Takdir

Story © Hana-d'ichi

Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

GaaSaku Fict

Warning: AU, OC, OOC, typo, Normal POV

.

Bagaimana rasanya mencintai tapi tak dicintai? Pasti rasanya sakit, apalagi yang dicintainya adalah sahabat sendiri. Kejarlah cinta! Tapi, satu tragedi, bisa membuat Sakura cinta kepada Gaara.

.

Kedatangan Sasuke mulai menguak apapun yang terjadi. Gaara yang mengetahui itu berniat ingin bekerja sama dengan Sasuke. Tapi, bagaimana respon Sakura yang terlanjur benci kepada Sasuke?

.

Enjoy it

Don't like, don't read

.


Seorang lelaki berambut merah tampak berdiri di belakang rumahnya. Mulutnya sibuk komat-kamit tak jelas sembari tangannya menggenggam sebuah ponsel flip berwarna silver.

Lelaki itu tampak cemas sekali. Walaupun sekarang adalah pagi sejuk yang sangat cocok dilewati untuk bersantai, lelaki itu malah tampak gelisah dan tubuhnya berkeringat.

Brrrtt… brrrtt…

Ponsel yang dipegang lelaki itu bergetar yang membuat lelaki itu sedikit terkejut. Dipandanginya layar ponsel itu, dan kemudian tersenyum senang,

"Ya, halo."

.

.

.

"Kaasan, aku ke rumah, Sasori dulu ya!" seru seorang gadis berambut merah muda sambil meraih tasnya yang tergeletak di atas meja.

"Ya, Sakura, hati-hati!"

Setelah mendengar balasan dari Kaasan-nya yang sedang membuat masakan makan siang di dapur, gadis yang dipanggil Sakura itu langsung melesat keluar rumahnya dan berdiri menunggu taksi yang baru saja dipesannya.

Tampak taksi berwarna biru menghampiri Sakura. Gadis muda itu tersenyum, dia yakin taksi itu adalah taksi yang dipesannya. Dengan cepat, Sakura langsung memasuki taksi biru itu.

"Pak, kita ke perumahan klan Akasuna," ujar Sakura pendek sembari memberi perintah kepada si supir taksi.

"Baik."

Mobil taksi itu segera melaju, awalnya memang perjalanan yang aman. Tapi, itu tak bertahan lama. Tiba-tiba ada sebuah mobil mini bus hitam menyalib mobil taksi yang ditumpangi Sakura dengan cepat.

Sakura mendengar si supir taksi sedikit menggerutu.

Memang juga sih, mobil yang tadi menyalib mobil taksi itu membuat sopir maupun Sakura terkejut.

"Ano, nona tidak apa-apa?" tanya sang supir tanpa menoleh kepada Sakura.

Sakura tersenyum dan menjawab tidak apa-apa. Tapi, sepertinya ada yang aneh. Mobil itu datang dari arah perumahan klan Akasuna.

Perasaan Sakura mulai gelisah entah kenapa. Sesekali dia melirik jam tangannya dan komat-kamit tak jelas.

"Pak, bisa lebih cepat?" tanya Sakura ragu.

Si supir hanya mengangguk kemudian mempercepat laju mobil.

Waktu lima menit itu terasa sangat lama bagi Sakura. Perasaannya sudah gelisah daritadi. Tak dihiraukannya panggilan si supir taksi.

"Sasori, bagaimana ini? Sasori…"

Si supir mendengar gumanan lirih Sakura yang menurutnya kurang jelas. Sekali lagi dia memanggil Sakura.

"Nona, nona kita sudah sampai," ujar si supir sambil menoleh ke belakang.

Sakura tersentak, "ah, maaf. Saya tidak mendengar suara bapak, tadi bapak bilang apa?" tanya Sakura salah tingkah.

"Nona, kita sudah sampai," ujar supir sambil mengulang perkataannya tadi. Sakura hanya memaksakan senyum canggung kepada si supir sambil memberikan beberapa lembar uang kepada si supir dan langsung keluar dari mobil.

Sakura berlari menuju rumah Sasori karena taksi atau kendaraan umum hanya boleh datang hingga gerbang perumahan klan Akasuna.

Sakura menghentikan larinya ketika dia menemui sebuah rumah bergaya khas Eropa dan bercat putih di hadapannya. Rumah indah dan megah dengan hamparan rumput-rumput bagai permadani hijau di depannya.

