.
"Ugh. Baekhyun, kau jangan memeluk Luhan terlalu erat. Bisa-bisa dia pingsan." Lay yang terlebih dahulu melepas pelukannya kemudian disusul Junmyeon dan Kyungsoo.
"Kalau pun Luhan pingsan, aku akan jadi orang pertama yang menangkapnya saat akan jatuh." Ucapan Baekhyun membuat Kyungsoo, Lay dan Junmyeon membuat suara seolah ingin muntah. Bibi Ern, Paman Shu serta Kai malah terbahak.
Luham tertawa dalam dekapan dua sejoli itu. Baekhyun memeluknya dari depan dan sesekali mencium pipi Luhan sedangkan Chanyeol memeluknya dari belakang.
"He. Jangan sok menggombali Luhan, Baek. Justru aku yang akan menangkap Luhan pertama, karena biasanya orang pingsan itu jatuhnya ke belakang."
Decakan mulai terdengar lagi dari Kyungsoo, Junmyeon dan Lay. Kai mengangkat sebelah alisnya, "Kalian berhentilah menggoda Luhan. Karena pada kenyataannya, Luhan hanya akan jatuh di pelukanku. Bermimpi sajalah kalian, ChanBaek."
Baekhyun lebih dulu melepas dekapannya pada Luhan kemudian baru Chanyeol. Baekhyun berkacak pinggang dan melemparkan tatapan jengah ke arah Kai.
"Oi, Kai. Gombal sekali dirimu. Tapi harus kuakui, kalau Kai memang tempat yang tepat untuk Luhanku bersandar. Kadang aku suka iri dengan romantisme kalian, KaiLu. Ugh. Mimpi apa aku mempunyai kekasih yang tidak romantis, tidak peka dan lebih banyak kekurangannya dari pada kelebihannya."
Ucapan Baekhyun sontak membuat seisi ruangan tertawa geli dan banyak pasang mata menatap Chanyeol. Chanyeol mengedikkan bahunya santai, "Baekhyun memang begitu. Tapi nyatanya ia mencintaiku. Hanya aku yang dapat menaklukan hati batunya."
Luhan tertawa melihat Baekhyun memerah. Yang lain turut menggoda Baekhyun juga. Ia pun menghampiri Kai lalu mencium singkat pipi pria tersebut.
"Aku tidak akan melupakan momen ini, Kai. Terima kasih banyak."
Kini, seisi ruangan beralih menggoda Luhan dan Kai. Luhan menunduk malu namun tak lama kemudian Kai menariknya dalam dekapan hangat.
"Aku akan melakukan apa pun untukmu, Lu. Aku mencintaimu." Lalu ia mengecup pucuk kepala Luhan berkali-kali. Baekhyun yang melihatnya menjerit tertahan sambil menutup mulutnya lalu berkata 'so sweet' berulang kali.
Luhan balas mendekap Kai. Luhan merasa sangat bahagia dapat memiliki sahabat-sahabat seperti mereka dan juga kekasih seperti Kai, ditambah Paman dan Bibinya yang sudah sangat berjasa merawatnya dari kecil hingga saat ini.
Aku mencintai kalian.
.
.
"Sampai berjumpa besok. Kau istirahat, ya. Jangan banyak pikiran, ingat?"
Aku mengangguk kemudian Kai mengecup bibirku. "Aku pulang dulu." Ia berbalik lalu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum tampan.
Aku balas tersenyum sembari melambaikan tanganku. "Hati-hati, Kai."
Kini tinggal aku sendiri. Paman dan Bibi langsung pergi ke Busan untuk menjenguk adik Pamanku yang baru saja mengalami kecelakaan. Katanya, mereka akan kembali lusa. Tadinya Kai ingin menginap, tapi aku suruh pulang. Aku butuh waktu sendiri, sejujurnya.
Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Aku menyandarkan diri pada pintu. Hatiku menghangat mengingat pesta kecil-kecilan yang baru usai dua puluh menit yang lalu.
Aku sungguh merasa bahagia. Mengenal orang-orang seperti mereka.
Ugh.
Tiba-tiba aku teringat akan ucapan Sehun. Jujur, aku sangat dilema. Pengutaraan Sehun merupakan hal yang sangat sulit kuterima. Permintaannya sungguh membuatku dirundung rasa frustrasi. Aku menggigit bibir bawahku.
Kau bisa datang kembali. Dan setiap kau datang, aku sangat berharap kau sudah memutuskan dengan mutlak lalu menyerahkan harapan itu padaku. Datanglah, Luhan. Aku selalu menantimu.
.
.
"Apa kau masih mencintaiku?"
Luhan mengangguk pelan. Sehun tengah mencumbu lehernya. Tak lama kemudian bibir tipisnya berpindah dan menautkannya dengan bibir Luhan. Luhan membalas ciuman panas Sehun yang terkesan menuntut. Luhan merasa Sehun sedang terbakar.
Kenapa dia masih bergairah? Parasitnya kan sudah hilang.
"Ini naluriku. Tidak terpengaruhi parasit. Aku juga tidak tahu kalau aku bergairah ketika melihatmu kembali. Aku sangat merindukanmu."
