A Gakuen Alice Fanfiction

.

.

.

The Last Rain

By Ochiochio

Disclaimer:

Gakuen Alice © Higuchi Tachibana

Warning:

OOC, geje, maksa, amatiran,

amburadul, ngawur, ngasal

Chapter 2

Di bagian depan liontin itu tertera sebuah nama. Natsume.

"Pasti Natsume ini namanya. Sesuai dengan warna matanya," gumam Mikan saat melihat nama yang terukir di permukaan liontin itu. Natsume. Jujube. Merah darah.

Kedua tangannya kini telah membuka liontin itu. Di sana terpampang dua foto orang dewasa.

Di bagian kanan, foto seorang wanita cantik berambut raven dengan iris crimsonnya. Meskipun berwajah dingin dan terlihat acuh, namun aura keibuannya juga bisa terlihat jelas dari sorot matanya.

Sedangkan di bagian kirinya, terpasang foto seorang pria yang juga berambut raven namun iris matanya tidak crimson, melainkan coklat tua. Dari ukiran wajah serta sorot matanya sudah bisa ditebak bahwa dia orang yang sangat ramah, sopan, dan sabar serta bijaksana.

Mikan yakin, kedua foto itu adalah orang tua anak laki-laki di hadapannya. Orang tua Natsume. Terlihat jelas kemiripan diantara mereka.

Ternyata tidak hanya liontin itu yang tergantung di leher Natsume. Ada satu lagi yang mengalungi lehernya. Sebuah kalung yang terbuat dari rantai kecil dengan sebuah bandul batu bulat berwarna hijau yang tergantung di tengahnya.

Mikan yang merupakan anak dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, segera meraih kalung itu dan memandangi bandul batu ditengahnya dengan tatapan keheranan.

"Batu apa ini? Cantik sekali," ucapnya spontan sambil memain-mainkan batu itu ditangannya.

Namun, saat melihat tubuh Natsume yang tiba-tiba menggigil kedinginan, Mikan terkesiap dan tersadar.

"Ya ampun! Aku kan tadi mau mengganti bajunya. Dasar bodoh! Kok kelupaan terus sih…," ujarnya mengomeli dirinya sendiri yang begitu bodoh dan ceroboh.

Kemudian dengan sigap, dia segera membuka pakaian Natsume dan menggantinya dengan pakaian yang tadi diambilnya dari lemari. Namun, Natsume tetap menggigil. Langsung saja Mikan meletakkan punggung tangannya di dahi Natsume.

"Astaga! Malah tambah panas!" teriaknya panik dan terkejut. Lalu dibukanya laci meja yang ada di sebelah ranjang, karena seingatnya di sana ada kotak P3K dan lengkap dengan termometernya.

Setelah membongkar laci tadi, akhirnya Mikan berhasil menemukan termometer di sana. Segera dia masukkan ujung termometer tersebut ke dalam mulut Natsume dan menunggu beberapa detik.

"Apa? 41 derajat Celcius?" teriaknya kaget sambil membelalakkan matanya saat melihat angka yang ditunjukkan layar digital kecil di termometer itu.

Mikan langsung melesat keluar kamar menuju dapur sambil mencoba mengingat-ingat bagaimana cara mengompres dan bahan-bahan yang digunakan saat dulu ia juga sedang demam. Setelah memakan waktu yang cukup lama dan membuat sedikit kegaduhan di dapur, akhirnya dia berhasil menyiapkan air dingin dan selembar handuk kecil untuk mengompres, dan dengan segera ia kembali ke kamar tempat Natsume berada.

Dengan sigap dan cekatan, Mikan mulai mengompres Natsume. Dimasukannya handuk kecil yang tadi dia ambil di kamarnya ke dalam wadah air es. Kemudian memerasnya sedikit. Lalu meletakannya di dahi Natsume.

Hal itu terus dia lakukan setiap handuk basah itu mulai mengering. Terus dan berulang-ulang. Tanpa mempedulikan tubuhnya yang juga kedinginan.

