.Love.

Raten : T

Disclamer : Ishida Sui.

Story : Namikaze Yukiko-chan

Warning : Ke OOC-nya yang akan membuat anda sekalian muntah, pasti ada bumbu Shonen-ai, EYD yang gak pernah bener, humor garing dan segala yang ancur-ancur beserta MissTYPO yang bertebaran di sepanjang cerita, Papa Arima yang bersaing sama bocah-bocah yang statusnya anak si uke yang bikin Arima pusing kepala berbi –di kejar Arima—

Summary : Haise seorang Papa muda yang mengurus 4 orang anak yang susah di atur. Suatu hari bertemu dengan Arima tampa sengaja, yang membuat anak-anak haise cemburu karena kemodusan arima yang gagal. Akankah Arima mampu menaklukan si uke sekaligus mendapat restu dari para anak kecil itu?

.

.

.

.

Langsung aja di baca!

Don't like, don't read.

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

"Hide, berhentilah menggodaku…. Kita sedang di kantor." Ucap si surai hitam-putih sebari menahan malu di lihat oleh beberapa rekan kerjanya, karena suara Hide lumanyan bisa terdengar orang lain.

"Ayolah, hanya sebentar saja… lagipula, ketika lulus SMA kamu langsung menikah sama janda beranak tiga." Canda si surai pirang yang bernama lengkap Hideyoshi Nagachika, sebari merangkul pundak lelaki yang bisa di sebut sahabatnya sejak kecil itu.

"Kamu seperti menghina mendiang istriku saja." Balas Haise sedih.

"Sudalah Sasaki, kamu harusnya mencari peganti mendiang istrimu. Aku selalu melihatmu kesusahan merawat mereka semua sendirian."

"…." Haise tidak membalas perkataan Hide. Dia tau, si pirang pasti sedikit khawatir dengan keaadaannya menjadi single parent. Mengurus anak bukanlah pekerjaan yang gampang, apalagi mengurus empat anak sekaligus yang belum puber. Untunglah Haise menyukai anak kecil. Kalau tidak, mungkin dia tega mencincang(?) anak asuhnya. Awalnya Haise sangat kesulitan mengurus semuanya sendiri. Bahkan sampai sempat di marahi atasan, karena sering sekali melakukan kesalahan. Untungnya beberapa teman yang bersedia membantu untuk mengurus anak-anaknya.

"Hoi… Sasaki, kamu dengar aku?" tanya Hide membangunkannya dari lamunan.

"Eh apa?" tanyanya, Haise baru sadar kalau lengan sahabatnya sudah tidak berada di pundaknya.

"Itu loh… salah satu investor besar di perusahaan ini datang." Ucap si pirang sebari menunjuk se sosok lelaki berperawakan tinggi berambut putih berkacama mata yang sangat di ketahui oleh si surai hitam-putih.

"Namanya Arima Kisho" tampa sengaja kedua sahabat itu mengatakan hal yang sama.

"Eh, Sasaki kau sudah ta— eh kok malah sembunyi?" Tanyanya kaget ketika pemuda bernama lengkap Haise Sasaki segera menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh lelaki bernama Arima. Sebari berkeringat dingin. Haise segera menceritakan kejadian tadi pagi kepada Hide. Tentunya masih dengan bersembunyi di bawah meja kerja si surai hitam-putih. Termasuk adegan ciuman tanpa segaja itu.

"Oh… begitu rupanya… pantas saja, bibirmu sedikit berdarah."

"Kalian sedang apa di bawah meja?" tanya seorang karyawati kantor berambut biru pendek tersebut. Yang di sambut teriakkan kaget kedua orang yang sedang sembunyi di bawah meja. Terdengar juga suara DUK..! keras dari meja tempat mereka sembunyi.

"Maaf deh… Touka-chan, kita sedang ada rahasia antar lelaki yang harus di jelaskan di bawah meja." Jawab Hide ngawur. Haise masih saja mengelu-elus kepalanya yang berciuman dengan meja itu.

"Kalau kalian tidak kerja, nanti akan di pecat loh dari perusahaan." Balas Touka sebari memberikan setumpuk dokumen. "nih, kerjakan…. Ini hukuman kalian yang mengobrol di saat jam kerja." Lanjutnya.

