"Mama!" seorang gadis kecil berlari menuju ibunya dengan membawa seekor anak kucing di tanganya.
"Ada apa, sayang?" tanya sang ibu dengan lembut.
"Aku menemukan seekor anak kucing di depan rumah." kata sang gadis kecil sembari menyodorkan kucing yang ia temukan tadi, "Boleh aku merawatnya?" gadis kecil itu memasang wajah lucunya, yang dapat membuat semua orang yang melihat itu akan menganggap dia adalah malaikat.
"Hm...bagaimana ya?" sang ibu tampak bingung.
"Boleh." tiba-tiba suara bass seseorang menjawab.
"Benarkah, pa?" tanya gadis kecil itu memastikan.
"Ya. Asalkan kau dapat menjaganya dengan baik." kata sang ayah.
"Hore." teriak sang gadis kecil karena terlalu senang, sedangkan kedua orangtuanya hanya tersenyum melihat putri satu-satunya.
"Selamat siang, paman Vincent, tante Rachel." sebuah suara anak laki-laki yang merdu terdengar.
"Oh, Edward. Kau sudah datang." kata ibu sang gadis kecil tadi, yang dipanggil Rachel.
"Iya." jawab anak yang bernama Edward itu.
"Apakah ayahmu juga datang?" tanya sang ayah dari sang gadis kecil, yang dipanggil Vincent.
"Iya, papa ada diluar." Kata Edward.
"Vincent...sudah lama tidak bertemu." kata seorang pria berumur tiga puluhan sembari memeluk Vincent.
"Bagaimana kabarmu, Duke?" tanya Vincent.
"Aku baik." jawab orang yang dipanggil Duke itu.
"Cecilia, kau makin manis saja." Duke memuji gadis kecil itu lalu menggendongnya.
"Terima kasih, paman. Hai, Edward. Tante Graciella." sang gadis kecil yang diketahui bernama Cecilia Anastassia Phantomhive itu balas menyapa orang-orang yang baru datang ke rumahnya tadi.
"Edward, lihat! Aku menemukan ini di pekarangan tadi. Lucukan?" Cecilia memberikan anak kucing yang ia temukan kepada Edward.
"Ya dia manis sekali." kata Eward.
Edward adalah teman kecil Cecilia sekaligus tunangan Cecilia. Mereka sangat akrab, daripada tunangan mungkin banyak orang awam akan mengira mereka adalah saudara. Perbedaan umur yang tidak begitu jauh membuat mereka cepat akrab, saat pertama kali bertemu. Mereka bertemu saat pesta dansa kerajaan. Saat itu Cecilia masih berumur lima tahun sedangkan Edward masih berumur delapan tahun. Mereka bermain bersama jika Edward dan keluarganya datang ke rumah Cecilia, begitu pula kebalikannya.
"Kata mama aku boleh merawatnya." Cecilia mengusap anak kucing itu dengan perlahan.
"Benarkah? Apa aku boleh membantu?" tanya Edward dengan polos.
"Tentu. Kita akan merawatnya bersama." Cecilia menatap emerald milik Edward sambil tersenyum.
.
.
.
When I reached out my hand
And touched you
A single high note
Came into my heart
We watched the sky getting dark
Together
And the world which continues everywhere
Was calling
.
.
.
Goddess of Death
Chapter 2 : Red Moon
Kuroshitsuji belong's to Yana Toboso
Red Moon sung by Kalafina
.
.
.
Mentari bersinar dengan terangnya, kicauan burung menambah indah suasana pagi ini. Seorang gadis muda berdiri di depan sebuah teater, sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Hosh...hosh...ma-maaf a-aku ter-terlambat hosh..." sebuah suara bass yang terengah-engah mengagetkan sang gadis.
"Tidak apa-apa. Aku juga baru datang. Tarik nafas pelan-pelan." kata sang gadis lembut.
"Terima kasih. Disini dingin ayo kita masuk." ajak pria tinggi dan tegap itu.