Itu, rumah Sasori.

Sakura memencet bel pada pintu pagar yang lumayan tinggi. Tak ada yang menjawab. Bahkan para pembantu Sasori pun tak ada yang membalas bel itu.

Perumahan klan Akasuna juga sangat sepi.

TING! TONG!

Sakura memencet lagi bel di pagar tinggi itu, tetap tidak ada balasan.

"Uh, ada apa sih?" gerutu Sakura sambil menggeram kesal. Dikepalkannya jemarinya itu hingga membentuk tinju. Dipukulnya pagar besi yang keras itu.

"Aduhh," rintih Sakura ketika merasa tulangnya itu bertabrakan dengan besi yang tetap berdiri kokoh di depannya.

"Tanganku—"

Kriieet!

Sakura mendengar sesuatu, seperti suara kayu yang berdecit. Sakura mengerlingkan pandangannya ke seluruh arah. Tidak ada siapa-siapa.

"Si-siapa di sana?" tanya Sakura gugup sambil mengatupkan kedua jemarinya di depan dadanya. Kepada Sakura tidak henti-hentinya melihat kiri dan kanan dengan waspada.

Sakura mulai melangkahkan kakinya itu dengan pelan, kembali ke gerbang perumahan klan Akasuna.

Tap! Tap! Tap!

Hanya derap langkah kaki Sakura yang terdengar di sana, kedua tangannya masih setia berkatup di depan dadanya.

Terkadang, suara desiran daun-daun yang bergesekan menambah kesan suram di perumahan ini. Napas Sakura mulai memburu.

Ting! Ting! Ting!

Sakura semakin mempercepat langkahnya ketika mendengar suara seperti dentingan lonceng kecil di belakangnya. Mata hijaunya membulat sempurna.

"Sakura-san!"

Sakura terhenti, ada suara parau yang memanggilnya. Sakura tak berani menoleh, kedua bibirnya langsung terkatup erat sekali. Napasnya semakin memburu dan tenggorokannya serasa tercekat, tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.

"Sa-Sakura-san, i-ini sa-ya, Ame-ko," ujar suara parau itu lagi.

Sakura masih mematung, tapi perasaannya sudah sedikit lega ketika mendengar bahwa pemilik suara parau itu Ameko, pembantu di rumah Sasori. Dan terlebih lagi, suara lonceng kecil itu pasti berasal dari Ameko yang mempunyai gelang yang juga memiliki lonceng kecil.

"A-Ameko? Itu kamu?" tanya Sakura pelan.

"Iya, Sa-kura-san," suara parau itu menyahut lagi.

Sakura membalikkan badannya pelan, dan…

"AAA, AMEKO!"

Sakura langsung menjerit takut ketika melihat kondisi Ameko. Bagaimana tidak, cucuran cairan merah bercampur kuning mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Wajah berdarah-darah, dan beberapa luka sobek.

Bulir-bulir itu menggenang di pelupuk mata Sakura. Keduanya tangannya langsung menutup mulutnya yang terbuka agak lebar.

"A-Ameko, kamu kenapa?" tanya Sakura. Bulu kuduknya merinding, tidak menyangka kalau Ameko masih bisa bertahan dalam kondisi menggenaskan ini. Apa jangan-jangan?

'Sakura, jangan berpikir kalau, Ameko itu hantu,' kata batin Sakura mengingatkan.

Sakura menenangkan tiap napas yang keluar dari hidungnya. Membuatnya sedikit merasa lebih tenang.

"Ameko, kamu kenapa?" Sakura mengulangi pertanyaannya dengan hati-hati.

Ameko tersenyum lemah, rambut hitamnya yang menghalangi pandangannya di biarkan begitu saja. Walaupun begitu, senyum lemahnya itu masih bisa terlihat jelas.

"Ada perampok! Banyak sekali! Mereka membunuh semua anggota keluarga Akasuna. Dan mereka pergi sembari membawa semua harta yang ada. A-aku—"

Perkataan Ameko terputus, dia merasa tak senang jika mengucapkan kalimat itu di depan Sakura.

Mata ungu Ameko menatap Sakura sendu, dengan ragu dia melirik saku roknya dan merogohnya pelan.

