DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

Kurapika Kuroro (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

After that fateful day, destiny seemed to cross their paths every now and then. – "Kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan padaku, Kurapika."

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for Nothingness by Kurapika Kuroro. Various rated. But it's rated T for this chapter.

Telah mengalami penyesuaian supaya lebih nyaman dibaca, tapi diusahakan tidak merubah isi cerita.

Dan kamu akan sering blushing membaca tiap chapter cerita ini =^v^=

Termasuk aku yang nerjemahinnya!

A/N :

Terimakasih banyak untuk para readers yang telah mereview.

Pertama, menerjemahkan Nothingness merupakan sebuah tantangan tersendiri buat aku, baik itu karena isi cerita maupun tingkat kesulitannya.

Di chapter 2 versi sebelumnya, aku memang merasa ragu-ragu untuk menggunakan kata-kata sendiri untuk dapat lebih memperjelas ceritanya karena takut merubah isi. Tapi sekarang di chapter 2 ini, aku berusaha sebisanya untuk membuat para readers memahami isinya.

Kalau untuk kata-kata yang baku, hmmm…I think it's my style, anyway! Hehe :P

Hanya saja sekarang aku mencoba untuk membuat bahasanya lebih 'luwes'.

Special thanks to Airin-chan, Natsu-chan and Kaoru-san! Your reviews mean a lot for me!

Happy reading^^

.

.

.

CHAPTER 2 : ENCOUNTER

Hari-hari telah berlalu sejak kejadian di hari terkutuk itu ketika Si Gadis Kuruta mabuk dan mengalami saat sensual yang penuh dosa dengan bercumbu bersama Kuroro Lucifer, musuh bebuyutannya.

Kurapika berusaha melupakan kejadian itu, namun setiap kali dirinya sudah bisa menerima bahwa hal itu sudah berlalu, Gen'ei Ryodan selalu muncul…membuatnya teringat tidak hanya pada pembantaian sukunya, tetapi juga pada kejadian sensual yang dilakukannya bersama pria itu. Untunglah saat itu Kuroro dapat mengendalikan diri sehingga Kurapika masih dapat menjaga kesuciannya. Kehadiran Kuroro mengingatkannya kembali pada kenangan itu, membuat Kurapika merasa bersalah dan malu karena telah melakukan hal itu dengan musuhnya.

Tampaknya takdir sangat kejam hingga membuat Kurapika menderita seperti ini. Sebab sejak kejadian itu, ia selalu bertemu dengan Kuroro tanpa disengaja…di waktu dan tempat yang tidak terduga sebelumnya.

Kuroro tidak pernah menghiraukan semua pertemuan itu, tapi sebenarnya, ia memanfaatkannya sebagai kesempatan untuk menggoda Kurapika sebagai musuh bebuyutannya dan menjadikannya sarana untuk membalas dendam pada gadis itu. Kuroro merasa geli terhadap semua kebetulan ini, bahkan ia pun merasa heran…ada banyak orang di dunia ini, tapi kenapa mereka berdua harus selalu bertemu satu sama lain? Apakah takdir sedang mempermainkan mereka? Atau apakah itu hanya bagian dari takdir mereka berdua? Apakah ini berarti bahwa dia dan Kurapika ditakdirkan untuk bersama suatu saat nanti? Yang benar saja, komentar Kuroro sinis. Tapi seiring dengan berlalunya waktu, ia menyadari bahwa bukan hanya balas dendam atau nafsu semata yang membuatnya menggoda pengguna Nen yang masih muda belia itu, tapi gadis itu sendiri. Karena apa? Ia pun belum tahu pasti.

Kurapika berusaha untuk tidak merasa takut saat dia sedang berjalan sendirian atau pergi ke tempat-tempat tertentu yang memungkinkannya untuk bertemu dengan Kuroro. Bagaimanapun juga, semakin Kurapika berusaha menghindar, justru mereka semakin sering bertemu. Baik itu di toko buku, restoran, bar, hotel, dan di resor tepi pantai seperti sekarang. Ya, Kurapika dan Kuroro bertemu kembali di sini. Semua pertemuannya dengan Kuroro bukanlah suatu pertemuan mengerikan yang terjadi di antara dua orang musuh bebuyutan, tapi justru sebaliknya. Apa yang mereka lakukan saat bertemu biasanya berkisar antara sentuhan lembut di pipi, berciuman hingga bercumbu. Orang-orang yang melihat akan mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih dan bukannya musuh. Hal itu membuat Kurapika frustasi, namun di lain pihak membuat Kuroro merasa terhibur.

Kuroro melihat ke arah Si Pirang yang berada di hadapannya. Wajah gadis itu merengut. Angin bertiup sepoi-sepoi, mengacak-acak rambut hitam Kuroro. Si Pirang sedang mengenakan kemeja berwarna abu-abu dan celana pendek biru. Kuroro memperhatikan gadis itu. Ia berpikir, seandainya saja Kurapika memakai bikini daripada pakaian yang menyedihkan seperti itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kurapika dengan dingin.

"Tentu saja aku sedang berlibur. Kau sendiri?" jawab Kuroro santai dengan wajah tanpa ekspresi.