Dengan perasaan yang harap-harap cemas, Mikan kembali memasukkan termometer ke dalam mulut Natsume setelah hampir dua jam dia mengompresnya.

"Aaaah~Syukurlah…. Sudah mulai turun."

Akhirnya Mikan dapat menghela napas lega ketika melihat layar digital termometer itu menunjukkan 38,3°C.

Wajahnya yang tadi terlihat cemas, panik, tegang dan gelisah sontak berubah sumringah.

"Ha-haaa—haaaachiiiihh…."

"Dasar bodoh! Kau sibuk mengkhawatirkan dan mengurus orang lain sementara dirimu sendiri tidak kau perhatikan," ujar seseorang dengan nada dinginnya yang tanpa Mikan sadari sudah bersandar di pintu kamar ini.

"Eh, Hotaru! Hehehe…. Ha—haaaaachuuuhh !"

"Hhhh, keringkan rambutmu !" perintah Hotaru sambil melemparkan selembar handuk berukuran sedang ke atas kepala Mikan, " Dan cepat ganti bajumu itu sebelum kau masuk angin dan demam seperti dia," lanjut Hotaru sambil berjalan masuk ke dalam kamar dan memandangi Natsume.

"Aaaah~ Hotaru~ kau mengkhawatirkan sahabatmu ini ya?" balas Mikan manja dengan senyuman bangga karena merasa dihargai sebagai sahabat, sambil menggosok-gosokkan rambutnya dengan handuk pemberian Hotaru.

"Tidak juga. Aku hanya tidak mau repot mengurusmu kalau kau sakit dan aku juga tidak mau tertular penyakitmu nantinya," elak Hotaru dingin, ketus, dan singkat.

Langsung saja senyuman Mikan berubah menjadi cibiran dan raut wajahnya berubah masam. "Baiklah, baiklah…! Aku akan mandi dan ganti baju supaya aku tidak merepotkanmu

"Baguslah kalau kau sadar," balas Hotaru singkat.

"Tolong jaga dia sementara aku pergi! Mungkin saja dia nanti sadar. Demamnya memang sudah turun, tapi tolong nanti kau celupkan lagi handuk kompresnya ke dalam wadah air es itu lalu peras sedikit dan letakkan kembali di dahinya kalau handuk yang ada di dahinya sekarang sudah kering," jelas Mikan panjang lebar hanya untuk mengajari Hotaru hal yang padahal sudah diketahui oleh sahabatnya itu.

"Untuk apa repot-repot mengompres dengan cara kuno seperti itu. Di kulkas 'kan ada kompres instan. Tinggal lepas dari perekatnya terus tempel di dahi. Praktis."

"Eh? Memang ada ?" tanya Mikan dengan tampang polos dan bodohnya.

"Tentu saja ada, bodoh!"

"Oh, kok aku tidak tahu?"

"Dengan otakmu yang kecil dan bodoh itu, wajar saja kalau kau tidak tahu," balas Hotaru dingin.

"Hmmm, begitu ya. Ya sudah kalau begitu, pokoknya jaga dia ya, Hotaru!" jawab Mikan dengan pikiran yang masih bingung tentang kompres instan yang dikatakan Hotaru.

Hotaru hanya membalas perintah Mikan dengan satu anggukan sebagai tanda persetujuan.

"Di meja makan ada coklat panas untukmu," ucap Hotaru saat Mikan berjalan menuju pintu kamar.

Mikan pun berbalik ke arah Hotaru."Benarkah? Waaah…. Terima kasih Hotaru. Kau memang sahabat terbaikku. Aku sayaaaang Hotaruuuuu~" teriak Mikan bahagia sambil membuka tangannya lebar-lebar dan berlari ke arah Hotaru. Bermaksud untuk memeluknya.