"Hem." sang gadis mengikuti pria itu.
Akhirnya mereka berdua masuk ke gedung teater itu dan menonton pertunjukkan yang sedang populer di kalangan masyarakat sekarang. Swan Lake Ballet. Ya, itu adalah pertunjukkan yang sedang populer di kalangan masyarakat Inggris saat ini.
Mereka menonton pertunjukkan dengan sangat antusias, bahkan ada salah satu dari penonton yang menangis. Ya, mereka menonton pertunjukkan "Swan Lake" versi tragisnya, yaitu saat Odette meninggal bersama Pangeran. Menyedihkan memang. Banyak gadis yang menangis tersedu-sedu, tetapi Cecilia hanya diam tanpa reaksi apapun setelah adegan tersebut lewat.
"Bagaimana? Apakah itu seru?" tanya Sebastian.
"Ya, lumayanlah." kata Cecilia datar.
"Kau kenapa? Apakah kau kesal?" Sebastian tampak khawair dengan keadaan Cecilia.
"Ah...tidak apa-apa." Cecilia tersenyum. Sebastian blushing tak karuan.
"Ah...bagaimana kalau kita makan dulu?" Sebastian menggandeng tangan Cecilia.
"Eh...boleh." Cecilia terkejut dan blushing.
.
.
.
Cecilia P.O.V
Dia menggandeng tanganku? Aku dapat merasakan semua darahku naik ke kepalaku. Pasti aku semerah tomat sekarang, tetapi...
Sudah lama juga aku tidak merasakan hal ini, maksudku jatuh cinta dan blushing. Tunggu, apa aku bilang jatuh cinta? Tidak mungkin. Ah, sudahlah, aku nikmati saja dulu, baru akan kuambil jiwanya. Ya, hitung-hitung membuang rasa bosanku selama sepuluh tahun terakhir.
Eh...katanya aku diajak makan, tapi kok aku ada di danau pusat kota?
Danau ini tidak berubah dari dulu. Tetap indah. Pohon maple itu. Bungalow kecil itu. Dan bangku taman itu.
Ha...semuanya meluap dari otakku. Ingatan yang sengaja kupendam atau lebih tepatnya ingin kubuang ingatan itu.
"Kenapa kita kesini?" tanyaku polos.
"Hm...hanya ingin lewat saja. Apa tidak boleh?" katanya.
Menyebalkan. Rasanya ingin kuambil jiwanya sekarang, tetapi nanti mainanku hilang. Kuurungkan niatku saja. Gara-gara dia aku menderita begini.
"Hm...taman ini indah ya?" kataku.
"Iya. Ini tempat pertama aku kunjungi saat sampai di London." Sebastian mulai jalan menuju danau yang membeku itu.
Pertama kali? Kenapa bisa? Setahuku dia orang asli London. Setidaknya informasi yang Lord Of Death berikan tidak pernah salah sebelumnya.
"Pertama kali?" kubuat wajahku seperti orang yang kebingungan. Memang aku bingung.
"Ya, pertama kali. Aku berasal dari desa kecil di Amerika." Sebastian berjalan menuju bangku taman tersebut.
"Oh begitu." Cecilia mengikuti Sebastian dari belakang.
"Ya. Disana sangat indah, aku selalu bermain di padang rumput disana bersama temanku." Sebastian tersenyum bahagia.
"Oh." Cecilia membalasnya dengan singkat.
"Kalau kau sendiri?" tanya Sebastian.
"Eh...aku?" Cecilia terkejut dengan pertanyaan Sebastian.
"Ya. Kau." jawab Sebastian sambil menyunggingkan senyumannya.
"Hm...aku sejak kecil tinggal di London. Orangtuaku sangat baik kepadaku. Mereka selalu memperhatikanku," Cecilia mulai bercerita.
"Aku mempunyai seorang teman. Ah, bukan teman, dia sudah kuanggap saudara sendiri. Dia memiliki mata emerald yang sangat indah." lanjutnya Cecilia.
