Fortune Teller © Lyan-chan

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

SasuHina

Maaf update lama, read as much as you like.

"Apa yang sudah berhasil di lakukan oleh Sakura padamu?"Tanya Sasuke saat mereka sudah berada di atap sekolah gedung selatan , cukup jauh dari kelas mereka yang berada di ruang timur.

"Be-belum."jawab Hinata sambil menundukkan kepalanya , rahang bawahnya cukup sakit. Tekanan kedua jari Sakura sangat kuat-meskipun hanya dua jari.

"Angkat kepalamu … ANGKAT KEPALAMU!"suara Sasuke menaik saat Ia menyuruh Hinata mengangkat kepalanya , namun gadis itu tetap menundukkan kepalanya. Dengan jari telunjuknya , Sasuke mendongakkan wajah Hinata ke arahnya , kulit di sekitar bibir Hinata terlihat merah . Sasuke yang cukup pintar menganalisis keadaanpun mendengus kesal. "Kau bilang ini belum?"Tanya Sasuke dongkol dengan sikap Hinata yang sangat lemot menurutnya.

"I-iya , itu be-belum se-seberapa . Ia akan melakukannya…lagi. Raut wa-wajahnya sangat… keras , Ia tipe orang ya-yang akan melakukan hal …yang …lebih dan lebih."ujar Hinata panjang sambil menjelaskan dengan terbata-bata apa yang di bacanya dari raut wajah Sakura. Ia sudah menghafal di luar kepala isi dari buku ramalan cara membaca garis wajah seseorang.

"Ah, kau meramalnya?"Tanya Sasuke yang sudah mulai mengerti keadaan , 'gadis pecinta ramalan rupanya. Apa itu juga menjadi alasan Ia berpakaian cupu saat pertama kali? Ckck. Menarik .'

"Aku hanya membaca garis wajahnya. Terima Kasih karena sudah menolongku."

"Kau berhutang padaku."tagih Sasuke saat melihat Hinata mulai beranjak menuju pintu atap sekolah itu.

"Ano.. Kau ju-juga berhu-hutang deng-an ku…"ujar Hinata sambil menundukkan kepalanya tanpa memutar badannya menghadap Sasuke.

"Apa?"Tanya Sasuke kebingungan . 'Aku berhutang padanya? Jangan bercanda.'

"A-ano, kau ya-yang men-jadi pe-nyebab Sakura-san ingin me-mukulku…"jawab Hinata dengan terbata-bata lagi, Ia takut Ia salah mengatakan sesuatu kepada Sasuke yang sangat menyeramkan menurutnya.

"Hn. Baiklah, bagaimana kalau kau membayar hutangmu dengan menjadi pacarku? Sehingga aku lebih mudah membayar hutangku padamu dengan melindungimu darinya? Ok. Deal!"ujar Sasuke sambil menjawab pertanyaannya sendiri , meskipun Ia merasa dirinya sangat konyol , namun Ia harus menang dalam taruhan kali ini.

"Aku belum bilang setuju…"tolak Hinata dengan suara lemah.

"Kalau begitu , aku tidak membayar hutangku padamu, tapi kau harus tetap membayar hutangmu padaku. Dan kau akan dikerjai habis-habisan oleh Sakura dan aku tidak akan menolongmu. Bagaimana?"Tanya Sasuke sambil berusaha memojokkan Hinata, dan seringai jahatnya muncul saat Ia melihat Hinata mengganggukkan kepalanya menyetujui tawaran Sasuke dalam hutang menghutang itu. "Baiklah, kau adalah pacarku sekarang!"

'Keberuntungan cepatlah datang …'lirih Hinata dalam hati.

"Kau harus mengingat hari jadi kita, 9 januari."

(~`.`~)

"Sakura, apa yang akan kau lakukan untuk membalas siswi menyebalkan itu? Berani-beraninya Ia mencari tempat yang cukup bagus , sampai kita tidak menyadari bahwa di dalam ruangan itu ada Sasuke-kun!"Tanya Tenten sambil memanas-manasi Sakura yang sedari tadi berjalan kesana –kesini dengan tangan kanan yang berada di dagunya sambil menggenggam ponsel pinknya , tidak lupa tangan kirinya yang dia lipat pada pinggang kirinya.