"Sebanyak ini…?!" Ucap Haise kaget melihat tumpukan menara yang bertuliskan lembar kerja yang harus mereka selesaikan berdua.

"Itu sih masih belum sebarapa… mau aku tambah lagi tumpukannya?"

"Tidak, ini cukup!" ucap keduannya mantap.

"Ayo cepat kerjakan!" lalu gadis bernama lengkap Kirishima Touka itu segera pergi dari meja kerja kedua sahabat sedari Orok tersebut.

"Kita lanjutkan saja deh setelah pekerjaan kita selesai , Bro." Ucapan Hide ada benarnya, jika mereka tak segera mengerjakan seluruh dokumen di berikan Touka yang merangkap jadi sekertaris direktur. Bisa di pastikan mereka akan mengemis di jalanan kota, karena tidak memiliki pekerjaan.

Merekapun mulai segera mengerjakan setumpuk lembar kerja yang di berikan sekertaris cantik namun Tsundere tersebut. Suara ketikkan mendominasi di tempat mereka bekerja, meski terdengar beberapa orang yang mengobrol, melangkah dan beberapa suara lainnya. Surai hitam-putih milik Haise terlihat berkeringat, mungkin karena hari ini musim panas. Yang meski perusahaan memasang AC di tempat dirinya bekerja, namun masih saja terasa panas.

Tak terasa sudah waktunya jam kerja berakhir, si pemuda bermata black night itu masih fokus mengerjakan tugasnya yang belum selesai.

"Sasaki, kamu berniat lembur lagi?" Tanya si pemilik bermata madu, sebari memberikan minuman kaleng dingin.

"Tidak kok… sebentar lagi juga selesai. Kamu jalan ajah dulu." Balas haise tanpa bertatap mata langsung dengan si pirang yang berada di sampingnya.

"Oke..! oh ya, ini untukmu… aku simpan di disini ya.." sebari tersenyum, Hide segera meletakan minuman tersebut di meja kerja Haise. Lalu segera berjalan keluar.

"Sasaki...! cepatlah menikah lagi ya~" sebari cengegesan Hide segera lari sebelum sahabatnya itu melempar sisa dokumen yang belum selesai ke arahnya.

"Mou…!" Haise lalu melanjutkan mengerjakan sisa kerjanya.

Semua karyamwan dan karyawati di sekeliling Haise sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Hanya tinggal dirinya sendirian di kantor. Kata lembur di kamus hidup Haise Sasaki bukanlah hal baru di lakukan. Makanya di sering membuat sarapan sekaligus makan siang dan makan malam, jikalau dirinya tiba-tiba lembur. Suasana kantor perusahaan sangatlah sepi yang mungkin, atau bahkan bisa mengalahkan kuburan di kompleks rumahnya. Kalau saja suara ketikkan dari keyboard komputer itu membuat suasana tidak terlalu mencekam. Kalau seandainya ada hantu yang numpang lewat di kantor si surai hitam-putih.

"Akhirnya selesai juga."

Haise segera merapihkan diri dan segera meninggalkan kantor. Kali ini dia tak berlari seperti biasa dia lakukan. Masih trauma kalau dia menabrak orang lain lagi. Apalagi yang di tabraknya tadi pagi itu adalah investor besar perusahaannya. Bisa mati di pecatlah dirinya, kalau investor terbesar perusahaan mengatakan hal memalukan itu kepada direktur perusahaan. Mungkin tidak hanya di pecat. Penghinaanpun mungkin dia dapat.

Arloji milik Hiase menunjukkan pukul 10 malam. Tanda bahwa anak-anaknya mungkin sudah tertidur semua.

Mungkin,

Tapi mengingat Saiko –anak terakhirnya— terlampau manja itu, pasti akan menungguinya hingga pulang. Jalanan kota masih saja agak ramai. Terlihat saja jalanan yang masih di penuhi pejalan kaki yang berlalu-lalang.

Haise masih berjalan di jalanan kota. Dia melanggerakkan kakinya dengan cepat, dia berharap anaknya tidak menungguinya seperti biasa.

TIN…! TIN…!