Mereka saling bertukar cerita di taman itu. Cerita sewaktu mereka kecil. Semuanya bersatu padu menjadi sebuah kisah yang menggelikan, menyenangkan, bahkan sedih. Ya...walaupun Cecilia tidak mungkin menceritakan siapa dirinya sebenarnya dan mungkin Cecilia sedikit berbohong.
.
.
.
By falling in love and learning pain
We become human
Beyond the night
you cried
Resound the cymbals of time
.
.
.
"Terima kasih untuk hari ini." Sebastian tersenyum lembut dihadapan gadis yang ia ajak pergi hari ini.
"Kuharap kita bisa melakukannya lagi." lanjutnya.
"Ya sama-sama. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan orang sepertimu, Sebastian." Cecilia menyunggingkan senyumannya.
"Benarkah?" Sebastian mulai menggoda Cecilia.
"Ya benar. Orang yang berada di sekitarku tidak mengerti apa yang kurasakan sekarang." wajah Cecilia mulai dingin kembali.
.
.
.
Cecilia P.O.V
Cukup hari ini saja. Cukup hari ini saja aku menceritakan kenanganku yang menyakitkan. Kenangan yang ingin kubuang jauh-jauh. Kupendam semua itu di dalam hati ini saja juga sudah cukup.
Dia. Sebastian Michaelis. Dia terlalu baik. Menyedihkan jika riwayatnya tamat dengan mengenaskan. Aku bingung. Bagaimana cara untuk membunuhnya dengan baik tanpa meninggalkan sesuatu yang mendalam bagi orang ini?
"Cecilia?" dia memanggil namaku.
"Ah...ya?" aku tersadar dari lamunanku.
"Apa perlu kuantar ke rumahmu?" tawarnya
"Ti-tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." kujawab pertanyaan Sebastian dengan agak ragu.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa!" Sebastian berlari kecil meninggalkanku di belakang.
"Sampai jumpa." jawabku pelan.
Dia benar-benar baik. Aku jadi tidak tega untuk membunuhnya. Tapi aku harus, ini tugasku sebagai Goddess of Death.
"Cecilia?" seseorang memanggil namaku, tapi kurasa ini bukan suara Sebastian, kerena dia sudah pergi tadi. Aku membalikkan badanku dan melihat seorang pria tegap dengan mata orangenya.
"Siapa kau?" tanyaku bingung.
"Ini aku Lucifer." katanya.
"Lu-Lucifer apa yang kau lakukan disini?" tanyaku.
"Hanya berjalan-jalan mencari udara segar." kata Lucifer.
"Oh." kataku.
"Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa." Kata Lucifer pergi menghilang bagaikan angin.
Hei...apa dia tidak takut dilihat orang banyak apa? Dasar ceroboh!
Ya...aku kembali sendirian lagi. Sendirian. Aku berjalan lurus mengikuti jalan besar yang berada di hadapanku.
Jalan.
Jalan.
Hingga akhirnya aku sampai ke sebuah gereja tua di pinggir kota. Gereja Saint Lucia namanya. Kulihat seorang pastor memberikan hosti kepada para jemaah di gereja itu.
"Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh kudus, Amin." para jemaah mulai berdoa.
"He...mereka percaya kepadamu Tuhan. Harusnya kau senang." kataku sinis.
Aku mulai melangkah meninggalkan gereja tersebut. Kakiku melangkah tak menentu arahnya.
Kemana lagi aku?
Aku sampai di sebuah sungai kecil di pinggir kota. Aku duduk di pinggir sungai dan kumasukkan kakiku ke dalam air sungai itu. Dingin.
Sepi.
Disini sepi sekali.
Damai.
Terlalu damai.