"Hhhh, aku lelah melihat kau berjalan kesana –kesini seperti setrika , Saku-chan."tegur Ino yang sedang berbaring di kasur empuk Sakura sambil sesekali tertawa menatap ponsel kuningnya . Ia menertawakan foto yang diam-diam Ia ambil saat Shikamaru sedang bangun dari tidur nyenyaknya diperpustakaan siang tadi.

"Diamlah.. Aku sedang berpikir."jawab Sakura tanpa menghentikan aktivitasnya itu. Terlihat kerutan di dahinya yang lebar, dan kedua alisnya yang hampir bertautan.

"Hhh, seharusnya kau memanggil kami saat kau sudah mempunyai ide, lagipula ini sudah malam Saku-" Gerutuan Ino terhenti saat Sakura meneriakkan sesuatu.

"Aha! Aku punya ide !"pekik Sakura dengan tangan kirinya yang menunjuk ke atas. Dahi yang dari tadi berkerut pun mulus tanpa kendala lagi , siap untuk memantulkan cahaya lampu.

"Apa?"kali ini dahi Tenten yang berkerut , Ia bingung ide apa lagi yang akan muncul di otak licik Sakura.

Sakura terdiam sejenak , tampak lagi dahinya yang berkerut . Kemudian kerutan itu semakin mengecil , menunjukkan Sakura semakin bingung. "Ah! Aku lupa lagi. Kalian terlalu berisik sih!"ujar Sakura sambil mengkambing hitamkan Tenten dan Ino yang sedari tadi hanya diam menunggu jawaban Sakura.

"Hhhh."desah Tenten dan Ino secara bersamaan yang melihat tingkah Sakura yang tidak mau kalah.

(~`.`~)

Pagi di kediaman Hyuga terlihat sangat sepi , kecuali ruangan di mana Hinata berada. Hinata berjalan dari satu rak ke rak lainnya , Ia mencari buku ramalan yang selalu di bawanya namun tidak juga menemukannya. Hinata yang sudah memakai seragam lengkapnya itupun melirik sekilas jam tangan di pergelangan tangan kirinya, 06.30.

'Sebaiknya aku menyerah saja untuk mencari buku itu , tapi… mungkinkah ada di dalam tasku?' Dengan semangat 45, Hinata berjalan menuju kamarnya dan mengobrak-abrik tas yang sudah rapi itu. Namun,Ia tidak menemukan apa-apa sampai tangannya meraba kantung depan tasnya. 'Ah! Ini dia!'batin Hinata , Ia begitu senang saat menemukan buku ramalan favoritenya,'meramal keberuntungan.'

'Tapi , apakah aku harus membawanya? Rasanya firasatku tidak begitu baik… ah bawa saja!'

Saat Hinata memasukkan buku-bukunya yang sebelumnya berhamburan dilantai kedalam tas ransel jeansnya,terdengar suara klakson mobil. Hinata mengira bahwa suara klakson mobil itu adalah klakson mobil yang biasanya berbunyi ketika mobil jemputan tetangganya datang-membuat Hinata masih tetap melanjutkan kegiatannya memasukkan buku-bukunya kedalam ransel tanpa memperdulikan intensitas klakson yang semakin cepat. Kegiatan yang dilakukan Hinata memancing emosi seseorang.

Hinata yang kesal dengan intensitas suara klaksonpun memutuskan untuk turun dan memperingati orang tidak sabaran itu. Saat Hinata mengetuk kaca jendela mobil biru metalik tersebut,terlihat kaca itu perlahan-lahan turun menunjukkan wajah sang pengemudi-Sasuke.

"Sasuke-san?"

"Hn."

"Ke-ke-kenapa kamu kemari?"Tanya Hinata gugup. Ia tidak menyangka bahwa Sasuke akan berada di depan gerbang rumahnya sepagi ini.

"Menjemputmu."

"Men-menjemput-ku?"

"Hn. Cepat masuk!"Perintah Sasuke yang emosinya sudah mencapai puncak. Ia cukup lelah untuk berdebat

"Ti-tidak..." Dengan ragu Hinata menolak ajakan Sasuke yang berupa perintah itu. Hinata terlanjur takut dengan perlakuan Sasuke.