Sakura terus menatap gadis remaja yang ada di hadapannya sekarang. Gadis berlumuran darah dan nanah dengan luka sobek. Tapi, hanya satu yang membuat Sakura heran, dengan luka segitu banyak, kenapa Ameko tetap bisa bergerak dengan mudah?

Ameko mengeluarkan secarik kertas putih yang bercampur warna merah—karena darah di tangan Ameko. Ameko tersenyum lemah sekali lagi, kini mata ungunya itu beradu pandang dengan mata hijau Sakura.

"Sasori-sama memberikan ini sebelum pergi," ujarnya pelan. Sakura terus menatap mata ungu itu.

"Bacalah," ujar Ameko lagi.

Sakura mengambil kertas lusuh itu dan membacanya.

Sakura, jangan pernah khianati aku.

Jangan pernah berpaling dariku.

Walaupun kautahu aku tidak berada di sampingmu.

Aku masih belum bisa mewujudkan impian kita.

Sakura, kumohon. Tetaplah mencintaiku.

-Akasuna no Sasori-

Air mata Sakura kembali menggenang di pelupuk mata Sakura. Pelan tapi pasti, air bening itu mengalir dan membasahi kedua belah pipi Sakura, disertai isakan pedih yang meluncur dari kedua bibir tipis merah muda itu.

"Sakura-san!"

Suara Ameko menyeruak di sekitar jalan tempat Sakura dan Ameko berdiri.

Sakura menoleh kepada Ameko. Memperlihatkan cucuran air mata yang masih mengalir deras. Napasnya mulai sesak sementara kepalanya mulai pusing.

"A-meko, apa, Sa-Sasori meninggal?" tanya Sakura ditengah isakannya yang semakin menjadi-jadi.

"Tidak akan."

Sakura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, membiarkan kedua telapaknya menampung bulir-bulir bening yang membasahi kedua telapak tangannya.

"Ameko, apa itu benar?"

Sakura berusaha meyakinkan pertanyaannya tadi. Tapi naas, sekarang Ameko tidak menjawab pertanyaannya.

"Ameko?"

Suara serak Sakura mulai terdengar memanggil gadis remaja yang ada di 'hadapannya'.

"Ame—"

Perkataan Sakura terputus, Ameko sudah tak ada lagi di depannya. Hanya bercak darah dan nanah yang ada di tempat Ameko berdiri tadi.

Sakura menajamkan sedikit penglihatannya.

Tidak ada jejak kaki. Sakura yakin, tadi kaki Ameko berlumuran darah dan Ameko itu sendiri tidak memakai alas kaki.

Deg!

Jangan-jangan…

Kepala Sakura mulai pusing. Badannya terhuyung-huyung dan…

BRAK!

Sakura terjatuh di atas jalan yang terbuat dari semen dan membuat tubuhnya terbentur keras ke jalan yang tidak rata itu.

.

.

.

"Sakura."

Sakura membuka kelopak matanya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah langit yang putih. Ah tidak! Itu atap.

Sakura mencoba duduk dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Tangan kanannya memegangi kepalanya yang dibalut perban dan masih terasa pusing. Sementara tangan kirinya berusaha menyangga tubuh lemahnya di tempat tidur.

Mata Sakura hanya setengah terbuka. Sehingga apa yang dilihatnya kurang jelas. Tapi, ada sesuatu yang dikenalnya.

Seorang lelaki berambut merah berdiri di hadapannya. Tepat di hadapannya.

"Sasori…"

Sakura mendesah pelan, dia melihat 'Sasori' di hadapannya.

"Sakura… apa kamu merasa baik-baik saja?" tanya 'Sasori' sambil mendekati Sakura.

"Sasori… ka-kamu tidak pergi 'kan?" tanya Sakura pelan. Sakura mulai menggosok-gosok pelan matanya dengan tujuan menghilangkan kantuk dan agar bisa melihat dengan lebih jelas. Padahal dia sendiri tahu menggosok-gosok mata itu tidak baik.

'Sasori' hanya diam. Berdiri mematung di hadapan Sakura.

"Sakura… aku ini, Gaara. Kau ada di Rumah Sakit Suna," akhirnya, pria yang disangka Sasori itu Gaara.