Namun belum sampai jaraknya 2 meter dari tempat Hotaru berdiri, sebuah tendangan tapak kaki rusa yang berasal dari sarung tangan Hotaru —yang juga berbentuk kaki rusa— melayangkan Mikan sampai membentur pintu kamar.

'Brakkk'

"Awwww ! Sa-sakiiit," erang Mikan.

"Jangan coba-coba memelukku ! Apalagi dengan bajumu yang basah itu. Cepat ganti baju sana !" seru Hotaru dingin.

"Huuuh, iya ! Iya!" Mikan hanya bisa mendengus mendapat perlakuan seperti itu dari Hotaru, karena kalaupun dia membalasnya, hal itu malah akan membuat kondisinya lebih babak belur.

Mikan pun berbalik kembali menuju pintu dan keluar menuju ke kamarnya yang terletak di sebelah kamar ini.

Hotaru yang masih berada di kamar itu, memilih duduk di sofa yang berada di depan ranjang tempat Natsume berbaring. Kemudian dia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah ponsel purple dari dalam sana.

Ditekannya tombol navigasi ke bawah sehingga menampilkan daftar nama kontak di layar ponselnya itu. Dia pun kembali menekan tombol yang sama dan iris amethysnya bergerak mencari satu nama yang sudah sangat dia kenal di daftar kontak itu.

Setelah menemukan nama itu, dia pun menekan tombol dengan simbol telepon berwarna hijau di deretan atas tombol di ponselnya tersebut.

Tuuuut…..tuuut….

"Halo ! Ada apa Imai ?" tanya seseorang diseberang telepon sana.

"Apa kau sedang kehilangan sesuatu ?" tanya Hotaru balik dengan nada datarnya.

"Eh? Apa maksudmu ? Kenapa tiba-tiba—"

"Apa kau sedang kebingungan mencari sesuatu atau…. seseorang ?"

"Hhh…yaahh begitulah. Aku kehilangan sahabatku. Natsume. Kau pernah bertemu dengannya 'kan? Dari tadi pagi dia belum juga pulang ke rumah. Padahal di luar sedang hujan. Sudah berkeliling-keliling aku mencarinya dari sepulang sekolah tadi tapi belum juga kutemukan. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padanya. Eh? Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang kebingungan ? "

"Bayar ¥ 1000 untuk informasi selanjutnya!" perintah Hotaru tiba-tiba.

"He? Kenapa harus bayar?" tanya orang itu heran.

"Kau tahu? Aku meneleponmu tidak gratis. Dan lagi, informasi yang akan aku berikan akan sangat kau butuhkan, karena ini memang penting sekali. Informasi yang sangat penting ini tidak mungkin kuberikan secara cuma-cuma." Hotaru semakin mendesak orang yang diteleponnya dengan berbagai alasan.

"Ugh…baiklah akan kubayar di sekolah besok. Jadi apa informasi penting yang kau bilang tadi?"

"Aku melihat sahabatmu itu sekarang," jawab Hotaru singkat dan padat.

"Benarkah? Dimana?" tanya orang itu yang mulai penasaran.

"Bayar ¥ 1000 lagi untuk menjawab pertanyaanmu."

"Iya…iya…. Aku akan bayar. Jadi dimana?" Orang ditelepon itu sudah mulai kesal dengan tingkah Hotaru.

"Di depan mataku." Lagi-lagi hanya jawaban singkat yang meluncur dari mulut Hotaru.

"Jadi kau sekarang dimana? Aku akan segera ke sana."

"¥ 2000, karena ini informasi utama yang paling terpenting." Hotaru kembali menjebak lawan bicaranya supaya dia menuruti perintahnya.

"Baiklaaaah….. Cepat beritahu aku!" jawab orang itu dengan kekesalan yang hampir memuncak.

"Di rumahku."

"Oke ! Aku akan ke rumahmu sekarang juga," sahut orang itu dengan terburu-buru.

"Jangan lupa bawa biaya tagihanmu barusan! Totalnya 4000 Yen," sela Hotaru saat orang itu hendak menutup teleponnya.