"Kau. Tidak. Bisa. Menolakku."Jawab Sasuke dengan penuh penekanan pada tiap akhir suku kata. Hinata yang mendengar penuturan Sasukepun semakin takut,akhirnya Ia pun menuruti perintah Sasuke dan memasuki mobil yang sesaat sebelumnya Ia sudah kembali ke kamarnya untuk mengambil tas ranselnya.

"Sasuke-san. Kenapa kau menjemputku?"Tanya Hinata saat Sasuke sudah melajukan mobilnya menuju sekolah.

"Karena kau pacarku." Sasuke menyetir mobilnya dengan tenang , tentunya dengan raut wajah datarnya yang selalu terpasang. Ia juga merasa bahwa Ia akan memulai hidup yang menyenangkan,karena Ia mulai merasakan aura kemenangan. Ia pasti akan memenangkan taruhan itu.

Perlahan wajah Hinata mulai memerah, baru pertama kalinya Ia merasakan perasaaan seperti ini. "Sasuke-san… Terima kasih."

Sejenak Sasuke tertegun, Ia bingung bagaimana bisa Hinata mengatakan terima kasih kepadanya saat dalam pikirannya Ia sedang mempermainkan Hinata bahkan saat ini Ia juga sedang mempermainkan Hinata,"untuk apa?"

"Karena… te-telah menjadikan ku… ke-ke-kekasih-mu."jawab Hinata sambil menundukkan wajahnya yang sudah sangat merah. Ia cukup malu untuk mengatakan hal tersebut,apalagi Sasuke bukan pria yang dikenalnya lama, namun pria yang baru-baru ini dikenalnya.

(~`.`~)

"Sasuke-kun tunggu se-sebentar."Pinta Hinata saat Ia ingin berhenti sebentar dilokernya untuk mengganti sepatu dan mengambil beberapa bukunya. Sejenak Ia berpikir,lebih baik Ia membawa buku ramalan keberuntungannya atau meninggalkannya diloker? "Cepatlah!" Suara Sasuke sontak membuatnya dengan cepat meletakkan buku ramalannya di dalam lokar dan tidak lupa Ia menguncinya,namun loker tersebut tidak terkunci seperti yang dipikirkan oleh Hinata. Saat Hinata berjalan pergi menyusul Sasuke yang sudah berjalan menuju kelas mereka,loker Hinata terbuka dan buku ramalannya diambil oleh siswi berambut merah muda panjang-Sakura.

"Pecinta ramalan? Baikklah,mari kita lihat siapa yang akan menang."ujar Sakura kepada diirnya sendiri sambil tertawa dengan penuh kemenangan dan berjalan dengan tenang menuju kelasnya.

"Hei jidat! Apa yang kau bawa itu?"Bisik Ino saat Ia melihat Sakura duduk disebelahnya sambil menaruh telunjuk jarinya didepan bibir pink miliknya-yang menandakan Ino untuk diam.

Sakura menunjuk buku di tangan kirinya,"Ini? Oh. Ini buku ramalan milik si cupu yang ku ambil dari dalam lokernya yang terbuka. Bukan salahku bukan? Salahnya kenapa Ia tidak mengunci lokernya dengan benar dan menaruh buku ramalan penting baginya di dalam loker."

"Ya…ya kau benar jidat. Mungkinkah… kau memiliki rencana dengan buku ramalan itu?"Tanya Ino dengan hati-hati, Ia tidak ingin ikut andil dalam rencanya Sakura yang tentunya pasti akan berakhir dengan berlebihan.

"Tentu. Gadis pecinta ramalan tentu akan berakhir dengan ramalan juga bukan?"Tanya Sakura dengan seringaian liciknya.

(~`.`~)

"Hei,Sakura kenapa kau membeli nomor ponsel baru?"Tanya Tenten yang menemani Sakura pulang. Ia bingung, apa yang akan dilakukan Sakura dengan nomor ponsel baru tersebut. 'Mungkinkah Sakura ingin mengganti nomor ponsel? Atau Sakura ingin mengoleksi nomor ponsel cantik? Ataukah Sakura ingin… mengerjai seseorang?'batin Tenten.