Anak-anak bermain salju dengan riangnya. Mereka membuat boneka salju. Kehidupan di dunia memang sungguh menakjubkan dan penuh dengan warna. Tidak seperti hidupku ini. Hanya hitam putih setiap harinya, sampai orang itu datang dan mengajakku bicara. Sebastian Michaelis.
Tunggu. Kenapa aku selalu memikirkannya? Apakah ini yang namanya...
Tidak mungkin. Ini mungkin karena aku terlalu serius untuk membunuhnya dengan cara yang lembut. Pasti gara-gara itu.
"Kakak! Bisa tolong ambilkan syalku?" tanya seorang anak perempuan dengan rambut silvernya membuyarkan lamunanku.
"Tentu." balasku.
Aku mengambil syal anak berambut silver tadi di bawah kakiku.
"Ini." aku berjalan mendekati anak itu dan memberikan syal itu kepadanya.
"Terima kasih." dia tersenyum.
Anak yang manis.
"Emily! Ayo pulang, nak!" seru seorang wanita parubaya yang sepertinya memanggil anak ini.
"Ya, bu!" balasnya, "Sampai jumpa, kak." katanya kepadaku.
"Ya, sampai jumpa." balasku.
Tidak terasa sudah seharian aku pergi jalan-jalan. Matahari sebentar lagi terbenam aku harus kembali, kalau tidak Lucifer akan mengomentariku lagi.
Cecilia P.O.V end
.
.
.
I surely believe that our karma which is
Drawn in the sky plays the song of love
The tears of red moon
Quiet music as if to share
The light with each other
.
.
.
Angin malam berhembus kencang. Salju mulai turun perlahan. Putih bersih. Salju memang selalu seperti itu. Putih dan dingin. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya orang-orang pulang dengan riangnya. Ya...mungkin karena sekarang ini bulan Desember dan sebentar lagi mereka akan merayakan natal. Setiap tahun selalu begitu, rumah yang hangat dengan suasana natal, hadiah di bawah pohon natal, ralat sebenarnya itu adalah pohon cemara yang dihiasi oleh lampu-lampu dan hiasan-hiasan natal, kue-kue yang baru keluar dari pemanggang, dan masih banyak lagi, tetapi diantara itu semua, hal yang paling membuat senang adalah hadiah dari Santa Claus. Entah darimana kebudayaan ini berasal, tetapi setiap tahun selalu begini.
Seorang pria berdiri di balkon rumahnya sambil menatap salju yang turun malam ini. Wajahnya yang pucat tertimpa sinar bulan membuat wajahnya semakin tampan. Matanya yang seindah ruby itu menerawang jauh ke langit yang luas. Bintang-bintang menghias langit malam. Bulan yang dingin namun indah menemani mereka semua bersinar.
"Dimana kau berada?" gumam pria itu atau yang biasa kita panggil Sebastian.
"Aku merindukanmu." lirihnya.
Lampu jalan mulai menyala. Sekarang jalanan menjadi terang tidak gelap segelap malam ini. Seorang gadis sedang berjalan tak menentu. Sinar bulan bersinar dingin ke arahnya. Sapphire gadis itu menatap bulan tersebut dengan tatapan berharap.
"Apa yang harus kulakukan?" lirih gadis yang biasa kita panggil Cecilia.
"Apa aku harus melakukannya?" tanyanya pada sang dewi malam.
Dua insan yang sedang kebingungan disatukan di langit malam. Bulan yang dingin menjadi penengah diantara mereka. Bintang-bintang yang menjadi teman mereka. Langit yang luas menaungi mereka berdua. Terjebak didalam rasa masing-masing.
"Akh..."
Malam yang indah dipecahkan oleh pekikan seorang wanita. Cecilia segera berlari menuju arah suara tersebut.
"Sampai jumpa lagi, sayang. Tepatnya di akhirat nanti." seorang pria membawa sebilah pisau dapur yang berlumuran darah.
Cecilia berjalan pelan menuju tempat suara pekikan itu berada. Saat berada di tempat tersebut ia bertemu dengan seorang pria yang berlumuran darah, pria itu menatap Cecilia dengan tatapan yang ganas.