"Iya, iya! Imai ! Akan kubawa," jawab orang itu semakin kesal kemudian menutup sambungan teleponnya dengan cepat.

Hotaru pun tersenyum penuh kemenangan sambil menutup ponsel purplenya dan kembali memasukkannya ke dalam saku celana.

Kini ditangannya sudah ada kalkulator yang entah dari mana datangnya. Jari-jari lentiknya dengan lincah mengkalkulasikan penghasilan yang dia peroleh hari ini. Senyumannya semakin melebar ketika dia melihat jumlah total uang yang akan diterimanya.

"Hmm…. Cukup banyak juga. Tapi akan kutambah lagi," gumamnya sambil tetap menekan tombol-tombol kalkulatornya.

'Ting…. Tong…'

'Ting…. Tong…'

Suara bel yang berbunyi membuyarkan konsentrasi Hotaru yang sedang sibuk berkutat dengan kalkulatornya. Dia mendengus kecil. Merasa kesibukannya terganggu.

Dengan malas-malasan, Hotaru menekan tombol kecil pada jam tangannya. Lalu muncullah layar hologram di depan matanya yang menampilkan wajah seseorang yang kini berada di depan pintu masuk rumah ini.

Seorang anak laki-laki seusianya, dengan rambut blondenya yang basah terkena rintik hujan, berdiri terengah-engah di sana. Tangan kanannya masih sibuk menekan bel di hadapannya.

'Ting…. Tong…'

"Bisakah kau berhenti menekan belnya? Kau menggangguku."

Tiba-tiba saja anak itu mendengar suara dengan nada ketus yang entah berasal dari mana. Kepalanya ia tolehkan ke segala arah. Mencoba mencari sumber suara yang sudah sangat dikenalinya itu.

Kemudian mata biru langitnya menangkap keganjilan yang ada di pintu rumah ini. Di sana tertempel stiker-stiker yang tidak biasanya ada di pintu pada umumnya.

Stiker bergambar mata, telinga, dan mulut. Dan anak laki-laki itu tahu, semua yang aneh-aneh di rumah ini pasti buatan Hotaru, dan dia juga yakin suara tadi berasal dari stiker bergambar mulut itu.

"Baiklah! Aku tidak akan menekan belnya lagi, tapi BUKA PINTUNYA IMAI !" teriak anak itu di depan stiker bergambar telinga dengan menekan kata demi kata pada kalimat terakhirnya.

"Ada perlu apa kau ke sini, Ruka?" tanya Hotaru dengan santainya yang masih berada di dalam kamar.

"Tadi kan aku sudah bilang di telepon kalau aku mau ke sini. Dan tentu saja aku ke sini untuk menjemput Natsume. Dia ada di dalam, 'kan?" jawab anak laki-laki yang tadi dipanggil Ruka oleh Hotaru.

"Hn. Apa kau membawa uang bayaran yang tadi kubilang?" Hotaru bukannya menjawab pertanyaan Ruka, tapi malah menanyakan hal lain yang tidak berhubungan dengan yang ditanyakan Ruka.

"Iya, iya! Aku sudah membawanya. Ini! Lihat kan?" seru Ruka kesal sambil menyodorkan uang sejumlah 4000 Yen di depan stiker bergambar mata.

Hotaru yang melihat uang tersebut melalui layar hologram di depannya, langsung menekan sebuah tombol dengan tulisan "Take" yang ada di remote multifungsi miliknya yang entah sejak kapan sudah ada di genggamannya.

Tiba-tiba sebuah tangan robot menjulur dari atas dan mengambil uang yang sedang dipegang Ruka. Tentu saja Ruka yang melihatnya hanya bisa tercengang dengan segala keanehan di rumah ini.

"Ok! Uangnya sudah kuterima. Dan kalau kau mau masuk, kau harus membayar karcis masuknya seharga ¥ 2000." Hotaru pun mulai melancarkan strateginya untuk menambah penghasilannya hari ini.