"Hei.. Sakura. ? Jangan bilang bahwa kau ingin mengerjai seseorang?" Tanya Tenten dengan wajah ragu, Ia takut bahwa Sakura akan berlaku berlebihan, dan hal ini pasti ada hubungannya dengan Sasuke dan Hinata. Pada awalnya Tenten memang sengaja memanas-manasi Sakura untuk mengerjai Hinata, namun Ia takut gadis lemah seperti Hinata tidak akan sanggup bertahan dengan perlakuan Sakura.

"Ya! Tebakanmu benar Tenten. Tepatnya aku akan mengerjai si pecinta ramalan itu."jawab Sakura dengan senyum penuh kemenangan dan mata yang berkilat-kilat tanpa mengalihkan pandangan dari meja kaca didepannya.

"Si..siapa?"Tanya Tenten yang sudah merasakan bulu kuduknya yang berdiri.

"Siapa lagi , kalau bukan Hi-na-ta."Eja Sakura dengan perlahan.

"Apa kau yakin?" Tenten merasakan pelipisnya sudah mengucurkan keringat dingin, apalagi saat ini Sakura tidak melunturkan satu sentipun seringaiannya.

"Tentu. Bahkan aku yakin aku dapat membuat si pecinta ramalan itu termakan oleh kepercayaannya sendiri."

(~`.`~)

Siang berlalu dengan cepat seperti kedipan mata. Hinata yang sedang menaiki tangga menuju kamarnya mendengar suara ponselnya yang berbunyi dengan keras, dengan cepat Ia menaiki satu persatu anak tangga. Saat Ia melihat perlahan-lahan layar ponselnya mulai meredup Ia menekan salah satu tombol yang akhirnya membuat ponsel tersebut hidup kembali dan menujukkan sebuah gambar berbentuk pesan bertuliskan satu pesan diterima.

"Dari nomor asing? Ramalan? Aku tidak boleh berpacaran dengan orang yang inisialnya… S? Dan …aku harus mengasingkan diri? Jika tidak.. aku akan mendapatkan kesialan bertubi-tubi? Hah!"Ucap Hinata sambil membaca pesan yang diterimanya.

"Apa aku harus percaya? Aku sedikit takut dengan kesialan bertubi-tubi. Tapi…" Hinata kembali mengingat kata-kata Sasuke saat Ia diantar oleh Sasuke kembali ke kediamannya,'Jika ada yang mengirimimu pesan aneh dan dari nomor yang tidak dikenal, acuhkan saja. Itu tidak penting.'

"Pesan ini benar-benar tidak penting."ucap Hinata lagi kepada dirinya sendiri. Ia pun memencet beberapa tombol ponselnya, dan pesan tersebut pun terhapus, tanpa sebuah rasa penasaran yang terbersit dalam benar Hinata siapa yang mengiriminya pesan tersebut.

"Itu adalah penipuan..Hinata."ucap Hinata kepada dirinya sendiri,lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Dan rencana pertama Sakura,gagal.

(~`.`~)

Paginya Hinata yang masih merasa sedikit khawatirpun mencoba untuk tidak perduli dengan pesan yang tadi malam Ia terima. Ia merapikan seragam yang Ia pakai, dan berjalan menuju gerbang depan untuk menaiki mobil yang dikendarai oleh Sasuke yang sudah berkata akan menjemputnya.

"Apa tidurmu nyenyak?"Tanya Sasuke sambil melajukan mobilnya menuju sekolah. Sesekali Ia melirik kearah Hinata yang sedang melamunkan sesuatu sambil menaut-nautkan kedua telunjuknya.

"Hei!"panggil Sasuke sambil mengguncang Hinata dengan tangan kirinya.

"Ah,iya? Ada apa,Sasuke-san?"

"Ada apa denganmu?"

"Ya? Aku tidak apa-apa,Sasuke-san."

"Bisakah kau memanggilku dengan Sasuke-kun? Apa tidak aneh jika didengar orang? Kau berpacaran denganku ,namun kau memanggilku Sasuke-san? Ckck."Tanya Sasuke dengan kesal. Bagaimana tidak? Bagaimana jika kau mempunyai pacar-meskipun pura-pura-,tapi Ia tetap memanggilmu seolah-olah kau adalah orang yang asing?

"Ha'I,ma-af-kan a-aku,Sa-sasuke…-kun."jawab Hinata dengan malu-malu. Ia begitu gugup untuk memanggil seseorang dengan suffix-kun.