Sakura mengerjab-ngerjabkan matanya dan terlihatlah Gaara berdiri di hadapannya, bukan Sasori yang notabene lebih tinggi dari Gaara. Dan tentunya, Sasori tidak mempunyai tato 'ai' di kepalanya.

Sakura menatap Gaara dengan pandangan lurus, mematri bayangan Gaara di otaknya. Memang mirip dengan Sasori.

"Maaf, kamu mirip dengan, Sasori, Gaara," desis Sakura dengan perasaan tak enak yang tersirat di matanya.

Gaara melempar pandangan di sudut ruangan. Entah apa yang dia lihat, dia tak peduli. Yang sekarang terjadi ialah, dia benar-benar merasa dirinya tak akan pernah bisa bersama Sakura. Yang ada dalam pikiran Gaara hanyalah Sasori Sasori dan Sasori. Bahkan Sakura menganggap Gaara itu Sasori.

Gaara mengulum senyum palsu yang sangat tipis, memberikannya dengan rasa sakit kepada Sakura.

"Tak apa," hanya dua patah kata itu yang meluncur dengan terpaksa dari bibir tipis Gaara.

Klek!

Pintu kamar rawat Sakura terbuka, tampak gadis pirang berkucir empat muncul di sana.

"Wah! Sakura, kau sudah sadar!"

Mata Gaara tertuju pada kakak perempuannya yang berkucir empat itu.

Sementara Sakura tersenyum agak lebar. "Temari-nee!" seru Sakura senang.

Yang dipanggil Temari itu ikut tersenyum seperti Sakura.

"Syukurlah. Tapi…"

Temari memutuskan perkataannya sembari mendekati Sakura dan Gaara. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya.

"Kenapa hanya, Sakura yang menyapaku? Bukankah ada adik laki-lakiku di sini?" tanya Temari seraya melirik Gaara.

Gaara masih tetap tenang. Memandang Temari lewat ekor matanya.

"Hai, Temar-nee," ucap Gaar datar.

"Yeah, walaupun kutahu kalau anak itu mengucapkannya dengan tidak ikhlas. Aku terima, haha," Temari tergelak renyah karena melihat Gaara menukar raut datarnya dengan raut kesal. Tapi, entah kenapa, sekarang gadis pirang itu terdiam.

"Sakura, kau tahu, aku menemukanmu di depan perumahan klan Akasuna dengan kondisi pingsan. Saat itu aku mau mengunjungi, Sasori. Tapi—"

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuat Temari diam. Bukan hanya Temari, Sakura dan Gaara pun ikut diam dan memandang pintu.

Gaara berjalan menuju pintu dan membukanya.

"Selamat siang, apa ini kamar rawat, Haruno Sakura?" tanya seorang laki-laki berambut raven berseragam polisi.

"Sa-Sasuke?" Gaara agak terkejut dengan kedatangan Sasuke yang tiba-tiba.

"Sasuke! Ah! Anak itu. Oy, Sasuke, masuk!" seru Sakura.

Sakura sekarang agak merasa terhibur. Mendengar sahabat kecilnya dari Konoha datang.

"Hn, Sasuke. Ayo masuk," ujar Gaara kembali tenang sembari mengajak Sasuke masuk.

Dengan langkah tegap dan berwibawa, lelaki raven itu masuk. Matanya tetap tajam menatap apapun yang ada di hadapannya.

Pintu kamar rawat Sakura ditutup. Gaara berjalan di belakang Sakura.

Sekarang, mereka berembat berada di kamar itu.

"Maaf, kedatanganku di sini mau mencari keberadaan, Akasuna no Sasori. Apa kalian tahu?" tanya Sasuke serius.

Sakura yang merasa ditanyai begitu hanya tergelak. "Haha, Sasuke. Kau berhasil menjadi polisi. Sekarang malah ingin menangkap kekasihku. Haha, kau itu lucu, Sasuke," gelak Sakura sambil memegangi perutnya.

"Tak lazim orang yang sedang sakit tertawa keras seperti itu. Padahal tidak ada yang lucu di sini," tanggap Sasuke ketus.

Sakura terdiam. Menyadari bahwa sahabatnya yang satu itu mempunyai mulut yang tajam dan pedas.

"Sasuke, lebih baik kita bicarakan di luar. Daripada mengganggu istirahat, Sakura," bisik Gaara dari belakang Sasuke.