'Sepertinya dia telah membunuh wanita yang berada dihadapannya.' Cecilia berpikir.
"Apa?" tanya pria itu. Mayat wanita tersebut terkapar penuh darah.
'Sepertinya dibagian perut ia ditusuk.' Cecilia mulai menganalisa.
Pria itu mulai berjalan kearah Cecilia lama kelamaan pria itu berlari sambil menghunuskan pisaunya ke wajah Cecilia. Cecilia menangkap tangan pria itu dengan cepat.
"Kenapa kau membunuhnya?" tanya Cecilia dingin.
"Karena dia tidak mau mendengarkan perkataanku!" pria itu menjawab dengan penuh emosi.
"Apa yang kau minta kepadanya?" tanya Cecilia mencengkeram tangan pria itu.
"Menemaniku untuk malam ini saja. Kenapa dia tidak ukh..."
"Tentu dia tidak mau, bodoh." Cecilia menusuknya dengan pisau yang pria itu bawa sendiri.
"Ka-kau..." ucap pria itu.
"Tidak ada wanita yang mau diperlakukan seenaknya oleh pria." Cecilia membisikkan kata-kata itu kepada pria itu sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Darah wanita dan pria itu berpadu menjadi satu. Menjadi darah yang akan mengering di jalanan itu. Darah wanita yang tidak ingin diperlakukan seenaknya oleh seorang pria hidung belang. Bau darah yang anyir memenuhi jalanan itu. Cecilia pergi meniggalkan tempat itu layaknya angin. Meninggalkan dua buah mayat disana.
Di lain tempat, seorang pria tertidur lelap. Dengan buaian mimpi ia masuk ke alam yang berbeda, alam yang hanya dapat dikunjungi oleh seseorang yang tertidur saja. Alam yang penuh dengan bermacam-macam rasa. Wajahnya yang pucat tertimpa sinar bulan untuk kesekian kalinya semakin terlihat tampan. Seorang gadis memperhatikan wajah tenang sang pria dari jendela kamar pria itu.
"Dia terlihat bahagia." gumam gadis itu dengan suara yang sedih.
"Sudah seharusnya dia begini. Tidak tahu apa-apa. Ya...manusia memang begitu. Selalu begitu." lanjut gadis itu lalu menghilang begitu saja.
"Cecilia?" pria itu terbangun dan melihat ke arah jendela kamarnya.
"Mungkin aku hanya bermimpi mendengar suaranya." lanjut Sebastian kembali tidur.
Di malam ini dua insan dipisahkan oleh dunia yang berbeda dan kehidupan yang berbeda, tetapi mereka memiliki kesamaan, yaitu
Cinta.
Ya mereka dipertemukan dalam satu kata. Cinta. Apa yang mereka rasakan adalah cinta, walaupun salah satu dari mereka tidak mempercayai ini, tetapi inilah kenyataan. Terkadang kenyataan itu sungguh pahit, saat kita percaya bahwa itu tidak mungkin tapi sebenarnya itu terjadi.
.
.
.
Because your voice called out to me
I felt the first wish was born
Taking your hand
I chase
Through the endless sky
The red moonlight of June
.
.
.
Pagi hari yang cerah, burung-burung berkicau, salju sudah berhenti walaupun udara dingin tetap saja orang-orang mulai kembali beraktivitas, tidak lupa juga Sebastian Michaelis. Pemusik kesayangan ratu itu sedang bersiap-siap di depan grand piano kerajaan untuk mulai memainkan sebuah lagu. Piano Sonata in D For Two K.488-1st Movement lagu ciptaan Mozart, musisi sepanjang masa itu mulai dimainkan. Tuts demi tuts ia tekan agar menghasilkan nada indah nan merdu.
"Seperti biasa permainanmu sungguh bagus." Ratu Victoria menepuk tangannya.