"Ha? Memangnya rumahmu ini taman ria yang harus pakai karcis untuk bisa masuk?" tanya Ruka heran.

"Kalau kau tidak mau ya sudah."

"Baiklah…!" ujar Ruka sambil merogoh sakunya dan mengambil uang 2000 Yen.

Kembali , tangan robot tadi mengambil uang yang baru saja dikeluarkan Ruka dari sakunya. Lalu, memberikan sebuah karcis aneh bergambar penguin.

"Masukkan karcis itu ke celah di tengah-tengah pintu!" perintah Hotaru lagi.

Langsung saja Ruka melakukannya agar ia bisa secepatnya bertemu Natsume dan membawanya pulang. Setelah memasukkan karcisnya, tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya. Ruka pun melangkah masuk.

Namun baru beberapa langkah dia berjalan, Ruka tampak kebingungan, karena di dalam tidak ada siapa-siapa. Dia tidak tahu harus melangkah ke mana, karena dia tidak tahu di mana tepatnya Natsume berada.

"Imai…..! Aku harus ke mana?" teriaknya yang mulai sedikit frustasi.

"Tunggu aku di sana, Ruka!" Suara Hotaru menggema yang berasal dari speaker berbentuk jam dinding di ruangan itu.

Akhirnya, Ruka memilih diam berdiri di sana sambil menunggu Hotaru datang sambil sesekali melirik ruangan tempat dia berada sekarang.

Struktur ruangannya tidak jauh berbeda dengan rumahnya juga. Wajar saja, karena mereka tinggal di satu kompleks perumahan yang sama. Sehingga bentuk rumah baik interior maupun eksteriornya juga sama, kecuali warna cat dan barang-barang di dalamnya.

Barang-barang di rumah ini tidaklah terlalu mewah. Biasa saja. Walaupun ada juga beberapa barang yang terlihat aneh.

Salah satunya jam dinding yang dimanipulasi menjadi speaker tadi. Ada juga sebuah lukisan berbentuk mata besar yang sepertinya juga berfungsi sebagai kamera pengintai. Dan masih banyak lagi barang aneh lainnya yang Ruka yakini semuanya adalah kerjaan Hotaru.

Selang beberapa menit, Hotaru tiba di ruang utama, tempat Ruka berdiri.

"Jadi, ada urusan apa kau ke sini?" Suara dingin nan datar meluncur keluar dari bibir mungil Hotaru.

"Bisakah kau tidak menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali seperti itu? Bukankah tadi aku sudah bilang? AKU KAU MENJEMPUT NATSUME," jawab Ruka geram.

"Hn. Lalu?"

"Lalu di mana Natsumenya, Imai?"

"Oohh…. Untuk penunjuk arah biayanya ¥ 1000," jawab Hotaru dengan santainya sementara wajah lawan bicaranya sudah mulai memerah menahan marah.

"Rrrrgh…." Ruka hanya bisa menggeram kesal. Menghadapi orang semacam Hotaru memanglah harus memiliki kesabaran ekstra.

Dengan kemarahan yang hampir meledak, Ruka memberikan sisa uang di kantong celananya yang kebetulan berjumlah sesuai dengan permintaan Hotaru.

"Ok! Ikuti aku!" perintah Hotaru setelah menerima bayaran dari Ruka.

Masih dengan perasaan kesal, akhirnya Ruka mengikuti ke mana Hotaru berjalan. Berharap semoga secepatnya dia bertemu Natsume dan membawanya pulang sebelum Hotaru membuatnya naik darah lagi.

Sementara itu, di kamar Natsume berada, Mikan sudah kembali setelah mandi dan mengganti bajunya. Rambutnya yang tadi dikuncir dua, kini dibiarkan tergerai karena masih basah. Bajunya pun sudah berganti menjadi baju tidur berbentuk dress selutut bermotif polkadot yang membuatnya terlihat semakin mungil.