"Hn."jawab Sasuke dengan singkat dan Ia kembali memfokuskan konsentrasinya kembali kepada mengemudikan mobilnya agar mereka sampai dengan selamat ke sekolah.

(~`.`~)

"Sa-sasuke-kun… ada surat di dalam lokerku.."panggil Hinata dengan pelan. Wajah Hinata memerah,Ia mendapatkan surat cinta dari seseorang! Sasuke yang juga sudah mendekati Hinata saat dipanggil Hinatapun dapat melihat bahwa Hinata mendapatkan surat cinta dari seseorang.

Sebelum Hinata membuka surat cinta tersebut, Sasuke sudah terlebih dahulu merebut surat tersebut,merobeknya dan membuangnya ke dalam tong sampah sekolah. Kemudian , Ia berjalan kembali dan menggandeng Hinata menuju kelas mereka.

Sasuke yang melihat raut kesal di wajah Hinatapun , mulai menggoda Hinata-mungkinkah Sasuke cemburu sehingga Ia menggoda Hinata?

"Surat cinta pertama,ha?"Tanya Sasuke dengan seringaian khasnya, saat Sasuke melihat Hinata menganggukkan kepalanya dengan perlahan seringaian Sasuke mulai meluntur dan Ia kembali berkata dengan nada tinggi,"Aku akan mengirimu berapapun surat cinta yang kau mau,untuk menggantikan surat cinta jelek itu! Berani-beraninya Ia mengirimu surat cinta, kau. itu. pacarku. Pacar Uchiha Sasuke!"

"Sasuke-kun… kau kenapa?"Tanya Hinata yang mendengar perubahan nada bicara Sasuke, dengan perlahan Hinata menatap wajah dan beberapa detik kemudian Hinata menatap Sasuke tepat pada matanya. "Sasuke-kun cemburu…?"Tanya Hinata sekali lagi.

"Aku? Seorang Uchiha Sasuke? Cemburu? Hah!" Sasuke pun berjalan pergi dan melepaskan genggaman tangannya dengan Hinata. Sekilas terlihat rona merah pada pipi sang Uchiha Sasuke.

(~`.`~)

"Sakura…Sakura..!"panggil Tenten yang sedang berlari menuju Sakura yang sedang duduk tenang sambil mendengarkan lagu.

"Ada apa,Tenten?"Tanya Sakura dengan tenang dan melepaskan earphonenya dengan slow motion.

"Aku..melihat Sasuke dan Hinata bertengkar . Dan Sasuke meninggalkan Hinata dengan wajah merah seperti sedang marah."jawab Tenten sambil mengatur nafasnya. Ia dengan tidak sengaja melihat adegan yang dianggapnya pertengkaran itu, dan dengan cepat Ia berlari mencari Sakura saat Ia melihat Sasuke pergi meninggalkan Hinata.

"Baguslah, berarti aku cukup hebat dengan ide surat cinta itu. Hahaha."jawab Sakura dengan bangga.

"Tapi, aku melihat Sasuke dan Hinata tidak membacanya. Sasuke langsung merebut , merobek dan membuang surat cinta itu ke dalam tong sampah."jawab Tenten lagi sambil berpikir keras.

"Oh,mungkin sebentar lagi Sasuke akan memutuskan Hinata,karena Ia pasti mengira Hinata dekat dengan banyak pria,karena salah satu pria selingkuhan Hinata mengirimi Hinata surat cinta."elak Sakura sambil menaikkan kedua bahunya , menandakan bahwa Ia tidak perduli.

"Meskipun aku tidak bisa mendengar perbicaraan mereka, namun aku yakin Sasuke tidak akan memikirkan apapun yang kau pikirkan. Pasti Sasuke cemburu,dan marah!"

"Tidak mungkin!"jawabSakura sekali lagi dengan tenang sambil mengibas-ibaskan telapak tangannya menuju Tenten.

"Apakah kau pernah berpikir jauh sebelum menjalankan rencanamu?"Tanya Tenten dengan halus kepada Sakura,Ia takut Ia dapat menyinggung Sakura dan akhirnya Ia menjadi salah satu korban penyiksaan Sakura.

"Tidak."jawab Sakura dengan blak-blakan. Namun detik berikutnya Ia terdiam dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi.