"Terima kasih, your highness." Sebastian membungkuk hormat.
"Apa kau sedang jatuh cinta?" tanya Ratu Victoria penuh selidik.
"Ah...i-itu..." Sebastian terkejut sehingga sulit untuk mengatakan sesuatu.
"Hahahaha jangan terlalu dipikirkan, aku hanya asal menebak. Karena lagu itu berisi tentang cinta." jelas Ratu Victoria.
"Ah...iya. Saya sedang tertarik dengan seorang gadis." kata Sebastian sambil blushing.
"Wah wah pemusik kesayanganku ternyata sedang jatuh cinta rupanya." goda Ratu Victoria. Sebastian hanya bisa blushing.
.
.
.
Sebastian P.O.V
Aku bukan jatuh cinta tetapi tergila-gila padanya. Setiap hari aku selalu memikirkannya. Dia gadis yang luar biasa. Membuatku seperti ini. Perangkap apa yang ia gunakan sebenarnya?
Aku ingin sekali bertemu dengannya saat ini, tapi dimana aku bisa bertemu dengannya?
Ah...aku benar-benar ingin bertemu dengannya.
Sebastian P.O.V end
.
.
.
In the sea of tears
We were born in
How many times do people scream?
The collapsed dreams
Inside the shadowa
Let there be light
Hallelujah resound
.
.
.
Cecilia P.O.V
Setelah kemarin aku berjalan-jalan, sekarang aku kembali ke tugasku. Mengawasi para manusia.
Hari ini kurasa tidak ada yang menarik di London. Ha...kemain banyak sekali orang yang mengucapkan sampai jumpa.
~Flashback~
"Cecilia?" dia memanggil namaku.
"Ah...ya?" aku tersadar dari lamunanku.
"Apa perlu kuantar ke rumahmu?" tawarnya
"Ti-tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." kuawab pertanyaan Sebastian dengan agak ragu.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa!" Sebastian berlari kecil meninggalkanku di belakang.
"Sampai jumpa." jawabku pelan.
.
.
.
"Ini aku Lucifer." katanya.
"Lu-Lucifer apa yang kau lakukan disini?" tanyaku.
"Hanya berjalan-jalan mencari udara segar." kata Lucifer.
"Oh." kataku.
"Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa." Kata Lucifer pergi menghilang bagaikan angin.
.
.
.
"Kakak! Bisa tolong ambilkan syalku?" tanya seorang anak perempuan dengan rambut silvernya.
"Tentu." balasku.
Aku mengambil syal anak berambut silver tadi di bawah kakiku.
"Ini." aku berjalan mendekati anak itu dan memberikan syal itu kepadanya.
"Terima kasih." dia tersenyum.
Anak yang manis.
"Emily! Ayo pulang, nak!" seru seorang wanita parubaya yang sepertinya memanggil anak ini.
"Ya, bu!" balasnya, "Sampai jumpa, kak." katanya kepadaku.
.
.
.
"Sampai jumpa lagi, sayang. Tepatnya di akhirat nanti." seorang pria membawa sebilah pisau dapur yang berlumuran darah.
~Flashback end~
Lihat banyak bukan yang mengucapkan 'sampai jumpa'. Aku saja hampir pusing dengan dua kata itu. Kata-kata yang sangat dalam artinya. Akh...kenapa aku teringat akan hal yang ingin kubuang?
Sampai jumpa.
Kata-kata yang menyakitkan.
Bagi segelintir orang mungkin kata-kata itu tidak ada maknanya karena mereka akan bertemu kembali dengan orang yang mereka ucapkan 'sampai jumpa' itu. Tetapi bagiku...
Sekali pergi tetap pergi. Tidak ada ampun maupun keringanan.
Pergi untuk selamanya.
Sudah cukup kepedihan ini berjalan selama hidupku.
Cecilia P.O.V end
.
.
.
To stay alive
Why does that simple karma
Bring pain instead of happiness?