Mata onyx Sasuke melirik Gaara kemudian mengangguk.

Gaara dan Sasuke keluar dari kamar rawat Sakura. Setiba di luar, Sasuke duduk di kursi tunggu.

"Ada apa?" tanya Gaara dengan nada datar. Matanya menatap lurus ke arah Sasuke yang duduk di kursi tunggu.

"Akasuna no Sasori, dia sekarang berstatus buronan," ujar Sasuke serius. Wajahnya mengadah menghadap Gaara.

"Yang benar saja kau, Sasuke. Buronan apanya?" Gaara terkejut. Gaara ingat betul, kebaikan hati Sasori yang teramat baik. Kesetiannya sebagai sahabat. Dan keuletannya mendukung teman-temannya yang putus asa agar kembali semangat.

"Ada perampokan bank besar di Konoha. Dan salah satu CCTV menangkap gambar, Sasori. Itu sangat jelas, itu gambar, Sasori. Dengan kedua temannya, lelaki entah wanita berambut pirang, dan…"

Perkataan Sasuke terputus. Kedua tangannya meremas rambutnya geram.

"Dan, kakakku sendiri," lanjut Sasuke sambil menghela napas.

"Apa? Tidak mungkin. Sasori itu orang yang sangat baik!" seru Gaara pelan.

"Kau pikir, kenapa aku memakai seragam polisi? Pencarian buronan perampok bukan tugasku. Itu tugas kakakku. Sekarang, kakakku sendiri yang menjadi perampok. Tidak mustahil ini terjadi kepada, Sasori. Ini benar-benar di luar nalarku," bantah Sasuke sengit sambil berdiri.

Gaara diam, menatap Sasuke dengan jade-nya. Terbayang olehnya tangisan Sakura ketika mengetahui kekasihnya itu seorang penjahat.

"Lalu, apa kau tahu siapa saja buronan perampok itu? Menurutku bukan Sasori dan kakakmu saja yang menjadi penjahat. Pasti ada seseorang yang mengendalikan mereka. Atau mungkin saja mereka bergabung dengan kelompok kejahatan," ujar Gaara.

"Ya, memang. Salah seorang dari timku pernah mendapatkan informasi tentang kelompok itu. Tapi, ketika pulang ke markas, orang dari timku itu dibunuh. Dan hanya sedikit informasi yang kami dapat. Kelompok itu beranggotakan sepuluh anggota. Dan ketua mereka berasal dari Amegakure. Hanya itu yang kami tahu."

"Hmm, Amegakure adalah kota yang terkenal dengan angkatan militernya yang kuat. Kurasa, ketua mereka pasti orang yang kuat juga. Kita mesti hati-hati," ujar Gaara pelan sambil memegang kedua dagunya.

"Iya. Sebenarnya pamanku diculik oleh kelompok itu. Ini sangat gawat, karena mengingat, Madara-jiisan adalah orang yang sangat pintar," ujar Sasuke.

"Pamanmu itu diculik? Madara-jiisan?" tanya Gaara semakin terkejut dan hanya dibalas dengan anggukan lemah Sasuke.

"Huh, ini benar-benar tugas yang membuat kepadalu serasa ingin meledak," dengus Sasuke kemudian. Dia berbalik membelakangi Gaara. Dan berjalan menjauhi Gaara.

"Hm, Sasuke. Aku mau bekerja sama denganmu."

Sasuke tersenyum tipis.

"Tugas pertama yang timku terima, kami harus menemukan, Sasori. Hidup atau… mati. Jika anak itu berulah, aku bisa saja membunuhnya."

PRAANG!

Sasuke berhenti berjalan, kepalanya menoleh ke belakang. Sementara Gaara menatap gadis yang terkejut di ambang pintu dengan raut yang juga terkejut.

"Sakura?"

Sasuke berbalik dan sekarang berdiri menghadap Sakura. Melihat tatapan benci dari Sakura.

"Apa maksudmu, Sasuke? Kau mau membunuh, Sasori?" tanya Sakura marah.

Sasuke hanya diam. Membiarkan Sakura mencaci makinya. Mata Sakura berkilat marah. Kedua tangannya mengepal geram menahan amarah yang ada.

"Sakura, tenangkan dirimu," ujar Sasuke sambil menyentuh pundak Gaara.