"Liburan Neon Nostrad…" kata Kurapika seolah alasannya sudah jelas dan tidak perlu ditanyakan lagi.

"Hei…Pengguna Rantai," panggil Kuroro dengan nada suara yang datar.

"Apa yang kau inginkan?" Kurapika segera bertanya, tapi kemudian ia merasa marah pada dirinya sendiri karena telah mengajukan suatu pertanyaan yang sangat beresiko. Bagaimana jika Kuroro ingin membawanya pergi?

"Tentu saja bukan sesuatu yang akan kau sesali nantinya," jawab Kuroro. Ada suatu petunjuk dalam pernyataan itu, tapi kemudian ia melanjutkan ucapannya, "Keberadaanku di sini hanya sebagai manusia biasa, bukan sebagai Pemimpin Gen'ei Ryodan yang kau harapkan untuk mati."

"Baiklah kalau begitu, aku tidak ingin sampai melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa para anak buahku," Kurapika berkata.

"Seharusnya kau mengkhawatirkan keselamatanmu sendiri daripada keselamatan orang lain. Kau tahu, aku dapat menemukan orang yang dapat melepaskan jantungku dari pisau Nen yang kau tancapkan," komentar Kuroro santai.

Kurapika hanya membelalakkan matanya, namun ia bersyukur pertemuan ini tidak seperti pertemuan lain yang terjadi sebelumnya…yaitu pertemuan yang sensual. Pertemuan ini masih lebih baik dan wajar. Saat Kurapika melotot pada Kuroro, ia berusaha keras untuk berkonsentrasi membelalakkan matanya dan bukannya terpana pada penampilan pria itu. Saat ini Kuroro sedang memakai celana pendek hitam, dan tidak memakai apapun lagi, menonjolkan otot perut dan otot bisepnya yang menakjubkan, juga menunjukkan otot-otot lainnya yang tak kalah memukau. Membuat para wanita yang melihatnya dapat meneteskan air liur dan menghambur ke pelukan pria itu.

Kuroro menatap wajah Kurapika. Dia tetap terlihat cantik meskipun memakai pakaian yang membosankan seperti itu. Kuroro tak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum saat Si Pirang berhenti melotot dan kini hanya menatapnya. Lagi-lagi Kurapika terlihat begitu polos. Ia terkejut saat tiba-tiba Kuroro meraih tangannya.

"Ayo kita jalan-jalan," ajak Kuroro pada Kurapika.

Kurapika hanya menatap Kuroro, lalu membiarkan pria itu menuntun jalannya.

"Jadi berapa hari Keluarga Nostrad akan tinggal di sini?" tanya pria berambut hitam itu, seolah dia sedang bertanya kepada temannya sendiri.

"Mungkin sekitar satu minggu," jawab Kurapika dengan nada suara yang santai.

"Apa kau punya rencana malam ini?" tanya Kuroro sambil memandang Kurapika dengan penuh rasa ingin tahu.

Itu adalah petunjuk lainnya lagi, dan Kurapika berani bertaruh bahwa apapun yang akan dilakukannya nanti bersama Kuroro, pasti lagi-lagi akan berujung pada malam yang penuh sensualitas. Kuroro mempererat genggamannya di tangan Kurapika, membuat Kurapika menoleh padanya.

"Aku hanya ingin bicara denganmu, jangan khawatir," Kuroro mencoba meyakinkan Kurapika.

"Sepertinya aku tidak punya waktu untukmu nanti malam, tapi kita bisa bicara sekarang," kata Kurapika.

"Oh," jawab Kuroro pendek sambil terus menatapnya.

Akhirnya Kuroro dan Kurapika menghabiskan hari itu dengan berduaan menatap lautan sambil saling berpegangan tangan, walau tanpa melepaskan kewaspadaan mereka satu sama lain.

.

.

Hari itu pun berlalu, mereka bersikap seolah mereka adalah sepasang kekasih dan bukannya musuh. Ini membuat Kurapika kecewa. Untuk yang kesekian kalinya Kurapika menggerutu pada dirinya sendiri karena telah membiarkan dirinya mabuk saat itu, hingga akhirnya bercumbu dengan Pemimpin Gen'ei Ryodan.

Kuroro tak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya, sejak Abengane telah menghilangkan pisau Nen yang ditancapkan Kurapika ke jantungnya. Apakah dia akan membunuh Si Pengguna Rantai itu sekarang? Tapi kenapa dia merasa tak sanggup melakukannya?

Aku tak ingin melihatnya mati, Kuroro beralasan. Tapi kemudian bagian lain dirinya berkomentar, 'Kau lebih memilih untuk melihatnya berada di tempat tidurmu'.

Kuroro menyeringai, bagaimanapun juga menurutnya Kurapika sangat menarik hingga ia tak mampu mengulurkan tangannya untuk mencekik leher lembut gadis itu. Kuroro sangat ingin melihat Si Pirang telanjang dan menanggapi belaiannya yang penuh gairah.

"Kau tak tahu apa yang sedang kau lakukan padaku, Kurapika," Kuroro berkata kepada angin yang bertiup membelai rambutnya lalu melangkah keluar kamar untuk sekedar berjalan-jalan.

TBC

.

.

A/N :

Review please^^