/'m always dreaming of quiet music
To reach the distance
Where I step with you
.
.
.
Cecilia berdiri diatas menara Big Ben sambil memperhatikan manusia yang bertumpah ruah di jalanan London. Semuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Bahkan para anak jalanan juga bekerja di musim dingin. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sedangkan para bangsawan hanya berpangku tangan dan memerintah para pelayan mereka saja. Yah...memang ada sebagian bangsawan yang bekerja. Maksudku tadi adalah para bangsawan perempuan. Hei...mereka hanya tinggal menikmati hasil jerih payah orang-orang yang menjadi pegawai mereka.
"Bunga. Bunga. Bunganya cantik. Tuan mau beli bunga?" tawar seorang gadis kecil dengan rambut coklat kepada seorang tuan.
"Bunga mawar bewarna putih." kata Cecilia.
"Be-berapa, nona?" tanya gadis itu terkejut. Sepertinya dia terkejut karena paras Cecilia.
"Satu saja." Cecilia memberikan uang kepada gadis kecil penjual bunga itu lalu menerima bunga itu.
"Ini banyak sekali." mata gadis itu terbelalak dengan jumlah uang yang ia terima.
"Nona, tunggu!" teriak gadis itu. Tetapi Cecilia sudah menghilang bagaikan angin.
Di bangku taman Cecilia menyesapi aroma mawar putih yang ia beli tadi.
"Wangi. Sudah lama aku tidak mencium aroma mawar." kata Cecilia masih menyesapi aroma mawar itu.
"Jadi?" seseorang duduk di sebelah Cecilia.
"Siapa kau?" tanya Cecilia kebingungan melihat seorang gadis mengenakan gaun merah marun dengan rambut pirang yang terurai.
"Ini aku Lilith." Kata gadis itu.
"APA? Lilith? Tidak mungkin!" Cecilia tidak percaya.
"Iya ini aku. Tidak perlu berteriak, gendang telingaku hampir saja pecah." kata Lilith.
"Iya. Iya. Aku hanya terkejut dengan penampilanmu itu." Cecilia memperhatikan tubuh Lilith dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Itu seperti menghinaku saja." Lilith membuang mukanya.
"Maaf. Maaf." Cecilia tertawa geli melihat Lilith yang membuang muka.
"Iya aku maafkan." Lilith tersenyum.
"Jadi, apa yang kau lakukan dengan tubuh manusia itu, Lilith?" tanya Cecilia.
"Oh ini. Aku sedang mencari mangsaku saja. Aku ingin sekali membunuh seseorang tetapi tidak tahu siapa." Lilith memasang wajah yang innocent.
"Dasar!" Cecilia mencubit pipi Lilith.
"Ya sudah, karena kita sudah bertemu bagaimana kalau kita berjalan-jalan saja?" tawar Lilith.
"Baiklah." jawab Cecilia.
.
.
.
When I touched you
The first song was born
In this world
In the smashed summer
The song of grief resounds
Love and dreams someday disappear
My voice still can't reach
.
.
.
Di istana, Sebastian sedang melatih Pangeran Charles bermain piano. Ya...selain sebagai pianis kerajaan, Sebastian juga seorang guru privat piano bagi calon raja Inggris ini.
"Coba ulangi lagu Fur Elise yang kau pelajari dua hari yang lalu." perintah Sebastian.
"Baiklah." Pangeran Charles mulai menekan tuts demi tuts piano itu sehingga menghasilkan dentingan Fur Elise.
"Terima kasih, Sebastian." kata Pangeran Charles saat kelasnya berakhir.
"Sama-sama, Pangeran." Sebastian berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Di tengah jalan Sebastian bertemu dengan Ash.
"Jadi, bagaimana dengan kencannya?" goda Ash.
"Kencan apa?" kata Sebastian mengernyitkan alisnya.
"Kencanmu dengan Cecilia itu." jawab Ash.
"Itu bukan kencan, Ash Landers." suara Sebastian naik satu oktaf.