Suara klakson mobil terdengarnyaring di samping Haise. Kaca mobil tersebut segera turun yang menampakkan sesosok pria yang menyetir mobil sendiri dan segera menunjuk kearah Haise. Haise hanya bisa membeku, karena Pria itu adalah Malaikat kematiannya keluar dari perusahaan –bukan— Dia hanya manusia biasa yang memiliki pengaruh yang besar dalam hidup pemuda bersurai hitam-putih yang tak lain Arima Kisho.

"A-Arima-san…!" refleks, Haise berteriak memanggil nama si silver.

"Niklah." To the point.

"Eh… tapi" ucap Haise agak mau satu mobil sama sang investor besar.

"Bukannya kita tinggal di apartemen yang sama."

"…." Haise tanpa berkata sepatah katapun segera menaiki mobil berwarna hitam milik si pria berkacamata tersebut. Sebari misa-misu –dengan sembunyi-sembunyi tentunya— mengutuk dirinya bisa satu apartemen dengan pria yang namanya berarti kesatria. Mungkin dia harus menabung untuk kedepannya agar bisa pindah apartemen.

"Kau belum memakai sabuk pengamanmu." Ucapan Arima membuatnya tersadar dari lamuannya.

"Eh… ah..! maaf!" tangan haise segera saja mencari sabuk pengan di mobil. Terlihat si surai hitam-putih gugup sekali.

Arima yang melihatnya gugup dan bahkan seperti susah mencari di mana tali sabuk pengaman mobil. Segera saja membantu. Karena mobil miliknya masih berhenti, jadi Arima bisa leluasa bergerak tanpa khawatir menabrak sesuatu di jalan. Lengan Arima segera mengambil sabuk pengaman yang berada di sebelah kiri haise yang membuat keduah wajah mereka hampir bertabrakan. pipi Haise memerah malu karena terlihat bodoh di hadapan pria berumur 32 tahun itu.

'Kami-sama, tolonglah jangan mngerjain aku terus dong.' Batin Haise yang sudah memerah sekali wajahnya, karena tidak kuat menahan malu. Selama perjalanannya di dalam mobil mewah Arima. Apalagi, lelaki berumur 27 tahun itu tak punya topic pembicaraan yang bisa menghilangkan kecangungan di antara mereka.

Setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai di apartemen tempat mereka tinggal. Lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk. Di dalam lift, mereka lagi-lagi berdua. Setidaknya biasanya ada sepupunya yang tinggal di apartemen yang sama dengan mereka, biasa menyapa Haise di jam-jam segini, di kala Haise lembur.

"Oh, ya." Ucapan Arima memecahkan keheninggan di dalam lift, membuat Haise kaget.

"YA…!" segera menjawab.

"Namamu siapa." Pertanyaan Arima membuat Haise bengong beberapa saat, sampai kedua bola matanya berkedip tiga kali.

"Ah… nama Saya Haise Sasaki." Ucap si surai hitam-putih sebari membungkukkan badan.

"Tidak perlu formal begitu."

Thing…!

Suara pintu lift terbuka, merekapun melangkah keluar dari dari lift. Langkah Haise terhenti di kamar berpapan nama bertulis Sasaki.

"Arima-san, terima kasih telah mengantarku…. Oyasumi nasai." Pamit Haise segera membuka pintu. Saat Haise akan masuk, lengan kirinya di tarik. Kejadian itu sangatlah cepat, tampa sadar bibir mereka bertemu kembali. Ciuman itu hanya sebatas menempoelkan bibir mereka.

"Kalau begitu, Oyasumi." Segera arima membuka pintu apartemennya yang berada di samping pintu kamar Haise.

Langsung saja pipi Haise memerah hebat. 'A-A-A-A-A-A-Apa Itu?!' Batin Haise tak mengerti apa yang terjadi. Lalu melangkah ke apartemennya. Hal yang paling horror saat ini tengah terjadi, haise bisa melihat se sosok gadis kecil berkucir twintail itu tengah memandang kearahnya. Setelah itu si surai ungu segera berlari masuk ke dalam. Sepertinya dia melihat hal yang tak pantas.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Nee~ Haise-chan, kemarin Saiko bercerita kalau kau berciuman dengan seorang pria." Ucapan mendadak dari seorang gadis berambut sepundak itu sukses membuat lelaki bersurai hitam-putih itu menyemburkan kopi yang di pesannya.