Sakura menepis tangan Gaara kasar, sedangkan matanya masih menatap Sasuke dengan benci.

"Tak kusangka, lelaki yang pernah menjadi sahabatku, orang yang kukenal baik. Tega membunuh sahabatnya. Kau itu kenapa, Sasuke?" teriak Sakura marah.

Air matanyanya berlinang. Sakura terlalu banyak menangis hari ini.

"Hey, Uchiha! Jawab aku!" seru Sakura lagi. Linangan itu semakin menggumpal di pelupuk yang membungkus mata emerald indah itu.

"Kau tak perlu tahu, Sakura!" seru Sasuke. Tak tahan lagi melihat Sakura seperti itu.

"Lalu apa? Membiarkan, Sasori mati? Membiarkan kekasihku ditangkap? Aku tak bisa membiarkannya. Sasuke? Kenapa? Kenapa kau mau membunuh, Sasori?" tanya Sakura.

Sebuah sungai kecil nan hangat mengalir di pipi Sakura. Membasahi pipi putih dan mulus itu.

"Jika aku bisa. Aku tak akan membunuh anak itu. Tapi, jika dibiarkan hidup, kota dan Negara kita akan terancam!" jawab Sasuke sengit.

"Kau mulai berlagak di depanku, hey Uchiha. Apa seragam dan pangkatmu sebagai polisi itu sudah mencuci otakmu ya?" tanya Sakura sengit. Kedua matanya disipitkan saat menatap Sasuke.

"Entahlah. Yang kupikirkan, kau pasti akan menangis jika mengetahui… Sasori itu siapa, aku pergi," ucap Sasuke sambil berbalik dan meninggalkan Sakura dan Gaara berdua saja.

"Sasuke! Hey, Sasuke! Berhenti!" seru Sakura sambil berlari mengejar Sasuke.

"Sakura, biarkan, Sasuke pergi."

Suara datar milik Gaara menghentikan langkah Sakura, tangan Gaara menarik pergelangan tangan Sakura.

"Jangan bertindak bodoh jika kau tak tahu apa-apa tentang tugas, Sasuke," lanjut Gaara tenang.

Sakura menunduk, memandang Gaara lewat ekor matanya.

"Apa tugasnya membunuh, Sasori? Sahabatnya sendiri? Ironis," komentar Sakura pelan. Telapak tangannya yang satu lagi mengepal menahan geram.

"Sahabat ataupun bukan, tugasnya sangat berat. Kau belum tahu tugasnya. Hhh, saat waktunya tiba, aku akan memberi tahumu," ujar Gaara sambil melepaskan pegangan tangannya ke pergelangan tangan Sakura.

"Lebih baik, kamu istirahat dan jangan pikir yang macam-macam."

Sakura hanya menurut, membiarkan Gaara memapahnya kembali ke dalam kamar rawat.

.

.

.

"Hey, kau anak baru hebat juga ya," ujar seorang lelaki berambut silver klimis sambil menepuk-nepuk pundak lelaki berambut merah yang sama tinggi dengannya.

Mata coklat hazel lelaki berambut merah itu menatap pemilik violet di depannya dengan tenang. "Itu memang tugasku," balas lelaki berambut merah itu.

"Brrr… udaranya dingin ya un, sepertinya jubah hitam ini tak bisa menghangatkan tubuh kita un," ujar seorang lelaki pirang sambil memeluk tubuhnya sendirinya yang kedinginan. Mata aquamarine lelaki pirang itu menelusuri daerah sekitarnya, mencari sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan.

"Hey, kau juga. Apa jejak kita tidak ditemukan oleh polisi?" tanya lelaki silver itu lagi. Mata violetnya menatap lelaki berambut hitam yang tengah duduk seorang diri di ujung atap gedung.

"Tidak," jawab lelaki berambut hitam itu tenang sambil tetap mengatupkan kedua kelopak matanya.

Tidak memandang bulan gendut yang tersenyum di hamparan langit malam. Bertaburan bintang yang berkelap-kelip indah.

"Oh ya, musim panas ini akan segera berakhir. Sementara tugas kita yang terakhir belum juga tuntas. Ingat, ada perayaan besar-besaran di Suna untuk menyambut musim semi. Kita harus membatalkan perayaan itu secepatnya," ujar satu-satunya perempuan di sana.