(~`.`~)

"Siapa yang melakukan ini kepadamu,hah?"Tanya Sasuke kepada Hinata yang sedang meringkuk di dalam ruang ganti pakaian, saat itu memang mereka sedang akan mengikuti pelajaran berenang dan Sasuke menunggui Hinata di luar ruang ganti pakaian wanita. Namun,perasaan Sasuke menjadi khawatir saat Ia melihat semua teman wanita kelas mereka sudah keluar dari ruangan itu sejak sepuluh menit yang lalu,dan mengganti pakaian selama tiga puluh menit itu bukan sesuatu yang wajar. Akhirnya karena khawatir akan Hinata, Sasuke pun merendahkan warga dirinya dan memasuki ruangan tersebut .

"A-aku ti-tidak tahu!"Jawab Hinata sambil bergetar ketakutan.

Dengan spontan Sasuke merendahkan badannya dan memeluk Hinata,"Tidak apa-apa. Ada aku di sini, jangan menangis lagi." Saat Sasuke mengatakan hal itu, Hinata semakin menangis dengan keras di sertai dengan jeritan yang di tahan. "Diamlah!"Perintah Sasuke yang sedikit kesal.

"Ba-bagai-mana a-aku bi-bisa di-am! Ti-tikus-nya ber-a-da di-di-disam-pingku dan... Dan meng-gi-git ta-tanganku! A-aaaa!"Jawab Hinata sambil berteriak.

Sasukepun mengacak rambutnya frustasi, dan mengusir tikus itu pergi. "Hanya ini alasan aku harus menunggumu tiga puluh menit diluar?"

"I-itu li-lihat lo-lokerku!"Jawab Hinata tanpa memandang lokernya, Ia terlalu takut melihat pintu lokernya yang ditulisi 'Jauhi Sasuke,atau mati' dengan darah,beberapa tikus yang masih berada di dalam lokernya dan seragam renangnya yang sudah robek di beberapa tempat.

"Aku tahu siapa yang melakukan ini padamu!"Ujar Sasuke sambil berlari keluar meninggalkan Hinata, namun Ia berhenti dan kembali lagi sambil memapah Hinata naik dan membawa Hinata menuju ruang kesehatan.

"Kau.. Kau ta-hu si-siapa yang me-laku-kan ini ke-kepadaku?"Tanya Hinata sambil memainkan ujung seragamnya yang keluar.

"Hn. Tunggulah."Jawab Sasuke sambil berjalan keluar ,namun terhenti karena pergelangan tangannya yang ditarik oleh Hinata dari kantung celananya.

"Ja-jangan ber-lebihan ter-ha-hadapnya."

"Hn!"

(~`.`~)

"Kenapa dengan wajahmu,Sakura? Bukankah tadi kau tertawa dengan penuh kemenangan? Kenapa sekarang wajahmu... Pucat pasi?"Tanya Tenten yang melihat perubahan warna kulit wajah Sakura.

"A-aku melakukan kesalahan... Kesalahan fatal yang hanya diketahui oleh Sasuke!"Jawab Sakura sambil menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan tanpa diam , tanda Ia sedang berfikir.

"A-apakah itu?" Perlahan Tenten merasakan aura cemas dari tubuh Sakura, hal ini pasti tidak baik. "Apa itu Sakura? Apa kau memasang jebakan lagi?"

"Hn. Dia memasang jebakan lagi Tenten. Terhadap .KU!" Kali ini bukan Sakura lagi yang menjawab pertanyaan Tenten,namun Sasuke sendiri yang sudah menjawab pertanyaan Tenten.

"Ma-maafkan aku,Sasuke-kun!"Jawab Sakura sambil menundukkan kepalanya , tidak berani menatap langsung Sasuke.

"Hanya kau seorang yang menulis namaku dengan sebuah love di atas setiap huruf S nya. Ya... Aku masih mengingatnya Sakura."

(~`.`~)

"Sasuke-kun! Aku menyukaimu! Hihihi."Ucap Sakura yang masih kecil kepada Sasuke sambil menyerahkan surat cinta pertama yang dibuatnya untuk Sasuke.

"Hn." Sasuke mengambilnya dan langsung membuangnya ke dalam tong sampah saat Ia melihat cara Sakura menuliskan namanya dengan gambar cinta di atas setiap huruf S.