Saat masuk ke dalam kamar itu, matanya mencari sosok Hotaru yang tadi sudah dia percayakan untuk menjaga Natsume. Namun, tak sedikit pun iris hazelnya menangkap bayangan pemilik iris amethys itu di sana.

"Huh…. Dasar si Hotaru itu. Disuruh menjaga sebentar saja sudah kabur," keluh Mikan sambil duduk di samping ranjang dan membasahi kembali handuk kompres di dahi Natsume lalu meletakkannya lagi.

Mikan mencoba mengukur suhu Natsume lagi, dan hasilnya membuat wajah Mikan bertambah cerah. Suhunya sudah mendekati normal.

"Haaahhh…. Syukurlah…. Tinggal menunggu dia sadar saja," ucapnya sambil menatap wajah Natsume.

Diperhatikannya tiap lekuk wajah Natsume lekat-lekat. Perlahan-lahan Mikan mendekatkan wajahnya ke wajah Natsume sambil memicingkan matanya.

"Hihihi…. Ternyata alis dan bulu matanya pendek." Mikan tertawa kecil saat menyadari keunikan wajah Natsume.

Masih dengan wajah yang berdekatan, Mikan memainkan bulu mata pendek Natsume sambil berseru kecil, "Cepatlah bangun, tukang tidur!"

Kemudian dia kembali ke posisi semula. Duduk di samping ranjang. Namun, matanya masih memandangi wajah tampan Natsume.

"Aku harap kau dan aku bisa berteman baik, Natsume. Dan tentu saja juga berteman baik dengan Hotaru. Oh…iya…. Hotaru belum tahu namamu ya? Nanti akan kuberitahu dia kalau ke sini..…"

Mikan terus berceloteh seakan-akan dia sedang mengobrol dengan orang di hadapannya. Padahal dia hanya berbicara sendiri.

'Cklekk…. Krieeet…'

Tiba-tiba pintu kamar dibuka seseorang dari luar. Mikan pun menolehkan kepalanya sejenak ke belakang, sekedar untuk mengetahui siapa orang di balik pintu itu.

Setelah yakin bahwa orang itu adalah orang yang dikenalnya, Mikan kembali membalikkan wajahnya ke arah Natsume.

"Eh. Hotaru! Kau tau siapa nama anak ini? Namanya adalah….

…..Natsume," ujar Mikan.

"Natsume," ujar Hotaru bersamaan dengan Mikan.

"Natsume?" ujar Ruka berbarengan dengan Mikan dan Hotaru. Dia baru saja keluar dari balik punggung Hotaru.

"Eh?" Mikan keheranan dua kali lipat. Pertama, dia heran kenapa Hotaru tahu nama Natsume. Lalu yang kedua, dia heran kenapa ada suara orang lain yang belum pernah dia dengar yang juga mengucapkan nama Natsume.

Untuk menghilangkan kebingungannya, Mikan pun kembali menghadapkan wajahnya ke arah pintu. Di sana, didapatinya Hotaru yang sedang bersandar di tiang pintu bersama seorang anak laki-laki berambut blonde dengan iris biru langitnya menatap Natsume khawatir.

"Natsume?" panggil Ruka lagi sambil mendekati ranjang tempat Natsume berbaring.

Mikan yang tidak mengenal Ruka, hanya terperangah memandanginya. Ini pertama kalinya bagi Mikan melihat orang berambut pirang, yang dia anggap sebagai orang Barat.

"Psst…ssst.. Hotaru! Dia siapa?" bisik Mikan yang sudah berada di samping Hotaru namun matanya masih tertuju pada sosok anak laki-laki yang kini berdiri membelakanginya. Bahkan, Mikan lupa menanyakan mengapa Hotaru mengetahui nama Natsume karena begitu penasarannya dengan Ruka.

"Dia sahabatnya," jawab Hotaru sambil mengarahkan pandangannya ke Natsume.