"Ah iya, dimana ketua?" tanya seorang lelaki bercadar. Mata hijaunya menatap perempuan di belakangnya.

"Dia pasti sedang beristirahat. Misi kemarin membuatnya lelah," ujar si perempuan lagi.

"Oh."

Tiba-tiba lelaki berambut merah tadi langsung berdiri dan berjalan memisahkan diri dari kelompoknya.

"Hey Sasori! Mau kemana kau?" tanya yang berambut silver.

Sasori—lelaki berambut merah itu tidak menjawab dan langsung pergi.

"Anak itu pendiam sekali," rutuk lelaki berambut silver tadi.

.

.

.

Kring! Kring! Kring! Kring!

Dering telepon memecah keheningan di ruangan rawat Sakura. Sakura langsung duduk dan berdiri kemudian berjalan menuju tempat telepon.

"Ya, halo. Selamat siang," sapa Sakura.

"…"

Tak ada balasan dari penelepon. Sakura berniat akan menutupnya.

"Akan kututup," ujar Sakura.

"…eh tunggu! Jangan kau tutup!" seru penelepon. Suaranya terdengar agak berat di telinga Sakura.

"Ya, ada apa?" tanya Sakura lagi.

"Apa kau, Haruno Sakura?" tanya penelepon itu menyelidik. Sakura mendelik kemudian menjawab iya.

"Beruntung, aku punya kabar bagus untukmu? Siap-siap saja jantungmu agar tidak berhenti berdetak," ujar penelepon itu lagi. Membuat Sakura dihinggapi rasa penasaran.

"Kabar bagus apa?" tanya Sakura lagi.

"Ibumu, Haruno Mika, terbunuh di dekat jembatan antar kota, hahaha," suara berat itu kemudian disusul dengan suara tawa yang menggema di telinga Sakura.

Kening Sakura berkerut. "Ti-tidak mungkin!" seru Sakura.

"Mungkin saja, pink. Kalau tak percaya, silahkan lihat acara berita siang ini di Konoha Channel," ujar suara berat itu disela tawanya.

Tanpa mengembalikan telepon ke tempatnya, Sakura menyalakan televisi yang disediakan di kamar Sakura. Lalu memilih siaran Konoha Channel.

"Kembali lagi di Lintas Berita. Reporter kami, Shikamaru Nara sudah berada di lokasi kejadian atas terbunuhnya nyonya besar Haruno Mika pemilik perusahaan Haruno Corporation. Shikamaru Nara, bagaimana lokasi kejadian?"

Mata Sakura membulat sempurna, telepon yang di genggamannya terjatuh begitu saja.

"Tidak mungkin," lirihnya dan dilanjutkan dengan derai air mata pedih.

.

.

.

"Teme!" Sasuke berhenti sejenak dari pekerjaannya.

Seorang lelaki berambut pirang menepuk pundaknya.

"Ada apa, Dobe?" tanya Sasuke dingin sambil kembali berkutat dengan dokumen-dokumen pentingnya itu.

"Kelompok itu, akan menyerang kota Suna. Dan tujuan pertama mereka adalah…"

Lelaki pirang yang dipanggil Dobe itu menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya.

"…Rumah Sakit Suna. Tempat, Sakura di rawat!"

Mata Sasuke terbelalak.

"Sekarang, kuperintahkan tim untuk bergerak ke arah Suna!"

"Siap!" hormat lelaki pirang itu dan kemudian pergi.

.

.

TBC

.

.


Heyla! Hana datang lagi membawa chap dua. Maaf kalau kurang memuaskan. Dan juga, kemarinkan aku janji buat nambahin GaaSaku lebih banyak, ternyata gak di chapter ini. Maaf atas itu ya. Doakan saja agar chapter depan bisa nambahin GaaSaku-nya baaaaannnnyyyaaak. Hehe (^^v)

Juga, chap depan akan ada flashback. Agar chap ini kelihatan nyambung. Hehe, kalau sekarang sih kayaknya chap ini agak kurang nyambung ya? So, baca chap selanjutnya ya biar bisa mengikuti alurnya.

Terima kasih yang sudah mau mereview di chapter kemarin. Hana ucapkan terima kasih banyak atas reviewnya.

-Terima Kasih Sudah Membaca-

-Review? :D-