"Ke-kenapa kau membuangnya , Sasuke-kun?" Tanya Sakura yang sudah mulai menangis.

"Hn."

"Paling tidak baca dulu isinya, aku sudah membuatnya dengan su-susah payah..." Pinta Sakura kepada Sasuke yang sudah berjalan pergi. Sakura pun berlari pelan menuju tong sampah, dan mengambil surat cintanya yang sudah dibuang oleh Sasuke dan memberikan isinya kepada Sasuke.

Sasuke menyerngitkan dahinya saat Ia melihat begitu banyak namanya , dan di setiap huruf S namanya selalu ada gambar cinta, Ia membacanya sekilas dan mengembalikan surat cinta itu lagi kepada Sakura,"Hn. Aku sudah membacanya, aku menolakmu."

Pengalaman masa kecil yang selalu berulang sama bagi Sakura dan Sasuke , yang tentunya selalu berakhir pernyataan cinta dari Sakura dan ditolak oleh Sasuke. Namun hal ini berakhir saat mereka berdua menduduki kelas dua menengah pertama. Sakura tidak lagi menyatakan cinta secara terang -terangan , namun Ia tetap melihat Sasuke dan mengganggu siswi-siswi yang mencoba mendekati Sasuke. Dan beberapa kali Sasuke menangkap tulisan Sakura yang menulis namanya dengan gambar cinta di setiap bagian atas huruf S sampai saat ini,baik di buku gadis itu, maupun di meja yang diukir dengan penggaris.

(~`.`~)

"Maafkan aku Sasuke-kun!"

"Jangan meminta maaf padaku,minta maaflah pada Hinata!"

"Pukul aku Sasuke-kun,supaya aku sadar!" Sakura menarik tangan kiri Sasuke dan diarahkannya kepada pipinya yang sudah berlinan air mata.

"Tidak."

"Pukul aku , Sasuke-kun!" Teriak Sakura histeris sambil menggoyang-goyangkan telapak tangan Sasuke, menandakan agar Sasuke memukul wajahnya.

"Tidak. Berterima kasihlah kepada Hinata, jika tidak aku sudah akan memukulmu. Aku tidak perduli apakah kau wanita atau bukan jika kau sudah mengganggu milikku!"

Sasuke berjalan pergi sembari menarik tangannya dari genggaman Sakura menuju ruang kesehatan untuk melihat keadaan Hinata.

"Sa-sasuke-kun! Kau tidak memukulnya kan?" Tanya Hinata saat Ia melihat Sasuke duduk di kursi di samping tempat tidurnya.

"Hn."

"Siapa yang melakukan hal ini terhadapku?"

"Sakura."

"A-aku..."

"Dia tidak akan melakukannya lagi,tenang saja." Jawab Sasuke untuk menenangkan Hinata yang mulai bergetar menahan tangis lagi.

"Sudahlah, mau pulang?"

"Hmm."

"Baiklah, tunggu aku di sini, jangan pergi . Aku akan membawakan barang milikmu."

"Arigatou,Sasuke-kun."

"Untuk apa? Membawakan barangmu?"

"Terima kasih karena sudah menolongku."

"Hn." Sasuke membalikkan tubuhnya , berjalan pergi sambil menyunggingkan senyumannya.

(~`.`~)

"Hei, Sasuke! Kenapa kau tidak mengikuti pelajaran tadi? Jangan-jangan... Kau sudah menikmati tubuh Hinata. Hahaha." Tanya Naruto sambil tertawa lebar dan mengacungkan kedua buah ibu jarinya.

"Dasar mesum!" Tegur Gaara kepada Naruto.

Sasuke tidak memperdulikan teman-temannya , Ia tetap berjalan menuju meja Hinata, merapikan buku yang ada di laci gadis itu , dan kembali berjalan keluar kelas. Namun langkahnya terhenti saat Gaara membahas tentang taruhan mereka.

"Kau sudah berpacaran dengannya bukan , aku jamin kau tidak akan bisa memenangkan pertaruhan itu. Berpacaran selama satu bulan dengan gadis cupu itu pasti menyiksamu. Hahah."Ejek Gaara sambil berjalan mendekati Sasuke.

"Hn."