"Ih~ jorok deh…!" sebari memberikan tisu ke Haise. Mereka berdua saat ini berada di café terkenal di pusat kota.

"I-itu cuman ciuman selamat malam." Jawab Haise mencoba meluruskan kesalahan yang terjadi.

"Ah… es-kopi ku sadah habis… Irimi-san…! Aku pesan es-kopi lagi…!" uacapnya kea rah seorang wanita berparas cantik beramburt hitam lurus. Yang di balas anggukan.

"Yukiko-chan, itu sudah es-kopi yang ketiga." Ucap Haise yang sweatdrop melihat tingkah sepupunya.

"Tidak masalah 'kan? Lagipula hari ini panas, jadi wajar." Wanita bernama Yukiko itu membenarkan letak kacamatanya. "Jadi, Pria yang di maksud Saiko itu siapa? … jangan-jangan Hide-kun?! Hm-hm…. Aku sudah tau kalau dia menyimpang." Lanjutnya Sebari mengangguk-anggukan kepala.

"Pertama, Hide itu masih normal… bisahkah tak perlu berpikir aneh seperti itu. Pantas saja kau tidak menikah di usia yang udah cukup tua." Sindi pemuda bermata Black night kepada lawan bicaranya.

"Haise-chan, kamu jahat sekali… jadi siapa orang itu?" terlihat tidak terlalu terpengaruh dengfan kata Haise barusan.

"Arima Kisho." Sebari menyeruput kopi pesanannya kembali.

"Ah… Arima kah… dia itu Seme yang agresif ya….. Sampai di cium gitu di depan anakmu."

"…" Haise tidak menjawab pertanyaan yang tidak mendasar. Jika di tanya kenapa gadis berambut coklat itu berpikir seperti itu. Pasti akan di jawab 'firasatku'

"Oh… ya ngomong-ngomong, anak-anakmu tidak kau bawa?" tanya Yukiko penasaran

"Mereka sedang pergi ke jalan-jalan dengan Kakeknya." Jawab Haise malas. Seorang lelaki datang membawa pesanan Yukiko. Lalu dengan segara meminumnya.

"Oh… ya, Saiko juga sudah bilang pada kakak-kakaknya… mungkin ini akan menjadi hal yang menarik. Sepertinya anak-anakmu sedang siap tempur menghadang Arima-san mu~"

Haise sebenernya tak mengerti maksud ucapan sepupunya, tapi yang pasti itu adalah sesuatu yang sangat gawat yang dapat mengganggu hubungan nya dengan Arima.

mungkin setelah ini, tidak ada libur yang tenang lagi.

.

.

.

.

.

.

Lalu usaha apa yang di maksud oleh sepupu tercinta Haise?

Kita tunggu di chap depan….! *di lempar ke jurang*

.To be Continue

Yatta…!

Akhirnya di lanjut juga. Maaf banget kalau banyak kesalahan di chap kemarin. Karena factor males baca kembali. Mungkin ini juga sama ajah dengan kemarin.

Jadi jangan sungkan-sungkan lagi mengeritik tulisanku.

.

Special buat Papa(?) Tunjung saya yang baru ultah~ *Papa di sini bukan cowok*

.

.

.berkenan me-ripiu?

.

.

.

Special Omake:

Keesokan paginya setelah acara ciuman antara Arima dan Haise.

Pagi itu aktifitas keluarga Sasaki sangatlah terlihat bisa. Sang Maman(?) yang sibuk memasak sebari memanggil para malaikat kecilnya untuk segera bangun dari mimpi indah mereka. Dan yang paling awal tetaplah Tooru, anak gadis Haise yang bernomer urut tiga itu segera membantunya menyiapkan meja. Di susul Ginshi yang seperti biasa menarik Apron berwarna putih yang di kenakan lelaki berumur 27 tahun tersebut dengan paksa. Dan yang terakhir datang adalah Saiko, anak paling terakhir, sekaligus anak kandung Haise itu segera memeluk si surai hitam-putih yang tengah menata meja.

Eh… kalian bertanya tentang anak kedua Haise?