Mikan hanya ber'oh' ria mendengar jawaban Hotaru. Kemudian dia mempersiapkan kalimat sapaan dalam bahasa Inggris yang belum lama ini dipelajarinya di sekolah. Akhirnya ia pun berjalan mendekati Ruka dan mengulurkan tangannya.

"Ehm…Hai! Howaryu? Ayem fain tengkyu…," ujar Mikan dengan wajah polos dan cerianya tanpa benar-benar memahami arti ucapannya sendiri.

Ruka yang memang baru pertama kali melihat Mikan, hanya bisa mengerutkan dahi mendengar ucapannya. Kemudian dia beralih menatap Hotaru yang sepertinya juga heran melihat tingkah Mikan.

"Imai! Siapa dia?" tanya Ruka kemudian.

"Eh? Kau bisa bahasa kami? Uwaaah…. Hebaaat….! Perkenalkan, namaku Mikan Sakura. Aku sahabat Hotaru. Ahhh~Begini lebih baik daripada pakai bahasa Inggris yang merepotkan itu. Oh iya! Kau benar-benar orang Barat ya? Pasti bahasa Inggrismu lancar. Tapi bagaimana kau bisa bicara memakai bahasa kami …?"

"Sa-Sakura…" Belum sempat Ruka melanjutkan kalimatnya, Mikan sudah kembali berceloteh.

"Hebaaaat…. Jadi kau menguasai dua bahasa sekaligus ya? Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang hebat sepertimu. Ah, jadi kau sahabatnya si Nat….hek..piyo…piiiiyo? piyoooooo….." Mikan yang tadi sibuk berceloteh tanpa henti membuat Ruka semakin kebingungan dan Hotaru dengan cepat memasukkan sebuah pil berbentuk anak ayam ke dalam mulut Mikan yang membuatnya mengeluarkan suara anak ayam.

"Jangan mengaku-ngaku sahabatku. Aku tidak pernah punya sahabat yang bodoh dan heboh sepertimu," ujar Hotaru dingin sambil menatap Mikan datar.

"Piiyo ! Piipiiiiiyoooo….piiiiii…." Mikan pun mengomel dengan suara anak ayamnya.

"Kalau kau tetap ribut seperti itu, efeknya akan semakin lama dan tidak akan hilang. Lebih baik kau diam saja." ucap Hotaru sambil menempelkan sebuah koyo penenang tepat di mulut Mikan. Alhasil Mikan pun diam tak bersuara.

"Imai…! Apa dia tidak apa-apa seperti itu?" ujar Ruka yang merasa kasihan melihat Mikan.

"Biarkan saja! Hal seperti itu sudah biasa," jawab Hotaru santai.

"Tapi kan….."

"Ugh…Uhuk…"

Ucapan Ruka terpotong saat tiba-tiba terdengar suara batuk dari arah ranjang. Mikan, Hotaru dan Ruka pun menolehkan kepala mereka ke arah datangnya suara itu.

Di sana terlihat Natsume yang menutup mulut dengan tangannya sambil terbatuk-batuk. Ruka yang sangat khawatir langsung mendekati Natsume.

"Natsume? Kau tidak apa-apa?" tanya Ruka cemas.

"Aku…baik-baik saja, Ruka. Jangan khawatir!" jawab Natsume lemah. Iris crimsonnya berputar menjelajahi ruangan yang terlihat asing baginya.

Tiba-tiba matanya terpaku pada iris hazel Mikan. Mengerutkan keningnya sejenak. Berusaha mengingat siapa orang yang ditatapnya.

Sedangkan Mikan yang merasa ditatap lekat-lekat oleh Natsume, hanya melambaikan tangannya saja karena masih di bawah pengaruh koyo penenang di mulutnya.

Namun, saat Mikan melambaikan tangan, bukannya tersenyum atau membalas lambaian tangannya, Natsume malah memalingkan wajahnya kembali ke Ruka. Mikan yang merasa diacuhkan hanya menggerutu di dalam hati

"Natsume, ayo kita pulang!" ajak Ruka sambil menggendong Natsume dan kemudian mendudukkannya di kursi roda.