"Bertahanlah Sasuke , semoga kau berhasil! Haha."

"Aku akan hentikan taruhan ini."

"Kenapa ha? Itu artinya aku dan Naruto yang menang."Tanya Gaara sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Mungkin Teme sudah mulai menyukai Hinata-chan."Jawab Naruto dengan raut wajah polos dan berjalan keluar kelas.

"Aku menyuka-" jawaban Sasuke terpotong saat Ia mendengar teriakan Naruto yang memanggilnya.

"A-aku melihat Hinata-chan berlari pergi , sepertinya Ia mendengar percakapan kita tentang taruhan ini. Bagaimana ini Sasuke?" Naruto melihat bayangan seorang gadis berambut lavender yang berlari menjauhi mereka , Naruto yakin sekali bahwa gadis yang berlari pergi itu adalah Hinata.

"Biarkan saja." Meskipun ia berkata seperti itu,namun terdengar nada cemas dalam ucapan Sasuke kali itu, Gaara dan Naruto mulai menyadari bahwa Sasuke sudah mulai menyukai gadis itu.

(~`.`~)

Hinata yang mulai merasa bosan dengan suasana ruang kesehatan pun berjalan keluar dari ruangan itu, Ia berniat untuk menyusul Sasuke menuju kelas . Bukankah tidak baik untuk merepotkan orang terus menerus?

Hinata berjalan perlahan menuju kelasnya, namun saat Ia mendekati kelasnya , sayup-sayup terdengar suara Naruto,"Hei, Sasuke! Kenapa kau tidak mengikuti pelajaran tadi? Jangan-jangan... Kau sudah menikmati tubuh Hinata. Hahaha."

Perlahan rona merah mulai muncul di kedua pipi Hinata, 'Dasar mesum.' Batin Hinata.

"Dasar mesum!"

'Betul! Eh? Suara Gaara-san?'

"Kau sudah berpacaran dengannya bukan , aku jamin kau tidak akan bisa memenangkan pertaruhan itu. Berpacaran selama satu bulan dengan gadis cupu itu pasti menyiksamu. Hahah."

'Taruhan? Aku? Gaara-san berbicara siapa? Dengan siapa?' Tidak lama kemudian , pertanyaan Hinata dalam hatipun terjawab, "Hn."

'Suara Sasuke-kun?'

"Bertahanlah Sasuke , semoga kau berhasil! Haha."

"Aku akan hentikan taruhan ini."

"Kenapa ha? Itu artinya aku dan Naruto yang menang."

'Berhenti? Berarti Sasuke-kun mempermainkanku? Gaara-san dan Naruto-san yang menang?'

Hinata yang tidak sanggup mendengarkan lagipun berlari menjauhi kelasnya , Ia tidak perduli lagi dengan barang-barang miliknya yang sedang di ambil oleh Sasuke , sayup-sayup terdengar suara Naruto, "Mungkin Teme-". Ia tidak perduli lagi dengan apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya, Ia menulikan telinganya. Hatinya cukup sakit, mengakibatkan Ia menangis sambil berlari sejauh-jauhnya.

Kakinya sudah tidak mampu berlari lebih jauh lagi , saat Ia melihat semak-semak Hinatapun memutuskan untuk bersembunyi di balik semak-semak tersebut.

Ia menangis sambil membekap mulutnya sendiri, Ia tidak ingin suara tangisannya terdengar oleh orang lain. Hatinya cukup sakit , apalagi saat Ia berharap bahwa Sasuke melihatnya berlari menjauh atau bahkan mengetahui bahwa Hinata mendengarkan percakapan mereka dan menyusulnya ke tempat ini dan mengatakan bahwa semua itu tidak benar. Namun,semua harapannya tidak akan terkabul, semua itu nyata, dan Sasuke tidak mengejarnya.

"Aku kecewa padamu,Sasuke-kun. Kenapa hatiku sakit sekali? Haruskah aku membuatmu menyesal?"Tanya Hinata kepada dirinya sendiri , sambil membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.

Tbc.

Apa yg bkl Hinata lakukan yaaa ? Bagaimana dengan Sasuke? Hihihi.

Review kalian semua udh ku baca kok, thankyou yaa . Hihihi. Reviewnya semua bkin aku terbang loh~

Review?