"Hei...tidak perlu menaikkan suaramu satu oktaf begitu." keluh Ash.
"Baiklah. Kau memang hebat suara yang jarang orang perhatikan saja kau tahu." Sebastian meledek Ash.
"Hei...itu pekerjaanku tahu!" Ash terus berjalan melewati Sebastian.
"Iya. Iya." Sebastian terkekeh pelan.
"Oh ya, katamu gadis yang bernama Cecilia itu memiliki nama keluarga Phantomhive bukan?" Ash tiba-tiba saja serius.
"Iya. Memang kenapa?" tanya Sebastian.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengingat sesuatu saat kau menyebut nama itu. Entah apa itu." kata Ash.
"Oh." Jawab Sebastian pendek.
"Ya sudah sampai jumpa." kata Ash.
.
.
.
Eating flowers with dirty hands
I'll be living for you
The dream of destruction
Beyond time
Can't you hear?
The distant Hallelujah
.
.
.
"Wah, sekali-sekali ke dunia manusia menyenangkan juga ternyata." kata Lilith tampak bahagia, sedangkan Cecilia mengambil nafas dengan rakusnya.
"Hei, kau tidak perlu melakukan hal seperti itu. Ha...ha...ha..." tukas Cecilia.
"Tapi tadi menyenangkan." Lilith masih tersenyum lebar.
"Apa? Berlari di tengah kerumunan orang dan berlari melewati jalan raya yang diisi dengan kereta kuda yang lalu lalang dengan cepat kau bilang menyenangkan? Dasar kau ini. Menggunakan baju seperti ini pula." Cecilia mengangkat gaun biru mudanya.
"Ya itu menyenangkan sekali. Lain kali kita lakukan lagi ya?" ajak Lilith.
"Tidak. Ajak saja Lucifer kalau mau!" Cecilia membuang mukanya.
"Ah...aku tidak mau dengan dia. Kalau dengan dia aku bisa dimarahi nanti." kata Lilith.
"Hu...bukannya dia memang begitu." Cecilia mengatakan sebuah fakta.
"Nah...maka dari itu tidak asyik kalau mengajak dia." tukas Lilith cepat.
"Pokoknya jangan aku." Cecilia meninggalkan Lilith sendirian.
.
.
.
In the sky
Just once is fine
Resound the song of love
Like a flame
Violent quiet music will overflow
The red moon dreams
In the last sky
.
.
.
~To Be Continued~
Author Note :
Akhirnya selesai chapter dua ini..
Semoga semuanya terhibur. Oh..iya saya lupa mencantumkan to be continued di chapter sebelumnya. Ha...keteledoran paling aneh bin gaje sedunia.
Chapter kedua ini berjudul Red Moon yang dinyanyikan oleh Kalafina. Jangan tanya saya memang sangat menyukai lagu-lagu Kalafina.
Ya sudahlah sekarang saatnya bales review :
Lady Charlotte Claire : Benarkah? Hahahaha makasih banyak atas pujiannya. Saya baru ingat harus mencantumkan to be continued setelah membaca review Claire-san.
Chiko-silver lady : Hahahaha saya juga gak tahu jadi berapa chapter nih *plang* nah sudah saya lanjut :D makasih atas pujiannya. Iya ini fem!Ciel.
Kurousa Hime : Makasih atas kritik dan pujiannya. Tidak apa promosi saja :D
Kojima Michiyo : Makasih atas sarannya. Benarkah? Gaya menulis saya? Terima kasih banyak.
Orlyzara : Terima kasih atas kritik dan pujiannya. Saya memang tidak ahli bahasa Inggris yang menggunakan verb 3. Ini sudah lanjut :D
Terima kasih yang telah menreview cerita saya. Kayaknya disini saya terlalu banyak mengeluarkan puisi deh. Ya sudah terlanjur mau diapain lagi? Nah...kata-kata terakhir dari saya.
Review please~