Luhan menahan desahannya lidah Sehun mulai menjilati telinganya dengan seduktif. "S-Sehun.."
"Kenapa? Aku tahu kau juga merindukanku. Sudah seminggu lebih kita tak berjumpa. Aku merindukan percintaan panas kita, asal kau tahu."
Tangan Sehun tergerak untuk membuka kancing kemeja Luhan. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada pria manis itu.
"Aku tidak menyangka kau akan kembali menemuiku secepat ini. Walau sudah kuprediksi, kau pasti tidak membawa harapanku." Luhan menggigit bibir bawahnya kala telapak lembut nan dingin Sehun meraba dadanya.
"Kalau waktu itu astralmu, kali ini kau sungguhan. Aku ingin menikmatimu."
Luhan terkejut ketika Sehun tiba-tiba mendorongnya hingga terbaring. Sehun di atasnya nampak sangat seksi. Tatapannya penuh bara dan liar. Memesona. Tangan Luhan pun terulur guna menangkup pipi kanan Sehun.
"Ini sulit, Sehun. Kuharap kau mengerti. Aku butuh waktu untuk berpikir." Ucap Luhan sedikit gugup. Jaraknya dengan Sehun sangat dekat. Sehun melingkupi dirinya dengan sempurna. Dan lagi, tatapan matanya yang sekarang tak bisa Luhan tebak. Sehun pun meniadakan jarak dengan melumat bibir Luhan lembut.
"Aku pegang ucapanmu. Aku harap kau tidak sekedar memberiku harapan." Luhan tahu terselip nada intimidasi dari ucapan Sehun. Pria itu pun menjauh dan mulai melucuti pakaiannya. Tatapannya tetap tajam ke arah Luhan. Luhan mencoba tersenyum walau sangat kaku dan malah terlihat bodoh.
Kini, keduanya sudah telanjang total. Sehun pun mengangkat tubuh Luhan dan membawa Luhan duduk di pangkuannya. Entah sejak kapan keduanya sudah ereksi total. Sehun mulai membenamkan wajahnya pada dada Luhan. Bibirnya berhasil melingkupi puting Luhan. Dicumbunya puting kanan Luhan dengan sangat ahli sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk memijat lembut kejantanan Luhan.
"Luhan."
Luhan menghentikan desahannya dan menunduk, ia melingkarkan tangannya pada leher Sehun. "Ada apa?"
"Aku ingin percintaan kita kali ini lebih hebat dari pada sebelumnya. Aku ingin lubangmu memijat penisku beribu kali lebih nikmat dibanding sebelumnya. Karena ini sungguhan dirimu, kau hanya perlu menyelipkan namaku di antara desahan erotismu. Dengan begitu, aku akan terbakar sempurna dan menggempur pertahananmu keras-keras."
Sehun mengucapkannya dengan suara parau dan wajahnya menyiratkan keinginan mendalam untuk menyetubuhi Luhan. Luhan merasa dirinya terbakar juga. Luhan yakin wajahnya memerah. Sangat. Kenapa ucapan Sehun jadi semakin vulgar?
"Nghh. Ah—Sehun."
Sehun menaikkan satu alisnya kala Luhan mendesah karena remasan kuatnya pada penis Luhan. Tangan kanan Sehun pun terulur guna menarik tengkuknya.
"Luhan. Aku tidak ingin kau memejamkan matamu selagi aku memanjakanmu. Aku ingin kita selalu bersinggung tatap saat bercinta. Kau paham?"
Luhan refleks membuka matanya dan tanpa aba-aba Sehun langsung melumat ganas bibirnya. Luhan mendesah tertahan.
"Baik, Sehun. Tidak ada alasan untukku menolakmu, bukan?" Luhan mengucapkannya sedikit terengah ketika Sehun menyudahi pagutan panasnya. Sehun menaikkan sebelah alisnya kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan.
"Bagus. Itu berarti, tidak ada alasan juga untukmu mengabulkan permintaanku, bukan?"
Bisik Sehun sangat dalam dan seduktif. Luhan menelan ludahnya sendiri. Bukan karena terangsang. Tapi karena takut.
Ya, takut terhadap dirinya sendiri. Sehun begitu memercayainya. Tahukah Sehun jika Luhan sendiri bahkan tidak benar-benar bisa memercayai dirinya?
Sehun, kau sungguh membuatku gila. Keadaan ini menyiksaku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Lanjut atau tidak?
Maafkan kelabilan saya karena ternyata ini jadinya threeshot XD sebenernya bisa sih twoshot, tapi akan sangat panjang sepanjang anunya Sehun:'v
Maka dari itu, untuk mengimbangi/? Jumlah wordsnya, Kyoonel bagi jadi tiga bagian saja ehehe. Btw, SELAMAT (beberapa jam lagi menuju) TAHUN BARU~!
Terima kasih yang udah RRFF kemarin dan silakan tinggalkan jejak dengan memberi komen, kritik dan saran~
Terima kasih dan sampai bertemu di 2017! :)