Oh… Kuki memang sudah ada semenjak Ginshi yang berteriak berisik ingin membantu Haise dan adik-adiknya di dapur. Namun dia tidak ingin mengikuti jejak adik-adiknya.

Gengsi lah…

Apa kata dunia kalau dia manja sama Orangtuanya?

"Maman~ kemarin Maman sama siapa~" Tanya Saiko manja, setelah dia menghabiskan sarapannya. Dan kembali memeluk 'Maman'nya yang saat ini berada di pintu apartemen mereka.

"Ah… I-i-itu cuman teman kerja kok." Ucap Haise masih gugup. Apakah anaknya ini masih mengingat jelas kejadian semalam.

"Memang ada apa kemarin ada apa, Saiko?" Tanya Tooru penasaran yang kali ini tengah memakai sepatunya.

"Kemarin Saiko liat Maman di—"

"AH… sudah jam segini...! kalian cepat berangkat.!" Potong Haise ketika Anaknya akan menceritakan memalukannya tadi malam.

"Ta-Tapi Ma, kita masih pagi." Protes Ginshi yang sudah selesai memasangkan sepatunya.

"Bukankah lebih baik berangkat pagi… Ayo jangan malas." Bulir-bulih keringat mulai membasahi wajah Haise yang artinya dia tidak nyaman dengan situasi sekarang.

Dengan cepat, lenganya dengan cekatan mengunci pintu dan segera mengantar mereka ke sekolah lalu BANG! …. Masalah dirinya berciuman dengan sang investor terbesar diperusahaannya pun hilang.

Tapi sepertinya, Kami-sama tidak mengijinkannya. Bagaikan di dalam acara komedi romantic atau bahkan romantic drama. Bertemu dengan seseorang yang akan menjadi semennya nanti di masa depan itu, rasanya Awkward banget. Apalagi jika di sekitarnya ada anak-anak yang harus tetap terjaga kesuciannya(?).

"A-A-Arima-san. O-O-ohayou gozaimasu." Sedikit menunduk.

"Ohayou, Haise." Balasnya memberi salam.

"Maman… kalau tidak salah. Yang Saiko lihat orang ini yang mencium Maman semalam." Ucap Saiko polos sebari menunjuk kearah Arima.

"EH…?!" sepertinya ketiga kakak Haise terlihat shock mendengar kenyataan pahit. Bahwa Mamannya tercinta. Sudah tidak perjaka lagi bibirnya setelah sepeninggalan Rize itu sesuatu yang heboh banget, apalagi kali ini ber Gender Lelaki. Bisa di bayangkan apa yang akan di pikirkan anak kecil mungkin berpikir. Ini hal biasa, namun ada satu anak yang tidak. Dia adalah Kuki muda yang bertindak sebagai pelindung Maman tercinta. Segera saja dia melangkah ke depan dan menarik Haise.

"Papa… kita bisa terlambat sekolah." Ucap Kuki sebari memperlihatkan jam yang bergambar tokoh kartun kesukaannya.

"Ah iya… Sa—aku permisi dulu Arima-san… lain kali kita mengobrol kembali." Segera saja mereka berlima pergi meninggalkan Arima yang berbalut baju santai.

Andai saja kalau Haise bukanlah orang dewasa, mungkina akan berteriak seperti anak kecil yang baru saja mendapat uang jajan. Karena pria berumur 27 tahun itu sangatlah bersyukur sekali pada Kuki yang menyeretnya di situasi seperti tadi.

Namun di sisi lain justru berbeda. Kuki terlihat sebal di sepanjang jalan kenangan –woy! salah narasi—, entah kenapa Kokoro Kuki terasa panas melihat pria berambut silver tadi.

Mungkin dia tak ingin mamanya tercinta teralihkan oleh lelaki lain(?)

Senyuman sinis pun terukir di wajah Kuki kecil, untunglah si surai hitam-putih tak menyadarinya. Ginshi yang berjalan di sebelahnyapun hanya bisa merinding dengan sang kakak. Kuki berencana menjauhkan Arima dari Haise. Dengan memanfaatkan adik-adiknya.

Seperti apakah ceritanya?

Tunggu chap depan kembali~

.

.

.

Salam Yukiko-chan XD