Natsume hanya diam tidak berkata apapun lagi. Sorot matanya masih lemah. Badannya pun belum terlalu prima, sehingga dia hanya menyandarkan punggungnya di kursi roda itu.

"Imai. Sakura. Terima kasih karena telah menjaga dan merawat Natsume. Sepertinya Natsume masih membutuhkan banyak istirahat. Lagipula hari sudah mulai gelap. Jadi, kami pamit pulang dulu. Sekali lagi terima kasih banyak," ucap Ruka sambil sesekali membungkukkan badannya, memohon pamit.

"Hn," jawab Hotaru.

Sedangkan Mikan yang mulutnya masih tertutup koyo penenang hanya bisa membalas dengan membungkukkan badannya juga. Kemudian Mikan mengantarkan mereka berdua ke depan pintu, sedangkan Hotaru memilih kembali ke kamarnya dan mulai mengotak-atik barang-barang ciptaannya lagi.

Setelah sampai di depan pintu, Ruka dan Mikan kembali saling membungkukkan badan memberi hormat, sedangkan Natsume hanya menatap Mikan datar. Mikan pun malambaikan tangannya saat Ruka mulai mendorong kursi roda Natsume dan membawanya pulang ke rumah yang ternyata hanya berjarak beberapa rumah dari rumah Hotaru dan Mikan.

Setelah memastikan letak rumah mereka, Mikan menutup pintu dan berbalik ke kamarnya sambil bersenandung kecil. 'Senangnya, aku mendapat dua teman baru,' ujarnya di dalam hati.

~~~~~~~~~TBC~~~~~~~~

Yappp…. Chap 2 update. Gimana? Gimana? Membosankan? Sudah pasti, karena aku merasa begitu. Aku paling tidak bisa membangkitkan suasana cerita. Hhhhh…. Menyedihkan sekali author satu ini.

Tapi aku harap kalian bisa membantuku mengoreksi apa-apa yang kurang memuaskan. Oke!

Daiyaki Aoi: makasih banget atas reviewnya, berkat review kmu aku jdi smangat ngtik chap 2 ini, n aku jg smangat pngen cpt2 ngapdet lgi. Aku jdi malu pas kamu bilang gaya pnulisan aku bagus, pdhl aku rsa ancur banget, bertele-tele kyaknya. Malah bagusan gya penulisan kamu. Aku baca jg lho fic2 kmu, cuma aku jdi silent reader aja. Soalnya aku baca fic di Hp terus. Kalo smpt aku review jg deh fic kmu ya. Oia gmana nih chap ke2 ini? Mdh2n kmu suka. Minta saran n kritiknya jg ya kalo ada kkurangan.

Aku balas review dulu deh,

Thi3x: makasih atas koreksinya. Itu ulah komputernya yang maen ngubah-ngubah jadi huruf besar seenaknya aja, hahaha...(malah nyalahin kompi, padahal emang authornya aja yg males meriksa2 yg salah lagi.) tapi udah aku ubah kok. Oh iya salam kenal ya, sebagai sesama newbi kita saling membantu ya…! Ini chap 3 nya udah apdet. Mudah-mudahan kamu suka. Makasih banget atas reviewnya, aku harap kamu tidak bosan untuk tetap mereview fic ini, hahaha…

Daiyaki Aoi: ahaha…. Aku pikir itu juga agak gimana gitu, tapi karena Mikan yang panik dan polos, jadi hal itu gak dipikirinnya, gitu deh pokoknya. Soal Hotaru, yaaa….gimana ya, aku pengen aja bikin dia kayak gitu, hahaha… #author sarap. Ini chap 3 nya dah apdet. Mudah-mudahan kamu suka. Makasih atas reviewnya. Jangan bosan ya buat ngereview terus!

Oke tetep kasih kritik, saran, dan masukan-masukannya ya, and the last, tetaplah….

-REVIEW-